Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anbiyaa

Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) surah 21 ayat 1


اِقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُہُمۡ وَ ہُمۡ فِیۡ غَفۡلَۃٍ مُّعۡرِضُوۡنَ ۚ
Aqtaraba li-nnaasi hisaabuhum wahum fii ghaflatin mu’ridhuun(a);

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).
―QS. 21:1
Topik ▪ Tauhid Uluhiyyah
21:1, 21 1, 21-1, Al Anbiyaa 1, AlAnbiyaa 1, Al-Anbya 1, Al Anbiya 1, Alanbiya 1, Al-Anbiya’ 1
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa hari berhisab untuk manusia sudah dekat.
Pada hari berhisab itu kelak akan diperhitungkan semua perbuatan yang telah mereka lakukan selagi mereka hidup di dunia.
Selain itu, juga akan diperhitungkan semua nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka, baik nikmat berupa diri mereka sendiri, akal pikiran, makanan dan minuman, serta anak keturunan dan harta benda.
Mereka akan ditanya, apakah yang mereka perbuat dengan nikmat itu semuanya?
Apakah karunia Allah tersebut mereka gunakan untuk berbuat kebaikan dalam rangka taat kepada-Nya ataukah semuanya itu digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang membuktikan keingkaran dan kedurhakaan mereka kepada-Nya?

Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa manusia sesungguhnya lalai terhadap apa yang akan diperbuat Allah kelak terhadap mereka di hari kiamat.
Kelalaian itulah yang menyebabkan mereka tidak mau berpikir mengenai hari-hari kiamat itu sehingga mereka tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk memperoleh keselamatan diri mereka dari azab Allah.

Sudah jelas, bahwa orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah kaum musyrikin.
Dan sudah dimaklumi pula bahwa kaum musyrikin itu justru adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya hari kiamat dan mengingkari adanya hari berbangkit dan hari berhisab.
Namun demikian, memperingatkan kepada mereka bahwa hari berhisab sudah dekat.
Ini adalah untuk menekankan, bahwa hari kiamat, termasuk hari berbangkit dan hari berhisab, pasti akan datang, walaupun mereka itu tidak mempercayainya; dan hari berhisab itu akan diikuti pula oleh hari-hari pembalasan terhadap amal-amal yang baik ataupun yang buruk.

Kaum musyrikin itu lalai dan tidak mau berpikir tentang nasib jelek yang akan mereka temui kelak pada hari berhisab dan hari pembalasan itu.
Padahal, dengan akal sehat semata-mata, orang dapat meyakini, bahwa perbuatan yang baik sepantasnya dibalasi dengan kebaikan pula dan perbuatan yang jahat sepatutnya dibalasi pula dengan azab dan siksa.
Akan tetapi karena mereka itu tidak mau memikirkan akibat jelek yang akan mereka peroleh di akhirat kelak, maka mereka senantiasa memalingkan muka menutup telinga, setiap kali mereka diperingatkan, baik dengan ayat-ayat Alquran, maupun dengan ancaman dan sebagainya.

Al Anbiyaa (21) ayat 1 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anbiyaa (21) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anbiyaa (21) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hari kiamat, saat perhitungan orang-orang musyrik itu, telah semakin mendekat, sementara mereka melalaikan kedahsyatannya dan menolak untuk mempercayainya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Telah dekat kepada manusia) kepada penduduk Mekah yang ingkar terhadap adanya hari berbangkit (hari penghisaban mereka) yaitu hari kiamat (sedang mereka berada dalam kelalaian) daripadanya (lagi berpaling) tidak bersiap-siap untuk menghadapinya, yaitu dengan bekal iman.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sudah dekat waktu perhitungan manusia atas perbuatan yang telah mereka lakukan.
Kendati demikian, orang-orang kafir hidup dalam keadaan lalai dari hakikat ini, lagi berpaling dari peringatan tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Hal ini merupakan suatu peringatan dari Allah subhanahu wa ta'ala yang menyatakan dekatnya hari kiamat dan bahwa manusia dalam keadaan lalai terhadap keberadaannya, yakni mereka tidak mau beramal dan tidak mau membuat bekal untuk menyambutnya.

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Abdul Malik Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Sa'id, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).
Bahwa mereka di dunia lalai terhadap hari kiamat.

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebut di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan (datang).
(An Nahl:1)

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling.
(Al Qamar:1-2), hingga akhir ayat.

Ketika ditanyakan kepadanya, "Dari manakah engkau menyimpulkan kalimat ini?"
Abul Atahiyah menjawab bahwa ia menyimpulkannya dan firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).

Ibnu Asakir meriwayatkan pula di dalam biografi Amir ibnu Rabi'ah melalui jalur Musa ibnu Ubaid Al-Amadi, dari Abdur Rahman ibnu Za’d bin Aslam, dari ayahnya, dari Amir ibnu Rabi'ah, bahwa ia kedatangan seorang tamu dari kalangan orang Badui.
Amir memuliakan kedatangannya dan menghormatinya.
Sebelumnya Rasulullah ﷺtelah berbincang-bincang di rumah Amir, tidak lama kemudian lelaki Badui, itu datang.
Ia berkata, "Sesungguhnya aku telah memperoleh sebuah lembah di daerah pedalaman dari Rasulullah ﷺ Aku bermaksud memberikan sebagian darinya kepadamu.
Kelak lahan itu buat kamu dan keturunanmu sesudah kamu tiada." Maka Amir menjawab, "Saya tidak memerlukan bagian tanahmu itu, karena pada hari ini telah diturunkan sebuah surat yang membuat kami merasa ngeri terhadap duniawi," yaitu firman-Nya:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan bahwa mereka tidak mau mendengarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya.

Khitab atau pembicaraan ayat ini ditujukan kepada orang-orang Quraisy dan orang-orang yang kafirnya sama dengan mereka.

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa' yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan "Al Anbiyaa" (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa' menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur'an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu'jizat yang lain dari Al Qur'an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya'juj dan Ma'uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.


Gambar Kutipan Surah Al Anbiyaa Ayat 1 *beta

Surah Al Anbiyaa Ayat 1



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anbiyaa

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah 21
Nama Surah Al Anbiyaa
Arab الأنبياء
Arti Nabi-Nabi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 73
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 112
Jumlah kata 1177
Jumlah huruf 5039
Surah sebelumnya Surah Ta Ha
Surah selanjutnya Surah Al-Hajj
4.9
Rating Pembaca: 4.5 (13 votes)
Sending







✔ q s 21:1

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku