QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 75 [QS. 6:75]

وَ کَذٰلِکَ نُرِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ مَلَکُوۡتَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لِیَکُوۡنَ مِنَ الۡمُوۡقِنِیۡنَ
Wakadzalika nurii ibraahiima malakuutas-samaawaati wal ardhi waliyakuuna minal muuqiniin(a);

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.
―QS. 6:75
Topik ▪ Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia
6:75, 6 75, 6-75, Al An ‘aam 75, AlAnaam 75, Al Anaam 75, Al Anam 75, AlAnam 75, Al An’am 75

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 75

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 75. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian dari pada itu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan penjelasan lagi, bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menampakkan keagungan ciptaan-Nya di langit dan di bumi dan tata susunannya ataupun keindahan tata warnanya.
Allah menampakkan kepada Ibrahim ‘alaihis salam benda-benda langit yang beraneka ragam bentuk dan susunannya, beredar menurut ketentuannya masing-masing secara teratur.
Bumi yang terdiri dari lapisan-lapisan yang banyak mengandung barang tambang dan perhiasan, sangat berguna bagi kepentingan manusia.

Kesemuanya itu menjadi bukti adanya keagungan Allah, yang dapat dipahami oleh manusia dengan berpikir sesuai dengan fitrahnya.

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan pula maksud tujuan dari pengenalan Ibrahim ‘alaihis salam terhadap keindahan ciptaan-Nya itu yaitu agar Ibrahim ‘alaihis salam benar-benar mengenal hukum alam yang berlaku terhadap ciptaan-Nya dan kekuasaan Allah yang mengendalikan hukum-hukum itu, agar dapat dijadikan bukti-bukti dalam menghadapi orang-orang musyrikin yang sesat dan menjadi pegangan bagi dirinya agar termasuk orang yang betul-betul meyakini keesaan Allah subhanahu wa ta’ala

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebagaimana Ibrahim mengetahui–dengan petunjuk Kami–kesesatan kaumnya pada saat menyembah patung-patung itu, Kami juga menunjukkan kepadanya kerajaan Kami yang besar yang berada di langit, di bumi dan di antara keduanya, agar dapat dijadikan bukti kebenaran atas kaumnya dan bertambah iman.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan demikianlah) sebagaimana apa yang telah Kami perhatikan kepada Ibrahim, yaitu ia menganggap sesat ayahnya dan kaum ayahnya (Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan) kekuasaan (langit dan bumi) agar ia dapat mengambil kesimpulan tentang keesaan-Ku (dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin) terhadap tanda-tanda keagungan Kami itu.

Jumlah wakadzaalika serta jumlah yang sesudahnya adalah jumlah I`tiradhiah yang diathafkan kepada Lafal qaala.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebagaimana Kami membimbing Ibrahim kepada kebenaran dalam perkara ibadah, Kami menunjukkan kepadanya kerajaan agung dan kodrat yang mengagumkan yang ada di langit dan di bumi, agar dia menjadi orang-orang yang mendalam imannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah :

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi.

Artinya, Kami jelaskan kepadanya segi penyimpulan dalil yang menunjukkan kepada keesaan Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui pandangannya terhadap kerajaan dan makhluk-Nya, yakni Yang menciptakan keduanya.
Dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, serta tidak ada Rabb selain Dia.
Seperti yang dijelaskan dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Katakanlah: Perhatikanlah apa yang terdapat di langit dan di bumi.
(Q.S. Yunus [10]: 101)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi?
(Q.S. Al-A’raf [7]: 185)

Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka?
Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi, atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).
(Q.S. Saba’ [34]: 9)

Adapun mengenai apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lainnya, dari Mujahid, Ata, Sa’id ibnu Jubair, dan As-Saddi serta lain-lainnya, menurut versi Mujahid disebutkan bahwa dibukakan bagi Nabi Ibrahim semua pintu langit, maka Nabi Ibrahim dapat melihat semua yang ada padanya sehingga penglihatannya sampai ke ‘Arasy.
Dibukakan pula baginya semua pintu bumi yang tujuh lapis, sehingga ia dapat melihat semua yang ada di dalamnya.

Menurut riwayat lainnya disebutkan bahwa lalu Nabi Ibrahim melihat banyak hamba Allah yang berbuat durhaka, maka ia mendoakan untuk kebinasaan mereka.
Allah berfirman kepadanya, “Sesungguhnya Aku lebih belas kasihan kepada hamba-hamba-Ku daripada kamu, barangkali mereka mau bertobat dan kembali kepada (jalan)-Ku.”

Sehubungan dengan hal ini Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan dua buah hadis marfu’ yang satu dari Mu’az, dan yang lainnya dari Ali, tetapi sanad keduanya tidak sahih.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui jalur Al Aufi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.
(Q.S. Al-An’am [6]: 75) Allah subhanahu wa ta’ala.
membukakan semua perkara bagi Nabi Ibrahim, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan, sehingga tidak ada sesuatu pun yang samar baginya dari amal perbuatan makhluk.
Ketika Nabi Ibrahim melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan dosa, maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukan hal ini.” Lalu Allah subhanahu wa ta’ala.
mengembalikan segala sesuatu seperti keadaannya semula.

Hal ini mengandung interpretasi bahwa dibukakan semua hijab dari pandangan Nabi Ibrahim, sehingga ia dapat menyaksikan hal tersebut secara terang-terangan.

Dapat pula diinterpretasikan bahwa yang dibukakan oleh Allah darinya adalah pandangan hatinya, sehingga ia menyaksikan semuanya itu melalui pandangan hatinya.
Kenyataan hal seperti ini dan pengetahu­an serta ilmu mengenainya termasuk hikmah-hikmah yang cemerlang dan dalil-dalil yang pasti.

Perihalnya sama dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmuzi di dalam kitab Sahih-nya dari Mu’az ibnu Jabal mengenai hadis mimpi, yaitu:

Tuhanku datang kepadaku dalam rupa yang paling indah, lalu berfirman, “Hai Muhammad, mengapa para malaikat di langit yang tertinggi bersengketa?” Aku menjawab, “Saya tidak tahu, wahai Tuhanku.” Lalu Allah meletakkan tangan (kekuasaan)-Nya di antara kedua tulang belikatku sehingga aku merasakan kesejukan sentuhan jari jemari (kekuasaan)-Nya menembus sampai ke dua bagian dari dadaku.
Maka tampaklah bagiku segala sesuatunya, dan aku dapat mengetahui semuanya itu.
(hingga akhir hadis).

Firman Allah :

…dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.

Menurut suatu pendapat, huruf wawu-nya adalah zaidah.
Dengan demikian berarti, “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan-jalan orang-orang yang berdosa.
(Q.S. Al-An’am [6]: 55)

Menurut pendapat yang lain, huruf wawu ini sesuai dengan fungsinya, yakni Kami perlihatkan pula kepadanya hal tersebut agar dia menjadi orang yang mengetahui dan yakin.


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 75 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 75 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 75 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:75
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.9
Ratingmu: 4.9 (27 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/6-75









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta