QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 39 [QS. 6:39]

وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا صُمٌّ وَّ بُکۡمٌ فِی الظُّلُمٰتِ ؕ مَنۡ یَّشَاِ اللّٰہُ یُضۡلِلۡہُ ؕ وَ مَنۡ یَّشَاۡ یَجۡعَلۡہُ عَلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
Waal-ladziina kadz-dzabuu biaayaatinaa shummun wabukmun fiizh-zhulumaati man yasyai allahu yudhlilhu waman yasya’ yaj’alhu ‘ala shiraathin mustaqiimin;

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita.
Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya.
Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.
―QS. 6:39
Topik ▪ Takdir ▪ Allah menggerakkan hati manusia ▪ Perumpamaan kufur dan menyekutukan Allah
6:39, 6 39, 6-39, Al An ‘aam 39, AlAnaam 39, Al Anaam 39, Al Anam 39, AlAnam 39, Al An’am 39

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 39

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 39. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya dan membuktikan kekuasaan dan keesaan Allah, kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
mereka itu seperti orang pekak, tidak mendengarkan seruan kepada kebenaran, tidak mengacuhkan petunjuk-petunjuk kepada jalan yang benar.
Mereka itu juga seperti orang bisu karena tidak membicarakan dan menyampaikan yang hak yang telah mereka ketahui dan mereka telah tenggelam dalam kegelapan yaitu kegelapan kepercayaan menyembah berhala, kegelapan taklid kepada nenek moyang mereka dan kegelapan kebodohan.
Mereka akan dimasukkan Allah ke neraka Jahanam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia.
Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai.

(Q.S. Al-A’raf [7]: 179)

Orang-orang yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah membiarkan mereka menempuh jalan yang sesat karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk-Nya.
Orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapat taufik, maka Dia menjadikan mereka pengikut jalan yang lurus, jalan kebenaran karena mereka memperhatikan dan memahami ayat-ayat Allah kemudian mereka amalkan sesuai dengan sunatullah yang berlaku di alam ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 16)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang tidak mempercayai bukti-bukti kekuasaan Kami dan kebenaran misi kerasulanmu, mereka tidak mempergunakan indra mereka dalam mencari kebenaran.
Dari itu mereka bingung dalam kesesatan syirik dan sikap keras kepala seperti bingungnya orang yang tuli dan bisu dalam kegelapan malam.
Tidak ada jalan untuk selamat dari kesesatan.
Jika saja pada diri mereka ada suatu kesiapan untuk kebaikan, niscaya Allah akan menolong mereka dalam hal itu.
Karena apabila Allah subhanahu wa ta’ala hendak menyesatkan seseorang–karena tujuannya yang tidak benar–Dia akan membiarkan orang itu seperti apa adanya.
Dan, apabila hendak memberi petunjuk–karena tujuannya yang benar–Dia akan memudahkannya dalam melewati jalan keimanan yang jelas dan lurus.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami) Alquran (adalah pekak) tidak dapat mendengarkannya dengan pendengaran yang meresap ke dalam hati lalu menerimanya (bisu) tidak dapat mengucapkan perkara yang hak (lagi berada dalam gelap-gulita) yakni kekafiran.

(Siapa yang dikehendaki Allah) ia tersesat (niscaya disesatkan-Nya.

Dan siapa yang dikehendaki-Nya) mendapat petunjuk (niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan) titian (yang lurus) yakni agama Islam.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang mendustakan hujjah-hujjah Allah adalah orang-orang tuli yang tidak mendengar apa yang bermanfaat bagi mereka, bisu tidak mengucapkan kebenaran, mereka bingung dalam kegelapan-kegelapan tidak mengetahui jalan yang lurus.
Barangsiapa yang Allah berkehendak menyesatkannya maka Dia menyesatkannya.
Dan sebaliknya barangsiapa yang Allah berkehendak untuk membimbingnya maka Dia menjadikannya di atas jalan yang lurus.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yakni perumpamaan mereka dalam kejahilannya dan keminiman ilmu­nya serta ketiadaan pengertiannya sama dengan orang yang tuli tidak dapat mendengar, bisu tidak dapat bicara, dan selain itu berada dalam kegelapan tanpa dapat melihat.
Maka orang yang seperti itu mustahil mendapat petunjuk ke jalan yang benar atau dapat keluar dari apa yang mengungkungnya.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya, menggambarkan keadaan mereka, yaitu:

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 17-18)

Sama pula dengan apa yang digambarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman lainnya:

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan, gelap gulita yang tindih-menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.
(Q.S. An-Nuur [24]: 40)

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya.
Dan barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.

Yakni Dialah yang mengatur makhluk-Nya menurut apa yang dikehendakinya


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 39 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 39 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 39 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:39
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.9
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/6-39









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta