Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 152


وَ لَا تَقۡرَبُوۡا مَالَ الۡیَتِیۡمِ اِلَّا بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ حَتّٰی یَبۡلُغَ اَشُدَّہٗ ۚ وَ اَوۡفُوا الۡکَیۡلَ وَ الۡمِیۡزَانَ بِالۡقِسۡطِ ۚ لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ۚ وَ اِذَا قُلۡتُمۡ فَاعۡدِلُوۡا وَ لَوۡ کَانَ ذَا قُرۡبٰی ۚ وَ بِعَہۡدِ اللّٰہِ اَوۡفُوۡا ؕ ذٰلِکُمۡ وَصّٰکُمۡ بِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَذَکَّرُوۡنَ
Walaa taqrabuu maalal yatiimi ilaa biillatii hiya ahsanu hatta yablugha asyuddahu wa-aufuul kaila wal miizaana bil qisthi laa nukallifu nafsan ilaa wus’ahaa wa-idzaa qultum faa’diluu walau kaana dzaa qurba wabi’ahdillahi aufuu dzalikum wash-shaakum bihi la’allakum tadzakkaruun(a);

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.
Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.
Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.
Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.
―QS. 6:152
Topik ▪ Permusuhan antara syetan dan manusia
6:152, 6 152, 6-152, Al An ‘aam 152, AlAnaam 152, Al Anaam 152, Al Anam 152, AlAnam 152, Al An’am 152
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 152. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat 151 telah disebutkan lima dari sepuluh Al-Washaya Al-Asyrah sedang dalam ayat 152 ini disebutkan lima lagi atau empat lagi (menurut sebagian mufassirin) sedang yang satu lagi (yang kesepuluh) terdapat pada ayat 153 yaitu:

(6).
Jangan mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.
(7/8).
Keharusan menyempurnakan takaran dan keharusan menyempurnakan timbangan.
(9).
Berlaku adil dalam perkataan meskipun terhadap keluarga.
(10).
Memenuhi janji Allah.

Adapun larangan mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik, maksudnya tidak boleh mengganggu siapa jua pun, baik orang lain maupun walinya sendiri, kecuali untuk memelihara, memperkembangkan dan membelanjakan untuk keperluan yang bermanfaat bagi anak yatim itu sendiri.
Dan bila anak yatim itu sudah dewasa barulah diserahkan harta tersebut kepadanya.
Mengenai usia para ulama menyatakan sekitar 15-18 tahun, artinya antara usia tersebut seorang anak yang normal sudah akan dapat menjaga dan memelihara hartanya.
Keharusan menyempurnakan takaran dan timbangan ini berulang kali disebutkan di beberapa surat dalam Alquran dengan bermacam cara, bentuk dan hubungannya dengan persoalan yang bermacam-macam pula, antara lain firman Allah:

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar.
Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

(Q.S Al Isra’: 35)

Perintah Tuhan untuk menyempurnakan takaran dan timbangan adalah sekadar menurut kemampuan yang biasa dilaksanakan dalam soal ini, karena Tuhan tidak memberati hamba-Nya melainkan sekadar kemampuannya.
Yang penting tidak ada unsur atau maksud penipuan.
Yang dimaksud tentang keharusan berkata dengan adil kendatipun terhadap keluarga ialah setiap perkataan terutama dalam memberikan kesaksian dan putusan hukum.
Dan ini adalah yang utama bagi setiap pembangunan terutama di bidang akhlak dan sosial, tanpa membedakan orang lain dengan kaum kerabat.
Hal ini telah diterangkan pula dalam firman Allah:

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
(Q.S Al Fath: 29)

Adapun yang dimaksud dengan janji Allah ialah semua janji baik terhadap Tuhan seperti firman Allah:

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah setan.
Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

(Q.S Yasin: 60)

Dan firman Allah lagi:

Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji.
(Q.S Al Baqarah: 177)

Ayat ini diakhiri dengan semoga kamu ingat sebab semua perintah atau larangan yang tersebut dalam ayat ini pada umumnya orang-orang Arab Jahiliah berbuat sesuai dengan itu, bahkan mereka berbangga karena memiliki sifat-sifat terpuji itu.
Jadi ayat ini hanya mengingatkan mereka agar tidak lupa, atau agar mereka saling ingat-mengingatkan.

Al An 'aam (6) ayat 152 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 152 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 152 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Keenam, jangan menggunakan harta anak yatim kecuali dengan cara terbaik yang dapat menjamin dan mengembangkannya, sampai ia mencapai usia dewasa dan mampu mengatur sendiri keuangannya dengan baik.
Saat itu, serahkan harta itu kepadanya.
Ketujuh, jagan mengurangi timbangan atau ukuran saat kalian memberi dan jangan meminta lebih atau tambahan saat kalian menerima.
Lakukanlah timbangan itu secara adil semampu kalian.
Allah tidak membebani manusia kecuali sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya, tanpa merasa terpaksa.
Kedelapan, apabila kalian mengucapkan sesuatu tentang hukum, persaksian, berita dan sebagainya, jangan sampai condong kepada perilaku tidak adil dan tidak jujur.
Lakukanlah itu tanpa melihat hubungan kebangsaan, warna kulit, kekerabatan, dan sebagainya.
Kesembilan, jangan melanggar janji kepada Allah yang telah memberikan tugas.
Juga, jangan mlanggar janji di antara sesama kalian, berkenaan dengan urusan yang disyariatkan.
Tepatilah semua janji itu.
Allah menekankan perintah menjauhi larangan ini kepada kalian, agar kalian ingat bahwa ketentuan itu memang untuk maslahat kalian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara) dengan sikap yang (lebih baik) yaitu cara yang di dalamnya mengandung kemaslahatan/manfaat bagi anak yatim hingga ia dewasa) seumpamanya dia sudah balig.
(Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil) secara adil dan tidak curang.
(Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya) sesuai dengan kemampuannya dalam hal ini, apabila ia berbuat kekeliruan di dalam menakar atau menimbang sesuatu, maka Allah mengetahui kebenaran niat yang sesungguhnya, oleh karena itu maka ia tidak berdosa, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ (Dan apabila kamu berkata) dalam masalah hukum atau lainnya (maka hendaklah kamu berlaku adil) jujur (kendatipun dia) orang yang bersangkutan (adalah kerabatmu) famili (dan penuhilah janji Allah.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat) dengan memakai tasydid agar menjadikannya sebagai pelajaran, dan juga dibaca dengan sukun.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang diwasiati harta anak yatim, janganlah kalian mendekati harta anak yatim yang ditinggal mati bapaknya saat masih kecil, kecuali dengan cara yang baik dan bermanfaat hingga dia mencapai usia dewasa dan sudah mengerti permasalahan.
Apabila dia telah dewasa, serahkanlah harta-harta itu kepadanya.
Dan sempurnakanlah timbangan dan takaran dengan adil karena itu merupakan kesempurnaan menjaga amanah.
Jika kalian telah sungguh-sungguh melakukan itu, tidak ada dosa atas kalian apabila ternyata ada kekurangan (tanpa sepengetahuan kalian).
Kami tidak membebankan kewajiban kepada seseorang, kecuali yang sesuai dengan kesanggupannya.
Apabila kalian mengatakan sesuatu, katakanlah dengan adil, tidak condong dari kebenaran, baik dalam menyampaikan berita, memberi kesaksian maupun memutuskan hukum.
Walaupun perkataan kalian itu ada hubungannya dengan keluarga dekat kalian maka janganlah kalian condong bersamanya dengan tanpa haq.
Tunaikanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada kalian, yaitu dengan menjalankan syariat-syariat-Nya.
Itulah hukum-hukum yang dibacakan kepada kalian.
Dia mewasiatkan itu semua agar kalian mau mengambil pelajaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ata ibnus Saib telah meriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Allah menurunkan firman-Nya: Dan janganlah kalian dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.
(Al An’am:152) dan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya.
(An Nisaa:10), hingga akhir ayat.
Maka semua orang yang di dalam asuhannya terdapat anak yatim pulang, lalu memisahkan makanannya dari makanan anak yatim, dan memisahkan minumannya dari minuman anak yatim, sehingga akibatnya ada makanan yang lebih, tetapi tetap dipertahankan untuk anak yatim, hingga si anak yatim memakannya atau dibiarkan begitu saja sampai basi.
Hal ini terasa amat berat oleh mereka, kemudian mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah ﷺ Lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kalian menggauli mereka, maka mereka adalah saudara kalian.” (Al Baqarah:220) Akhirnya mereka kembali mencampurkan makanan dan minuman mereka dengan makanan dan minuman anak-anak yatim mereka.

Demikianlah menurut riwayat Imam Abu Daud.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

hingga sampai ia dewasa.

Asy-Sya’bi dan Imam Malik serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah hingga si anak yatim mencapai usia balig.
Menurut As-Saddi, hingga si anak yatim mencapai usia tiga puluh tahun.
Menurut pendapat yang lainnya sampai usia empat puluh tahun, dan menurut pendapat yang lainnya lagi sampai usia enam puluh tahun.
Akan tetapi, semuanya itu jauh dari kebenaran.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.

Allah subhanahu wa ta’ala.
memerintahkan agar keadilan ditegakkan dalam menerima dan memberi (membeli dan menjual).
Sebagaimana Dia mengancam orang yang meninggalkan keadilan dalam hal ini melalui firman-Nya:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?
(Al-Mutaffifin: 1-6)

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah membinasakan suatu umat di masa lalu karena mereka mengurangi takaran dan timbangannya.

Di dalam Kitabul Jami’ milik Abu Isa Ath-Thurmuzi disebutkan melalui hadis Al-Husain ibnu Qais Abu Ali Ar-Rahbi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para pemilik takaran dan timbangan: Sesungguhnya kalian diserahi suatu urusan yang pernah membuat binasa umat-umat terdahulu sebelum kalian karenanya.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa kami tidak mengenalnya sebagai hadis marfu’ kecuali melalui hadis Al-Husain, padahal dia orangnya daif dalam meriwayatkan hadis.
Sesungguhnya telah diriwayatkan hadis ini dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas secara mauquf.

Menurut kami,

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Syarik, dari Al-Abu’masy, dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya kalian, hai para Mawali, Allah telah mempercayakan kepada kalian dua perkara yang pernah menjadi penyebab kebinasaan generasi-generasi yang terdahulu, yaitu takaran dan timbangan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kemampuannya.

Maksudnya, barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam menunaikan dan menerima haknya, kemudian ternyata sesudah ia mengerahkan semua kemampuannya untuk hal tersebut masih juga keliru (salah), maka tidak ada dosa atas dirinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat kalian.

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain oleh firman-Nya:

hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.
(Al Maidah:8), hingga akhir ayat.

Hal yang sama disebutkan pula dalam surat An-Nisa, Allah memerintah­kan berbuat adil dalam semua tindak-tanduk dan ucapan, baik terhadap kaum kerabat yang dekat maupun yang jauh.
Allah selalu memerintahkan berbuat adil terhadap setiap orang dan di setiap waktu dan keadaan, keadilan tetap harus ditegakkan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan penuhilah janji Allah.

Ibnu Jarir mengatakan, yang dimaksud dengan wasiat (perintah) Allah yang telah diwasiatkan-Nya kepada kalian ialah hendaknya kalian taat kepada-Nya dalam semua yang diperintahkan-Nya kepada kalian dan semua yang dilarang-Nya bagi kalian, kemudian kalian harus mengamal­kan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya.
Yang demikian itulah pengertian menunaikan janji Allah.

Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhan kalian kepada kalian agar kalian ingat.

Yakni inilah yang diwasiatkan, diperintahkan dan dikukuhkan oleh-Nya terhadap kalian untuk kalian amalkan.

…agar kalian ingat.

Maksudnya, agar kalian mengambil pelajaran darinya dan menghentikan apa yang pernah kalian lakukan sebelum ini.
Sebagian ulama membacanya dengan tazzakkaruna, dan sebagian yang lain membacanya dengan tazkuruna.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 152

KAYL
كَيْل

Mashdar (kata terbitan) dari kata kaala, ia dalam bentuk mufrad, jamaknya akyaal. Maknanya sesuatu yang ditakar dengannya dari besi, kayu atau keduanya, apa yang bertaburan dari ujung batang pohon yang dibakar. Atau disebut juga dengan alat takaran dan alat timbangan.

Al Fairuz berkata,
Ia juga bermakna keadaan yang ditakar dengannya dan kadar.

Lafaz ini diulang sebanyak 10 kali yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 152;
-Al A’raaf (7), 85;
-Yusuf (12), 59, 60, 63, 65 (dua kali), 88;
-Al Israa (17), ayat 35;
-Asy Syu’araa (26), ayat 181.

Al Qurtubi menyatakan, lafaz kayl bermakna mikyaal yaitu alat sukatan atau takaran.”

Allah berrfirman,

وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِۖ

Asy Syaukani berkata,
maknanya, adil dalam pengambilan dan pemberian ketika berjual beli.

Di dalam surah Yusuf ayat 65, lafaz kayl disandarkan dengan ba’iir (unta).

Allah berfirman,

وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍۖ

Ibn Juraij berkata,
maknanya setiap orang dari mereka mendapat sesuatu seberat unta.

At Tabari menyatakan, tafsiran ayat ini “muatan-muatan makanan kami ditambah seberat unta yang ditakar bagi kami apa yang dibawa oleh unta yang lain dari unta kami”

Kesimpulannya, kayl bermakna alat penyukat dan kadar berat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:535

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 152 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 152



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (10 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku