Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 151


قُلۡ تَعَالَوۡا اَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّکُمۡ عَلَیۡکُمۡ اَلَّا تُشۡرِکُوۡا بِہٖ شَیۡئًا وَّ بِالۡوَالِدَیۡنِ اِحۡسَانًا ۚ وَ لَا تَقۡتُلُوۡۤا اَوۡلَادَکُمۡ مِّنۡ اِمۡلَاقٍ ؕ نَحۡنُ نَرۡزُقُکُمۡ وَ اِیَّاہُمۡ ۚ وَ لَا تَقۡرَبُوا الۡفَوَاحِشَ مَا ظَہَرَ مِنۡہَا وَ مَا بَطَنَ ۚ وَ لَا تَقۡتُلُوا النَّفۡسَ الَّتِیۡ حَرَّمَ اللّٰہُ اِلَّا بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکُمۡ وَصّٰکُمۡ بِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ
Qul ta’aalau atlu maa harrama rabbukum ‘alaikum alaa tusyrikuu bihi syai-an wa bil waalidaini ihsaanan walaa taqtuluu aulaadakum min imlaaqin nahnu narzuqukum wa-ii-yaahum walaa taqrabuul fawaahisya maa zhahara minhaa wamaa bathana walaa taqtuluun-nafsallatii harramallahu ilaa bil haqqi dzalikum wash-shaakum bihi la’allakum ta’qiluun(a);

Katakanlah:
“Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu:
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”.
Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).
―QS. 6:151
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Dosa-dosa besar ▪ Cara bertaubat
6:151, 6 151, 6-151, Al An ‘aam 151, AlAnaam 151, Al Anaam 151, Al Anam 151, AlAnam 151, Al An’am 151
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An 'aam (6) : 151. Oleh Kementrian Agama RI

Di dalam permulaan ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ.
agar mengatakan kepada kaum musyrikin yang menetapkan hukum menurut kehendak hawa nafsu bahwa ia akan membacakan wahyu yang akan diturunkan Allah kepadanya.
Wahyu itu memuat beberapa ketentuan tentang sesuatu yang diharamkan kepada mereka.
Ketentuan-ketentuan hukum itu datangnya dari Allah, maka ketentuan-ketentuan itulah yang harus ditaati, karena dia sendirilah yang berhak menentukan ketentuan hukum dengan perantara wahyu disampaikan oleh Rasul-Nya yang memang diutus untuk menyampaikan ketentuan-ketentuan hukum itu kepada sekalian manusia.

Ketentuan-ketentuan hukum yang disampaikan Rasul kepada kaum musyrikin itu berinti 10 ajaran pokok yang sangat penting yang menjadi inti pula dari agama Islam dan semua agama yang diturunkan Allah ke dunia.
Lima buah ketentuan di antara ketentuan-ketentuan itu terdapat dalam ayat ini, empat buah di antaranya terdapat dalam ayat berikutnya, sedang sebuah ketentuan lagi terdapat dalam ayat berikutnya lagi.

Pada permulaan ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ.
supaya mengatakan kepada kaum musyrikin, bahwa dia akan membacakan kepada mereka wahyu yang diturunkan oleh Allah kepadanya tentang apa yang diharamkan-Nya kepada mereka.
Dia sendirilah yang mempunyai syariat yang berhak menentukan hukum dan aku adalah sebagai rasul-Nya untuk menyampaikannya.
Apa yang dikatakan oleh Rasulullah kepada mereka itu yang terkandung dalam ayat 151, 152, dan 153 ini berintikan sepuluh pokok ajaran yang sangat penting dalam Islam dan semua agama yang diturunkan Tuhan ke dunia ini.

Sepuluh ajaran pokok itu para ulama tafsir menamakannya Al-Washaya Al-Asyrah (sepuluh perintah) yang mana dalam ayat 151 ini disebutkan lima di antaranya, dan lima lainnya disebutkan dalam dua ayat berikutnya (152 dan 153).
Lima yang disebutkan pada ayat ini adalah:

(1) Jangan mempersekutukan Allah.
(2) Berbuat baik terhadap dua orang ibu bapak.
(3) Jangan membunuh anak karena takut kemiskinan.
(4) Jangan mendekati (berbuat) kejahatan secara lahir maupun secara tersembunyi.
(5) Jangan membunuh jiwa yang diharamkan membunuhnya oleh Tuhan.

Adapun larangan tidak boleh mempersekutukan Allah adalah pokok pertama yang paling mutlak, baik dengan perkataan atau iktikad, seperti mengatakan mempercayai bahwa Tuhan itu bersekutu maupun dengan perbuatan seperti mempersekutukannya dengan berhala-berhala atau sembahan-sembahan lainnya.

Pada ayat ini sebagaimana pada ayat-ayat lainnya di dalam Alquran setelah Allah memerintahkan manusia supaya bertauhid dan jangan mempersekutukan-Nya, maka pada urutan kedua Allah memerintahkan manusia supaya berbuat baik terhadap kedua orang tua.
Ini semua cukup jelas menerangkan bagaimana pentingnya berbuat baik terhadap kedua orang tua, meskipun mereka salah atau menyuruh anaknya mempersekutukan Tuhan, namun si anak tetap harus berbuat baik terhadap mereka dalam dunia ini dan menolak suruhan atau ajakannya untuk mempersekutukan Tuhan itu dengan baik sebagai mana firman Allah:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.
(Q.S Luqman :15)

Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Masud, dia menceritakan yang maksudnya sebagai berikut, "Saya bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang amal apa yang lebih afdal?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Salat tepat pada waktunya." "Apalagi sesudah itu?"
Jawabnya, "Berbuat baik terhadap kedua orang tua." "Apalagi sesudah itu?"
Jawabnya, "Berjihad di jalan Allah."

Yang dimaksud dengan berbuat baik terhadap kedua orang tua ialah menghormati keduanya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, penuh rasa cinta dan kasih sayang bukan karena takut karena penghormatan anak terhadap orang tuanya yang disebabkan takut akan merusak pendidikan anak dan mendorong mereka berbuat durhaka.
Penghormatan tersebut adalah di samping kewajiban anak membelanjai ibu bapaknya yang tidak mampu sesuai dengan kesanggupan anak itu.
Di dalam ayat ini Allah melarang manusia membunuh anak mereka disebabkan kemiskinan yang menimpa mereka karena Tuhan akan memberi rezeki kepada mereka dan anak-anak mereka.

Firman Allah:

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

(Q.S Al Isra': 31)

Larangan membunuh anak pada ayat ini ialah berbeda dengan larangan membunuh anak pada ayat lain dalam surat Al-Isra.
Pada ayat ini larangan membunuh anak karena kemiskinan yang akan atau sedang menimpa.
Sedangkan dalam surat Al-Isra larangan membunuh anak itu karena takut kemiskinan yang diperhitungkan akan menimpa.
Oleh karena itu pada ayat ini Allah menerangkan "Kami akan memberi rezeki kepadamu" yakni pada orang tua yang membelanjai anaknya, "dan kepada mereka" yakni para anak yang dibelanjai orang tua, sedang pada surat Al-Isra Allah menerangkan "Kami akan memberi rezeki kepada mereka" yakni anak-anak setelah mereka mampu berusaha kelak, "dan kepada kamu" yakni pada orang tua yang mungkin karena kemiskinannya akan dibelanjai oleh anaknya.
Pada ayat ini Allah melarang mendekati perbuatan-perbuatan keji apalagi mengerjakannya, baik berupa perbuatan seperti berzina, atau menuduh orang berzina, biar pun perbuatan itu dilakukan dengan terang-terangan atau dengan sembunyi.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini, pada masa jahiliah orang-orang tidak memandang jahat melakukan zina secara tersembunyi dan malahan mereka memandang jahat kalau dilakukan secara terang-terangan.
Maka dengan ayat ini Allah mengharamkan zina secara terang-terangan atau tersembunyi.
Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan yang nampak (terang) ialah semua perbuatan anggota tubuh, sedangkan yang tersembunyi adalah perbuatan hati, seperti takabur, iri hati dan sebagainya.
Pada ayat ini Allah melarang pula membunuh jiwa tanpa sebab yang benar menurut ajaran Tuhan.
Rasulullah ﷺ bersabda

Tidak boleh membunuh jiwa seorang muslim terkecuali disebabkan salah satu dari tiga perkara: yaitu karena murtad (muslim yang berbalik jadi kafir), zina muhsan (zina orang yang sudah pernah kawin) dan membunuh manusia tanpa sebab yang benar.
(H.R Abu Daud (hal 170 Juz 4)

Dan juga orang-orang kafir yang ada perjanjian damai dengan kaum muslimin tidak boleh dibunuh atau diganggu sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

Mereka mempunyai hak sebagaimana hak yang ada pada kami (kaum muslimin) dan mempunyai kewajiban sebagaimana kewajiban yang ada pada kami (kaum muslimin).
(H.R At Tirmizi)

Setelah diterangkan lima dari ajaran pokok yang sangat penting itu, maka Allah mengakhiri ayat ini dengan suatu penegasan yang maksudnya: Demikian itulah yang diperintahkan oleh Tuhan kepadamu supaya kamu memahami sasaran dan tujuan dan bukan seperti tindak-tanduk kamu yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu menurut hawa nafsu.

Al An 'aam (6) ayat 151 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 151 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 151 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan pula, "Kemarilah kalian, akan aku terangkan larangan-larangan yang harus kalian perhatikan dan jauhi.
Pertama, jangan menyekutukan Allah dengan apa pun dan dalam bentuk apa pun.
Kedua, jangan berbuat tidak baik (artinya:
harus berbuat baik) kepada orang tua.
Perbanyaklah berbuat baik kepada mereka.
Ketiga, jangan membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan yang melanda kalian atau yang akan melanda mereka kelak.
Kalian tidak memberikan rezeki kepada mereka.
Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.
Keempat, jangan dekati perbuatan zina, sebab zina adalah perbuatan yang sangat jelek dan hina.
Larangan ini berlaku pada zina yang tampak, diketahui oleh orang, juga pada zina yang tidak tampak dan hanya diketahui oleh Allah.
Kelima, jangan membunuh jiwa yang memang dilarang karena tidak ada alasan yang sah, kecuali kalau membunuh itu dilakukan secara benar, karena melaksanakan keputusan hukum.
Allah sangat menekankan perintah menjauhi larangan itu, sesuatu yang oleh akal sehat pun dinilai demikian, agar kalian berpikir.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, "Marilah kubacakan yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu) an bermakna menafsirkan (janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan) berbuat baiklah (terhadap kedua orang tua sebaik-baiknya dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu) dengan menguburkan hidup-hidup (karena) sebab (takut kemiskinan) kemelaratan yang kamu khawatirkan (Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji) dosa-dosa besar seperti perbuatan zina (baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi) yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
(Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan sesuatu sebab yang benar.") yaitu seperti hukum kisas dan hudud murtad serta rajam bagi yang pezina muhshan.
(Demikian itu) apa yang telah disebutkan itu (adalah yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahaminya) supaya kamu memikirkannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah (wahai Rasul) kepada mereka :
Kemarilah, aku akan membacakan kepada kalian apa-apa yang Rabb haramkan atas kalian.
Janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan makhluk-makhluk-Nya dalam ibadah, tapi ikhlaskanlah semua ibadah hanya kepada-Nya semata, seperti rasa takut, berharap, doa dan lainnya.
Berbuat baiklah kepada kedua orang tua dengan berbakti, mendoakan keduanya, atau dengan melakukan kebajikan apa pun selain itu.
Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan yang menimpa kalian.
Sesungguhnya Allah yang memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.
Janganlah kalian mendekati dosa-dosa yang jelas, seperti dosa besar atau dosa-dosa yang samar.
Janganlah kalian membunuh seseorang kecuali dengan alasan yang benar, yaitu karena hukum qishash, seperti pembunuh, pelaku zina yang telah menikah, dan orang yang murtad (keluar dari agama Islam).
Apa yang telah disebutkan adalah larangan-larangan Allah terhadap kalian.
Itulah perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya yang harus dihindari supaya kalian mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Daud Al-Audi telah meriwayatkan dari Asy-Sya'bi, dari Alqamah, dari Ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa barang siapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah ﷺ yang padanya terdapat cap cincinnya, hendaklah ia membaca ayat-ayat berikut, yaitu firman-Nya: Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian, yaitu: "Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (Al-An'am: 151) sampai dengan firman-Nya: supaya kalian memahaminya).
(Al-An'am: 151)

Al-Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bakar ibnu Muhammad As-Sairafi, dari Urwah, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Ismail Al-Mahdi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abdullah ibnu Khalifah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas berkata bahwa di dalam surat Al-An'am terdapat ayat-ayat muhkom yang semuanya adalah Ummul Kitab, lalu ia membacakan firman-Nya: Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian.” (Al-An'am: 151), hingga beberapa ayat berikut­nya.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Menurut kami, asar ini diriwayatkan pula oleh Zuhair, Qais ibnur Rabi' —keduanya dari Abu Ishaq—, dari Abdullah ibnu Qais, dari Ibnu Abbas dengan sanad yang sama.

Imam Hakim meriwayatkan pula di dalam kitab mustadraknya:

melalui hadis Yazid ibnu Harun, dari Sufyan ibnu Husain, dari Az-Zuhri, dari Abu Idris, dari Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Siapakah di antara kalian yang mau berbaiat (mengucapkan janji setia) kepadaku sebanyak tiga kali." Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian." (Al-An'am: 151), hingga beberapa ayat berikutnya.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang menunaikannya, maka pahalanya akan diberikan oleh Allah kepadanya.
Dan barang siapa yang mengurangi sesuatu darinya, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya di dunia ini, maka hal itu merupakan hukumannya.
Dan barang siapa yang ditangguhkan sampai di akhirat, maka urusannya terserah kepada Allah; jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengazabnya; dan jika Allah menghendaki, niscaya memaafkannya.

Kemudian Imam Hakim berkata bahwa hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Sesungguhnya yang disepakati oleh keduanya (Bukhari dan Muslim) hanyalah hadis Az-Zuhri, dari Abu Idris, dari Ubadah yang mengatakan:

Berbaiatlah kalian kepadaku, yaitu: Janganlah kalian memperse­kutukan Allah dengan sesuatu pun, hingga akhir hadis.

Sufyan ibnu Husain meriwayatkan kedua hadis tersebut, maka tidaklah layak menisbatkan salah satu dari kedua hadis itu kepada dugaan (yang tidak pasti) jika keduanya dapat digabungkan pengertiannya.

Mengenai tafsir ayat ini dapat dikatakan bahwa Allah berfirman kepada Nabi dan Rasul-Nya (yaitu Muhammad ﷺ), "Katakanlah, hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik itu yang telah menyembah selain Allah dan mengharamkan apa yang Dia rezekikan kepada mereka, serta membunuh anak-anak mereka sendiri, yang perbuatan tersebut mereka lakukan hanya berdasarkan pendapat-pendapat mereka sendiri yang dipengaruhi oleh bisikan setan."

Katakanlah

kepada mereka

"Marilah.”

Yakni kemarilah dan menghadaplah kalian.

...kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian.

Maksudnya, aku akan menceritakan kepada kalian dan akan kusampai­kan kepada kalian tentang apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian dengan sesungguhnya, bukan dengan dugaan, bukan pula atas dasar prasangka, melainkan berdasarkan wahyu dan perintah dari sisi­Nya.

....janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia.

Seakan-akan dalam konteks ayat ini terdapat kalimat yang tidak disebutkan.
Bentuk lengkapnya ialah seperti berikut, "Saya perintahkan kepada kalian." janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia.
(Al-An'am: 151)

Karenanya dalam akhir ayat ini disebutkan:

Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhan kalian kepada kalian supaya kalian memahami(nya).

Di dalam kitab Sahihain melalui hadis Abu Zar r.a.
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Jibril telah datang kepadaku dan menyampaikan berita gembira kepadaku bahwa barang siapa dari kalangan umatku mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun niscaya masuk surga.
Aku bertanya, "Sekalipun dia berzina dan mencuri?”Jibril menjawab, "Ya, sekalipun berzina dan mencuri.” Aku bertanya, "Sekalipun dia berzina dan mencuri?
Jibril menjawab, "Ya, sekalipun berzina dan mencuri.” Aku bertanya,"Sekalipun dia berzina dan mencuri?” Jibril menjawab, "Ya, sekalipun berzina, mencuri, dan meminum khamr.”

Menurut sebagian riwayat, yang menanyakan demikian adalah Abu Zar, ditujukan kepada Rasulullah ﷺ Kemudian disebutkan bahwa pada yang ketiga kalinya Rasulullah ﷺ bersabda:

Ya, sekalipun hidung Abu Zar keropos.

Tersebutlah bahwa Abu Zar setiap kali menyampaikan hadis ini pada penghujungnya selalu mengatakan: Ya, sekalipun hidung Abu Zar keropos.

Di dalam sebagian kitab musnad dan kitab sunnah disebutkan dari Abu Zar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

"Allah subhanahu wa ta'ala.
ber­firman: 'Hai anak Adam, sesungguhnya kamu selama masih mau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka sesungguhnya Aku memberikan ampunan bagi-Mu terhadap semua dosa yang ada padamu, tanpa Aku pedulikan lagi.
Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi, selagi kamu tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun.
Dan jika kamu banyak berdosa sehingga dosamu mencapai puncak langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku.
niscaya Aku mem­berikan ampunan bagimu'.”

Makna hadis ini mempunyai syahid (bukti) yang menguatkannya di dalam Al-Qur'an, yaitu oleh firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
(An-Nisa: 48 dan 116)

Di dalam hadis sahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Ibnu Mas'ud yang mengatakan:

Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya masuk surga.

Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis yang menerangkan hal ini cukup banyak.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui hadis Ubadah dan Abu Darda:

Janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, sekalipun kalian dipotong-potong atau disalib atau dibakar.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Nafi' ibnu Yazid, telah menceritakan kepadaku Sayyar ibnu Abdur Rahman, dari Yazid ibnu Qauzar, dari Salamah ibnu Syuraih, dari Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berwasiat kepada kami akan tujuh perkara, antara lain: Janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, sekalipun kalian dibakar, dipotong-potong, dan disalib.
(Riwayat Ibnu Abu Hatim)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak

Tuhan telah mewasiatkan dan memerintahkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, yakni perlakukanlah mereka dengan perlakuan yang baik.
Seperti yang disebutkan dalam ayat lain oleh firman-Nya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak kalian.
(Al-Isra: 23)

Sebagian ulama membaca ayat ini dengan bacaan berikut, yaitu:

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan, janganlah kalian menyembah selain Dia dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua."

Yakni perlakukanlah orang tua kalian dengan baik.

Allah subhanahu wa ta'ala.
sering sekali mengiringi perintah taat kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali kalian.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.
kemudian hanya kepada-Kulah kembali kalian, maka Kuberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.
(Luqman: 14-15)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua, sekalipun keduanya musyrik; kemusyrikannya itu ditanggung oleh keduanya.
Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman pula:

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, (yaitu): Janganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak.
(Al-Baqarah: 83), hingga akhir ayat.

Ayat-ayat yang bermakna senada banyak didapati di dalam Al-Qur’an.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari sahabat Ibnu Mas'ud r.a..
:

bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Amal apakah yang paling utama?"
Rasul ﷺ menjawab, "Mengerjakan salat tepat pada waktunya." Ia bertanya, "Kemudian apa lagi?"" Rasul ﷺ menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Ia bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?"
Rasul ﷺ menjawab, "Jihad di jalan Allah."' Ibnu Mas'ud r.a.
mengatakan, "Kesemuanya itu disampaikan oleh Rasulullah ﷺ kepadaku secara langsung.
Seandainya aku meminta tambahan keterangan, niscaya beliau ﷺ memberikan tambahannya kepadaku."

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah meriwayatkan berikut sanadnya, dari Abu Darda dan Ubadah ibnus Samit; masing-masing dari keduanya mengatakan bahwa kekasihnya (yakni Rasulullah ﷺ) telah memerintahkan kepadanya:

Taatilah kedua orang tuamu; dan jika keduanya memerintahkan kepadamu untuk keluar dari dunia ini (mati) buat (membela) keduanya, maka lakukanlah.

Tetapi di dalam sanad hadis ini terkandung kedaifan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.

Setelah Allah memerintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua dan juga kakek nenek, Dia mengiringi hal ini dengan perintah berbuat baik kepada anak cucu.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

...dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan.

Demikian itu karena mereka membunuh anak-anak mereka, menuruti bisikan setan kepada mereka.
Mereka mengubur bayi-bayi perempuan mereka karena takut aib, adakalanya pula mereka membunuh bayi-bayi laki-laki mereka karena takut jatuh miskin.
Karena itu, disebutkan di dalam kitab Sahihain:

melalui hadis Abdullah ibnu Mas'ud r.a., bahwa Abdullah Ibnu Mas'ud pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Dosa apakah yang paling besar?"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Bila kamu menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah Yang menciptakan kamu." Ibnu Mas'ud bertanya, "Kemudian apa lagi?"
Rasul ﷺ men­jawab, "Bila kamu membunuh anakmu karena takut si anak ikut makan bersamamu." Ibnu Mas'ud bertanya lagi, "Kemudian dosa apa lagi?"
Rasul ﷺ menjawab, "Bila kamu menzinai istri tetanggamu." Kemudi­an Rasulullah ﷺ membacakan ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.
(Al-Furqan: 68), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

karena kemiskinan.

Ibnu Abbas, Qatadah.
dan As-Saddi serta lain-lainnya mengatakan bahwa imlaq artinya kemiskinan.
Dengan kata lain, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan yang kalian alami.
Dalam surat Al-Isra disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan.
(Al-Isra: 31)

Artinya, janganlah kalian membunuh mereka karena takut jatuh miskin di masa mendatang.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian.
(Al-Isra: 31)

Dalam surat Al-Isra ini Allah mulai menyebutkan jaminan rezeki buat anak-anak mereka, karena itulah yang menjadi pokok permasalahannya.
Dengan kata lain, janganlah kalian takut jatuh miskin karena memberi mereka makan; sesungguhnya rezeki mereka ditanggung oleh Allah.
Adapun dalam surat Al-An'am ini, mengingat kemiskinan telah ada, maka yang disebutkan adalah seperti berikut:

Kami akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.

Disebutkan demikian karena yang diprioritaskan adalah para orang tua.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi.

Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Katakanlah, "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (meng­haramkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) kalian mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (Al-A’raf: 33)

Mengenai tafsirnya telah disebutkan ketika membahas makna firman-Nya:

Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi.
(Al-An'am: 120)

Di dalam kitab Sahihain melalui Ibnu Mas'ud r.a.
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah, karena itulah Dia mengharamkan semua hal yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.

Abdul Malik ibnu Umair mengatakan bahwa Al-Mugirah menambahkan 'dari maulanya' yang mengatakan bahwa Sa'd ibnu Ubadah pernah berkata, "Seandainya aku melihat istriku bersama lelaki lain, niscaya aku pukul lelaki itu dengan pedang, bukan dengan bagian tumpulnya." Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda: Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa'd?
Demi Allah, aku lebih cemburu daripada Sa'd, dan Allah lebih cemburu dariku.
Karena itulah Dia mengharamkan hal-hal yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Kamil (alias Abul Ala) telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa pernah dikatakan kepada Rasulullah ﷺ, "Sesungguhnya kami adalah pencemburu?"
Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar pencemburu, dan Allah lebih pencemburu dariku, dan termasuk kecemburuan-Nya ialah Dia melarang perbuatan-perbuatan keji.

Hadis riwayat Ibnu Murdawaih, tetapi tidak ada seorang pun dari pemilik kitab Sittah yang mengetengahkannya.
Hadis ini dengan syarat Imam Turmuzi, dan sesungguhnya Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis lain dengan sanad ini, yaitu hadis yang mengatakan:

Usia-usia umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.

Firman ini merupakan nas dari Allah yang mengukuhkan apa yang dilarang-Nya, karena sesungguhnya makna firman ini telah terkandung di dalam pengertian perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya adalah utusan Allah, terkecuali karena salah satu dari tiga perkara berikut, yaitu: Duda (janda) yang berzina, membunuh jiwa, dan meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah.

Menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim disebutkan:

Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak halal darah seorang lelaki muslim, hingga akhir hadis.

Al-A'masy mengatakan bahwa ia menceritakan hadis ini kepada Ibrahim, lalu Ibrahim menceritakan kepadaku, dari Al-Aswad.
dari Siti Aisyah hal yang semisal.

Imam Abu Daud dan Imam Nasai meriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a..
bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga perkara, yaitu: Pezina muhsan dirajam, seorang lelaki yang melakukan pembunuhan dengan sengaja, maka ia dihukum mati; dan seorang lelaki yang keluar dari Islam dan memerangi Allah dan Rasul-Nya, maka ia dihukum mati atau disalib atau diasingkan dari tanah airnya.

Lafaz hadis ini menurut apa yang ada pada Imam Nasai.

Dari Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan r.a.
Disebutkan bahwa ketika dalam keadaan terkepung, ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga perkara, yaitu: Seorang lelaki yang kafir sesudah masuk Islam, atau melakukan zina sesudah muhsan (terpelihara), atau membunuh jiwa bukan karena telah melakukan pembunuhan.

Khalifah Usman berkata, "Demi Allah, aku belum pernah berbuat zina, baik di masa Jahiliah maupun di masa Islam.
Dan aku tidak pernah berharap untuk menggantikan agamaku sesudah Allah memberi petunjuk kepadaku, tidak pernah pula aku membunuh seseorang.
Mengapa kalian hendak membunuhku?"

Imam Ahmad, Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya; dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Disebutkan adanya larangan dan peringatan serta ancaman terhadap perbuatan membunuh kafir mu’ahad, yakni orang kafir yang diamankan dari kalangan kafir harbi.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah ibnu Amr r.a., dari Nabi ﷺ secara marfu':

Barang siapa yang membunuh kafir mu'ahad.
maka ia tidak dapat mencium baunya surga, padahal sesungguhnya bau surga itu benar-benar dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.

Dari sahabat Abu Hurairah r.a..
dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Barang siapa yang membunuh seorang mu'ahad yang berada di dalam jaminan keselamatan Allah dan Rasul-Nya, berarti dia telah melanggar jaminan Allah.
Maka dia tidak dapat mencium baunya surga, padahal sesungguhnya baunya surga dapat tercium dari jarak perjalanan tujuh puluh musim gugur (tahun).

Hadis riwayat Ibnu Majah dan Imam Turmuzi.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhan kalian kepada kalian supaya kalian memahaminya).

Yakni inilah di antara apa yang diperintahkan Allah kepada kalian, supaya kalian memahami perintah Allah dan larangan-Nya.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An'aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An'aam" dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya' qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilyas, Alyasa', Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur'an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 151 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 151



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (9 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ Surah 6 ayat