QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 111 [QS. 6:111]

وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ
Walau annanaa nazzalnaa ilaihimul malaa-ikata wakallamahumul mauta wahasyarnaa ‘alaihim kulla syai-in qubulaa maa kaanuu liyu’minuu ilaa an yasyaa-allahu walakinna aktsarahum yajhaluun(a);

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
―QS. 6:111
Topik ▪ Takdir ▪ Allah menggerakkan hati manusia ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
6:111, 6 111, 6-111, Al An ‘aam 111, AlAnaam 111, Al Anaam 111, Al Anam 111, AlAnam 111, Al An’am 111

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 111

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 111. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menerangkan kepada kaum Muslimin, jika sekiranya Allah menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka sehingga mereka dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri dan dapat mendengarnya dengan telinga mereka sendiri tentang kesaksian para malaikat bahwa Muhammad itu betul-betul utusan Allah, sekiranya orang-orang yang telah mati dihidupkan kembali dapat berbicara dengan mereka tentang kebenaran Nabi Muhammad ﷺ.
dan sekiranya pula segala sesuatu dari keterangan-keterangan dan mukjizat itu dikumpulkan kepada mereka, niscaya mereka tidak juga akan beriman, sebagaimana mereka nyatakan dalam sumpah mereka.
Mereka memandang tanda-tanda itu bukan dengan pandangan orang yang mencari petunjuk, melainkan mereka memandangnya dengan permusuhan, sehingga apa saja yang mereka saksikan selalu mereka anggap hanya sebagai sihir, atau hanya semata-mata untuk mengelabui pikiran mereka.
Jika Allah menghendaki mereka beriman, tentulah hati mereka akan terbuka untuk beriman dengan cara yang sungguh-sungguh.
Mereka tidak mengetahui bahwa iman tersebut tidak perlu disangkut-pautkan dengan melihat tanda-tanda kebenaran, sebab telah menjadi Sunnatullah bahwa soal keimanan itu adalah semata-mata anugerah dari Allah Taala.
Walaupun kepada orang-orang musyrikin itu telah diperlihatkan tanda- tanda kebenaran Nabi Muhammad ﷺ.
maka hal itu tidaklah memastikan bahwa mereka benar-benar akan beriman, sebab datangnya keimanan itu bukanlah dengan paksaan, melainkan semata-mata karena karunia, taufik, dan hidayah dari Allah Taala sendiri.

Menurut keterangan Ibnu `Abbas, ada lima orang pembesar Quraisy sengaja datang kepada Rasulullah ﷺ bersama khalayak ramai, lalu mereka berkata: Hai Muhammad, perlihatkanlah kepada kami malaikat-malaikat yang memberikan persaksian bahwa engkau benar-benar utusan Allah, atau bangkitkanlah beberapa orang yang telah mati di antara kami sehingga kami dapat bertanya kepada mereka, apakah ucapanmu itu benar atau dusta, atau datangkanlah kepada kami Allah, Tuhanmu, beserta para malaikat-malaikat Nya sehingga dapat berhadap-hadapan dengan kami” Maka turunlah ayat ini.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa watak orang-orang kafir itu tidak diketahui oleh kebanyakan kaum Muslimin sehingga mereka meminta juga kepada Nabi Muhammad ﷺ.
untuk memperlihatkan mukjizatnya, dengan harapan supaya orang-orang kafir itu beriman.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang bersumpah bahwa jika datang suatu bukti mereka akan beriman, benar-benar bohong.
Allah lebih tahu tentang keimanan mereka yang sebenarnya.
Kalaupun Kami menurunkan malaikat yang dapat mereka lihat dengan mata kepala, kemudian mereka diajak bicara (mendengar pembicaraan) orang mati setelah dihidupkan kembali dan dikeluarkan dari kubur, serta Kami kumpulkan segala sesuatu yang menerangkan kebenaran, mereka tidak juga akan beriman kecuali jika Allah menghendaki.
Sungguh, kebanyakan mereka tidak memahami dan tidak tunduk kepada kebenaran, karena hati mereka telah tertutup oleh perilaku jahiliah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka) seperti apa yang telah mereka minta (dan Kami kumpulkan pula) Kami himpunkan pula (segala sesuatu ke hadapan mereka) dibaca dengan damah kedua huruf permulaannya, jamak dari Lafal qabiil yakni gelombang demi gelombang.

Dibaca kasrah huruf qaf-nya serta dibaca fatah huruf ba-nya, artinya:

secara terang-terangan sehingga mereka dapat menyaksikan kebenaranmu (niscaya mereka tidak juga akan beriman) karena hal itu telah diketahui oleh Allah sebelumnya (kecuali) melainkan (jika Allah menghendaki) mereka beriman, maka baru mereka dapat beriman (akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui) tentang hal itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kalau sekiranya Kami kabulkan semua permintaan orang-orang musyrik itu, Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit, kami hidupkan orang-orang yang telah mati, lalu bisa berbicara kepada mereka, dan Kami kumpulkan semua permintaan mereka, lalu Kami hadirkan di hadapan mereka, niscaya mereka tetap tidak akan beriman dan tidak pula mengerjakan apa yang kamu (wahai Rasul) serukan kepada mereka, kecuali orang-orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan hidayah.
Akan tetapi kebanyakan orang-orang kafir itu tidak mengetahui kebenaran yang engkau bawa dari sisi Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman bahwa sekiranya Allah memperkenankan permintaan mereka yang bersumpah dengan menyebut nama Allah dengan sumpah yang penuh kesungguhan, sesungguhnya jika datang kepada mereka suatu mukjizat, pastilah mereka akan beriman kepada mukjizat itu.
Allah menurunkan malaikat kepada mereka untuk memberitahukan risalah Allah yang dibawa oleh rasul-rasul-Nya agar mereka percaya kepada rasul-rasul itu.
Seperti yang mereka mintakan, yang disitir dalam firman-Nya:

atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikal dengan berhadapan muka dengan kami.
(Q.S. Al Israa [17]: 92)

Mereka berkata, “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.”(Q.S. Al-An’am [6]: 124)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami, “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?”
Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman.
(Q.S. Al-Furqaan [25]: 21)

Firman Allah :

…dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka.

Maksudnya, orang-orang yang telah mati itu memberitahukan kepada mereka tentang kebenaran dari apa yang didatangkan oleh para rasul (dalam dialog mereka dengan para malaikat).

…dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka.

Sebagian dari ulama membacanya qibalan, berasal dari kata muqabalah dan mu’ayanah (berhadap-hadapan).
Sedangkan ulama yang lainnya membaca qubulan, yang menurut suatu pendapat mempunyai makna yang sama, yaitu berasal dari muqabalah dan mu’ayanah juga, seperti yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah dan Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.

Mujahid mengatakan, makna qubulan ialah bergelombang-gelombang, yakni ditampilkan kepada mereka semua umat secara bergiliran, satu demi satu, lalu para malaikat memberitahukan kepada mereka tentang kebenaran dari apa yang didatangkan oleh para rasul kepada mereka.

…niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki.

Dengan kata lain, sesungguhnya hidayah itu hanyalah diberikan oleh Allah, bukan oleh mereka (para malaikat itu), bahkan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.
Dia Maha Melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya.
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 23) Berkat ilmu-Nya, hikmah-Nya, kekuasaan-Nya, keperkasaan-Nya, dan kemenangan-Nya.

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidak akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
(Q.S. Yunus [10]: 96-97)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An ‘aam (6) Ayat 111

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Hai Muhammad.
Engkau telah menceritakan kepada kami mukjizat para Rasul, bahwa Musa mempunyai tongkat dan dengan tongkat itu ia memukul batu (hingga keluarlah air); ‘Isa dapat menghidupkan yang mati; dan Shalih diberi unta untuk menguji kaum Tsamud.
Maka datangkanlah mukjizatmu kepada kami agar kami percaya kepadamu.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab:
“Cobalah gunung Shafa itu dijadikan emas.” Nabi ﷺ bersabda: “Jika aku telah melaksanakan permintaan kalian, apakah kalian akan percaya kepadaku?” Mereka menjawab:
“Demi Allah, kami akan taat.” Maka berdirilah Rasulullah seraya berdoa kepada Allah, sehingga datanglah Jibril dan berkata: “Jika engkau menghendakinya, pasti gunung Shafa itu akan menjadi emas.
Tapi jika mereka tidak juga percaya , pasti Allah akan menyiksa mereka.
Karenanya lebih baik engkau membiarkan mereka, sehingga bertobat orang-orang yang ingin bertobat.” Kemudian Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 111) sebagai penegasan bahwa mukjizat apapun yang diidatangkan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 111 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 111 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 111 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:111
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.9
Ratingmu: 4.5 (11 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim