QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 7 [QS. 33:7]

وَ اِذۡ اَخَذۡنَا مِنَ النَّبِیّٖنَ مِیۡثَاقَہُمۡ وَ مِنۡکَ وَ مِنۡ نُّوۡحٍ وَّ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ۪ وَ اَخَذۡنَا مِنۡہُمۡ مِّیۡثَاقًا غَلِیۡظًا ۙ
Wa-idz akhadznaa minannabii-yiina miitsaaqahum waminka wamin nuuhin wa-ibraahiima wamuusa wa’iisaabni maryama wa-akhadznaa minhum miitsaaqan ghaliizhan;

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.
―QS. 33:7
Topik ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala
33:7, 33 7, 33-7, Al Ahzab 7, AlAhzab 7, Al-Ahzab 7

Tafsir surah Al Ahzab (33) ayat 7

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa Dia telah menerima janji dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa bahwa mereka benar-benar akan menyampaikan agama Allah kepada manusia.
dan bahwa mereka akan saling tolong menolong dalam menyampaikan risalab itu, yaitu dengan cara mengakui Nabi-nabi yang terdahulu dari mereka sebagai Nabi-nabi Allah.

Ayat ini senada dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadmu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”.
Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian Ku terhadap yang demikian itu?”.
Mereka menjawab: “Kami mengakui”.
Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 81)

Dalam ayat ini hanya disebutkan para Nabi yang termasuk “Ulul azmi”,
yaitu Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, karena merekalah yang mempunyai syariat dan kitab.

Janji yang diberikan oleh para Nabi itu adalah janji yang kuat dan berat yang harus ditepati, karena di akhirat nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan menanyakan kepada umat-umatnya yang telah diutus kepadanya Rasul-rasul, dan Rasul-rasul sendiri akan ditanya pula kepada mereka tentang pelaksanaan tugas yang telah mereka janjikan itu.

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (kami).
(Q.S. Al-A’raf [7]: 6)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah, wahai Muhammad, ketika Kami menerima janji yang kukuh dari para nabi terdahulu untuk mengemban misi kerasulan dan menyeru manusia kepada agama yang lurus.
Kami menerima janji itu dari kamu, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan ‘Isa putra Maryam.
Kami menerima janji yang sangat besar maknanya dari mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Kami mengambil dari nabi-nabi perjanjian mereka) ketika mereka dikeluarkan dari tulang sulbi Adam sebagaimana benda yang paling kecil layaknya.

Lafal adz-dzurri bentuk jamak dari lafal dzurrah artinya semut yang paling kecil (dan dari kamu sendiri, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam) hendaknya mereka menyembah Allah dan menyeru supaya beribadah kepada-Nya.

Disebutkannya kelima nabi ini termasuk mengathafkan sesuatu kepada bagiannya (dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh) janji yang sangat berat untuk melaksanakan apa-apa yang harus mereka pikul, yakni bersumpah atas nama Allah, kemudian perjanjian itu diambil oleh-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah (wahai Nabi) saat Kami mengambil perjanjian yang ditegaskan dari para nabi agar mereka menyampaikan risalah.
Kami mengambil perjanjian darimu, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam (mereka adalah ulul azmi dari para Rasul, menurut pendapat yang masyhur), Kami memgambil perjanjian tegas dari mereka untuk menyampaikan risalah dan menunaikan amanat, dan agar sebagian membenarkan sebagian yang lain.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang Ulul ‘Azmi yang lima orang dan para nabi lainnya.
Dia telah mengambil perjanjian dan pernyataan dari mereka, bahwa mereka akan menegakkan agama Allah subhanahu wa ta’ala, menyampaikan risalah-Nya, saling membantu dan saling menolong, serta siap untuk berkorban, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian­Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 81)

Perjanjian dan pernyataan ini diambil dari mereka saat Allah mengangkat mereka menjadi utusan, begitu pula yang disebutkan dalam surat ini.
Dalam ayat ini Allah menyebutkan dengan tertentu nama-nama kelima orang nabi di antara mereka, mereka yang lima orang itu dikenal dengan sebutan Ulul ‘Azmi.
Ungkapan ini termasuk ke dalam Bab “Ataf Khas kepada Ataf Umum”.
Nama mereka disebutkan pula dengan jelas dalam ayat lainnya melalui firman-Nya:

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (Q.S. Asy Shyuura [42]: 13)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan nabi pertengahan, nabi permulaan, dan nabi penutup secara tertib.
Itulah wasiat yang ditekankan kepada para nabi tersebut sebagai suatu perjanjian yang diambil dari mereka, sama dengan apa yang disebutkan didalam firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 7)

Dalam ayat ini yang disebutkan pertama adalah nabi penutup, mengingat kemuliaan yang dimilikinya.
Kemudian barulah mereka disebutkan secara tertib berdasarkan urutan keberadaan mereka di bumi ini.
Semoga salawat Allah terlimpahkan kepada mereka semuanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Basyir, telah menceritakan kepadaku Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 7), hingga akhir ayat.
Nabi ﷺ bersabda: Aku adalah nabi yang mula-mula diciptakan dan nabi yang paling akhir dibangkitkan (dilahirkan di alam wujud).
Karena itu, maka Allah menyebutku di permulaan sebelum mereka.

Sa’id ibnu Basyir padanya terdapat ke-daif-an.
Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan hadis ini melalui Qatadah dengan sanad yang sama secara mursal, riwayat ini lebih mendekati kebenaran.
Dan sebagian dari mereka ada yang meriwayatkannya melalui Qatadah secara mauquf.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud dari perjanjian ini yang diambil dari mereka adalah perjanjian yang diambil pada saat mereka dikeluarkan dalam bentuk seperti semut-semut kecil dari tulang sulbi Adam ‘alaihis salam Sehubungan dengan hal ini Abu Ja’far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa bapak moyang mereka Adam diangkat, dan Adam memandang kepada anak cucunya.
Ia melihat di antara mereka ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang baik rupanya, serta ada yang buruk, lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, sudilah kiranya Engkau samakan rupa hamba-hamba-Mu itu.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku suka bila disyukuri (mereka bersyukur kepada-Ku).” Adam melihat di antara mereka ada yang menjadi nabi-nabi, rupa mereka bagaikan pelita karena nur memancar dari mereka.
Dan mereka (para nabi) mempunyai kekhususan lain berkat risalah dan kenabian yang diemban oleh mereka, yaitu diambil-Nya perjanjian dari mereka.
Hal itulah yang dimaksudkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 7)

Pendapat ini dikatakan pula oleh Mujahid.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-misaqul galiz artinya perjanjian tersebut.


Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali’lmran.

Dinamai “Al Ahzab” yang berarti “golongan-golongan yang bersekutu” karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu’min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu’min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahzab (73 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 7 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 7 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 7 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahzab - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 73 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 33:7
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
4.9
Ratingmu: 4.5 (29 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/33-7









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim