Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) - surah 33 ayat 6 [QS. 33:6]

اَلنَّبِیُّ اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ اَزۡوَاجُہٗۤ اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا اِلٰۤی اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا
Annabii-yu aula bil mu’miniina min anfusihim wa-azwaajuhu ummahaatuhum wa-uuluul arhaami ba’dhuhum aula biba’dhin fii kitaabillahi minal mu’miniina wal muhaajiriina ilaa an taf’aluu ila auliyaa-ikum ma’ruufan kaana dzalika fiil kitaabi masthuuran;
Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.
Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baikkepada saudara-saudaramu (seagama).
Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah).
―QS. Al Ahzab [33]: 6

Daftar isi

The Prophet is more worthy of the believers than themselves, and his wives are (in the position of) their mothers.
And those of (blood) relationship are more entitled (to inheritance) in the decree of Allah than the (other) believers and the emigrants, except that you may do to your close associates a kindness (through bequest).
That was in the Book inscribed.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 6]

ٱلنَّبِىُّ Nabi itu

The Prophet
أَوْلَىٰ lebih utama

(is) closer
بِٱلْمُؤْمِنِينَ dengan orang-orang mukmin

to the believers
مِنْ dari

than
أَنفُسِهِمْ diri mereka sendiri

their own selves,
وَأَزْوَٰجُهُۥٓ dan isteri-isterinya

and his wives
أُمَّهَٰتُهُمْ ibu-ibu mereka

(are) their mothers.
وَأُو۟لُوا۟ dan yang mempunyai

And possessors
ٱلْأَرْحَامِ hubungan darah

(of) relationships,
بَعْضُهُمْ sebagian mereka

some of them
أَوْلَىٰ lebih utama

(are) closer
بِبَعْضٍ dengan sebagian

to another
فِى dalam

in
كِتَٰبِ kitab

(the) Decree
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
مِنَ dari

than
ٱلْمُؤْمِنِينَ orang-orang mukmin

the believers
وَٱلْمُهَٰجِرِينَ dan orang-orang muhajirin

and the emigrants,
إِلَّآ kecuali

except
أَن bahwa

that
تَفْعَلُوٓا۟ kalian kerjakan

you do
إِلَىٰٓ kepada

to
أَوْلِيَآئِكُم saudara-saudara kamu

your friends
مَّعْرُوفًا kebaikan

a kindness.
كَانَ adalah

That is *[meaning includes next or prev. word]
ذَٰلِكَ demikian itu

That is *[meaning includes next or prev. word]
فِى dalam

in
ٱلْكِتَٰبِ kitab

the Book
مَسْطُورًا yang tertulis

written.

Tafsir Quran

Surah Al Ahzab
33:6

Tafsir QS. Al-Ahzab (33) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan kedudukan Nabi Muhammad di antara umatnya.
Diterangkan bahwa sekalipun orang-orang yang beriman itu mengutamakan diri mereka, tetapi Nabi Muhammad lebih banyak memperhatikan, mementingkan, dan mengutamakan mereka.

Nabi selalu menolong dan membantu mereka, dan selalu berkeinginan agar mereka menempuh jalan yang lurus yang dapat menyampaikan mereka kepada kebahagiaan yang abadi.
Oleh karena itu, sebenarnya Nabi lebih berhak atas diri mereka sendiri.

Cinta Nabi kepada kaum Muslimin melebihi cinta beliau terhadap makhluk Allah manapun.
Dengan demikian, hendaklah kaum Muslimin mengikuti segala perintahnya.



Nabi adalah pemimpin kaum Muslimin dalam kehidupan duniawi dan penuntun mereka ke jalan Allah.
Apabila beliau mengajak kaum Muslimin berperang di jalan Allah, hendaklah mereka segera mengikutinya, tidak perlu menunggu izin dari ibu bapak.

Mereka juga hendaknya selalu bersedia menjadi tebusan, perisai, dan pemelihara Nabi.

Pada hadis yang lain diterangkan tentang kepemimpinan Nabi terhadap kaum Muslimin:
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidak seorangpun dari orang-orang yang beriman, kecuali akulah yang paling dekat kepadanya di dunia dan di akhirat.

Bacalah firman Allah, jika kamu sekalian menghendaki,
"Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri."
Maka barang siapa di antara orang-orang yang beriman (mati) dan meninggalkan harta, maka harta itu hendaknya diwarisi ‘ashabah (ahli waris)nya.

Dan barang siapa yang meninggalkan hutang atau keluarga, maka hendaklah datang kepadaku, maka akulah orang yang akan mengurus keadaannya."
(Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah)

Berdasarkan ayat dan hadis di atas, para ulama sependapat bahwa setelah Rasulullah meninggal dunia, maka imamlah yang menggantikan kedudukan beliau.
Oleh karena itu, imam wajib membayar hutang orang-orang fakir yang meninggal dunia, sebagaimana Rasulullah telah melakukannya.
Imam membayar hutang itu dengan mengambil dananya dari Baitul Mal atau Kas Negara.

Karena Rasulullah adalah bapak dari kaum Muslimin, maka istri-istri beliau pun adalah ibu-ibu mereka.
Maksudnya ialah menempati kedudukan ibu, dalam kewajiban memuliakan dan menghormatinya, dan haram menikahinya.
Adapun dalam hal yang lain, seperti hubungan waris-mewarisi, hukum melihat auratnya atau berkhalwat dengannya, sama hukumnya dengan perempuan lain yang tidak memiliki hubungan mahram.

Prinsip ini tidaklah bertentangan dengan firman Allah:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Al-Ahzab [33]: 40)

Karena yang dimaksud ialah bahwa Nabi Muhammad itu adalah bapak dari seluruh orang-orang yang beriman, bukan bapak angkat dari seseorang.

Kemudian ayat ini menerangkan bahwa hubungan kerabat lebih berhak untuk menjadi sebab mendapatkan warisan daripada hubungan persaudaraan, keagamaan, atau karena berhijrah.
Sebagaimana diketahui bahwa kaum Muslimin pada permulaan Islam di Madinah saling mewarisi dengan jalan persaudaraan yang dijalin oleh Nabi, bukan dengan dasar hubungan kerabat.
Oleh karena itu, seorang dari Muhajirin memperoleh warisan dari seorang Anshar, sekalipun mereka tidak ada hubungan kerabat.
Mereka itu waris-mewarisi semata-mata karena hubungan persaudaraan yang telah dijalin oleh Nabi.



Hubungan semacam itu dilakukan Nabi karena orang-orang Muhajirin yang baru pindah dari Mekah ke Madinah dalam keadaan miskin, karena mereka tidak sempat membawa harta benda mereka dari Mekah.
Sedangkan orang-orang Anshar, sebagai penduduk asli Madinah, tentu sewajarnya menjadi penolong kaum Muhajirin yang miskin ini.
Waktu itu tugas utama kaum Muslimin ialah memperkuat persatuan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar untuk menghadapi musuh yang selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan mereka.
Memperkuat hubungan antara Muhajirin dan Anshar adalah salah satu jalan untuk memperkuat persatuan itu.
Maka Nabi ﷺ memperkuat hubungan itu dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.
Persaudaraan itu dijadikannya sama dengan persaudaraan yang berdasar atas pertalian kerabat, sehingga antara Muhajirin dan Anshar dapat waris-mewarisi.
Oleh karena itu, Nabi mempersaudarakan Abu Bakar ash-siddiq, seorang Muhajirin, dengan Kharijah bin Zaid, seorang Anshar.
Demikian pula Zubair dipersaudarakan dengan Ka’ab bin Malik dan Umar bin Khaththab dengan ‘Utbah bin Malik Al-Anshari, Abu ‘Ubaidah dengan Sa’ad bin Mu’az, dan lain-lain.

Diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya, dari Zubair bahwa ia berkata,
"Sesungguhnya kami seluruh orang Quraisy yang datang ke Madinah tanpa harta, dan mendapati golongan Anshar sebagai teman yang paling baik, maka kami mengadakan ikatan persaudaraan dengan mereka, dan saling berhak waris mewarisi.
Maka Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, aku dengan Ka’ab bin Malik."

Setelah kaum Muslimin menjadi kuat dan orang Muhajirin serta orang-orang Anshar mempunyai kehidupan yang baik, maka turunlah ayat yang menghapus hukum persaudaraan seagama dan hijrah sebagai dasar waris-mewarisi.
Allah menetapkan hubungan kerabat sebagai dasar hukum warisan, sedangkan hubungan antara kaum Muslimin dikembalikan kepada kedudukan semula, yaitu hubungan seagama, sekeyakinan, tolong menolong yang tidak membawa kepada waris-mewarisi, sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat [49]: 10)

Hadis Nabi ﷺ:

Tidak beriman salah seorang kamu hingga ia menginginkan pada saudaranya apa yang diinginkannya pada dirinya sendiri.
(Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i dari Anas)

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa tidaklah berdosa seorang mukmin berbuat suatu kebaikan kepada orang mukmin yang lain, yang telah terjalin antara mereka hubungan kasih sayang, hubungan seagama dan sebagainya.
Kebaikan itu ialah berupa wasiat untuk mereka, karena tidak lagi berhak waris-mewarisi dengan turunnya ayat ini.
Kadar wasiat ini telah ditetapkan oleh hadis, yaitu tidak lebih dari sepertiga dari seluruh harta peninggalan.

Menetapkan
"ulu Al-arham"
(kerabat) sebagai dasar hukum waris-mewarisi adalah keputusan Allah yang ditetapkan di dalam Alquran.
Oleh karena itu, hukum tersebut tidak boleh ditukar atau diganti oleh siapa pun.

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 6. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Nabi Muhammad lebih berhak untuk memberikan hak perwaliannya kepada orang-orang beriman.
Kasih sayang Rasulullah pada mereka melebihi kasih sayang mereka pada diri mereka sendiri.


Maka cintailah dan taatilah ia.
Istri-istri nabi adalah seperti ibu mereka yang wajib dihormati dan tidak boleh dinikahi sepeninggal nabi.


Orang-orang yang terikat dalam hubungan kekerabatan (pertalian darah) lebih utama dari orang-orang beriman lain dan orang-orang muhajirin untuk saling mewarisi dan diwarisi.
Ini adalah suatu persoalan yang wajib hukumnya dalam Alquran.


Namun demikian, kalian tidak dilarang untuk memberikan sebagian hak milik kepada orang Mukmin yang membela agama mesipun mereka tidak memiliki hubungan persaudaraan, sebagai suatu bentuk kebajikan.
Kalian juga diperbolehkan memberikan harta kalian melalui wasiat.


Pewarisan harta bagi para kerabat merupakan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak dapat berubah.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Nabi Muhammad lebih berhak dengan orang-orang mukmin dan lebih dekat kepada mereka atas diri mereka sendiri dalam perkara agama dan dunia.
Kehormatan istri-istri Nabi atas umatnya adalah seperti kehormatan ibu-ibu mereka, maka tidak boleh menikahi istri-istri Nabi sesudah beliau.


Sedangkan para pemilik hubungan kekerabatan di kalangan kaum muslimin, sebagian dari mereka lebih berhak atas warisan sebagian yang lain dalam hukum Allah dan syariat-Nya, daripada warisan berdasarkan iman dan hijrah.
Kaum muslimin di awal-awal Islam saling mewarisi berdasarkan hijrah dan iman bukan kekerabatan, kemudian hal itu mansukh (dihapus) dengan ayat-ayat warisan.


Kecuali bila kalian wahai kaum muslimin berkenan melakukan kebaikan kepada non ahli waris dalam bentuk bantuan, kebaikan, silaturahim, wasiat dan kebaikan lainnya.
Hukum tersebut telah ditakdirkan dan ditetapkan di Lauh Mahfuzh, maka kalian wajib mengamalkannya.


Ayat ini mewajibkan seseorang lebih menyintai Nabi daripada dirinya sendiri, wajib tunduk secara utuh kepada beliau, wajib menghormati Ummahatul Mukminin para istri Nabi, bahwa mencaci mereka merupakan kerugian yang sangat nyata.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukminin dari diri mereka sendiri) maksudnya apa yang diserukan oleh Nabi ﷺ agar mereka melakukannya, dan apa yang diserukan oleh hawa nafsu mereka agar mereka melanggarnya, maka seruan Nabilah yang harus lebih diutamakan daripada kehendak diri mereka sendiri


(dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka) haram untuk dinikahi oleh mereka.


(Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah) yakni kaum kerabat


(satu sama lain lebih berhak) waris-mewarisi


(di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin) daripada waris-mewarisi berdasarkan saudara seiman dan berhijrah yang berlangsung pada permulaan Islam, kemudian dimansukh oleh ayat ini


(kecuali) tetapi


(kalau kalian mau berbuat baik kepada saudara-saudara kalian seagama) melalui wasiat, masih tetap diperbolehkan.


(Adalah yang demikian itu) yaitu dihapusnya hukum waris-mewarisi karena seiman dan hijrah dengan hubungan kekerabatan


(telah tertulis di dalam Alkitab) Alkitab yang dimaksud di dalam dua tempat pada ayat ini adalah Lohmahfuz.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya dan keikhlasan beliau kepada mereka, karena itulah maka Allah menjadikan Rasulullah ﷺ lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.
Dan keputusan Allah terhadap mereka mendahului pilihan mereka untuk diri mereka sendiri, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Di dalam hadis sahih disebutkan:

Demi Tuhan Yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah seseorang dari kalian beriman sebelum diriku ini lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, harta bendanya, anak-anaknya, dan semua orang.

Di dalam kitab sahih disebutkan pula bahwa Umar r.a. pernah bertanya,


"Wahai Rasulullah, demi Allah, engkau benar-benar lebih aku cintai daripada segala sesuatu, terkecuali diriku sendiri."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
Tidak, hai Umar, sebelum diriku lebih dicintai olehmu daripada dirimu sendiri.
Maka Umar r.a. berkata,
"Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri."
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hai Umar, begitulah seharusnya."


Karena itulah disebutkan dalam ayat ini melalui firman-Nya:


Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Munzir, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Falih, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hilal ibnu Ali, dari Abdur Rahman ibnu Abu Amrah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Tidak ada seorang mukmin pun melainkan aku adalah orang yang paling utama baginya di dunia dan di akhirat.
Bacalah oleh kalian bila kalian suka akan firman-Nya,
"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri."
(QS. Al-Ahzab [33]: 6).
Maka siapa pun orang mukmin yang meninggalkan harta, maka diwariskan kepada para ‘asabah (ahli waris)nya yang ada.
Dan jika ia meninggalkan utang atau anak-anak yatim, maka datanglah kepadaku, akulah yang menjadi maulanya.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara tunggal.
Dia meriwayatkannya pula di dalam Bab
"Istiqrad",
demikian juga Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui berbagai jalur dari Falih dengan sanad dan lafaz yang semisal.
Imam Ahmad meriwayatkannya melalui hadis Abu Husain, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri sehubungan dengan makna firman-Nya:
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)
Az-Zuhri menerima hadis ini dari Abu Salamah, dari Jabir ibnu Abdullah r.a., dari Nabi ﷺ yang pernah bersabda:
Aku lebih utama bagi tiap orang mukmin daripada dirinya sendiri.
Maka barang siapa yang mati meninggalkan utang, akulah yang akan membayarkannya, dan barang siapa yang meninggalkan harta, maka hartanya itu untuk ahli warisnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)

Yakni dalam hal kemahraman dan kehormatan, mereka harus dimuliakan, dihormati, dan diagungkan, tetapi tidak boleh berkhalwat dengan mereka.
Dan kemahraman ini tidak menjalar sampai kepada anak-anak perempuan dan saudara-saudara perempuan mereka, menurut kesepakatan semua ulama.
Sekalipun ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa anak-anak perempuan mereka dan saudara-saudara perempuan mereka adalah saudara-saudara perempuan semua kaum mukmin, seperti yang telah di-nas-kan oleh Imam Syafii r.a. di dalam kitab Al-Mukhtasar-nya.
Pendapat ini termasuk ke dalam Bab
"Memutlakkan Ibarat Bukan Menetapkan Hukum".
Dan apakah dapat dikatakan kepada Mu’awiyah dan lain-lainnya yang semisal dengan sebutan paman orang-orang mukmin?
Ada dua pendapat di kalangan ulama mengenai masalah ini.
Tetapi menurut apa yang di-nas-kan oleh Imam Syafii, tidak.
Dan apakah istri-istri Nabi ﷺ itu dapat disebut ibu-ibu kaum mukmin perempuan dengan pengertian dimasukkan ke dalam jamak muzakkar secara taglib.
Ada dua pendapat mengenainya.

Menurut riwayat yang sahih dari Siti Aisyah r.a., Siti Aisyah pernah mengatakan tidak boleh disebut Ummahatul Mu-minat.
Pendapat ini merupakan yang tersahih di antara dua pendapat yang ada di kalangan mazhab Imam Syafii r.a.
Telah diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka’b dan Ibnu Abbas r.a. bahwa keduanya membaca ayat ini dengan bacaan berikut:

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka —dan Nabi adalah bapak mereka—.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mu’awiyah, Mujahid, Ikrimah, dan Al-Hasan.
Pendapat ini merupakan salah satu dari dua pendapat yang ada di kalangan mazhab Syafii r.a. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Bagawi dan lain-lainnya.
Mereka mengatakan demikian dengan berlandaskan kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud rahimahullah.


Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad An-Nufaili, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Muhammad ibnu Ajian, dari Al-Qa’qa’ ibnu Hakim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya aku ini bagi kalian sama kedudukannya dengan seorang ayah yang mendidik kalian.
Maka apabila seseorang di antara kalian mendatangi tempat buang air besarnya, janganlah menghadap ke arah kiblat, jangan pula membelakanginya, dan janganlah ia bercebok dengan memakai tangan kanannya.
Nabi ﷺ memerintahkan istijmar dengan memakai tiga buah batu, dan melarang memakai kotoran hewan (yang telah kering) dan tulang.


Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah mengetengahkan hadis ini melalui riwayat Ibnu Ajlan.


Sedangkan menurut pendapat yang kedua di kalangan mazhab Imam Syafii, tidak boleh menyebut Nabi ﷺ sebagai ayah mereka.
Mereka yang berpendapat demikian beralasan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 40)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah.
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)

Maksudnya, menurut hukum Allah.

daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin.
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)

Yakni kaum kerabat seseorang itu lebih utama saling mewarisi satu sama lainnya daripada kaum Muhajirin dan kaum Ansar.
Ayat ini me-mansukh (merevisi) hukum yang sebelumnya berlaku dalam hal waris-mewaris, yang dapat dilakukan dengan halaf (sumpah pertahanan bersama) dan saudara angkat yang diadakan di antara sesama mereka.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas dan lain-lainnya.
Disebutkan bahwa dahulu kaum Muhajirin dapat mewarisi kaum Ansar —bukan kaum kerabat dan saudara-saudara orang yang bersangkutan— karena adanya persaudaraan angkat yang diadakan oleh Nabi ﷺ di antara kedua golongan tersebut.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair dan lain-lainnya, baik dari kalangan ulama Salaf maupun ulama Khalaf.

Sehubungan dengan hal ini Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Az-Zubair ibnul Awwam.


Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Bakar Al-Mi’sabi (salah seorang ulama yang tinggal di Bagdad), dari Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Az-Zubair ibnul Awwam r.a. yang menceritakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan firman berikut berkenaan dengan kami golongan orang-orang Quraisy dan kaum Ansar secara khusus, yaitu:
Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah.
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)
Demikian itu pada mulanya kami orang-orang Quraisy ketika pertama kali tiba di Madinah, kami datang tanpa membawa harta, dan kami jumpai orang-orang Ansar adalah sebaik-baik saudara, maka kami mempersaudarakan diri dengan mereka dan saling mewarisi antara kami dan mereka.
Abu Bakar r.a. mempersaudarakan dirinya dengan Kharijah ibnu Zaid, Umar dengan si Fulan, dan Usman dengan seorang lelaki dari Bani Zuraiq anak Sa’d Az-Zurqi, yang menurut pendapat lain mengatakan bukan dari kalangan Bani Zuraiq.

Az-Zubair r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa ia mempersaudarakan dirinya dengan Ka’b ibnu Malik.
Ketika ia mendatanginya, ternyata ia menjumpainya sebagai seseorang yang banyak memiliki senjata, yang menurut tradisi lebih dari apa yang biasanya dimiliki oleh seseorang.
Az-Zubair melanjutkan,
"Demi Allah, hai Anakku, seandainya Ka’b ibnu Malik meninggal dunia pada hari itu, tiada seorang pun yang akan mewarisinya selain aku sendiri, hingga Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan kami golongan orang-orang Quraisy dan kaum Ansar secara khusus, setelah itu barulah kami mengembalikan hak mewarisi kepada kaum kerabat masing-masing."

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)

Yaitu hak mewaris antara saudara angkat telah dihapus, dan yang ada hanyalah saling tolong-menolong, saling berbuat bajik, silaturahmi, saling berbuat baik, dan saling wasiat-mewasiatkan kebaikan.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)

Hukum ini —yang menyatakan bahwa orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lainnya lebih berhak waris-mewarisi— merupakan hukum dari Allah yang telah ditetapkan dan telah tertulis di dalam Kitab Allah yang pertama, yang tidak dapat diganti dan tidak dapat pula diubah.
Demikianlah menurut Mujahid dan lain-lainnya, sekalipun di suatu masa Allah subhanahu wa ta’ala pernah mensyariatkan hukum yang berbeda dengan hukum yang terakhirnya ini.
Karena di dalam hukum yang pertama itu terkandung hikmah yang tak terperikan, dan Dia mengetahui bahwa hukum tersebut kelak akan di-mansukh dan akan dikembalikan kepada ketetapan-Nya yang telah digariskan-Nya sejak zaman azali.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 6

AWLIYAA
أَوْلِيَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al waliy yang mengandung makna setiap yang menguruskan urusan, penolong, yang dicintai, sahabat, jiran, pengikut, penolong, pembebas hamba, yang taat.
Ungkapan Allah waliyyuka bermakna Allah menjaga dan mengawasi kamu.

Perkataan Al mu’min waliy Allah, memiliki maksud "yang taat kepada Nya."

Waliyyal ‘ahd artinya putera mahkota,

Waliyy al mar’ah artinya yang mewakilkan ikatan pernikahan ke atasnya dan tidak batal akad itu sekiranya ketiadaannya,

Waliyy al yatim bermaksud pengasuh anak yatim,

Awliyy al amr ialah para penguasa.

Al waliyy juga bermakna lawan kepada musuh dan setiap orang yang mendekati kamu.

Lafaz awliyaa’ disebut 42 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
• Ali Imran (3), ayat 28, 175;
An Nisaa (4), ayat 76, 89, 139, 144;
• Al Maa’idah (5), ayat 51, 51, 57, 81;
• Al An’aam (6), ayat 121, 128;
• Al A’raaf (7), ayat 3, 27, 30;
Al Anfaal (8), ayat: 34, 34, 72, 73;
• At Taubah (9), ayat 23, 71;
Yunus (10), ayat 62;
Hud (11), ayat 20, 113;
• Ar Ra’d (13), ayat 16;
Al Kahfi (18), ayat 50, 102;
• Al Furqaan (25), ayat 18;
• Al Ankaabut (29), ayat 41;
Al Ahzab (33), ayat 6;
• Az Zumar (39), ayat 3;
• Fushshilat (41), ayat 31;
• Asy Syura (42), ayat 6, 9, 46;;
• Al Jaatsiyah (45), ayat 10, 19;
• Al Ahqaf (46), ayat 32;
• Al Mumtahanah (60), ayat 1;
• Al Jumu’ah (62), ayat 6.

Di dalam Al Qur’an, lafaz awliyaa’ dapat dikategorikan kepada empat golongan berdasarkan sandaran dan hubungannya dengan kalimat lain.

Pertama, dihubungkan kepada Allah seperti dalam surah Yunus, ayat 62.
Kedua, dihubungkan kepada orang kafir, musyrik dan Yahudi seperti ayat 28 surah Ali Imran dan surah Al Maa’idah, ayat 57;

Ketiga, disandarkan kepada syaitan seperti dalam surah An Nisaa, ayat 76.
Keempat, disandarkan kepada Mukmin seperti dalam surah Al Anfaal, ayat 72.
Diriwayatkan oleh Ad Dahhak dari Ibnu Abbas, ayat 28 surah Ali Imran turun kepada Ubadah bin Shamit Al Ansari.
Beliau adalah sahabat yang turut serta dalam Perang Badar.
Beliau memiliki perjanjian persahabatan dengan orang Yahudi.
Ketika Nabi Muhammad keluar pada Perang Ahzab, Ubadah berkata,
"Wahai Rasulullah! Sesungguhnya bersamaku 500 lelaki dari Yahudi dan aku melihat mereka mau keluar bersamaku dan membantu menghadapi musuh, lalu Allah menurunkan ayat ini.

Dalam ayat 72 surah Al Anfaal, Asy Syawkani berkata,
"Makna awliyaa’ di sini ialah sesama muslim menjadi saudara atau sahabat yang saling membantu dan menolong"

Dalam Tafsir Al Jalalain, lafaz awliyaa’ dalam surah An Nisaa, ayat 76, bermakna penolong-penolong agamanya (yang batil) yaitu orang kafir.

Ibnu Katsir berkata,
"Sesungguhnya wali-wali Allah ialah orang yang beriman dan bertakwa, setiap orang yang bertakwa adalah wali bagi Allah."

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas keduanya berkata,
awliyaa’ Allah ialah orang yang apabila dia memandang pasti ingat Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah berkata,
"Sesungguhnya di kalangan hamba Allah, ada yang diinginkan seperti mereka oleh para nabi dan syuhada.
Dikatakan, "Siapa mereka, wahai Rasulullah? Kami berharap supaya kami dapat mencintai mereka," Rasulullah berkata,
"Mereka ialah golongan yang saling mencintai karena Allah, jauh dari harta keduniaan dan juga nasab, wajah-wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut ketika manusia takut dan tidak bersedih apabila manusia bersedih " Lalu beliau membaca ayat di atas."

Kesimpulannya, maksud umum lafaz awliya’ ialah penolong, sahabat dan pengikut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:87-88

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

▪ Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
▪ Hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

▪ Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio Murottal

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 6 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 6 - Gambar 2
Statistik QS. 33:6
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
Sending
User Review
4.4 (28 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

33:6, 33 6, 33-6, Surah Al Ahzab 6, Tafsir surat AlAhzab 6, Quran Al-Ahzab 6, Surah Al Ahzab ayat 6

Video Surah

33:6


More Videos

Kandungan Surah Al Ahzab

۞ QS. 33:1 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hukum memohon bantuan orang musyrik • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:2 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 33:3 • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 33:4 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 33:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 33:8 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al Bashir (Maha Melihat) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 33:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 33:12 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:15 • Sifat orang munafik

۞ QS. 33:16 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 33:17 • Kekuasaan Allah • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 33:18 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:19 • Kekuasaan Allah • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:20 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:21 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 33:22 • Allah menepati janji

۞ QS. 33:24 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang munafik

۞ QS. 33:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 33:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 33:27 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 33:29 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:30 • Menyiksa pelaku maksiat • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 33:31 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 33:34 • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus)

۞ QS. 33:35 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Ajakan masuk Islam • Keutamaan iman

۞ QS. 33:36 • Kebaikan pada pilihan Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 33:39 • Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 33:40 • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:43 • Pahala iman • Al Rahim (Maha Penyayang) • Doa malaikat untuk umat muslim • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 33:44 • Pahala iman • Percakapan Allah dengan ahli surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:47 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 33:48 • Al Wakil (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:50 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:51 • Keluasan ilmu Allah • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:52 • Al Raqib (Maha Pengawas)

۞ QS. 33:54 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:55 • Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 33:56 • Doa malaikat untuk umat muslim

۞ QS. 33:57 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:58 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:59 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:60 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:61 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:62 • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 33:63 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Nama-nama hari kiamat • Kiamat telah dekat • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 33:64 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:65 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka •

۞ QS. 33:66 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 33:67 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Siksa orang kafir

۞ QS. 33:68 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 33:70 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 33:71 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Islam menghapus dosa masa lalu • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 33:73 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang kafir

Ayat Pilihan

Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sungguh kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah),
yang mengetahui yang ghaib & yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
QS. Al-Jumu’ah [62]: 8

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,
kepada orang miskin & orang yang dalam perjalanan
dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
QS. Al-Isra’ [17]: 26

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu & terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.
QS. Az-Zariyat [51]: 22

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah ...

Correct! Wrong!

Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Surah Ad-Duha (الضحى) adalah surah ke-93 dalam Alquran dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr.
Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya 'waktu matahari sepenggalahan naik'.

Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah ...

Correct! Wrong!

+

Array

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Alquran Surah Ad-Dhuha Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

Arti:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
'dan demi malam apabila telah sunyi,'
--QS. As-Duha [93] : 2

Pendidikan Agama Islam #17
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #17 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #17 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #24

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat … Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah … Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu … dengan … Tata cara membaca Alquran dimulai dengan … Dalam surah Alquran, At-Tin artinya …

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Kamus Istilah Islam

kisas

Apa itu kisas? KBBI: ki.sas pembalasan WIKIPEDIA: Kisas atau qisas adalah istilah dalam hukum Islam yang berarti pembalasan , mirip dengan pepatah “utang nyawa dibayar nyawa”. Dalam ka...

Al-Baidhawi

Siapa itu Al-Baidhawi? Al-Imam al-Qadhi al-Mufassir Nashiruddin Abu Sa`id Abu al-Khair Abdullah bin Abi al-Qasim Umar bin Muhammad bin Abi al-Hasan Ali al-Baidlawi asy-Syirazi asy-Syafi`i lahir di al...

Mahmud al-Alusi

Siapa itu Mahmud al-Alusi? Abū al-Thanā ‘Shihāb ad-Dīn Sayyid Maḥmūd ibn’ Abd Allāh al-Ḥusaynī al-Ālūsī al-Baghdādī adalah seorang sarjana Islam Arab yang terkenal karena m...