QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 53 [QS. 33:53]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَدۡخُلُوۡا بُیُوۡتَ النَّبِیِّ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡذَنَ لَکُمۡ اِلٰی طَعَامٍ غَیۡرَ نٰظِرِیۡنَ اِنٰىہُ ۙ وَ لٰکِنۡ اِذَا دُعِیۡتُمۡ فَادۡخُلُوۡا فَاِذَا طَعِمۡتُمۡ فَانۡتَشِرُوۡا وَ لَا مُسۡتَاۡنِسِیۡنَ لِحَدِیۡثٍ ؕ اِنَّ ذٰلِکُمۡ کَانَ یُؤۡذِی النَّبِیَّ فَیَسۡتَحۡیٖ مِنۡکُمۡ ۫ وَ اللّٰہُ لَا یَسۡتَحۡیٖ مِنَ الۡحَقِّ ؕ وَ اِذَا سَاَلۡتُمُوۡہُنَّ مَتَاعًا فَسۡـَٔلُوۡہُنَّ مِنۡ وَّرَآءِ حِجَابٍ ؕ ذٰلِکُمۡ اَطۡہَرُ لِقُلُوۡبِکُمۡ وَ قُلُوۡبِہِنَّ ؕ وَ مَا کَانَ لَکُمۡ اَنۡ تُؤۡذُوۡا رَسُوۡلَ اللّٰہِ وَ لَاۤ اَنۡ تَنۡکِحُوۡۤا اَزۡوَاجَہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖۤ اَبَدًا ؕ اِنَّ ذٰلِکُمۡ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ عَظِیۡمًا
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tadkhuluu buyuutannabii-yi ilaa an yu’dzana lakum ila tha’aamin ghaira naazhiriina inaahu walakin idzaa du’iitum faadkhuluu fa-idzaa tha’imtum faantasyiruu walaa musta’nisiina lihadiitsin inna dzalikum kaana yu’dziinnabii-ya fayastahyii minkum wallahu laa yastahyii minal haqqi wa-idzaa saaltumuuhunna mataa’an faasaluuhunna min waraa-i hijaabin dzalikum athharu liquluubikum waquluubihinna wamaa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallahi walaa an tankihuu azwaajahu min ba’dihi abadan inna dzalikum kaana ‘indallahi ‘azhiiman;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan.
Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.
Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.
Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat.
Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
―QS. 33:53
Topik ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
33:53, 33 53, 33-53, Al Ahzab 53, AlAhzab 53, Al-Ahzab 53

Tafsir surah Al Ahzab (33) ayat 53

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 53. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah mengajarkan suatu tata cara kesopanan di dalam etika pergaulan dalam menghadapi rumah tangga Nabi ﷺ.
Allah melarang orang-orang yang beriman untuk memasuki rumah-rumah Nabi ﷺ kecuali dengan izin beliau, untuk makan di rumahnya tanpa menunggu-nunggu waktu masak makannya.
Pada masa Rasulullah ﷺ pernah terjadi ada orang-orang yang menunggu-nunggu waktu makan Rasulullah ﷺ Lalu turun ayat ini melarang masuk rumah Rasulullah ﷺ sambil menunggu-nunggu waktu makan Rasulullah ﷺ Bilamana Rasulullah ﷺ mengundang beberapa orang sahabat ke rumahnya untuk menghadiri walimah, maka mereka dilarang untuk memasuki rumah Nabi ﷺ kecuali bila mereka sudah mengetahui bahwa makanannya sudah siap dihidangkan.

Bila hidangan belum siap dan mereka masih sibuk menyiapkan hidangan maka masuknya tamu itu akan mengganggu ketenangan keluarga Nabi ﷺ, dan karena bilamana istri Nabi ﷺ sedang bekerja akan terlihat sebagian anggota tubuhnya yang tidak boleh terlihat oleh para tamu.
Akan tetapi, jika tamu itu diundang mereka dipersilahkan masuk dan apabila mereka telah selesai makan supaya segera keluar tanpa asyik memperpanjang percakapan, karena yang demikian itu benar-benar mengganggu Nabi ﷺ, tetapi beliau sendiri merasa malu untuk menyuruh tamu keluar, tetapi Allah tidak segan untuk menerangkan yang benar.
Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan kesopanan di dalam permulaan rumah tangga supaya diperhatikan oleh seluruh tamu-tamu yang berkunjung ke rumah orang.
Dan bilamana ada kepentingan untuk meminta sesuatu atau meminjam sesuatu barang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ, maka hendaklah permintaan itu dilakukan dari belakang tabir dan tidak boleh berhadapan secara langsung, karena yang demikian itu lebih menyucikan hati kedua belah pihak.
Dan tidak pula menyakiti hati Rasulullah ﷺ Dan termasuk perbuatan yang menyakiti hati Rasulullah ﷺ ialah menikahi istri-istrinya setelah Nabi meninggal dunia.
Larangan untuk menikahi bekas istri-istri Nabi ﷺ, adalah larangan yang berlaku untuk selama-lamanya karena perbuatan itu amat besar dosanya di sisi Allah.
Imam Bukhari r.a meriwayatkan dari Anas r.a bahwa umar bin Khatab pernah berkata: “Ada tiga pendapatku yang sesuai dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah Taala.
Aku berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah; alangkah baiknya bila engkau menjadikan makam Ibrahim as tempat salat, lalu Allah menurunkan ayat:

Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim tempat salat.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 125)

Yang kedua saya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu sering didatangi tamu orang baik dan orang jahat, seandainya paduka membuat tabir untuk mereka tentu lebih baik, maka Allah menurunkan ayat hijab ini.
Ketiga saya pernah berkata kepada istri-istri Nabi ketika mereka berselisih karena rasa cemburu terhadap Nabi, maka turunlah ayat ini:

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari pada kamu.
(Q.S. At-Tahrim [66]: 5)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian memasuki rumah nabi kecuali seizin penghuninya saat kalian diundang makan tanpa tinggal berlama-lama sambil menunggu waktu makan tiba.
Masuklah hanya apabila nabi mempersilakan kalian.
Jika kalian telah disuguhi makanan, segeralah pulang dan jangan saling mengadakan perbincangan.
Jika kalian memasuki rumah Rasul tanpa izin atau dengan sengaja berlama- lama mengadakan perbincangan di dalam rumahnya, sebenarnya hal itu sangat menyakiti hatinya.
Hanya saja ia malu untuk menyuruh kalian meninggalkan rumahnya.
Tapi tidak ada yang menghalangi Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyatakan suatu kebenaran.
Apabila kalian bermaksud menanyakan suatu keperluan kepada istri- istri nabi, maka bertanyalah pada mereka dari balik tabir, karena hal itu akan lebih dapat menjaga kesucian hati mereka dan hati kalian sendiri dari godaan setan.
Kalian sama sekali tidak dibenarkan menyakiti hati nabi dan–sebagai penghormatan kepada nabi dan istri-istrinya–kalian tidak diperbolehkan mengawini istri- istrinya sesudah ia wafat.
Sesungguhnya dalam pandangan Allah tindakan demikian itu merupakan dosa yang besar.[1]

[1] Lihat catatan kaki dan komentar pada ayat 58 dan 59 surat al-Nur berkaitan dengan etika berkunjung dan soal keutamaam masjid.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kalian diizinkan) memasukinya karena mendapat undangan (untuk makan) kemudian kalian boleh memasukinya (dengan tidak menunggu-nunggu) tanpa menunggu lagi (waktu masak makanannya) yakni sampai makanan masak terlebih dahulu, Inaa berakar dari kata Anaa Ya-niy (tetapi jika kalian diundang maka masuklah dan bila kalian selesai makan, keluarlah kalian tanpa) berdiam lagi (asyik memperpanjang percakapan) sebagian dari kalian kepada sebagian yang lain.

(Sesungguhnya yang demikian itu) yakni berdiamnya kalian sesudah makan (akan mengganggu nabi lalu nabi malu kepada kalian) untuk menyuruh kalian keluar (dan Allah tidak malu menerangkan yang hak) yakni menerangkan supaya kalian keluar, atau dengan kata lain Dia tidak akan mengabaikan penjelasannya.

Menurut qiraat yang lain lafal Yastahyi dibaca dengan hanya memakai satu huruf Ya sehingga bacaannya menjadi Yastahiy.

(Apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka) kepada istri-istri Nabi ﷺ (yakni suatu keperluan, maka mintalah dari belakang tabir) dari belakang hijab.

(Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka) dari perasaan-perasaan yang mencurigakan.

(Dan tidak boleh kalian menyakiti hati Rasulullah) dengan sesuatu perbuatan apa pun (dan tidak pula mengawini istri-istrinya sesudah ia wafat selama-lamanya.

Sesungguhnya perbuatan itu di sisi Allah) dosanya (besar).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya!! Janganlah kamu memasuki rumah Nabi kecuali dengan izin untuk menyantap makanan tidak menunggu matangnya.
Akan tetapi bila kalian diundang maka masuklah.
Dan bila kalian sudah selesai makan maka segera bubarlah tanpa mengobrol lagi sesudahnya di antara kalian.
Karena menunggunya kalian dan perbincangan kalian itu mengganggu nabi, namun dia malu untuk mengusir kalian keluar rumah padahal hal itu adalah haknya, dan Allah tidak malu untuk menjelaskan dan menampakkan kebenaran.
Bila kalian meminta sebuah hajat kepada istri-istri Nabi seperti bejana rumah dan lainnya, maka mintalah kepada mereka dari balik tabir.
Karena hal itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka dari godaan yang mengganggu laki-laki kepada wanita, dan sebaliknya.
Melihat adalah sebab fitnah, kalian tidak patut menyakiti Nabi dan tidak boleh pula menikahi istri-istrinya sesudahnya selama-lamanya, karena mereka adalah ibu bagi kalian, dan seseorang tidak halal menikahi ibunya.
Sesungguhnya bila kalian menyakiti Rasulullah dan menikahi istri-istrinya sesudahnya, maka hal itu adalah dosa besar di sisi Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Inilah ayat hijab yang di dalamnya terkandung hukum-hukum dan etika-etika syar’iyyah.

Penurunan ayat ini bertepatan dengan perkataan sahabat Umar ibnul Khattab r.a., sebagaimana yang telah disebutkan di dalam kitab sahihain yang bersumber darinya.
Disebutkan bahwa Umar pernah berkata, “Aku bersesuaian dengan Tuhanku dalam tiga perkara, yaitu aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya engkau menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat salat,” lalu Allah menurunkan firman-Nya: Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 125), Dan aku pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu banyak ditemui oleh orang-orang, di antaranya ada yang bertakwa dan ada yang durhaka (yakni ada yang baik dan ada yang buruk), maka sekiranya engkau buatkan hijab untuk mereka,’ lalu turunlah ayat hijab ini.
Dan aku pernah berkata kepada istri-istri”Nabi ﷺ pada saat mereka bersekongkol memprotes Nabi ﷺ karena terdorong oleh rasa cemburu mereka, ‘Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lebih”baik daripada kamu.’ Maka turunlah ayat yang menyebutkan hal yang sama,” yaitu firman-Nya: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan mem­beri ganti kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kamu.
‘ (At Tahriim: 5)

Di dalam riwayat Imam Muslim disebutkan pula bahwa Umar mengeluar­kan pendapatnya sehubungan dengan tawanan Perang Badar, dan masalah ini adalah hal yang keempatnya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, dari Yahya, dari Humaid, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Umar ibnul Khattab berkata, “Wahai Rasulullah, yang masuk menemuimu ada orang yang bertakwa dan ada pula yang durhaka, maka sebaiknya enkau perintahkan kepada Ummahatul Mu-minin (semua istrimu) memakai hijab.” Maka Allah menurunkan ayat hijab ini.
Disebutkan bahwa penurunan ayat ini bertepatan dengan pagi hari perkawinan Rasulunah ﷺ dengan Zainab binti Jahsy yang perkawinannya dilakukan langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala (melalui wahyu-Nya).

Peristiwa ini terjadi pada bulan Zul Qa’dah tahun lima hijriah, menurut pendapat Qatadah, Al-Waqidi, dan selain keduanya.
Tetapi Abu Ubaidah alias Ma’mar ibnul Musanna dan Khalifah ibnu Khayyat mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun tiga hijriah.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Ar-Raqqasyi, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir ibnu Sulaiman yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mijlaz, dari Anas ibnu Malik r.a.
yang mengatakan, “Ketika Rasulullah ﷺ menikahi Zainab binti Jahsy, beliau mengundang sejumlah orang, lalu menjamu mereka, kemudian mereka bercakap-cakap di majelis itu.
Kemudian kelihatan beliau ﷺ hendak bangkit, dan kaum masih duduk-duduk saja.
Melihat keadaan itu beliau terus bangkit.
Ketika beliau bangkit, sebagian orang bangkit pula, tetapi masih ada tiga orang yang tetap duduk.
Nabi ﷺ datang lagi dan hendak masuk (ke kamar pengantin), tetapi ternyata masih ada sejumlah orang yang masih duduk dan belum pergi.
Tidak lama kemudian mereka bangkit dan pergi.
Lalu Aku (Anas ibnu Malik) menghadap dan menceritakan kepada Nabi ﷺ bahwa kaum telah pergi.
Lalu Nabi ﷺ bangkit hendak masuk, dan aku pergi mengikutinya.
Tetapi tiba-tiba beliau menurunkan hijab antara beliau dan aku, lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya).
Tetapi jika kamu diundang, maka masuklah, dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu’ (Q.S. Al-Ahzab [33]: 53), hingga akhir ayat.”

Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula di tempat yang lain, juga Imam Muslim dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Mu’tamir ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama.

Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya secara tunggal dengan sanad yang sama melalui hadis Abu Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Anas r.a., lalu disebutkan hal yang semisal.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Suhaib, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan, bahwa Nabi ﷺ ketika kawin dengan Zainab binti Jahsy mengadakan jamuan walimah dari makanan roti dan daging.
Lalu aku disuruh untuk mengundang kaum kepada jamuan walimah itu.
Maka datanglah suatu kaum, lalu mereka makan, setelah itu pergi.
Kemudian datang pula kaum yang lain, mereka langsung makan, dan sesudahnya mereka keluar.
Aku terus mengundang orang-orang hingga tidak kutemukan lagi seseorang yang kuundang, lalu aku berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, semua orang telah kuundang dan tiada lagi yang tertinggal.” Maka beliau ﷺ bersabda: Bereskanlah jamuan kalian.
Tetapi masih ada tiga orang yang masih asyik dalam percakapannya di dalam rumah.
Maka Nabi ﷺ keluar dan menuju ke kamar Siti Aisyah r.a., lalu mengucapkan salam: Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya terlimpahkan kepada kalian, hai Ahlul Bait.
Siti Aisyah menjawab, “Semoga keselamatan dan rahmat Allah terlimpahkan kepadamu.
Bagaimanakah engkau jumpai istri barumu, ya Rasulullah?
Semoga Allah memberkatimu.” Lalu beliau ﷺ mendatangi tiap-tiap kamar istrinya, semuanya menjawab jawaban yang sama seperti yang dikatakan oleh Aisyah, dan mengucapkan kata selamat seperti yang diucapkan oleh Aisyah.
Setelah itu Nabi ﷺ kembali, dan ternyata masih ada tiga orang di dalam rumahnya sedang asyik bercakap-cakap.
Nabi ﷺ adalah seorang yang pemalu, maka beliau berangkat menuju kamar Siti Aisyah.
Aku (Anas) tidak ingat lagi apakah aku memberitahukan kepadanya ataukah beliau telah diberi tahu bahwa semua tamu telah pergi, jelasnya beliau kembali, dan pada saat beliau melangkahkan kakinya di balik pintu bagian dalamnya, sedangkan kaki yang lainnya masih di luar pintu, tiba-tiba beliau menurunkan kain penutup yang menghalang-halangi antara aku dan beliau.
Dan saat itulah diturunkan ayat hijab ini.

Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Mansur, dari Abdullah ibnu Bukair As-Sahmi, dari Humaid, dari Anas dengan lafaz yang semisal.
Kemudian Imam Bukhari mengatakan bahwa ada dua orang perawi yang meriwayatkannya melalui jalur ini secara tunggal.
Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara tunggal melalui hadis Sulaiman ibnul Mugirah, dari Sabit, dari Anas.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Muzaffar, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, dari Al-Ja’id Abu Usman Al-Yasykuri, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan malam pertamanya dengan salah seorang istri barunya.
Maka Ummu Sulaim membuat hais (makanan), kemudian meletakkannya di sebuah baki, lalu berkata, “Bawalah makanan ini kepada Rasulullah ﷺ dan sampaikanlah salamku kepadanya, serta katakanlah kepadanya bahwa kiriman ini dari kami untuk beliau dengan apa adanya.” Anas mengatakan bahwa saat itu orang-orang sedang dalam keadaan paceklik, lalu aku sampaikan kiriman tersebut dan kukatakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, Ummu Sulaim mengirimkan hidangan ini kepadamu, dan dia menyampaikan salamnya untukmu seraya mengatakan bahwa makanan yang apa adanya ini darinya buat engkau.” Rasulullah ﷺ melihat kiriman itu, lalu bersabda, “Letakkanlah.” Maka makanan itu kuletakkan di salah satu sudut rumah Nabi ﷺ Kemudian beliau ﷺ bersabda, “Undanglah si Fulan dan si Anu,” beliau menyebutkan nama beberapa orang lelaki yang jumlahnya cukup banyak, lalu beliau menambahkan, “Dan undang pulalah orang muslim yang kamu jumpai.” Maka aku sampaikan undangan beliau kepada orang-orang yang telah beliau sebutkan namanya, juga setiap orang muslim yang kujumpai.
Ketika aku datang, rumah, halaman dan ruangan tamu penuh dengan orang-orang.
Maka aku bertanya, “Hai Abu Usman, berapa orangkah mereka semuanya?”
Abu Usman menjawab, “Kurang lebih ada tiga ratus orang.” Sahabat Anas melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Kemarikanlah makanan itu!” Maka aku datangkan makanan itu kepadanya, dan beliau meletakkan tangannya di atas makanan tersebut, lalu berdoa dan bersabda, “Ini adalah kehendak Allah.” Kemudian bersabda: Hendaklah tiap sepuluh orang membuat suatu lingkaran dan hendaklah mereka membaca bismillah, dan hendaklah setiap orang memakan makanan yang ada didekatnya.
Lalu mereka membaca basmalah dan makan hingga semuanya merasa kenyang.
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, “Angkatlah hidangan itu!” Anas r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia mengambil baki yang berisikan makanan itu, dan ia melihat isinya, tetapi ia tidak ingat lagi apakah saat ia meletakkan hidangan itu lebih banyak ataukah saat mengambilnya lebih banyak (maksudnya makanan tersebut kelihatannya masih utuh seperti semula).
Anas r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa ada beberapa orang lelaki yang masih asyik dalam percakapannya di dalam rumah Rasulullah ﷺ, sedangkan istri Rasulullah ﷺ yang baru dinikahi itu ada bersama mereka, memalingkan wajahnya ke arah tembok.
Ternyata mereka memperpanjang percakapannya.
Hal itu membuat Rasulullah ﷺ keberatan, tetapi beliau tidak mau menegur mereka karena beliau adalah orang yang sangat pemalu.
Seandainya diberi tahu, pastilah mereka merasa tidak enak karena sedang asyik dalam obrolannya.
Maka Rasulullah ﷺ pergi dan menemui tiap-tiap istrinya di kamar­nya masing-masing, kepada tiap orang dari mereka beliau mengucapkan salam.
Ketika para hadirin yang masih ada melihat Rasulullah ﷺ tiba, mereka baru sadar bahwa diri mereka merepotkan Rsulullah ﷺ Karena itu, mereka segera bangkit menuju pintu, lalu keluar.
Rasulullah ﷺ datang, lalu menutupkan kain pintu dan masuk ke dalam kamar, sedangkan aku (Anas) berada di ruang tamunya.
Rasulullah ﷺ tinggal di dalam kamarnya sesaat yang tidak lama, dan Allah menurunkan wahyu Al-Qur’an kepadanya.
Setelah itu beliau keluar dari kamar dan membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53), hingga akhir ayat.
Sahabat Anas mengatakan bahwa Nabi ﷺ terlebih dahulu membacakan ayat-ayat tersebut kepadaku sebelum orang lain, lalu aku menceritakannya kepada orang-orang selama suatu masa.

Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai telah meriwayat­kannya melalui Qutaibah, dari Ja’far ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Imam Bukhari meriwayatkannya secara ta’liq di dalam Kitabun Nikah.
Ia mengatakan bahwa Ibrahim ibnu Tuhman telah meriwayatkan hadis ini dari Al-Ja’d alias Abu Usman, dari Anas, lalu disebutkan hal yang semisal.

Imam Muslim meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnu Rafi’, dari Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Al-Jahd dengan sanad yang sama.
Abdullah ibnul Mubarak telah meriwayatkan hadis ini melalui Syarik, dari Bayan ibnu Bisyr, dari Anas dengan lafaz yang semisal.
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya pula melalui hadis Abu Nadrah Al-Abdi, dari Anas ibnu Malik dengan lafaz yang semisal, tetapi mereka tidak ada yang mengetengahkannya melalui jalur ini.
Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Amr ibnu Sa’id dan hadis Az-Zuhri, dari Anas dengan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz dan Hasyim ibnul Qasim.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, dari Sabitt, dari Anas yang mengatakan bahwa setelah idah Zainab habis, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Zaid (bekas suaminya): Pergilah kamu kepadanya, dan ceritakanlah kepadanya bahwa aku menyebut-nyebutnya.
Zaid berangkat hingga sampai ke rumah Zainab, saat itu Zainab sedang membuat adonan roti.
Ketika aku melihatnya, terasa dadaku keberatan memandangnya.
Lalu disebutkan hadis selanjutnya seperti yang telah dikemukakan jauh sebelum ini, pada tafsir firman-Nya: Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya).
(Q.S. Al-Ahzab [33]:37)

Pada akhir riwayat ini ditambahkan pula bahwa lalu Nabi ﷺ menasihati orang-orang dengan nasihat yang biasa beliau utarakan kepada mereka.

Hasyim dalam hadisnya mengatakan (menyitir firman Allah subhanahu wa ta’ala): Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53), hingga akhir ayat.

Imam Muslim dan Imam Nasai telah mengetengahkannya melalui hadis Ja’far ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdur Rahman anak saudaranya Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku pamanku Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa istri-istri Nabi ﷺ apabila membuang hajat besarnya di malam hari keluar menuju ke Manasi’, yaitu tanah lapang yang luas.
Dan Umar r.a.
selalu berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, pakailah hijab buat istri-istrimu,” tetapi Rasulullah ﷺ tidak mengindahkannya.
Lalu Saudah binti Zam’ah (istri Rasulullah ﷺ) keluar untuk membuang hajat besarnya.
Dia adalah seorang wanita yang berperawakan tinggi, maka Umar menyerunya dengan suara yang keras, “Kami telah mengenalmu, hai Saudah.” Umar melakukan demikian karena keinginannya yang sangat agar diturunkan wahyu mengenai hijab.
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat hijab.

Demikianlah menurut riwayat ini secara apa adanya.
Tetapi menurut pendapat yang terkenal, peristiwa ini terjadi sesudah turunnya ayat hijab, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim melalui hadis Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a.
yang menceritakan:

bahwa Saudah keluar untuk suatu keperluannya sesudah diturunkan ayat hijab.
Saudah adalah seorang wanita yang berperawakan besar lagi tinggi, tidak samar lagi bagi orang yang mengenalnya.
Lalu Saudah kelihatan oleh Umar ibnul Khattab, maka Umar berkata, “Hai Saudah, ingatlah, demi Allah, engkau tidak samar lagi bagi kami.
Karena itu, perhatikanlah dahulu di sekitarmu sebelum kamu keluar.” Maka Saudah kembali lagi ke rumah, saat itu Rasulullah ﷺ sedang makan malam dan sedang memegang daging paha di tangannya.
Saudh masuk, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya keluar untuk suatu keperluan, lalu Umar mengatakan anu dan anu.” Siti Aisyah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi ﷺ Setelah wahyu selesai dan tangan Nabi ﷺ masih keringatan karena beratnya wahyu, beliau bersabda: Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian (kaum wanita) untuk keluar guna keperluan kalian.

Lafaz hadis ini menurut apa yang ada pada Imam Bukhari.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Melalui ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala melarang orang-orang mukmin masuk ke dalam rumah-rumah Nabi ﷺ tanpa izin, tidak sebagaimana biasanya yang mereka lakukan di masa Jahiliah dan masa permulaan Islam di mana mereka masuk ke rumah-rumah mereka tanpa izin.
Maka Allah merasa cemburu dengan umat ini, lalu Dia memerintahkan mereka agar meminta izin terlebih dahulu bila mau masuk ke rumah orang.
Hal ini pun merupakan suatu penghormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap umat ini.
Untuk itulah maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Jangan sekali-kali kalian masuk menemui wanita.

hingga akhir hadis.

Kemudian dikecualikan dari hal tersebut melalui firman-Nya:

kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya).
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Mujahid dan Qatadah serta selain keduanya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak menunggu-nunggu masaknya makanan itu.
Dengan kata lain, janganlah kalian mengintai-intai makanan bila sedang dimasak, sehingga manakala makanan itu hampir masak, lalu kalian masuk ke rumah (yang mempunyai hajat).
Hal ini termasuk perbuatan yang tidak disukai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan dicela-Nya.
Ayat ini mengandung dalil yang mengharamkan sikap slamit (jawa, mengharamkan sesuatu dari orang lain, pent.) yang menurut orang Arab disebut dengan istilah daifan.
Sehubungan dengan topik ini Al-Khatib Al-Bagdadi telah menulis sebuah kitab tersendiri yang membahas tercelanya sifat ini, lalu dikemukakan pula sebagian dari kisah-kisah mereka yang berperangai demikian, hal itu tidak akan dibahas di sini.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

tetapi jika kamu diundang, maka masuklah, dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Ibnu Umar r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila seseorang di antara kalian mengundang saudaranya untuk suatu jamuan, hendaklah orang yang diundang me­menuhinya, baik undangan pernikahan ataupun undangan lainnya.

Asal hadis ini terdapat di dalam kitab Sahihain.

Di dalam kitab sahih disebutkan pula sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Seandainya aku diundang untuk makan kaki kambing, pastilah aku akan memenuhinya.
Dan seandainya aku dikirimi masakan kikil kambing, tentulah aku terima.
Maka apabila kalian telah selesai dari menyantap jamuan, janganlah kalian merepotkan pemilik rumah, dan segeralah kalian keluar (dari rumahnya).

Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

tanpa asyik memperpanjang percakapan.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Sebagaimana yang dilakukan oleh ketiga orang yang disebutkan oleh hadis di atas, mereka asyik dengan obrolannya sehingga memberatkan Rasulullah ﷺ yang saat itu menjadi pengantin.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman menceritakannya:

Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar).
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah sesungguhnya masuk kalian ke dalam rumah Nabi ﷺ tanpa izin adalah sikap yang memberatkannya dan membuatnya terganggu.
Tetapi beliau ﷺ merasa berat untuk menyuruh mereka keluar, sebab Nabi ﷺ adalah seorang yang pemalu, hingga pada akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat yang melarang hal tersebut.
Untuk itulah maka disebutkan dalam firman selanjutnya:

dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala melarang kalian bersikap demikian dan memperingatkan kalian supaya jangan mengganggu Nabi lagi.
Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Yakni sebagaimana Allah melarang kalian masuk menemui istri-istri Nabi, maka dilarang pula kalian memandang mereka dalam keadaan bagaimanapun, sekalipun bagi seseorang di antara kalian ada keperluan yang hendak diambilnya dari mereka.
Dia tidak boleh memandangnya, tidak boleh pula meminta suatu keperluan kepada mereka melainkan dari balik hijab.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mis’ar, dari Musa ibnu Abu Kasir, dari Mujahid, dari Aisyah yang menceritakan bahwa pada suatu hari ia makan hais bersama Nabi ﷺ di dalam sebuah mangkuk besar, lalu lewatlah Umar.
Maka Nabi ﷺ mengundangnya untuk makan bersama, dan Umar pun makan bersama kami.
Jari Umar bersentuhan dengan jariku (Aisyah), maka Umar berkata, “Alangkah baiknya, atau aduh, seandainya Nabi ﷺ ditaati oleh kalian, niscaya tiada suatu mata pun yang melihat kalian (istri-istri Nabi ﷺ).” Maka turunlah firman-Nya: Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53) Yakni apa yang telah Kuperintahkan kepada kalian dan apa yang telah Kusyariatkan kepada kalian tentang berhijab adalah lebih suci dan lebih baik bagi kalian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya sesudah ia wafat selama-lamanya.
Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Hammad, telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Sufyan ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki yang berniat akan mengawini bekas istri Nabi ﷺ bila beliau ﷺ sudah tiada.
Seorang lelaki bertanya kepada Sufyan, “Apakah dia adalah Aisyah?”
Sufyan menjawab, “Mereka telah menceritakan hal tersebut.”

Telah meriwayatkan pula berikut sanadnya dari As-Saddi, bahwa lelaki yang berniat demikian adalah Talhah ibnu Abdullah r.a.
hingga turunlah wahyu yang mengingatkannya bahwa hal itu diharamkan.

Karena itulah para ulama telah sepakat bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, maka istri-istrinya haram dikawini oleh orang lain karena mereka bukan saja sebagai istri-istri beliau di dunia ini, tetapi juga di akhirat, mereka juga adalah Ummahatul Mu-minin alias ibu-ibu semua kaum mukmin, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Para ulama berselisih pendapat sehubungan dengan masalah seorang lelaki yang sempat kawin dan menggaulinya, lalu menceraikannya semasa Rasulullah ﷺ masih hidup.
Maka apakah wanita itu halal bagi lelaki lain untuk dikawininya?
Ada dua pendapat sehubungan dengan masalah ini.
Permasalahan keduanya timbul dari pertanyaan, bahwa apakah hal ini termasuk ke dalam pengertian umum firman-Nya: sesudah ia wafat.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53) Ataukah tidak?
Adapun mengenai masalah seseorang yang mengawininya (yakni bekas istri Nabi ﷺ), lalu ia menceraikannya sebelum menggaulinya, maka kami tidak mengetahui apakah dia halal atau tidak bagi orang lain.
Bila keadaannya demikian, masalahnya masih diperselisihkan.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Amir, bahwa Nabi ﷺ wafat, sedangkan Qailah bintil Asy’as (yakni Ibnu Qais) berada dalam kepemilikan Nabi ﷺ sebagai hamba sahayanya.
Sesudah itu Qailah dikawini oleh Ikrimah ibnu Abu Jahal, maka peristiwa ini sangat memberatkan hati Abu Bakar.
Lalu Umar mengemukakan pendapatnya kepada Abu Bakar, “Hai Khalifah Rasulullah, sesungguhnya dia (Qailah) bukan termasuk salah seorang istri Nabi ﷺ Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak pernah memilihnya, tidak pula menghijabnya (memakaikan hijab padanya).
Allah telah melepaskan dia dari Nabi ﷺ karena dia pernah murtad mengikut kepada kaumnya.” Amir melanjutkan kisahnya, bahwa setelah mendengar saran dari sahabat Umar itu barulah hati Abu Bakar r.a.
merasa tenang.

Allah subhanahu wa ta’ala menganggap hal itu termasuk dosa besar dan mem­peringatkan serta mengancam pelakunya melalui firman-Nya:

Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 53)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 54)

Maksudnya, betapapun hati sanubari kalian menyimpan sesuatu dan menyembunyikan rahasia, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.
(Q.S. Al-Mu-min: 19)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 53

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan yang bersumber dari Anas bahwa ketika Nabi ﷺ menikah dengan Zainab binti Jahsy, beliau mengundang para sahabatnya makan-makan (walimah).
Setelah selesai makan, para sahabat itu berbincang-bincang, sehingga Rasulullah memberi isyarat dengan seolah-olah akan berdiri, tetapi mereka tidak juga berdiri.
Terpaksalah Rasulullah berdiri meninggalkan mereka, diikuti oleh sebagian yang hadir, tetapi tiga orang lainnya masih terus bercakap-cakap.
Setelah semuanya pulang, Anas memberitahukan Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ pulang ke rumah Zainab, dan ia mengikutinya masuk.
Kemudian Rasulullah memasang hijab/ penutup.
Berkenaan dengan peristiwa tersebut turunlah ayat ini (al-Ahzab: 53) yang melarang masuk ke rumah Nabi ﷺ sebelum mendapat izin serta (melarang) berlama-lama tinggal di rumah Nabi.

Diriwayatkan oleh at-Tarmidzi, yang menganggap hadits ini hasan, yang bersumber dari Anas bahwa Anas pernah berkumpul bersama Rasulullah ﷺ.
Pada waktu itu Rasulullah masuk ke kamar pengantin wanita (yang baru dinikahinya).
Tetapi di dalam kamar itu banyak orang, sehingga beliau keluar lagi.
Setelah orang-orang itu pulang, barulah beliau masuk kembali.
Kemudian beliau membuat hijab (penghalang) antara Rasulullah (serta istrinya) dengan Anas.
Kejadian ini diterangkan oleh Anas kepada Abu Thalhah.
Abu Thalhah berkata: “Jika betul apa yang engkau katakan, tentu akan turun ayat tentang ini.” Berkenaan dengan peristiwa ini, turunlah “aayatul hijab” (al-Ahzab: 53).

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ketika ‘Aisyah sedang makan beserta Rasulullah ﷺ masuklah ‘Umar.
Rasulullah mengajaknya makan bersama.
Ketika itu bersentuhlah jari ‘Aisyah dengan ‘Umar, sehingga ‘Umar berkata: “Aduhai sekiranya usul saya diterima (untuk memasang hijab), tentu tak seorangpun dapat melihat istri tuan.” Berkenaan dengan peristiwa ini turunlah ayat hijab (al-Ahzab: 53).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan duduk berlama-lama di tempat itu.
Nabi ﷺ keluar rumah sampai tiga kali agar orang itu mengikutinya keluar, akan tetapi ia tetap tidak keluar.
Ketika itu masuklah ‘Umar dengan memperlihatkan kebencian pada mukanya.
Ia berkata pada orang itu: “Mungkin engkau telah mengganggu Rasulullah ﷺ!” Bersabdalah Nabi ﷺ: “Aku telah berdiri tiga kali agar orang itu mengikuti aku, akan tetapi ia tidak juga melakukannya.” ‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana sekirannya tuan membuat hijab, karena istri-istri tuan tidaklah sama dengan dengan istri-istri yang lain.
Hal ini akan lebih menentramkan dan menyucikan hati mereka.” Berkenaan dengan peristiwa ini turunlah ayat hijab (al-Ahzab: 53).

Menurut al-Hafizh ibnu Hajar, peristiwa-peristiwa tersebut dapat digabungkan menjadi asbabun nuzul ayat di atas (al-Ahzab: 53), yang semuanya terjadi sebelum kisah Zainab.
Oleh karena peristiwa-peristiwa itu tidak lama sebelum kisah Zainab terjadi.
Namun tidak ada halangan menyatakan bahwa turunnya ayat tersebut karena berbagai sebab.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b bahwa apabila Rasulullah ﷺ bangkit menuju rumahnya, orang-orang berebut duduk di rumah Rasulullah ﷺ, tapi pada wajah beliau tidak tampak adanya perubahan.
Oleh karena itu Rasulullah tidak sempat makan karena banyaknya orang.
Turunlah ayat ini (al-Ahzab: 53) sebagai peringatan kepada orang-orang yang memasuki rumah Rasulullah tanpa mengenal waktu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Zaid bahwa Rasulullah ﷺ mendengar ucapan orang yang berkata: “Jika Nabi wafat, aku akan kawin degan fulanah (bekas istri Rasul).” Maka turunlah akhir ayat ini (al-Ahzab: 53) sebagai larangan mengawini bekas istri Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (al-Ahzab: 53) turun berkenaan dengan seseorang yang bermaksud mengawini salah seorang bekas istri Rasulullah ﷺ, sesudah beliau wafat.
Menurut Sufyan, istri Rasul yang dimaksud adalah ‘Aisyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa Thalhah bin ‘Ubaidillah berkata: “Mengapa Muhammad membuat hijab antara kita dengan putri-putri paman kita, padahal beliau sendiri mengawini istri-istri yang seketurunan dengan kita.
Sekiranya terjadi sesuatu, aku akan mengawini bekas istri beliau.” Maka turunlah akhir ayat ini (al-Ahzab: 53) yang melarang perbuatan itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm bahwa ayat ini (al-Ahzab: 53) turun berkenaan dengan ucapan Thalhah bin ‘Ubaidillah yang berkata: “Sekiranya Rasulullah wafat, aku akan mengawini ‘Aisyah.”

Diriwayatkan oleh Juwaibir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki datang kepada seorang istri Rasululah ﷺ dan bercakap-cakap dengannya.
Laki-laki itu adalah anak paman istri Rasulullah.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Janganlah kamu berbuat seperti itu lagi.” Orang itu berkata: “Ya Rasulullah, ia adalah putri pamanku.
Demi Allah, aku tidak berkata yang munkar dan iapun tidak berkata yang mungkar.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku tahu hal itu.
Sesungguhnya tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah, dan tidak ada seorangpun yang lebih cemburu daripada aku.” Dengan rasa dongkol orang itu pun pergi dan berkata: “Ia menghalangi aku bercakap-cakap dengan anak pamanku.
Sungguh aku akan kawin dengannya setelah beliau wafat.” Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 53) yang melarang perbuatan itu.

Berkatalah Ibnu ‘Abbas : “Orang itu memerdekakan hamba dan menyumbangkan sepuluh unta untuk digunakan fisabilillah dan naik haji sambil berjalan kaki, dengan maksud tobat atas omongannya itu.”

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali’lmran.

Dinamai “Al Ahzab” yang berarti “golongan-golongan yang bersekutu” karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu’min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu’min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahzab (73 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 53 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 53 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 53 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahzab - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 73 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 33:53
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah33
Nama SurahAl Ahzab
Arabالْأحزاب
ArtiGolongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu90
JuzJuz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku'9 ruku'
Jumlah ayat73
Jumlah kata1307
Jumlah huruf5787
Surah sebelumnyaSurah As-Sajdah
Surah selanjutnyaSurah Saba’
4.7
Ratingmu: 4.3 (9 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta