Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 52 [QS. 33:52]

لَا یَحِلُّ لَکَ النِّسَآءُ مِنۡۢ بَعۡدُ وَ لَاۤ اَنۡ تَبَدَّلَ بِہِنَّ مِنۡ اَزۡوَاجٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکَ حُسۡنُہُنَّ اِلَّا مَا مَلَکَتۡ یَمِیۡنُکَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ رَّقِیۡبًا
Laa yahillu lakannisaa-u min ba’du walaa an tabaddala bihinna min azwaajin walau a’jabaka husnuhunna ilaa maa malakat yamiinuka wakaanallahu ‘ala kulli syai-in raqiiban;
Tidak halal bagimu (Muhammad) menikahi perempuan-perempuan (lain) setelah itu, dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang engkau miliki.
Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.
―QS. Al Ahzab [33]: 52

Daftar isi

Not lawful to you, (O Muhammad), are (any additional) women after (this), nor (is it) for you to exchange them for (other) wives, even if their beauty were to please you, except what your right hand possesses.
And ever is Allah, over all things, an Observer.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 52]

لَّا tidak

(It is) not
يَحِلُّ halal

lawful
لَكَ bagimu

for you
ٱلنِّسَآءُ perempuan

(to marry) women
مِنۢ dari

after (this) *[meaning includes next or prev. word]
بَعْدُ sesudah

after (this) *[meaning includes next or prev. word]
وَلَآ dan tidak

and not
أَن bahwa

to
تَبَدَّلَ boleh kamu mengganti

exchange
بِهِنَّ dengan mereka

them
مِنْ dari

for
أَزْوَٰجٍ istri-istri

(other) wives
وَلَوْ walaupun

even if
أَعْجَبَكَ menarik hatimu

pleases you
حُسْنُهُنَّ kebaikan/kecantikan mereka

their beauty,
إِلَّا kecuali

except
مَا apa

whom
مَلَكَتْ yang dimiliki

you rightfully possess *[meaning includes next or prev. word]
يَمِينُكَ tangan kananmu

you rightfully possess *[meaning includes next or prev. word]
وَكَانَ dan adalah

And Allah is *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

And Allah is *[meaning includes next or prev. word]
عَلَىٰ atas

over
كُلِّ segala/semua

all
شَىْءٍ sesuatu

things
رَّقِيبًا Maha Pengawas

an Observer.

Tafsir

Alquran

Surah Al Ahzab
33:52

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 52. Oleh Kementrian Agama RI


Allah tidak membolehkan Nabi ﷺ untuk menikahi perempuan-perempuan lain setelah ayat ini turun.
Allah juga melarang untuk mengganti mereka dengan istri-istri yang lain, meskipun kecantikannya menarik perhatian Nabi ﷺ, kecuali perempuan-perempuan hamba sahaya yang diperoleh dari peperangan atau yang dihadiahkan kepada beliau.


Abu Dawud dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa dia berkata,
"Setelah Allah menyuruh memilih kepada istri-istri Nabi., lalu mereka memilih supaya tetap berada di bawah naungan rumah tangga Nabi, maka Allah Taala pun membatasi Nabi untuk menambah istri-istrinya yang sembilan orang itu dengan tidak nikah lagi.
"
Dan Allah adalah Maha Mengawasi segala sesuatu.


Allah mengizinkan Nabi Muhammad beristri lebih dari empat mengandung hikmah yang sangat tinggi karena pernikahan itu ditentukan oleh Allah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.

Di antara hikmah itu ialah:


1. Menyampaikan hukum khusus kaum wanita yang tidak diketahui kecuali oleh suami istri.

Jika istri banyak, maka banyak pula hukum tentang perempuan yang dapat diperoleh.
Diterima atau tidaknya riwayat yang berasal dari mereka sangat terpengaruh oleh banyaknya riwayat.


2. Kebutuhan terhadap pendukung yang kuat bagi dakwah pada permulaan Islam.

Hubungan besan dan perkawinan secara tradisi pasti saling mendukung dan menolong.


3. Setiap orang Islam pasti ingin menjalin hubungan keluarga dengan Nabi ﷺ, agar bebas masuk ke rumah Nabi ﷺ.
Bahkan, setiap muslim ingin dapat melayani Nabi.


4. Nabi ﷺ membalas jasa orang yang membelanya dalam perjuangan Islam.
Balasan yang sangat berharga adalah besanan dan menikahi keluarganya, seperti perkawinan Nabi dengan ‘aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti ‘Umar.


5. Menghapus tradisi jahiliah dengan hukum yang lebih bermanfaat, seperti pernikahannya dengan Zainab.
Sebetulnya Nabi tidak menginginkannya karena takut pada celaan orang, namun hal ini berguna untuk mempertahankan nasab dan kerabat.


6. Nabi mampu berbuat adil dan memberikan bimbingan kepada keluarganya, yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 52. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesudah itu, tidak dihalalkan bagimu wanita selain istrimu.
Kamu juga tidak diperbolehkan menceraikan istri-istrimu dan mengganti mereka dengan mengawini wanita lain, meskipun dirimu tertarik oleh kecantikannya.


Tapi Allah menghalalkan bagimu budak-budak wanita yang kamu miliki.
Sungguh Allah Mahaperiksa dan Maha Menjaga segala sesuatu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Tidak halal bagimu menikahi wanita lain setelah para istrimu Ummahatul Mukminin, tidak halal juga bagimu untuk mentalak mereka dan menikah dengan selain mereka sebagai penganti mereka.
(Hal ini sebagai penghargaan kepada Ummahatul Mukminin dan ungkapan terima kasih atas kebaikan mereka selama ini yang memilih Allah, Rasul-Nya dan alam akhirat), sekalipun kamu mengagumi kecantikan wanita lain tersebut, kecuali hamba-hamba sahaya wanita, mereka halal bagimu.


Allah Maha Mengawasi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Tidak halal) dapat dibaca Tahillu atau Yahillu


(bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu) sesudah sembilan orang istri yang telah Aku pilih buatmu


(dan tidak boleh pula mengganti) lafal Tabaddala asalnya adalah Tatabaddala, kemudian salah satu huruf Ta dibuang sehingga jadilah Tabaddala,


(mereka dengan istri-istri yang lain) misalnya kamu menalak mereka atau sebagian dari mereka, kemudian kamu menggantikannya dengan istri yang lain


(meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan hamba sahaya yang kamu miliki) yakni wanita sahaya yang kamu miliki, ia halal bagimu.
Dan Nabi ﷺ sesudah sembilan orang istri itu memiliki Siti Mariah, yang daripadanya lahir Ibrahim, akan tetapi Ibrahim meninggal dunia semasa Nabi ﷺ masih hidup.


(Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu) Maha Memelihara segala sesuatu.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Banyak ulama seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Ibnu Zaid, Ibnu Jarir serta yang lainnya menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan balasan Allah dan rida-Nya kepada istri-istri Nabi ﷺ karena sikap mereka yang baik —yaitu lebih memilih Allah dan Rasul-Nya serta pahala akhirat— saat mereka disuruh memilih oleh Rasulullah ﷺ, sebagaimana yang kisahnya telah disebutkan dalam ayat sebelum ini.

Setelah mereka memilih Rasulullah ﷺ, maka sebagai imbalan dari Allah ialah Dia membatasi Nabi ﷺ hanya dengan mereka, dan mengharamkan baginya kawin lagi dengan wanita lain, atau menggantikan mereka dengan istri yang lain selain mereka, sekalipun kecantikan wanita lain itu mempesona hati beliau ﷺ Terkecuali budak-budak perempuan dan para tawanan wanita, maka diperbolehkan baginya mengawini mereka.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menghapuskan dosa bagi Nabi ﷺ dalam hal ini (kawin lagi dengan wanita lain) dan merevisi hukum ayat ini, serta membolehkannya kawin lagi.
Tetapi Nabi ﷺ tidak kawin lagi sesudahnya, agar hal ini dianggap sebagai karunia Rasulullah ﷺ kepada istri-istrinya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Ata, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ belum diwafatkan sebelum Allah menghalalkan baginya kawin lagi dengan wanita lain.


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abdul Malik ibnu Syaibah, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepadaku Al-Mugirah ibnu Abdur Rahman Al-Khuza’i, dari Abun Nadr maula Umar ibnu Abdullah, dari Abdullah ibnu Wahb ibnu Zam’ah, dari Ummu Salamah, Sesungguhnya Ummu Salamah pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ belum diwafatkan sebelum Allah meghalalkan baginya kawin dengan wanita yang disukainya, selain wanita yang ada hubungan mahram dengannya.
Demikian itu disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51), hingga akhir ayat.


Maka ayat ini me-mansukh (merevisi) ayat sesudahnya dalam hal tilawah (bacaan)nya, sebagaimana dua ayat yang membicarakan masalah idah wanita yang ditinggal mati suaminya dalam surat Al-Baqarah.
Ayat yang pertama me-mansukh ayat yang kedua, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ulama lainnya mengatakan bahwa bahkan makna ayat berikut, yaitu firman-Nya:
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52)
Yakni sesudah dijelaskan kepadamu wanita-wanita yang dihalalkan bagimu di antara wanita-wanita yang telah engkau berikan maskawin mereka, hamba sahaya perempuan yang kamu miliki, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ayahmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan ayahmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu, dan wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepadamu, sedangkan wanita lainnya tidak dihalalkan bagimu.


Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka’b dan Mujahid menurut suatu riwayat yang bersumber darinya.


Juga menurut Ikrimah, dan Ad-Dahhak dalam suatu riwayatnya, Abu Razin dalam suatu riwayatnya, Abu Saleh, Al-Hasan, Qatadah dalam suatu riwayatnya, dan As-Saddi serta lain-lainnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Daud ibnu Abu Hindun, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Musa, dari Ziad, dari seorang lelaki kalangan Ansar yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ubay ibnu Ka’b,
"Bagaimanakah menurut pendapatmu sekiranya istri-istri Nabi ﷺ meninggal dunia, bolehkah beliau kawin lagi?"
Ubay ibnu Ka’b balik bertanya,
"Lalu apakah yang mencegahnya untuk tidak boleh kawin lagi."
Ia menjawab,
"Karena ada firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
‘Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu’ (QS. Al-Ahzab [33]: 52)"
Ubay ibnu Ka’b berkata memberikan penjelasan, bahwa sesungguhnya yang dihalalkan oleh Allah bagi Nabi ﷺ hanyalah sejumlah wanita tertentu, yang disebutkan dalam firman-Nya:
Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 50)
sampai dengan firrnan-Nya:
dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi.
(QS. Al-Ahzab [33]: 50)
Kemudian dikatakan kepada Nabi ﷺ:
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52)

Abdullah ibnu Ahmad meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Daud dengan sanad yang sama.


Imam Turmuzi telah meriwayatkan melalui Ibnu Abbas yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ dilarang mengawini berbagai macam wanita, kecuali wanita-wanita yang mukmin lagi ikut berhijrah, melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52)
Maka Allah menghalalkan gadis-gadis kalian yang mukmin dan wanita yang mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ dan diharamkan bagimu wanita yang beragama selain Islam.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukumhukum Islam), maka hapuslah amalannya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 5), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan maskawinnya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 50)
sampai dengan firman-Nya:
sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.
(QS. Al-Ahzab [33]: 50)
dan diharamkan bagimu wanita-wanita yang selain dari itu.


Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52)
Yakni sesudah disebutkan kepadamu wanita-wanita yang halal bagimu, baik wanita muslimah atau wanita Yahudi atau wanita Nasrani atau wanita Kafir.

Abu Saleh mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52)
Ini merupakan suatu perintah yang melarang Nabi ﷺ mengawini wanita Badui dan wanita Arab, tetapi boleh mengawini wanita-wanita lainnya sesudah itu dari kalangan kaum wanita Tihamah dan wanita-wanita yang dikehendakinya dari kalangan anak-anak perempuan saudara laki-laki ayah, anak-anak perempuan dari saudara perempuan ayah, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibu, dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibu.
Jika ia menyukainya, boleh mengawini tiga ratus orang wanita.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52)
Yakni sesudah wanita-wanita yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat-ayat sebelumnya.

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna ayat ini umum mencakup berbagai macam wanita yang telah disebutkan sebelumnya dan wanita-wanita (istri-istri) yang telah dinikahinya yang jumlahnya ada sembilan orang.
Pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir ini cukup baik.
Barangkali apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini merupakan gabungan dari semua riwayat yang telah kami kemukakan melaluinya dari sejumlah ulama Salaf.
Karena sesungguhnya kebanyakan dari mereka (ulama Salaf) telah meriwayatkan pendapat ini dan pendapat itu, yang pada hakikatnya tidak bertentangan di antara semuanya.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian Ibnu Jarir mengetengahkan kepada dirinya sendiri sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceraikan Siti Hafsah, kemudian merujuknya kembali.
Dan beliau pernah berniat akan menceraikan Siti Saudah, pada akhirnya Saudah memberikan hari gilirannya kepada Siti Aisyah.
Kenjudian ia menjawab bahwa hal ini terjadi sebelum firman berikut diturunkan, yaitu:
Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu, dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain).
(QS. Al-Ahzab [33]: 52), hingga akhir ayat.

Pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini —yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum ayat ini diturunkan—dinilai benar pula.
Tetapi alasan tersebut tidak diperlukan, karena sesungguhnya makna ayat hanya menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak boleh mengawini wanita lain selain dari istri-istri yang telah ada padanya, dan bahwa Nabi ﷺ tidak boleh menggantikan mereka dengan wanita (istri) yang lain.
Dan hal ini tidak menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menceraikan seseorang dari mereka tanpa menggantikannya dengan yang lain.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Adapun mengenai peristiwa yang dialami oleh Saudah, disebutkan di dalam kitab sahih melalui Siti Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa dialah yang melatarbelakangi turunnya ayat berikut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.
(An Nisaa:128), hingga akhir ayat.

Sedangkan mengenai peristiwa yang dialami oleh Hafsah disebutkan oleh Imam Abu Daud, Imam Nasai, Imam Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya melalui berbagai jalur dari Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Saleh ibnu Saleh ibnu Huyayin, dari Salamah Ibnu Kahil, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceraikan Hafsah (anak perempuan Umar), kemudian beliau merujuknya.
Sanad riwayat ini cukup kuat.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Yunus ibira Bukair, dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Umar pernah masuk ke dalam rumah Hafsah yang saat itu sedang menangis.
Maka Umar bertanya,
"Apakah yang menyebabkan kamu menangis?
Apakah barangkali Rasulullah ﷺ menceraikanmu?
Sesungguhnya beliau pernah menceraikanmu sekali, lalu merujukmu kembali karena memandang aku.
Demi Allah, jika beliau meceraikanmu lagi, aku tidak mau berbicara denganmu selama-lamanya."


Para perawi hadis ini harus memenuhi persyaratan sahihain (baru dapat diterima)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52)

Melalui ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala melarang Nabi ﷺ menambah istri seandainya beliau menceraikan salah seorang dari mereka, lalu menggantikannya dengan istri yang lain, terkecuali hamba sahaya yang dimilikinya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar telah meriwayatkan sebuah hadis yang perlu diketengahkan dalam pembahasan ini karena ada kaitan dengannya.


Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Harb, dari Ishaq ibnu Abdullah Al-Qurasyi, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa di masa Jahiliah pembarteran istri dapat dilakukan oleh seseorang dengan orang lain.
Seorang lelaki mengatakan kepada lelaki yang lain,
"Tukarkanlah istrimu dengan istriku, maka aku rela menukarkan istriku dengan istrimu."
Hal ini sering dilakukan di masa Jahiliah, yang seorang menceraikan istrinya, lalu dikawini oleh yang lain.
Begitu pula sebaliknya, ia pun menceraikan istrinya, lalu dikawini oleh temannya yang baru menceraikan istrinya itu.
Singkatnya seseorang mengatakan,
"Lepaskanlah istrimu untukku, maka aku akan melepaskan istriku untukmu."
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 52).
Abu Hurairah r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa Uyaynah ibnu Hisn Al-Fazzari masuk ke rumah Nabi ﷺ untuk menemuinya, saat itu beliau ﷺ sedang bersama Siti Aisyah r.a. Uyaynah masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu, maka Rasulullah ﷺ menegurnya,
"Kamu masuk tidak meminta izin terlebih dahulu?"
Uyaynah berkata,
"Wahai Rasulullah, saya sejak usia balig belum pernah meminta izin untuk menemui seseorang dari kalangan Mudar."
Kemudian Uyaynah berkata,
"Siapakah wanita yang berkulit putih kemerah-merahan yang ada di sampingmu itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ini adalah Aisyah Ummul Mu-minin."
Uyaynah bertanya,
"Maukah engkau menukarnya dengan istriku yang paling cantik?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Hai Uyaynah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal tersebut."
Setelah Uyaynah keluar, Siti Aisyah bertanya,
"Siapakah orang tadi?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Dia adalah orang dungu yang ditaati.
Sesungguhnya dia, sebagaimana yang kamu lihat dari sikapnya itu, benar-benar menjadi penghulu kaumnya.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa Ishaq ibnu Abdullah lemah sekali dalam periwayatan hadis.


Dan sesungguhnya kami sengaja mengetengah­kan hadis ini karena kami tidak hafal hadis ini melainkan dari jalur ini, dan kami telah menjelaskan cela (kekurangan) yang ada padanya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 52

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa setelah Rasulullah ﷺ menyuruh istrinya antara dunia dan isinya dan segala kemewahannya dengan Allah dan Rasul-nya, terbuktilah istri-istrinya memilih Allah dan Rasul-Nya.
Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 52) yang melarang Rasulullah menikah lagi dengan wanita lain atau menceraikan istri-istrinya itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
Hukumhukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 52 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 52 - Gambar 2
Statistik QS. 33:52
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
Sending
User Review
4.2 (8 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

33:52, 33 52, 33-52, Surah Al Ahzab 52, Tafsir surat AlAhzab 52, Quran Al-Ahzab 52, Surah Al Ahzab ayat 52

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Ahzab

۞ QS. 33:1 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hukum memohon bantuan orang musyrik • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:2 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 33:3 Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 33:4 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 33:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 33:8 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Bashir (Maha Melihat) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 33:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 33:12 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:15 • Sifat orang munafik

۞ QS. 33:16 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 33:17 • Kekuasaan Allah • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 33:18 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:19 • Kekuasaan Allah • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:20 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:21 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 33:22 • Allah menepati janji

۞ QS. 33:24 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang munafik

۞ QS. 33:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 33:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 33:27 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 33:29 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:30 • Menyiksa pelaku maksiat • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 33:31 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 33:34 Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus)

۞ QS. 33:35 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Ajakan masuk Islam • Keutamaan iman

۞ QS. 33:36 • Kebaikan pada pilihan Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 33:39 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 33:40 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:43 • Pahala iman • Al Rahim (Maha Penyayang) • Doa malaikat untuk umat muslim • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 33:44 • Pahala iman • Percakapan Allah dengan ahli surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:47 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 33:48 Al Wakil (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:50 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:51 • Keluasan ilmu Allah • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:52 Al Raqib (Maha Pengawas)

۞ QS. 33:54 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:55 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 33:56 • Doa malaikat untuk umat muslim

۞ QS. 33:57 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:58 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:59 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:60 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:61 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:62 • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 33:63 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Nama-nama hari kiamat • Kiamat telah dekat • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 33:64 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:65 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka •

۞ QS. 33:66 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 33:67 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Siksa orang kafir

۞ QS. 33:68 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 33:70 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 33:71 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Islam menghapus dosa masa lalu • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 33:73 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang kafir

Ayat Pilihan

Hai anak Adam,
pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,
makan & minumlah,
dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
QS. Al-A’raf [7]: 31

Isa putra Maryam berdoa:
Ya Tuhan turunkan pada kami hidangan langit yang menjadi hari raya bagi orang yang bersama kami & yang datang sesudah kami, & menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah rezeki, & Kaulah pemberi rezeki Yang Utama
QS. Al-Ma’idah [5]: 114

Dan sesungguhnya kamu (Nabi Muhammad ﷺ) benar-benar berbudi pekerti yang agung.
QS. Al-Qalam [68]: 4

Sungguh Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit & bumi dalam 6 masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan, bintang tunduk kepada perintah-Nya.
QS. Al-A’raf [7]: 54

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Arti fana adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..

Benar! Kurang tepat!

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #1
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #1 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #1 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Kamus

iktibar

Apa itu iktibar? ik.ti.bar contoh; pengajaran; mengambil iktibar , mengambil contoh (pengajaran); itu menjadi iktibar kita ۞ Variasi nama: ikhtibar … • ikhtibar

hikmah

Apa itu hikmah? hik.mah (1) kebijaksanaan (dari Allah); kita memohon hikmah dari Allah Subhanahu Wa Ta`ala.; (2) sakti; kesaktian; hikmah kata-kata; (3) arti atau makna yang dalam; manfaat; wejangan ...

Amr ibnu Usman

Siapa itu Amr ibnu Usman? Abu Abdullah, ’Amr bin’Utsman al-Makkiy, salah seorang murid Junaid, mengunjungi Isfahan dan meninggal dunia di kota Baghdad pada tahun 291 H/ 904M. atau pada tahun 297H/...