Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 51 [QS. 33:51]

تُرۡجِیۡ مَنۡ تَشَآءُ مِنۡہُنَّ وَ تُــٔۡوِیۡۤ اِلَیۡکَ مَنۡ تَشَآءُ ؕ وَ مَنِ ابۡتَغَیۡتَ مِمَّنۡ عَزَلۡتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡکَ ؕ ذٰلِکَ اَدۡنٰۤی اَنۡ تَقَرَّ اَعۡیُنُہُنَّ وَ لَا یَحۡزَنَّ وَ یَرۡضَیۡنَ بِمَاۤ اٰتَیۡتَہُنَّ کُلُّہُنَّ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلِیۡمًا حَلِیۡمًا
Turjii man tasyaa-u minhunna watu’wii ilaika man tasyaa-u wamaniibtaghaita mimman ‘azalta falaa junaaha ‘alaika dzalika adna an taqarra a’yunuhunna walaa yahzanna wayardhaina bimaa aataitahunna kulluhunna wallahu ya’lamu maa fii quluubikum wakaanallahu ‘aliiman haliiman;
Engkau boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang engkau kehendaki di antara mereka (para istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa (di antara mereka) yang engkau kehendaki.
Dan siapa yang engkau ingini untuk menggaulinya kembali dari istri-istrimu yang telah engkau sisihkan, maka tidak ada dosa bagimu.
Yang demikian itu lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan mereka rela dengan apa yang telah engkau berikan kepada mereka semuanya.
Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu.
Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.
―QS. Al Ahzab [33]: 51

You, (O Muhammad), may put aside whom you will of them or take to yourself whom you will.
And any that you desire of those (wives) from whom you had (temporarily) separated – there is no blame upon you (in returning her).
That is more suitable that they should be content and not grieve and that they should be satisfied with what you have given them – all of them.
And Allah knows what is in your hearts.
And ever is Allah Knowing and Forbearing.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 51]

تُرْجِى engkau boleh menangguhkan

You may defer
مَن siapa

whom
تَشَآءُ kamu kehendaki

you will
مِنْهُنَّ dari/diantara mereka

of them
وَتُـْٔوِىٓ kamu beri perlindungan/menggauli

or you may take
إِلَيْكَ kepadamu

to yourself
مَن siapa

whom
تَشَآءُ yang dikehendaki

you will.
وَمَنِ dan siapa

And whoever
ٱبْتَغَيْتَ kamu ingini

you desire
مِمَّنْ dan siapa/orang

of those whom
عَزَلْتَ kamu sisihkan

you (had) set aside –
فَلَا maka tidak

then (there is) no
جُنَاحَ berdosa

blame
عَلَيْكَ atasmu

upon you.
ذَٰلِكَ seperti itulah

That
أَدْنَىٰٓ lebih dekat

(is) more suitable
أَن bahwa

that
تَقَرَّ menyejukkan

may be cooled
أَعْيُنُهُنَّ mata mereka

their eyes
وَلَا dan tidak

and not
يَحْزَنَّ mereka tidak merasa sedih

they grieve
وَيَرْضَيْنَ dan mereka rela

and they may be pleased
بِمَآ dengan apa-apa

with what
ءَاتَيْتَهُنَّ kamu telah berikan kepada mereka

you have given them –
كُلُّهُنَّ semuanya

all of them.
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
يَعْلَمُ mengetahui

knows
مَا apa

what
فِى pada

(is) in

Tafsir

Alquran

Surah Al Ahzab
33:51

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 51. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini, Allah memberi kebebasan kepada Nabi Muhammad untuk menangguhkan siapa di antara istri-istrinya yang beliau kehendaki dan boleh pula menggauli siapa di antara mereka yang beliau kehendaki.
Beliau juga diberi kebebasan untuk mengawini kembali istri-istrinya yang telah dicerai mengingat kemaslahatan bagi dirinya dan masyarakat.



Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-thabari dari Abu Razin bahwa ketika diturunkan ayat yang menyuruh istri-istri Nabi.
saw untuk memilih antara tetap menjadi istri Nabi.

dengan keadaan sederhana tanpa kemewahan atau berpisah dari Nabi ﷺ karena mengejar kesenangan hidup yang lebih sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, maka timbullah rasa kekhawatiran pada istri-istri Nabi.
saw itu.

Mereka secara serentak menyatakan kerelaannya untuk tetap hidup bersama Nabi ﷺ dalam keadaan bagaimanapun juga karena mereka lebih mengutamakan segi kehidupan agama daripada kesenangan duniawi.



Lalu Nabi menangguhkan menggauli beberapa istrinya atas permintaan mereka, seperti Ummu habibah, Maimunah, Saudah, shafiyah, dan Juwairiyah.

Terhadap kelima istrinya ini, Nabi ﷺ tidak mengatur giliran bermalam secara teratur.
Adapun terhadap istri-istrinya yang empat orang lagi yaitu ‘aisyah, Hafshah, Zainab dan Ummu Salamah beliau mengatur giliran untuk bermalam, serta mempersamakan pembagian pakaian dan makanan.



Kebebasan Nabi untuk mengatur giliran, makanan, pakaian, dan lain-lain sesuai dengan sifat adil Nabi dalam melaksanakan petunjuk Allah, sehingga tidak menimbulkan rasa cemburu dalam hati para istrinya.
Mereka menerima dengan rela perlakuan Nabi.


Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Yazid bahwa ‘aisyah pernah berkata,
"Adalah kebiasaan Nabi ﷺ untuk membagi-bagi giliran di antara istri-istrinya dengan adil, kemudian Nabi ﷺ berdoa,
"Ya Allah, inilah pembagianku tentang apa yang aku kuasai (yaitu soal pembagian benda materi), maka janganlah Engkau mencercaku tentang apa-apa yang Engkau kuasai dan tidak aku kuasai (soal cinta)."
(Riwayat Ahmad)


Hadis ini mengandung suatu anjuran supaya tetap memelihara kemurnian hati dan ancaman bagi mereka yang tidak berserah diri kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Allah Maha Mengetahui tentang segala rahasia yang tersimpan di dalam hati, lagi Maha Penyantun, selalu memberi kesempatan untuk bertobat bagi mereka yang telah menyadari akan kesesatannya dan ingin kembali ke jalan yang lurus.

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 51. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kamu, Muhammad, menunda giliran untuk mendekati istri-istrimu sebagaimana kamu suka.
Jika ada seorang dari mereka yang mendapatkan giliran belakangan, lalu meminta kepadamu untuk didahulukan, hal itu boleh saja dan kamu tidak berdosa.


Diserahkannya aturan penggiliran itu sesuai keinginanmu akan membuat hati mereka merasa senang, tidak berduka dan menjadikan mereka puas dengan pemberian Allah.
Dia Maha Mengetahui kerelaan dan kemurkaan hati kalian dalam menerima perintah Allah.


Sungguh Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dalam dada dan Maha Lembut pada hamba-Nya dengan tidak menyegerakan datangnya hukuman.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kamu menunda siapa yang kamu kehendaki dari istri-istrimu dalam jatah pembagian bermalam, dan kamu bermalam di salah seorang dari mereka menurut kehendakmu, dan kamu boleh bermalam pada istri yang sebelumnya kamu menunda bermalam padanya, tidak ada dosa atasmu dalam hal ini.
Pilihan tersebut lebih mendekatkan kebahagiaan mereka dan membuat mereka tidak bersedih, dan semuanya akan menerima apa yang kamu bagikan kepada mereka.


Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati kaum laki-laki, di mana mereka cenderung kepada sebagian wanita atas sebagian yang lainnya.
Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati, Maha Bijaksana sehingga tidak menyegerakan hukuman terhadap siapa yang durhaka kepada-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Kamu boleh menangguhkan) dapat dibaca Turji-u dengan memakai huruf Hamzah pada akhirnya, juga dapat dibaca Turjiy dengan memakai huruf Ya pada akhirnya sebagai ganti dari Hamzah, artinya menangguhkan


(siapa yang kamu kehendaki di antara mereka) yakni istri-istrimu itu dari gilirannya


(dan boleh pula kamu menggilir) yaitu mengumpulkan gilirannya


(siapa yang kamu kehendaki) di antara mereka kemudian kamu mendatanginya.


(Dan siapa-siapa yang kamu ingini) kamu sukai untuk menggaulinya kembali


(dari perempuan yang telah kamu pisahkan) dari gilirannya


(maka tidak ada dosa bagimu) di dalam memintanya dan menggaulinya untukmu.
Hal ini disuruh dipilih oleh Nabi sesudah ditentukan bahwa gilir itu wajib baginya.


(Yang demikian itu) yakni boleh memilih itu


(lebih dekat) kepada ketenangan hati mereka dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka) yaitu tentang hal-hal yang telah disebutkan tadi menyangkut masalah boleh memilih di dalam menggilir


(tanpa kecuali) lafal ayat ini mengukuhkan makna Fa’il yang terkandung di dalam lafal Yardhaina.


(Dan Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati kalian) mengenai masalah wanita atau istri dan kecenderungan hatimu kepada sebagian dari mereka.
Dan sesungguhnya Kami menyuruh kamu memilih hanyalah untuk mempermudah kamu di dalam melakukan apa yang kamu kehendaki.


(Dan adalah Allah Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya


(lagi Maha Penyantun) mengenai menghukum mereka.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa Siti Aisyah r.a. selalu merasa cemburu terhadap wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah ﷺ (untuk dikawini tanpa maskawin).
Siti Aisyah mengatakan:
"Apakah tidak malu seorang wanita menyerahkan dirinya tanpa maskawin?"
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51), hingga akhir ayat.
Siti Aisyah berkata,
"Sesungguhnya aku melihat Tuhanmu selalu tanggap untuk memenuhi kesukaanmu."


Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa Imam Bukhari meriwayatkannya melalui hadis Abu Usamah, dari Hisyam ibnu Urwah.


Hal ini menunjukkan bahwa makna yang dimaksud oleh firman-Nya:
Kamu boleh menangguhkan.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)
Maksudnya, boleh mengakhirkan.
siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)
Yakni di antara wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepadamu.
dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)
Kamu boleh menerima wanita yang kamu kehendaki, boleh pula menolak wanita yang tidak kamu kehendaki di antara wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepadamu itu.
Dan terhadap wanita yang telah kamu tolak, kamu masih boleh memilih sesudahnya, jika kamu menginginkannya, kamu boleh kembali kepadanya dan menggaulinya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu pisahkan, maka tidak ada dosa bagimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)

Amir Asy-Sya’bi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepadamu).
(QS. Al-Ahzab [33]: 51), sampai akhir ayat.
Ada beberapa wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ untuk dikawini.
Maka sebagian dari mereka ada yang dikawini oleh beliau, dan sebagian yang lainnya ditangguhkan, mereka tidak kawin lagi sesudahnya, di antara mereka adalah Ummu Syarik.

Ulama lainnya mengatakan bahwa bahkan yang dimaksud dengan firman-Nya:
Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51), hingga akhir ayat.
Yakni di antara istri-istrimu.
Tidak ada dosa bagimu bila meniadakan pembagian giliran terhadap mereka, untuk itu kamu boleh mendahulukan (memprioritaskan) istri yang kamu kehendaki dan menangguhkan istri yang lainnya yang kamu kehendaki, dan kamu boleh menggauli istrimu yang kamu kehendaki, dan membiarkan (yakni tidak menggauli istrimu yang kamu kehendaki).


Sekalipun demikian, Nabi ﷺ tetap memberlakukan giliran terhadap semua istrinya.
Karena itulah ada segolongan ulama dari kalangan mazhab Syafii dan ulama lainnya yang mengatakan bahwa menggilir istri itu tidak wajib bagi Nabi ﷺ Mereka mengatakan demikian dengan berdalilkan ayat ini.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Asim Al-Ahwal, dari Mu’az, dari Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ selalu meminta izin kepada kami setiap harinya (untuk pindah giliran) setelah diturunkan ayat ini, yaitu firman-Nya:
Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) meng­gauli siapa yang kamu kehendaki.
Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu pisahkan, maka tidak ada dosa bagimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)
Nabi ﷺ bersabda kepada Aisyah,
"Bagaimanakah menurut pendapatmu?"
Siti Aisyah menjawab,
"Jika hal itu diserahkan kepadaku, maka sesungguhnya aku tidak menginginkan engkau, hai Rasulullah, direbut oleh seorang wanita pun."

Hadis ini yang bersumber dari Aisyah menunjukkan bahwa makna yang dimaksud ayat ini ialah tidak ada kewajiban menggilir istri.
Sedangkan hadis Aisyah yang pertama menunjukkan kepada pengertian bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ Berangkat dari pengertian inilah maka Ibnu Jarir berpendapat bahwa makna ayat bersifat umum mencakup wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ dan wanita-wanita yang telah menjadi istrinya.
Bahwa Nabi ﷺ boleh memilih antara menggilir masing-masing dari mereka atau tidak.
Jika beliau menginginkan melakukan penggiliran terhadap mereka, diperbolehkan, dan jika tidak menginginkannya diperbolehkan pula baginya tidak melakukan giliran.
Pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir ini baik lagi kuat, yang di dalamnya telah tergabungkan pengertian semua hadis mengenai masalah ini.
Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)

Yakni apabila mereka telah mengetahui bahwa Allah telah menghapuskan dosa darimu dalam hal pembagian giliran.
Untuk itu kamu boleh menggilir, boleh pula tidak melakukan giliran jika kamu menyukainya.
Mana saja di antara kedua alternatif itu yang kamu pilih, kamu tidak berdosa.
Kemudian walaupun ada kemurahan tersebut, kamu tetap memperlakukan giliran terhadap istri-istrimu dengan kerelaan dirimu sendiri, bukan sebagai suatu kewajiban yang dibebankan atas dirimu.
Maka mereka pasti akan merasa gembira dengan keputusanmu itu, dan mereka akan merasa berterima kasih kepadamu atas perlakuanmu yang adil itu kepada mereka.
Mereka pasti merasa berutang budi kepadamu karena mau menggilir mereka, padahal menggilir mereka bukan merupakan suatu kewajiban bagimu.
Kamu menyadari tabiat wanita dan kamu perlakukan mereka dengan adil.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) di dalam hatimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)

Yakni kecenderunganmu kepada seseorang di antara mereka, bukan kepada semuanya, yang hal ini tidak dapat kamu elakkan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abdullah ibnu Yazid, dari Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ memberlakukan giliran kepada semua istrinya dengan adil, kemudian beliau ﷺ bersabda:
Ya Allah, inilah perbuatanku terhadap apa yang aku miliki.
Maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memilikinya.

Arba’ah telah meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dan Imam Abu Daud (salah seorang dari Arabah) menambahkan dalam riwayatnya sesudah sabda Nabi ﷺ:

Maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memilikinya (yakni hati).

Makna yang dimaksud ialah kecenderungan hati Nabi ﷺ kepada seseorang dari istri-istrinya.
Sanad hadis sahih, dan semua perawinya berpredikat siqah.


Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan adalah Allah Maha Mengetahui.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)

Allah Maha Mengetahui semua isi hati dan rahasia yang tersimpan di dalam dada.

lagi Maha Penyantun.
(QS. Al-Ahzab [33]: 51)


Yaitu memaaf dan mengampuninya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 51

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ‘Aisyah berkata: “Apakah wanita tidak malu bila menyerahkan dirinya (untuk dinikahi)?” Allah mewahyukan firman-Nya, turjii man tasyaa…(..kamu boleh menangguhkan [menggauli] siapa yang kamu kehendaki…) sampai akhir ayat (al-Ahzab: 51) yang memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk menetapkan giliran tinggal bersama istrinya.
Kemudian ‘Aisyah berkata: “Aku melihat Rabb-mu mempercepat mengabulkan keinginanmu.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Abu Razin bahwa Rasulullah ﷺ pernah bermaksud menalak beberapa istrinya.
Ketika mereka (istri-istri Rasulullah ﷺ) mengetahui hal itu, mereka menyerahkan persoalannya kepada Rasulullah ﷺ.
Ayat ini (al-Ahzab: 50-51) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memberikan kebebasan kepada Rasulullah ﷺ untuk menetapkan kebijaksanaan mengenai istri-istrinya itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
Hukumhukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

▪ Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 51 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 51 - Gambar 2
Statistik QS. 33:51
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah33
Nama SurahAl Ahzab
Arabالْأحزاب
ArtiGolongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu90
JuzJuz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’9 ruku’
Jumlah ayat73
Jumlah kata1307
Jumlah huruf5787
Surah sebelumnyaSurah As-Sajdah
Surah selanjutnyaSurah Saba’
Sending
User Review
4.9 (21 votes)
Tags:

33:51, 33 51, 33-51, Surah Al Ahzab 51, Tafsir surat AlAhzab 51, Quran Al-Ahzab 51, Surah Al Ahzab ayat 51

▪ artinya wa sabbih ala qolbi saabi bahromatin birahmatin maulana hakim ▪ Qs wal atat kubrotan fi kubrotin
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 119 [QS. 11:119]

Perselisihan itu terjadi kecuali di antara orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, mereka tidak berselisih, tetap mengikuti petunjuk Allah dan memilih agama yang benar. Dan untuk itulah Allah menciptak … 11:119, 11 119, 11-119, Surah Hud 119, Tafsir surat Hud 119, Quran Hud 119, Surah Hud ayat 119

QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 43 [QS. 11:43]

Mendengar panggilan dan ajakan sang ayah, dia anaknya yang kafir itu pun menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang tinggi, sehingga dengan menaiki gunung itu dapat menghindarkan aku dari … 11:43, 11 43, 11-43, Surah Hud 43, Tafsir surat Hud 43, Quran Hud 43, Surah Hud ayat 43

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah..... Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Benar! Kurang tepat!

Arti dari lafal

لَكُمْ دِينُكُمْ

yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Kafirun [109] ayat 6.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

'Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.'

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan.....kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
--QS. Adh Dhuhaaa [93] : 6

Arti al-Kaafirun adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #18
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #18 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #18 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #14

Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Muhahadah fi sabilillah Mujahadah An-Nafs Mujahada gazwa Mujahadah

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … an-Nas ar-Rahman al-‘Alaq al-Kautsar al-Fatihah Benar! Kurang tepat! Proses turunnya wahyu

Pendidikan Agama Islam #11

Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka

Instagram