QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 51 [QS. 33:51]

تُرۡجِیۡ مَنۡ تَشَآءُ مِنۡہُنَّ وَ تُــٔۡوِیۡۤ اِلَیۡکَ مَنۡ تَشَآءُ ؕ وَ مَنِ ابۡتَغَیۡتَ مِمَّنۡ عَزَلۡتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡکَ ؕ ذٰلِکَ اَدۡنٰۤی اَنۡ تَقَرَّ اَعۡیُنُہُنَّ وَ لَا یَحۡزَنَّ وَ یَرۡضَیۡنَ بِمَاۤ اٰتَیۡتَہُنَّ کُلُّہُنَّ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلِیۡمًا حَلِیۡمًا
Turjii man tasyaa-u minhunna watu’wii ilaika man tasyaa-u wamaniibtaghaita mimman ‘azalta falaa junaaha ‘alaika dzalika adna an taqarra a’yunuhunna walaa yahzanna wayardhaina bimaa aataitahunna kulluhunna wallahu ya’lamu maa fii quluubikum wakaanallahu ‘aliiman haliiman;

Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki.
Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu.
Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka.
Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.
―QS. 33:51
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Ayat yang menaskhkan ▪ Azab orang kafir
33:51, 33 51, 33-51, Al Ahzab 51, AlAhzab 51, Al-Ahzab 51

Tafsir surah Al Ahzab (33) ayat 51

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 51. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memberi kebebasan kepada Nabi Muhammad untuk menangguhkan siapa di antara istri-istrinya yang beliau kehendaki dan boleh pula menggauli siapa di antara mereka yang beliau kehendaki.
Dan beliau diberi kebebasan pula untuk mengawini kembali istri-istrinya yang telah dicerai mengingat kemaslahatan bagi dirinya dan masyarakatnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abi Razin bahwa tatkala diturunkan ayat yang menyuruh istri-istri Nabi ﷺ untuk memilih antara tetap menjadi istri Nabi dengan keadaan sederhana tanpa kemewahan atau berpisah dari Nabi ﷺ karena mengejar kesenangan hidup yang lebih sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, maka timbullah rasa kekhawatiran pada istri-istri Nabi ﷺ itu dan mereka secara serentak menyatakan kerelaannya untuk tetap hidup bersama Nabi ﷺ dalam keadaan bagaimanapun juga karena mereka lebih mengutamakan segi kehidupan agama dari pada kesenangan duniawi.
Mereka berkata: “Ya Rasulullah, berikanlah kepada kami sebagian harta engkau dan kami serahkan diri kami kepada engkau, lakukanlah apa yang kamu kehendaki dan biarkanlah kami tetap seperti sediakala”.
(Jangan dicerai).
Maka turunlah ayat ini.
Lalu Nabi menangguhkan menggauli beberapa istrinya seperti Ummu Habibah, Maimunah, Sa’adah, Sofiyah dan Juwariyah.
Terhadap kelima istri Nabi ini, Nabi ﷺ tidak mengatur giliran bermalam secara teratur.
Adapun terhadap istri-istrinya yang empat orang lagi yaitu ‘Aisyah, Hafsah, Zainab dan Ummu Salamah beliau mengatur giliran untuk bermalam, mempersamakan pembagian pakaian dan makanan.
Dengan demikian maka pemberian yang hak kepada Nabi tentang pergaulannya dengan istri-istrinya, tidak lagi akan menimbulkan rasa cemburu dan sedih dalam hati mereka, dan menerima mereka dengan rela perlakuan Nabi terhadap masing-masing mereka.

Imam Ahmad ra meriwayatkan dari Abdullah bin Yazid bahwa Aisyah pernah berkata: “Adalah kebiasaan Nabi ﷺ untuk membagi-bagi giliran di antara istri-istrinya dengan adil, kemudian Nabi ﷺ berdoa Ya Allah inilah pembagian saya tentang apa yang saya kuasai”.
(Yaitu) soal pembagian benda materi, maka janganlah engkau mencerca aku tentang apa-apa yang engkau miliki dan tidak aku kuasai yaitu soal cinta”.

Hadis ini mengandung suatu anjuran supaya tetap memelihara kemurnian hati dan ancaman bagi mereka yang tidak berserah diri kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui tentang segala rahasia yang tersimpan di dalam hati, lagi Maha Penyantun selalu memberi kesempatan untuk bertobat bagi mereka yang telah menyadari akan kesesatannya dan ingin kembali ke jalan yang lurus.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kamu, Muhammad, menunda giliran untuk mendekati istri-istrimu sebagaimana kamu suka.
Jika ada seorang dari mereka yang mendapatkan giliran belakangan, lalu meminta kepadamu untuk didahulukan, hal itu boleh saja dan kamu tidak berdosa.
Diserahkannya aturan penggiliran itu sesuai keinginanmu akan membuat hati mereka merasa senang, tidak berduka dan menjadikan mereka puas dengan pemberian Allah.
Dia Maha Mengetahui kerelaan dan kemurkaan hati kalian dalam menerima perintah Allah.
Sungguh Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dalam dada dan Maha Lembut pada hamba-Nya dengan tidak menyegerakan datangnya hukuman.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kamu boleh menangguhkan) dapat dibaca Turji-u dengan memakai huruf Hamzah pada akhirnya, juga dapat dibaca Turjiy dengan memakai huruf Ya pada akhirnya sebagai ganti dari Hamzah, artinya menangguhkan (siapa yang kamu kehendaki di antara mereka) yakni istri-istrimu itu dari gilirannya (dan boleh pula kamu menggilir) yaitu mengumpulkan gilirannya (siapa yang kamu kehendaki) di antara mereka kemudian kamu mendatanginya.

(Dan siapa-siapa yang kamu ingini) kamu sukai untuk menggaulinya kembali (dari perempuan yang telah kamu pisahkan) dari gilirannya (maka tidak ada dosa bagimu) di dalam memintanya dan menggaulinya untukmu.

Hal ini disuruh dipilih oleh Nabi sesudah ditentukan bahwa gilir itu wajib baginya.

(Yang demikian itu) yakni boleh memilih itu (lebih dekat) kepada ketenangan hati mereka dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka) yaitu tentang hal-hal yang telah disebutkan tadi menyangkut masalah boleh memilih di dalam menggilir (tanpa kecuali) lafal ayat ini mengukuhkan makna Fa’il yang terkandung di dalam lafal Yardhaina.

(Dan Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati kalian) mengenai masalah wanita atau istri dan kecenderungan hatimu kepada sebagian dari mereka.

Dan sesungguhnya Kami menyuruh kamu memilih hanyalah untuk mempermudah kamu di dalam melakukan apa yang kamu kehendaki.

(Dan adalah Allah Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya (lagi Maha Penyantun) mengenai menghukum mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kamu menunda siapa yang kamu kehendaki dari istri-istrimu dalam jatah pembagian bermalam, dan kamu bermalam di salah seorang dari mereka menurut kehendakmu, dan kamu boleh bermalam pada istri yang sebelumnya kamu menunda bermalam padanya, tidak ada dosa atasmu dalam hal ini.
Pilihan tersebut lebih mendekatkan kebahagiaan mereka dan membuat mereka tidak bersedih, dan semuanya akan menerima apa yang kamu bagikan kepada mereka.
Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati kaum laki-laki, di mana mereka cenderung kepada sebagian wanita atas sebagian yang lainnya.
Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati, Maha Bijaksana sehingga tidak menyegerakan hukuman terhadap siapa yang durhaka kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa Siti Aisyah r.a.
selalu merasa cemburu terhadap wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah ﷺ (untuk dikawini tanpa maskawin).
Siti Aisyah mengatakan: “Apakah tidak malu seorang wanita menyerahkan dirinya tanpa maskawin?”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki.
(Al Ahzab:51), hingga akhir ayat.
Siti Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku melihat Tuhanmu selalu tanggap untuk memenuhi kesukaanmu.”

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa Imam Bukhari meriwayatkannya melalui hadis Abu Usamah, dari Hisyam ibnu Urwah.

Hal ini menunjukkan bahwa makna yang dimaksud oleh firman-Nya: Kamu boleh menangguhkan.
(Al Ahzab:51) Maksudnya, boleh mengakhirkan.
siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.
(Al Ahzab:51) Yakni di antara wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepadamu.
dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki.
(Al Ahzab:51) Kamu boleh menerima wanita yang kamu kehendaki, boleh pula menolak wanita yang tidak kamu kehendaki di antara wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepadamu itu.
Dan terhadap wanita yang telah kamu tolak, kamu masih boleh memilih sesudahnya, jika kamu menginginkannya, kamu boleh kembali kepadanya dan menggaulinya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu pisahkan, maka tidak ada dosa bagimu.
(Al Ahzab:51)

Amir Asy-Sya’bi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepadamu).
(Al Ahzab:51), sampai akhir ayat.
Ada beberapa wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ untuk dikawini.
Maka sebagian dari mereka ada yang dikawini oleh beliau, dan sebagian yang lainnya ditangguhkan, mereka tidak kawin lagi sesudahnya, di antara mereka adalah Ummu Syarik.

Ulama lainnya mengatakan bahwa bahkan yang dimaksud dengan firman-Nya: Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.
(Al Ahzab:51), hingga akhir ayat.
Yakni di antara istri-istrimu.
Tidak ada dosa bagimu bila meniadakan pembagian giliran terhadap mereka, untuk itu kamu boleh mendahulukan (memprioritaskan) istri yang kamu kehendaki dan menangguhkan istri yang lainnya yang kamu kehendaki, dan kamu boleh menggauli istrimu yang kamu kehendaki, dan membiarkan (yakni tidak menggauli istrimu yang kamu kehendaki).

Sekalipun demikian, Nabi ﷺ tetap memberlakukan giliran terhadap semua istrinya.
Karena itulah ada segolongan ulama dari kalangan mazhab Syafii dan ulama lainnya yang mengatakan bahwa menggilir istri itu tidak wajib bagi Nabi ﷺ Mereka mengatakan demikian dengan berdalilkan ayat ini.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Asim Al-Ahwal, dari Mu’az, dari Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ selalu meminta izin kepada kami setiap harinya (untuk pindah giliran) setelah diturunkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) meng­gauli siapa yang kamu kehendaki.
Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu pisahkan, maka tidak ada dosa bagimu.
(Al Ahzab:51) Nabi ﷺ bersabda kepada Aisyah, “Bagaimanakah menurut pendapatmu?”
Siti Aisyah menjawab, “Jika hal itu diserahkan kepadaku, maka sesungguhnya aku tidak menginginkan engkau, hai Rasulullah, direbut oleh seorang wanita pun.”

Hadis ini yang bersumber dari Aisyah menunjukkan bahwa makna yang dimaksud ayat ini ialah tidak ada kewajiban menggilir istri.
Sedangkan hadis Aisyah yang pertama menunjukkan kepada pengertian bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ Berangkat dari pengertian inilah maka Ibnu Jarir berpendapat bahwa makna ayat bersifat umum mencakup wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ dan wanita-wanita yang telah menjadi istrinya.
Bahwa Nabi ﷺ boleh memilih antara menggilir masing-masing dari mereka atau tidak.
Jika beliau menginginkan melakukan penggiliran terhadap mereka, diperbolehkan, dan jika tidak menginginkannya diperbolehkan pula baginya tidak melakukan giliran.
Pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir ini baik lagi kuat, yang di dalamnya telah tergabungkan pengertian semua hadis mengenai masalah ini.
Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka.
(Al Ahzab:51)

Yakni apabila mereka telah mengetahui bahwa Allah telah menghapuskan dosa darimu dalam hal pembagian giliran.
Untuk itu kamu boleh menggilir, boleh pula tidak melakukan giliran jika kamu menyukainya.
Mana saja di antara kedua alternatif itu yang kamu pilih, kamu tidak berdosa.
Kemudian walaupun ada kemurahan tersebut, kamu tetap memperlakukan giliran terhadap istri-istrimu dengan kerelaan dirimu sendiri, bukan sebagai suatu kewajiban yang dibebankan atas dirimu.
Maka mereka pasti akan merasa gembira dengan keputusanmu itu, dan mereka akan merasa berterima kasih kepadamu atas perlakuanmu yang adil itu kepada mereka.
Mereka pasti merasa berutang budi kepadamu karena mau menggilir mereka, padahal menggilir mereka bukan merupakan suatu kewajiban bagimu.
Kamu menyadari tabiat wanita dan kamu perlakukan mereka dengan adil.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) di dalam hatimu.
(Al Ahzab:51)

Yakni kecenderunganmu kepada seseorang di antara mereka, bukan kepada semuanya, yang hal ini tidak dapat kamu elakkan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abdullah ibnu Yazid, dari Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ memberlakukan giliran kepada semua istrinya dengan adil, kemudian beliau ﷺ bersabda: Ya Allah, inilah perbuatanku terhadap apa yang aku miliki.
Maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memilikinya.

Arba’ah telah meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dan Imam Abu Daud (salah seorang dari Arabah) menambahkan dalam riwayatnya sesudah sabda Nabi ﷺ:

Maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memilikinya (yakni hati).

Makna yang dimaksud ialah kecenderungan hati Nabi ﷺ kepada seseorang dari istri-istrinya.
Sanad hadis sahih, dan semua perawinya berpredikat siqah.

Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan adalah Allah Maha Mengetahui.
(Al Ahzab:51)

Allah Maha Mengetahui semua isi hati dan rahasia yang tersimpan di dalam dada.

lagi Maha Penyantun.
(Al Ahzab:51)

Yaitu memaaf dan mengampuninya.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 51

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ‘Aisyah berkata: “Apakah wanita tidak malu bila menyerahkan dirinya (untuk dinikahi)?” Allah mewahyukan firman-Nya, turjii man tasyaa…(..kamu boleh menangguhkan [menggauli] siapa yang kamu kehendaki…) sampai akhir ayat (al-Ahzab: 51) yang memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk menetapkan giliran tinggal bersama istrinya.
Kemudian ‘Aisyah berkata: “Aku melihat Rabb-mu mempercepat mengabulkan keinginanmu.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Abu Razin bahwa Rasulullah ﷺ pernah bermaksud menalak beberapa istrinya.
Ketika mereka (istri-istri Rasulullah ﷺ) mengetahui hal itu, mereka menyerahkan persoalannya kepada Rasulullah ﷺ.
Ayat ini (al-Ahzab: 50-51) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memberikan kebebasan kepada Rasulullah ﷺ untuk menetapkan kebijaksanaan mengenai istri-istrinya itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali’lmran.

Dinamai “Al Ahzab” yang berarti “golongan-golongan yang bersekutu” karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu’min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu’min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahzab (73 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 51 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 51 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 51 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahzab - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 73 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 33:51
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah33
Nama SurahAl Ahzab
Arabالْأحزاب
ArtiGolongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu90
JuzJuz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku'9 ruku'
Jumlah ayat73
Jumlah kata1307
Jumlah huruf5787
Surah sebelumnyaSurah As-Sajdah
Surah selanjutnyaSurah Saba’
4.5
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ arti bahasa arab ala ya yalamu ▪ arti dari walahu yalamu fii qulubikum ▪ Tafsir Alquran 33:51 ▪ wallahu yalamu fii quluubikum artinya ▪ wallohu yaklamu mafiqulubikum ▪ Wallohu yalamu ma fi kulubikum

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta