Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) - surah 33 ayat 5 [QS. 33:5]

اُدۡعُوۡہُمۡ لِاٰبَآئِہِمۡ ہُوَ اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ فَاِخۡوَانُکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ مَوَالِیۡکُمۡ ؕ وَ لَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ فِیۡمَاۤ اَخۡطَاۡتُمۡ بِہٖ ۙ وَ لٰکِنۡ مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوۡبُکُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا
Ad’uuhum li-aabaa-ihim huwa aqsathu ‘indallahi fa-in lam ta’lamuu aabaa-ahum fa-ikhwaanukum fiiddiini wamawaaliikum walaisa ‘alaikum junaahun fiimaa akhtha’tum bihi walakin maa ta’ammadat quluubukum wakaanallahu ghafuuran rahiiman;
Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka;
itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
―QS. Al Ahzab [33]: 5

Daftar isi

Call them by (the names of) their fathers;
it is more just in the sight of Allah.
But if you do not know their fathers – then they are (still) your brothers in religion and those entrusted to you.
And there is no blame upon you for that in which you have erred but (only for) what your hearts intended.
And ever is Allah Forgiving and Merciful.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 5]

ٱدْعُوهُمْ panggillah mereka

Call them
لِءَابَآئِهِمْ dengan bapak-bapak mereka

by their fathers;
هُوَ hal itu

it
أَقْسَطُ lebih adil

(is) more just
عِندَ di sisi

near
ٱللَّهِ Allah

Allah.
فَإِن maka jika

But if
لَّمْ tidak

not
تَعْلَمُوٓا۟ kamu mengetahui

you know
ءَابَآءَهُمْ bapak-bapak mereka

their fathers –
فَإِخْوَٰنُكُمْ maka saudaramu

then (they are) your brothers
فِى dalam

in
ٱلدِّينِ agama

[the] religion
وَمَوَٰلِيكُمْ dan maulana-maulanamu

and your friends.
وَلَيْسَ dan tidak

But not is
عَلَيْكُمْ atas kalian

upon you
جُنَاحٌ berdosa

any blame
فِيمَآ dalam hal

in what
أَخْطَأْتُم kamu membuat kesalahan

you made a mistake
بِهِۦ dengannya

in it,
وَلَٰكِن tetapi

but
مَّا apa yang

what
تَعَمَّدَتْ sengaja

intended
قُلُوبُكُمْ hati-hati kamu

your hearts.
وَكَانَ dan adalah

And Allah *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

And Allah *[meaning includes next or prev. word]
غَفُورًا Maha Pengampun

(is) Oft-Forgiving,
رَّحِيمًا Maha Penyayang

Most Merciful.

Tafsir Quran

Surah Al Ahzab
33:5

Tafsir QS. Al-Ahzab (33) : 5. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa Allah memerintahkan agar kaum Muslimin menasabkan seorang anak hanya kepada bapak dan ibunya, karena anak itu berasal dari tulang sulbi bapaknya, kemudian dikandung dan dilahirkan oleh ibunya.
Menasabkan anak kepada orang tuanya adalah hukum Allah yang wajib ditaati oleh seluruh kaum Muslimin.

Sebaliknya menasabkan anak kepada orang lain yang bukan orang tuanya bukanlah hukum Allah, tetapi adalah hukum yang dibuat-buat oleh manusia sendiri, sehingga hukumnya haram.

Pendapat ini disepakati oleh kebanyakan ulama yang mengatakan,
"Mengangkat anak sehingga kedudukan anak angkat itu sama hukumnya dengan kedudukan anak kandung, seperti berhak mewarisi, menjadikan hubungan mahram, dan sebagainya termasuk dosa besar berdasarkan hadis:

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Barang siapa yang menasabkan dirinya kepada selain bapaknya atau menasabkan budak kepada selain tuannya, maka ia berhak mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya, Allah Ta’ala tidak menerima pemalingan dosa tebusan padanya.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hadis Nabi ﷺ, beliau bersabda:

Tidak ada seorang pun yang menasabkan kepada selain bapaknya, sedang ia mengetahui, melainkan dia telah kafir.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Dzarr)

Pada lafal yang lain, juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
Barang siapa yang menasabkan dirinya kepada selain bapaknya, sedang ia mengetahui bahwa laki-laki itu bukan bapaknya, maka haram atasnya surga.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Sa’ad bin Abu Waqqash dan Abu Bakrah)

Al-Alusi dalam Tafsir Ruh Al-Ma’ani membedakan antara pengakuan dan pengasuhan anak.
Pengangkatan anak yang dilakukan oleh seseorang terhadap seorang anak dan menasabkan anak itu kepadanya sehingga sama hukumnya dengan anak sendiri (kandung), mempunyai hak waris, menjadi mahram dan kerabat, hukumnya adalah haram.

Adapun jika seseorang mengambil anak dan memperlakukannya seperti anak sendiri, tetapi tidak menasabkan anak itu kepadanya dan tidak menyatakan sama kedudukannya dalam hukum dengan anak sendiri, maka Allah tidak mengharamkannya.

Ayat ini menerangkan bahwa jika seorang anak tidak diketahui ayahnya, dan ia dipelihara oleh seorang muslim yang lain, maka hubungan pemeliharaan dengan anak itu adalah hubungan saudara seagama atau hubungan tuan dengan maulanya (hamba yang telah dimerdekakan).

Oleh karena itu, dia harus memanggil anak itu dengan sebutan
"saudara"
atau
"maula".
Orang lain pun diharapkan untuk menyebutnya demikian, umpamanya
"Salim maula Huzaifah",
karena Salim ini sebelum datangnya agama Islam adalah budak Huzaifah yang tidak dikenal bapaknya.

Allah lalu menutup ayat ini dengan menyatakan bahwa semua perbuatan dosa seperti menasabkan seorang anak kepada yang bukan ayahnya yang dilakukan sebelum ayat ini turun, asalkan dihentikan setelah turunnya, akan diampuni Allah.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 5. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Berilah anak-anak angkat itu silsilah keturunan dari jalur bapak kandung mereka, karena sesungguhnya hal itu akan lebih adil dalam pandangan Allah.
Akan tetapi jika kalian tidak mengenali bapak kandung mereka, maka anak-anak itu menjadi saudara seagama dan penolong kalian.


Dan jika kalian menasabkan anak-anak itu bukan kepada bapak kandung mereka secara keliru, maka kalian tidak bersalah.
Tapi jika kalian melakukannya dengan sengaja, maka kalian telah berbuat dosa.


Allah Maha Mengampuni kesalahan yang tidak kalian sengaja dan Maha Menerima tobat dari dosa yang kalian lakukan dengan sengaja.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Nasabkanlah anak-anak angkat kalian itu kepada bapak-bapak mereka, hal itu lebih lurus dan lebih adil di sisi Allah.
Bila kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka yang sebenarnya, maka dalam kondisi itu panggillah mereka dengan dasar persaudaraan agama yang terjadi antara kalian, karena mereka adalah saudara-saudara kalian dan mawali-mawali kalian.


Tiada dosa atas kalian atas kesalahan yang kalian lakukan tanpa kesengajaan, akan tetapi Allah akan menyiksa bila kalian sengaja melakukan hal itu.
Allah Maha Pengampun bagi siapa yang salah, Maha Penyayang bagi siapa yang bertaubat dari dosanya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:


Tetapi


(panggillah mereka dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih pertengahan) lebih adil


(pada sisi Allah, dan jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka saudara-saudara kalian seagama dan maulamaula kalian) yaitu anak-anak paman kalian.


(Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap apa yang kalian khilaf padanya) dalam hal tersebut


(tetapi) yang berdosa itu ialah


(apa yang disengaja oleh hati kalian) sesudah adanya larangan.


(Dan adalah Allah Maha Pengampun) atas apa yang terlanjur kalian katakan sebelum adanya larangan


(lagi Maha Penyayang) kepada kalian.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam pendahuluan ini sebelum mengemukakan maksud yang dikehendaki, Allah subhanahu wa ta’ala mengemukakan suatu perkara yang telah dimaklumi oleh pancaindra.
Yaitu bahwa sebagaimana tidak mungkin bagi seseorang memiliki dua buah hati dalam rongganya, maka tidak mungkin pula istri yang di-zihar oleh seseorang melalui ucapannya,
"Engkau bagiku seperti punggung ibuku,"
sebagai ibunya.
Tidak mungkin pula terjadi seorang anak angkat menjadi anak kandung seseorang yang mengambilnya sebagai anak angkat.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Ini adalah perintah yang me-mansukh apa yang biasa berlaku di masa permulaan Islam yang membolehkan memanggil anak angkat sebagai anak sendiri.
Melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada mereka agar mengembalikan nisbat anak-anak angkat kepada bapaknya masing-masing yang sesungguhnya.
Ketentuan ini merupakan suatu keadilan dan tindakan yang bajik.

Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’la ibnu Asad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mukhtar, dari Musa ibnu Uqbah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Salim, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa sesungguhnya kami terbiasa memanggil Zaid ibnu Harisah maula Rasulullah ﷺ dengan sebutan Zaid anak Muhammad, sehingga turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai mengetengahkannya melalui berbagai jalur dari Musa ibnu Uqbah dengan sanad yang sama.


Dahulu mereka memperlakukan anak-anak angkat sebagaimana mereka memperlakukan anak-anak kandung sendiri dalam semua keadaan, misalnya dalam keadaan menyendiri disamakan dengan mahram dan lain sebagainya.
Karena itulah Sahlah binti Suhail (istri Abu Huzaifah r.a.) bertanya,
"Wahai Rasulullah, kami terbiasa memanggil Salim sebagai anak sendiri, sedangkan Allah telah menurunkan wahyu yang menjelaskan hukumnya, sesungguhnya dia terbiasa masuk menemuiku, dan sesungguhnya saya mempunyai perasaan bahwa Abu Huzaifah merasa tidak enak dengan kebebasannya menemuiku itu."
Maka Nabi ﷺ bersabda menjawabnya:

Susuilah dia, maka engkau menjadi mahramnya!

Setelah adanya pe-nasikh-an hukum ini, maka Allah membolehkan seseorang mengawini bekas istri anak angkatnya, Rasulullah ﷺ mengawini Zainab binti Jahsy yang telah diceraikan oleh Zaid ibnu Harisah r.a.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam surat An-Nisa tentang mahram:

(dan diharamkan bagimu) mengawini istri-istri anak kandungmu.
(QS. An-Nisa’ [4]: 23)

Sebagai pengecualian dari istri anak angkat, karena anak angkat bukan berasal dari sulbi orang yang bersangkutan.
Adapun mengenai anak persusuan (rada’), ia didudukkan sebagaimana anak sulbi menurut hukum syara’ melalui hadis Rasulullah ﷺ yang termaktub di dalam kitab Sahihain yang mengatakan:

Jadikanlah mahram karena persusuan sebagaimana kemahraman yang terjadi karena nasab (keturunan).

Pengakuan terhadap anak orang lain yang diakui sebagai anak karena memuliakannya atau karena sayang, hal ini bukan termasuk hal yang dilarang oleh ayat ini karena berdasarkan apa yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus Sunan kecuali Imam Turmuzi melalui hadis Sufyan As-Sauri, dari Salamah ibnu Kahil, dari Al-Hasan Al Urani, dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa kami persilakan anak-anak kecil dari kalangan Bani Abdul Muttalib menemui Rasulullah ﷺ dengan membawa dupa-dupa kami dari Jama’ (Arafah).
Dupa-dupa tersebut mengotori paha-paha kami, maka Rasulullah ﷺ bersabda,


"Hai Anakku, janganlah kamu buang-buang dupa itu sebelum mentari terbit."

Abu Ubaidah dan lain-lainnya mengatakan bahwa bunayya merupakan bentuk tasgir dari Ibnun.
Hal ini jelas penunjukkan dalilnya, dan peristiwa ini terjadi pada haji wada’ tahun sepuluh hijriah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Berkenaan dengan Zaid ibnu Harisah r.a. Dia telah gugur dalam Perang Mu’tah pada tahun delapan Hijriah.


Juga di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Abu Uwwanah Al-Waddah ibnu Abdullah Al-Yasykuri, dari Al-Ja’d Abu Usman Al-Basri, dari Anas ibnu Malik r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memanggilnya dengan sebutan,
"Hai Anakku."


Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar mengembalikan nisbat anak-anak angkat kepada bapaknya masing-masing yang sesungguhnya, jika bapak-bapak mereka diketahui.
Jika ternyata bapak-bapak mereka (anak-anak angkat itu) tidak diketahui, maka mereka adalah saudara-saudara seagama dan maulamaula kalian, yakni sebagai pengganti dari nisbat nasab mereka yang tidak diketahui.

Ada suatu kasus yang terjadi sehubungan dengan masalah ini, yaitu berkenaan dengan kembalinya Nabi ﷺ dari Mekah seusai menunaikan umrah qada, lalu mereka diikuti oleh anak perempuan Hamzah r.a. yang menyeru,
"Hai Paman, hai Paman, aku ikut!"
Maka Ali r.a. menggendongnya dan berkata kepada Fatimah r.a.,
"Peliharalah anak pamanmu ini,"
lalu Fatimah menggendongnya.

Maka bertengkarlah memperebutkannya Zaid dan Ja’far r.a. mempermasalahkan siapa yang berhak memeliharanya di antara mereka.
Masing-masing pihak mengemukakan alasannya.

Ali r.a. berkata,
"Aku lebih berhak karena dia adalah anak pamanku."
Zaid mengatakan,
"Dia adalah anak saudaraku."
Ja’far mengatakan,
"Dia anak perempuan pamanku dan bibinya menjadi istriku,"
yakni Asma binti Umais.
Maka Nabi ﷺ memutuskan bahwa anak perempuan Hamzah r.a. harus berada di bawah asuhan bibinya, dan Nabi ﷺ bersabda:

Bibi sama kedudukannya dengan ibu.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada Ali:
Engkau termasuk keluargaku, dan aku termasuk keluargamu.
Kepada Ja’far r.a. Nabi ﷺ bersabda:
Rupa dan akhlakmu menyerupaiku.
Dan kepada Zaid ibnu Harisah, Nabi ﷺ bersabda:
Engkau adalah saudara kami dan maula kami.

Di dalam hadis ini tersimpulkan banyak hukum yang terbaik ialah bahwa Nabi ﷺ memutuskan perkara yang hak dan membuat masing-masing dari pihak yang bersengketa merasa puas.


Beliau ﷺ bersabda kepada Zaid ibnu Harisah r.a.:
Engkau adalah saudara kami dan maula kami.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Uyaynah ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Abu Bakar r.a. pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)
"Aku termasuk orang yang tidak diketahui bapaknya, maka aku termasuk saudara-saudara seagama kalian."
Ayahku (si perawi yakni Abdur Rahman) mengatakan,
"Demi Allah, sesungguhnya aku merasa yakin seandainya Abu Bakar mengetahui bahwa ayahnya adalah keledai, niscaya dia menisbatkan dirinya kepada keledai itu."


Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Tiada seorang lelaki pun yang menisbatkan dirinya kepada bukan ayahnya sendiri, sedangkan dia mengetahuinya, melainkan ia kafir.

Ini merupakan kecaman dan peringatan yang keras ditujukan terhadap orang yang melepaskan dirinya dari nasabnya yang telah dimaklumi.
Karena itu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Apabila kalian menisbatkan sebagian dari mereka bukan kepada ayah yang sebenarnya karena keliru sesudah berijtihad dan berusaha sebisamu, maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menghapuskan dosa kekeliruan itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh-Nya melalui firman-Nya yang memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar dalam doanya mereka mengucapkan:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
(QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Di dalam hadis sahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (menjawab doa tersebut),
"Kami luluskan.”

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Amr ibnul As r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila seorang hakim berijtihad dan ternyata benar, maka dia memperoleh dua pahala.
Dan apabila ia berijtihad dan ternyata keliru, maka baginya satu pahala.

Di dalam hadis lain disebutkan:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memaafkan dari umatku perbuatan keliru, lupa, dan melakukan perbuatan yang dipaksakan kepada mereka.

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat ini:

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.
Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Yakni sesungguhnya yang dinilai dosa itu ialah melakukan perbuatan yang batil dengan sengaja, sebagaimana yang disebutkan pula oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah).
(QS. Al-Ma’idah [5]: 89), hingga akhir ayat.

Di dalam hadis terdahulu telah disebutkan:

Tiada seorang pun yang menisbatkan dirinya bukan kepada bapaknya sendiri, sedangkan dia mengetahuinya, melainkan ia telah kafir.

Di dalam suatu ayat Alquran yang telah di-mansukh pernah disebutkan:

bahwa sesungguhnya merupakan suatu kekufuran bagi kalian jika kalian membenci bapak-bapak kalian.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, dari Umar r.a. yang mengatakan,
"Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Muhammad dengan sebenarnya dan menurunkan kepadanya Alquran, dan termasuk di antara ayat Alquran ialah ayat yang mengenai hukum rajam.
Rasulullah ﷺ memberlakukan hukum rajam, dan kami pun melakukannya pula sesudahnya."
Kemudian Umar r.a. mengatakan,
"Dahulu kami sering membaca ayat ini (yang telah di-mansukh),"
yaitu:
Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian, karena sesungguhnya merupakan suatu kekufuran bagi kalian bila kalian membenci bapak-bapak kalian sendiri.
Dan Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana Isa putra Maryam disanjung-sanjung (oleh kaum Nasrani), karena sesungguhnya aku ini hanyalah hamba Allah, maka sebutlah oleh kalian,
"Hamba Allah dan rasul-Nya.”

Adakalanya Ma’mar (si perawi) mengatakan,
"Sebagaimana kaum Nasrani menyanjung-nyanjung Isa Putra Maryam."

Dalam hadis lain disebutkan:

Ada tiga perkara bagi manusia merupakan kekufuran, yaitu mencela nasab (keturunan), melakukan niyahah (tangisan ala Jahiliah) karena ditinggal mati, dan meminta hujan kepada bintang-bintang.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 5

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Umar bahwa para shahabat biasa memanggil Zaid bin Haritsah (anak angkat Nabi ﷺ) dengan sebutan Zaid bin Muhammad.” Ayat ini (al-Ahzab: 5) turun sebagai petunjuk agar memanggil anak angkat itu dengan memakai nama bapak kandungnya.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

▪ Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
▪ Hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

▪ Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio Murottal

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 5 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 5 - Gambar 2
Statistik QS. 33:5
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
Sending
User Review
4.3 (27 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

33:5, 33 5, 33-5, Surah Al Ahzab 5, Tafsir surat AlAhzab 5, Quran Al-Ahzab 5, Surah Al Ahzab ayat 5

Video Surah

33:5


More Videos

Kandungan Surah Al Ahzab

۞ QS. 33:1 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hukum memohon bantuan orang musyrik • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:2 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 33:3 • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 33:4 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 33:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 33:8 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al Bashir (Maha Melihat) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 33:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 33:12 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:15 • Sifat orang munafik

۞ QS. 33:16 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 33:17 • Kekuasaan Allah • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 33:18 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:19 • Kekuasaan Allah • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:20 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:21 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 33:22 • Allah menepati janji

۞ QS. 33:24 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang munafik

۞ QS. 33:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 33:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 33:27 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 33:29 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:30 • Menyiksa pelaku maksiat • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 33:31 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 33:34 • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus)

۞ QS. 33:35 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Ajakan masuk Islam • Keutamaan iman

۞ QS. 33:36 • Kebaikan pada pilihan Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 33:39 • Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 33:40 • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:43 • Pahala iman • Al Rahim (Maha Penyayang) • Doa malaikat untuk umat muslim • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 33:44 • Pahala iman • Percakapan Allah dengan ahli surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:47 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 33:48 • Al Wakil (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:50 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:51 • Keluasan ilmu Allah • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:52 • Al Raqib (Maha Pengawas)

۞ QS. 33:54 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:55 • Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 33:56 • Doa malaikat untuk umat muslim

۞ QS. 33:57 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:58 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:59 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:60 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:61 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:62 • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 33:63 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Nama-nama hari kiamat • Kiamat telah dekat • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 33:64 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:65 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka •

۞ QS. 33:66 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 33:67 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Siksa orang kafir

۞ QS. 33:68 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 33:70 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 33:71 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Islam menghapus dosa masa lalu • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 33:73 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang kafir

Ayat Pilihan

Tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sungguh pada hari kiamat saja disempurnakan pahalamu. Siapa dijauhkan neraka & dimasukkan surga, maka sungguh telah beruntung. Kehidupan dunia itu tak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan
QS. Ali ‘Imran [3]: 185

Hai anak Adam, sungguh Kami telah turunkan kepadamu pakaian untuk menutup aurat & pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu sebagian dari kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka slalu ingat
QS. Al-A’raf [7]: 26

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.
QS. An-Najm [53]: 28

Ingatlah,
sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan,
tetapi mereka tidak sadar.
QS. Al-Baqarah [2]: 12

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah ...

Correct! Wrong!

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
'dan demi malam apabila telah sunyi,'
--QS. As-Duha [93] : 2

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Alquran Surah Ad-Dhuha Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

Arti:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

+

Array

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah ...

Correct! Wrong!

Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Surah Ad-Duha (الضحى) adalah surah ke-93 dalam Alquran dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr.
Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya 'waktu matahari sepenggalahan naik'.

Pendidikan Agama Islam #17
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #17 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #17 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan… ..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … sebagai … Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah… .. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Arti al-Kaafirun adalah … Arti dari lafal لَكُمْ دِينُكُمْ yaitu …

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah …Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah …اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- …وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah …Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah …

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Kamus Istilah Islam

Pertempuran Qadisiyyah

Apa itu Pertempuran Qadisiyyah? Pertempuran Al-Qadisiyyah adalah pertempuran yang menentukan antara pasukan muslim dengan pasukan Persia pada saat periode pertama ekspansi muslim yang berakhir dengan...

Ibrahim

Apa itu Ibrahim? Surah Ibrahim adalah surah ke-14 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 52 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyyah karena diturunkan di Mekkah sebelum Hijrah. Dinamakan Ibrah...

Hadis Mu’allaq

Apa itu Hadis Mu’allaq? Hadis Mu’allaq adalah bila sanad sebuah hadits terputus pada penutur 5 hingga penutur 1, alias tidak ada sanadnya. Contoh: “Seorang pencatat hadis mengatakan,...