Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ahzab

Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) surah 33 ayat 5


اُدۡعُوۡہُمۡ لِاٰبَآئِہِمۡ ہُوَ اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ فَاِخۡوَانُکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ مَوَالِیۡکُمۡ ؕ وَ لَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ فِیۡمَاۤ اَخۡطَاۡتُمۡ بِہٖ ۙ وَ لٰکِنۡ مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوۡبُکُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا
Ad’uuhum li-aabaa-ihim huwa aqsathu ‘indallahi fa-in lam ta’lamuu aabaa-ahum fa-ikhwaanukum fiiddiini wamawaaliikum walaisa ‘alaikum junaahun fiimaa akhtha’tum bihi walakin maa ta’ammadat quluubukum wakaanallahu ghafuuran rahiiman;

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.
Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 33:5
Topik ▪ Takwa ▪ Perbuatan dan niat ▪ Keutamaan nabi Ilyas as.
33:5, 33 5, 33-5, Al Ahzab 5, AlAhzab 5, Al-Ahzab 5
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 5. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan agar kaum Muslimin menasabkan (membangsakan,) seseorang anak hanya kepada bapak dan ibunya, karena anak itu berasal dari tulang sulbi bapaknya, kemudian dikandung dan dilahirkan oleh ibunya.
Membangsakan anak kepada orang tuanya itu adalah hukum Allah yang wajib di taati oleh seluruh kaum Muslimin.
Sebaliknya membangsakan anak kepada orang lain yang bukan orang tuanya bukanlah hukum Allah, tetapi adalah hukum yang dibuat-buat oleh manusia sendiri, karena itu haram hukumnya.

Pendapat ini disepakati oleh kebanyakan ulama, yang mengatakan: "Mengangkat anak, sehingga kedudukan anak angkat itu sama hukumnya dengan kedudukan anak sendiri, seperti berhak mewarisi menjadikan hubungan mahram dan sebagainya termasuk dosa besar berdasarkan hadis:

Maka sesungguhnya Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan hadis dari Said bin Abu Waqas r.a, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang, siapa yang menasabkan anak kepada selain bapaknya atau membangsakan budak kepada selain tuannya, maka ia berhak mendapatkan laknat Allah,; para malaikat dan manusia seluruhnya, Allah Ta'ala tidak menerima pemalingan dosa tebusan padanya.
(Muhammad Ali As Sabuni, Tafsir Ayatil Ahkam, Jilid II, hal 263)

Dan hadis Nabi ﷺ beliau bersabda:

Tidak ada seorangpun laki-laki yang menasabkan kepada selain bapaknya, sedang ia mengetahui melainkan dia telah kafir.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Pada lafal yang lain, juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

Barangsiapa yang menasabkan anak kepada selain bapaknya, sedang ia mengetahui bahwa laki-laki itu bukan bapaknya, maka haram atas surga.
(Al Alusi, Rukhul Ma'ani)

Dalam pada itu tidak haram hukumnya menggandengkan sebutan nama seorang dengan nama anak laki-laki yang lain yang bukan bapaknya, apabila penggandengan nama tersebut bukan dengan maksud menjadikan anak angkat, tetapi semata-mata karena panggilan saja, dan orang banyak telah biasa memanggil anak itu dengan nama itu.
Hal yang seperti ini pernah terjadi pada zaman Nabi ﷺ.
Seorang bernama Miqdad bin Amr, tetapi namanya yang terkenal ialah Miqdad bin Aswad, karena Aswad telah mengangkat Miqdad ini sebagai anakuya pada masa jahiliah, sehingga Miqdad terkenal dengan nama tersebut.
Waktu ayat ini diturunkan, Miqdad berkata: "Saya ini anak Amr.
Sekalipun Miqdad telah mengatakan demikian, tetapi orang banyak memanggilnya juga Miqdad bin Aswad: Pemanggilan Miqdad ini dengan nama demikian tidak dilarang oleh Rasulullah dan para sahabat, karena nama itu Iebih dikenal.

Menurut Al Alusi 437) menurut bunyi ini yang diharamkan ialah, sengaja menasabkan anak kepada selain dari bapaknya, sebagaimana yang berlaku pada masa Jahiliah.
Akan tetapi jika tidak demikian halnya, seperti seorang laki-laki karena sayangnya kepada seorang anak, ia memanggil dan memperlakukan anak itu seperti anaknya sendiri dan tidak menyatakan bahwa sama kedudukannya dalam hukum dengan anak sendiri, maka Allah tidak mengharamkannya.

Pengangkatan anak tidak sama dengan pengakuan anak.
Pengangkatan anak dilakukan oleh seseorang laki-laki terhadap seorang anak, sehingga anak itu sama hukumnya dengan anaknya sendiri, seperti mempunyai hak waris mewarisi, mempunyai hubungan mahram dan mempunyai hubungan kerabat dengan kerabat-kerabat bapak angkatnya sedang pengakuan anak ialah pengakuan yang dinyatakan oleh seseorang atas seorang anak kandungnya Pengakuan ini disertai dengan alat-alat bukti.
Hakim memberikan keputusan sesuai dengan keyakinan hatinya terhadap alat-alat bukti yang dikemukakan itu.

Ayat ini menerangkan, jika seorang anak tidak diketahui ayahnya, dan anak itu dipelihara oleh seorang muslim yang lain, maka dalam keadaan demikian hubungan pemeliharaan dengan anak itu adalah hubungan saudara seagama atau hubungan tuan dengan maulanya (hamba yang telah dimerdekakannya), maka dia harus memanggil anak itu dengan sebutan "saudara" atau "maula",
umpamanya: "hai saudaraku" atau "hal maulaku".
Orang lainpun demikian pula hendaknya menyebutnya, umpamanya" "Salim maula Huzaifah",
karena Salim ini sebelum datangnya agama Islam adalah budak Huzaifah yang tidak dikenal bapaknya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menutup ayat ini dengan menyatakan bahwa semua perbuatan dosa yang berupa membangsakan (manasabkan) seorang anak kepada yang bukan ayahnya yang dilakukan sebelum turunnya ayat ini, diampuni Allah, jika perbuatan ini dihentikan setelah turunnya ayat ini karena Allah subhanahu wa ta'ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Al Ahzab (33) ayat 5 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ahzab (33) ayat 5 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ahzab (33) ayat 5 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Berilah anak-anak angkat itu silsilah keturunan dari jalur bapak kandung mereka, karena sesungguhnya hal itu akan lebih adil dalam pandangan Allah.
Akan tetapi jika kalian tidak mengenali bapak kandung mereka, maka anak-anak itu menjadi saudara seagama dan penolong kalian.
Dan jika kalian menasabkan anak-anak itu bukan kepada bapak kandung mereka secara keliru, maka kalian tidak bersalah.
Tapi jika kalian melakukannya dengan sengaja, maka kalian telah berbuat dosa.
Allah Maha Mengampuni kesalahan yang tidak kalian sengaja dan Maha Menerima tobat dari dosa yang kalian lakukan dengan sengaja.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Tetapi (panggillah mereka dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih pertengahan) lebih adil (pada sisi Allah, dan jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian) yaitu anak-anak paman kalian.
(Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap apa yang kalian khilaf padanya) dalam hal tersebut (tetapi) yang berdosa itu ialah (apa yang disengaja oleh hati kalian) sesudah adanya larangan.
(Dan adalah Allah Maha Pengampun) atas apa yang terlanjur kalian katakan sebelum adanya larangan (lagi Maha Penyayang) kepada kalian.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Nasabkanlah anak-anak angkat kalian itu kepada bapak-bapak mereka, hal itu lebih lurus dan lebih adil di sisi Allah.
Bila kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka yang sebenarnya, maka dalam kondisi itu panggillah mereka dengan dasar persaudaraan agama yang terjadi antara kalian, karena mereka adalah saudara-saudara kalian dan mawali-mawali kalian.
Tiada dosa atas kalian atas kesalahan yang kalian lakukan tanpa kesengajaan, akan tetapi Allah akan menyiksa bila kalian sengaja melakukan hal itu.
Allah Maha Pengampun bagi siapa yang salah, Maha Penyayang bagi siapa yang bertaubat dari dosanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam pendahuluan ini sebelum mengemukakan maksud yang dikehendaki, Allah subhanahu wa ta'ala mengemukakan suatu perkara yang telah dimaklumi oleh pancaindra.
Yaitu bahwa sebagaimana tidak mungkin bagi seseorang memiliki dua buah hati dalam rongganya, maka tidak mungkin pula istri yang di-zihar oleh seseorang melalui ucapannya, "Engkau bagiku seperti punggung ibuku," sebagai ibunya.
Tidak mungkin pula terjadi seorang anak angkat menjadi anak kandung seseorang yang mengambil­nya sebagai anak angkat.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah.
(Al Ahzab:5)

Ini adalah perintah yang me-mansukh apa yang biasa berlaku di masa permulaan Islam yang membolehkan memanggil anak angkat sebagai anak sendiri.
Melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada mereka agar mengembalikan nisbat anak-anak angkat kepada bapaknya masing-masing yang sesungguhnya.
Ketentuan ini merupakan suatu keadilan dan tindakan yang bajik.

Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'la ibnu Asad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mukhtar, dari Musa ibnu Uqbah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Salim, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa sesungguhnya kami terbiasa memanggil Zaid ibnu Harisah maula Rasulullah ﷺ dengan sebutan Zaid anak Muhammad, sehingga turunlah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan: Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah.
(Al Ahzab:5)

Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai mengetengahkannya melalui berbagai jalur dari Musa ibnu Uqbah dengan sanad yang sama.

Dahulu mereka memperlakukan anak-anak angkat sebagaimana mereka memperlakukan anak-anak kandung sendiri dalam semua keadaan, misalnya dalam keadaan menyendiri disamakan dengan mahram dan lain sebagainya.
Karena itulah Sahlah binti Suhail (istri Abu Huzaifah r.a.) bertanya, "Wahai Rasulullah, kami terbiasa memanggil Salim sebagai anak sendiri, sedangkan Allah telah menurunkan wahyu yang menjelaskan hukumnya, sesungguhnya dia terbiasa masuk menemuiku, dan sesungguhnya saya mempunyai perasaan bahwa Abu Huzaifah merasa tidak enak dengan kebebasannya menemuiku itu." Maka Nabi ﷺ bersabda menjawabnya:

Susuilah dia, maka engkau menjadi mahramnya!

Setelah adanya pe-nasikh-an hukum ini, maka Allah membolehkan seseorang mengawini bekas istri anak angkatnya, Rasulullah ﷺ mengawini Zainab binti Jahsy yang telah diceraikan oleh Zaid ibnu Harisah r.a.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya.
(Al Ahzab:37)

Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman di dalam surat An-Nisa tentang mahram:

(dan diharamkan bagimu) mengawini istri-istri anak kandungmu.
(An Nisaa:23)

Sebagai pengecualian dari istri anak angkat, karena anak angkat bukan berasal dari sulbi orang yang bersangkutan.
Adapun mengenai anak persusuan (rada'), ia didudukkan sebagaimana anak sulbi menurut hukum syara' melalui hadis Rasulullah ﷺ yang termaktub di dalam kitab Sahihain yang mengatakan:

Jadikanlah mahram karena persusuan sebagaimana kemahraman yang terjadi karena nasab (keturunan).

Pengakuan terhadap anak orang lain yang diakui sebagai anak karena memuliakannya atau karena sayang, hal ini bukan termasuk hal yang dilarang oleh ayat ini karena berdasarkan apa yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus Sunan kecuali Imam Turmuzi melalui hadis Sufyan As-Sauri, dari Salamah ibnu Kahil, dari Al-Hasan Al Urani, dari Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan bahwa kami persilakan anak-anak kecil dari kalangan Bani Abdul Muttalib menemui Rasulullah ﷺ dengan membawa dupa-dupa kami dari Jama' (Arafah).
Dupa-dupa tersebut mengotori paha-paha kami, maka Rasulullah ﷺ bersabda,

"Hai Anakku, janganlah kamu buang-buang dupa itu sebelum mentari terbit."

Abu Ubaidah dan lain-lainnya mengatakan bahwa bunayya merupakan bentuk tasgir dari Ibnun.
Hal ini jelas penunjukkan dalilnya, dan peristiwa ini terjadi pada haji wada' tahun sepuluh hijriah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.
(Al Ahzab:5)

Berkenaan dengan Zaid ibnu Harisah r.a.
Dia telah gugur dalam Perang Mu'tah pada tahun delapan Hijriah.

Juga di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Abu Uwwanah Al-Waddah ibnu Abdullah Al-Yasykuri, dari Al-Ja'd Abu Usman Al-Basri, dari Anas ibnu Malik r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memanggilnya dengan sebutan, "Hai Anakku."

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(Al Ahzab:5)

Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan agar mengembalikan nisbat anak-anak angkat kepada bapaknya masing-masing yang sesungguhnya, jika bapak-bapak mereka diketahui.
Jika ternyata bapak-bapak mereka (anak-anak angkat itu) tidak diketahui, maka mereka adalah saudara-saudara seagama dan maula-maula kalian, yakni sebagai pengganti dari nisbat nasab mereka yang tidak diketahui.

Ada suatu kasus yang terjadi sehubungan dengan masalah ini, yaitu berkenaan dengan kembalinya Nabi ﷺ dari Mekah seusai menunaikan umrah qada, lalu mereka diikuti oleh anak perempuan Hamzah r.a.
yang menyeru, "Hai Paman, hai Paman, aku ikut!" Maka Ali r.a.
menggendong­nya dan berkata kepada Fatimah r.a., "Peliharalah anak pamanmu ini," lalu Fatimah menggendongnya.

Maka bertengkarlah memperebutkannya Zaid dan Ja'far r.a.
mempermasalahkan siapa yang berhak memeliharanya di antara mereka.
Masing-masing pihak mengemukakan alasannya.

Ali r.a.
berkata, "Aku lebih berhak karena dia adalah anak pamanku." Zaid mengatakan, "Dia adalah anak saudaraku." Ja'far mengatakan, "Dia anak perempuan pamanku dan bibinya menjadi istriku," yakni Asma binti Umais.
Maka Nabi ﷺ memutuskan bahwa anak perempuan Hamzah r.a.
harus berada di bawah asuhan bibinya, dan Nabi ﷺ bersabda:

Bibi sama kedudukannya dengan ibu.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada Ali: Engkau termasuk keluargaku, dan aku termasuk keluargamu.
Kepada Ja'far r.a.
Nabi ﷺ bersabda: Rupa dan akhlakmu menyerupaiku.
Dan kepada Zaid ibnu Harisah, Nabi ﷺ bersabda: Engkau adalah saudara kami dan maula kami.

Di dalam hadis ini tersimpulkan banyak hukum yang terbaik ialah bahwa Nabi ﷺ memutuskan perkara yang hak dan membuat masing-masing dari pihak yang bersengketa merasa puas.

Beliau ﷺ bersabda kepada Zaid ibnu Harisah r.a.: Engkau adalah saudara kami dan maula kami.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(Al Ahzab:5)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Uyaynah ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Abu Bakar r.a.
pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(Al Ahzab:5) "Aku termasuk orang yang tidak diketahui bapaknya, maka aku termasuk saudara-saudara seagama kalian." Ayahku (si perawi yakni Abdur Rahman) mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya aku merasa yakin seandainya Abu Bakar mengetahui bahwa ayahnya adalah keledai, niscaya dia menisbatkan dirinya kepada keledai itu."

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Tiada seorang lelaki pun yang menisbatkan dirinya kepada bukan ayahnya sendiri, sedangkan dia mengetahuinya, melainkan ia kafir.

Ini merupakan kecaman dan peringatan yang keras ditujukan terhadap orang yang melepaskan dirinya dari nasabnya yang telah dimaklumi.
Karena itu Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan dalam firman-Nya: Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
(Al Ahzab:5)

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya.
(Al Ahzab:5)

Apabila kalian menisbatkan sebagian dari mereka bukan kepada ayah yang sebenarnya karena keliru sesudah berijtihad dan berusaha sebisamu, maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala menghapuskan dosa kekeliruan itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh-Nya melalui firman-Nya yang memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar dalam doanya mereka mengucapkan:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
(Al Baqarah:286)

Di dalam hadis sahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (menjawab doa tersebut), "Kami luluskan.”

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Amr ibnul As r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila seorang hakim berijtihad dan ternyata benar, maka dia memperoleh dua pahala.
Dan apabila ia berijtihad dan ternyata keliru, maka baginya satu pahala.

Di dalam hadis lain disebutkan:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah memaafkan dari umatku perbuatan keliru, lupa, dan melakukan perbuatan yang dipaksakan kepada mereka.

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam surat ini:

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.
Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al Ahzab:5)

Yakni sesungguhnya yang dinilai dosa itu ialah melakukan perbuatan yang batil dengan sengaja, sebagaimana yang disebutkan pula oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah).
(Al Maidah:89), hingga akhir ayat.

Di dalam hadis terdahulu telah disebutkan:

Tiada seorang pun yang menisbatkan dirinya bukan kepada bapaknya sendiri, sedangkan dia mengetahuinya, melainkan ia telah kafir.

Di dalam suatu ayat Al-Qur'an yang telah di-mansukh pernah disebutkan:

bahwa sesungguhnya merupakan suatu kekufuran bagi kalian jika kalian membenci bapak-bapak kalian.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Ibnu Abbas, dari Umar r.a.
yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala mengutus Muhammad dengan sebenarnya dan menurunkan kepadanya Al-Qur'an, dan termasuk di antara ayat Al-Qur'an ialah ayat yang mengenai hukum rajam.
Rasulullah ﷺ memberlakukan hukum rajam, dan kami pun melakukannya pula sesudahnya." Kemudian Umar r.a.
mengatakan, "Dahulu kami sering membaca ayat ini (yang telah di-mansukh)," yaitu: Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian, karena sesungguhnya merupakan suatu kekufuran bagi kalian bila kalian membenci bapak-bapak kalian sendiri.
Dan Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana Isa putra Maryam disanjung-sanjung (oleh kaum Nasrani), karena sesungguhnya aku ini hanyalah hamba Allah, maka sebutlah oleh kalian, "Hamba Allah dan rasul-Nya.”

Adakalanya Ma'mar (si perawi) mengatakan, "Sebagaimana kaum Nasrani menyanjung-nyanjung Isa Putra Maryam."

Dalam hadis lain disebutkan:

Ada tiga perkara bagi manusia merupakan kekufuran, yaitu mencela nasab (keturunan), melakukan niyahah (tangisan ala Jahiliah) karena ditinggal mati, dan meminta hujan kepada bintang-bintang.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 5

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Umar bahwa para shahabat biasa memanggil Zaid bin Haritsah (anak angkat Nabi ﷺ) dengan sebutan Zaid bin Muhammad.” Ayat ini (al-Ahzab: 5) turun sebagai petunjuk agar memanggil anak angkat itu dengan memakai nama bapak kandungnya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali'lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu'min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu'min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.


Gambar Kutipan Surah Al Ahzab Ayat 5 *beta

Surah Al Ahzab Ayat 5



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ahzab

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah33
Nama SurahAl Ahzab
Arabالْأحزاب
ArtiGolongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu90
JuzJuz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku'9 ruku'
Jumlah ayat73
Jumlah kata1307
Jumlah huruf5787
Surah sebelumnyaSurah As-Sajdah
Surah selanjutnyaSurah Saba’
4.7
Rating Pembaca: 4.3 (27 votes)
Sending