QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 44 [QS. 33:44]

تَحِیَّتُہُمۡ یَوۡمَ یَلۡقَوۡنَہٗ سَلٰمٌ ۖۚ وَ اَعَدَّ لَہُمۡ اَجۡرًا کَرِیۡمًا
Tahii-yatuhum yauma yalqaunahu salaamun wa-a’adda lahum ajran kariiman;

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah:
Salam, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.
―QS. 33:44
Topik ▪ Iman ▪ Pahala iman ▪ Azab orang kafir
33:44, 33 44, 33-44, Al Ahzab 44, AlAhzab 44, Al-Ahzab 44

Tafsir surah Al Ahzab (33) ayat 44

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 44. Oleh Kementrian Agama RI

Apabila orang-orang mukmin masuk halaman surga, para malaikat memberi penghormatan kepada mereka dengan ucapan “salam” seperti dalam firman Allah:

Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): “Salamun alaikum bima Sabartum”.
Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

(Q.S. Ar Ra’d: 23-24)

Dan Allah menyediakan pahala bagi mereka di akhirat yang datangnya tanpa diminta terlebih dahulu.
Mereka merasakan nikmat dari kelezatan makanan.
minuman, pakaian dan tempat-tempat kediaman di dalam surga yang luas sekali yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga ataupun terlintas dalam hati.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kata penghormatan dari Allah di hari perjumpaan mereka dengan-Nya adalah ucapan kedamaian (salam).
Allah menyediakan ganjaran yang penuh kemurahan sebagai karunia dari-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Salam penghormatan kepada mereka) dari Allah subhanahu wa ta’ala (pada hari mereka menemui-Nya ialah “Salaam”) melalui lisan Malaikat (dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka) yaitu surga.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Penghormatan kepada orang-orang Mukmin dari Allah di surga pada saat mereka bertemu dengan-Nya adalah salam, dan jaminan keamanan bagi mereka dari adzab Allah.
Allah telah menyiapkan untuk mereka pahala yang baik, yaitu surga.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu).
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 43)

Ayat ini menggugah untuk banyak berzikir.
Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala selalu ingat kepada kalian, maka ingatlah pula kalian kepada-Nya dengan banyak menyebut nama-Nya.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (Q.S. Al-Baqarah [2]: 151-152)

Nabi ﷺ pernah bersabda:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Barang siapa yang menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku menyebutnya pula dalam diri-Ku.
Dan barang siapa yang menyebut-Ku dalam suatu kumpulan orang, maka Aku menyebutnya pula dalam suatu golongan yang lebih baik daripada golongannya.

Salawat dari Allah subhanahu wa ta’ala artinya pujian Allah kepada hamba-Nya di kalangan para malaikat.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abul Aliyah.
Abu Ja’far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar-Rabi ibnu Anas hal yang sama.
Selain Anas ibnur Rabi’ mengatakan bahwa salawat dari Allah subhanahu wa ta’ala artinya rahmat-Nya.
Akan tetapi, dapat pula dikatakan bahwa di antara kedua pendapat tersebut tidak ada pertentangan, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Adapun salawat dari malaikat maksudnya mendoakan untuk kebaikan manusia yang bersangkutan dan memohonkan ampunan baginya, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala.
Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguh­nya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 7-9)

Yakni berkat rahmat Allah kepada kalian, pujian-Nya terhadap kalian, dan doa malaikat bagi kalian, maka kalian dikeluarkan oleh Allah dari gelapnya kejahilan dan kesesatan menuju kepada terangnya hidayah dan keyakinan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 43)

Yaitu di dunia dan di akhirat.
Adapun rahmat Allah bagi mereka di dunia berupa petunjuk, Dia telah memberi mereka petunjuk kepada kebenaran, padahal selain mereka tidak mengetahuinya.
Dan Allah menerangi jalan mereka, sedangkan selain mereka sesat dan menyimpang jauh darinya.
Orang-orang selain mereka itu adalah para penyeru kekafiran atau perbuatan bid’ah, juga para pengikut mereka dari kalangan orang-orang yang berlaku sewenang-wenang.
Adapun rahmat Allah kepada mereka di akhirat ialah Dia menyelamatkan mereka dari keterkejutan yang besar (huru-hara hari kiamat), dan Dia memerintahkan kepada para malaikat-Nya agar menyambut mereka dengan menyampaikan berita gembira bahwa mereka beruntung mendapat surga dan diselamatkan dari neraka.
Hal ini tiada lain menunjukkan akan kecintaan Allah dan belas kasihan­Nya kepada mereka.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Humaid, dari Anas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersama sejumlah sahabatnya bersua dengan seorang anak kecil di tengah jalan.
Ketika ibu si anak kecil itu melihat adanya sejumlah orang dewasa yang akan melewati jalan tersebut, maka timbullah rasa khawatirnya akan keselamatan anaknya, ia khawatir anaknya akan terinjak.
Lalu si ibu segera berlari memburu anaknya seraya berkata, “Hai anakku, hai anakku,” lalu ia menggendong anaknya ke pinggir jalan.
Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, wanita itu tidak akan mencampakkan anaknya ke dalam api.” Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah ﷺ menenangkan mereka supaya berjalan agak pelan dan bersabda: Benar tidak, dan Allah tidak akan melemparkan kekasih-Nya ke dalam neraka.

Sanad hadis ini dengan syarat Sahihain, dan tidak ada seorang pun dari pemilik kitab Sittah yang mengetengahkannya.

Akan tetapi, di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Amirul Mu-minin Umar ibnul Khattab r.a.
yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita dari kalangan para tawanan yang menggendong anak kecilnya, lalu menempelkannya pada dadanya dan menyusuinya.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya,

“Bagaimanakah pendapat kalian, apakah wanita ini tega mencampakkan bayinya ke dalam api, sedangkan ia mampu melakukannya?”
Mereka menjawab, “Tidak.” Rasulullah ﷺ bersabda: Maka Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah, “Salam.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 44)

Menurut makna lahiriahnya —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— ialah salam penghormatan bagi mereka dari Allah pada hari mereka bersua dengan-Nya ialah, “Salam.” Yakni pada hari Allah mengucapkan salam kepada mereka, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

(Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
(Q.S. Yasin [36]: 58)

Qatadah menduga bahwa makna yang dimaksud ialah sebagian dari mereka mengucapkan salam kepada sebagian yang lain pada hari mereka bersua dengan Allah di hari akhirat, lalu pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Menurut hemat saya, barangkali yang dijadikan pegangan dalil adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan:

Doa mereka di dalamnya ialah, “Subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau, ya Allah) dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam.” Dan penutup doa mereka ialah, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamina” (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam).
(Q.S. Yunus [10]: 10)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.
(Q.S. Al-Ahzab [33]: 44)

Yakni surga dan semua makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, istri-istri, semua kelezatan, dan semua pemandangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, serta belum pernah terbayangkan di hati seorang manusia pun.


Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali’lmran.

Dinamai “Al Ahzab” yang berarti “golongan-golongan yang bersekutu” karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu’min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu’min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahzab (73 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 44 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 44 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 44 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahzab - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 73 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 33:44
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
4.4
Ratingmu: 4.2 (14 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim