Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 4 [QS. 33:4]

مَا جَعَلَ اللّٰہُ لِرَجُلٍ مِّنۡ قَلۡبَیۡنِ فِیۡ جَوۡفِہٖ ۚ وَ مَا جَعَلَ اَزۡوَاجَکُمُ الِّٰٓیۡٔ تُظٰہِرُوۡنَ مِنۡہُنَّ اُمَّہٰتِکُمۡ ۚ وَ مَا جَعَلَ اَدۡعِیَآءَکُمۡ اَبۡنَآءَکُمۡ ؕ ذٰلِکُمۡ قَوۡلُکُمۡ بِاَفۡوَاہِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَقُوۡلُ الۡحَقَّ وَ ہُوَ یَہۡدِی السَّبِیۡلَ
Maa ja’alallahu lirajulin min qalbaini fii jaufihi wamaa ja’ala azwaajakumulaa-ii tuzhaahiruuna minhunna ummahaatikum wamaa ja’ala ad’iyaa-akum abnaa-akum dzalikum qaulukum biafwaahikum wallahu yaquulul haqqa wahuwa yahdiissabiil(a);
Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya;
dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).
Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja.
Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
―QS. Al Ahzab [33]: 4

Daftar isi

Allah has not made for a man two hearts in his interior.
And He has not made your wives whom you declare unlawful your mothers.
And he has not made your adopted sons your (true) sons.
That is (merely) your saying by your mouths, but Allah says the truth, and He guides to the (right) way.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 4]

مَّا tidak

Not
جَعَلَ menjadikan

Allah (has) made *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

Allah (has) made *[meaning includes next or prev. word]
لِرَجُلٍ bagi seorang laki-laki

for any man
مِّن dari

[of]
قَلْبَيْنِ dua hati

two hearts
فِى dalam

in
جَوْفِهِۦ lambungnya

his interior.
وَمَا dan tidak

And not
جَعَلَ Dia menjadikan

He (has) made
أَزْوَٰجَكُمُ isteri-isterimu

your wives
ٱلَّٰٓـِٔى yang

whom
تُظَٰهِرُونَ kamu nyatakan

you declare unlawful
مِنْهُنَّ dari pada mereka

[of them]
أُمَّهَٰتِكُمْ ibu-ibu kamu

(as) your mothers.
وَمَا dan tidak

And not
جَعَلَ Dia menjadikan

He has made
أَدْعِيَآءَكُمْ anak angkatmu

your adopted sons
أَبْنَآءَكُمْ anak-anak laki-laki kalian

your sons.
ذَٰلِكُمْ demikian itu

That
قَوْلُكُم perkataanmu

(is) your saying
بِأَفْوَٰهِكُمْ dengan mulutmu

by your mouths,
وَٱللَّهُ dan Allah

but Allah
يَقُولُ mengatakan

says
ٱلْحَقَّ benar

the truth,
وَهُوَ dan Dia

and He
يَهْدِى memberi petunjuk

guides
ٱلسَّبِيلَ jalan

(to) the Way.

Tafsir

Alquran

Surah Al Ahzab
33:4

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 4. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Dia tidak menjadikan dua hati dalam satu tubuh sehingga tidak mungkin pada diri seseorang berkumpul iman dan kafir.
Jika seseorang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu di dalam hatinya tidak ada kekafiran dan kemunafikan, walaupun sedikit, dan ia tentu mengikuti Alquran dan sunah Rasulullah, menyeru manusia mengikuti jalan Allah, mengikuti hukumhukum-Nya dan berserah diri hanya kepada Allah.

Sebaliknya jika seseorang itu kafir atau munafik, tentu di dalam hatinya tidak ada iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan dia tidak akan bertawakal kepada Allah.
Dengan kata lain, mustahil berkumpul pada diri seseorang dua buah keyakinan yang berlawanan, sebagaimana tidak mungkin ada dua hati di dalam satu tubuh manusia.


Pada masa Jahiliah sering terjadi pada bangsa Arab, untuk maksud dan dengan ucapan tertentu, mereka menjadikan istrinya sebagai ibunya.
Maka bila dia mengucapkan kepada istrinya ucapan tertentu itu, jadilah istrinya sebagai ibunya yakni tidak dapat dicampurinya.


Menurut kebiasaan orang-orang Arab di masa Jahiliah, apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya,
"Anti ‘alayya kadhahri ummi"
(punggungmu haram atasku seperti haramnya punggung ibuku), maka sejak suami mengucapkan perkataan itu, istrinya haram dicampurinya, seperti dia haram mencampuri ibunya.
Tindakan suami seperti itu di zaman Jahiliah disebut
"dhihar".

Dalam Islam hukum ini diganti dengan hukum yang diterangkan dalam surah al-Mujadalah [58]: 3.

وَالَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا قَالُوْا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَاۤسَّا ذٰلِكُمْ تُوْعَظُوْنَ بِهٖ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.

Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (al-Mujadilah [58]: 3)


Kemudian dalam ayat ini, Allah mencela satu lagi kebiasaan orang-orang Arab di masa Jahiliah, karena hal itu termasuk mengada-adakan sesuatu yang tidak benar dan tidak mempunyai dasar yang kuat, yaitu mengangkat anak (adopsi).

Apabila seseorang mengangkat anak orang lain menjadi anaknya pada masa Jahiliah, maka berlakulah bagi anak itu hukumhukum yang berlaku atas anak kandungnya sendiri, seperti terjadinya hubungan waris-mewarisi, hubungan mahram, dan sebagainya.
Kebiasaan bangsa Arab Jahiliah ini pernah dilakukan Nabi Muhammad sebelum turunnya ayat ini.
Beliau pernah mengangkat Zaid bin harisah menjadi anak angkatnya.


Zaid ini adalah putra harisah bin Syarahil dan berasal dari kabilah Arab dengan Khadijah, saudara perempuan ayahnya.
Setelah Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah, beliau tertarik kepada Zaid, maka Khadijah menghadiahkan Zaid kepada suaminya itu.



Mendengar kabar bahwa Zaid berada pada Muhammad, harisah, ayah Zaid, pergi dengan saudaranya ke Mekah dengan maksud menebus anaknya yang tercinta itu.
Ia pun meminta kepada Muhammad agar menyerahkan Zaid.
Nabi Muhammad lalu memberi keleluasaan kepada Zaid untuk memutuskan sendiri, bahkan beliau tidak mau menerima tebusan.
Setelah ditanyakan kepadanya, maka Zaid memilih untuk tetap bersama Nabi Muhammad, tidak mau ikut dengan bapaknya ke Muhammad), yang menjadikanku tidak sanggup berpisah dengannya, dan aku tidak sanggup memilih orang lain selain dia untuk selama-lamanya."


Nabi ﷺ kemudian keluar menemui orang banyak dan berkata,
"Saksikanlah oleh kamu sekalian bahwa Zaid adalah anakku, aku akan mewarisinya, dan ia akan mewarisiku…"
Mendengar hal yang demikian, hati harisah dan saudaranya menjadi senang, maka dipanggillah Zaid dengan
"Zaid bin Muhammad"
sampai turun ayat ini.


Menurut Qurthubi, seluruh ahli tafsir sependapat bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Zaid bin harisah itu.


Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan imam-imam hadis yang lain dari Ibnu ‘Umar bahwa ia berkata,
"Kami tidak pernah memanggil
"Zaid bin harisah",
tetapi kami memanggilnya
"Zaid bin Muhammad"
hingga turunnya ayat ini (al-Ahzab ayat 5)."
Dengan turunnya ayat ini, Nabi ﷺ berkata,
"Engkau Zaid bin harisah."


Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan lagi bahwa perkataan suami bahwa istrinya haram dicampurinya sebagaimana ia haram mencampuri ibunya, dan perbuatan mengangkat anak dan menjadikan kedudukannya sama dengan anak sendiri (kandung) adalah ucapan lidah saja, tidak mempunyai dasar agama atau pikiran yang benar.
Oleh karena itu, ucapan tersebut tidak akan menimbulkan akibat hukum sedikit pun.
Allah mengatakan yang benar, sehingga mustahil istri dapat disamakan dengan ibu, sebagaimana mustahil pula orang lain dihukum sama dengan anaknya sendiri.
Semua anak itu menasabkan (membawa nama ayah sesudah nama sendiri) dirinya kepada ayah dan ibunya.
Tidak mungkin seseorang mengatakan orang lain ayah dari seorang anak jika bukan keturunannya, sebagaimana tidak mungkin pula seseorang ibu mengatakan ia adalah ibu dari seorang anak, padahal ia tidak pernah melahirkannya.
Oleh karena itu, Allah mengatakan perkataan yang benar dan lurus, maka ikutilah perkataan itu dan turutilah jalan lurus yang telah dibentangkan-Nya.


Dengan turunnya ayat ini, maka hilanglah akibat-akibat buruk yang dialami oleh istri-istri karena zihar suaminya dan haramlah hukumnya mengangkat anak dan menjadikannya mempunyai hukum yang sama dengan anak kandung.
Adapun memelihara anak orang lain sebagai amal sosial untuk diasuh dan dididik dengan izin orang tuanya sendiri, tanpa waris-mewarisi, tidak menjadikannya sebagai mahram sebagaimana status anak kandung, dan masih dinasabkan kepada orang tuanya, maka hal itu tidak diharamkan, bahkan mendapat pahala.

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 4. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Allah tidak pernah menciptakan dua hati dalam diri seseorang.
Allah tidak menjadikan istri dari salah seorang di antara kalian yang berkata kepada istrinya,
"Punggungmu haram bagiku seperti punggung ibuku. "
Dengan berkata seperti itu, sang istri seolah-olah menjadi ibunya.
Dan Allah tidak menjadikan kedudukan anak kalian dari hasil adopsi seperti kedudukan anak kandung.


Hal itu–ketika kalian memberikan kedudukan anak angkat sama dengan kedudukan anak darah daging sendiri–adalah perkataan yang tidak ada sisi benarnya dan tidak ada dampak hukumnya.
Allah bermaksud menyatakan kebenaran dan membimbing kalian kepada kebenaran itu.


Allahlah satu-satunya pemberi petunjuk manusia ke jalan kebenaran.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Allah tidak memberikan dua hati kepada manusia dalam dadanya.
Allah tidak menjadikan istri-istri yang telah kamu zhihar itu sama dengan ibu-ibumu dalam hal pengharaman.


Zhihar adalah ucapan suami:
Kamu bagiku adalah seperti punggung ibuku.
Kata-kata ini di zaman jahiliyah adalah talak.


Allah menjelaskan bahwa istri tidak akan bisa menjadi ibu dalam keadaan apa pun.allah tidak menjadikan anak-anak angkat sebagai anak kandung dalam syariat, sebaliknya zhihar dan adopsi tidak memiliki hakikat apapun dalam pengharaman abadi.


Maka istri yang telah di zhihar tetap tidak sama dengan ibu dalam hal pengharaman.
Pengakuan terhadap seorang anak sebagai anak dengan berkata:
Ini anakku, tetap tidak menetapkan nasab.


Itu hanyalah kata-kata di bibir saja yang tidak memiliki hakikat dan nilai apa pun.
Allah berfirman yang haq dan menjelaskan jalan-Nya kepada hamba-hamba-Nya serta membimbing mereka ke jalan yang lurus.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya) firman ini sebagai sanggahan terhadap sebagian orang-orang kafir yang mengatakan, bahwa dia memiliki dua hati, yang masing-masingnya mempunyai kesadaran yang lebih utama daripada kesadaran yang dimiliki oleh Muhammad


(dan Dia tidak menjadikan istri-istri kalian yang) lafal allaa-iy dapat pula dibaca allaa-i


(kalian zihari) dapat dibaca tuzhhiruuna dan tuzhaahiruuna


(mereka itu) misalnya seseorang berkata kepada istrinya,
"Menurutku kamu bagaikan punggung ibuku,"


(sebagai ibu kalian) yakni mereka diharamkan oleh kalian seperti terhadap ibu kalian sendiri, hal ini di zaman jahiliah dianggap sebagai talak.
Zihar hanya mewajibkan membayar kifarat dengan persyaratannya yang akan disebutkan di dalam surah Al-Mujadilah


(dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkat kalian) lafal ad’iyaa adalah bentuk jamak dari lafal da’iyyun, artinya adalah anak angkat


(sebagai anak kandung kalian sendiri) yakni anak yang sesungguhnya bagi kalian.


(Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian saja.) Sewaktu Nabi ﷺ menikahi Zainab binti Jahsy yang dahulunya adalah bekas istri Zaid bin Haritsah, anak angkat Nabi ﷺ, orang-orang Yahudi dan munafik mengatakan,
"Muhammad telah mengawini bekas istri anaknya sendiri."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala mendustakan mereka.


(Dan Allah mengatakan yang sebenarnya)


(dan Dia menunjukkan jalan) yang benar.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

padahal tiadalah istri mereka itu ibu mereka.
Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 2), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)

Inilah yang dimaksud dengan penafian.
Sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid ibnu Haris’ah r.a. maulaNabi ﷺ Dahulu Nabi mengangkatnya sebagai anak sebelum beliau menjadi nabi, dan dahulu ia dikenal dengan sebutan ‘Zaid anak Muhammad‘.
Maka Allah berkehendak akan menghapuskan penisbatan ini melalui firman-Nya:
dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam pertengahan surat ini melalui firman-Nya:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang lelaki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 40)

Dan dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)

Yakni pengangkatan anak oleh kalian hanyalah dalam sebutan belaka, tidak menjadikan anak yang bersangkutan sebagai anak kandung orang yang bersangkutan, karena dia diciptakan dari sulbi orang lain.
Dan tidaklah mungkin bagi anak yang bersangkutan mempunyai dua orang ayah, sebagaimana tidak mungkin bagi seorang manusia mempunyai dua hati.

Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dia mengatakan yang sebenarnya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)
Yaitu keadilan belaka.


Sedangkan menurut Qatadah, makna firman-Nya:
dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
(QS. Al-Ahzab [33]:’4)
Yakni jalan yang lurus.


Tidak hanya seorang Quraisy.
Dia disebut sebagai seseorang yang berhati dua, dan dia sendiri menduga bahwa dirinya mempunyai dua buah hati, masing-masing dari hatinya bekerja sendiri-sendiri, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai sanggahan terhadapnya.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan hal yang sama, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Zuhair, dari Qabus ibnu Abu Zabyan yang mengatakan bahwa sesungguhnya ayahnya pernah menceritakan kepadanya hadis berikut, ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)
Ibnu Abbas menjawab, pada suatu hari Rasulullah ﷺ berdiri mengerjakan salat, lalu kelihatan beliau memikirkan sesuatu, maka orang-orang munafik yang tadinya salat bersamanya mengatakan,
"Tidakkah kalian lihat, dia mempunyai dua hati, satu hati bersama kalian dan hati yang lainnya bersama mereka."
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman Ad-Darimi, dari Sa’id Al-Harrani, dari Abdu ibnu Humaid dan dari Ahmad ibnu Yunus, keduanya dari Zuhair ibnu Mu’awiyah dengan sanad yang sama.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan.


Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui hadis Zuhair dengan sanad yang sama.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri sehubungan dengan makna firman-Nya:
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 4)
Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid ibnu Harisah.
Dibuatkan baginya suatu perumpamaan, bahwa bukanlah anak orang lain itu adalah anakmu.


Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid ibnu Harisah r.a. Pendapat ini sesuai dengan apa yang telah kami kemukakan di atas.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 4

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi –menurutnya, hadits tersebut hasan- yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada suatu hari saat Nabi ﷺ shalat, terlinta di dalam hati beliau ucapan-ucapan kaum munafikin yang shalat bersama beliau, bahwa mereka mempunyai dua hat: satu hati bersama orang kafir dan satu lagi bersamanya (iman).
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Ahzab: 4) yang menegaskan bahwa Allah tidak menciptakan dua hati bagi manusia.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Khashif yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, dan ‘Ikrimah.
Bahwa seorang laki-laki didesas-desuskan mempunyai dua hati.
Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 4) sebagai bantahan atas desas-desus itu.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Qatadah yang bersumber dari al-Hasan; dengan tambahan bahwa orang-orang itu berkata: “Aku ini mempunyai hati yang dapat menyuruhku dan hati yang dapat melarangku.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Najih, yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat ini (al-Ahzab: 4) turun berkenaan dengan seorang laki-laki Muhammad.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa ayat ini (al-Ahzab: 4) turun berkenaan dengan seorang Quraisy dari Nabi Muhammad ﷺ).

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 4

JAWF
جَوْف

Arti lafaz jawf ialah rongga badan bahagian dalam.

Lafaz jawf ini disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Ahzab (33) ayat 4. Rongga badan bahagian dalam yang dimaksud dalam ayat ini adalah rongga badan manusia.
Allah menegaskan pada bahagian dalam rongga tubuh manusia tidak mungkin ada dua hati.
Maksud Allah mengungkapkan kalimat itu adalah sebagai permulaan memudahkan orang dalam memahami hukum yang akan diterangkan sesudahnya.
Dan ini adalah keindahan ayat-ayat Al Qur’an dan ia adalah bentuk perumpamaan.

Pada lafaz itu, Allah menerangkan perkara mustahil yang mudah difahami oleh manusia yaitu dalam rongga tubuh manusia tidak mungkin ada dua hati.
Mustahilnya perkara ini adalah sama dengan mustahilnya isteri dianggap sebagai ibu kandung suaminya hanya karena dia mengucapkan lafaz zihar, Anti kazahri ummi artinya "Kamu seperti ibuku (sehingga tidak boleh saya setubuhi)," Dengan kata lain, mustahil suami itu mempunyai dua ibu kandung sama seperti mustahilnya satu rongga tubuh mempunyai dua hati.

Perkara itu juga sama mustahilnya anak angkat (al tabanni) dihukum sebagai anak angkat.
Dengan kata lain mustahil anak angkat itu mempunyai dua orang tua kandung sama seperti mustahilnya satu rongga tubuh mempunyai dua hati.

Sebelum Allah menerangkan satu masalah yang sukar Allah memulainya dengan menguraikan perkara yang serupa dan yang lebih mudah difahami.
Ini adalah keindahan di dalam Al Qur’an.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:151

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
Hukumhukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 4 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 4 - Gambar 2
Statistik QS. 33:4
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
Sending
User Review
4.2 (16 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

33:4, 33 4, 33-4, Surah Al Ahzab 4, Tafsir surat AlAhzab 4, Quran Al-Ahzab 4, Surah Al Ahzab ayat 4

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Ahzab

۞ QS. 33:1 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hukum memohon bantuan orang musyrik • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:2 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 33:3 Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 33:4 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 33:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 33:8 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Bashir (Maha Melihat) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 33:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 33:12 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:15 • Sifat orang munafik

۞ QS. 33:16 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 33:17 • Kekuasaan Allah • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 33:18 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:19 • Kekuasaan Allah • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:20 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:21 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 33:22 • Allah menepati janji

۞ QS. 33:24 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang munafik

۞ QS. 33:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 33:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 33:27 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 33:29 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:30 • Menyiksa pelaku maksiat • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 33:31 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 33:34 Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus)

۞ QS. 33:35 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Ajakan masuk Islam • Keutamaan iman

۞ QS. 33:36 • Kebaikan pada pilihan Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 33:39 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 33:40 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:43 • Pahala iman • Al Rahim (Maha Penyayang) • Doa malaikat untuk umat muslim • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 33:44 • Pahala iman • Percakapan Allah dengan ahli surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:47 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 33:48 Al Wakil (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:50 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:51 • Keluasan ilmu Allah • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:52 Al Raqib (Maha Pengawas)

۞ QS. 33:54 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:55 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 33:56 • Doa malaikat untuk umat muslim

۞ QS. 33:57 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:58 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:59 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:60 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:61 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:62 • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 33:63 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Nama-nama hari kiamat • Kiamat telah dekat • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 33:64 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:65 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka •

۞ QS. 33:66 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 33:67 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Siksa orang kafir

۞ QS. 33:68 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 33:70 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 33:71 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Islam menghapus dosa masa lalu • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 33:73 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang kafir

Ayat Pilihan

…,
laki-laki & perempuan yang berpuasa,
laki-laki & perempuan yang memelihara kehormatannya,
laki-laki & perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,
Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan & pahala yang besar.
QS. Al-Ahzab [33]: 35

Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,
kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.
Dan jangan kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
QS. An-Nisa’ [4]: 29

Katakanlah:
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya
dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya).
akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
QS. Saba’ [34]: 36

(Di situlah diuji orang-orang Mukmin) mereka mendapat cobaan supaya menjadi jelas, siapa orang Mukmin yang benar-benar & siapakah yang gadungan
(dan hati mereka diguncang) berdegup-degup disebabkan ketakutan yang sangat mencekam mereka.
QS. Al-Ahzab [33]: 11

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di ...

Benar! Kurang tepat!

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir [74]: 1-7, Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada ...

Benar! Kurang tepat!

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkandung dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.'
--QS. al-Alaq [96] ayat 1-5.

+

Array

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama ...

Benar! Kurang tepat!

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #10
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #10 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #10 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah …

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Kamus

Madaniyah

Apa itu Madaniyah? Madaniyah adalah istilah yang diberikan kepada ayat Al Qur’an yang diturunkan di Madinah atau diturunkan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. ...

Ayyamul Bidh

Apa itu Ayyamul Bidh? Puasa ayyamul bidh adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada pertengahan bulan. Waktu penetapan puasa ayyamul bidh ini berdasarkan pada kalender qomariah. Kamu tidak bisa menentuk...