Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ahzab

Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) surah 33 ayat 4


مَا جَعَلَ اللّٰہُ لِرَجُلٍ مِّنۡ قَلۡبَیۡنِ فِیۡ جَوۡفِہٖ ۚ وَ مَا جَعَلَ اَزۡوَاجَکُمُ الِّٰٓیۡٔ تُظٰہِرُوۡنَ مِنۡہُنَّ اُمَّہٰتِکُمۡ ۚ وَ مَا جَعَلَ اَدۡعِیَآءَکُمۡ اَبۡنَآءَکُمۡ ؕ ذٰلِکُمۡ قَوۡلُکُمۡ بِاَفۡوَاہِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَقُوۡلُ الۡحَقَّ وَ ہُوَ یَہۡدِی السَّبِیۡلَ
Maa ja’alallahu lirajulin min qalbaini fii jaufihi wamaa ja’ala azwaajakumulaa-ii tuzhaahiruuna minhunna ummahaatikum wamaa ja’ala ad’iyaa-akum abnaa-akum dzalikum qaulukum biafwaahikum wallahu yaquulul haqqa wahuwa yahdiissabiil(a);

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).
Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja.
Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
―QS. 33:4
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Pahala Iman
33:4, 33 4, 33-4, Al Ahzab 4, AlAhzab 4, Al-Ahzab 4
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa Dia tidak menjadikan dua buah hati dalam satu tubuh; tidak mungkin pada diri seseorang berkumpul iman dan kafir.
Jika seseorang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentulah di dalam hatinya tidak ada kekafiran atau kemunafikan, walaupun sedikit, dan tentulah ia mengikuti Alquran dan Sunah Rasulullah, menyeru manusia mengikuti jalan Allah, mengikuti hukum-hukumnya dan tentulah ia hanya kepada Allah saja berserah diri.
Sebaliknya jika seseorang itu kafir atau munafik, tentulah di dalam hatinya tidak ada iman kepada Allah dun Rasul-Nya dan dia tidak akan bertawakkal kepada Allah.
Dengan perkataan yang lain; mustahil berkumpul pada diri seseorang dua buah keyakinan yang berlawanan, sebagaimana tidak mungkin ada dua buah hati di dalam tubuh manusia.

Pada masa Jahiliah sering terjadi pada bangsa Arab, untuk maksud tertentu, dan dengan ucapan tertentu pula mereka menjadikan istrinya sebagai ibunya.
Maka bila diucapkannya kepada istrinya ucapan tertentu itu jadilah istrinya sebagai ibunya yakni tidak dapat dicampurinya.

Menurut kebiasaan orang-orang Arab di masa Jahiliah itu apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya: "Anti `alay ya kazahri ummi" (punggungmu haram atasku seperti haramnya punggung ibuku), maka sejak suami mengucapkan perkataan itu, istrinya haram dicampurinya, seperti dia haram mencampuri ibunya.
Tindakan suami seperti itu di zaman jahiliah itu disebut "zihar".

Akibat zihar di masa Jahiliah itu suami istri masih terikat dengan tali perkawinan, tetapi mereka haram bercampur untuk selama-lamanya, sebab dari segi ini mereka memandang zihar itu sebagai talak, oleh karena itu, maka istri yang dizihar itu tidak dicampurinya lagi.
Karena itu istri yang dizihar suaminya hidup terkatung-katung.
Ia tidak lagi dicampuri suaminya, bahkan tidak lagi diberi nafkah sampai ia meninggal dunia.
Akan kawin dengan laki-laki lain tidak dapat, karena ia masih terikat dengan perkawinan suaminya.

Para suami bangsa Arab di masa Jahiliah biasanya menzihar istrinya itu jika mereka sangat marah dan benci kepadanya, maka istri itu dengan suaminya tertalaklah menurut mereka, tetapi mempunyai akibat yang sangat buruk pada diri istrinya, yaitu ia tertalak, tetapi tidak dapat melepaskan diri dari ikatan suaminya.
Perbuatan zihar itu sangat dicela oleh Allah subhanahu wa ta'ala, karena:

1.
Perbuatan itu berakibat sangat buruk pada istrinya, ia tidak dapat kawin lagi dengan laki-Iaki lain, sedang suaminya tidak menggauli dan tidak mengacuhkannya lagi untuk selama-lamanya.

2.
Zihar itu merupakan pernyataan atau pengakuan yang tidak mempunyai dasar.
Suami mengatakan istrinya seperti ibunya.
Istrinya yang halal dicampurinya dinyatakan haram dicampurinya, seperti haramnya mencampuri ibunya.
Padahal ibunya menjadi mahramnya, adalah karena ada hubungan nasab dan ibunyalah yang melahirkannya.
Sedang istrinya tidak mempunyai hubungan nasab dengan dia dan tidak pernah melahirkannya.
Oleh karena itu maka perbuatan seorang suami menzihar istrinya oleh Alquran dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang mungkar dan dusta (Surah 58 Al Mujadalah) ayat 2.

Dengan turunnya ayat 3 Surah 58 Al Mujadalah, maka hapuslah akibat-akibat buruk yang dialami oleh istri-istri karena zihar suaminya; yaitu kepada si istri disuruh menunggu empat bulan.
Apabila ia telah lewat waktu empat bulan, suami harus memberikan keputusan apakah ia akan tetap diziharnya itu, atau ia harus menceraikan istrinya.
Kalau tidak diceraikan suaminya, maka istrinya dibolehkan mengajukan gugatan perceraian kepada hakim (pengadilan).
Adapun suami ingin mencampuri istrinya kembali ia wajib membayar kifarat, bahkan memandangnya sebagai perbuatan mungkar dan dosa.

Dari keterangan di atas ditetapkan bahwa pada asasnya agama Islam tidak menyetujui adanya zihar itu, bahkan memandangnya sebagai perbuatan mungkar dan dosa, karena perbuatan zihar itu adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar, mengatakan sesuatu yang bukan-bukan.
Tetapi karena zihar itu adalah suatu kebiasaan bangsa Arab Jahiliah, sedang untuk menghapus kebiasaan itu dalam waktu yang singkat akan menimbulkan kegoncangan pada masyarakat Islam yang baru tumbuh itu, sedang masyarakat itu berasal dari orang-orang Arab masa Jahiliah, maka agama Islam tidak langsung menghapuskan kebiasaan tersebut, tetapi menghilangkan semua akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan zihar.
itu, dengan menetapkan waktu menunggu empat bulan yang dalam waktu empat bulan itu, suami boleh mencerai istrinya atau membayar kifarat bagi yang ingin mencampuri istrinya kembali, yakni mencabut kembali ucapan zihar yang telah diucapkan itu.
Jadi zihar itu berasal dari hukum Arab masa jahiliah yang telah dihapuskan oleh Islam.
Karena itu bagi negara-negara atau umat Islam yang tidak mengenal zihar tersebut, tidak perlu mencantumkan hukum zihar itu, apabila mereka membuat suatu undang-undang perkawinan.

Kemudian dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala mencela kebiasaan orang-orang Arab di masa jahiliah yang lain, karena kebiasaan itu termasuk mengada-adakan sesuatu yang tidak benar dan tidak mempunyai dasar yang kuat, yaitu mengangkat anak (adopsi).
Apabila seseorang mengangkat anak orang lain menjadi anaknya pada masa Arab Jahiliah, maka berlakulah bagi anak itu hukum-hukum yang berlaku atas anak kandungnya sendiri, seperti terjadinya hubungan waris mewarisi, hubungan mahram dan sebagainya.

Kebiasaan bangsa Arab jahiliah ini pernah dilakukan Nabi Muhammad ﷺ sebelum turunnya ayat ini.
Beliau pernah mengangkat Zaid bin Harisah menjadi anak angkatnya.

Zaid ini adalah putra Harisah bin Syarahil berasal dari Bani Tai di Syam.
Maka terjadilah peperangan antara salah satu kabilah Arab dengan Bani Tai dan dalam peperangan itu Zaid masih kecil tertawan dan dijadikan budak.
Kemudian Khalil dari suku Tihamah membeli Zaid dan Khalil ini menjualnya kepada Hakim bin Hazm bin Khuwailid.
Hakim memberikan Zaid sebagai hadiah kepada Khadijah, saudara perempuan ayahnya.

Setelah Khadijah kawin dengan Nabi Muhammad dan beliau tertarik kepada Zaid, maka Khadijah menghadiahkan Zaid kepada suaminya itu.
Harisah ayah Zaid, setelah mendengar kabar bahwa Zaid anaknya berada pada Muhammad, maka beliaupun pergi dengan saudaranya ke Mekah bermaksud menebus anaknya yang tercinta itu.
Iapun meminta kepada Muhammad agar menyerahkan Zaid, jika Zaid sendiri menetapkannya, bahkan beliau tidak mau menerima tebusan.
Setelah ditanyakan kepada Zaid, maka Zaid tetap bersama Nabi Muhammad, tidak mau ikut dengan bapaknya ke negeri Syam.
Berkatalah Harisah dan saudaranya kepada Zaid: "Celakalah engkau Zaid, engkau memilih perbudakan dari kemerdekaan".
Zaid menjawab: "Sesungguhnya aku melihat kebaikan pada laki-laki ini (Muhammad), yang menjadikanku tidak sanggup berpisah dengannya, dan aku tidak sanggup memilih orang lain selain dia untuk selama-lamanya.

Maka keluarlah Nabi ﷺ menemui orang banyak dan berkata: "Saksikanlah oleh kamu sekalian bahwa Zaid adalah anakku, aku akan mewarisinya, dan ia akan mewarisiku..".
Melihat yang demikian senanglah hati Harisah dan saudaranya, maka dipanggilah Zaid dengan "Zaid bin Muhammad, sampai turun ayat ini.

Menunut Qurtubi: "Seluruh ahli tafsir sependapat bahwa ayat ini diturunkan berhunungan dengan Zaid bin Harisah itu.

Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, At Turmuzi, An Nasa'i dan imam-imam hadis yang lain dari Ibnu Umar, ia berkata: "Kami tidak pernah memanggil "Zaid bin Harisah",
tetapi kami memanggilnya "Zaid bin Muhammad",
hingga turunnya ayat ini (Al Ahzab ayat 5)".
Sebab turunnya ayat ini Nabi ﷺ berkata: "Engkau Zaid bin Harisah".

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan lagi bahwa perkataan suami bahwa istrinya haram dicampurinya, sebagaimana ia haram mencampuri ibunya, dan perbuatan mengangkat anak, sehingga anak yang diangkat itu sama kedudukannya dengan anak sendiri adalah ucapan lidah saja, tidak mempunyai dasar agama atau pikiran yang benar.
Karena ucapan tersebut tidak akan menimbulkan akibat hukum sedikitpun.
Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan yang benar, karena itu mustahil istri dapat disamakan dengan ibu, sebagaimana mustahil pula orang lain dihukum sama dengan anaknya sendiri; semua anak itu membangsakan dirinya kepada ayahnya yang menurunkannya dan kepada ibu yang melahirkannya.
Tidak mungkin seseorang mengatakan orang lain ayah dari seorang anak jika orang itu tidak menurunkannya, sebagai tidak mungkin pula seseorang ibu mengatakan ia adalah ibu dari seorang anak, padahal ia tidak pernah melahirkan anak itu.
Karena itu Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan perkataan yang benar dan lurus, maka ikutilah perkataan Allah dan turutlah jalan yang lurus yang telah dibentangkan-Nya.

Dengan turunnya ayat ini, maka hapuslah akibat-akibat buruk yang dialami oleh istri-istri karena zihar suaminya dan haramlah hukumnya melakukan pengangkatan anak yang menjadikan anak yang diangkat itu mempunyai hukum yang sama dengan yang dipunyai anak kandungnya yang dilahirkan dari si ibu sendiri.
Adapun memelihara anak orang lain, sebagai amal Sosial untuk diasuh dan dididik dengan izin orang tuanya sendiri, tanpa waris mewarisi dan tanpa menjadikannya sebagai mahram, artinya tidak menimbulkan hukum hukum yang dipunyai oleh anak kandung, dan masih dibangsakan kepada orang tuanya, maka tidaklah haram hukumnya, bahkan mendapat pahala.

Al Ahzab (33) ayat 4 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ahzab (33) ayat 4 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ahzab (33) ayat 4 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah tidak pernah menciptakan dua hati dalam diri seseorang.
Allah tidak menjadikan istri dari salah seorang di antara kalian yang berkata kepada istrinya, "Punggungmu haram bagiku seperti punggung ibuku." Dengan berkata seperti itu, sang istri seolah-olah menjadi ibunya.
Dan Allah tidak menjadikan kedudukan anak kalian dari hasil adopsi seperti kedudukan anak kandung.
Hal itu--ketika kalian memberikan kedudukan anak angkat sama dengan kedudukan anak darah daging sendiri--adalah perkataan yang tidak ada sisi benarnya dan tidak ada dampak hukumnya.
Allah bermaksud menyatakan kebenaran dan membimbing kalian kepada kebenaran itu.
Allahlah satu-satunya pemberi petunjuk manusia ke jalan kebenaran.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya) firman ini sebagai sanggahan terhadap sebagian orang-orang kafir yang mengatakan, bahwa dia memiliki dua hati, yang masing-masingnya mempunyai kesadaran yang lebih utama daripada kesadaran yang dimiliki oleh Muhammad (dan Dia tidak menjadikan istri-istri kalian yang) lafal allaa-iy dapat pula dibaca allaa-i (kalian zihari) dapat dibaca tuzhhiruuna dan tuzhaahiruuna (mereka itu) misalnya seseorang berkata kepada istrinya, "Menurutku kamu bagaikan punggung ibuku," (sebagai ibu kalian) yakni mereka diharamkan oleh kalian seperti terhadap ibu kalian sendiri, hal ini di zaman jahiliah dianggap sebagai talak.
Zihar hanya mewajibkan membayar kifarat dengan persyaratannya yang akan disebutkan di dalam surah Al-Mujadilah (dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkat kalian) lafal ad'iyaa adalah bentuk jamak dari lafal da'iyyun, artinya adalah anak angkat (sebagai anak kandung kalian sendiri) yakni anak yang sesungguhnya bagi kalian.
(Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian saja.) Sewaktu Nabi ﷺ menikahi Zainab binti Jahsy yang dahulunya adalah bekas istri Zaid bin Haritsah, anak angkat Nabi ﷺ, orang-orang Yahudi dan munafik mengatakan, "Muhammad telah mengawini bekas istri anaknya sendiri." Maka Allah subhanahu wa ta'ala mendustakan mereka.
(Dan Allah mengatakan yang sebenarnya) (dan Dia menunjukkan jalan) yang benar.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah tidak memberikan dua hati kepada manusia dalam dadanya.
Allah tidak menjadikan istri-istri yang telah kamu zhihar itu sama dengan ibu-ibumu dalam hal pengharaman.
Zhihar adalah ucapan suami :
Kamu bagiku adalah seperti punggung ibuku.
Kata-kata ini di zaman jahiliyah adalah talak.
Allah menjelaskan bahwa istri tidak akan bisa menjadi ibu dalam keadaan apa pun.allah tidak menjadikan anak-anak angkat sebagai anak kandung dalam syariat, sebaliknya zhihar dan adopsi tidak memiliki hakikat apapun dalam pengharaman abadi.
Maka istri yang telah di zhihar tetap tidak sama dengan ibu dalam hal pengharaman.
Pengakuan terhadap seorang anak sebagai anak dengan berkata :
Ini anakku, tetap tidak menetapkan nasab.
Itu hanyalah kata-kata di bibir saja yang tidak memiliki hakikat dan nilai apa pun.
Allah berfirman yang haq dan menjelaskan jalan-Nya kepada hamba-hamba-Nya serta membimbing mereka ke jalan yang lurus.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu.
(Al Ahzab:4)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

padahal tiadalah istri mereka itu ibu mereka.
Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka.
(Al Mujaadalah:2), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.
(Al Ahzab:4)

Inilah yang dimaksud dengan penafian.
Sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid ibnu Haris'ah r.a.
maulaNabi ﷺ Dahulu Nabi mengangkatnya sebagai anak sebelum beliau menjadi nabi, dan dahulu ia dikenal dengan sebutan 'Zaid anak Muhammad'.
Maka Allah berkehendak akan menghapuskan penisbatan ini melalui firman-Nya: dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.
(Al Ahzab:4)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam pertengahan surat ini melalui firman-Nya:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang lelaki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Al Ahzab:40)

Dan dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja.
(Al Ahzab:4)

Yakni pengangkatan anak oleh kalian hanyalah dalam sebutan belaka, tidak menjadikan anak yang bersangkutan sebagai anak kandung orang yang bersangkutan, karena dia diciptakan dari sulbi orang lain.
Dan tidaklah mungkin bagi anak yang bersangkutan mempunyai dua orang ayah, sebagaimana tidak mungkin bagi seorang manusia mempunyai dua hati.

Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
(Al Ahzab:4)

Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa firman Allah subhanahu wa ta'ala: Dia mengatakan yang sebenarnya.
(Al Ahzab:4) Yaitu keadilan belaka.

Sedangkan menurut Qatadah, makna firman-Nya: dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
(Al Ahzab:'4) Yakni jalan yang lurus.

Tidak hanya seorang ulama menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan Quraisy.
Dia disebut sebagai seseorang yang berhati dua, dan dia sendiri menduga bahwa dirinya mempunyai dua buah hati, masing-masing dari hatinya bekerja sendiri-sendiri, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai sanggahan terhadapnya.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan hal yang sama, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Zuhair, dari Qabus ibnu Abu Zabyan yang mengatakan bahwa sesungguhnya ayahnya pernah menceritakan kepadanya hadis berikut, ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman Allah subhanahu wa ta'ala: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.
(Al Ahzab:4) Ibnu Abbas menjawab, pada suatu hari Rasulullah ﷺ berdiri mengerjakan salat, lalu kelihatan beliau memikirkan sesuatu, maka orang-orang munafik yang tadinya salat bersamanya mengatakan, "Tidakkah kalian lihat, dia mempunyai dua hati, satu hati bersama kalian dan hati yang lainnya bersama mereka." Maka Allah menurunkan firman-Nya: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.
(Al Ahzab:4)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman Ad-Darimi, dari Sa'id Al-Harrani, dari Abdu ibnu Humaid dan dari Ahmad ibnu Yunus, keduanya dari Zuhair ibnu Mu'awiyah dengan sanad yang sama.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui hadis Zuhair dengan sanad yang sama.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.
(Al Ahzab:4) Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid ibnu Harisah.
Dibuatkan baginya suatu perumpamaan, bahwa bukanlah anak orang lain itu adalah anakmu.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid ibnu Harisah r.a.
Pendapat ini sesuai dengan apa yang telah kami kemukakan di atas.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 4

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi –menurutnya, hadits tersebut hasan- yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada suatu hari saat Nabi ﷺ shalat, terlinta di dalam hati beliau ucapan-ucapan kaum munafikin yang shalat bersama beliau, bahwa mereka mempunyai dua hat: satu hati bersama orang kafir dan satu lagi bersamanya (iman).
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Ahzab: 4) yang menegaskan bahwa Allah tidak menciptakan dua hati bagi manusia.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Khashif yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, dan ‘Ikrimah.
Bahwa seorang laki-laki didesas-desuskan mempunyai dua hati.
Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 4) sebagai bantahan atas desas-desus itu.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Qatadah yang bersumber dari al-Hasan; dengan tambahan bahwa orang-orang itu berkata: “Aku ini mempunyai hati yang dapat menyuruhku dan hati yang dapat melarangku.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Najih, yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat ini (al-Ahzab: 4) turun berkenaan dengan seorang laki-laki bani Fahm yang berkata: “Sesungguhnya di dalam rongga dadaku terdapat dua hati yang keduanya lebih cemerlang daripada hati Muhammad.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa ayat ini (al-Ahzab: 4) turun berkenaan dengan seorang Quraisy dari bani Jamh yang bernama Jamil bin Ma’mar (yang mengaku berhati dua, yang lebih cemerlang daripada hati Nabi Muhammad ﷺ).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 4

JAWF
جَوْف

Arti lafaz jawf ialah rongga badan bahagian dalam.

Lafaz jawf ini disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Ahzab (33) ayat 4. Rongga badan bahagian dalam yang dimaksud dalam ayat ini adalah rongga badan manusia. Allah menegaskan pada bahagian dalam rongga tubuh manusia tidak mungkin ada dua hati. Maksud Allah mengungkapkan kalimat itu adalah sebagai permulaan memudahkan orang dalam memahami hukum yang akan diterangkan sesudahnya. Dan ini adalah keindahan ayat-ayat Al Qur'an dan ia adalah bentuk perumpamaan.

Pada lafaz itu, Allah menerangkan perkara mustahil yang mudah difahami oleh manusia yaitu dalam rongga tubuh manusia tidak mungkin ada dua hati. Mustahilnya perkara ini adalah sama dengan mustahilnya isteri dianggap sebagai ibu kandung suaminya hanya karena dia mengucapkan lafaz zihar, Anti kazahri ummi artinya "Kamu seperti ibuku (sehingga tidak boleh saya setubuhi)," Dengan kata lain, mustahil suami itu mem­punyai dua ibu kandung sama seperti mustahilnya satu rongga tubuh mempunyai dua hati.

Perkara itu juga sama mustahilnya anak angkat (al tabanni) dihukum sebagai anak angkat. Dengan kata lain mustahil anak angkat itu mempunyai dua orang tua kandung sama seperti mustahilnya satu rongga tubuh mempunyai dua hati.

Sebelum Allah menerangkan satu masalah yang sukar Allah memulainya dengan menguraikan perkara yang serupa dan yang lebih mudah difahami. Ini adalah keindahan di dalam Al Qur'an.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:151

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali'lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu'min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu'min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.


Gambar Kutipan Surah Al Ahzab Ayat 4 *beta

Surah Al Ahzab Ayat 4



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ahzab

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (16 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku