Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ahzab

Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) surah 33 ayat 37


وَ اِذۡ تَقُوۡلُ لِلَّذِیۡۤ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِ وَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِ اَمۡسِکۡ عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ اتَّقِ اللّٰہَ وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ مَا اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ وَ تَخۡشَی النَّاسَ ۚ وَ اللّٰہُ اَحَقُّ اَنۡ تَخۡشٰہُ ؕ فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا وَطَرًا زَوَّجۡنٰکَہَا لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ فِیۡۤ اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ اِذَا قَضَوۡا مِنۡہُنَّ وَطَرًا ؕ وَ کَانَ اَمۡرُ اللّٰہِ مَفۡعُوۡلًا
Wa-idz taquulu lil-ladzii an’amallahu ‘alaihi wa-an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka waattaqillaha watukhfii fii nafsika maallahu mubdiihi watakhsyannaasa wallahu ahaqqu an takhsyaahu falammaa qadha zaidun minhaa watharan zau-wajnaakahaa likai laa yakuuna ‘alal mu’miniina harajun fii azwaaji ad’iyaa-ihim idzaa qadhau minhunna watharan wakaana amrullahi maf’uulaa;

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:
“Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”,
sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya.
Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.
―QS. 33:37
Topik ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
33:37, 33 37, 33-37, Al Ahzab 37, AlAhzab 37, Al-Ahzab 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Sebab turunnya ayat ini ialah karena ada hubungannya dengan pernikahan Zaid bin Harisah binti Jahsy anak bibi Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ pernah melamar Siti Zainab binti Jahsy seorang bangsawan Quraisy untuk dinikahkan dengan Zaid bin Harisah bekas seorang hamba sahaya yang sudah dimerdekakan dan telah dipungut oleh Rasulullah ﷺ sebagai anak angkat.
Lamaran itu ditolak oleh Zainab dan saudaranya karena dipandang tidak kufu dan sederajat di antara keduanya.
Yang satu bekas seorang hamba sahaya dan yang seorang lagi seorang wanita bangsawan keturunan Quraisy.
Maka turunlah ayat ke 36 dari surat Al Ahzab ini yang menyebabkan lamaran Rasulullah oleh mereka diterima.
Kemudian Zaid dinikahkan kepada Zainab dengan maskawin sebanyak 60 (enam puluh) dirham, kain kudung dan selimut, sebuah perisai, selendang, 50 mud gandung dan 30 kelah koma.

Adapun hikmah dari perkawinan ini, walaupun ada unsur ketidak senangan dari pihak wanita ialah untuk membatalkan suatu adat kebiasaan yang berlaku sejak zaman Jahiliah di kalangan orang-orang Arab yang ada hubungannya dengan keturunan dan kemuliaan.
Kebiasaan itu ialah bahwa mereka mempersamakan antara anak angkat dengan anak kandung di dalam segi keturunan dan hukum pembagian harta pusaka dan tidak boleh menikahi istri bekas anak angkat seperti tidak boleh menikahi menantunya dari anak kandung.
OIeh karena itu diturunkan pada permulaan surat ini bahwa Allah Taala tidak menjadikan anak-anak angkat sebagai anak kandung.
Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja (ayat 4).
Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi-Nya supaya membatalkan hukum Jahiliah itu dengan suatu tindakan yang tegas.
Setelah Zainab di nikahi oleh Zaid bin Harisah atas perintah Nabi.
ternyata di dalam kehidupan rumah tangganya tidak ada keserasian antara suami-istri, dan Zaid sering mengeluh dan menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah bahwa istrinya (Zainab) kadang-kadang memperlihatkan kesombongannya sebagai seorang bangsawan.
Rasulullah ﷺ sendiri yang sudah mengetahui hikmah dari Allah itu memberi nasihat kepada Zaid: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah".
Karena Zaid tidak dapat menahan penderitaan hatinya lebih lama maka ia menceraikan istrinya Zainab, dan setelah selesai `idahnya ia dinikahi oleh Rasulullah ﷺ, supaya tidak ada keberatan bagi seorang mukmin untuk mengawini bekas istri anak angkatnya.

Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada Nabi-Nya bahwa apa-apa yang terjadi antara Zaid bin Harisah dengan Zainab binti Jahsy itu adalah untuk menguatkan keimanan beliau dengan menegaskan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan dari hati orang-orang yang lemah imannya.
Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh Rasul-Nya supaya memperhatikan ucapannya ketika beliau berkata kepada Zaid bin Harisah yang telah dikaruniai nikmat (oleh Allah) dan kasih sayang serta berbagai pemberian dari Nabi "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah berpisah dengan Zainab disebabkan kesombongannya atau keangkuhannya karena keturunan, karena perceraian itu akan mengakibatkan noda kepadanya yang sulit untuk diperbaikinya".
Nabi sendiri telah mengetahui bahwa Zaid itu pada akhirnya pasti akan bercerai dengan Zainab, dan beliau merasa berat pula jika hal tersebut telah menjadi kenyataan sebab tentu akan menimbulkan bermacam-macam ocehan di kalangan masyarakat.
Nabi menyembunyikan di dalam hatinya apa yang Allah nyatakan, karena Nabi sendiri menyadari bahwa beliau sendiri harus dijadikan suri teladan oleh sekalian umatnya untuk melaksanakan perintah Allah walaupun dengan korban perasaan.
Menurut naluri, kebiasaannya manusia takut kepada sesama manusia, padahal Allah yang lebih berhak untuk ditakuti.
Oleh beliau dibayangkan bahwa apabila beliau telah nikah dengan Siti Zainab bekas istri anak angkatnya.
maka hal demikian pasti akan menjadi buah mulut di kalangan bangsa Arab, karena sejak zaman Jahiliah mereka memandang bahwa anak angkat itu dipersamakan dengan anak kandung.
sehingga mereka diharamkan menikahi bekas istri anak angkatnya.

Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan oleh Allah Taala supaya jangan menghiraukan ocehan khalayak ramai sehubungan dengan pernikahan beliau dengan Siti Zainab.
Tatkala Zaid telah menunaikan hajatnya terhadap istrinya dengan perceraian, maka Allah menikahkan Nabi ﷺ kepada Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi bekas istri anak angkatnya, apabila anak angkat itu telah menceraikan istrinya.
Dan ketetapan Allah tentang pernikahan Zainab dengan Nabi itu adalah suatu ketetapan yang sudah pasti.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Tirmizi ra bahwa Siti Zainab sering membangga-banggakan dirinya terhadap istri-istri Nabi lainnya dengan ucapan "Kamu, istri-istri Nabi dinikahkan oleh keluargamu sendiri tetapi saya dinikahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala Dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sya'bi bahwa Siti Zainab pernah berkata kepada Nabi ﷺ: "Saya mempunyai kelebihan dengan tiga perkara yang tidak dimiliki oleh istri-istrimu yang lain, yaitu:

1.
Kakekku dan kakekmu adalah sama yaitu Abdul Muttalib.
2.
Allah menikahkan engkau denganku dengan perantaraan wahyu dari langit.
3.
Pesuruh yang ditugaskannya adalah Malaikat Jibril.

Al Ahzab (33) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ahzab (33) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ahzab (33) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah, wahai Muhammad, saat dirimu berkata pada Zaid bin Haritsah, seorang yang telah mendaptkan karunia Islam (menjadi muslim) dari Allah subhanahu wa ta'ala dan nikmat pengasuhan dan pemerdekaan darimu, "Pertahankan istrimu, Zainab binti Jahsy.
Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah dalam mempergauli istrimu!" Sementara di dalam hati kamu menyembunyikan sesuatu yang kelak akan diperlihatkan oleh Allah, yaitu bahwa Zaid akan menceraikan istrinya dan kamu akan mengawini jandanya, tapi dirimu takut khalayak ramai akan mengejekmu.
Padahal sesungguhnya hanya Allah yang pantas kamu takuti, meskipun hal itu berat bagimu.
Maka di saat Zaid menyudahi hubungan perkawinan dengan menceraikan istrinya, sebagai cara untuk mengatasi kesempitan hidup bersamanya, Kami kawinkan kamu dengan wanita itu.
Dengan begitu, dirimu menjadi teladan bagi penghapusan sebuah tradisi rendah, sehingga orang-orang muslim tidak merasa bersalah jika mengawini wanita bekas istri anak angkat yang telah diceraikan.
Dan sungguh segala yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan ketika) ingatlah ketika (kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya) yakni nikmat Islam (dan kamu juga telah memberi nikmat kepadanya,) dengan memerdekakannya, yang dimaksud adalah Zaid bin Haritsah, dahulu pada zaman jahiliah dia adalah tawanan kemudian ia dibeli oleh Rasulullah, lalu dimerdekakan dan diangkat menjadi anak angkatnya sendiri ("Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah") dalam hal menalaknya (sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya) akan membeberkannya, yaitu perasaan cinta kepada Zainab binti Jahsy, dan kamu berharap seandainya Zaid menalaknya, maka kamu akan menikahinya (dan kamu takut kepada manusia) bila mereka mengatakan bahwa dia telah menikahi bekas istri anaknya (sedangkan Allahlah yang lebih berhak untuk kamu takuti) dalam segala hal dan dalam masalah menikahinya, dan janganlah kamu takuti perkataan manusia.
Kemudian Zaid menalak istrinya dan setelah idahnya habis, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, ("Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya) yakni kebutuhannya (Kami kawinkan kamu dengan dia) maka Nabi ﷺ langsung mengawininya tanpa meminta persetujuannya dulu, kemudian beliau membuat walimah buat kaum Muslimin dengan hidangan roti dan daging yang mengenyangkan mereka (supaya tidak ada keberatan bagi orang Mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya.
Dan adalah ketetapan Allah itu) apa yang telah dipastikan oleh-Nya (pasti terjadi.")

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tatkala kamu (wahai Nabi) berkata kepada orang yang Allah beri nikmat Islam kepadanya (yaitu Zaid bin Haritsah yang dimerdekakan oleh Nabi dan pernah diangkat sebagai anak oleh beliau) dan kamu memberi nikmat kemerdekaan kepadanya :
Biarkan istrimu Zaenab binti Jahsy dalam ikatakan pernikahanmu, dan jangan mentalaknya, dan bertakwalah kepada Allah wahai Zaid.
Dan kamu (wahai Nabi) menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah wahyukan kepadamu, yaitu talak Zaid terhadap istrinya dan menikahkanmu dengan mantan istrinya, dan Allah telah menampakkan apa yang kamu sembunyikan.
Kamu takut orang-orang munafik akan berkata :
Muhammad menikahi mantan istri bekas anak angkatnya sendiri.
Padahal Allah jauh lebih patut untuk kamu takuti.
Manakala Zaid sudah menunaikan hajatnya darinya dan mentalaknya, kemudian istrinya telah menyelesaikan masa iddahnya, Kami menikahkanmu dengannya secara langsung, agar kamu menjadi teladan dalam membatalkan adat larangan menikah dengan mantan istri bekas anak angkat setelah terjadi talak.
Orang-orang Mukmin tidak berdosa untuk menikahi wanita-wanita yang sudah ditalak oleh suami-suami mereka, bila suami-suami mereka sudah menunaikan hajat mereka dari mereka, sekalipun suami-suami tersebut adalah mantan anak angkat mereka sendiri.
Ketetapan Allah pasti terlaksana tanpa penghalang dan penolak.
Pengangkatan anak sendiri adalah adat jahiliyah yang dibatalkan Islam dengan firman Allah :
Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman menceritakan perihal Nabi-Nya, bahwa dia pernah mengatakan kepada bekas budaknya, yaitu Zaid ibnu Harisah r.a., "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah." Zaid ibnu Harisah adalah orang yang telah mendapat limpahan nikmat dari Allah subhanahu wa ta'ala yang telah menjadikannya masuk Islam dan mengikuti Rasul-Nya.

dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya.
(Al Ahzab:37)

Yakni telah memerdekakannya dari perbudakan, sehingga jadilah ia seorang yang terhormat, terkemuka, dan disegani lagi dicintai oleh Nabi ﷺ Dia mendapat julukan nama Al-Hibbu (kecintaan Rasulullah ﷺ), dan dikatakan kepada anaknya julukan nama Al-Hibbu ibnul Hibbi, yang artinya orang yang disayangi Rasulullah ﷺ putra orang yang disayangi Rasulullah ﷺ

Siti Aisyah r.a.
pernah mengatakan bahwa tidak sekali-kali Rasulullah ﷺ mengirimnya dalam suatu pasukan khusus, melainkan pasti beliau mengangkatnya sebagai komandannya.
Dan seandainya Zaid ibnu Harisah hidup sesudah Nabi ﷺ, pastilah Nabi ﷺ akan mengangkatnya menjadi khalifah.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Sa'id ibnu Muhammad Al-Warraq dan Muhammad ibnu Ubaid, dari Wa'il ibnu Daud, dari Abdullah Al-Bahi, dari Siti Aisyah r.a.

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma'mar, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Usamah ibnu Zaid r.a.
pernah bercerita kepadanya, bahwa ketika ia berada di dalam masjid tiba-tiba datang kepadanya Al-Abbas dan Ali ibnu Abu Talib r.a., lalu keduanya bertanya, "Hai Usamah, mintakanlah izin kepada Rasulullah buat kami untuk menemuinya." Usamah menceritakan, bahwa lalu ia masuk dan menemui Rasulullah ﷺ serta menceritakan kepadanya hal tersebut, bahwa Ali dan Al-Abbas meminta izin untuk masuk.
Maka Nabi ﷺ betanya, "Tahukah kamu apa keperluan keduanya?"Aku menjawab, "Tidak, ya Rasulullah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Tetapi aku mengetahuinya." Lalu keduanya diizinkan untuk masuk, dan keduanya bertanya, "Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu untuk mendapat berita darimu, siapakah di antara keluargamu yang paling engkau cintai?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Keluargaku yang paling kucintai adalah Fatimah binti Muhammad." Keduanya berkata, "Ya Rasulullah, kami tidak menanyakan kepadamu tentang Fatimah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Kalau begitu Usamah ibnu Zaid orang yang telah Allah limpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya.

Rasulullah ﷺ telah mengawinkannya dengan anak perempuan bibinya, yaitu Zainab binti Jahsy Al-Asadiyah r.a.
Ibunya bernama Umaimah binti Abdul Muttalib.
Nabi ﷺ memberinya maskawin sepuluh dinar dan enam puluh dirham, lalu kain kerudung, milhafah (kasur), sebuah baju besi, dan lima puluh mud makanan, dan sepuluh mud kurma.
Demikianlah menurut Muqatil ibnuHayyan.

Lalu Zainab tinggal bersama suaminya selama satu tahun atau lebih dari setahun, lalu terjadilah pertengkaran di antara keduanya (Zaid ibnu Harisah dan Zainab binti Jahsy).
Maka Zaid datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ mengadukan perkaranya.
Rasulullah ﷺ menasihatinya melalui sabdanya:

Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.

Disebutkan oleh firman-Nya:

sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
(Al Ahzab:37)

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir dalam bab ini telah menceritakan beberapa asar dari sebagian ulama Salaf radiyallahu 'anhum, tetapi kami lebih suka tidak mengetengahkannya, karena sanadnya tidak sahih.

Imam Ahmad telah meriwayatkan sehubungan dengan bab ini sebuah hadis melalui riwayat Hammad ibnu Zaid, dari Sabit, dari Anas r.a., tetapi di dalam konteksnya terkandung kegariban (keanehan), maka kami tinggalkan pula.

Imam Bukhari telah meriwayatkan pula sebagiannya secara ringkas, Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Ya'la ibnu Mansur, dari Hammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas ibnu Malik r.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya ayat ini, yaitu firman-Nya: dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya.
(Al Ahzab:37) diturunkan berkenaan dengan peristiwa Zainab binti Jahsy dan Zaid ibnu Harisah r.a.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an yang menceritakan bahwa Ali ibnul Husain r.a.
pernah bertanya kepadaku tentang apa yang telah dikatakan oleh Al-Hasan mengenai firman Allah subhanahu wa ta'ala: dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya.
(Al Ahzab:37) Maka kuceritakan kepadanya bahwa Al-Hasan mengatakan, tidak demikian, tetapi Allah subhanahu wa ta'ala telah memberitahukan kepada Nabi-Nya sebelum Nabi ﷺ mengawininya bahwa kelak Zainab akan menjadi salah seorang istrinya.
Ketika Zaid datang kepada Nabi ﷺ mengadukan sikap Zainab yang membangkang, maka Nabi ﷺ bersabda kepada Zaid: Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Aku telah memberitahukan kepadamu bahwa aku akan mengawinkannya denganmu, dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya." Hal yang sama telah diriwayatkan dari As-Saddi, bahwa Al-Hasan mengatakan hal yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Syahid, telah menceritakan kepadaku Khalid, dari Daud, dari Amir, dari Aisyah r.a., ia pernah mengatakan bahwa seandainya Muhammad ﷺ menyembunyikan sesuatu dari apa yang diwahyukan kepadanya dari Kitabullah, tentulah ia menyembunyikannya, yaitu: dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
(Al Ahzab:37)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia.
(Al Ahzab:37)

Al-watar artinya keperluan dan hajat, yakni setelah Zaid selesai dari keperluannya dengan Zainab, lalu ia menceraikannya, maka Kami kawinkan kamu dengan Zainab.
Dan yang mengawinkan Nabi ﷺ dengan Zainab adalah Allah subhanahu wa ta'ala secara langsung.
Dengan kata lain, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya dan memerintahkan kepadanya agar mengawini Zainab tanpa wali, tanpa akad, tanpa mahar, dan tanpa saksi manusia, melainkan semuanya ditangani oleh Allah subhanahu wa ta'ala

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami An-Nadr, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, dari Sabit, dari Anas r.a.
yang menceritakan bahwa setelah idah Zainab habis, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Zaid ibnu Harisah, "Pergilah kamu dan ceritakanlah kepadanya tentang diriku." Maka Zaid berangkat hingga sampai ke rumah Zainab yang saat itu sedang membuat adonan roti.
Ketika aku (Zaid) melihatnya, keadaannya berbeda, sehingga aku tidak kuasa memandangnya.
Lalu aku katakan kepadanya bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyebut-nyebutnya.
Kemudian aku memalingkan punggungku dan berbicara kepadanya dengan membalikkan tubuh, "Hai Zainab, bergembiralah, Rasulullah ﷺ telah mengutusku untuk menyampaikan kepadamu bahwa beliau menyebut-nyebutmu." Zainab menjawab, "Aku tidak akan melakukan suatu tindakan apa pun sebelum beristikharah kepada Tuhanku." Zainab bangkit menuju ke masjid, lalu turunlah ayat ini, dan Rasulullah ﷺ langsung masuk menemuinya tanpa izin.
Sesungguhnya saya menyaksikan peristiwa itu saat saya masuk ke dalam rumah Rasulullah ﷺ Beliau menjamu kami roti dan daging sebagai walimah perkawinannya dengan Zainab.
Sesudah itu orang-orang pulang dan masih ada beberapa orang lelaki yang sedang berbincang-bincang sesudah jamuan makanan itu.
Rasulullah ﷺ keluar dan aku mengikutinya, lalu Rasulullah ﷺ memasuki kamar-kamar istri-istri lainnya satu demi satu seraya bersalam kepada mereka, dan mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah keadaan istri barumu?"
Zaid ibnu Harisah melanjutkan kisahnya, bahwa ia tidak ingat lagi apakah ia telah memberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa kaum telah pulang semuanya, ataukah beliau telah mendapat berita tentang itu.
Tetapi beliau langsung masuk ke dalam rumah dan aku hendak ikut masuk pula, tetapi beliau menurunkan kain penutup pintu rumahnya yang menghalang-halangi antara aku dan beliau, lalu turunlah ayat hijab.
Setelah itu Nabi ﷺ menyampaikannya kepada kaum melalui nasihat-nasihatnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan.
(Al Ahzab:53), hingga akhir ayat.

Imam Muslim dan Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Sulaiman ibnul Mugirah dengan sanad yang sama.

Imam Bukhari rahimahullah telah meriwayatkan melalui sahabat Anas r.a.
yang menceritakan bahwa sesungguhnya Zainab binti Jahsy r.a.
merasa berbangga diri atas istri-istri Nabi ﷺ yang lainnya dengan mengatakan kepada mereka: Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit ketujuh.

Dalam tafsir Surat An-Nur telah kami sebutkan suatu riwayat dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Jahsy yang telah menceritakan bahwa Zainab dan Aisyah saling berbangga diri.
Zainab mengatakan, "Akulah wanita yang dikawinkan melalui wahyu yang diturunkan dari langit." Sedangkan Aisyah r.a.
mengatakan, "Akulah istri yang pembersihan namanya diturunkan dari langit." Akhirnya Zainab r.a.
mengakui keunggulan Siti Aisyah r.a.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-Mugirah, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa sesungguhnya Zainab binti Jahsy pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Sesungguhnya aku benar-benar diberati olehmu karena tiga perkara, tidak ada seorang wanita pun dari kalangan istri-istrimu yang mempunyai keistimewaan itu, yaitu sesungguhnya kakekku dan kakekmu adalah sama (yakni Abdul muttalib), dan sesungguhnya aku dikawinkan denganmu oleh Allah subhanahu wa ta'ala dari langit dan yang menjadi mak comblangnya adalah Jibril 'alaihis salam

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya.
(Al Ahzab:37)

Sesungguhnya Kami perbolehkan bagimu mengawininya, tidak lain Kami lakukan hal itu agar tidak ada lagi rasa keberatan bagi orang-orang mukmin dalam mengawini wanita-wanita yang telah diceraikan oleh anak-anak angkat mereka.

Demikian itu karena Rasulullah ﷺ di masa sebelum kenabian telah mengangkat Zaid ibnu Harisah sebagai anak angkatnya, sehingga Zaid dikenal sebagai putra Muhammad.
Setelah itu Allah memutuskan nisbat atau kaitan ini melalui firman-Nya:

dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).
(Al Ahzab:4) sampai dengan firman-Nya: Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah.
(Al Ahzab:5)

Kemudian ditambahkan kejelasan dan kekukuhannya dengan peristiwa kawinnya Rasulullah ﷺ dengan Zainab binti Jahsy r.a.
setelah dicerai oleh Zaid ibnu Harisah r.a.
anak angkat Rasulullah ﷺ karena itulah di dalam ayat At-Tahrim disebutkan oleh firman-Nya:

(dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu).
(An Nisaa:23)

Hal ini tiada lain untuk menghindarkan kesalahpahaman terhadap anak angkat, karena istri anak angkat bukan mahram.
Sebab tradisi adopsi anak angkat di kalangan mereka saat itu banyak terjadi.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.
(Al Ahzab:37)

Yakni perkara yang telah terjadi ini bersumber dari apa yang telah ditakdirkan dan telah dipastikan oleh Allah, maka tidak dapat dielakkan lagi.
Takdir tersebut menyatakan bahwa Zainab binti Jahsy, menurut pengetahuan Allah subhanahu wa ta'ala kelak akan menjadi salah seorang dari istri-istri Nabi ﷺ

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 37

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas bahwa ayat….
Wa tukhfiii fiii nafsika mallaahu mubdih…(… sedang kamu menyembunyika di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya…) (al-Ahzab: 37) turun berkenaan dengan peristiwa Zainab binti Jahsy dan Zaid bin Haritsah.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Anas bahwa Zaid bin Haritsah mengadu kepada Nabi ﷺ tentang kelakuan Zainab binti Jahsy.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Tahanlah istrimu.” Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 37) yang mengingatkan Rasulullah akan sesuatu yang tetap dirahasiakan oleh dirinya, yang telah diberiktahukan oleh Allah.

Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan an-Nasa-I bahwa ketika telah habis idah Zainab (setelah diceraikan oleh Zainab), bersabdalah Rasulullah ﷺ kepada Zaid: “Pergilah engkau kepada Zainab dan terangkanlah kepadanya bahwa aku akan menikahinya.” Berangkatlah Zaid dan memberitahukan maksud Rasulullah.
Zainab pun menjawab:
“Aku tidak akan berbuat apa-apa sebelum meminta pertimbangan dari Rabbku.” Kemudian ia pergi ke tempat sujudnya.
Setelah turun ayat ini (al-Ahzab: 37), datanglah Rasulullah ﷺ menikahinya tanpa menunggu persetujuannya.
Pada waktu itu para shahabat dijamu makan roti dan daging (walimah).
Merekapun berangsur pulang, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bercakap-cakap di sana.
Rasulullah keluar masuk rumah istri-istrinya, dan Zaid pun mengikutinya.
Beberapa lama kemudian diberitahukan kepada beliau bahwa semua orang sudah meninggalkan rumah Zainab.
Maka pergilah Rasulullah ﷺ mendapatkan Zainab diikuti Zaid, akan tetapi oleh Rasulullah ﷺ dihalangi dengan hijab.
Berkenaan dengan peristiwa tersebut, turun pula ayat ini (al-Ahzab: 35), sebagai larangan kepada kaum Muslimin untuk memasuki rumah Rasulullah kecuali dengan seizing beliau.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 37

AD'IYAA'
أَدْعِيَآئ

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya ialah al da'iyy. Maknanya ialah orang yang dijadikan anak angkat, atau yang diakui sebagai sebahagian dari keturunannya, atau yang dinasabkan kepada selain ayahnya. la juga bermakna yang diakui sebagai bahagian dari kaum lain.

Kata ad'iyaa' disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Ahzab (33), ayat 4 dan 37. Dalam ayat 4, diturunkan berkaitan dengan Zaid bin Haritsah yang pada awalnya adalah hamba sahaya Rasulullah, kemudian beliau memerdekakannya dan mengambilnya sebagai anak angkat sebelum wahyu diturunkan. Ketika nabi menikah dengan Zainab binti Jahsy, seorang janda, anak angkatnya (Zaid bin Haritsah), orang Yahudi dan munafik berkata,
"Beliau menikahi bekas isteri anak angkatnya," sedangkan pada masa itu, mereka melarang perkawinan yang demikian, maka turunlah ayat itu.

Menurut Al Qurtubi, para ahli tafsir sependapat menyatakan ayat itu diturunkan kepada Zaid bin Haritsah. Para ulama meriwayatkan, Ibn Umar berkata,
"Kami tidak memanggil Zaid bin Haritsah, tetapi Zaid bin Muhammad, sehingga turun ayat: ud'uuhum li abaa ihim huwa aqshathu 'indallah

Asy Syawkani menafsirkan maksud ayat 37 adalah menikahi bekas-bekas isteri anak­ anak angkat sebagaimana yang diamalkan oleh orang Arab, di mana mereka mengambil anak yang mereka kehendaki sebagai anak angkat, tetapi mereka beriktikad haram menikahi bekas isteri anak angkat itu, karena anak angkat bagi mereka adalah sama seperti anak kandung, sedangkan Nabi Muhammad menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat, sehingga ia dipanggil dengan Zaid bin Muhammad. Maka turunlah ayat justru menikahi bekas isteri (ad'iyaa') atau anak-anak angkat adalah halal bagi mereka.

Kesimpulannya, makna umum bagi lafaz ad'iyaa' dalam Al Qur'an adalah anak-anak angkat dan secara khususnya ialah Zaid bin Haritsah sebagaimana yang dimaksudkan dalam surah Al Ahzab, ayat 4.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:21-22

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali'lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu'min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu'min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.


Gambar Kutipan Surah Al Ahzab Ayat 37 *beta

Surah Al Ahzab Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ahzab

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
4.9
Rating Pembaca: 5 (1 vote)
Sending







✔ tafsir jalalain surah al ahzab ayat 33

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku