Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 37 [QS. 33:37]

وَ اِذۡ تَقُوۡلُ لِلَّذِیۡۤ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِ وَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِ اَمۡسِکۡ عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ اتَّقِ اللّٰہَ وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ مَا اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ وَ تَخۡشَی النَّاسَ ۚ وَ اللّٰہُ اَحَقُّ اَنۡ تَخۡشٰہُ ؕ فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا وَطَرًا زَوَّجۡنٰکَہَا لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ فِیۡۤ اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ اِذَا قَضَوۡا مِنۡہُنَّ وَطَرًا ؕ وَ کَانَ اَمۡرُ اللّٰہِ مَفۡعُوۡلًا
Wa-idz taquulu lil-ladzii an’amallahu ‘alaihi wa-an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka waattaqillaha watukhfii fii nafsika maallahu mubdiihi watakhsyannaasa wallahu ahaqqu an takhsyaahu falammaa qadha zaidun minhaa watharan zau-wajnaakahaa likai laa yakuuna ‘alal mu’miniina harajun fii azwaaji ad’iyaa-ihim idzaa qadhau minhunna watharan wakaana amrullahi maf’uulaa;
Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya,
“Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,”
sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti.
Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya.
Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.
―QS. Al Ahzab [33]: 37

Daftar isi

And (remember, O Muhammad), when you said to the one on whom Allah bestowed favor and you bestowed favor,
"Keep your wife and fear Allah,"
while you concealed within yourself that which Allah is to disclose.
And you feared the people, while Allah has more right that you fear Him.
So when Zayd had no longer any need for her, We married her to you in order that there not be upon the believers any discomfort concerning the wives of their adopted sons when they no longer have need of them.
And ever is the command of Allah accomplished.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 37]

وَإِذْ dan ketika

And when
تَقُولُ kamu berkata

you said
لِلَّذِىٓ kepada orang-orang

to the one,
أَنْعَمَ telah memberi ni’mat

Allah bestowed favor *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

Allah bestowed favor *[meaning includes next or prev. word]
عَلَيْهِ atasnya

on him
وَأَنْعَمْتَ dan kamu telah memberi ni’mat

and you bestowed favor
عَلَيْهِ atasnya

on him,
أَمْسِكْ tahanlah

"Keep
عَلَيْكَ atasmu

to yourself
زَوْجَكَ istrimu

your wife
وَٱتَّقِ dan bertakwalah

and fear
ٱللَّهَ Allah

Allah."
وَتُخْفِى dan kamu menyembunyikan

But you concealed
فِى dalam

within
نَفْسِكَ jiwamu/hatimu

yourself
مَا apa-apa

what
ٱللَّهُ Allah

Allah
مُبْدِيهِ menyatakannya

(was to) disclose.
وَتَخْشَى dan kamu takut

And you fear
ٱلنَّاسَ manusia

the people,
وَٱللَّهُ dan Allah

while Allah
أَحَقُّ lebih berhak

has more right
أَن bahwa

that
تَخْشَىٰهُ kamu takuti-Nya

you (should) fear Him.
فَلَمَّا maka tatkala

So when
قَضَىٰ telah memutuskan

ended
زَيْدٌ Zaid

Zaid
مِّنْهَا dari padanya

from her
وَطَرًا keperluan

necessary (formalities),

Tafsir

Alquran

Surah Al Ahzab
33:37

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 37. Oleh Kementrian Agama RI


Selanjutnya dalam ayat ini, Allah memperingatkan Nabi-Nya bahwa apa-apa yang terjadi antara Zaid bin haritsah dengan Zainab binti Jahsy itu adalah untuk menguatkan keimanan beliau dengan menegaskan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan dari hati orang-orang yang lemah imannya.
Allah menyuruh Rasul-Nya supaya memperhatikan ucapannya ketika beliau berkata kepada Zaid bin haritsah,
"Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah berpisah dengannya disebabkan kesombongan atau keangkuhannya karena keturunan, sebab perceraian itu akan mengakibatkan noda yang sulit untuk dihapus.
"



Nabi sendiri telah mengetahui bahwa Zaid pada akhirnya pasti akan bercerai dengan Zainab.
Beliau merasa berat jika hal tersebut menjadi kenyataan, sebab akan menimbulkan berbagai macam tanggapan di kalangan masyarakat.

Nabi menyembunyikan di dalam hatinya apa yang Allah nyatakan, karena Nabi sendiri menyadari bahwa beliau sendiri harus dijadikan teladan oleh seluruh umatnya untuk melaksanakan perintah Allah walaupun dengan mengorbankan perasaan.
Menurut naluri, manusia biasanya takut kepada sesama manusia, padahal Allah yang lebih berhak untuk ditakuti.

Beliau membayangkan bahwa apabila beliau menikah dengan Zainab, bekas istri anak angkatnya, hal itu pasti akan menjadi buah bibir di kalangan bangsa Arab, karena sejak zaman Jahiliah mereka memandang bahwa anak angkat itu sama dengan anak kandung, sehingga mereka melarang menikahi bekas istri anak angkat.

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 37. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ingatlah, wahai Muhammad, saat dirimu berkata pada Zaid bin Haritsah, seorang yang telah mendaptkan karunia Islam (menjadi muslim) dari Allah subhanahu wa ta’ala dan nikmat pengasuhan dan pemerdekaan darimu,
"Pertahankan istrimu, Zainab binti Jahsy.
Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah dalam mempergauli istrimu!"
Sementara di dalam hati kamu menyembunyikan sesuatu yang kelak akan diperlihatkan oleh Allah, yaitu bahwa Zaid akan menceraikan istrinya dan kamu akan mengawini jandanya, tapi dirimu takut khalayak ramai akan mengejekmu.


Padahal sesungguhnya hanya Allah yang pantas kamu takuti, meskipun hal itu berat bagimu.
Maka di saat Zaid menyudahi hubungan perkawinan dengan menceraikan istrinya, sebagai cara untuk mengatasi kesempitan hidup bersamanya, Kami kawinkan kamu dengan wanita itu.


Dengan begitu, dirimu menjadi teladan bagi penghapusan sebuah tradisi rendah, sehingga orang-orang muslim tidak merasa bersalah jika mengawini wanita bekas istri anak angkat yang telah diceraikan.
Dan sungguh segala yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Tatkala kamu (wahai Nabi) berkata kepada orang yang Allah beri nikmat Islam kepadanya (yaitu Zaid bin Haritsah yang dimerdekakan oleh Nabi dan pernah diangkat sebagai anak oleh beliau) dan kamu memberi nikmat kemerdekaan kepadanya:
Biarkan istrimu Zaenab binti Jahsy dalam ikatakan pernikahanmu, dan jangan mentalaknya, dan bertakwalah kepada Allah wahai Zaid.
Dan kamu (wahai Nabi) menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah wahyukan kepadamu, yaitu talak Zaid terhadap istrinya dan menikahkanmu dengan mantan istrinya, dan Allah telah menampakkan apa yang kamu sembunyikan.


Kamu takut orang-orang munafik akan berkata:
Muhammad menikahi mantan istri bekas anak angkatnya sendiri.
Padahal Allah jauh lebih patut untuk kamu takuti.


Manakala Zaid sudah menunaikan hajatnya darinya dan mentalaknya, kemudian istrinya telah menyelesaikan masa iddahnya, Kami menikahkanmu dengannya secara langsung, agar kamu menjadi teladan dalam membatalkan adat larangan menikah dengan mantan istri bekas anak angkat setelah terjadi talak.
Orang-orang mukmin tidak berdosa untuk menikahi wanita-wanita yang sudah ditalak oleh suami-suami mereka, bila suami-suami mereka sudah menunaikan hajat mereka dari mereka, sekalipun suami-suami tersebut adalah mantan anak angkat mereka sendiri.


Ketetapan Allah pasti terlaksana tanpa penghalang dan penolak.
Pengangkatan anak sendiri adalah adat jahiliyah yang dibatalkan Islam dengan firman Allah:
Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan ketika) ingatlah ketika


(kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya) yakni nikmat Islam


(dan kamu juga telah memberi nikmat kepadanya,) dengan memerdekakannya, yang dimaksud adalah Zaid bin Haritsah, dahulu pada zaman jahiliah dia adalah tawanan kemudian ia dibeli oleh Rasulullah, lalu dimerdekakan dan diangkat menjadi anak angkatnya sendiri


("Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah") dalam hal menalaknya


(sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya) akan membeberkannya, yaitu perasaan cinta kepada Zainab binti Jahsy, dan kamu berharap seandainya Zaid menalaknya, maka kamu akan menikahinya


(dan kamu takut kepada manusia) bila mereka mengatakan bahwa dia telah menikahi bekas istri anaknya


(sedangkan Allahlah yang lebih berhak untuk kamu takuti) dalam segala hal dan dalam masalah menikahinya, dan janganlah kamu takuti perkataan manusia.
Kemudian Zaid menalak istrinya dan setelah idahnya habis, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


("Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya) yakni kebutuhannya


(Kami kawinkan kamu dengan dia) maka Nabi ﷺ langsung mengawininya tanpa meminta persetujuannya dulu, kemudian beliau membuat walimah buat kaum Muslimin dengan hidangan roti dan daging yang mengenyangkan mereka


(supaya tidak ada keberatan bagi orang Mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya.
Dan adalah ketetapan Allah itu) apa yang telah dipastikan oleh-Nya


(pasti terjadi.")

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan perihal Nabi-Nya, bahwa dia pernah mengatakan kepada bekas budaknya, yaitu Zaid ibnu Harisah r.a.,
"Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah."
Zaid ibnu Harisah adalah orang yang telah mendapat limpahan nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikannya masuk Islam dan mengikuti Rasul-Nya.

dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Yakni telah memerdekakannya dari perbudakan, sehingga jadilah ia seorang yang terhormat, terkemuka, dan disegani lagi dicintai oleh Nabi ﷺ Dia mendapat julukan nama Al-Hibbu (kecintaan Rasulullah ﷺ), dan dikatakan kepada anaknya julukan nama Al-Hibbu ibnul Hibbi, yang artinya orang yang disayangi Rasulullah ﷺ putra orang yang disayangi Rasulullah ﷺ

Siti Aisyah r.a. pernah mengatakan bahwa tidak sekali-kali Rasulullah ﷺ mengirimnya dalam suatu pasukan khusus, melainkan pasti beliau mengangkatnya sebagai komandannya.
Dan seandainya Zaid ibnu Harisah hidup sesudah Nabi ﷺ, pastilah Nabi ﷺ akan mengangkatnya menjadi khalifah.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Sa’id ibnu Muhammad Al-Warraq dan Muhammad ibnu Ubaid, dari Wa’il ibnu Daud, dari Abdullah Al-Bahi, dari Siti Aisyah r.a.
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Usamah ibnu Zaid r.a. pernah bercerita kepadanya, bahwa ketika ia berada di dalam masjid tiba-tiba datang kepadanya Al-Abbas dan Ali ibnu Abu Talib r.a., lalu keduanya bertanya,
"Hai Usamah, mintakanlah izin kepada Rasulullah buat kami untuk menemuinya."
Usamah menceritakan, bahwa lalu ia masuk dan menemui Rasulullah ﷺ serta menceritakan kepadanya hal tersebut, bahwa Ali dan Al-Abbas meminta izin untuk masuk.
Maka Nabi ﷺ betanya,
"Tahukah kamu apa keperluan keduanya?"Aku menjawab,
"Tidak, ya Rasulullah."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tetapi aku mengetahuinya."
Lalu keduanya diizinkan untuk masuk, dan keduanya bertanya,
"Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu untuk mendapat berita darimu, siapakah di antara keluargamu yang paling engkau cintai?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Keluargaku yang paling kucintai adalah Fatimah binti Muhammad."
Keduanya berkata,
"Ya Rasulullah, kami tidak menanyakan kepadamu tentang Fatimah."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Kalau begitu Usamah ibnu Zaid orang yang telah Allah limpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya.

Rasulullah ﷺ telah mengawinkannya dengan anak perempuan bibinya, yaitu Zainab binti Jahsy Al-Asadiyah r.a. Ibunya bernama Umaimah binti Abdul Muttalib.
Nabi ﷺ memberinya maskawin sepuluh dinar dan enam puluh dirham, lalu kain kerudung, milhafah (kasur), sebuah baju besi, dan lima puluh mud makanan, dan sepuluh mud kurma.
Demikianlah menurut Muqatil ibnuHayyan.

Lalu Zainab tinggal bersama suaminya selama satu tahun atau lebih dari setahun, lalu terjadilah pertengkaran di antara keduanya (Zaid ibnu Harisah dan Zainab binti Jahsy).
Maka Zaid datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ mengadukan perkaranya.
Rasulullah ﷺ menasihatinya melalui sabdanya:

Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.


Disebutkan oleh firman-Nya:

sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir dalam bab ini telah menceritakan beberapa asar dari sebagian ulama Salaf radiyallahu ‘anhum, tetapi kami lebih suka tidak mengetengahkannya, karena sanadnya tidak sahih.

Imam Ahmad telah meriwayatkan sehubungan dengan bab ini sebuah hadis melalui riwayat Hammad ibnu Zaid, dari Sabit, dari Anas r.a., tetapi di dalam konteksnya terkandung kegariban (keanehan), maka kami tinggalkan pula.

Imam Bukhari telah meriwayatkan pula sebagiannya secara ringkas, Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Ya’la ibnu Mansur, dari Hammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas ibnu Malik r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya ayat ini, yaitu firman-Nya:
dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)
diturunkan berkenaan dengan peristiwa Zainab binti Jahsy dan Zaid ibnu Harisah r.a.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an yang menceritakan bahwa Ali ibnul Husain r.a. pernah bertanya kepadaku tentang apa yang telah dikatakan oleh Al-Hasan mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala:
dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)
Maka kuceritakan kepadanya bahwa Al-Hasan mengatakan, tidak demikian, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitahukan kepada Nabi-Nya sebelum Nabi ﷺ mengawininya bahwa kelak Zainab akan menjadi salah seorang istrinya.
Ketika Zaid datang kepada Nabi ﷺ mengadukan sikap Zainab yang membangkang, maka Nabi ﷺ bersabda kepada Zaid:
Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Aku telah memberitahukan kepadamu bahwa aku akan mengawinkannya denganmu, dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya."
Hal yang sama telah diriwayatkan dari As-Saddi, bahwa Al-Hasan mengatakan hal yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Syahid, telah menceritakan kepadaku Khalid, dari Daud, dari Amir, dari Aisyah r.a., ia pernah mengatakan bahwa seandainya Muhammad ﷺ menyembunyikan sesuatu dari apa yang diwahyukan kepadanya dari Kitabullah, tentulah ia menyembunyikannya, yaitu:
dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Al-watar artinya keperluan dan hajat, yakni setelah Zaid selesai dari keperluannya dengan Zainab, lalu ia menceraikannya, maka Kami kawinkan kamu dengan Zainab.
Dan yang mengawinkan Nabi ﷺ dengan Zainab adalah Allah subhanahu wa ta’ala secara langsung.
Dengan kata lain, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya dan memerintahkan kepadanya agar mengawini Zainab tanpa wali, tanpa akad, tanpa Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami An-Nadr, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, dari Sabit, dari Anas r.a. yang menceritakan bahwa setelah idah Zainab habis, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Zaid ibnu Harisah,
"Pergilah kamu dan ceritakanlah kepadanya tentang diriku."
Maka Zaid berangkat hingga sampai ke rumah Zainab yang saat itu sedang membuat adonan roti.
Ketika aku (Zaid) melihatnya, keadaannya berbeda, sehingga aku tidak kuasa memandangnya.
Lalu aku katakan kepadanya bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyebut-nyebutnya.
Kemudian aku memalingkan punggungku dan berbicara kepadanya dengan membalikkan tubuh,
"Hai Zainab, bergembiralah, Rasulullah ﷺ telah mengutusku untuk menyampaikan kepadamu bahwa beliau menyebut-nyebutmu."
Zainab menjawab,
"Aku tidak akan melakukan suatu tindakan apa pun sebelum beristikharah kepada Tuhanku."
Zainab bangkit menuju ke masjid, lalu turunlah ayat ini, dan Rasulullah ﷺ langsung masuk menemuinya tanpa izin.
Sesungguhnya saya menyaksikan peristiwa itu saat saya masuk ke dalam rumah Rasulullah ﷺ Beliau menjamu kami roti dan daging sebagai walimah perkawinannya dengan Zainab.
Sesudah itu orang-orang pulang dan masih ada beberapa orang lelaki yang sedang berbincang-bincang sesudah jamuan makanan itu.
Rasulullah ﷺ keluar dan aku mengikutinya, lalu Rasulullah ﷺ memasuki kamar-kamar istri-istri lainnya satu demi satu seraya bersalam kepada mereka, dan mereka bertanya,
"Wahai Rasulullah, bagaimanakah keadaan istri barumu?"
Zaid ibnu Harisah melanjutkan kisahnya, bahwa ia tidak ingat lagi apakah ia telah memberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa kaum telah pulang semuanya, ataukah beliau telah mendapat berita tentang itu.
Tetapi beliau langsung masuk ke dalam rumah dan aku hendak ikut masuk pula, tetapi beliau menurunkan kain penutup pintu rumahnya yang menghalang-halangi antara aku dan beliau, lalu turunlah ayat hijab.
Setelah itu Nabi ﷺ menyampaikannya kepada kaum melalui nasihat-nasihatnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan.
(QS. Al-Ahzab [33]:53), hingga akhir ayat.

Imam Muslim dan Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Sulaiman ibnul Mugirah dengan sanad yang sama.

Imam Bukhari rahimahullah telah meriwayatkan melalui sahabat Anas r.a. yang menceritakan bahwa sesungguhnya Zainab binti Jahsy r.a. merasa berbangga diri atas istri-istri Nabi ﷺ yang lainnya dengan mengatakan kepada mereka:
Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit ketujuh.

Dalam tafsir Surat An-Nur telah kami sebutkan suatu riwayat dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Jahsy yang telah menceritakan bahwa Zainab dan Aisyah saling berbangga diri.
Zainab mengatakan,
"Akulah wanita yang dikawinkan melalui wahyu yang diturunkan dari langit."
Sedangkan Aisyah r.a. mengatakan,
"Akulah istri yang pembersihan namanya diturunkan dari langit."
Akhirnya Zainab r.a. mengakui keunggulan Siti Aisyah r.a.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-Mugirah, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa sesungguhnya Zainab binti Jahsy pernah berkata kepada Nabi ﷺ,
"Sesungguhnya aku benar-benar diberati olehmu karena tiga perkara, tidak ada seorang wanita pun dari kalangan istri-istrimu yang mempunyai keistimewaan itu, yaitu sesungguhnya kakekku dan kakekmu adalah sama (yakni Abdul muttalib), dan sesungguhnya aku dikawinkan denganmu oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari langit dan yang menjadi mak comblangnya adalah Jibrilalaihis salam

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Sesungguhnya Kami perbolehkan bagimu mengawininya, tidak lain Kami lakukan hal itu agar tidak ada lagi rasa keberatan bagi orang-orang mukmin dalam mengawini wanita-wanita yang telah diceraikan oleh anak-anak angkat mereka.

Demikian itu karena Rasulullah ﷺ di masa sebelum kenabian telah mengangkat Zaid ibnu Harisah sebagai anak angkatnya, sehingga Zaid dikenal sebagai putra Muhammad.
Setelah itu Allah memutuskan nisbat atau kaitan ini melalui firman-Nya:

dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).
(QS. Al-Ahzab [33]:4)
sampai dengan firman-Nya:
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah.
(QS. Al-Ahzab [33]:5)

Kemudian ditambahkan kejelasan dan kekukuhannya dengan peristiwa kawinnya Rasulullah ﷺ dengan Zainab binti Jahsy r.a. setelah dicerai oleh Zaid ibnu Harisah r.a. anak angkat Rasulullah ﷺ karena itulah di dalam ayat At-Tahrim disebutkan oleh firman-Nya:

(dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu).
(An Nisaa:23)

Hal ini tiada lain untuk menghindarkan kesalahpahaman terhadap anak angkat, karena istri anak angkat bukan mahram.
Sebab tradisi adopsi anak angkat di kalangan mereka saat itu banyak terjadi.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.
(QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Yakni perkara yang telah terjadi ini bersumber dari apa yang telah ditakdirkan dan telah dipastikan oleh Allah, maka tidak dapat dielakkan lagi.
Takdir tersebut menyatakan bahwa Zainab binti Jahsy, menurut pengetahuan Allah subhanahu wa ta’ala kelak akan menjadi salah seorang dari istri-istri Nabi ﷺ

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 37

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas bahwa ayat….
Wa tukhfiii fiii nafsika mallaahu mubdih…(… sedang kamu menyembunyika di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya…) (al-Ahzab: 37) turun berkenaan dengan peristiwa Zainab binti Jahsy dan Zaid bin Haritsah.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Anas bahwa Zaid bin Haritsah mengadu kepada Nabi ﷺ tentang kelakuan Zainab binti Jahsy.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Tahanlah istrimu.” Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 37) yang mengingatkan Rasulullah akan sesuatu yang tetap dirahasiakan oleh dirinya, yang telah diberiktahukan oleh Allah.

Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan an-Nasa-I bahwa ketika telah habis idah Zainab (setelah diceraikan oleh Zainab), bersabdalah Rasulullah ﷺ kepada Zaid: “Pergilah engkau kepada Zainab dan terangkanlah kepadanya bahwa aku akan menikahinya.” Berangkatlah Zaid dan memberitahukan maksud Rasulullah.
Zainab pun menjawab:
“Aku tidak akan berbuat apa-apa sebelum meminta pertimbangan dari Rabbku.” Kemudian ia pergi ke tempat sujudnya.

Setelah turun ayat ini (al-Ahzab: 37), datanglah Rasulullah ﷺ menikahinya tanpa menunggu persetujuannya.
Pada waktu itu para shahabat dijamu makan roti dan daging (walimah).
Merekapun berangsur pulang, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bercakap-cakap di sana.

Rasulullah keluar masuk rumah istri-istrinya, dan Zaid pun mengikutinya.
Beberapa lama kemudian diberitahukan kepada beliau bahwa semua orang sudah meninggalkan rumah Zainab.
Maka pergilah Rasulullah ﷺ mendapatkan Zainab diikuti Zaid, akan tetapi oleh Rasulullah ﷺ dihalangi dengan hijab.
Berkenaan dengan peristiwa tersebut, turun pula ayat ini (al-Ahzab: 35), sebagai larangan kepada kaum Muslimin untuk memasuki rumah Rasulullah kecuali dengan seizing beliau.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 37

AD’IYAA’
أَدْعِيَآئ

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya ialah al da’iyy. Maknanya ialah orang yang dijadikan anak angkat, atau yang diakui sebagai sebahagian dari keturunannya, atau yang dinasabkan kepada selain ayahnya.
la juga bermakna yang diakui sebagai bahagian dari kaum lain.

Kata ad’iyaa’ disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Ahzab (33), ayat 4 dan 37. Dalam ayat 4, diturunkan berkaitan dengan Zaid bin Haritsah yang pada awalnya adalah hamba sahaya Rasulullah, kemudian beliau memerdekakannya dan mengambilnya sebagai anak angkat sebelum wahyu diturunkan.
Ketika nabi menikah dengan Zainab binti Jahsy, seorang janda, anak angkatnya (Zaid bin Haritsah), orang Yahudi dan munafik berkata,
"Beliau menikahi bekas isteri anak angkatnya," sedangkan pada masa itu, mereka melarang perkawinan yang demikian, maka turunlah ayat itu.

Menurut Al Qurtubi, para ahli tafsir sependapat menyatakan ayat itu diturunkan kepada Zaid bin Haritsah.
Para ulama meriwayatkan, Ibnu Umar berkata,
"Kami tidak memanggil Zaid bin Haritsah, tetapi Zaid bin Muhammad, sehingga turun ayat: ud’uuhum li abaa ihim huwa aqshathu ‘indallah

Asy Syawkani menafsirkan maksud ayat 37 adalah menikahi bekas-bekas isteri anak anak angkat sebagaimana yang diamalkan oleh orang Arab, di mana mereka mengambil anak yang mereka kehendaki sebagai anak angkat, tetapi mereka beriktikad haram menikahi bekas isteri anak angkat itu, karena anak angkat bagi mereka adalah sama seperti anak kandung, sedangkan Nabi Muhammad menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat, sehingga ia dipanggil dengan Zaid bin Muhammad.
Maka turunlah ayat justru menikahi bekas isteri (ad’iyaa’) atau anak-anak angkat adalah halal bagi mereka.

Kesimpulannya, makna umum bagi lafaz ad’iyaa’ dalam Al Qur’an adalah anak-anak angkat dan secara khususnya ialah Zaid bin Haritsah sebagaimana yang dimaksudkan dalam surah Al Ahzab, ayat 4.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:21-22

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
Hukumhukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 37 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 37 - Gambar 2
Statistik QS. 33:37
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
Sending
User Review
4.3 (21 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

33:37, 33 37, 33-37, Surah Al Ahzab 37, Tafsir surat AlAhzab 37, Quran Al-Ahzab 37, Surah Al Ahzab ayat 37

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Ahzab

۞ QS. 33:1 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hukum memohon bantuan orang musyrik • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:2 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 33:3 Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 33:4 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 33:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 33:8 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Bashir (Maha Melihat) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 33:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 33:12 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:15 • Sifat orang munafik

۞ QS. 33:16 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 33:17 • Kekuasaan Allah • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 33:18 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:19 • Kekuasaan Allah • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:20 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:21 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 33:22 • Allah menepati janji

۞ QS. 33:24 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang munafik

۞ QS. 33:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 33:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 33:27 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 33:29 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:30 • Menyiksa pelaku maksiat • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 33:31 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 33:34 Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus)

۞ QS. 33:35 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Ajakan masuk Islam • Keutamaan iman

۞ QS. 33:36 • Kebaikan pada pilihan Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 33:39 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 33:40 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:43 • Pahala iman • Al Rahim (Maha Penyayang) • Doa malaikat untuk umat muslim • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 33:44 • Pahala iman • Percakapan Allah dengan ahli surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:47 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 33:48 Al Wakil (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:50 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:51 • Keluasan ilmu Allah • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:52 Al Raqib (Maha Pengawas)

۞ QS. 33:54 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:55 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 33:56 • Doa malaikat untuk umat muslim

۞ QS. 33:57 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:58 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:59 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:60 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:61 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:62 • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 33:63 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Nama-nama hari kiamat • Kiamat telah dekat • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 33:64 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:65 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka •

۞ QS. 33:66 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 33:67 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Siksa orang kafir

۞ QS. 33:68 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 33:70 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 33:71 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Islam menghapus dosa masa lalu • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 33:73 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang kafir

Ayat Pilihan

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki & menyempitkannya,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
QS. Al-Isra’ [17]: 30

Dirikanlah salat & suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)
QS. Luqman [31]: 17

“Aku bersumpah demi malam, ketika kegelapannya telah merata. Demi siang ketika cahayanya telah terang benderang. Demi Zat yang telah menciptakan dua jenis: laki-laki & perempuan, jantan & betina, dari setiap makhluk yang berkembang biak”
QS. Al-Lail [92]: 1-3

Kalau Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka & Kami kumpulkan segala sesuatu ke hadapan mereka,
niscaya mereka tak akan beriman, kecuali jika Allah kehendaki,
tapi banyak mereka tak tahu
QS. Al-An’am [6]: 111

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang menjelaskan bahwa ''Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta'', yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #19
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #19 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #19 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … Hukum penggunaan hadis sebagai dasar hukum adalah … Orang yang menceritakan hadits disebut … Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali …

Kamus

Muhammad Ali Ash Shabuni

Siapa itu Muhammad Ali Ash Shabuni? Prof. DR. Muhammad Ali ash-Shabuni (bahasa Arab: محمد علي الصابوني‎, lahir di Aleppo, Suriah, 1 Januari 1930; adalah seorang mufassir dan ulama yan...

Al Malik

Apa itu Al Malik? Allah itu Al-Malik . Allah itu Al-Malik yang memiliki makna (The King) atau Yang Maha Merajai atau Raja dari segala raja. Allah adalah Raja penguasa alam semesta, Dialah yang memili...

Istihsan

Apa itu Istihsan? is.tih.san pendapat yang berpegang pada kebaikan sesuatu bagi umat manusia sehingga apa yang dipandang baik boleh dikerjakan atau dipedomani Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang f...