Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) - surah 33 ayat 36 [QS. 33:36]

وَ مَا کَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّ لَا مُؤۡمِنَۃٍ اِذَا قَضَی اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ اَمۡرًا اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہُمُ الۡخِیَرَۃُ مِنۡ اَمۡرِہِمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّعۡصِ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِیۡنًا
Wamaa kaana limu’minin walaa mu’minatin idzaa qadhallahu warasuuluhu amran an yakuuna lahumul khiyaratu min amrihim waman ya’shillaha warasuulahu faqad dhalla dhalaalan mubiinan;
Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.
Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
―QS. Al Ahzab [33]: 36

Daftar isi

It is not for a believing man or a believing woman, when Allah and His Messenger have decided a matter, that they should (thereafter) have any choice about their affair.
And whoever disobeys Allah and His Messenger has certainly strayed into clear error.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 36]

وَمَا dan tidak

And not
كَانَ adalah

(it) is
لِمُؤْمِنٍ bagi laki-laki mukmin

for a believing man
وَلَا dan tidak

and not
مُؤْمِنَةٍ perempuan mukmin

(for) a believing woman,
إِذَا apabila

when
قَضَى telah menetapkan

Allah has decided *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

Allah has decided *[meaning includes next or prev. word]
وَرَسُولُهُۥٓ dan rasul-Nya

and His Messenger
أَمْرًا perkara

a matter
أَن bahwa

that
يَكُونَ adalah mereka

(there) should be
لَهُمُ bagi mereka

for them
ٱلْخِيَرَةُ pilihan

(any) choice
مِنْ dari

about
أَمْرِهِمْ perkara mereka

their affair.
وَمَن dan barang siapa

And whoever
يَعْصِ mendurhakai

disobeys
ٱللَّهَ Allah

Allah
وَرَسُولَهُۥ dan rasul-Nya

and His Messenger
فَقَدْ maka sungguh

certainly,
ضَلَّ ia telah sesat

he (has) strayed
ضَلَٰلًا kesesatan

(into) error
مُّبِينًا yang nyata

clear.

Tafsir Quran

Surah Al Ahzab
33:36

Tafsir QS. Al-Ahzab (33) : 36. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa tidak patut bagi orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan ketentuan, mereka memilih ketentuan lain yang bertentangan dengan ketetapan keduanya.
Menentukan pilihan sendiri yang tidak sesuai dengan ketentuan dari Allah dan rasul-Nya berarti mendurhakai perintah keduanya, dan tersesat dari jalan yang benar.

Hal seperti itu diancam pula oleh Allah dengan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nuur [24]: 63)

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 36. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Tidak sepantasnya bagi orang-orang beriman, baik lelaki maupun wanita, untuk mencari pilihan hukum lain, jika Allah dan Rasul telah menetapkan hukum atas suatu persoalan.
Barangsiapa menyalahi ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah berada pada jalan yang sangat jauh dari kebenaran.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Tidak patut bag seorang mukmin, laki-laki maupun perempuan, bila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sebuah hukum di antara mereka untuk menyelisihinya dengan memilih selain apa yang ditetapkan pada mereka.
Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah berjalan sangat jauh dari kebenaran.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada) Yakuuna dapat dibaca Takuuna


(bagi mereka pilihan yang lain)


(tentang urusan mereka) yang berbeda dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Jahsy beserta saudara perempuannya yang bernama Zainab, Nabi ﷺ melamarnya untuk dikawinkan kepada Zaid bin Haritsah, lalu keduanya tidak menyukai hal tersebut ketika keduanya mengetahui bahwa Nabi melamar saudara perempuannya bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak angkatnya yaitu Zaid bin Haritsah.
Akan tetapi setelah turun ayat ini keduanya menjadi rela.


(Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata) nyata sesatnya.
Kemudian Nabi mengawinkan Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
Akan tetapi sesudah beberapa waktu dalam diri Zaid timbul rasa tidak senang terhadap istrinya itu, lalu ia berkata kepada Nabi ﷺ bahwa ia bermaksud untuk menalaknya.
Maka Nabi ﷺ menjawab,
"Peganglah istrimu itu di dalam pemeliharaanmu"
sebagaimana yang disitir oleh firman selanjutnya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Al-Aufi telah meriwayatkan dari ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin.
(QS. Al-Ahzab [33]: 36), hingga akhir ayat.
Pada mulanya Rasulullah ﷺ pergi untuk melamar buat pelayan laki-lakinya yang bernama Zaid ibnu Harisah.
Maka beliau masuk ke dalam rumah Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah r.a., dan beliau ﷺ langsung melamarnya buat Zaid.
Tetapi Zainab binti Jahsy menjawab,
"Aku tidak mau menikah dengannya."

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidak, bahkan kamu harus menikah dengannya."
Zainab binti Jahsy berkata,
"Wahai Rasulullah, apakah engkau mengatur diriku?"
Ketika keduanya sedang berbincang-bincang mengenai hal tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan.
(QS. Al-Ahzab [33]: 36), hingga akhir ayat.
Akhirnya Zainab binti Jahsy bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah engkau rela menikahkan dia denganku?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya."
Zainab berkata,
"Kalau demikian, saya tidak akan menentang perintah Rasulullah ﷺ Saya rela dinikahkan dengannya."

Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Abu Amrah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ melamar Zainab binti Jahsy untuk Zaid ibnu Harisah r.a., tetapi Zainab menolak dinikahkan dengannya dan mengatakan,
"Saya berketurunan lebih baik daripada dia, sedangkan Zainab adalah seorang wanita yang keras.
Lalu Allah menurunkan firman-Nya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin.
(QS. Al-Ahzab [33]: 36), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zainab binti Jahsy r.a. ketika dilamar oleh Rasulullah ﷺ untuk menjadi istri maulanya yang bernama Zaid ibnu Harisah r.a. Lalu Zainab menolak lamarannya, tetapi pada akhirnya menerima lamaran itu.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa ayat ini, diturunkan berkenaan dengan Ummu Kalsum binti Uqbah ibnu Abu Mu’it r.a. Dia adalah seorang wanita yang mula-mula berhijrah, yakni sesudah Perjanjian Hudaibiyyah.
Lalu ia menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ bersabda,
"Aku terima penyerahan dirinya."
Lalu Nabi ﷺ mengawinkannya dengan Zaid ibnu Harisah r.a. Yakni —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— kisah ini terjadi sesudah Zaid ibnu Harisah bercerai dengan Zainab binti Jahsy.
Maka Zainab dan saudara lelakinya marah seraya berkata,
"Sesungguhnya kami menghendaki diri Rasulullah ﷺ, tetapi ternyata beliau mengawinkan kami dengan bekas budaknya."
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan.
(QS. Al-Ahzab [33]: 36), hingga akhir ayat.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa telah diturunkan pula suatu perintah yang lebih mencakup artinya ketimbang ayat ini, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.
(QS. Al-Ahzab [33]: 6)

Ayat di atas mengandung pengertian khusus, sedangkan ayat ini mengandung pengertian yang lebih umum.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Sabit Al-Bannani, dari Anas r.a. yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ melamar seorang wanita dari kalangan Ansar kepada ayahnya untuk beliau kawinkan dengan Julaibib.
Maka ayah si wanita itu berkata,
"Saya akan bermusyawarah dahulu dengan ibunya."
Nabi ﷺ menjawab,
"Kalau begitu, silakan."
Maka lelaki itu berangkat menemui istrinya dan menceritakan kepada istrinya tentang lamaran Nabi ﷺ itu.
Istrinya berkata,
"Tidak, demi Allah, kalau memang Rasulullah ﷺ tidak menemukan pasangan lain kecuali Julaibib.
Sesungguhnya kita telah menolak lamaran si Fulan bin Fulan sebelum itu."
Tetapi anak perawannya yang ada di balik kain penutup pintu kamarnya mendengar ucapan tersebut.
Lalu lelaki itu bermaksud menemui Rasulullah ﷺ untuk menceritakan hal tersebut, tetapi si anak perawannya berkata menghalang-halanginya,
"Apakah ayah hendak menolak lamaran yang telah diajukan oleh Rasulullah ﷺ?
Jika beliau rela si Julaibib sebagai menantu ayah, maka kawinkanlah dia (denganku)."
Ternyata si anak perawan itu menyanggah keinginan kedua orang tuanya.
Akhirnya keduanya berkata,
"Dia memang benar."
Kemudian ayahnya berangkat menemui Rasulullah ﷺ dan mengatakan kepadanya,
"Jika engkau rela kepada si Julaibib, maka kami pun demikian pula."

Rasulullah ﷺ menjawab:
Sesungguhnya aku rida (rela) kepadanya.
Maka Rasulullah ﷺ mengawinkan anak perawan lelaki itu dengan Julaibib.
Sesudah itu penduduk Madinah mengalami kegemparan karena diserang oleh musuh, maka Julaibib menaiki kudanya (maju melabrak musuh).
Ternyata mereka menjumpai jenazah Julaibib ditemukan bersama jenazah sejumlah orang dari kaum musyrik yang telah dibunuhnya (sebelum ia gugur).
Sahabat Anas r.a. mengatakan bahwa sesungguhnya ia melihat bekas istri Julaibib itu benar-benar termasuk wanita yang paling dermawan di Madinah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad (yakni Ibnu Salamah), dari Sabit, dari Kinanah ibnu Na’im Al-Adawi, dari Abu Barzah Al-Aslami yang menceritakan bahwa Julaibib adalah seorang lelaki yang dikenal sering menjumpai kaum wanita, melatih mereka, dan bermain-main dengan mereka.
Lalu aku berkata kepada istriku,
"Jangan sekali-kali kalian memasukkan Julaibib ke dalam rumah kalian.
Karena sesungguhnya jika kamu coba-coba berani memasukkan Julaibib, maka aku akan menghukum kamu."
Dan merupakan suatu kebiasaan bagi orang-orang Ansar apabila seseorang dari mereka mempunyai seorang janda, ia tidak berani mengawinkannya sebelum memberitahukan kepada Nabi ﷺ, apakah beliau mempunyai keperluan terhadapnya ataukah tidak.
Maka Nabi ﷺ bersabda kepada seorang lelaki dari kalangan Ansar,
"Kawinkanlah aku dengan anak perempuanmu."
Lelaki itu mejawab,
"Ya, ini merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagiku, wahai Rasulullah."

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya aku menginginkannya bukan untuk diriku."
Lelaki itu bertanya,
"Buat siapakah wahai Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Untuk Julaibib."
Lelaki itu berkata,
"Wahai Rasulullah, saya akan berunding dahulu dengan ibunya."
Lelaki itu mendatangi istrinya (ibu anak perempuannya itu), lalu menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah melamar putrinya.
Maka istrinya menjawab,
"Baiklah, itu merupakan suatu kebahagiaan."

Lelaki itu berkata menjelaskan,
"Tetapi beliau melamar putri kita bukan untuk dirinya, melainkan untuk Julaibib."
Istrinya bertanya,
"Apakah Julaibib itu anaknya, apakah Julaibib itu anaknya?
Tidak, demi usia Allah, kami tidak akan mengawinkannya dengan Julaibib."
Ketika lelaki itu hendak pergi menemui Rasulullah ﷺ guna memberitahukan kepadanya hasil musyawarah dia dengan istrinya, tiba-tiba anak perempuannya itu berkata,
"Siapakah yang melamarku kepada kalian sehingga perlu memberitahukannya kepada ibunya?"
Perempuan itu melanjutkan perkataannya,
"Apakah kalian menolak lamaran Rasulullah ﷺ?
Sesungguhnya dia tidak akan menyia-nyiakan diriku."
Akhirnya ayahnya pergi menemui Rasulullah ﷺ dan berkata kepadanya,
"Saya serahkan dia kepadamu, kawinkanlah dia dengan Julaibib."

Rasulullah ﷺ pergi ke medan perang.
Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, maka beliau bersabda kepada para sahabatnya,
"Apakah kalian merasa kehilangan seseorang?
Mereka menjawab,
"Kami kehilangan si Fulan dan kami kehilangan si Anu."
Rasulullah ﷺ kembali bersabda,
"Periksalah, apakah kalian kehilangan seseorang."
Mereka menjawab,
"Tidak ada lagi."

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Akan tetapi, saya kehilangan Julaibib."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Carilah dia di antara orang-orang yang telah gugur!"
Maka mereka mencarinya, dan mereka menjumpainya tergeletak mati di samping jenazah tujuh orang (musuh) yang telah dia bunuh, kemudian mereka (musuh) membunuhnya.

Mereka berkata,
"Wahai Rasulullah, inilah dia, berada di sebelah jenazah tujuh orang yang pasti dialah yang telah membunuh mereka, kemudian mereka (musuhnya) membunuhnya."
Maka Rasulullah ﷺ mendatanginya, lalu berdiri di dekat jenazahnya dan bersabda:
Dia telah membunuh tujuh orang dan mereka telah membunuhnya.
Orang ini termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya.
sebanyak dua atau tiga kali.

Kemudian Rasulullah ﷺ meletakkan jenazahnya pada kedua lengannya, lalu menguburkannya.
Jenazahnya tidak memakai katil selain dari kedua lengan Nabi ﷺ yang memanggulnya, kemudian diletakkan di dalam kuburnya.
Tiada suatu riwayat pun yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memandikannya.
Sabit r.a. mengatakan bahwa sesudah itu tiada seorang janda pun di kalangan orang-orang Ansar yang lebih dermawan daripada janda Julaibib itu.
Ishaq ibnu Abdullah Abu Talhah bertanya kepada Sabit,
"Apakah engkau mengetahui apa yang telah didoakan oleh Rasulullah ﷺ buat wanita itu?"
Sabit menjawab, bahwa Rasulullah ﷺ memanjatkan doa berikut buatnya:
Ya Allah, curahkanlah kepadanya nikmat-Mu sederas-derasnya, dan janganlah engkau jadikan penghidupannya sengsara.
Doa beliau dikabulkan oleh Allah.
Maka tiada seorang janda pun di kalangan Ansar yang lebih dermawan daripada wanita itu.

Al-Hafiz Abu Umar ibnu Abdul Bar telah menyebutkan di dalam kitab Al-Isti’ab, bahwa ketika wanita itu berkata di dalam kemahnya,
"Apakah kalian menolak lamaran Rasulullah ﷺ Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Amir ibnu Mus’ab, dari Tawus yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya dia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang dua rakaat yang dilakukan sesudah salat Asar.
Maka Ibnu Abbas melarangnya (mengerjakannya), dan Ibnu Abbas membacakan firman-Nya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
(QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Ayat ini mengandung makna yang umum mencakup semua urusan, yang garis besarnya menyatakan bahwa apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara, maka seorang pun tidak diperkenankan menentangnya, dan tidak boleh ada pilihan lain atau pendapat lain atau ucapan lain selain dari apa yang telah ditetapkan itu.
Dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah beriman seseorang di antara kalian sebelum kesenangannya mengikuti apa yang disampaikan olehku.

Karena itulah maka diperingatkan dengan keras bagi orang yang menentang hal ini melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.
(QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
(An-Nuur [24]: 63)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 36

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Qatadah bahwa Nabi ﷺ melamar Zainab untuk Zaid (anak angkat beliau), tetapi Zainab mengira bahwa Rasulullah melamar untuk dirinya sendiri.
Ketika Zainab tau bahwa Rasulullah melamar untuk Zaid, ia menolaknya.
Ayat ini (al-Ahzab: 36) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melarang kaum Mukminin menolak ketetapan Rasulnya.
Setelah turun ayat tersebut Zainab pun menerima lamaran itu.

Diriwayatkan oleh oleh Ibnu Jarir dari ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ﷺ melamar Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah, akan tetapi Zainab menolaknya dan berkata dengan sombong: “Keturunanku lebih mulia daripadanya.” Ayat ini (al-Ahzab: 36) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai perintah untuk menerima ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Zaid bahwa ayat ini (al-Ahzab: 36) turun berkenaan dengan Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, seorang wanita pertama yang hijrah ke Madinah, yang menyerahkan dirinya ke Rasulullah ﷺ untuk dinikah.
Nabi ﷺ akan menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah, akan tetapi Ummu Kaltsum dan saudara-saudaranya tidak menyukainya.
Mereka berkata: “Kami menyerahkan diri kepada Rasulullah ﷺ tapi mengapa justru dinikahkan kepada hambanya.”

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

▪ Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
▪ Hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

▪ Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio Murottal

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 36 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 36 - Gambar 2
Statistik QS. 33:36
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
Sending
User Review
4.2 (20 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

33:36, 33 36, 33-36, Surah Al Ahzab 36, Tafsir surat AlAhzab 36, Quran Al-Ahzab 36, Surah Al Ahzab ayat 36

Video Surah

33:36


More Videos

Kandungan Surah Al Ahzab

۞ QS. 33:1 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hukum memohon bantuan orang musyrik • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:2 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 33:3 • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 33:4 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 33:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 33:8 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al Bashir (Maha Melihat) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 33:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 33:12 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:15 • Sifat orang munafik

۞ QS. 33:16 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 33:17 • Kekuasaan Allah • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 33:18 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:19 • Kekuasaan Allah • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:20 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:21 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 33:22 • Allah menepati janji

۞ QS. 33:24 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang munafik

۞ QS. 33:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 33:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 33:27 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 33:29 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:30 • Menyiksa pelaku maksiat • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 33:31 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 33:34 • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus)

۞ QS. 33:35 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Ajakan masuk Islam • Keutamaan iman

۞ QS. 33:36 • Kebaikan pada pilihan Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 33:39 • Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 33:40 • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:43 • Pahala iman • Al Rahim (Maha Penyayang) • Doa malaikat untuk umat muslim • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 33:44 • Pahala iman • Percakapan Allah dengan ahli surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:47 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 33:48 • Al Wakil (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:50 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:51 • Keluasan ilmu Allah • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:52 • Al Raqib (Maha Pengawas)

۞ QS. 33:54 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:55 • Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 33:56 • Doa malaikat untuk umat muslim

۞ QS. 33:57 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:58 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:59 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:60 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:61 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:62 • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 33:63 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Nama-nama hari kiamat • Kiamat telah dekat • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 33:64 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:65 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka •

۞ QS. 33:66 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 33:67 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Siksa orang kafir

۞ QS. 33:68 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 33:70 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 33:71 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Islam menghapus dosa masa lalu • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 33:73 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang kafir

Ayat Pilihan

Hendaklah mereka menahan pandangan, dan kemaluannya,
jangan nampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.
hendaklah menutupkan kain kudung kedadanya,
dan jangan nampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka
QS. An-Nur [24]: 31

Allah menciptakan Adam dari tanah,
kemudian Allah berfirman kepadanya:
“Jadilah” (seorang manusia),
maka jadilah dia.
QS. Ali ‘Imran [3]: 59

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau & main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui.
QS. Al-‘Ankabut [29]: 64

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Correct! Wrong!

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u06c1u0670u0630u064eu0627 u0628u064eu06ccu064eu0627u0646u064c u0644u0651u0650u0644u0646u0651u064eu0627u0633u0650 u0648u064e u06c1u064fu062fu064bu06cc u0648u0651u064e u0645u064eu0648u06e1u0639u0650u0638u064eu06c3u064c u0644u0651u0650u0644u06e1u0645u064fu062au0651u064eu0642u0650u06ccu06e1u0646u064e

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

+

Array

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya …Ilmu yang bermanfaat adalah …Menyampaikan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad kepada orang lain yang belum mengetahui disebut dengan …Berikut ulama yang berasal dari Indonesia adalah …Sesuatu yang dipercaya dan diyakini kebenaranya oleh hati nurani manusia dinamakan …

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Kamus Istilah Islam

Abu Hurairah

Siapa itu Abu Hurairah? Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi , yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah , adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak...

Al-Infitar

Apa itu Al-Infitar? Surah Al-Infitar adalah surah ke-82 dalam al Qur’an. Surah ini terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan setelah surah An-Nazi’at. Al Infit...

Mahmud al-Alusi

Siapa itu Mahmud al-Alusi? Abū al-Thanā ‘Shihāb ad-Dīn Sayyid Maḥmūd ibn’ Abd Allāh al-Ḥusaynī al-Ālūsī al-Baghdādī adalah seorang sarjana Islam Arab yang terkenal karena m...