Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ahzab

Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) surah 33 ayat 35


اِنَّ الۡمُسۡلِمِیۡنَ وَ الۡمُسۡلِمٰتِ وَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡقٰنِتٰتِ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الصّٰدِقٰتِ وَ الصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰبِرٰتِ وَ الۡخٰشِعِیۡنَ وَ الۡخٰشِعٰتِ وَ الۡمُتَصَدِّقِیۡنَ وَ الۡمُتَصَدِّقٰتِ وَ الصَّآئِمِیۡنَ وَ الصّٰٓئِمٰتِ وَ الۡحٰفِظِیۡنَ فُرُوۡجَہُمۡ وَ الۡحٰفِظٰتِ وَ الذّٰکِرِیۡنَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ الذّٰکِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰہُ لَہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
Innal muslimiina wal muslimaati wal mu’miniina wal mu’minaati wal qaanitiina wal qaanitaati wash-shaadiqiina wash-shaadiqaati wash-shaabiriina wash-shaabiraati wal khaasyi’iina wal khaasyi’aati wal mutashaddiqiina wal mutashaddiqaati wash-shaa-imiina wash-shaa-imaati wal haafizhiina furuujahum wal haafizhaati wadz-dzaakiriinallaha katsiiran wadz-dzaakiraati a’addallahu lahum maghfiratan wa-ajran ‘azhiiman;

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
―QS. 33:35
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
33:35, 33 35, 33-35, Al Ahzab 35, AlAhzab 35, Al-Ahzab 35
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 35. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan sifat-sifat hamba-Nya yang akan diampuni segala dosanya dan kesalahannya dan dimasukkan ke dalam surga.
Sifat-sifat mereka itu adalah sepuluh macam:

1.
Taat dan tunduk kepada hukum agama Islam, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.
2.
Membenarkan dan mempercayai ajaran Allah dan Rasul-Nya.
3.
Selalu melaksanakan perintah-perintah agama dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan.
4.
Selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, hal mana menjadi tanda keimanan yang sempurna, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis yang sahih, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda "Peganglah kebenaran, bahwa kebenaran itu membawa kebaikan, dan kebaikan akan membawa surga, dan jauhilah dusta, sebab dusta itu membawa kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka.
5.
Sabar dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam melaksanakan perintah Allah dan menahan syahwat dan hawa nafsu.
6.
Khusyuk dan tawadu kepada Allah baik jasmani maupun rohani dalam melaksanakan semua tugas dan kewajiban dan keikhlasan semata-mata untuk mencari keridaan Allah subhanahu wa ta'ala
7.
Bersedekah dengan harta dan memberi bantuan kepada mereka yang serba kekurangan dan tidak mempunyai penghasilan.
8.
Berpuasa yang dapat membantu menundukkan syahwat hawa nafsu sebagaimana tercantum di dalam hadis, sabda Rasulullah ﷺ: "Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk kawin silahkan kawin, karena perkawinan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu, supaya berpuasa, karena berpuasa itu dapat membendung syahwatnya".
9.
Menjaga kemaluan dari segala perbuatan yang haram dan keji, sesuai dengan firman Allah:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

(Q.S.
Al Mu'minun: 5-7)

10.
Selalu ingat kepada Allah dengan lidah dan hati dan sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Mujahid yang menyatakan, bahwa seorang itu belum dinamakan orang yang banyak mengingati Allah kecuali bila sudah dapat mengingat-Nya sambil berdiri, duduk dan berbaring.
Abu Said Al-Khudri telah meriwayatkan sebuah hadis, sabda Rasulullah ﷺ:

Apabila seorang suami membangunkan seorang istrinya di malam hari lalu mereka salat tahajud.
maka mereka berdua pada malam tersebut termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.

Dalam hadis yang lain dari Sahal bin Muaz Al Juhani dari ayahnya diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

Pejuang-pejuang manakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah?
Nabi ﷺ menjawab: "Yang paling banyak ingatnya kepada Allah.
Lalu ia bertanya lagi: Cara orang yang berpuasa manakah yang paling besar pahalanya?
Nabi ﷺ menjawab: "Yang paling banyak ingat kepada Allah.
Kemudian dia menyebutkan pula orang yang salat, berzakat, naik haji dan bersedekah, dan pada kesemuanya itu Nabi ﷺ mengatakan: Mereka yang paling banyak ingatnya kepada Allah, sehingga Abu Bakar berkata kepada Umar: "Orang yang banyak ingatnya kepada Allah telah membawa semua kebaikan.
Dan Nabi ﷺ menambahkan: "Memang demikianlah.

Al Ahzab (33) ayat 35 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ahzab (33) ayat 35 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ahzab (33) ayat 35 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya kaum lelaki dan wanita yang tunduk, percaya pada Allah dan Rasul-Nya, melakukan ketaatan, jujur dalam perkataan, perbuatan dan niat, tabah dalam menghadapi cobaan dalam berjuang di jalan Allah, merendahkan diri, menyedekahkan sebagian harta bagi orang yang membutuhkan, melakukan puasa wajib dan sunnah, menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang, serta berzikir pada Allah dengan hati dan lisan, niscaya Allah akan memberikan pengampunan bagi segala dosa dan pahala yang besar atas perbuatan baik mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya) (laki-laki dan perempuan yang benar) dalam keimanannya (laki-laki dan perempuan yang sabar) di dalam menjalankan ketaatan (laki-laki yang khusyuk) yang merendahkan diri (dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya) dari hal-hal yang diharamkan (laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan) dari perbuatan-perbuatan maksiat yang pernah mereka lakukan (dan pahala yang besar) bagi amal ketaatan mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya orang-orang yang tunduk pada perintah-perintah Allah, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang membenarkan, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang benar dalam kata-kata dan perbuatan mereka, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang sabar dalam menahan hawa nafsu, sabar di atas ketaatan dan sabar di atas musibah, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang takut kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang bersedakah wajib dan sunnah, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang berpuasa wajib dan sunnah, baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang menjaga kehormatannya dari zina dan mukadimahnya dan tidak membuka auratnya baik laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang banyak mengingat Allah dengan hati dan lisan mereka baik laki-laki maupun perempuan, Allah akan menyiapkan untuk mereka ampunan bagi dosa-dosa mereka dan pahala yang besar, yaitu surga.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Hakim, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Syaibah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ummu Salamah r.a.
(istri Nabi ﷺ) menceritakan hadis berikut.
Ummu Salamah mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi ﷺ, "Mengapa kami kaum wanita tidak pernah disebut-sebut di dalam Al-Qur'an sebagaimana kaum pria disebut-sebut di dalamnya?"
Ummu Salamah mengatakan bahwa ia tidak mendapat jawaban apa pun dari beliau ﷺ terkecuali melalui seruannya di atas mimbar.
Pada suatu hari saat aku sedang menyisir rambut, lalu aku gelungkan rambutku dan keluar dari kamar pribadiku, kemudian kutempelkan telingaku ke bilik.
Tiba-tiba kudengar Rasulullah ﷺ membacakan ayat berikut di atas mimbarnya, seraya bersabda: Hai manusia, sesungguhnya Allah telah menurunkan firman-Nya yang mengatakan, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, " hingga akhir ayat.

Jalur lain.

Imam Nasai telah mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Suwaid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Syarik, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah r.a.
yang menceritakan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Ya Nabi Allah, mengapa saya selalu mendengar hanya laki-laki saja yang disebutkan di dalam Al-Qur'an, sedangkan kaum wanita tidak pernah disebut-sebut?"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin.
(Al Ahzab:35), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui Abu Kuraib, dari Abu Mu'awaiyah, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, bahwa Yahya ibnu Abdur Rahman ibnu Hatib pernah menceritakan sebuah hadis kepadanya dari Ummu Salamah r.a.
yang telah mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, mengapa kaum pria selalu disebut-sebut dalam segala sesuatu, sedangkan kami kaum wanita tidak?"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim.
(Al Ahzab:35), hingga akhir ayat.

Jalur lain.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Ummu Salamah r.a.
pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, mengapa kaum pria selalu disebut-sebut, sedangkan kaum wanita tidak?"
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim.
(Al Ahzab:35), hingga akhir ayat.

Hadis lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Sinan ibnu Muzahir Al-Umari, telah menceritakan kepada kami Abu Kadinah Yahya ibnul Muhallab, dari Qabus ibnu Abu Zabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa kaum wanita pernah bertanya kepada Nabi ﷺ, "Mengapa lelaki mukmin selalu disebut-sebut, sedangkan wanita mukmin tidak pernah disebut-sebut?"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim.
(Al Ahzab:35), hingga akhir ayat.

Telah menceritakan pula kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa'id, dari Qatadah yang menceritakan bahwa kaum wanita masuk menemui istri-istri Nabi ﷺ Maka mereka berkata, "Sesungguhnya Allah telah menyebutkan kalian istri-istri Nabi ﷺ di dalam Al-Qur'an, sedangkan kami tidak pernah disebut-sebut, apakah memang pada kami tidak ada sesuatu yang patut untuk disebut-sebut?"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim.
(Al Ahzab:35), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin.
(Al Ahzab:35)

Ayat ini menunjukkan pengertian bahwa iman itu lain dengan Islam, sebab iman pengertiannya lebih khusus daripada Islam, karena ada firman Allah subhanahu wa ta'ala yang menyebutkan:

Orang-orang Arab Badui itu berkata, "Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), "Kalian belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah Islam (tunduk),' karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (Al Hujuraat:14)

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan melalui salah satu hadisnya yang mengatakan:

Tidaklah seseorang berbuat zina, saat melakukannya dia sedang dalam keadaan beriman.

Seorang pezina saat sedang mengerjakan zina, iman dicabut dari dalam hatinya, tetapi hal ini tidak memastikannya sebagai seorang yang kafir, menurut kesepakatan ulama.
Dan ini menunjukkan bahwa pengertian iman lebih khusus daripada Islam, seperti yang telah kami tetapkan pada permulaan syarah kitab Imam Bukhari.

Firman subhanahu wa ta'ala subhanahu wa ta'ala:

Laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya.
(Al Ahzab:35)

Al-qunut artinya ketaatan yang mapan, seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

(Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?
(Az Zumar:9)

Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi.
Semuanya tunduk hanya kepada-Nya.
(Ar Ruum:26)

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.
(Ali Imran:43)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk (penuh ketaatan).
(Al- Baqarah: 238)

Kesimpulannya ialah sesudah Islam terdapat tingkatan yang lebih tinggi daripadanya, yaitu iman, kemudian baru qunut yang timbul dari manifestasi keduanya.

laki-laki dan perempuan yang benar.
(Al Ahzab:35)

Ini menyangkut pembicaraan (perkataan), karena sesungguhnya benar atau jujur merupakan pekerti yang terpuji.
Sebab itulah sebagian para sahabat di masa lalu, baik di masa Islam maupun di masa Jahiliah, belum pernah sekalipun melakukan perkataan dusta.

Benar dalam berkata merupakan pertanda iman pelakunya, sebagaimana dusta merupakan pertanda kemunafikan pelakunya.
Barang siapa yang berkata benar, niscaya selamat.
Berpegang teguhlah kalian kepada kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran itu menuntun pelakunya kepada .perbuatan kebajikan, dan perbuatan kebajikan itu menuntun pelakunya kepada surga.
Hati-hatilah kalian terhadap kedustaan, karena sesungguhnya dusta itu menuntun pelakunya kepada kedurhakaan, dan sesungguhnya kedurhakaan itu menuntun pelakunya kepada neraka.
Seseorang yang terus-menerus berkata benar dan selalu memihak kepada kebenaran, pada akhirnya ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang benar (siddiq).
Dan seseorang yang terus-menerus berdusta dan selalu memihak kepada kedustaan, pada akhirnya ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.
Demikianlah kata hadis, dan hadis-hadis lainnya yang menunjukkan makna yang sama cukup banyak.

laki-laki dan perempuan yang sabar.
(Al Ahzab:35)

Ini merupakan watak bagi orang-orang yang berhati teguh dan kuat, yaitu sifat sabar dalam menghadapi segala macam musibah dengan penuh kesadaran bahwa apa yang telah ditakdirkan pasti terjadi, lalu ia menanggungnya dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati.
Kesabaran yang sesungguhnya itu hanyalah terletak pada pertama kali tertimpa musibah, kemudian sesudah itu lebih mudah menghadapinya.
Sabar dalam menghadapi tekanan musibah di permulaannya menunjukkan kesabaran dan keteguhan hati watak orang yang bersangkutan.

laki-laki dan perempuan yang khusyuk.
(Al Ahzab:35)

Khusyuk artinya mencakup pengertian tenang, tumaninah, hati-hati, anggun, rendah diri, tahan uji, takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala, serta merasa selalu berada di dalam pengawasan Allah subhanahu wa ta'ala Sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang mengatakan:

Sembahlah Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya.
Dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

laki-laki dan perempuan yang bersedekah.
(Al Ahzab:35)

Sedekah artinya memberikan santunan kepada orang lain yang memerlukan bantuan karena mereka adalah orang-orang yang lemah, tidak mempunyai mata pencaharian, dan tidak pula ada orang yang menjamin mereka.
Mereka diberi dari lebihan harta sebagai amal ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan berbuat kebajikan kepada semua makhluk-Nya.
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan:

Ada tujuh macam orang yang mendapat naungan dari Allah pada hari tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, antara lain ialah seseorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya.

Di dalam hadis lain disebutkan:

Sedekah itu dapat menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.

Hadis-hadis lain yang menganjurkan bersedekah cukup banyak dan memerlukan suatu pembahasan yang tersendiri.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah disebutkan:

Puasa itu adalah zakat badan.

Dengan kata lain, puasa itu membersihkan, menyucikan, dan mensterilkan tubuh dari berbagai macam campuran yang buruk menurut biologis dan hukum syara'.
Sa'id ibnu Jubair telah mengatakan bahwa barang siapa yang puasa bulan Ramadhan dan tiga hari setiap bulannya, maka ia termasuk apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya: laki-laki dan perempuan yang berpuasa.
(Al Ahzab:35)

Puasa juga merupakan sarana yang ampuh untuk meredam nafsu birahi, sebagaimana yang disebutkan oleh sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan:

Hai golongan para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menanggung biaya, hendaklah ia kawin, karena sesungguhnya dengan kawin pandangan mata lebih terkendali dan kemaluan lebih terpelihara.
Dan barang siapa yang tidak mampu mengadakan biayanya, hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu merupakan peredam baginya.

Karena itulah pada firman selanjutnya disebutkan hal yang berkaitan dengannya, yaitu: laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya.
(Al Ahzab:35) Yakni memeliharanya dari hal-hal yang diharamkan dan dosa-dosa, terkecuali terhadap hal-hal yang diperbolehkan.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
(Al-Mu-minun: 5-7)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah.
(Al Ahzab:35)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Jabir, dari Ali ibnul Aqmar, dari Al-Agar Abu Muslim, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Apabila seorang lelaki membangunkan istrinya di malam hari, lalu keduanya melakukan salat dua rakaat, maka keduanya di malam itu termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah.

Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayat­kannya melalui hadis Al-A'masy, dari Al-Agar Abu Muslim, dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Darij, dari Abul Haisam, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a.
yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih utama derajatnya di sisi Allah kelak pada hari kiamat?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.
Abu Sa'id Al-Khudri r.a.
bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apakah juga lebih utama daripada orang yang berjihad di jalan Allah?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Seandainya seorang mujahid memukulkan pedangnya kepada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik hingga pedangnya patah dan berlumuran darah, tentulah orang-orang yang banyak menyebut nama Allah lebih utama darinya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ibrahim, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ dalam perjalanannya menuju ke Mekah sampai di Jamdan.
Ketika sampai di Jamdan beliau bersabda, "Ini adalah Jamdan, teruskanlah perjalanan kalian, sesungguhnya orang-orang yang mengesakan Allah telah mendahului." Para sahabat bertanya, "Siapakah yang di maksud dengan orang-orang yang mengesakan Allah?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah.
Kemudian Nabi ﷺ berdoa: Ya Allah, berikanlah ampunan bagi orang-orang yang mencukur rambutnya.
Para sahabat berkata, "Doakanlah pula bagi orang-orang yang memotong rambutnya." Rasulullah ﷺ berdoa lagi: Ya Allah, berikanlah ampunan bagi orang-orang yang mencukur rambutnya.
Mereka berkata pula, "Doakanlah juga bagi orang-orang yang memotong rambutnya." Rasulullah ﷺ berdoa lagi: dan juga bagi orang-orang yang memotong rambutnya.

Ditinjau dari segi jalurnya hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Ahmad.
Imam Muslim telah meriwayatkannya pula, tetapi tanpa lafaz yang terakhir.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hujain ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abu Salamah, dari Ziyad ibnu Abu Ziyad maula Abdullah ibnu Ayyasy ibnu Abu Rabi'ah yang menceritakan, sesungguhnya ia pernah mendapat sebuah hadis yang bersumber dari Mu'az ibnu Jabal r.a.
yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tidak ada amal apa pun yang dilakukan oleh anak Adam yang lebih menjaminnya selamat dari azab Allah subhanahu wa ta'ala selain dari zikrullah.
Sahabat Mu'az ibnu Jabal r.a.
telah menceritakan pula bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Maukah aku ceritakan kepada kalian amal perbuatan kalian yang paling baik dan paling bersih di sisi Tuhan kalian, dan paling meninggikan derajat kalian serta lebih baik bagi kalian daripada diberi emas dan perak dan lebih baik daripada kalian menjumpai musuh kalian di suatu hari, lalu kalian penggal kepala mereka dan mereka memenggal kepala kalian?"
Para sahabat menjawab, "Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab, "Yaitu banyak menyebut (nama) Allah."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Zaban ibnu Fayid, dari Sahl ibnu Mu'az ibnu Anas Al-Ju'ani, dari ayahnya yang telah menceritakan hadis berikut, bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, mujahid yang manakah yang lebih besar pahalanya?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Orang yang paling banyak menyebut (nama) Allah di antara mereka.
Lelaki itu bertanya lagi, "Orang-orang yang berpuasa manakah yang paling banyak pahalanya?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Orang yang paling banyak menyebut nama Allah di antara mereka." Kemudian lelaki itu menanyakan pula tentang salat dan zakat, haji serta sedekah, yang semuanya dijawab oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya: Orang yang paling banyak menyebut (nama) Allah di antara mereka.
Maka Abu Bakar r.a.
berkata kepada Umar r.a., "Orang-orang yang banyak menyebut nama Allah telah memborong semua kebaikan." Rasulullah ﷺ bersabda menegaskan, "Memang benar"

Mengenai hadis-hadis lainnya yang menyangkut masalah ini akan kami kemukakan nanti dalam tafsir firman Allah subhanahu wa ta'ala yang masih termasuk bagian dari surat ini, yaitu firman-Nya

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
(Al Ahzab:41-42)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka.
(Al Ahzab:35)

Ceritakanlah kepada mereka yang telah disebutkan di atas bahwa sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dari-Nya atas semua dosa mereka dan juga pahala yang besar, yaitu surga.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahzab (33) Ayat 35

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi –menurutnya hadits ini hasan- dari Ikrimah yang bersumber dari Ummu ‘Imarah al-Anshari, bahwa Ummu ‘Imarah al-Anshari (seorang Muslimat) menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Selalu kulihat segala sesuatu yang ada ini hanya untuk laki-laki saja, sedang wanita tidak pernah disebut-sebut.” Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 35) sebagai penegasan bahwa segala sesuatu yang dijanjikan oleh Allah itu untuk laki-laki dan wanita yang Mukmin dan Muslim.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani dengan sanad yang dianggap memadai, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Riwayat yang semakna telah diterangkan dalam hadits yang bersumber dari Ummu Salamah pada surah Ali-Imran ayat 195, bahwa para wanita berkata: “Ya Rasulullah.
Mengapa yang disebut-sebut itu hanya Mukminin saja, sedangkan Mukminat tidak disebut-sebut?” Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 35) yang menegaskan bahwa sebenarnya ampunan dan pahala yang besar itu disediakan bagi laki-laki ataupun wanita.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika istri-istri Rasulullah ﷺ disebut dalam al-Qur’an, berkatalah wanita-wanita: “Jika disediakan kebaikan bagi kita (kaum wanita), tentu akan disebut di dalam al-Qur’an.” Ayat ini (al-Ahzab: 35) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 35

DZAAKIRAAT
لذَّٰكِرَٰت

Lafaz ini dalam bentuk ism fa'il untuk jamak, mu'annats, jamak mudzakkarnya adalah adz dzaakiruun. Mufrad adz dzakirat ialah adz dzakirah dan mufrad adz dzakiruun ialah adz dzakir.

Berasal dari adz dzikr atau dzakarahu-yadzkuruhu yang berarti berbicara, berkata-kata tentangnya, menghadirkannya, mengingat, menghafal, dan sebagainya.

Dzikran ni'mah bermakna menghadirkannya dalam ingatan bersama­an dengan melakukan perkara yang patut dengannya.

Dzikrullah bermakna meng­hadirkannya di dalam hati seiring dengan tadabbur dan diikuti oleh lisan ataupun tidak.

Allah yadzkur 'abdah berarti Allah membalasnya dengan kebaikan dan memujinya di hadapan malaikat.

Di dalam Al Qur'an, lafaz adz dikr memiliki beberapa makna yaitu mengingat di dalam hati yang diikuti dengan tafakkur dan tadabbur, kisah dan percakapan, kitab yang diturunkan oleh Allah, seorang nabi yang membawa peringatan dan kemuliaan.

Lafaz adz dzakiraat disebut sekali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Ahzab (33), ayat 35. Sedangkan lafaz adz dzaakiriin disebut dua kali yaitu dalam surah Hud (11), ayat 114 dan surah Al Ahzab (33), ayat 35. Allah berfirman:

وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Diriwayatkan oleh Abu Sa'id dari Nabi Muhammad beliau berkata,
"Apabila seorang lelaki membangunkan isterinya pada waktu malam, lalu keduanya shalat dua rakaat, maka pada malam itu mereka tergolong dari

وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ

yaitu orang yang banyak mengingati Allah dari lelaki maupun perempuan.

Dari Abu Hurairah katanya, "Pada suatu hari, Rasulullah berjalan-jalan di lorong­ lorong kota Makkah, lalu beliau naik ke atas tanah tinggi yang keras dan berkata,
'Berjalanlah kalian, al mufarradun (orang yang mengasingkan diri) sudah mendahului. Para sahabat bertanya, 'Siapa gerangan al­ mufarraduni Rasulullah berkata,
'Mereka adalah

وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ

lalu beliau berkata,
'Ya Allah, ampunilah orang yang mencukur rambutnya. Mereka berkata,
(Dan orang yang memendekkan rambut' Beliau berkata,
'Ya Allah, berilah ampun­an kepada orang yang mencukur rambut mereka' Mereka berkata,
(Dan orang yang memendekkan (rambut mereka)' Beliau berkata,
(Dan orang yang memendekkan (rambutnya).""

Ada yang berpendapat yang dimaksud­ adz dzaakiriin dan juga adz dzaakiraat adalah orang yang berzikir pada setiap akhir shalat, pagi dan petang, dalam keadaan bangun ataupun ketika hendak tidur.

Mujahid ber­kata, "Tidak dikatakan orang yang 'banyak berzikir kepada Allah' sehingga ia meng­ingatnya dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring"

Berdasarkan riwayat dan pendapat diatas, makna lafaz adz dzakiraat adalah wanita yang tidak lupa mengingat Allah pada setiap waktu.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:238

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali'lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu'min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu'min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.


Gambar Kutipan Surah Al Ahzab Ayat 35 *beta

Surah Al Ahzab Ayat 35



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ahzab

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (29 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku