Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ahzab

Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) surah 33 ayat 33


وَ قَرۡنَ فِیۡ بُیُوۡتِکُنَّ وَ لَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ الۡجَاہِلِیَّۃِ الۡاُوۡلٰی وَ اَقِمۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ اٰتِیۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ اَطِعۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ ؕ اِنَّمَا یُرِیۡدُ اللّٰہُ لِیُذۡہِبَ عَنۡکُمُ الرِّجۡسَ اَہۡلَ الۡبَیۡتِ وَ یُطَہِّرَکُمۡ تَطۡہِیۡرًا
Waqarna fii buyuutikunna walaa tabarrajna tabarrujal jaahilii-yatil aula wa-aqimnash-shalaata wa-atiinazzakaata wa-athi’nallaha warasuulahu innamaa yuriidullahu liyudzhiba ‘ankumurrijsa ahlal baiti wayuthahhirakum tathhiiran;

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
―QS. 33:33
Topik ▪ Sifat-sifat malaikat
33:33, 33 33, 33-33, Al Ahzab 33, AlAhzab 33, Al-Ahzab 33
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 33. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah memerintahkan supaya para istri Nabi tetap berdiam di rumah mereka masing-masing dan jangan ke luar kecuali bila ada keperluan.
Perintah ini berlaku terhadap istri-istri Nabi ﷺ dan ummul mukminat lainnya.
Mereka dilarang memamerkan perhiasannya, dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu sebelum zaman Nabi Muhammad ﷺ.
Perhiasan dan kecantikan seorang istri itu adalah untuk suaminya dan bukan untuk dipamerkan kepada orang lain.
Segala perbuatan yang menjurus ke arah perzinaan atau mendekatkan kepadanya dilarang keras oleh agama Islam sesuai dengan firman Allah:

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk.

(Q.S.
Al Isra': 32)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Masud Nabi ﷺ bersabda:

Sesungguhnya wanita itu adalah aurat.
Jika ia keluar dari rumahnya, maka dia diincar-incar oleh setan, dan ia paling dekat dengan rahmat Allah, jika ia berada di rumahnya.

Setelah mereka dilarang mengerjakan keburukan, mereka diperintahkan mengerjakan kebaikan.
yaitu supaya mereka mendirikan salat yang lima waktu sesuai dengan ketentuan syarat dan rukun-rukunnya dan menunaikan zakat harta bendanya.
Dan telah menjadi kebiasaan, jika disebut salat maka juga selalu digandengkan dengan zakat, sebab keduanya menghasilkan kebersihan diri dan harta.
Hikmah dari keduanya supaya tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena hal itu adalah pelaksanaan dari isi dua kalimat syahadat yang menjadi jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan sebab dikeluarkannya perintah itu, ialah karena Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa-dosa dari mereka disertai panggilan: "Hai ahlul bait, yaitu semua keluarga rumah tangga Rasulullah, dan karena Allah bermaksud akan membersihkan mereka dari kekotoran kefasikan dan kemunafikan yang biasa menempel kepada orang yang berdosa.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala akan membersihkan mereka sebersih-bersihnya.
Dan Abdullah bin Abbas dalam rangka menerangkan siapa yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat ini meriwayatkan demikian dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu `Abbas "Kami menyaksikan Rasulullah ﷺ selama sembilan bulan, beliau datang ke rumah Ali bin Abu Talib pada tiap waktu salat, beliau mengucapkan Assalamu'alaikum wr.
wb.
"Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".
Salat itu adalah lima kali dalam sehari",
semoga Allah memberi rahmat kepadamu.

Al Ahzab (33) ayat 33 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ahzab (33) ayat 33 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ahzab (33) ayat 33 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tetaplah berada di rumah.
Jangan meninggalkan tempat tinggal kecuali jika ada kepentingan yang dibenarkan oleh Allah yang mengharuskan kalian keluar rumah.
Jangan memperlihatkan keindahan dan perhiasan kalian kepada kaum lelaki jika kalian berada di luar, seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Jahiliah dahulu.
Laksanakan salat dengan sempurna, tunaikan zakat, laksanakan segala perintah Allah dan Rasul serta tinggalkan segala yang dilarang.
Dengan perintah dan larangan itu Allah bermaksud memberikan kehormatan dan kemuliaan kepada kalian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan hendaklah kalian tetap) dapat dibaca Qirna dan Qarna (di rumah kalian) lafal Qarna pada asalnya adalah Aqrarna atau Aqrirna, yang diambil dari kata Qararta atau Qarirta.
Kemudian harakat Ra dipindahkan kepada Qaf, selanjutnya huruf Ra dan hamzah Washalnya dibuang sehingga jadilah, Qarna atau Qirna (dan janganlah kalian berhias) asalnya berbunyi Tatabarrajna kemudian salah satu huruf Ta dibuang sehingga jadilah Tabarrajna (sebagaimana orang-orang jahiliah yang dahulu) sebagaimana berhiasnya orang-orang sebelum Islam, yaitu kaum wanita selalu menampakkan kecantikan mereka kepada kaum lelaki.
Adapun yang diperbolehkan oleh Islam adalah sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya, "..
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak daripadanya." (Q.S.
An-Nur, 31).
(dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian) yakni dosa-dosa, hai (ahlul bait) yakni istri-istri Nabi ﷺ (dan membersihkan kalian) daripada dosa-dosa itu (sebersih-bersihnya.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tetaplah kalian di rumah kalian, jangan meninggalkannya kecuali bila ada hajat.
Jangan memperlihatkan kecantikan kalian, seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita jahiliyah pertama di zaman-zaman yang telah berlalu sebelum Islam.
Ini adalah pembicaraan kepada seluruh wanita Mukmin di setiap masa.
Tegakkanlah (wahai istri-istri Nabi) shalat dengan sempurna pada waktunya, berikanlah zakat sebagaimana yang Allah syariatkan, taatilah Allah dan Rasul-Nya dalam perintah dan larangan keduanya.
Allah mewasiatkan hal itu untuk kalian karena Dia hendak membersihkan kalian dan menjauhkan kalian dari keburukan dan gangguan (wahai ahli bait Nabi) (termasuk dalam hal ini adalah istri-istri beliau dan anak keturunan beliau), dan menyucikan jiwa kalian sesuci-sucinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.
(Al Ahzab:33)

Maksudnya, diamlah kamu di rumahmu dan janganlah keluar rumah kecuali karena suatu keperluan.
Termasuk keperluan yang diakui oleh syariat ialah menunaikan salat berjamaah di masjid berikut semua persyaratan­nya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:

Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah dari masjid-masjid-Nya, dan hendaklah mereka keluar dalam keadaan berpakaian yang tertutup rapi.
Menurut riwayat lain disebutkan: Tetapi rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Abu Raja Al-Kalbi alias Rauh ibnul Musayyab seorang yang siqah, telah men­ceritakan kepada kami Sabit Al-Bannani, dari Anas r.a.
yang mengatakan bahwa kaum wanita datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, kaum lelaki pergi dengan memborong keutamaan dan pahala berjihad di jalan Allah, sedangkan kami kaum wanita tidak mempunyai amal yang dapat menandingi amal kaum Mujahidin di jalan Allah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa di antara kalian (kaum wanita) yang duduk —atau kalimat yang semakna— di dalam rumahnya, maka sesungguhnya dia dapat memperoleh amal yang sebanding dengan amal kaum Mujahid di jalan Allah.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan, "Kami tidak mengetahui ada seseorang yang meriwayatkan hadis ini melalui Sabit Al-Bannani selain Rauh ibnul Musayyab, dia adalah seorang lelaki dari kalangan ulama Basrah yang cukup terkenal."

Al-Bazzar mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Muwarraq, dari Abdul Ahwas, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya (tubuh) wanita itu adalah aurat.
Maka apabila wanita itu keluar, setan datang menyambutnya.
Dan tempat yang paling dekat bagi wanita kepada rahmat Tuhannya ialah bila ia berada di dalam rumahnya.

Al-Bazzar telah meriwayatkannya pula berikut sanad seperti sebelumnya —demikian juga Imam Abu Daud— bersumber dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Salat wanita di dalam tempat tidurnya lebih baik daripada salatnya di dalam rumahnya, dan salatnya di dalam rumahnya lebih baik daripada salatnya di dalam kamarnya.

Sanad hadis ini jayyid (baik).

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu.
(Al Ahzab:33)

Mujahid mengatakan bahwa dahulu di masa Jahiliah wanita bila keluar berjalan di depan kaum pria, maka itulah yang dinamakan tingkah laku Jahiliah.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu.
(Al Ahzab:33) Yakni bila kalian keluar dari rumah.
Dahulu wanita bila berjalan berlenggak-lenggok dengan langkah yang manja dan memikat, lalu Allah subhanahu wa ta'ala melarang hal tersebut.

Muqatil telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu.
(Al Ahzab:33) At-Tabarruj artinya mengenakan kain kerudung tanpa mengikatnya, kalau diikat dapat menutupi kalung dan anting-antingnya serta lehernya.
Jika tidak diikat, maka semuanya itu dapat kelihatan, yang demikian itulah yang dinamakan tabarruj.
Kemudian khitab larangan ini berlaku menyeluruh buat semua kaum wanita mukmin.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Zuhair, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abul Furat, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
Disebutkan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu.
(Al Ahzab:33) Ibnu Abbas mengatakan bahwa munculnya tabarruj adalah di masa antara masa Nabi Nuh dan Nabi Idris, lamanya kurang lebih seribu tahun, itulah permulaannya.

Sesungguhnya salah satu dari dua kabilah keturunan Adam bertempat tinggal di daerah dataran rendah, sedangkan yang lainnya tinggal di daerah perbukitan.
Tersebutlah bahwa kaum pria orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan terkenal dengan ketampanannya, sedangkan kaum wanitanya tidak cantik.
Lain halnya dengan mereka yang tinggal di daerah perbukitan, kaum prianya bertampang jelek-jelek, sedangkan kaum wanitanya cantik-cantik.

Lalu Iblis la'natull'ah mendatangi seorang lelaki dari kalangan penduduk dataran rendah dalam rupa seorang pelayan, lalu ia menawarkan jasa pelayanan kepadanya, akhirnya si iblis menjadi pelayan lelaki itu.
Kemudian iblis membuat suatu alat musik yang semisal dengan apa yang biasa dipakai oleh para penggembala.
Alat tersebut dapat mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat merdu dan belum pernah orang-orang di masa itu mendengarkan suara seindah itu.
Ketika suara musik iblis itu sampai terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, maka berdatanganlah mereka untuk mendengarkan suara musiknya.
Lalu mereka membuat suatu hari raya setiap tahunnya, yang pada hari itu mereka berkumpul.
Pada saat itu kaum wanita mereka menampakkan dirinya kepada kaum prianya dengan memakai perhiasan dan tingkah laku Jahiliah.

Begitu pula sebaliknya, kaum pria mereka berhias diri untuk kaum wanitanya pada hari raya itu.
Lalu ada seorang lelaki dari kalangan penduduk daerah pegunungan mendatangi hari raya mereka itu, dan ia melihat kaum wanita daerah dataran rendah cantik-cantik.
Ia mem­beritahukan hal itu kepada teman-temannya di daerah pegunungan.
Akhirnya mereka turun dari gunung dan bergaul dengan wanita daerah dataran rendah.
Maka timbullah fahisyah (perbuatan zina) di kalangan mereka.
Hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu.
(Al Ahzab:33)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.
(Al Ahzab:33)

Pada mulanya Allah mencegah mereka dari perbuatan yang buruk, kemudian memerintahkan mereka kepada kebaikan seperti mendirikan salat —yang artinya menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya— dan menunaikan zakat —yang artinya berbuat baik kepada makhluk—.

dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.
(Al Ahzab:33)

Ini termasuk ke dalam Bab '"Atful 'Aam 'Alal Khas"

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al Ahzab:33)

Teks ayat ini dengan jelas memasukkan istri-istri Nabi ﷺ ke dalam pengertian ahlul bait, karena merekalah yang menjadi latar belakang turunnya ayat ini.
Subjek yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat sudah jelas termasuk di dalamnya sebagai suatu hal yang tak dapat dipungkiri lagi, tetapi pengertiannya adakalanya menyangkut subjek belaka, atau beserta yang lainnya menurut pendapat yang sahih.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ikrimah, bahwa ia pernah berseru di pasar sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al Ahzab:33) bahwa ayat ini secara khusus diturunkan berkenaan dengan istri-istri Nabi ﷺ

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Harb Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Waqid, dari Yazid An-Nahwi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait.
(Al Ahzab:33) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan istri-istri Nabi ﷺ secara khusus.

Ikrimah mengatakan, "Barang siapa yang ingin ber-mubahalah (bersumpah) denganku, aku layani.
Sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan istri-istri Nabi ﷺ dengan pengertian bahwa merekalah yang melatarbelakangi turunnya ayat ini, bukan yang lainnya, maka pendapatnya itu dapat dibenarkan.
Tetapi jika makna yang dimaksudnya hanya menyangkut diri mereka tanpa melibatkan lainnya, maka pendapatnya ini masih perlu diteliti.
Karena sesungguhnya banyak hadis yang menyebutkan bahwa makna yang dimaksud dari ayat ini lebih umum daripada apa yang dikatakannya itu."

Hadis pertama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Anas ibnu Malik r.a.
yang telah mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ selalu melewati pintu rumah Fatimah r.a.
selama enam bulan bila keluar menuju masjid untuk menunaikan salat Subuh seraya mengatakan: Salat, hai Ahlul Bait.
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Imam Turmuzi meriwayatkan melalui Abdu ibnu Humaid, dari Affan dengan sanad yang sama, dan ia mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mus'ab, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, telah menceritakan kepada kami Syaddad Abi Ammar yang telah menceritakan bahwa ia masuk ke dalam rumah Wasilah ibnul Asqa' r.a.
yang pada saat itu ia sedang berbicara dengan suatu kaum.
Lalu mereka menceritakan perihal Ali r.a.
Ternyata mereka mencacinya, lalu ia ikut mencacinya pula mengikuti mereka.
Setelah mereka bubar meninggalkan Wasilah, lalu Wasilah bertanya kepadaku (perawi), "Mengapa engkau ikut mencaci Ali?"
Aku menjawab, "Aku lihat mereka mencacinya, maka aku ikut mencacinya bersama mereka." Wasilah bertanya, "Maukah aku ceritakan kepadamu apa yang pernah kulihat dari Rasulullah ﷺ?"
Aku menjawab, "Tentu saja aku mau." Wasilah menceritakan pengalamannya, bahwa ia pernah datang kepada Fatimah r.a.
menanyakan sahabat Ali r.a.
Fatimah menjawab bahwa Ali sedang pergi menemui Rasulullah ﷺ Aku (perawi) menunggunya hingga Rasulullah ﷺ datang dengan ditemani oleh Ali, Hasan, dan Husain radiyallahu 'anhum, masing-masing dari mereka saling berpegangan tangan.
Kemudian Rasulullah ﷺ masuk dan mendekatkan Ali dan Fatimah, lalu mendudukkan keduanya di hadapannya.
Beliau memangku Hasan dan Husain, masing-masing pada salah satu pahanya.
Sesudah itu beliau ﷺ melilitkan kain atau jubahnya kepada mereka dan membaca ayat berikut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al Ahzab:33) Lalu beliau ﷺ berkata dalam doanya: Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku (keluargaku), dan ahli baitku lebih berhak.

Abu Ja'far ibnu Jarir telah meriwayatkannya dari Abdul Karim ibnu Abu Umair, dari Al-Walid ibnu Muslim, dari Abu Amr Al-Auza'i berikut sanadnya yang semisal, tetapi dalam riwayat ini ditambahkan bahwa Wasilah bertanya, "Wahai Rasulullah, semoga Allah melimpahkan salawat-Nya kepadamu.
Bagaimanakah dengan diriku, apakah termasuk ahli baitmu?"
Rasulullah ﷺ bersabda:

Dan engkaupun termasuk ahli baitku.

Wasilah berkata, "Sesungguhnya hal ini merupakan apa yang selama ini aku dambakan dan kuharap-harapkan."

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula dari Abdul Ala ibnu Wasil, dari Al-Fadl ibnu Dakin, dari Abdus Salam ibnu Harb, dari Kalsum Al-Muharibi, dari Syaddad ibnu Abu Ammar yang telah menceritakan bahwa pada suatu hari ia duduk di hadapan Wasilah ibnul Asqa' ketika mereka sedang memperbincangkan sahabat Ali r.a., lalu mereka mencaci Ali.
Setelah mereka pergi, Wasilah berkata kepadanya, memerintah­kannya untuk duduk dan jangan pergi sebelum mendengar cerita tentang orang (Ali) yang baru saja mereka caci.
Wasilah ibnul Asqa' menceritakan, pada suatu hari ia berada di rumah Rasulullah ﷺ Tiba-tiba datanglah Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain radiyallahu 'anhum.
Lalu Rasulullah ﷺ menutupi mereka dengan kain jubahnya dan berdoa: Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku.
Ya Allah, lenyapkanlah dosa-dosa dari mereka dan bersihkanlah diri mereka sebersih-bersihnya.
Aku (Wasilah) bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah denganku?"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Engkau juga (termasuk ahli baitku)" Wasilah ibnul Asqa' mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya hal ini merupakan amal yang paling kujadikan pegangan bagiku."

Hadis lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Zurbi, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, dari Ummu Salamah r.a.
yang menceritakan bahwa Fatimah r.a.
datang menemui Rasulullah ﷺ dengan membawa kiriman makanan yang diletakkannya di atas sebuah baki, lalu ia meletakkan makanan itu di hadapan Nabi ﷺ Maka beliau ﷺ bertanya, "Di manakah anak pamanmu (maksudnya Ali) dan kedua putramu?"
Fatimah r.a menjawab, "Di rumah." Nabi ﷺ bersabda, "Panggillah mereka." Fatimah datang menjumpai Ali dan berkata, "Engkau dan kedua putramu dipanggil oleh Rasulullah." Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa ketika Nabi ﷺ melihat mereka datang, beliau menggelar kain kisa yang ada di atas peraduannya, lalu mempersilahkan mereka duduk di atasnya.
Setelah itu beliau mengambil keempat ujung kain itu dan menyatukannya di atas kepala mereka.
Kain itu dipegangnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia tengadahkan ke arah langit seraya berdoa: Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku, maka lenyapkanlah dosa-dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.

Jalur lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdul Quddus, dari Al-A'masy, dari Hakim ibnu Sa'd yang telah menceritakan bahwa kami memperbincangkan perihal Ali ibnu Abu Talib r.a.
di rumah Ummu Salamah r.a.
Maka Ummu Salamah berkata bahwa ayat berikut diturunkan di rumahnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al Ahzab:33) Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah ﷺ datang ke rumahnya, lalu bersabda, "Janganlah engkau beri izin seseorang pun masuk menemuiku." Dan datanglah Fatimah r.a.
sehingga aku tidak mampu mencegahnya untuk menemui ayahnya sendiri.
Kemudian datang pula Al-Hasan r.a., dan aku tidak mampu mencegahnya untuk menemui kakek dan ibunya.
Lalu datanglah Al-Husain, aku pun tidak mampu menghalang-halanginya untuk menemui kakek dan ibunya.
Terakhir datanglah Ali r.a., dan aku tidak mampu menghalang-halanginya untuk masuk.
Akhirnya mereka berkumpul bersama Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ menghormati mereka dengan mempersilakan mereka duduk di atas hamparan kain kisanya, lalu beliau ﷺ berdoa: Mereka ini adalah ahli baitku, maka lenyapkanlah dosa-dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.
Lalu turunlah ayat ini, yaitu Al-Ahzab ayat 33, saat mereka berkumpul di atas kain yang dihamparkan oleh Nabi ﷺ itu.
Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan diriku?' Ummu Salamah berkata lagi, "Demi Allah, aku merasa tidak enak." Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya engkau berada dalam kebaikan."

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Abul Ma'dal, dari Atiyyah At-Tafawi, dari ayahnya yang telah menceritakan, sesungguhnya Ummu Salamah pernah bercerita kepadanya bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada di rumahnya pada suatu hari, tiba-tiba pelayan rumah berkata, "Sesungguhnya Fatimah dan Ali berada di depan pintu rumah." Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Berdirilah kamu dan menjauhlah dari ahli baitku." Maka aku bangkit dan menjauh dengan duduk di suatu sudut di dalam rumahku.
Lalu masuklah Ali, Fatimah, disertai oleh Al-Hasan dan Al-Husain radiyallahu 'anhum yang saat itu keduanya masih kecil-kecil.
Maka Nabi ﷺ mengambil kedua anak itu, meletakkan keduanya di pangkuannya serta menciuminya.
Nabi ﷺ memeluk Ali r.a.
dengan salah satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain memeluk Fatimah r.a.
Nabi ﷺ mencium Fatimah dan Ali, kemudian mengerudungi mereka dengan kain berwarna hitam dan berdoa: Ya Allah, kembalikanlah kepada-Mu bukan ke neraka, aku dan ahli baitku ini.
Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah denganku?' Nabi ﷺ bersabda, "Juga kamu."

Jalur lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Atiyyah, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Marruq, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id, dari Ummu Salamah r.a.
yang telah menceritakan bahwa ayat ini diturunkan di rumahnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al Ahzab:33) Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa saat itu ia duduk di dekat pintu rumah, lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah aku juga termasuk ahli baitmu?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Sesungguhnya engkau berada dalam kebaikan, engkau termasuk salah seorang dari istri-istri Nabi ﷺ Ummu Salamah menceritakan bahwa di dalam rumah itu terdapat Rasulullah ﷺ, Ali, Fatimah, Al-Hasan, dan Al-Husain radiyallahu 'anhum.

Jalur lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Makhlad, telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Ya'qub, telah menceritakan kepadaku Hasyim ibnu Hasyim ibnu Atabah ibnu Abu Waqqas, dari Abdullah ibnu Wahb ibnu Zam'ah yang mengatakan bahwa Ummu Salamah pernah bercerita kepadanya, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengumpulkan Ali, Fatimah, Al-Hasan, dan Al-Husain radiyallahu 'anhum.
Lalu memasukkan mereka di bawah kain bajunya, kemudian beliau ﷺ berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala Sesudah itu beliau bersabda: 'Mereka inilah ahli baitku'.
Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berkata meminta, "Wahai Rasulullah, masukkanlah diriku bersama mereka." Rasulullah ﷺ bersabda: Engkau termasuk salah seorang ahli baitku.

Hadis lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, dari Zakaria, dari Mus'ab ibnu Syaibah, dari Safiyyah binti Syaibah yang menceritakan bahwa Siti Aisyah r.a.
pernah bercerita, "Di suatu pagi hari Rasulullah ﷺ keluar dengari mengenakan kain mirt berwarna hitam yang terbuat dari bulu domba.
Kemudian datanglah Al-Hasan r.a., maka beliau membawanya masuk, lalu datang pula Al-Husain r.a.
dan beliau membawanya masuk.
Kemudian datanglah Fatimah r.a., maka beliau membawanya masuk.
Lalu datanglah Ali r.a., maka beliau membawanya masuk pula.
Setelah itu beliau membaca firman-Nya: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al Ahzab:33)

Imam Muslim meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Muhammad ibnu Bisyr dengan sanad yang sama.

Jalur lain.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnu Yunus Abul Haris, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yazid, dari Al-Awwam (yakni Ibnu Hausyab r.a.), dari salah seorang anak pamannya yang telah menceritakan bahwa ia masuk bersama ayahnya menemui Siti Aisyah r.a., lalu bertanya tentang Ali r.a.
kepadanya.
Maka Siti Aisyah menjawab, "Engkau bertanya kepadaku tentang seorang lelaki yang paling disukai oleh Rasulullah ﷺ Istrinya adalah putri beliau dan paling dicintai olehnya?." Siti Aisyah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa sesungguhnya ia pernah melihat Rasulullah ﷺ mengundang Ali, Fatimah, Al-Hasan, dan Al-Husain radiyallahu 'anhum, lalu beliau menutupi mereka dengan kainnya dan berdoa: Ya Allah, mereka adalah ahli baitku, maka lenyapkanlah dosa-dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.
Siti Aisyah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia mendekati mereka dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku pun termasuk ahli baitmu." Rasulullah ﷺ bersabda: Menjauhlah engkau, sesungguhnya engkau berada dalam kebaikan.

Hadis lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Yahya ibnu Zaban Al-Anazi, telah menceritakan kepada kami Mindal, dari Al-A'masy, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id r.a.
yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ayat ini diturunkan berkenaan dengan lima orang, diriku, Ali, Hasan, Husain, dan Fatimah, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab:33)

Dalam keterangan yang lalu telah disebutkan bahwa Fudail ibnu Marzuq meriwayatkannya dari Atiyyah, dari Abu Sa'id, dari Ummu Salamah r.a.
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya secara mauquf melalui hadis Harun ibnu Sa'd Al-Ajali, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id r.a.
Hanya Allah­lah Yang Maha Mengetahui.

Hadis lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Hanafi, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnu Mismar yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Amir ibnu Sa'd r.a.
menceritakan bahwa Sa'd r.a.
pernah mengatakan, "Ketika diturunkan kepada Rasulullah ﷺ suatu wahyu, maka beliau merangkul Ali, Fatimah r.a.
dan kedua putranya, lalu memasukkan mereka ke balik baju jubahnya, kemudian berdoa: Ya Tuhanku, mereka inilah keluargaku dan ahli baitku.

Hadis lain.

Imam Muslim telah mengatakan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepadaku Zuhair ibnu Harb dan Syuja' ibnu Makhlad, dari Ibnu Ulayyah.
Zuhair mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Hibban yang menceritakan bahwa ia dan Husain ibnu.
Sirah serta Amr ibnu Salamah berangkat menuju ke rumah Zaid ibnu Arqam r.a.
Setelah mereka duduk di majelisnya, Husain berkata membuka pembicaraan, "Hai Yazid, sesungguhnya engkau telah menjumpai banyak kebaikan, engkau telah melihat Rasulullah dan mendengar hadisnya, berperang bersamanya, dan salat di belakangnya.
Sesungguhnya engkau, hai Zaid, telah menjumpai banyak kebaikan.
Ceritakanlah kepada kami, hai Zaid, apa yang telah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ Zaid ibnu Arqam menjawab, "Hai anak saudaraku, demi Allah, sesungguhnya usiaku telah lanjut dan masa itu telah berlalu cukup lama sehingga aku lupa akan sebagian dari yang pernah kudengar dari Rasulullah ﷺ Maka apa yang kuceritakan kepada kalian, terimalah apa adanya, dan yang tidak kuceritakan kepada kalian janganlah kalian memaksakan diriku untuk menceritakannya." Kemudian Zaid ibnu Arqam r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ berdiri di antara kami di suatu tempat yang ada mata airnya yang dikenal dengan nama Khum, terletak di antara Mekkah dan Madinah, lalu beliau berkhotbah.
Pada mulanya beliau memanjatkan puja dan puji kepada Allah subhanahu wa ta'ala, lalu memberi nasihat dan peringatan, sesudah itu beliau bersabda: "Amma ba'du.
Ingatlah, hai manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia yang sudah dekat masanya akan kedatangan utusan Tuhanku (maut), lalu aku memperkenan­kannya.
Dan aku akan menitipkan kepada kalian dua tugas berat, yang pertama adalah Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka amalkanlah Kitabullah dan berpegang teguhlah kalian kepadanya.
Rasulullah ﷺ menekankan agar berpegang teguh kepada Kitabullah dan menganjurkan mereka untuk mengamalkannya, setelah itu beliau melanjutkan sabdanya: Dan ahli baitku, aku peringatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku peringatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.
Sebanyak tiga kali.
Maka Husain bertanya kepada Zaid ibnu Arqam, "Hai Zaid, siapakah yang termasuk ahli bait Nabi ﷺ itu?
Bukankah istri-istri beliau termasuk ahli baitnya?"
Zaid ibnu Arqam menjawab, "Istri-istri beliau termasuk ahli baitnya, tetapi yang dimaksud dengan ahli bait yang sesungguhnya ialah orang-orang yang tidak boleh menerima harta zakat sesudah beliau tiada." Husain bertanya, "Lalu siapakah mereka secara jelasnya?"
Zaid ibnu Arqam menjawab, "Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far, dan keluarga Al-Abbas radiyallahu 'anhum.” Husain kembali bertanya menegaskan, "Mereka semua adalah orang-orang yang haram menerima zakat sesudah Nabi ﷺ tiada?"
Zaid ibnu Arqam menjawab, "Ya."

Kemudian Imam Muslim meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Ar-Rayyan, dari Hassan ibnu Ibrahim, dari Sa'id ibnu Masruq, dari Yazid ibnu Hibban, dari Zaid ibnu Arqam r.a.
lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.
Hanya dalam riwayat ini disebutkan bahwa Husain bertanya kepada Zaid ibnu Arqam, "Bukankah istri-istri beliau termasuk ahli baitnya?"
Zaid ibnu Arqam menjawab:

Tidak, demi Allah, sesungguhnya seorang wanita itu di suatu masa menjadi istri seseorang lelaki, kemudian lelaki itu menceraikannya dan ia kembali kepada ayahnya serta kaumnya.
Ahli baitnya ialah orang tuanya dan para asabahnya yang haram menerima zakat sesudah beliau ﷺ tiada.

Demikianlah menurut riwayat ini, tetapi riwayat yang sebelumnya lebih utama untuk dijadikan sebagai pegangan.

Sedangkan riwayat yang kedua ini (yakni yang terakhir) mengandung pengertian sebagai tafsir makna ahli bait yang disebutkan di dalam sebuah hadis lainnya yang menyatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan keluarga beliau ﷺ adalah orang-orang yang tidak boleh menerima zakat.
Atau makna yang dimaksud dengan ahli bait bukanlah terbatas hanya pada istri-istri beliau ﷺ saja, bahkan pengertiannya lebih umum daripada itu.

Hipotesis ini juga merupakan pengertian gabungan antara riwayat ini dan riwayat-riwayat sebelumnya, sebagai suatu interpretasi yang paling dapat diandalkan untuk dijadikan rujukan.
Interpretasi ini pun menggabungkan antara pengertian riwayat ini dan nas Al-Qur'an serta hadis-hadis lainnya yang terdahulu, jika memang sanadnya sahih, mengingat pada sebagian sanad-sanadnya masih ada hal-hal yang perlu diteliti kembali.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian termasuk hal yang tidak diragukan lagi bagi orang yang merenungkannya ialah bahwa istri-istri Nabi ﷺ sudah jelas termasuk ke dalam makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al Ahzab:33)

Karena sesungguhnya konteks pembicaraan ayat berkaitan dengan mereka, mengingat sesudahnya disebutkan oleh firman selanjutnya:

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu).
(Al Ahzab:34)

Artinya, ketahuilah apa yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala kepada Rasul-Nya di dalam rumah kalian berupa Al-Qur'an dan sunnah.
Demikianlah menurut Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Ingatlah akan nikmat yang telah dikhususkan Allah bagi kalian di antara semua manusia.
Yaitu bahwa wahyu ada yang diturunkan di rumah-rumah kalian, bukan rumah orang lain.
Dan Siti Aisyah r.a.
As-Siddiqah binti As-Siddiq r.a.
adalah istri Nabi ﷺ yang paling utama mendapat nikmat ini, paling beruntung, serta paling khusus di antara istri-istri beliau yang lainnya dalam mendapatkan rahmat yang berlimpah ini.
Karena sesungguhnya belum pernah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ suatu wahyu pun di atas tempat tidur seorang istri selain dari tempat tidur Siti Aisyah r.a., sebagaimana yang pernah disebutkan oleh sabda Nabi ﷺ yang menceritakan hal tersebut.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ belum pernah kawin dengan seorang perawan selain dari Siti Aisyah r.a.
dan belum pernah ada seorang lelaki yang tidur bersama Aisyah di tempat tidurnya selain hanya Rasulullah ﷺ Maka sesuailah bila ia secara khusus mendapatkan keistimewaan ini dan memborong sendirian kedudukan yang tinggi ini.

Tetapi apabila istri-istri beliau ﷺ termasuk ahli baitnya, berarti keluarga beliau sendiri (yakni kerabat beliau) lebih berhak untuk mendapat julukan ahlul bait.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis terdahulu yang menyebutkan: Dan ahli baitku (kerabatku) lebih berhak.

Hal ini mirip dengan apa yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim, bahwa ketika Rasulullah ﷺ ditanya mengenai masjid yang dibangun di atas landasan ketakwaan sejak awal pembangunannya, lalu beliau bersabda:

Masjid itu adalah masjidku ini.

Pengertian hadis di atas sama dengan hadis ini, karena sesungguhnya ayat yang diturunkan berkenaan dengannya adalah menyangkut masjid Quba, sebagaimana yang disebutkan oleh banyak hadis lainnya.
Tetapi jika masjid Quba tersebut didirikan atas landasan takwa sejak awal pembuatannya, maka masjid Rasulullah ﷺ di Madinah lebih berhak untuk mendapat julukan tersebut.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Husain ibnu Abdur Rahman, dari Abu Jamilah yang telah mengatakan bahwa sesungguhnya Al-Hasan ibnu Ali r.a.
diangkat menjadi khalifah di saat Khalifah Ali r.a.
mati terbunuh.
Ketika Al-Hasan sedang salat, tiba-tiba ada seorang lelaki melompatinya dan menusuknya dengan pisau belati.
Husain mengira bahwa ia pernah mendapat berita bahwa orang yang menusuk Al-Hasan itu adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Asad.
Saat kejadian itu Hasan r.a.
sedang sujud dalam salatnya.
Mereka mengira bahwa tusukan itu mengenai salah satu sisi pantatnya sehingga ia sakit karena luka itu selama beberapa bulan.
Setelah sembuh Al-Hasan duduk di atas mimbarnya, lalu berkata: "Hai penduduk Irak, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap kami, karena sesungguhnya kami adalah pemimpin kalian dan tamu kalian.
Kami adalah ahli bait yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya: 'Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya' (Al Ahzab:33)." Abu Jamilah melanjutkan kisahnya, bahwa Al-Hasan terus menerus mengucapkan ayat tersebut sehingga tiada seorang pun yang hadir di masjid itu melainkan tersedu-sedu menangis.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abud Dailam yang menceritakan bahwa Ali ibnul Husain pernah berkata kepada seorang lelaki penduduk negeri Syam, "Tidakkah engkau pernah membaca suatu ayat dalam surat Al-Ahzab, yaitu firman-Nya: 'Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
' (Al Ahzab:33)." Lelaki itu menjawab, "Ya, pernah, dan kalianlah yang dimaksudkan oleh ayat ini." Ali ibnul Husain berkata, "Memang benar."

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 33

AHLAL BAIT
أَهْلَ ٱلْبَيْت

Kata ahl sinonim dengan perkataan ashab yang bermaksud pemilik, empunya dan ahli. Sedangkan kata al bait dari segi bahasa mempunyai berbagai maksud yaitu bait-bait syair, perkawinan atau rumah. Apabila dicantumkan kata ahl dengan al bait, ia memberi dua makna, yaitu anggota keluarga dan ahli rumah yaitu keluarga Rasulullah.

Kata ahlal bait disebut sebanyak tiga kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah :
- Al Ahzab (33), ayat 33;
- Al Qashash (28), ayat 12
- Hud (11), ayat 73.

Dari segi istilah, ahlal bait adalah nama yang digunakan untuk ahli keluarga Nabi Muhammad untuk membedakan mereka dari kaum Muhajirin dan Anshar. Sedangkan golongan 'aliwiyyin' menafsirkan ahlal­ bait sebagai Ali, Fatimah dan keturunannya.

Kesimpulannya, penggunaan istilah ahlal bait di dalam Al Qur'an merujuk kepada keluarga Nabi Muhammad.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:27-28

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali'lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu'min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu'min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.


Gambar Kutipan Surah Al Ahzab Ayat 33 *beta

Surah Al Ahzab Ayat 33



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ahzab

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (27 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku