Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) – surah 33 ayat 28 [QS. 33:28]

یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ قُلۡ لِّاَزۡوَاجِکَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتَہَا فَتَعَالَیۡنَ اُمَتِّعۡکُنَّ وَ اُسَرِّحۡکُنَّ سَرَاحًا جَمِیۡلًا
Yaa ai-yuhaannabii-yu qul azwaajika in kuntunna turidnal hayaataddunyaa waziinatahaa fata’aalaina umatti’kunna wa-usarrihkunna saraahan jamiilaa;
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu,
“Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
―QS. Al Ahzab [33]: 28

Daftar isi

O Prophet, say to your wives,
"If you should desire the worldly life and its adornment, then come, I will provide for you and give you a gracious release.
― Chapter 33. Surah Al Ahzab [verse 28]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O Prophet! *[meaning includes next or prev. word]
ٱلنَّبِىُّ nabi

O Prophet! *[meaning includes next or prev. word]
قُل katakan

Say
لِّأَزْوَٰجِكَ kepada istri-istrimu

to your wives,
إِن jika

"If
كُنتُنَّ kamu sekalian

you
تُرِدْنَ kamu menghendaki

desire
ٱلْحَيَوٰةَ kehidupan

the life
ٱلدُّنْيَا dunia

(of) the world
وَزِينَتَهَا dan perhiasannya

and its adornment,
فَتَعَالَيْنَ maka marilah

then come,
أُمَتِّعْكُنَّ akan aku berikan mut’ah kepadamu

I will provide for you
وَأُسَرِّحْكُنَّ dan akan aku ceraikan kamu

and release you
سَرَاحًا perceraian

(with) a release
جَمِيلًا yang baik

good.

Tafsir

Alquran

Surah Al Ahzab
33:28

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 28. Oleh Kementrian Agama RI


Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kepada istri-istrinya supaya mereka memilih apa yang mereka kehendaki dari dua hal.
Pilihan pertama ialah jika mereka menginginkan kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya, maka Nabi tidak mempunyai yang demikian itu, dan beliau tidak mempunyai sesuatu pun yang akan diberikan untuk memenuhi keinginan itu.

Oleh karena itu, Nabi akan mentalak mereka dan beliau memberi mut’ah, sebagaimana yang telah disyariatkan agama.
Beliau juga akan menceraikan mereka secara baik-baik pula.


Menurut ketentuan Allah, seorang suami yang menceraikan istrinya memberi mut’ah berupa pakaian, uang, atau perhiasan secara sukarela kepada istri yang diceraikannya, sesuai dengan kemampuannya, orang kaya sesuai dengan kekayaannya dan orang miskin sesuai dengan kemiskinannya.
Firman Allah:

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ مَا لَمْ تَمَسُّوْهُنَّ اَوْ تَفْرِضُوْا لَهُنَّ فَرِيْضَةً وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ مَتَاعًا ۢبِالْمَعْرُوْفِ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ

Tidak ada dosa bagimu jika kamu menceraikan istri-istri kamu yang belum kamu sentuh (campuri) atau belum kamu tentukan maharnya.

Dan hendaklah kamu beri mereka mut’ah bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya, yaitu pemberian dengan cara yang patut yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (al-Baqarah [2]: 236)


Allah juga menetapkan bahwa jika seorang suami mentalak istrinya, maka hendaklah ia melepaskan mereka secara baik-baik dan mentalaknya pada waktu suci sebelum dicampuri, agar mereka dapat melaksanakan idah dalam masa yang pendek.

Allah ﷻ berfirman:


Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.
(ath-Thalaq [65]: 1)


Pada waktu ayat ini turun, Rasulullah mempunyai istri 9 orang, yaitu ‘Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti ‘Umar, Ummu Salamah, Ummu habibah Ramlah binti Sufyan, Saudah binti Zam’ah, Zainab binti Jahsy, Maimunah binti Hars, safiyyah binti Huyai bin Akhthab, dan Juwairiyah binti al-haris.

Dari istri beliau yang sembilan itu, lima orang berasal dari suku Quraisy dan empat orang bukan dari suku Quraisy.
Firman Allah:


عَسٰى رَبُّهٗٓ اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبْدِلَهٗٓ اَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنْكُنَّ مُسْلِمٰتٍ مُّؤْمِنٰتٍ قٰنِتٰتٍ تٰۤىِٕبٰتٍ عٰبِدٰتٍ سٰۤىِٕحٰتٍ ثَيِّبٰتٍ وَّاَبْكَارًا

Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
(at-Tahrim [66]: 5)

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 28. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai Nabi Muhammad, katakan kepada istri-istrimu,
"Jika kalian benar-benar menghendaki kenikmatan dan kesenangan hidup duniawi, aku akan menyerahkan sebagian harta yang dapat meringankan beban penderitaan kalian akibat talak, sebagai bentuk kesenangan (mut’ah) bagi kalian.
Tetapi aku akan menceraikan kalian dengan cara yang baik. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu yang bersatu atasmu meminta tambahan nafkah:
Bila kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka kemarilah, saya akan membuat kalian bisa menikmati kehidupan dunia dari apa yang saya punyai, dan saya akan meninggalkan kalian tanpa mudarat dan menyakiti.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu) yang pada saat itu jumlah mereka ada sembilan orang, mereka meminta kepada Nabi ﷺ perhiasan duniawi yang tidak dipunyai oleh beliau:


("Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya diberikan kepada kalian mut`ah) yakni mut`ah talak


(dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik) aku ceraikan kalian tanpa menimbulkan kemudaratan.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Ini merupakan perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala, ditujukan kepada Rasul-Nya agar Rasul memberitahukan kepada istri-istrinya, hendaknyalah mereka memilih antara diceraikan, lalu bebas kawin lagi dengan lelaki lain yang dapat memberi mereka kesenangan duniawi dan perhiasannya, dan tetap bersabar bersama Nabi ﷺ yang hidupnya begitu sederhana dan apa adanya, tetapi kelak mereka akan mendapat pahala yang berlimpah di sisi Allah bila bersabar.

Ternyata pada akhirnya mereka memilih pahala yang di akhirat.
Maka Allah menghimpunkan bagi mereka sesudah itu kebaikan dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhri yang mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, bahwa Siti Aisyah r.a. istri Nabi ﷺ pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ datang kepadanya saat Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepadanya agar memberitahukan hal ini kepada istri-istrinya.
Istri yang mula-mula didatangi Rasulullah ﷺ adalah dia sendiri, Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya aku akan menuturkan kepadamu suatu urusan, maka janganlah engkau tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum meminta pendapat dari kedua ibu bapakmu.
Rasulullah ﷺ telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku (Aisyah) belum pernah memerintahkan kepadaku untuk berpisah dari beliau ﷺ Kemudian Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan firman-Nya:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 28), hingga akhir kedua ayat berikutnya.
Maka aku menjawab,
"Apakah karena urusan itu aku diperintahkan untuk meminta saran kepada kedua orang tuaku?
Sesungguhnya aku hanya menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ta’liq melalui Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Aisyah r.a. Lalu disebutkan hadis yang semisal, tetapi dalam riwayat ini ditambahkan bahwa setelah itu semua istri Nabi ﷺ melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Aisyah.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ma’mar tidak tegas dalam riwayat ini, adakalanya dia meriwayatkannya dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dan adakalanya dia mengatakan dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah r.a.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdah Ad-Dabbi, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Aisyah r.a. pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya:
Sesungguhnya aku akan mengutarakan kepadamu suatu urusan, maka janganlah engkau memberikan suatu keputusan apa pun tentangnya sebelum kamu meminta persetujuan dari kedua ibu bapakmu.
Aku (Aisyah) bertanya,
"Wahai Rasulullah, urusan apakah itu?"
Rasulullah ﷺ mengulangi sabdanya, dan aku bertanya,
"Urusan apakah itu, ya Rasulullah?"
Beliau ﷺ mengulangi sabdanya, dan aku bertanya lagi,
"Urusan apakah itu, ya Rasulullah?"
Akhirnya beliau ﷺ membacakan ayat berikut kepadaku, yaitu firman-Nya:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
"Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya."
(QS. Al-Ahzab [33]: 28), hingga akhir ayat.
Maka aku menjawab,
"Tidak, bahkan aku tetap memilih Allah, Rasul-Nya, dan pahala di negeri akhirat."
Maka Nabi ﷺ gembira mendengar jawabanku itu.

Telah menceritakan pula kepada kami Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa ketika ayat takhyir diturunkan, Rasulullah ﷺ memulainya kepadaku.
Beliau bersabda:
Hai Aisyah, sesungguhnya aku akan mengutarakan suatu urusan kepadamu.
Maka janganlah engkau mengemukakan suatu pendapat pun tentangnya sebelum engkau meminta saran dari kedua orang tuamu, Abu Bakar dan Ummu Ruman r.a. Maka aku bertanya,
"Urusan apakah itu, ya Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
"Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.
Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.
(QS. Al-Ahzab [33]: 28-29)
Siti Aisyah menjawab,
"Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan pahala negeri akhirat, dan untuk menanggapi urusan ini aku tidak perlu meminta saran dari kedua orang tuaku, Abu Bakar dan Ummu Ruman r.a."
Mendengar jawaban itu Rasulullah ﷺ tersenyum, senanglah hati beliau.
Lalu beliau mendatangi kamar-kamar lainnya dan bersabda,
"Sesungguhnya Aisyah telah mengatakan anu dan anu."
Maka semua istri beliau ﷺ mengatakan,
"Kami pun sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Aisyah r.a."

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Abu Sa’id Al-Asyaj, dari Abu Usamah, dari Muhammad ibnu Amr dengan sanad yang sama.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Sa’id ibnu Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Abdullah ibnu Abu Bakar, dari Amrah, dari Aisyah r.a. yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ ketika diturunkan kepadanya wahyu yang berkenaan dengan istri-istrinya, maka mula-mula beliau mendatangiku dan berkata:
"Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu suatu urusan, maka janganlah engkau tergesa-gesa sebelum meminta saran dari kedua orang tuamu."
Maka Aisyah bertanya,
"Urusan apakah itu, ya Rasulullah?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Sesungguhnya aku diperintahkan agar mengajukan pilihan kepada kalian."
Lalu Rasulullah ﷺ membacakan kepada Aisyah ayat takhyir hingga kedua ayat berikutnya.
Maka Aisyah r.a. menjawab,
"Apakah yang engkau maksudkan dengan ucapanmu yang mengatakan, ‘Janganlah engkau tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum meminta saran kepada kedua orang tuamu?’ Itu tidak perlu lagi bagiku, karena sesungguhnya aku memilih Allah dan Rasul-Nya."
Mendengar jawaban itu hati Rasulullah ﷺ gembira, lalu beliau menawar-kan hal yang semisal kepada istri-istri lainnya.
Ternyata mereka semua mengikuti jejak Aisyah r.a. Mereka memilih Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Sinan Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh alias Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Lais, telah menceritakan kepadaku Uqail, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abdullah ibnu Abu Saur, dari Ibnu Abbas r.a yang menceritakan bahwa Siti Aisyah pernah menceritakan,
"Ketika ayat takhyir diturunkan, maka Rasulullah ﷺ mula-mula mendatangiku di antara istri-istrinya, dan bersabda, ‘Sesungguhnya aku akan menceritakan suatu urusan kepadamu, tetapi janganlah engkau tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum meminta saran dari kedua orang tuamu’."
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya,
"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku belum pernah memerintahkan kepadaku untuk bercerai darinya.
Kemudian beliau bersabda, bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan firman-Nya:
‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu’ (QS. Al-Ahzab [33]: 28), hingga kedua ayat berikutnya."
Siti Aisyah menjawab,
"Apakah karena urusan ini engkau perintahkan diriku untuk meminta saran dari kedua orang tuaku?
Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan pahala negeri akhirat."
Kemudian Nabi ﷺ mengajukan pilihan yang sama kepada istri-istri lainnya, ternyata semuanya mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Aisyah r.a.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Muslim ibnu Sabih, dari Masruq, dari Aisyah r.a. yang menceritakan,
"Rasulullah ﷺ pernah mengajukan pilihan kepada kami, maka kami memilihnya, dan beliau tidak menganggapnya sebagai sesuatu lagi."

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Al-A’masy.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir alias Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Ishaq, dari Abuz Zubair, dari Jabir r.a. yang menceritakan bahwa sahabat Abu Bakar r.a. datang dan meminta izin untuk menemui Rasulullah ﷺ Pada saat itu orang-orang berada di depan pintu rumah beliau ﷺ sedang duduk-duduk menunggu.
Sedangkan Nabi ﷺ sedang duduk di dalam rumahnya, beliau tidak mengizinkan Abu Bakar untuk masuk.
Kemudian datanglah Umar r.a. dan meminta izin untuk masuk, tetapi ia pun tidak diizinkan masuk.
Tidak lama kemudian Abu Bakar dan Umar diberi izin untuk masuk, lalu keduanya masuk.
Saat itu Nabi ﷺ sedang duduk, sedangkan semua istrinya berada di sekelilingnya, beliau ﷺ hanya diam saja.
Umar berkata dalam hatinya bahwa ia akan berbicara kepada Nabi ﷺ suatu pembicaraan yang mudah-mudahan akan membuat beliau dapat tersenyum.
Maka Umar berkata,
"Wahai Rasulullah, seandainya anak perempuan Zaid (yakni istri dia sendiri) meminta nafkah kepadaku, pastilah aku akan menamparnya."
Maka Nabi ﷺ tersenyum sehingga gigi serinya kelihatan, lalu bersabda:
Kebetulan mereka pun yang ada di sekelilingku ini meminta nafkah kepadaku.
Maka Abu Bakar r.a. bangkit menuju tempat Aisyah dengan maksud akan memukulnya.
Umar bangkit pula menuju tempat Hafsah dengan maksud yang sama.
Lalu keduanya berkata,
"Kamu berdua meminta kepada Nabi ﷺ nafkah yang tidak ada padanya?"
Tetapi Nabi ﷺ melarang keduanya.
Dan semua istri beliau ﷺ berkata,
"Demi Allah, kami tidak akan lagi meminta kepada Rasulullah ﷺ sesudah pertemuan ini sesuatu yang tidak ada padanya."
Dan Allah menurunkan ayat khiyar, lalu beliau ﷺ memulainya dari Aisyah r.a. Beliau bersabda,
"Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu suatu urusan yang aku tidak suka bila engkau tergesa-gesa mengambil keputusan tentangnya sebelum engkau meminta saran dari kedua orang tuamu."
Siti Aisyah r.a. bertanya,
"Urusan apakah itu?"
Maka Nabi ﷺ membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu.
(QS. Al-Ahzab [33]: 28), hingga akhir ayat.
Aisyah r.a. berkata,
"Apakah berkenaan dengan engkau aku harus meminta saran kepada kedua orang tuaku?
Tidak, bahkan aku tetap memilih Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.
Dan aku meminta, sudilah engkau tidak menceritakan kepada istrimu yang lain tentang pilihanku ini."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kejam, melainkan Dia mengutusku sebagai pengajar lagi pemberi kemudahan.
Tiada seorang wanita pun dari mereka yang menanyakan kepadaku tentang pilihanmu melainkan aku akan menceritakan kepadanya tentang pilihanmu itu.

Imam Muslim mengetengahkan hadis ini secara tunggal tanpa Imam Bukhari.
Imam Bukhari serta Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Zakaria ibnu Ishaq Al-Makki dengan sanad yang sama.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim ibnul Barid, dari Muhammad ibnu Ubaidillah ibnu Abu Rafi’, dari Usman ibnu Ali ibnul Husain, dari ayahnya, dari Ali r.a. yang menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah mengajukan pilihan kepada istri-istrinya antara perkara dunia dan akhirat, dan beliau tidak menceritakan masalah talak kepada mereka.


Hadis ini berpredikat munqati’.
Dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Al-Hasan dan Qatadah serta lain-lainnya, tetapi makna riwayat ini bertentangan dengan makna lahiriah ayat, karena sesungguhnya dalam ayat disebutkan:
maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.
(QS. Al-Ahzab [33]: 28)
Artinya, aku akan memberikan kepada kalian hak-hak kalian dan kulepaskan kalian dari ikatan perkawinan.

Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan orang lain mengawini bekas istri Nabi ﷺ sekiranya Nabi ﷺ menceraikan mereka saat itu.
Ada dua pendapat mengenai masalah ini.
Pendapat yang paling sahih mengatakan boleh, seandainya talak itu benar-benar terjadi, demi terlaksananya perceraian yang dimaksud.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ikrimah mengatakan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ mempunyai sembilan orang istri.
Lima orang istri dari kalangan kabilah Quraisy, yaitu Aisyah, Hafsah, Ummu Habibah, Saudah, dan Ummu Salamah.
Selain itu adalah Safiyyah binti Huyay An-Nadriyyah, Maimunah bintil Haris Al-Hilaliyah, Zainab binti Jahsy Al-Asadiyah, dan Juwairiyah bintil Haris Al-Mustaliqiyah.
Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka dan membuat mereka semua rida dengan pahala-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 28

JAMIIL
جَمِيل

Lafaz jamiil artinya ialah perkara baik.

Menurut Imam Al Isfahani, perkara baik pada diri manusia ada dua:

Pertama, perkara baik yang ada pada diri manusia seperti pada jiwa, angota badan atau pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan manfaat secara langsung kepada orang lain.

Kedua, perkara baik yang dimiliki manusia dan bermanfaat kepada orang lain.

Lafaz jamiil diulang tujuh kali dalam Al Quran yaitu dalam surah:
Yusuf (12): 18, 83;
Al Hijr (15): 85;
• A Ahzab (33): 28, 49;
• Al Ma’aarij (70): 5;
• Al Muzammil (73): 10.

Sikap-sikap yang dikaitkan dengan lafaz jamiil dalam Al Qur’an ada empat, yaitu :

1. Kesabaran;
Surah Yusuf (12), ayat 18 dan 83 menerangkan tentang ke sabaran Nabi Ya’qub dalam menghadapi putera-puteranya yang durhaka dan sabarnya dalam menanggung rindu pada putera tercinta, Yusuf.
Kesabaran beliau bukan kesabaran yang biasa.
Ia digambarkan di dalam Al Qur’an dengan shabrun jamiil yang berarti kesabaran yang indah.

Menurut Imam Al Qurtubi, makna shabrun jamiil adalah kesabaran yang tidak disertai dengan rasa sedih atau putus asa pada rahmat Allah dan tidak diikuti dengan keluhan-keluhan yang diutarakan kepada sesama manusia.
Kesabaran seperti ini diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad sewaktu menghadapi kaum musyrikin yang selalu menghina dan menentangnya sebagaimana ditegaskan dalam surah Al• Ma’aarij (70), ayat 5,

2. Memaafkan dan berlapang dada;
Selain diperintahkan bersabar menghadapi kaum kafir, Nabi Muhammad juga diperintahkan berlapang dada dengan cara yang baik fashbir shabran jamiil (surah Al Hijr (15), ayat 85). Maksud ayat fashfahish shafhan jamiil ialah memaafkan kesalahan kesalahan musuh tanpa mencela atau mencerca dan tanpa ada keinginan membalas dendam serta bermuamalah bersama mereka dengan penuh kerelaan, lapang dada dan kasih sayang.

3. Menjauh atau meninggalkan;
Bukan sekadar itu saja.
Semasa menghadapi cemoohan dan tantangan kaum kafir, Nabi Muhammad tidak disuruh bersabar saja dan memaafkan mereka, namun beliau juga diperintahkan menjauhi mereka dengan cara yang baik.
wahjurhum hajran jamiil (surah Al Muzammil (73), ayat 10).
Imam Al Qurtubi dan Al Alusi menerangkan, maksud wahjurhum hajran jamiil ialah menjauhi mereka.
Namun, tetap membujuk mereka dengan cara yang halus atau lembut tidak mencabar dan tidak berusaha membalas kejahatan yang mereka lakukan serta menyerahkan urusan mereka kepada Allah dan berdoa kepada Nya.

4. Melepaskan isteri;
Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 28, nabi di perintahkan Allah supaya melepaskan isterinya dengan cara yang baik apabila ada isterinya yang lebih mengutamakan nikmat dan keindahan dunia.
Perbuatan melepaskan isteri dengan baik itu diistilahkan dalam Al Qur’an dengan saraahan jamiil.
Maksud saraahan jamiil ialah melepaskan isteri dengan disertai kata-kata yang baik, tidak menyakiti hati dan tubuh dan juga tidak menghalangnya mendapatkan haknya.

Begitu juga dengan umat Islam yang lain apabila mereka mau melepaskan isteri selepas ditalak, hendaklah mereka melepaskannya dengan cara yang baik yaitu saraahan jamiil (surah Al Ahzab (33), ayat 49).

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:142-143

Unsur Pokok Surah Al Ahzab (الْأحزاب)

Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali-‘lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keimanan mereka.
Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

▪ Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung.
▪ Taqdir Allah tidak dapat ditolak.
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir.
▪ Hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar.
▪ Kedudukan anak angkat.
▪ Dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah).
▪ Tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri.
Hukumhukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya.
▪ Larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq).
▪ Kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid.
▪ Memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

▪ Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
▪ Sifat-sifat orang-orang munafik.

Audio

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 73 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Ahzab (33) : 1-73 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 73

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Ahzab ayat 28 - Gambar 1 Surah Al Ahzab ayat 28 - Gambar 2
Statistik QS. 33:28
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahzab.

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam Alquran.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
Sending
User Review
4.2 (12 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

33:28, 33 28, 33-28, Surah Al Ahzab 28, Tafsir surat AlAhzab 28, Quran Al-Ahzab 28, Surah Al Ahzab ayat 28

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Ahzab

۞ QS. 33:1 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hukum memohon bantuan orang musyrik • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:2 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 33:3 Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 33:4 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 33:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 33:8 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Bashir (Maha Melihat) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 33:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 33:12 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:15 • Sifat orang munafik

۞ QS. 33:16 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 33:17 • Kekuasaan Allah • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 33:18 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:19 • Kekuasaan Allah • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:20 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 33:21 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 33:22 • Allah menepati janji

۞ QS. 33:24 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang munafik

۞ QS. 33:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 33:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 33:27 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 33:29 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:30 • Menyiksa pelaku maksiat • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 33:31 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 33:34 Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus)

۞ QS. 33:35 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Ajakan masuk Islam • Keutamaan iman

۞ QS. 33:36 • Kebaikan pada pilihan Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 33:39 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 33:40 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:43 • Pahala iman • Al Rahim (Maha Penyayang) • Doa malaikat untuk umat muslim • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 33:44 • Pahala iman • Percakapan Allah dengan ahli surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 33:47 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 33:48 Al Wakil (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 33:50 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:51 • Keluasan ilmu Allah • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:52 Al Raqib (Maha Pengawas)

۞ QS. 33:54 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 33:55 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 33:56 • Doa malaikat untuk umat muslim

۞ QS. 33:57 • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:58 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:59 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 33:60 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:61 • Siksa orang munafik • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:62 • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 33:63 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Nama-nama hari kiamat • Kiamat telah dekat • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 33:64 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 33:65 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka •

۞ QS. 33:66 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 33:67 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Siksa orang kafir

۞ QS. 33:68 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 33:70 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 33:71 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Islam menghapus dosa masa lalu • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 33:73 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Siksa orang kafir

Ayat Pilihan

Dirikanlah sembahyang pada kedua tepi siang (pagi & petang) & pada bahagian permulaan daripada malam. Sungguh perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.
Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat
QS. Hud [11]: 114

Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki & rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa,
yang menunaikan zakat & orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.
QS. Al-A’raf [7]: 156

Janganlah harta & anak yang dimiliki orang-orang munafik yang kalian lihat, membuat kalian tertarik & terpesona. Sungguh yang diberikan mereka itu, Allah hendak timpakan kesulitan,
karena mereka menyimpannya demi duniawi tanpa mau menginfakkannya
QS. At-Taubah [9]: 55

Jauhilah kebanyakan prasangka,
karena sebagian prasangka itu dosa.
Jangan mencari keburukan orang.
Jangan menggunjing satu sama lain.
QS. Al-Hujurat [49]: 12

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Arti al-Kaafirun adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Arti dari lafal

لَكُمْ دِينُكُمْ

yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Kafirun [109] ayat 6.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

'Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.'

Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah..... Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan.....kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Benar! Kurang tepat!

Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
u0627u064eu0644u064eu0645u06e1 u06ccu064eu062cu0650u062fu06e1u06a9u064e u06ccu064eu062au0650u06ccu06e1u0645u064bu0627 u0641u064eu0627u0670u0648u0670u06cc

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
--QS. Adh Dhuhaaa [93] : 6

Pendidikan Agama Islam #18
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #18 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #18 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #19

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan … Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah … .Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang … Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu … … Surah yang menjelaskan bahwa ‘Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta’, yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Kamus

fi’il mudhari‘

Apa itu fi’il mudhari‘? Fi’il Mudhori’ – Kata kerja bentuk sedang atau akan: Kata kerja menunjukkan kejadian sesuatu pada saat berbicara atau setelahnya, pantas digunakan untuk kejadian saat...

Al Mu’min

Apa itu Al Mu’min? Allah itu Al-Mu’min . Allah itu Al-Mu’min, yaitu Yang Maha Pemberi Keamanan kepada semua makhluk-Nya. Ketika kita menghadapi sebuah urusan, serahkan saja semua it...

Ayat Muhkamat

Apa itu Ayat Muhkamat? Jenis ayat menurut maknanya Ada dua jenis ayat dibagi menurut maknanya:

Ayat Muhkamat yakni ayat dengan makna jelas dan langsung.
Ayat Mutasyabihat yakni dengan makna samar, a...