Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ahzab

Al Ahzab (Golongan-Golongan yang bersekutu) surah 33 ayat 28


یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ قُلۡ لِّاَزۡوَاجِکَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتَہَا فَتَعَالَیۡنَ اُمَتِّعۡکُنَّ وَ اُسَرِّحۡکُنَّ سَرَاحًا جَمِیۡلًا
Yaa ai-yuhaannabii-yu qul azwaajika in kuntunna turidnal hayaataddunyaa waziinatahaa fata’aalaina umatti’kunna wa-usarrihkunna saraahan jamiilaa;

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu:
“Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.
―QS. 33:28
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Pahala Iman
33:28, 33 28, 33-28, Al Ahzab 28, AlAhzab 28, Al-Ahzab 28
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahzab (33) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kepada istri-istrinya supaya mereka memilih apa yang mereka kehendaki dari dua hal.
Pertama ialah; "Jika kamu hai istri-istriku menginginkan kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya.
Maka aku tidak mempunyai yang demikian itu, dan aku tidak mempunyai sesuatupun yang akan kuberikan untuk memenuhi keinginanmu itu.
Karena itu aku akan mentalakmu dan aku memberi mutah, sebagaimana yang telah disyariatkan agama, dan aku akan menceraikan kamu secara baik-baik pula".

Menurut ketentuan Allah subhanahu wa ta'ala seorang suami yang menceraikan istrinya memberi mutah yang berupa pakaian, uang, atau perhiasan secara sukarela kepada istrinya yang dicerainya itu, sesuai dengan kemampuannya; orang kaya sesuai dengan kekayaannya dan orang miskin sesuai dengan kemiskinannya, sebagaimana diterangkan dalam firman Nya:

Dan hendaklah kamu berikan suatu mutah (pemberian) kepada mereka.
Orang yang mampu menurut kemampuannya, dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut.
Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

(Q.S.
Al Baqarah: 236)

Dan Allah juga menetapkan bahwa jika seorang suami menalak istrinya, maka hendaklah ia melepaskan mereka secara baik-baik dan ditalak pada waktu suci sebelum dicampuri, agar mereka dapat melaksanakan idah dalam masa yang pendek.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Hai Nabi apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.
(Q.S.
At Talaq: 1)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Jabir r.a.
ia berkata: "Abu Bakar r.a.
minta izin kepada Rasulullah ﷺ menghadap beliau, sedang banyak orang di muka pintu duduk menunggu izin menghadap beliau, dan Rasulullah ﷺ belum mengizinkan Abu Bakar menghadapnya.
Kemudian datang pula Umar r.a.
minta izin menghadap pula dan Rasulullah belum pula mengizinkannya.
Kemudian Rasulullah ﷺ mengizinkan Abu Bakar dan Umar menghadapnya, maka keduanyapun masuk, waktu itu Rasulullah sedang duduk di kelilingi istri-istrinya, dan beliau dalam keadaan diam.
Umar berkata kepada Rasulullah dengan maksud agar Rasulullah ketawa, ia bertanya : "Bagaimana pendapat engkau jika putri si Zaid (maksudnya istri Umar), minta nafkah kepadaku, lalu aku pukul kuduknya dengan tanganku?".
Mendengar itu Rasulullah ﷺ ketawa, hingga kelihatan geraham-gerahamnya yang paling belakang, dan beliau berkata: "Istri-istriku ini duduk di sekelilingku meminta nafkah".
Mendengar ucapan Rasulullah itu maka Abu Bakar pergi kepada `Aisyah hendak memukulnya, dan Umar pergi kepada Hafsyah seraya berkata: "Kamu meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak dimilikinya".
Maka Rasulullah melarang keduanya.
Para istri beliau itu menjawab: "Mulai saat ini kami tidak akan meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak dimilikinya.
Menurut riwayat Rasulullah ﷺ menjauhkan dirinya sesudah itu dari istri-istrinya selama 29 hari atau satu bulan.
Maka turunlah ayat 28 dan 29 surat ini.
Maka Rasulullah memanggil istri-istrinya dan menyuruh memilih salah satu dari dua hal itu.
Pertama kali disuruh memilih ialah `Aisyah r.a.
beliau berkata: "Sesungguhnya aku ingin menyampaikan sesuatu, tetapi aku tidak ingin segera dijawab sebelum engkau menanyakan kepada ibu bapakmu".
'Aisyah menjawab: "Apakah yang hendak Rasulullah sampaikan itu?".
Maka Rasulullah membaca ayat 28 dan 29 surat ini.
Berkata `Aisyah ra: Apakah aku akan menanyakan pendapat ibu bapakku tentang engkau, Ya Rasulullah?
Aku memilih Allah dan Rasul Nya dan aku mohon agar engkau tidak menyampaikan kepada istri-istri engkau yang lain pilihanku ini".
Maka Rasulullah ﷺ berkata:

Sesungguhnya Allah Taala tidak mengutusku untuk mencerai, tetapi Dia mengutusku untuk memberi pelajaran dan kemudahan.
Bila ada di antara istri-istriku yang lain itu menanyakan kepadaku tentang pilihanmu, maka akan kuceritakan kepadanya.

Pada waktu ayat ini turun Rasulullah mempunyai istri 9 orang.
yaitu `Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah Ummu Habibah Ramlah binti Sofyan, Saudah binti Zam'ah, Zainab binti Jahsy Maimunah binti Hart, Safiyah binti Huyai bin Akhtab dan Juwairiyah binti Al Hars.
Dan istri beliau yang sembilan itu lima orang berasal dari suku Quraisy dan empat orang bukan dari suku Quraisy.

Al Ahzab (33) ayat 28 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ahzab (33) ayat 28 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ahzab (33) ayat 28 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Nabi Muhammad, katakan kepada istri-istrimu, "Jika kalian benar-benar menghendaki kenikmatan dan kesenangan hidup duniawi, aku akan menyerahkan sebagian harta yang dapat meringankan beban penderitaan kalian akibat talak, sebagai bentuk kesenangan (mut'ah) bagi kalian.
Tetapi aku akan menceraikan kalian dengan cara yang baik."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu) yang pada saat itu jumlah mereka ada sembilan orang, mereka meminta kepada Nabi ﷺ perhiasan duniawi yang tidak dipunyai oleh beliau:
("Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya diberikan kepada kalian mut`ah) yakni mut`ah talak (dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik) aku ceraikan kalian tanpa menimbulkan kemudaratan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu yang bersatu atasmu meminta tambahan nafkah :
Bila kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka kemarilah, saya akan membuat kalian bisa menikmati kehidupan dunia dari apa yang saya punyai, dan saya akan meninggalkan kalian tanpa mudarat dan menyakiti.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ini merupakan perintah dari Allah subhanahu wa ta'ala, ditujukan kepada Rasul-Nya agar Rasul memberitahukan kepada istri-istrinya, hendaknyalah mereka memilih antara diceraikan, lalu bebas kawin lagi dengan lelaki lain yang dapat memberi mereka kesenangan duniawi dan perhiasannya, dan tetap bersabar bersama Nabi ﷺ yang hidupnya begitu sederhana dan apa adanya, tetapi kelak mereka akan mendapat pahala yang berlimpah di sisi Allah bila bersabar.

Ternyata pada akhirnya mereka memilih pahala yang di akhirat.
Maka Allah menghimpunkan bagi mereka sesudah itu kebaikan dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri yang mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, bahwa Siti Aisyah r.a.
istri Nabi ﷺ pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ datang kepadanya saat Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepadanya agar memberitahukan hal ini kepada istri-istrinya.
Istri yang mula-mula didatangi Rasulullah ﷺ adalah dia sendiri, Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku akan menuturkan kepadamu suatu urusan, maka janganlah engkau tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum meminta pendapat dari kedua ibu bapakmu.
Rasulullah ﷺ telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku (Aisyah) belum pernah memerintahkan kepadaku untuk berpisah dari beliau ﷺ Kemudian Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah menurunkan firman-Nya: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu.
(Al Ahzab:28), hingga akhir kedua ayat berikutnya.
Maka aku menjawab, "Apakah karena urusan itu aku diperintahkan untuk meminta saran kepada kedua orang tuaku?
Sesungguhnya aku hanya menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ta'liq melalui Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Aisyah r.a.
Lalu disebutkan hadis yang semisal, tetapi dalam riwayat ini ditambahkan bahwa setelah itu semua istri Nabi ﷺ melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Aisyah.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ma'mar tidak tegas dalam riwayat ini, adakalanya dia meriwayatkannya dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dan adakalanya dia mengatakan dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah r.a.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdah Ad-Dabbi, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Aisyah r.a.
pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: Sesungguhnya aku akan mengutarakan kepadamu suatu urusan, maka janganlah engkau memberikan suatu keputusan apa pun tentangnya sebelum kamu meminta persetujuan dari kedua ibu bapakmu.
Aku (Aisyah) bertanya, "Wahai Rasulullah, urusan apakah itu?"
Rasulullah ﷺ mengulangi sabdanya, dan aku bertanya, "Urusan apakah itu, ya Rasulullah?"
Beliau ﷺ mengulangi sabdanya, dan aku bertanya lagi, "Urusan apakah itu, ya Rasulullah?"
Akhirnya beliau ﷺ membacakan ayat berikut kepadaku, yaitu firman-Nya: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya.” (Al Ahzab:28), hingga akhir ayat.
Maka aku menjawab, "Tidak, bahkan aku tetap memilih Allah, Rasul-Nya, dan pahala di negeri akhirat." Maka Nabi ﷺ gembira mendengar jawabanku itu.

Telah menceritakan pula kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa ketika ayat takhyir diturunkan, Rasulullah ﷺ memulainya kepadaku.
Beliau bersabda: Hai Aisyah, sesungguhnya aku akan mengutarakan suatu urusan kepadamu.
Maka janganlah engkau mengemukakan suatu pendapat pun tentangnya sebelum engkau meminta saran dari kedua orang tuamu, Abu Bakar dan Ummu Ruman r.a.
Maka aku bertanya, "Urusan apakah itu, ya Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.
Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.
(Al Ahzab:28-29) Siti Aisyah menjawab, "Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan pahala negeri akhirat, dan untuk menanggapi urusan ini aku tidak perlu meminta saran dari kedua orang tuaku, Abu Bakar dan Ummu Ruman r.a." Mendengar jawaban itu Rasulullah ﷺ tersenyum, senanglah hati beliau.
Lalu beliau mendatangi kamar-kamar lainnya dan bersabda, "Sesungguhnya Aisyah telah mengatakan anu dan anu." Maka semua istri beliau ﷺ mengatakan, "Kami pun sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Aisyah r.a."

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Abu Sa'id Al-Asyaj, dari Abu Usamah, dari Muhammad ibnu Amr dengan sanad yang sama.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Sa’id ibnu Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Abdullah ibnu Abu Bakar, dari Amrah, dari Aisyah r.a.
yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ ketika diturunkan kepadanya wahyu yang berkenaan dengan istri-istrinya, maka mula-mula beliau mendatangiku dan berkata: "Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu suatu urusan, maka janganlah engkau tergesa-gesa sebelum meminta saran dari kedua orang tuamu.” Maka Aisyah bertanya, "Urusan apakah itu, ya Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab, "Sesungguhnya aku diperintahkan agar mengajukan pilihan kepada kalian.” Lalu Rasulullah ﷺ membacakan kepada Aisyah ayat takhyir hingga kedua ayat berikutnya.
Maka Aisyah r.a.
menjawab, "Apakah yang engkau maksudkan dengan ucapanmu yang mengatakan, 'Janganlah engkau tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum meminta saran kepada kedua orang tuamu?' Itu tidak perlu lagi bagiku, karena sesungguhnya aku memilih Allah dan Rasul-Nya." Mendengar jawaban itu hati Rasulullah ﷺ gembira, lalu beliau menawar-kan hal yang semisal kepada istri-istri lainnya.
Ternyata mereka semua mengikuti jejak Aisyah r.a.
Mereka memilih Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Sinan Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh alias Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Lais, telah menceritakan kepadaku Uqail, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abdullah ibnu Abu Saur, dari Ibnu Abbas r.a yang menceritakan bahwa Siti Aisyah pernah menceritakan, "Ketika ayat takhyir diturunkan, maka Rasulullah ﷺ mula-mula mendatangiku di antara istri-istrinya, dan bersabda, 'Sesungguhnya aku akan menceritakan suatu urusan kepadamu, tetapi janganlah engkau tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum meminta saran dari kedua orang tuamu'." Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku belum pernah memerintahkan kepadaku untuk bercerai darinya.
Kemudian beliau bersabda, bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah menurunkan firman-Nya: 'Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu' (Al Ahzab:28), hingga kedua ayat berikutnya." Siti Aisyah menjawab, "Apakah karena urusan ini engkau perintahkan diriku untuk meminta saran dari kedua orang tuaku?
Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan pahala negeri akhirat." Kemudian Nabi ﷺ mengajukan pilihan yang sama kepada istri-istri lainnya, ternyata semuanya mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Aisyah r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Muslim ibnu Sabih, dari Masruq, dari Aisyah r.a.
yang menceritakan, "Rasulullah ﷺ pernah mengajukan pilihan kepada kami, maka kami memilihnya, dan beliau tidak menganggapnya sebagai sesuatu lagi."

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Al-A'masy.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir alias Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Ishaq, dari Abuz Zubair, dari Jabir r.a.
yang menceritakan bahwa sahabat Abu Bakar r.a.
datang dan meminta izin untuk menemui Rasulullah ﷺ Pada saat itu orang-orang berada di depan pintu rumah beliau ﷺ sedang duduk-duduk menunggu.
Sedangkan Nabi ﷺ sedang duduk di dalam rumahnya, beliau tidak mengizinkan Abu Bakar untuk masuk.
Kemudian datanglah Umar r.a.
dan meminta izin untuk masuk, tetapi ia pun tidak diizinkan masuk.
Tidak lama kemudian Abu Bakar dan Umar diberi izin untuk masuk, lalu keduanya masuk.
Saat itu Nabi ﷺ sedang duduk, sedangkan semua istrinya berada di sekelilingnya, beliau ﷺ hanya diam saja.
Umar berkata dalam hatinya bahwa ia akan berbicara kepada Nabi ﷺ suatu pembicaraan yang mudah-mudahan akan membuat beliau dapat tersenyum.
Maka Umar berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya anak perempuan Zaid (yakni istri dia sendiri) meminta nafkah kepadaku, pastilah aku akan menamparnya." Maka Nabi ﷺ tersenyum sehingga gigi serinya kelihatan, lalu bersabda: Kebetulan mereka pun yang ada di sekelilingku ini meminta nafkah kepadaku.
Maka Abu Bakar r.a.
bangkit menuju tempat Aisyah dengan maksud akan memukulnya.
Umar bangkit pula menuju tempat Hafsah dengan maksud yang sama.
Lalu keduanya berkata, "Kamu berdua meminta kepada Nabi ﷺ nafkah yang tidak ada padanya?"
Tetapi Nabi ﷺ melarang keduanya.
Dan semua istri beliau ﷺ berkata, "Demi Allah, kami tidak akan lagi meminta kepada Rasulullah ﷺ sesudah pertemuan ini sesuatu yang tidak ada padanya." Dan Allah menurunkan ayat khiyar, lalu beliau ﷺ memulainya dari Aisyah r.a.
Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu suatu urusan yang aku tidak suka bila engkau tergesa-gesa mengambil keputusan tentangnya sebelum engkau meminta saran dari kedua orang tuamu." Siti Aisyah r.a.
bertanya, "Urusan apakah itu?"
Maka Nabi ﷺ membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta'ala: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu.
(Al Ahzab:28), hingga akhir ayat.
Aisyah r.a.
berkata, "Apakah berkenaan dengan engkau aku harus meminta saran kepada kedua orang tuaku?
Tidak, bahkan aku tetap memilih Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya.
Dan aku meminta, sudilah engkau tidak menceritakan kepada istrimu yang lain tentang pilihanku ini." Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kejam, melainkan Dia mengutusku sebagai pengajar lagi pemberi kemudahan.
Tiada seorang wanita pun dari mereka yang menanyakan kepadaku tentang pilihanmu melainkan aku akan menceritakan kepadanya tentang pilihanmu itu.

Imam Muslim mengetengahkan hadis ini secara tunggal tanpa Imam Bukhari.
Imam Bukhari serta Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Zakaria ibnu Ishaq Al-Makki dengan sanad yang sama.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim ibnul Barid, dari Muhammad ibnu Ubaidillah ibnu Abu Rafi', dari Usman ibnu Ali ibnul Husain, dari ayahnya, dari Ali r.a.
yang menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah mengajukan pilihan kepada istri-istrinya antara perkara dunia dan akhirat, dan beliau tidak menceritakan masalah talak kepada mereka.

Hadis ini berpredikat munqati'.
Dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Al-Hasan dan Qatadah serta lain-lainnya, tetapi makna riwayat ini bertentangan dengan makna lahiriah ayat, karena sesungguhnya dalam ayat disebutkan: maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.
(Al Ahzab:28) Artinya, aku akan memberikan kepada kalian hak-hak kalian dan kulepaskan kalian dari ikatan perkawinan.

Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan orang lain mengawini bekas istri Nabi ﷺ sekiranya Nabi ﷺ menceraikan mereka saat itu.
Ada dua pendapat mengenai masalah ini.
Pendapat yang paling sahih mengatakan boleh, seandainya talak itu benar-benar terjadi, demi terlaksananya perceraian yang dimaksud.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ikrimah mengatakan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ mempunyai sembilan orang istri.
Lima orang istri dari kalangan kabilah Quraisy, yaitu Aisyah, Hafsah, Ummu Habibah, Saudah, dan Ummu Salamah.
Selain itu adalah Safiyyah binti Huyay An-Nadriyyah, Maimunah bintil Haris Al-Hilaliyah, Zainab binti Jahsy Al-Asadiyah, dan Juwairiyah bintil Haris Al-Mustaliqiyah.
Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka dan membuat mereka semua rida dengan pahala-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahzab (33) Ayat 28

JAMIIL
جَمِيل

Lafaz jamiil artinya ialah perkara baik.

Me­nurut Imam Al Isfahani, perkara baik pada diri manusia ada dua:

Pertama, perkara baik yang ada pada diri manusia seperti pada jiwa, angota badan atau pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan manfaat secara langsung kepada orang lain.

Kedua, perkara baik yang dimiliki manusia dan bermanfaat kepada orang lain.

Lafaz jamiil diulang tujuh kali dalam Al­ Quran yaitu dalam surah:
-Yusuf (12): 18, 83;
-Al Hijr (15): 85;
-A Ahzab (33): 28, 49;
-Al Ma'aarij (70): 5;
-Al­ Muzammil (73): 10.

Sikap-sikap yang dikait­kan dengan lafaz jamiil dalam Al Qur'an ada empat, yaitu :

1. Kesabaran;
Surah Yusuf (12), ayat 18 dan 83 menerangkan tentang ke­ sabaran Nabi Ya'qub dalam meng­hadapi putera-puteranya yang durhaka dan sabarnya dalam me­nanggung rindu pada putera tercinta, Yusuf. Kesabaran beliau bukan ke­sabaran yang biasa. Ia digambarkan di dalam Al Qur'an dengan shabrun jamiil yang berarti kesabaran yang indah.

Menurut Imam Al Qurtubi, makna shabrun jamiil adalah kesabaran yang tidak disertai dengan rasa sedih atau putus asa pada rahmat Allah dan tidak diikuti dengan keluhan-keluhan yang diutarakan kepada sesama manusia. Kesabaran seperti ini diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad sewaktu menghadapi kaum musyrikin yang selalu menghina dan me­nentangnya sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-Ma'aarij (70), ayat 5,

2. Memaafkan dan berlapang dada;
Selain diperintahkan bersabar menghadapi kaum kafir, Nabi Muhammad juga diperintahkan ber­lapang dada dengan cara yang baik fashbir shabran jamiil (surah Al Hijr (15), ayat 85).
Maksud ayat fashfahish shafhan jamiil ialah memaafkan kesalahan­ kesalahan musuh tanpa mencela atau mencerca dan tanpa ada keinginan membalas dendam serta ber­muamalah bersama mereka dengan penuh kerelaan, lapang dada dan kasih sayang.

3. Menjauh atau meninggalkan;
Bukan sekadar itu saja. Semasa menghadapi cemoohan dan tantang­an kaum kafir, Nabi Muhammad tidak disuruh bersabar saja dan memaafkan mereka, namun beliau juga diperintahkan men­jauhi mereka dengan cara yang baik. wahjurhum hajran jamiil (surah Al­ Muzammil (73), ayat 10).

Imam Al­ Qurtubi dan Al Alusi menerangkan, maksud wahjurhum hajran jamiil ialah menjauhi mereka. Namun, tetap membujuk mereka dengan cara yang halus atau lembut tidak mencabar dan tidak berusaha membalas kejahatan yang mereka lakukan serta menyerahkan urusan mereka kepada Allah dan berdoa kepada Nya.

4. Melepaskan isteri;
Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 28, nabi di­ perintahkan Allah supaya melepas­kan isterinya dengan cara yang baik apabila ada isterinya yang lebih mengutamakan nikmat dan keindahan dunia. Perbuatan me­lepaskan isteri dengan baik itu diistilahkan dalam Al Qur'an dengan saraahan jamiil. Maksud saraahan jamiil ialah melepaskan isteri dengan disertai kata-kata yang baik, tidak menyakiti hati dan tubuh dan juga tidak menghalangnya mendapatkan haknya.

Begitu juga dengan umat Islam yang lain apabila mereka mau melepaskan isteri selepas ditalak, hendaklah mereka melepaskannya dengan cara yang baik yaitu saraahan jamiil (surah Al­ Ahzab (33), ayat 49).

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:142-143

Informasi Surah Al Ahzab (الْأحزاب)
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ali'lmran.

Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu" karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan pepe­ rangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mu'min di Madinah.
Mereka telah mengepung rapat orang-orang mu'min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sarnpai di mana teguhnya keiman­an mereka.
Akhimya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Keimanan:

Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung
taqdir Allah tidak dapat ditolak
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh dan teladan yang paling baik
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul dan nabi yang terakhir
hanya Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.

Hukum:

Hukum zhihar
kedudukan anak angkat
dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah)
tidak ada iddah bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri
hukum-hukum khusus mengenai perkawinan Nabi dan ke­wajiban istri-istrinya
larangan menyakiti hati Nabi.

Kisah:

Perang Ahzab (Khandaq)
kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid
memerangi Bani Quraizhah.

Lain-lain:

Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari Allah dan Ra­ sul-Nya
sifat-sifat orang-orang munafik.


Gambar Kutipan Surah Al Ahzab Ayat 28 *beta

Surah Al Ahzab Ayat 28



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ahzab

Surah Al-Ahzab (bahasa Arab:الْأحزاب) adalah surah ke-33 dalam al-Qur'an.
Terdiri atas 73 ayat, surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah, diturunkan sesudah surah Ali Imran.
Dinamai Al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan kaum munafik serta orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah.

Nomor Surah 33
Nama Surah Al Ahzab
Arab الْأحزاب
Arti Golongan-Golongan yang bersekutu
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 90
Juz Juz 21 (ayat 1-30) & juz 22 (ayat 31-73)
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 73
Jumlah kata 1307
Jumlah huruf 5787
Surah sebelumnya Surah As-Sajdah
Surah selanjutnya Surah Saba’
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (12 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku