QS. Al Ahqaaf (Bukit-bukit pasir) – surah 46 ayat 26 [QS. 46:26]

وَ لَقَدۡ مَکَّنّٰہُمۡ فِیۡمَاۤ اِنۡ مَّکَّنّٰکُمۡ فِیۡہِ وَ جَعَلۡنَا لَہُمۡ سَمۡعًا وَّ اَبۡصَارًا وَّ اَفۡـِٕدَۃً ۫ۖ فَمَاۤ اَغۡنٰی عَنۡہُمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ لَاۤ اَبۡصَارُہُمۡ وَ لَاۤ اَفۡـِٕدَتُہُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِذۡ کَانُوۡا یَجۡحَدُوۡنَ ۙ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ وَ حَاقَ بِہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ
Walaqad makkannaahum fiimaa in makkannaakum fiihi waja’alnaa lahum sam’an wa-abshaaran wa-af-idatan famaa aghna ‘anhum sam’uhum walaa abshaaruhum walaa af-idatuhum min syai-in idz kaanuu yajhaduuna biaayaatillahi wahaaqa bihim maa kaanuu bihi yastahzi-uun(a);

Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
―QS. 46:26
Topik ▪ Sifat surga dan kenikmatannya
46:26, 46 26, 46-26, Al Ahqaaf 26, AlAhqaaf 26, Al Ahqaf 26, AlAhqaf 26, Al-Ahqaf 26

Tafsir surah Al Ahqaaf (46) ayat 26

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahqaaf (46) : 26. Oleh Kementrian Agama RI

Dengan ayat ini, Allah membandingkan antara keadaan kaum ‘Ad yang dihancurkan dengan orang-orang musyrik Mekah yang semakin bertambah keingkarannya kepada Nabi ﷺ dengan mengatakan, “Kami telah meneguhkan kedudukan kaum ‘Ad pada beberapa segi kehidupan duniawi.
Belum pernah Kami meneguhkan satu kaum seperti Kami meneguhkan mereka.
Kami telah memberikan kepada mereka harta yang banyak, tubuh yang kuat dan perkasa, dan kemampuan untuk membentuk suatu negara sehingga mereka dapat menguasai negeri-negeri di sekitarnya, tetapi semuanya itu tidak dapat menghindarkan mereka dari azab Allah yang ditimpakan kepada mereka.” Allah berfirman:

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka.
Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.

(Q.S. Al-Mu’min [40]: 82)

Selanjutnya ayat 26 ini menjelaskan bahwa Allah telah memberikan banyak kenikmatan kepada kaum ‘Ad.
Allah telah memberikan tempat yang baik kepada mereka, menganugerahkan penglihatan yang baik, dan pendengaran yang tajam agar mereka dapat memperhatikan ayat-ayat dan tanda-tanda kebesaran Allah.
Akan tetapi, mereka tidak mempergunakannya, bahkan semuanya itu tidak mereka manfaatkan dengan baik dan benar.

Sejarah telah membuktikan bahwa kaum ‘Ad pernah mempunyai kebudayaan yang tinggi.
Mereka telah sanggup menyusun pemerintahan dan membangun negara.
Mereka telah membangun istana, benteng, menggali barang tambang dari perut bumi, dan membuat kanal untuk menciptakan irigasi yang teratur.
Dengan adanya irigasi yang teratur itu, tanah negeri mereka menjadi subur.
Mereka dapat pula mengolah tanah dengan baik sehingga mereka hidup makmur.
Di samping itu, mereka juga mampu membentuk tentara yang kuat sehingga negara mereka menjadi negara yang terkemuka di Jazirah Arab pada masa itu.
Firman Allah:

Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati, dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal?
(Q.S. Asy-Syu’ara’ [26]: 128-129)

Seharusnya kenikmatan dan kebesaran yang telah dianugerahkan Allah menjadi bahan pemikiran bagi mereka tentang siapa yang telah menolongnya mencapai semua yang mereka cita-citakan.
Tetapi semuanya itu menambah kesombongan dan ketakaburan mereka.
Mereka mengira bahwa keadaan yang demikian itu mereka peroleh semata-mata atas kesanggupan dan kemauan mereka, dan keadaan itu akan mereka punyai selama-lamanya.
Allah berfirman:

Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan mereka berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?”
Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka.
Dia lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka?
Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.

(Q.S. Fushshilat [41]: 15)

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa kaum ‘Ad tidak dapat mengambil manfaat dari semua yang telah dianugerahkan kepada mereka, karena mereka mendustakan seruan rasul yang diutus kepada mereka serta mengingkari mukjizat-mukjizat rasul.
Akibatnya, mereka ditimpa azab yang selalu mereka minta untuk disegerakan, karena menurut mereka azab itu mustahil akan terjadi.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai penduduk Mekah, sesungguhnya Kami benar-benar telah meneguhkan kaum ‘Ad dengan kelapangan hidup dan kekuatan yang belum pernah Kami berikan kepada kalian.
Mereka Kami berikan pendengaran, penglihatan dan hati yang dapat mereka manfaatkan.
Namun pendengaran, penglihatan dan hati itu tidak ada gunanya sedikit pun, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah.
Itulah yang menjadi penghalang bagi mereka untuk memanfaatkan apa yang diberikan kepada mereka.
Mereka diliputi oleh azab yang dahulu mereka olok-olokkan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal) (yang belum pernah) lafal In di sini dapat dikatakan sebagai In Nafiyah atau In Zaidah (Kami meneguhkan kedudukan kalian) hai penduduk Mekah (dalam hal itu) dalam hal kekuatan dan banyaknya harta benda (dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran) lafal Sam’an bermakna Asmaa’an bermakna jamak (dan penglihatan serta hati) atau kalbu (tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka) maksudnya, hal-hal tersebut sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun buat diri mereka, lafal Min di sini adalah Zaidah (karena) lafal Idz adalah yang dima’mulkan oleh lafal Aghnaa kemudian diberlakukan sebagai makna Ta’lil (mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah) yaitu hujah-hujah-Nya yang nyata (dan turunlah) yaitu menimpalah (kepada mereka apa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya) yaitu azab yang dahulu mereka suka memperolok-olokkannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, bahwa Kami telah meneguhkan umat-umat terdahulu dalam kehidupan di dunia dalam hal harta benda dan anak-anak, dan Kami telah memberikan kepada mereka sebagian dari hal itu dalam jumlah yang belum pernah Kami berikan kepadamu hal yang semisal dengannya dan tidak pula mendekatinya.

dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna bagi mereka sedikit jua pun, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokannya.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 26)

Yakni mereka telah diliputi oleh azab dan pembalasan yang dahulunya mereka dustakan dan mereka anggap mustahil kejadiannya.
Dengan kata lain, maksud ayat ini ialah memperingatkan kepada orang-orang yang diajak bicara olehnya untuk bersikap hati-hati dan waspada, jangan meniru mereka, karena berakibat akan tertimpa azab dan pembalasan seperti apa yang telah Allah timpakan kepada mereka, yaitu azab di dunia dan akhirat.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahqaaf (46) Ayat 26

AF’IDAH
أَفْـِٔدَة

Lafaz ini berbentuk jamak dan mufradnya adalah al fuad yang berarti al qalb yaitu hati atau jantung.

Menurut Al Lihyani, lafaz ini adalah mudzakkar dan tidak ada mu’annats, al qalb berada di dalam diri manusia dan makhluk lainnya seperti hewan yang memiliki jantung atau hati. Al fuad berada di relung hati (lubuknya), dikatakan al fu’aad bermakna penutup hati dan ia menjadi sanubarinya.

Dalam sebuah hadis dijelaskan:
“Akan datang kepada kamu ahli Yaman dimana halus sanubari mereka dan lembut hati mereka”

Ia juga bermakna jantung dan lelaki maf’ud artinya lelaki penakut yang lemah jantungnya seperti orang kurus dan lemah.

Dalam Kamus Al Munjid, kata al fu’aad digunakan juga untuk menunjukkan akal.

Kata af’idah disebut sebanyak 11 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 110, 113;
-Ibrahim (14), ayat 37, 43;
-An Nahl (16), ayat 78;
-Al Mu’minuun (23), ayat 78;
-As Sajadah (32), ayat 9;
-Al Ahqaaf (46), ayat 26;
-Al Mulk (67), ayat 23;
-Al Humazah (104), ayat 7.

Sa’id Hawwa menukilkan dari An Nasafi dalam menafsirkan ayat 7 dari surah Al Humazah, api yang dinyalakan itu masuk ke dalam diri mereka sehingga masuk ke dada-dada mereka dan naik menjulang ke fuad mereka. Fuaad itu adalah relung hati, tidak ada sesuatu yang paling lembut dalam badan manusia selain daripada fuad dan tidak ada yang paling dahsyat sakitnya selain daripada fu’ad ketika ditimpa penyakit. Maka, bagaimana apabila api neraka naik menjulang ke atasnya dan membakarnya.

Dikatakan, dikhususkan af’idah di sini karena ia adalah tempat tertanam kekufuran dan akidah yang rusak. Az Zamakhsyari menafsirkan ayat 110 dari surah Al­ An’aam, Sedangkan pada ayat 113 dari surah yang sama, beliau menafsirkan af’idah dengan hati orang kafir.

Al Qurtubi menafsirkan kata af’idah pada ayat 37 dari surah Ibrahim dengan hati karena diungkapkan tentang hati sebelumnya dengan menggunakan kata fu’aad dan dikaitkan pula af’idah disini dengan kata kerja tahwi yang bermakna cenderung dan mau. Sedangkan dalam ayat 43, beliau menukilkan pandangan Ibn Abbas yang mengatakan makna af’idatuhum hawaa’ adalah hati sanubari mereka itu kosong dari kebaikan.

Kesimpulannya, kata af’idah dalam bentuk jamak pada ayat-ayat ini lebih banyak dikaitkan dengan penglihatan dan pendengaran dan disudahi setiap ayat dengan menerangkan manusia kebanyakannya kufur dan ingkar. Semua pendapat ulama saling berkaitan. Af’idah bermakna lubuk hati atau sanubari. Ia adalah tempat tertanamnya keimanan dan kekufuran.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:22-23

Informasi Surah Al Ahqaaf (الَأحقاف)
Surat Al Ahqaaf terdiri atas 35 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Jaatsiyah.

Dinamai “Al Ahqaaf” (bukit-bukit pasir) dari perkataan “Al Ahqaaf” yang terdapat pada ayat 21 surat ini.

Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud ‘alaihis salam telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di “Al Ahqaaf” yang sekarang dikenal dengan Ar Rub’ul Khaali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Akhimya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Keimanan:

Dalil-dalil dan bukti keesaan Allah dan bahwa penyembah-penyembah berhala adalah sesat
orang-orang mu’min akan mendapat kebahagiaan dan orang-orang kafir akan diazab
risalah Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya terbatas kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada jin.

Hukum:

Perintah kepada manusia supaya patuh kepada ibu bapa, memuliakannya dan mengerjakan apa yang diridhai Allah terhadapnya dan larangan menyakiti hatinya.

Kisah:

Kisah Nabi Hud a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Orang yang mementingkan keni’matan hidup duniawi saja akan merugi kelak di akhirat
orang-orang yang beriman kepada Allah dan beristiqamah dalam kehidupannya tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahqaaf (35 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 26 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 26 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 26 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahqaaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 35 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 46:26
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahqaaf.

Surah Al-Ahqaf (Arab: الأحقاف ,"Bukit-Bukit Pasir") adalah surah ke-46 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 35 ayat.
Dinamakan al-Ahqaf yang berarti Bukit-Bukit Pasir diambil dari kata al-Ahqaf yang terdapat pada ayat 21 surah ini.
Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di al-Ahqaf yang sekarang dikenal dengan ar-Rab'ul Khali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Hingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Nomor Surah 46
Nama Surah Al Ahqaaf
Arab الَأحقاف
Arti Bukit-bukit pasir
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 66
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 35
Jumlah kata 648
Jumlah huruf 2668
Surah sebelumnya Surah Al-Jasiyah
Surah selanjutnya Surah Muhammad
4.9
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta