QS. Al Ahqaaf (Bukit-bukit pasir) – surah 46 ayat 17 [QS. 46:17]

وَ الَّذِیۡ قَالَ لِوَالِدَیۡہِ اُفٍّ لَّکُمَاۤ اَتَعِدٰنِنِیۡۤ اَنۡ اُخۡرَجَ وَ قَدۡ خَلَتِ الۡقُرُوۡنُ مِنۡ قَبۡلِیۡ ۚ وَ ہُمَا یَسۡتَغِیۡثٰنِ اللّٰہَ وَیۡلَکَ اٰمِنۡ ٭ۖ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ ۚۖ فَیَقُوۡلُ مَا ہٰذَاۤ اِلَّاۤ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ
Waal-ladzii qaala liwaalidaihi uffin lakumaa ata’idaaninii an ukhraja waqad khalatil quruunu min qablii wahumaa yastaghiitsaa-nillaha wailaka aamin inna wa’dallahi haqqun fayaquulu maa hadzaa ilaa asaathiirul au-waliin(a);

Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya:
“Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?
lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan:
“Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”.
Lalu dia berkata:
“Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.
―QS. 46:17
Topik ▪ Penghimpunan manusia dan keadaan mereka
46:17, 46 17, 46-17, Al Ahqaaf 17, AlAhqaaf 17, Al Ahqaf 17, AlAhqaf 17, Al-Ahqaf 17

Tafsir surah Al Ahqaaf (46) ayat 17

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahqaaf (46) : 17. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan ancaman Allah kepada orang yang ketika diajak oleh kedua orang tuanya untuk beriman kepada Allah dan hari akhirat, ia berkata, “Ah, apakah yang bapak-ibu katakan ini; aku tidak senang kepada bapak-ibu yang mengatakan bahwa aku akan dibangkitkan dari kubur dalam keadaan hidup, sesudah aku mati dan hancur luluh bersama tanah.
Apakah mungkin daging-daging yang telah hancur luluh bersama tanah dan tulang-belulang yang telah berserakan itu akan dapat kembali dikumpulkan dan menjadi tubuh yang hidup seperti semula?
Alangkah aneh dan lucunya kepercayaan itu, wahai kedua orang tuaku.
Bukankah telah banyak umat dahulu, sebelum kita, yang telah melakukan semua hal sesuai dengan keinginan mereka?
Ada di antara mereka yang mengikuti ajaran rasul-rasul yang telah diutus kepada mereka, dan banyak pula di antara mereka yang mengingkarinya, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang telah dibangkitkan seperti yang ibu dan ayah katakan itu.
Seandainya benar yang dikatakan ayah dan ibu itu, tentu kita akan melihat bukti-buktinya sekarang, dan tentu kita akan bertemu dengan nenek moyang kita yang telah mati dahulu.” Mendengar jawaban anaknya itu, timbullah rasa sedih dan kasihan dalam hati orang tua itu.
Mereka merasa sedih karena sikap anaknya yang seakan-akan tidak menghormatinya lagi.
Mereka merasa kasihan karena yakin bahwa anaknya itu kelak akan mendapat azab Allah di akhirat.
Sekalipun demikian, mereka tidak putus asa untuk menyeru anaknya itu dan memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah.
Mereka berkata, “Percayalah wahai anakku, bahwa Allah pasti menepati janji-Nya, dan hendaklah engkau yakin bahwa engkau benar-benar akan dibangkitkan nanti, karena janji Allah adalah janji yang hak, yang pasti ditepati, semoga Allah memberi kamu petunjuk.” Allah melarang anak berkata ah kepada ibu dan ayahnya, atau kata-kata lain yang menyakitkan hati orang tuanya, karena keduanya telah berjasa memelihara dan mendidiknya sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan sampai dewasa, sebagaimana firman Allah:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.
Hanya kepada Aku kembalimu.

(Q.S. Luqman [31]: 14)

Jika orang tua mendidik anaknya untuk beriman kepada Allah dan hari akhir, kemudian sang anak menolak dan mengatakan ah, yang demikian merupakan kedurhakaan yang besar dan kesesatan yang nyata.
Pada ayat yang lain disebutkan:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

(Q.S. Al Israa [17]: 23)

Menanggapi ajakan kedua orang tuanya, anak itu menjawab dengan sikap melecehkan keduanya dengan mengatakan bahwa ajakan orang tuanya untuk mempercayai Allah dan hari akhir itu hanya dongengan orang dahulu kala.
Ia beranggapan kedua orang tuanya telah terpengaruh dongengan bohong sehingga mengakui kebenarannya.
Menurutnya, adanya hari kebangkitan adalah suatu kepercayaan yang mustahil akan terjadi.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sedangkan orang yang ketika diperintah oleh kedua orangtuanya untuk meyakini datangnya hari kebangkitan berkata, dengan nada membantah dan marah berkata, “Cis! Apakah kalian memperingatkan aku bahwa aku akan dibangkitkan kembali dari kubur, sedangkan umat-umat sebelumku tidak ada satu pun yang dibangkitkan kembali dari kuburnya?”
Lalu kedua oragangtuanya itu memohon pertolongan kepada Allah atas dosa yang dilakukan anaknya seraya menyuruhnya beriman dengan berkata, “Kau akan celaka kalau tidak beriman.
Janji Allah akan datangnya hari kebangkitan itu pasti benar.” Tetapi, dengan semakin mendustakan, anak itu pun menjawab, “Apa yang kalian katakan ini tak lain hanyalah legenda orang-orang dahulu.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya) menurut suatu qiraat dibaca Idgham dimaksud adalah jenisnya (“Cis) dapat dibaca Uffin atau Uffan, merupakan Mashdar yang artinya, busuk dan buruk (bagi kamu keduanya) yakni aku marah kepada kamu berdua (apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku) menurut qiraat lain dibaca Ata’idannii, dengan diidgamkan (bahwa aku akan dibangkitkan) dari kubur (padahal sungguh telah berlalu beberapa umat) yakni generasi-generasi (sebelumku”) dan ternyata mereka tidak dikeluarkan dari kuburnya (lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah) meminta pertolongan supaya anaknya sadar dan bertobat, seraya mengatakan, bahwa apabila kamu tidak mau bertobat, (“Celakalah kamu) binasalah kamu (berimanlah) kepada adanya hari berbangkit.

(Sesungguhnya janji Allah adalah benar.” Lalu dia berkata:

“Ini tidak lain) maksudnya ucapan yang menyatakan adanya hari berbangkit ini (hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”) artinya, kedustaan-kedustaan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah menyebutkan perihal orang-orang yang mendoakan kedua orang tuanya lagi berbakti kepada keduanya serta keberuntungan dan keselamatan yang diperoleh mereka di hari kemudian, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka, yaitu orang-orang yang menyakiti kedua orang tuanya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, “Cis bagi kamu keduanya.” (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 17)

Ini umum pengertiannya mencakup semua orang yang mengatakan demikian kepada kedua orang tuanya.
Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a., maka pendapatnya lemah.
Karena Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a.
baru masuk Islam setelah ayat ini diturunkan dan berbuat baik dalam Islamnya sehingga ia termasuk orang yang terpilih di masanya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan salah seorang putra Abu Bakar r.a.
Akan tetapi, kesahihan hadis ini masih perlu diteliti kembali; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Abu Bakar r.a.
menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Juraij.
Ulama lainnya mengatakan bahwa dia adalah Abdur Rahman ibnu Abu Bakar.
Pendapat ini dikemukakan pula oleh As-Saddi.
Tetapi sesungguhnya makna ayat ini bersifat umum mencakup semua orang yang menyakiti kedua orang ibu bapaknya; dan mendustakan perkara yang hak, lalu mengatakan kepada kedua orang tuanya, “Sialan kamu berdua.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Zaidah, dari Ismail ibnu Abu Khalid, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnul Madini yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia berada di dalam masjid saat Marwan berkhotbah.
Marwan antara lain mengatakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memperlihatkan kepada Amirul Mu’minin perihal Yazid sebagai orang yang baik.
Dan jika ia (Mu’awiyah) mengangkatnya menjadi kalifah, maka sesungguhnya Abu Bakar pun pernah mengangkat Umar sebagai khalifah penggantinya.” Maka Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a.
berkata, “Apakah itu cara Heraklius (kerajaan)?
Sesungguhnya Abu Bakar r.a.
tidak menyerahkan kekhalifahan itu pada seseorang dari kalangan anak-anaknya dan tidak pula kepada seorang ahli baitnya.
Lain halnya dengan Mu’awiyah, dia tidak sekali-kali menyerahkan kekhalifahan kepada anaknya (Yazid) melainkan karena kasihan dan memuliakan anaknya.” Marwan menjawab, “Bukankah engkau adalah orang yang telah mengatakan kepada kedua ibu bapakmu, ‘Cis bagi kamu keduanya’?”
Abdur Rahman r.a.
menjawab, “Bukankah engkau pun adalah anak seorang yang terlaknat karena orang tuamu pernah melaknat Rasulullah ﷺ?”

Abdullah ibnul Madini melanjutkan kisahnya, bahwa perdebatan itu terdengar oleh Siti Aisyah r.a., maka ia mengatakan, “Hai Marwan, bukankah kamu pernah mengatakan anu dan anu terhadap Abdur Rahman ra Tuduhanmu itu tidak benar, ayat tersebut tidak diturunkan berkenaan dengan dia (Abdur Rahman ibnu Abu Bakar), melainkan diturunkan berkenaan dengan si Fulan bin Fulan.”

Kemudian Marwan dipilih sebagai khalifah (pengganti Yazid), lalu ia turun dari mimbar dan langsung menuju ke pintu rumah Siti Aisyah r.a., kemudian berbicara dengan Siti Aisyah r.a.
dan sesudahnya ia pergi.

Imam Bukhari telah meriwayatkan atsar ini melalui sanad dan lafaz yang lain.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dan Abu Bisyr dari Yusuf ibnu Mahik yang menceritakan bahwa Marwan di saat menjadi amir atas kawasan Hijaz dari pihak Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan ra pernah berkhotbah, lalu mempromosikan Yazid ibnu Mu’awiyah, dengan maksud agar Yazid dibaiat menjadi khalifah sesudah ayahnya (setelah Mu’awiyah).
Maka Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a.
mengucapkan sesuatu dan mengatakan, “Tangkaplah dia!’ Tetapi Marwan masuk ke dalam rumah Siti Aisyah r.a., berlindung di dalamnya sehingga mereka tidak mampu menangkapnya.
Lalu Marwan berkata bahwa sesungguhnya orang ini (yakni Abdur Rahman ibnu Abu Bakar) adalah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya: Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?”
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 17) Maka Siti Aisyah r.a.
menjawab dari balik tabir, “Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah menurunkan sesuatu dari Al-Qur’an sehubungan dengan keluarga kami, selain dari wahyu yang diturunkan Allah mengenai pembersihan namaku.”

Jalur lain.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Umayyah ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Muhammad ibnu Ziad yang mengatakan bahwa ketika Mu’awiyah membaiat putranya, Marwan berkata, “Ini adalah sunnah Abu Bakar dan Umar.” Maka Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a.
menjawab, “Ini adalah kebiasaan Heraklius dan Kaisar.” Marwan berkata, “Orang ini (maksudnya Abdur Rahman ibnu Abu Bakar) lah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firman-Nya: Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, ‘Cis bagi kamu keduanya’ (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 17), hingga akhir ayat.” Ketika hal ini terdengar oleh Siti Aisyah r.a., maka ia menjawab, “Marwan dusta, demi Allah, orang yang dimaksud bukanlah dia (Abdur Rahman), seandainya aku berkemauan untuk menyebut nama orang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, tentulah aku dapat menyebutkan namanya.
Akan tetapi, yang jelas Rasulullah ﷺ telah melaknat ayahnya Marwan dan Marwan yang masih berada di dalam sulbinya.
Maka Marwan adalah orang yang tercela karena laknat Allah.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dikeluarkan.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 17)

Yakni akan dibangkitkan dari kubur.

padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 17)

Artinya, telah banyak manusia yang telah mati dan ternyata tiada seorang pun dari mereka yang kembali.

Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 17)

Yaitu memohon pertolongan kepada Allah agar anaknya diberi petunjuk, lalu berkata kepada anaknya:

“Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar.” Lalu dia berkata, “Ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang dahulu.” (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 17)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahqaaf (46) Ayat 17

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi, diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (al-Ahqaaf: 17) turun berkkenaan dengan ‘Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq yang mengucapkan “cis” kepada ibu bapaknya yang telah masuk Islam.
Ucapan ini ia kemukakan ketika ibu bapaknya menyuruhnya masuk Islam.
Ia membantah dan mendustakannya, dengan mengatakan bahwa tokoh-tokoh utama kaum Quraisy yang sudah mati pun tidak ada yang mau masuk Islam.
Lama setelah kejadian ini, ‘Abdurrahman pun tergolong tokoh Islam.
Maka turunlah ayat berikutnya (al-Ahqaaf: 19)) yang menegaskan bahwa tobatnya diterima Allah subhanahu wa ta’ala

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Yusuf bin Haman bahwa Marwan berkata: “Abdurrahman bin Abi Bakr yang telah menyebut “cis” yang disebut dalam ayat ini (al-Ahqaaf: 17).” Berkatalah ‘Aisyah dari belakang hijab: “Allah tidak menurunkan al-Qur’an sedikitpun berkenaan dengan kami, kecuali tentang peristiwa-peristiwa yang menyangkut uzurku.”

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq yang bersumber dari al-Makki bahwa ‘Aisyah menolak keterangan yang menyatakan bahwa ayat ini (al-Ahqaaf: 17) turun berkenaan dengan ‘Abdurrahman bin Abi Bakr, dengan berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan si fulan.” Seraya menyebut nama orang itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahqaaf (46) Ayat 17

ASHAATHIIR
أَسَٰطِير

Lafaz ini adalah jamak dari jamak juga yaitu usthurah atau isthar, mufradnya ialah sathr yang bermakna al khat (tulisan).

Dalam Kamus Al Munjid dijelaskan, ia bermakna apa yang ditulis, percakapan yang tidak ada asas baginya atau apa yang ditulis dari keajaiban cerita orang yang terdahulu.

Kata dalam bentuk jamak ini disebut sembilan kali di dalam Al Qur’an yaitu surah:
-Al An’aam (6), ayat 25;
-Al Anfaal (8), ayat 31;
-Al Nahl (16), ayat 68;
-Al Mu’minnuun (23), ayat 83;
-Al Furqaan (25), ayat 5;
-Al Naml (27), ayat 68;
-Al Ahqaaf (46), ayat 17;
-Al Qalam (68), ayat 15;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 13.

Al Baidawi berkata,
Asaathir bermakna al abaathil (kebatilan-kebatilan), ini adalah karena mereka menjadikan kalam yang benar sama seperti khurafat-khurafat terdahulu yang berisi kebohongan-kebohongan.”

Al Khazin berkata,
“Ia bermakna cerita­-cerita atau percakapan-percakapan dari umat-umat terdahulu dan khabar berita serta cerita-cerita mereka dan apa yang mereka tulis. Maksudnya, mereka mengatakan Al­ Quran seperti percakapan dan cerita-cerita terdahulu, bukan wahyu dari Allah.”

An Nasafi menafsirkan lafaz ini dengan menyatakan “mereka menjadikan dan mengatakan Kalam Allah adalah dusta dan bohong.”

Sedangkan dalam Tafsir Tanwir Al­ Miqbas, ia bermakna kebohongan orang terdahulu dan cerita-cerita dongeng mereka.

Kesimpulannya, asaathir bermakna kebatilan-kebatilan cerita yang ditulis.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:68

Informasi Surah Al Ahqaaf (الَأحقاف)
Surat Al Ahqaaf terdiri atas 35 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Jaatsiyah.

Dinamai “Al Ahqaaf” (bukit-bukit pasir) dari perkataan “Al Ahqaaf” yang terdapat pada ayat 21 surat ini.

Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud ‘alaihis salam telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di “Al Ahqaaf” yang sekarang dikenal dengan Ar Rub’ul Khaali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Akhimya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Keimanan:

Dalil-dalil dan bukti keesaan Allah dan bahwa penyembah-penyembah berhala adalah sesat
orang-orang mu’min akan mendapat kebahagiaan dan orang-orang kafir akan diazab
risalah Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya terbatas kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada jin.

Hukum:

Perintah kepada manusia supaya patuh kepada ibu bapa, memuliakannya dan mengerjakan apa yang diridhai Allah terhadapnya dan larangan menyakiti hatinya.

Kisah:

Kisah Nabi Hud a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Orang yang mementingkan keni’matan hidup duniawi saja akan merugi kelak di akhirat
orang-orang yang beriman kepada Allah dan beristiqamah dalam kehidupannya tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahqaaf (35 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 17 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 17 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 17 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahqaaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 35 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 46:17
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahqaaf.

Surah Al-Ahqaf (Arab: الأحقاف ,"Bukit-Bukit Pasir") adalah surah ke-46 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 35 ayat.
Dinamakan al-Ahqaf yang berarti Bukit-Bukit Pasir diambil dari kata al-Ahqaf yang terdapat pada ayat 21 surah ini.
Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di al-Ahqaf yang sekarang dikenal dengan ar-Rab'ul Khali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Hingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Nomor Surah 46
Nama Surah Al Ahqaaf
Arab الَأحقاف
Arti Bukit-bukit pasir
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 66
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 35
Jumlah kata 648
Jumlah huruf 2668
Surah sebelumnya Surah Al-Jasiyah
Surah selanjutnya Surah Muhammad
4.6
Ratingmu: 4.8 (12 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta