Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Aadiyaat (Berlari kencang) – surah 100 ayat 4 [QS. 100:4]

فَاَثَرۡنَ بِہٖ نَقۡعًا ۙ
Fa-atsarna bihi naq’an;
sehingga menerbangkan debu,
―QS. Al Aadiyaat [100]: 4

Daftar isi

Stirring up thereby (clouds of) dust,
― Chapter 100. Surah Al Aadiyaat [verse 4]

فَأَثَرْنَ lalu ia menerbangkan

Then raise
بِهِۦ dengannya/karenanya

thereby
نَقْعًا debu

dust,

Tafsir Quran

Surah Al Aadiyaat
100:4

Tafsir QS. Al-‘Adiyat (100) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Allah bersumpah dengan kuda perang yang memperdengarkan suaranya yang gemuruh.
Kuda-kuda yang memancarkan bunga api dari kuku kakinya karena berlari kencang.

Kuda-kuda yang menyerang di waktu subuh untuk menyergap musuh di waktu mereka tidak siap siaga.
Karena kencangnya lari kuda itu, debu-debu jadi beterbangan.

Allah menyatakan bahwa kuda yang menyerang itu tiba-tiba berada di tengah-tengah musuh sehingga menyebabkan mereka panik.

Allah bersumpah dengan kuda dan sifat-sifatnya dalam suasana perang bertujuan untuk membangkitkan semangat perjuangan di kalangan orang-orang Mukmin.

Sudah selayaknya mereka bersifat demikian dengan membiasakan diri menunggang kuda dengan tangkas untuk menyerbu musuh.
Mereka juga diperintahkan agar selalu siap siaga untuk terjun ke medan pertempuran bila genderang perang memanggil mereka untuk menghancurkan musuh yang menyerang, sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.
(Al-Anfal [8]: 60).

Allah bersumpah dengan kuda perang yang dalam keadaan berlari kencang, hilir-mudik, memancarkan percikan bunga api dari kakinya karena berlari kencang, dan dengan penyergapan di waktu subuh, menunjukkan bahwa kuda-kuda yang dipelihara itu bukan untuk kebanggaan.

Hendaknya kuda yang dipuji adalah yang digunakan untuk memadamkan keganasan musuh, melumpuhkan kekuatan mereka, atau menghadang serangan mereka.

Maksudnya, dalam ketangkasan berkuda terkandung faedah yang tidak terkira banyaknya.

Di antaranya adalah dapat dipergunakan untuk mencari nafkah, cepat bergerak untuk suatu keperluan yang mendadak, digunakan untuk menyergap musuh, dan dapat mencapai tempat yang jauh dalam waktu yang singkat.

Tafsir QS. Al Aadiyaat (100) : 4. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kuda-kuda itu menerbangkan debu yang tebal di tempat-tempat musuh.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dengan larinya itu, ia menerbangkan debu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka ia menerbangkan) atau mengepulkan


(di waktu itu) di waktu tersebut, atau di tempat ia berlari


(debu) karena gerakannya yang sangat keras.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka ia menerbangkan debu.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 4)

Maksudnya, debu di tempat kuda-kuda mereka sedang beraksi di kancah peperangan.

dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 5)

Yakni kuda-kuda tersebut berada di tengah-tengah kancah peperangan (mengobrak-abrik barisan musuh).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya:
Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: l) Yaitu unta;
menurut Ali disebutkan unta, dan menurut Ibnu Abbas disebutkan kuda.
Dan ketika apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas itu sampai ke telinga Ali, maka ia berkata,
"Dalam Perang Badar kami tidak memiliki kuda."
Ibnu Abbas menjawab, bahwa sesungguhnya hal tersebut hanyalah berkenaan dengan pasukan khusus yang dikirimnya.

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, dari Abu Mu’awiyah Al-Bajali, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan kepadanya bahwa ketika aku sedang berada di Hijir Isma’il, tiba-tiba datanglah kepadaku seorang lelaki yang bertanya mengenai makna firman-Nya:
Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 1)
Maka aku menjawab, bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika digunakan untuk menyerang di jalan Allah, kemudian di malam hari diistirahatkan dan mereka membuat makanan (memasak makanan)nya, dan untuk itulah maka mereka menyalakan api (dapur)nya buat masak.
Setelah itu lelaki tersebut pergi meninggalkan diriku menuju ke tempat Ali berada, yang saat itu berada di tempat minum air zamzam (dekat sumur zamzam).
Lalu lelaki itu menanyakan kepada Ali makna ayat tersebut, tetapi Ali r.a. balik bertanya,
"Apakah engkau pernah menanyakannya kepada seseorang sebelumku?"
Lelaki itu menjawab,
"Ya, aku telah menanyakannya kepada Ibnu Abbas, dan ia mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika menyerang di jalan Allah."

Ali berkata,
"Pergilah dan panggillah dia untuk menghadap kepadaku."
Ketika Ibnu Abbas telah berada di hadapan Ali, maka Ali r.a. berkata,
"Apakah engkau memberi fatwa kepada manusia dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu mengenainya.
Demi Allah, sesungguhnya ketika mula-mula perang terjadi di masa Islam (yaitu Perang Badar), tiada pada kami pasukan berkuda kecuali hanya dua ekor kuda.
Yang satu milik Az-Zubair dan yang lainnya milik Al-Miqdad.
Maka mana mungkin yang dimaksud dengan al-‘adiyati dabhan adalah kuda.
Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-‘adiyati dabhan ialah bila berlari dari ‘Arafah ke Muzdalifah dan dari Muzdalifah ke Mina."

Ibnu Abbas mengatakan bahwa lalu ia mencabut ucapannya itu dan mengikuti pendapat yang dikatakan oleh Ali r.a. Dan berdasarkan sanad ini dari Ibnu Abbas dapat disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa menurut Ali, al-‘adiyati dabhan bila jarak yang ditempuhnya dari ‘Arafah ke Muzdalifah;
dan apabila mereka beristirahat di Muzdalifah, maka mereka menyalakan apinya (untuk memasak makanannya).

Al-Aufi dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud adalah kuda.
Dan ada sejumlah ulama yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kumpulan unta (yang digunakan untuk kendaraan perang di jalan Allah), di antara mereka adalah Ibrahim dan Ubaid ibnu Umair.
Sedangkan ulama lainnya mengikuti pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, antara lain ialah Mujahid, Ikrimah, Ata, Qatadah, dan Ad-Dahhak;
dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abbas dan Ata mengatakan bahwa tiada yang mengeluarkan suara dengusan napas saat berlari kecuali hanya kuda dan anjing.
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ata, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas memperagakan tentang makna ad-dabhu, yaitu suara dengusan napas.

Kebanyakan ulama mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (kuku kakinya).
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 2)
Yakni dengan teracaknya, dan menurut pendapatyang lain menyebutkan bila kuda-kuda itu menyalakan peperangan di antara para penunggangnya, menurut Qatadah.

Telah diriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (teracaknya).
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 2)
Yaitu menyalakan api untuk tipu muslihat dalam peperangan.
Menurut pendapat yang lain, menyalakan api bila kembali ke tempat tinggal mereka di malam hari.
Menurut pendapat yang lainnya lagi, makna yang dimaksud ialah apinya para kabilah.
Dan menurut orang yang menafsirkannya dengan kuda mengartikannya dengan pengertian menyalakan api di Muzdalifah.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah yang pertama.
Yaitu yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kuda ketika memercikkan bunga api dari kaki teracaknya saat berlari kencang dan beradu dengan batu-batuan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 3)

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pasukan berkuda yang menyerang di pagi hari buta di jalan Allah.
Dan menurut ulama yang menafsirkannya dengan unta, makna yang dimaksud ialah berangkat di waktu subuh dari Muzdalifah ke Mina.
Dan mereka semuanya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

maka ia menerbangkan debu.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 4)

Yakni tempat yang kuda-kuda dan unta-unta itu berada, baik dalam ibadah haji maupun dalam jihad, debu-debu beterbangan karenanya.

Unsur Pokok Surah Al Aadiyaat (العاديات‎‎)

Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-‘Asr.

Nama "Al ‘Aadiyaat" diambil dari kata "Al ‘Aadiyaat" yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya yang berlari kencang.

Keimanan:

▪ Ancaman Allah subhanahu wa ta’ala kepada manusia yang ingkar dan yang sangat mencintai harta benda bahwa mereka akan mendapat balasan yang setimpal dikala mereka dibangkitkan dari kubur dan dikala isi dada mereka ditampakkan.

Ayat-ayat dalam Surah Al Aadiyaat (11 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Aadiyaat (100) : 1-11 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 11 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Aadiyaat (100) : 1-11 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 11

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Aadiyaat ayat 4 - Gambar 1 Surah Al Aadiyaat ayat 4 - Gambar 2
Statistik QS. 100:4
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Aadiyaat.

Surah Al-‘Adiyat terdiri atas 11 ayat dan tergolong surah makkiyah, surat ini diturunkan setelah surah Al-‘Asr.
Nama Al ‘Aadiyat diambil dari kata Al ‘Aadiyaat yang artinya berlari kencang yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Pokok-pokok isinya: Ancaman Allah subhanahu wa ta’ala kepada manusia yang ingkar dan yang sangat mencintai harta benda bahwa mereka akan mendapat balasan yang setimpal di kala mereka dibangkitkan dari kubur dan di kala isi dada mereka ditampakkan.

Nomor Surah 100
Nama Surah Al Aadiyaat
Arab العاديات‎‎
Arti Berlari kencang
Nama lain Wal-‘Adiyat
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 14
Juz Juz 30
Jumlah ruku’ 1 ruku’
Jumlah ayat 11
Jumlah kata 40
Jumlah huruf 169
Surah sebelumnya Surah Az-Zalzalah
Surah selanjutnya Surah Al-Qari’ah
Sending
User Review
4.7 (11 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

100:4, 100 4, 100-4, Surah Al Aadiyaat 4, Tafsir surat AlAadiyaat 4, Quran Al Adiyat 4, Surah Al Aadiyat ayat 4

Video Surah

100:4


Load More

Ayat Pilihan

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,
dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu & tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
QS. Hud [11]: 6

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian,
sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri,
padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)?
Maka tidaklah kamu berpikir?
QS. Al-Baqarah [2]: 44

Telah nampak kerusakan di darat & di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
Allah menghendaki mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
QS. Ar-Rum [30]: 41

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.
Sesungguhnya Tuhanmu,
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
QS. Al-An’am [6]: 119

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
'Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.'
--QS. Ar Ra'd [13] : 11

Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah ...

Correct! Wrong!

Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab ...

Correct! Wrong!

+

Array

Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini ... Allah Subhanahu Wa Ta`ala.

Correct! Wrong!

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #21
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #21 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #21 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #19

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan … Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah … .Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang … Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu … … Surah yang menjelaskan bahwa ‘Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta’, yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang …

Kamus Istilah Islam

Tabi’in

Siapa itu Tabi’in? Tabi’in , adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi, bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Tabi’in merupakan murid Sahabat Nabi. Rentang masa Masa Tabi’in dimu … • tabi’in, tabiin

pengislaman

Apa itu pengislaman? peng.is.lam.an proses, cara, perbuatan menyebarkan agama Islam … •

inkarsunah

Apa itu inkarsunah? in.kar.su.nah aliran yang tidak menerima atau tidak mengakui sunah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. … •