QS. Adz Dzaariyaat (Angin yang menerbangkan) – surah 51 ayat 7 [QS. 51:7]

وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡحُبُکِ ۙ
Wassamaa-i dzaatil hubuk(i);

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,
―QS. 51:7
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan langit dan bumi ▪ Kelemahan manusia
51:7, 51 7, 51-7, Adz Dzaariyaat 7, AdzDzaariyaat 7, adz dzariyat 7, Az Zariyat 7

Tafsir surah Adz Dzaariyaat (51) ayat 7

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Adz Dzaariyaat (51) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah bersumpah: Demi langit yang mempunyai garis edar (orbit) tempat beredarnya bintang-bintang dan planetplanet.
Menurut Quraish Shihab, kata al-hubuk dapat berarti yang indah dan baik atau yang teratur.
Dapat pula dipahami sebagai bentuk jamak dari habikah atau hibak, yakni jalan, seperti jalan-jalan yang terlihat di atas air apabila ditimpa hembusan angin.
Dalam teori fisika relativitas umum, dikenal mengenai mekanisme pemendekan jarak yang sangat jauh menjadi hanya beberapa meter saja.
Einstein menyebutnya sebagai jembatan (bridge) dan saat ini para ilmuwan menyebutnya sebagai wormhole (lubang cacing).
Wormhole ini merupakan jalan pintas yang menghubungkan dua tempat di jagad raya ini.
Sebagai gambaran, kita ingin bepergian ke suatu galaksi yang letaknya 100 juta tahun cahaya dari bumi (jika 1 tahun cahaya = 9,46 x 1012 km, maka galaksi tersebut jaraknya dari bumi sekitar 9,46×1018 km, atau 9,46 juta-juta-juta km!).
Tidak terbayangkan kapan kita sampai ke galaksi tersebut.
Andaikata ada pesawat ulang-alik yang memiliki kecepatan mendekati kecepatan cahaya saja kita memerlukan waktu 100 juta tahun! Namun apabila kita menggunakan jalan pintas ‘wormhole, kita akan sampai di galaksi hari ini.

Perlu dicatat bahwa ini merupakan konsekuensi dari pemendekan jarak yang terjadi dalam wormhole.
Dengan demikian bisa jadi, al-hubuk berupa sebuah jalan seperti yang digambarkan oleh para ahli fisika, wormhole, sebuah jalan ‘khusus yang diberikan Allah kepada para Malaikat dan hambahambaNya yang terpilih.
Perjalanan Rasulullah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, boleh jadi melewati mekanisme pemendekan jarak sehingga jarak yang demikian jauhnya ditempuh Rasulullah hanya dalam bilangan jam.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Aku bersumpah demi langit yang memiliki celah-celah yang teratur, bahwa apa yang kalian katakan itu rancu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Demi langit yang mempunyai jalan-jalan) lafal Al Hubuk adalah bentuk jamak dari Habiikah, sama halnya dengan lafal Thariiqah yang bentuk jamaknya Thuruq, yakni sejak ia diciptakan mempunyai jalan-jalan, sebagaimana jalan di padang pasir.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.
(Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 7)

Ibnu Abbas r.a.
mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah langit yang mempunyai keindahan, kemegahan, dan kerapian.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Malik, Abu Saleh, As-Saddi, Qatadah, Atiyyah Al-Aufi, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan lain-lainnya.

Ad-Dahhak dan Al-Minhal ibnu Amr serta selain keduanya mengatakan bahwa perihalnya sama dengan bergelombang atau beriaknya air, pasir, dan tanam-tanaman manakala diterpa oleh angin; maka sebagian darinya membentuk alur dengan sebagian yang lain alur demi alur, dan inilah yang dimaksud dengan al-hubuk.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari seorang lelaki sahabat Nabi ﷺ, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya di belakang kalian akan ada seorang pendusta lagi penyesat, dan sesungguhnya (rambut) kepalanya dari belakang (kelihatan) berombak-ombak.
Yakni keriting.

Abu Saleh mengatakan, artinya yang mempunyai ikatan yang erat.
Dan menurut Khasif, zatul hubuk artinya yang mempunyai kerapian.
Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zatul hubuk adalah yang mempunyai ikatan dengan bintang-bintang.

Qatadah telah meriwayatkan dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari Ma’dan ibnu Abu Talhah, dari Amr Al-Bakkali, dari Abdullah ibnu Amr r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.
(Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 7) Yakni langit yang ketujuh, seakan-akan —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— yang dimaksudkan adalah langit yang padanya terdapat bintang-bintang yang tetap (tidak bergerak), yang menurut kebanyakan ulama ahli falak berada di cakrawala yang kedelapan di atas cakrawala yang ketujuh; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Semua pendapat yang disebutkan di atas merujuk kepada satu hal, yaitu menggambarkan tentang keindahan dan kemegahannya, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a.
bahwa termasuk keindahan langit ialah ketinggiannya, pemandangannya yang transparan, kokoh bangunannya, luas cakrawalanya, lagi kelihatan cantik dalam kemegahannya dihiasi dengan bintang-bintang yang tetap dan yang beredar, serta dihiasi dengan matahari, rembulan, dan bintang-bintang yang bercahaya gemerlapan.


Kata Pilihan Dalam Surah Adz Dzaariyaat (51) Ayat 7

HUBUK
حُبُك

Lafaz hubuk dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut jalur-jalur di permukaan air ataupun padang pasir yang muncul akibat hembusan angin. Sedangkan untuk menyebut satu jalur saja dari jalur-jalur itu, orang Arab menggunakan lafaz habiikah. Adapun hubk maksudnya kokoh atau kuat.

Al Qur’an menyebut lafaz hubuk sekali saja yaitu dalam surah Adz Dzaariyaat (51), ayat 7. Sedangkan habiikah tidak disebutkan.

Ayat 7 dalam surah Adz Zaariyaat itu menggambarkan tentang langit yang mempunyai hubk.

Imam Qurtubi menyebut tujuh pendapat mengenai makna hubk dalam ayat ini yaitu:
(1) Mempunyai bentuk yang indah dan rapi;
(2) Mempunyai perhiasan;
(3) Mempunyai bintang;
(4) Mempunyai jalur-jalur seperti yang ada pada permukaan air atau padang pasir apabila dihembus angin;
(5) Yang kokoh dan kuat;
(6) Mempunyai ketebalan;
(7) Mempunyai orbit planet.

Ibn Katsir mengatakan kesemua pen­dapat itu kembali kepada satu makna yaitu keindahan dan keelokan. Keindahan langit dapat dirasakan dengan memperhatikan tingginya, jernihnya, tebalnya, kokohnya bangunan, hamparan yang luas dan juga keelokannya. Selain itu, langit juga dihiasi bintang yang berhenti dan juga bintang yang bergerak. Ia juga dihiasi dengan matahari, bulan, planet dan juga cahaya yang berkilau.

Sedangkan Imam Asy Syaukani menegas­kan para ahli bahasa mengartikan hubuk dengan jalur-jalur.

Meskipun banyak ahli tafsir yang memberi makna berbeda, namun penafsiran mereka bisa dikembalikan ke­pada satu tafsiran langit mempunyai jalur-jalur dan jalur-jalur ini yang menambah keindahannya, menjadikan penciptaannya teratur, mempunyai ada perhiasan dan menyebabkan bertambah kokoh dan kuatnya langit itu.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:200

Informasi Surah Adz Dzaariyaat (الذاريات)
Surat Adz Dzaariyaat terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Ahqaaf.

Dinamai “Adz-Dzaariyaat” (angin yang menerbangkan), diambil dari perkataan “Adz Dzaa­riyaat” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Allah bersumpah dengan angin, mega, bahtera dan malaikat yang menjadi sumber kesejahteraan dan pembawa kemakmuran.
Hal ini mengisyaratkan inayat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Keimanan:

Bagaimana keadaan orang-orang yang beriman di dalam syurga sebagai balasan ketaatan bagi orang yang bertakwa
manusia dan jin dijadikan Allah untuk beribadat kepada-Nya
Allah sebagai Maha Pemberi Rezki
neraka sebagai balasan bagi orang-orang kafir.

Hukum:

Larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya
perintah berpaling dari orang-orang musyrik yang berkepala batu dan memberikan peringatan dan pengajaran kepada orang-orang mu’min
pada harta kekayaan seseorang terdapat hak orang miskin.

Kisah:

Ibrahim a.s. dengan malaikat yang datang ke rumahnya
Musa a.s. dengan Fir’aun kaum ‘Aad dan Tsamud
Nuh a.s. dengan kaumnya.

Lain-lain:

Segala sesuatu diciptakan Allah dengan berpasang-pasangan
pada diri manusia sendiri terdapat tanda-tanda kebesaran Allah.

Ayat-ayat dalam Surah Adz Dzaariyaat (60 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) ayat 7 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) ayat 7 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) ayat 7 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Adz-Dzaariyaat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 60 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 51:7
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Adz Dzaariyaat.

Surah Az-Zariyat (Arab: الذاريات ,"Angin Yang Menerbangkan") adalah surah ke-51 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 60 ayat.
Dinamakan Az-Zariyat yang berarti Angin Yang Menerbangkan diambil dari perkataan Az-Zariyat yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah 51
Nama Surah Adz Dzaariyaat
Arab الذاريات
Arti Angin yang menerbangkan
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 67
Juz Juz 26 & 27
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 60
Jumlah kata 360
Jumlah huruf 1546
Surah sebelumnya Surah Qaf
Surah selanjutnya Surah At-Tur
4.5
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/51-7









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim