QS. Adz Dzaariyaat (Angin yang menerbangkan) – surah 51 ayat 1 [QS. 51:1]

وَالذّٰرِیٰتِ ذَرۡوًا ۙ
Wadz-dzaariyaati dzarwan;

Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.
―QS. 51:1
Topik ▪ Tauhid Uluhiyyah
51:1, 51 1, 51-1, Adz Dzaariyaat 1, AdzDzaariyaat 1, adz dzariyat 1, Az Zariyat 1

Tafsir surah Adz Dzaariyaat (51) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Adz Dzaariyaat (51) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Surah Adz-Dzariyat ini dimulai dengan sumpah dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa semua yang diancamkan itu pasti akan berlaku dan bahwa balasan terhadap segala amal pasti akan terbukti.
Dalam surah yang sebelumnya, dikisahkan kebinasaan beberapa umat yang terdahulu secara umum dan dalam Surah adh-dzariyat ini diberikan perinciannya.
Surah-surah yang pada permulaannya ada sumpah dengan hurufhuruf hijaiah (fawatihus-suwar) biasanya dimaksudkan untuk memperkuat salah satu dari tiga unsur yaitu ketauhidan, kerasulan dan kebangkitan.
Dalam surah-surah yang dimaksudkan untuk memperkuat ketauhidan, biasanya digunakan sumpah dengan benda-benda yang tidak bergerak, dan untuk memperkuat keimanan tentang hari kebangkitan digunakan sumpah dengan benda-benda yang bergerak karena kebangkitan itu mengandung pengumpulan dan pemisahan yang lebih pantas dikaitkan dengan benda-benda yang bergerak.
Orang Arab sangat takut akan sumpah palsu karena akibat yang sangat buruk dan terkutuk.
Oleh karena itu, setiap sumpah yang serius oleh mereka sangat diperhatikan, terlebih jika yang bersumpah itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah, “Demi angin kencang yang menerbangkan debu dengan tiupannya yang sangat kuat dan dahsyat.
Dan dengan awan yang gumpalannya mengandung banyak air hujan.
Dan kapal-kapal yang berlayar hilir-mudik di lautan dengan mudah.
Dan dengan para malaikat yang membagi-bagi segala urusan yang dipikulkan kepada mereka seperti mengatur perjalanan planet dan bintang-bintang, soal menurunkan air hujan, membagi rezeki, dan sebagainya.”

Ayat di atas mengajak kita untuk berpikir tentang angin.
Angin adalah massa udara yang bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah.
Penyebab adanya perbedaan tekanan ini adalah perbedaan suhu.
Pada keadaan volume yang tetap, kenaikan suhu udara akan menaikkan tekanannya.
Tetapi pada kenyataannya di alam kenaikan suhu udara pada suatu tempat akan menyebabkan pemuaian volume udara dan pengaliran udara ke atas, sehingga kerapatan udara di tempat itu akan berkurang dan akan diisi oleh massa udara dari tempat lain yang lebih dingin.
Jadi pada dasarnya pergerakan udara ini dikendalikan oleh energi yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu di tempat-tempat berlainan di permukaan bumi.
Dengan pergerakannya, angin juga berperan sebagai radiator penyeimbang suhu udara.
Tanpa adanya angin suhu di daerah gurun akan jauh lebih panas daripada yang didapati sekarang, demikian pula di daerah dingin akan sangat membekukan.
Energi pergerakan angin yang memadai dapat memberikan banyak manfaat kepada manusia, seperti untuk pelayaran, memutar kincir untuk pembangkit energi.
Di luar kendali manusia angin berperan penting dalam penyerbukan bunga-bunga menjadi buah dan menerbangkan biji-bijian serta spora untuk penyebaran tumbuhan.
Fenomena lain yang terjadi adalah terciptanya gelombang di lautan.
Pergerakan udara dapat pula terjadi dengan energi yang demikian besar sehingga menimbulkan bencana dan kerugian misalnya dalam bentuk badai dan topan.
Dengan angin Allah bersumpah pada ayat berikutnya (Adz-Dzariyat ayat 4):

Dan yang membagi-bagi urusan.
Dengan adanya angin, demikian banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi yang diakibatkan hembusannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Aku bersumpah demi angin yang mendorong awan dengan sekuat-kuatnya, yang membawa gumpalan air yang berat, yang membawa air dengan mudah karena sudah ditundukkan oleh Allah dan dengan angin yang kemudian membagikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Demi yang menerbangkan debu) yakni angin dan lain-lainnya (dengan sekuat-kuatnya) adalah Mashdar, yang diambil dari kata:

Tudzriihi Dzaryan, artinya angin itu menerbangkannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Syu’bah ibnul Hajjaj telah meriwayatkan dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur’urah bahwa ia pernah mendengar Ali r.a.
Syu’bah juga telah meriwayatkan pula dari Al-Qasim ibnu Abu Buzzah, dari Abut Tufail bahwa ia pernah mendengar Ali r.a.
dan telah diriwayatkan pula melalui berbagai alur dari Amirul Mu’minin Ali ibnu Abu Talib r.a.
Disebutkan bahwa ia menaiki mimbar di Kufah lalu berkata, “Tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang suatu ayat di dalam Kitabullah dan tidak pula dari sunnah Rasulullah melainkan aku ceritakan kepada kalian tentangnya.” Maka berdirilah Ibnul Kawa, lalu bertanya, “Hai Amirul Mu’minin, apakah makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya’ (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 1)?”
Maka Ali r.a.
menjawab, “Makna yang dimaksud adalah angin.” Ibnul Kawa menanyakan tentang makna firman selanjutnya: dan awan yang mengandung hujan.
(Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 2) Ali r.a.
menjawab, bahwa yang dimaksud adalah awan.
Lalu Ibnul Kawa bertanya lagi tentang makna firman-Nya: dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah.
(Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 3) Ali r.a.
menjawab, bahwa yang dimaksud adalah kapal-kapal.
Ibnul Kawa bertanya lagi mengenai firman-Nya: (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan (Az-Zariyaf : 4) Maka Ali r.a.
mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk itu.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dalam sebuah hadis yang marfu’.

Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hani’, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Salam Al-Attar, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Sabrah, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa Sabig At-Tamimi datang kepada Umar ibnul Khattab r.a., lalu bertanya, “Hai Amirul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang makna az-zariyati zarwa.” Maka Umar r.a.
menjawab, “Itu adalah angin yang bertiup kencang.
Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah ﷺ mengatakannya, tentulah aku tidak akan mengatakannya.” Sabig bertanya, “Maka ceritakanlah kepadaku makna al-mugassimati amra.” Umar r.a.
menjawab, “Yang dimaksud adalah malaikat-malaikat.
Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah ﷺ mengatakannya, tentulah aku tidak akan mengatakannya.” Sabig At-Tamimi kembali bertanya, “Ceritakanlah kepadaku tentang makna al-jariyati yusra.” Maka Umar r.a.
menjawab, “Makna yang dimaksud ialah kapal-kapal.
Seandainya aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakannya, tentulah aku tidak berani mengatakannya.” Kemudian Khalifah Umar memerintahkan agar Sabig dihukum dera.
Maka ia didera sebanyak seratus kali, lalu disekap di dalam sebuah rumah.
Setelah sembuh dari luka deranya, ia dipanggil lagi dan dihukum dera lagi, lalu dinaikkan ke atas unta, dan Umar r.a.
berkirim surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a.
yang isinya mengatakan, “Laranglah orang-orang duduk bersamanya dalam suatu majelis.” Sanksi itu terus-menerus diberlakukan atas dirinya.
Akhirnya Sabig datang kepada Abu Musa r.a., lalu bersumpah dengan sumpah berat bahwa dia tidak merasa sakit hati atas apa yang telah dialaminya itu.
Maka Abu Musa r.a.
berkirim surat kepada Umar r.a.
memberitakan hal tersebut.
Umar r.a.
membalas suratnya itu dengan mengatakan, “Menurut hemat saya, tiadalah dia sekarang melainkan benar dalam pengakuannya.
Maka biarkanlah dia bergaul dengan orang-orang dalam majelis mereka.”

Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan bahwa Abu Bakar ibnu Abu Sabrah orangnya daif, dan Sa’id ibnu Salam bukan termasuk ahli hadis.
Menurut hemat saya, hadis ini dinilai daif dari segi ke-marfu ‘-annya, dan yang paling mendekati kepada kebenaran hadis ini mauquf hanya sampai pada Umar r.a.
Karena sesungguhnya kisah Sabig ibnu Asal ini cukup terkenal, dan sesungguhnya Khalifah Umar r.a.
memerintahkan agar Sabig didera karena Sabig dalam pertanyaannya itu kelihatan seperti orang yang mengingkarinya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengetengahkan kisah ini di dalam biografi Sabig secara panjang lebar.

Hal yang sama ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim tidak mengetengahkan riwayat lain kecuali hanya ini.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan az-zariyat ialah angin yang kencang seperti pendapat yang pertama, karena yang dimaksud dengan hamilat ialah awan yang juga sama dengan pendapat yang pertama, karena awan mengandung air.
Seperti yang dikatakan oleh Zaid ibnu Amr ibnu Nufail, seorang penyair, dalam salah satu bait syairnya:

Dan aku berserah diri kepada Tuhan yang berserah diri kepada-Nya awan yang membawa air yang tawar.

Adapun jariyat, maka pendapat yang terkenal dari jumhur ulama menyebutkan seperti pendapat di atas, yaitu kapal-kapal yang berlayar dengan mudah di atas permukaan air.
Menurut sebagian dari mereka, yang dimaksud adalah bintang-bintang yang beredar pada garis edarnya masing-masing.
Demikian itu agar ungkapan ini dimaksudkan bertingkat-tingkat dimulai dari yang paling bawah, kemudian berakhir di yang paling atas.
Dengan kata lain, angin di atasnya terdapat awan, dan bintang-bintang di atas kesemuanya itu, dan yang lebih atas lagi ialah para malaikat yang ditugaskan untuk membagi-bagi urusan; mereka turun dengan membawa perintah-perintah Allah, baik yang berupa syariat ataupun yang berupa urusan alam.
Ungkapan ini merupakan qasam atau sumpah dari Allah subhanahu wa ta’ala yang menunjukkan akan kepastian terjadinya hari kembali (hari kiamat).


Kata Pilihan Dalam Surah Adz Dzaariyaat (51) Ayat 1

DZAARIYAAT
لذَّٰرِيَٰت

Lafaz ini adalah jamak, mufradnya adz­ dhariyah, berasal dari kata adz dzarw atau dari dzarat ar rih asy syay’ yang bermakna, apabila angin menerbangkannya, menerpanya dan menghilangkannya.

Al-Yazidi mengatakan, adz dzaariyaat ialah ar riyah yaitu angin.”

Disebutkan sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Adz Dzaariyaat (51), ayat 1. Allah berfirman:

وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ذَرْوًا

Al Khazin dan An Nasafi berpendapat, makna adz dzaariyaat ialah angin yang me­nerbangkan dan menerpa debu.

An Nasafi menjelaskan, adz dzaariyaat bisa bermakna angin yang menerbangkan debu dan yang lainnya atau wanita yang me­lahirkan karena mereka melahirkan anak atau sebab menghamburkan dan menerbang­kan makhluk yang dilakukan oleh malaikat.

Begitu juga dengan pendapat Asy Syaukani, yang menyatakan adz dzaariyaat adalah angin yang menghamburkan debu, maksudnya Allah bersumpah dengan angin yang meng­hamburkan debu.

Kesimpulannya maksud lafaz adz dzaariyaat ialah angin yang menghamburkan debu­ debu.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:241-242

Informasi Surah Adz Dzaariyaat (الذاريات)
Surat Adz Dzaariyaat terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Ahqaaf.

Dinamai “Adz-Dzaariyaat” (angin yang menerbangkan), diambil dari perkataan “Adz Dzaa­riyaat” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Allah bersumpah dengan angin, mega, bahtera dan malaikat yang menjadi sumber kesejahteraan dan pembawa kemakmuran.
Hal ini mengisyaratkan inayat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Keimanan:

Bagaimana keadaan orang-orang yang beriman di dalam syurga sebagai balasan ketaatan bagi orang yang bertakwa
manusia dan jin dijadikan Allah untuk beribadat kepada-Nya
Allah sebagai Maha Pemberi Rezki
neraka sebagai balasan bagi orang-orang kafir.

Hukum:

Larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya
perintah berpaling dari orang-orang musyrik yang berkepala batu dan memberikan peringatan dan pengajaran kepada orang-orang mu’min
pada harta kekayaan seseorang terdapat hak orang miskin.

Kisah:

Ibrahim a.s. dengan malaikat yang datang ke rumahnya
Musa a.s. dengan Fir’aun kaum ‘Aad dan Tsamud
Nuh a.s. dengan kaumnya.

Lain-lain:

Segala sesuatu diciptakan Allah dengan berpasang-pasangan
pada diri manusia sendiri terdapat tanda-tanda kebesaran Allah.

Ayat-ayat dalam Surah Adz Dzaariyaat (60 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Adz-Dzaariyaat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 60 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 51:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Adz Dzaariyaat.

Surah Az-Zariyat (Arab: الذاريات ,"Angin Yang Menerbangkan") adalah surah ke-51 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 60 ayat.
Dinamakan Az-Zariyat yang berarti Angin Yang Menerbangkan diambil dari perkataan Az-Zariyat yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah 51
Nama Surah Adz Dzaariyaat
Arab الذاريات
Arti Angin yang menerbangkan
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 67
Juz Juz 26 & 27
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 60
Jumlah kata 360
Jumlah huruf 1546
Surah sebelumnya Surah Qaf
Surah selanjutnya Surah At-Tur
4.5
Ratingmu: 4.5 (21 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/51-1







Pembahasan ▪ qs 1:51

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim