QS. Adh Dhuhaaa (Waktu matahari sepenggalahan naik (Dhuha)) – surah 93 ayat 10 [QS. 93:10]

وَ اَمَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ
Wa-ammaassaa-ila falaa tanhar;

Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.
―QS. 93:10
Topik ▪ Sifat orang munafik
93:10, 93 10, 93-10, Adh Dhuhaaa 10, AdhDhuhaaa 10, AdhDhuha 10, Ad Dhuha 10, Adh Dhuha 10, Ad Duha 10, Ad-Duha 10

Tafsir surah Adh Dhuhaaa (93) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Adh Dhuhaaa (93) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar orang-orang yang meminta sesuatu daripadanya janganlah hendaknya ditolak secara kasar dan dibentak, malah sebaliknya diberi sesuatu atau ditolak secara halus.
Ada pendapat bahwa yang dimaksud dengan kata “as sa’ila” adalah orang yang memohon petunjuk, maka hendaknya pemohon ini diladeni dengan lemah-lembut sambil memenuhi permohonannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apabila hal ini yang Allah lakukan terhadapmu, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim, jangan mengusir orang yang meminta-minta dengan kekerasan, dan sebutlah nikmat Tuhanmu sebagai rasa syukur kepada Allah dan juga untuk menunjukkan nikmat-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya) membentaknya karena dia miskin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat selanjutnya berfirman:

Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
(Q.S. Adh-Dhuhaaa [93]: 9)

Yakni sebagaimana engkau dahulu seorang yang yatim, lalu Allah melindungimu, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim.
Yakni janganlah kamu menghina, membentak, dan merendahkannya; tetapi perlakukanlah dia dengan baik, dan kasihanilah dia.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa jadilah engkau terhadap anak yatim sebagai seorang ayah yang penyayang.

Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.
(Q.S. Adh-Dhuhaaa [93]: 10)

Yaitu sebagaimana engkau dahulu dalam keadaan kebingungan, lalu Allah memberimu petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu yang benar kepadamu dengan permintaan yang sesungguhnya.

Ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.
(Q.S. Adh-Dhuhaaa [93]: 10) Maksudnya, janganlah kamu bersikap sewenang-wenang, jangan sombong, jangan berkata kotor, dan jangan pula bersikap kasar terhadap orang-orang yang lemah dari hamba-hamba Allah.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah bila menolak orang miskin lakukanlah dengan sikap kasih sayang dan lemah lembut.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).
(Q.S. Adh-Dhuhaaa [93]: 11)

Yakni sebagaimana engkau dahulu orang yang kekurangan lagi banyak tanggungannya,’lalu Allah menjadikanmu berkecukupan, maka syukurilah nikmat Allah yang diberikan kepadamu itu.
Sebagaimana yang disebutkan dalam doa yang di-ma’sur dari Nabi ﷺ seperti berikut:

Dan jadikanlah kami orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu dan memanjatkan pujian kepada-Mu karenanya serta menerimanya, dan sempurnakanlah nikmat itu kepada kami.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Iyas Al-Jariri, dari Abu Nadrah yang mengatakan bahwa dahulu orang-orang muslim memandang bahwa termasuk mensyukuri nikmat-mkmat Allah ialah dengan menyebut-nyebutnya (mensyukurinya dengan lisan).

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Anas, bahwa Kaum Muhajirin bertanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang Ansar telah memborong semua pahala.” Maka Nabi ﷺ menjawab:

Tidak, selama kalian mendoakan mereka kepada Allah dan memuji sikap baik mereka.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Muslim, dari Muhammad ibnu Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada (kebaikan) orang lain.

Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Muhammad, dari Ibnul Mubarak, dari Ar-Rabi’ ibnu Muslim, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini sahih.

Abu Daud mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Jarrah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Barang siapa yang mendapat suatu cobaan (yang baik), lalu ia menyebutnya, berarti dia telah mensyukurinya; dan barang siapa yang menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkarinya.

Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini secara munfarid (tunggal).

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Imarah ibnu Gaziyyah, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki dari kalangan kaumku, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang diberi suatu pemberian, lalu ia mempunyai sesuatu untuk membalasnya, maka balaslah pemberian itu.
Dan jika ia tidak mempunyai sesuatu untuk membalasnya, maka hendaklah ia memuji pemberinya.
Maka barang siapa yang memuji pemberinya, berarti telah mensyukurinya; dan barang siapa yang menyembunyikannya (tidak menyebutnya), berarti dia telah mengingkarinya.

Abu Daud mengatakan bahwa dan Yahya ibnu Ayyub meriwayatkannya dari Imarah ibnu Gaziyyah, dari Syurahbil, dari Jabir; mereka tidak mau menyebut nama Syurahbil karena mereka tidak suka kepadanya.
Abu Daud meriwayatkan hadis ini secara munfarid (tunggal).

Mujahid mengatakan bahwa nikmat yang dimaksud dalam ayat ini adalah kenabian yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi-Nya.
Yakni syukurilah kenabian yang telah diberikan Tuhanmu kepadamu.
Menurut riwayat yang lain, nikmat yang dimaksud adalah Al-Qur’an.

Lais telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Al-Hasan ibnu Ali sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).
(Q.S. Adh-Dhuhaaa [93]: 11) Yakni kebaikan apapun yang telah kamu kerjakan, maka ceritakanlah hal itu kepada saudara-saudaramu.

Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu berupa nikmat, kemuliaan dan kenabian, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya dan ceritakanlah kepada orang lain dan serulah (mereka) kepadanya.
Muhammad ibnu Ishaq melanjutkan, bahwa lalu Rasulullah ﷺ menceritakan karunia kenabian yang telah diterima olehnya itu kepada orang-orang yang telah beliau percayai dari kalangan keluarganya secara diam-diam.
Lalu difardukanlah ibadah salat kepadanya, maka beliau mengerjakannya.


Informasi Surah Adh Dhuhaaa (الضحى‎‎)
Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturunkan sesudah surat Al Fajr.

Nama “Adh Dhuhaa” diambil dari kata “Adh Dhuhaa” yang terdapat pada ayat pertama, artinya:
waktu matahari sepenggalahan naik.

Keimanan:

Allah subhanahu wa ta’ala sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad ﷺ isyarat dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa kehidupan Nabi Muhammad ﷺ dan da’wahnya akan bertambah baik dan berkembang
larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut ni’mat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.

Lain-lain:

Allah subhanahu wa ta’ala sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad ﷺ isyarat dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa kehidupan Nabi Muhammad ﷺ dan da’wahnya akan bertambah baik dan berkembang
larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut ni’mat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.

Ayat-ayat dalam Surah Adh Dhuhaaa (11 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Adh-Dhuhaaa (93) ayat 10 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Adh-Dhuhaaa (93) ayat 10 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Adh-Dhuhaaa (93) ayat 10 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Adh-Dhuha (93) ayat 1-11 - Indra Aziz (Bahasa Indonesia)
Q.S. Adh-Dhuha (93) ayat 1-11 - Indra Aziz (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Adh-Dhuhaaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 11 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 93:10
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Adh Dhuhaaa.

Surah Ad-Duha (bahasa Arab:الضحى) adalah surah ke-93 dalam al-Qur'an dan terdiri atas 11 ayat.
Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr.
Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya "waktu matahari sepenggalahan naik".

Surat Adh Dhuhaa, menerangkan tentang pemeliharaan Allah subhanahu wa ta'ala terhadap Nabi Muhammad ﷺ dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat.

Nomor Surah 93
Nama Surah Adh Dhuhaaa
Arab الضحى‎‎
Arti Waktu matahari sepenggalahan naik (Dhuha)
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 11
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 11
Jumlah kata 40
Jumlah huruf 165
Surah sebelumnya Surah Al-Lail
Surah selanjutnya Surah Al-Insyirah
4.8
Ratingmu: 4.2 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta