QS. Ad Dukhaan (Kabut) – surah 44 ayat 56 [QS. 44:56]

لَا یَذُوۡقُوۡنَ فِیۡہَا الۡمَوۡتَ اِلَّا الۡمَوۡتَۃَ الۡاُوۡلٰی ۚ وَ وَقٰہُمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ
Laa yadzuuquuna fiihaal mauta ilaal mautatal aula wawaqaahum ‘adzaabal jahiim(i);

mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia.
Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka,
―QS. 44:56
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Kekufuran manusia akan nikmat Allah
44:56, 44 56, 44-56, Ad Dukhaan 56, AdDukhaan 56, AdDukhan 56, Ad Dukhan 56, Ad-Dukhan 56

Tafsir surah Ad Dukhaan (44) ayat 56

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ad Dukhaan (44) : 56. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menerangkan kenikmatan lain yang dianugerahkan-Nya di dalam surga nanti, yaitu mereka tidak akan merasakan mati seperti yang mereka rasakan di dunia.
Mereka akan hidup kekal di surga nanti.
Hal ini berarti bahwa penghuni surga itu tetap dalam keadaan sehat wal afiat jasmani dan rohani dan mereka telah naik ke suatu martabat yang tidak dianugerahkan Allah kepada makhluk yang lain, kecuali malaikat yaitu hidup kekal penuh kebahagiaan.
Dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Muslim digambarkan keadaan penghuni-penghuni surga itu, yaitu:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Sa’id bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, seorang penyeru menyerukan, “Sesungguhnya kamu akan selalu sehat, karena itu kamu tidak akan menderita sakit selama-lamanya; sesungguhnya kamu akan tetap hidup dan tidak akan mati selama-lamanya, dan sesungguhnya kamu akan tetap muda dan tidak akan pernah mengalami ketuaan selama-lamanya dan sesungguhnya kamu akan merasa nikmat dan tidak akan menderita selama-lamanya.”
(Riwayat Muslim)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa para penghuni surga itu terpelihara dari siksa neraka.
Terpelihara dari siksa itu termasuk salah satu dari kenikmatan yang sangat berharga, karena apabila seseorang terlepas dari suatu bahaya atau melihat orang lain menderita sedangkan ia sendiri terlepas dari bahaya dan penderitaan itu, maka ia akan merasakan suatu nikmat dan merasa bahwa ia tidak pernah berbuat suatu kejahatan sehingga ia tidak mengalami penderitaan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di sana mereka tidak lagi merasakan mati setelah kematian di dunia ketika ajal mereka datang.
Mereka dipelihara Tuhan dari siksa neraka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati yang pertama) yaitu kematian sewaktu di dunia.

Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa lafal Illaa di sini bermakna Ba’da, yakni sesudah.

(Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka.)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 56)

Ini merupakan istisna yang menguatkan nafi, karena sesungguhnya ungkapan ini adalah istisna munqati’, yang artinya ialah mereka tidak akan merasakan mati lagi di dalam surga untuk selama-lamanya.
Seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

maut didatangkan dalam rupa kambing gibasy yang bertanduk, lalu dihentikan di antara surga dan neraka, kemudian disembelih, dan dikatakan, “Hai ahli surga, kekallah, tiada kematian lagi.
Hai ahli neraka, kekallah tiada kematian lagi.”

Dalam tafsir surat Maryam a.s, hadis ini telah dikemukakan.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Abu Muslim Al-Agar, dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Dikatakan kepada ahli surga, “Sesungguhnya kalian akan tetap sehat dan tidak akan sakit selama-lamanya, dan sesungguhnya kalian akan tetap hidup dan tidak akan mati selama-lamanya.
Dan kalian akan hidup dengan nikmat, dan tidak akan sengsara selama-lamanya.
Dan kalian akan tetap muda dan tidak akan tua lagi selama-lamanya.”

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Ishaq ibnu Rahawaih dan Abd ibnu Humaid, keduanya dari Abdur Razzaq dengan sanad yang sama.
Abu Ishaq dan ulama Iraq menyebut Abu Muslim Al-Agar, sedangkan ulama Madinah menyebutnya Abu Abdullah Al-Agar.

Abu Bakar ibnu Abu Daud As-Sijistani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hafs, dari ayahnya, dari Ibrahim ibnu Tuhman, dari Al-Hajjaj (yakni Ibnu Hajjaj), dari Ubadah, dari Ubaidillah ibnu Amr, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya masuk surga.
Dia hidup nikmat di dalamnya dan tidak akan sengsara, dan ia hidup kekal di dalamnya tidak akan mati, dan pakaiannya tidak akan rusak serta kemudaannya tidakakan luntur (hilang).

Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Muhammad An-Naqid, telah menceritakan kepada kami salim ibnu Abdullah Ar-Ruqqi, telah menceritakan kepada kami Mus’ab ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Imran ibnur Rabi’ Al-Kufi, dari Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir r.a.
yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya, “Apakah ahli surga tidur?”
Nabi ﷺ menjawab: Tidur itu adalah saudaranya mati, maka ahli surga itu tidak tidur.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya:

bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Qasim ibnu Sadaqah Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Al-Miqdam ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tidur itu saudaranya mati, maka ahli surga tidak tidur.

Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya:

telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf Al-Faryabi, dari Sufyan, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir r.a.
yang mengatakan bahwa pernah ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah ahli surga itu tidur?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Tidak, tidur itu adalah saudaranya mati.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengetahui ada seseorang yang meng-isnad-kan hadis ini dari Ibnul Munkadir, dari Jabir r.a.
selain As-Sauri, dan tiada pula yang dari As-Sauri selain Al-Faryabi.
Demikianlah menurutnya, dan mengenai perselisihan dalam hal ini telah disebutkan sebelumnya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 56)

Yakni selain mendapatkan nikmat yang besar lagi kekal ini, mereka dipelihara dari azab yang pedih, yaitu azab neraka Jahim dan Allah menyelamatkan mereka serta menjauhkan mereka dari azab itu.
Dengan demikian, berarti mereka memperoleh yang diinginkan dan diselamatkan dari yang ditakutkan.


Informasi Surah Ad Dukhaan (الدخان)
Surat Ad Dukhaan terdiri atas 59 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Az Zukhruf,

Dinamai “Ad Dukhaan” (kabut), diambil dari perkataan “Dukhaan” yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut:
Orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muham­ mad ﷺ sudah melewati batas, karena itu Nabi mendo’a kepada Allah agar diturunkan azab, sebagairnana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Do’a Nabi itu dikabulkan Allah, sampai orang-orang kafir me­makan tulang dan bangkai, karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi padangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan di­ turunkan.
Setelah Allah mengabulkan do’a Nabi, dan hujan diturunkan, mereka kembali kafir seperti semula karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Keimanan:

Dalil-dalil atas kenabian Muhammad s.a.w .
huru-hara dan kehebatan hari kiamat
pada hari kiamat hanya amal-amal seseorang yang dapat menolongnya
azab dan penderitaan yang ditemui orang-orang kafir di akhirat serta ni’mat dan kesenang­ an yang diterirna orang-orang mu ‘min.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dengan Fir’aun dan kaumnya.

Lain-lain:

Permulaan turunnya Al Qur’an pada malam lailatul Qadar
orang-orang kafir ha­nya berirnan kalau mereka ditimpa bahaya, kalau bahaya telah hilang mereka kafir kembali
dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat hikmat yang be­sar.

Ayat-ayat dalam Surah Ad Dukhaan (59 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 56 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 56 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 56 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ad-Dukhaan - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 59 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 44:56
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Surah Ad-Dukhan (bahasa Arab:الدخان) adalah surah ke 44 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surat makkiyah yang terdiri atas 59 ayat.
Dinamakan Ad-Dukhan yang berarti Kabut diambil dari kata Ad-Dukhan yang terdapat pada ayat 10 surah ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut: Orang-orang kafir Mekkah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad s.a.w.
sudah melewati batas, karena itu Nabi berdoa kepada Allah agar diturunkan azab sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Doa Nabi itu dikabulkan Allah sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan diturunkan.
Setelah Allah mengabulkan doa Nabi dan hujan di turunkan, mereka kembali kafir seperti semula.
Karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Nomor Surah 44
Nama Surah Ad Dukhaan
Arab الدخان
Arti Kabut
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 64
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 59
Jumlah kata 346
Jumlah huruf 1475
Surah sebelumnya Surah Az-Zukhruf
Surah selanjutnya Surah Al-Jasiyah
4.9
Ratingmu: 4.7 (11 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim