Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ad Dukhaan (Kabut) – surah 44 ayat 36 [QS. 44:36]

فَاۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
Fa’tuu biaabaa-inaa in kuntum shaadiqiin(a);
maka hadirkanlah (kembali) nenek moyang kami jika kamu orang yang benar.”
―QS. Ad Dukhaan [44]: 36

Then bring (back) our forefathers, if you should be truthful."
― Chapter 44. Surah Ad Dukhaan [verse 36]

فَأْتُوا۟ maka datanglah

Then bring
بِـَٔابَآئِنَآ dengan bapak-bapak kami

our forefathers,
إِن jika

if
كُنتُمْ kalian adalah

you are
صَٰدِقِينَ orang-orang yang benar

truthful."

Tafsir

Alquran

Surah Ad Dukhaan
44:36

Tafsir QS. Ad Dukhaan (44) : 36. Oleh Kementrian Agama RI


Allah menerangkan tantangan orang musyrik Mekah kepada Rasulullah.
Seandainya yang dikatakan rasul itu benar, yaitu adanya hari kebangkitan hendaklah dia mengemukakan bukti kebenaran dan hendaklah dia menghidupkan kembali nenek moyang mereka yang telah mati dahulu.

Menurut mereka, seandainya Rasulullah ﷺ dapat membangkitkan (dari kubur) menghidupkan kembali nenek moyang mereka tentu hal ini dapat menjadi bukti adanya hari kebangkitan itu.


Maka Allah menjelaskan bahwa Dia kuasa mengumpulkan sesuatu yang berserakan, mulai dari benda padat, benda cair, dan udara, dari atom yang paling kecil sampai kepada molekul-molekul, semua dikumpulkan menjadi satu sehingga terbentuk seorang manusia.

Tahukah manusia dari mana asal makanan yang dimakannya, pakaian yang dipakainya, alat rumah tangga yang mereka gunakan, dan sebagainya.
Semua datang dari penjuru dunia yang berjauhan, kemudian dikumpulkan Tuhan pada suatu tempat untuk memenuhi keperluan dan keinginan seorang manusia.

Jika hal yang demikian itu dapat dilakukan Allah, tentu mengumpulkan kembali tulang yang berserakan, daging yang telah hancur luluh menjadi tanah, dan rekaman perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan seseorang lebih mudah dilakukan-Nya, mengulang membuat sesuatu yang pernah ada jauh lebih mudah dari membuatnya pada pertama kalinya.


Dari keterangan demikian, dapat disimpulkan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi.

Hanya saja waktunya belum diketahui dan hanya Allah saja yang mengetahuinya.
Yang jelas, hari kebangkitan itu akan terjadi setelah seluruh jagad raya mengalami kehancuran total termasuk semua isinya.

Itulah sebabnya Allah tidak melayani tantangan orang-orang musyrik, karena tidak berguna menjawabnya.
Tantangan itu dikemukakan mereka hanyalah untuk menutupi isi dan keinginan hati mereka.

Dikabulkan atau tidak permintaan mereka itu, mereka tidak juga akan beriman.

Tafsir QS. Ad Dukhaan (44) : 36. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Mereka berkata kepada Rasulullah dan orang-orang Mukmin,
"Jika kalian memang orang-orang yang benar dengan klaim kalian bahwa Tuhan akan menghidupkan kembali orang mati untuk dihisab di akheirat, maka mintakanlah kepada Tuhan agar Dia menghidupkan kembali nenek moyang kami yang telah mati."

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Mereka berkata juga,
"Wahai Muhammad, datangkanlah nenek moyang kami yang sudah meninggal jika kamu benar berkata bahwa Allah akan membangkitkan orang yang dalam kubur dalam keadaan hidup."

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka datangkanlah bapak-bapak kami) dalam keadaan hidup


(jika kalian memang orang-orang yang benar") bahwasanya kami akan dibangkitkan menjadi hidup kembali sesudah kami mati.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari perbuatan orang-orang musyrik yang ingkar terhadap hari berbangkit dan hari kemudian.
Mereka berkeyakinan bahwa tiada kehidupan itu melainkan hanya kehidupan di dunia ini, dan tiada kehidupan lagi sesudah mati, tiada hari berbangkit, dan tiada hari pembalasan.
Mereka mengatakan demikian dengan beralasan bapak moyang mereka telah tiada, ternyata mereka tidak kembali lagi, dan jika hari berbangkit itu benar,

maka datangkanlah (kembali) bapak-bapak kami jika kamu memang orang-orang yang benar.
(QS. Ad-Dukhaan [44]: 36)

Ini adalah alasan yang batil dan alibi yang kacau serta tidak benar, karena sesungguhnya hari berbangkit itu hanya terjadi pada hari kiamat dan bukan di kehidupan dunia, bahkan terjadi hari berbangkit itu justru sesudah usia dunia habis dan lenyap, lalu Allah mengulangi penciptaan mereka dalam ciptaan yang baru.
Dan dia menjadikan orang-orang yang zalim untuk menghuni neraka Jahanam sebagai umpannya.
Hal ini terjadi di hari ketika kamu sekalian menjadi saksi atas umat manusia dan Rasul pun menjadi saksi atas kalian.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengancam mereka dan memperingatkan mereka terhadap azab-Nya yang tidak dapat ditolak, seperti yang telah menimpa orang-orang yang serupa dengan mereka di masa dahulu dari kalangan orang-orang yang mempersekutukan Allah lagi ingkar kepada hari berbangkit.
Sebagai contohnya ialah kaum Tubba, yaitu kaum Saba‘, Allah telah membinasakan mereka, merusak negeri mereka, serta menjadikan mereka bercerai berai di berbagai negeri di luar negeri mereka, seperti yang telah diterangkan di dalam tafsir surat Saba‘.
Mereka adalah kaum musyrik yang mula-mula ingkar kepada adanya hari kemudian.

Demikian pula dalam surat Ad-Dukhan ini, orang-orang musyrik diserupakan dengan kaum Tubba’;
dan mereka pun dahulunya adalah orang-orang Arab dari Qahtan, sebagaimana orang-orang musyrik Mekah pun adalah orang-orang Arab dari ‘Adnan.

Dahulu orang-orang Himyar (yakni kaum Saba‘) bila mengangkat seorang raja untuk mereka, mereka menjulukinya dengan gelar Tubba’, seperti dikatakan Kisra bagi Raja Persia, Kaisar bagi Raja Romawi, Fir’aun bagi Raja Mesir, Negus bagi Raja Habsyah, dan julukan-julukan lainnya yang berlaku di kalangan tiap bangsa.

Tetapi telah disepakati di kalangan ahli sejarah bahwa sebagian dari para Tubba’ ada yang keluar dari negeri Yaman dan menjelajahi berbagai negeri hingga sampai di Samarkand.
Di tanah pengembaraan ia mendirikan kerajaan hingga kerajaannya kuat dan pengaruhnya besar, begitu pula bala tentaranya, kerajaannya luas, dan rakyatnya banyak.
Dialah yang membangun kota Hirah.

Telah disepakati pula bahwa dia dalam perjalanannya melalui kota Madinah, yang hal ini terjadi di masa Jahiliah.
Lalu ia bermaksud akan memerangi penduduknya, tetapi penduduk Madinah mempertahankan dirinya dan memerangi mereka di siang hari, sedangkan di malam harinya penduduk Madinah menjamu mereka.
Akhirnya raja itu malu terhadap penduduk Madinah dan akhirnya dia tidak lagi memerangi mereka.

Raja itu membawa serta dua orang pendeta Yahudi yang pernah menasehatinya, keduanya menceritakan kepada rajanya bahwa tiada cara baginya untuk menaklukkan kota Madinah ini, karena sesungguhnya kota ini kelak akan dijadikan tempat hijrah nabi akhir zaman.
Maka si raja meneruskan perjalanannya, dan membawa serta’kedua pendeta Yahudi itu ke negeri Yaman.

Ketika raja itu melewati Mekah, ia berkehendak akan merobohkan Ka’bah, tetapi kedua pendeta Yahudi itu melarangnya melaksanakan niatnya itu.
Keduanya menceritakan kepadanya kebesaran dari Ka’bah itu, bahwa Ka’bah tersebut dibangun oleh Ibrahim kekasih Allah, dan kelak di masa mendatang Ka’bah akan mempunyai kedudukan yang besar di masa nabi yang akan diutus di akhir zaman nanti.
Akhirnya si Raja itu menghormatinya, dan melakukan tawaf di sekelilingnya dan memberinya kain kelambu, hadiah-hadiah, dan berbagai macam pakaian.
Kemudian ia kembali meneruskan perjalanannya menuju negeri Yaman, dia menyeru penduduk Yaman untuk beragama Yahudi sama dengan dirinya.
Di masa itu agama yang tersebar adalah agama nabi Musaalaihis salam Di negeri Yaman terdapat sebagian orang yang mendapat hidayah sebelum Al-Masih diutus.
Akhirnya sebagian penduduk Yaman masuk agama Yahudi mengikuti jejak rajanya.

Kisah ini secara panjang lebar diceritakan oleh Imam Muhamad Ibnu Ishaq di dalam Kitabus Sirah-nya.
Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengetengahkan biografi raja ini di dalam kitab tarikhnya.
Banyak peristiwa yang dikemukakan olehnya, sebagian di antaranya seperti yang telah disebutkan di atas dan sebagian lainnya yang tidak kami sebutkan.
Ibnu Asakir mengatakan bahwa raja tersebut adalah Raja Dimasyq.
Disebutkan bahwa apabila memeriksa kudanya, maka dibariskan untuknya kuda-kuda dari kota Dimasyq sampai ke Yaman.


Kemudian Al-Hafiz ibnu Asakir mengetengahkan melalui jalur Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Ibnu Abu Zi-b dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Aku tidak mengetahui apakah hukuman had itu dapat membersihkan pelakunya (dari dosa yang dilakukannya) ataukah tidak?
Dan aku tidak mengetahui apakah Tubba’ itu dikutuk ataukah tidak;
dan aku tidak mengetahui apakah Zul Qarnain;
itu seorang nabi ataukah seorang raja?
Dan di dalam riwayat lain disebutkan:
(Aku tidak mengetahui) apakah Uzair itu seorang nabi ataukah bukan?

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Muhammad Ibnu Hamma Az-Zahrani, dari Abdur Razzaq.

Ad-Daruqutni mengatakan bahwa Abdur Razzaq meriwayatkan hadis ini secara munfarid (tunggal).
Kemudian Ibnu Asakir meriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Kuraib, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas r.a. secara marfu‘:

Aku tidak tahu, apakah Uzair seorang nabi ataukah bukan?
Dan aku tidak tahu apakah Tubba’ seorang yang dilaknat ataukah bukan ?

Kemudian Ibnu Asakir mengetengahkan riwayat yang melarang mencaci dan melaknat Tubba’, seperti yang akan diterangkan kemudian, Insya Allah.
Seakan-akan —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— pada awalnya Tubba’ kafir, lalu masuk Islam dan mengikuti agama Musaalaihis salam di tangan pendeta-pendeta Yahudi di masa itu yang berada pada jalan kebenaran sebelum Al-Masih diutus.
Tubba’ ini sempat berhaji ke Baitullah di masa orang-orang Jurhum, dan memberinya kain kelambu dari sutra dan kain hibarah serta menyembelih kurban di dekatnya sebanyak enam ribu ekor unta;
Tubba’ ini menghormati dan memuliakan Ka’bah (Baitullah).
Sesudah itu ia kembali ke negeri Yaman.

Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengetengahkan kisahnya dengan panjang lebar melalui berbagai jalur dari Ubay ibnu Ka’b, Abdullah ibnu Salam, dan Abdullah ibnu Abbas r.a. juga Ka’bul Ahbar.


Kisah ini memang bersumber dari Ka’bul Ahbar—juga dari Abdullah ibnu Salam—yang predikatnya jauh lebih kuat, lebih besar, dan lebih ‘alim.
Dan hal yang sama telah diriwayatkan pula kisah mengenainya oleh Wahb ibnu Munabbih dan Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya, seperti yang telah kita kenal.

Tetapi Al-Hafiz Ibnu Asakir pada sebagian konteks yang dikemukakannya sehubungan dengan autobiografi Tubba’ mengalami sedikit kekacauan karena dicampur dengan autobiografi orang yang datang sesudahnya (Tubba’) dalam masa yang cukup lama.
Karena sesungguhnya Tubba’ yang diisyaratkan di dalam Alquran ini kaumnya masuk Islam di tangannya, kemudian setelah ia wafat kaumnya kembali kepada kesesatan, yaitu menyembah berhala dan api.
Maka Allah mengazab mereka, sebagaimana yang disebutkan d"i dalam tafsir surat Saba*’.
Kami telah menceritakan kisahnya dengan panjang lebar dalam tafsir surat tersebut.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa Tubba’ telah memberi kelambu pada Ka’bah dan Sa’id ibnu Jubair melarang orang-orang mencaci Tubba’.
Tubba’ yang ini adalah Tubba’ yang pertengahan, nama aslinya adalah As’ad alias Abu Kuraib ibnu Malyakrib Al-Yamani.
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa dia menjadi raja kaumnya selama tiga ratus dua puluh enam tahun;
tiada seorang raja pun di Himyar yang masa pemerintahannya lebih lama daripada dia.
Dia meninggal dunia sebelum Nabi ﷺ diutus dalam kurun waktu tujuh ratus tahun sebelumnya.

Ibnu Abud Dunia telah meriwayatkan bahwa di masa Islam pernah dilakukan suatu penggalian terhadap sebuah kuburan kuno di kota Sana’ dan ternyata mereka menjumpai dua jenazah wanita yang keduanya masih utuh.
Di dekat kepala masing-masing terdapat lempengan perak yang ditulis dengan emas, menyebutkan bahwa ini adalah kuburan Huyay dan Tamis, yang menurut riwayat lain menyebutkan Huyay dan Tumadir;
keduanya adalah anak perempuan Tubba’ mereka berdua meninggal dunia dalam keadaan beragama Tauhid, yakni telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan keduanya tidak pernah mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.
Begitu pula yang dipegang teguh oleh orang-orang saleh yang ada di masanya hingga mereka meninggal.
Telah kami ceritakan pula di dalam tafsir surat Saba Syair Saba‘ mengenai hal tersebut.

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Ka’b pernah mengatakan tentang Tubba’ dia adalah seorang lelaki saleh.
Allah telah mencela perbuatan kaumnya, tetapi dia tidak dicela.
Dan Ka’b mengatakan bahwa Aisyah r.a. pernah mengatakan,
"Janganlah kalian mencela Tubba’, karena sesungguhnya dia adalah seorang yang saleh."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Lahi’ah, dari Abu Zar‘ah (Yakni Amr ibnu Jabir Al-Hadrami) yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sahl ibnu Sa’d As-Sa’idi r.a. mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Janganlah kalian mencaci Tubba’, karena sesungguhnya dia adalah orang yang telah masuk Islam.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini di dalam kitab musnadnya, dari Hasan ibnu Musa, dari Ibnu Lahi’ah dengan sanad yang sama.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ali Al-Abar, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Abu Barzah, telah menceritakan kepada kami Muammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Janganlah kalian mencaci Tubba’, karena sesungguhnya dia adalah orang Islam.

Abdur Razzaq mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Abu Zi-b, dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
apakah Tubba’ seorang nabi ataukah bukan?

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan melalui sanad ini dalam riwayat Ibnu Abu Hatim hal yang sama dengan apa yang diketengahkan oleh Ibnu Asakir, yaitu:
Aku tidak mengetahui apakah Tubba’ seorang yang dilaknat ataukah bukan?

Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui kebenarannya.
Ibnu Asakir telah meriwayatkan hal ini melalui jalur Zakaria ibnu Yahya Al-Madani, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas secara mauquf.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran alias Abul Huzail, telah menceritakan kepadaku Tamim ibnu Abdur Rahman yang mengatakan bahwa Ata ibnu Abu Rabbah pernah mengatakan:
Janganlah kalian mencaci Tubba’, karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah melarang mencacinya.

Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Unsur Pokok Surah Ad Dukhaan (الدخان)

Surat Ad Dukhaan terdiri atas 59 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Az Zukhruf.

Dinamai "Ad Dukhaan" (kabut), diambil dari perkataan "Dukhaan" yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut:
Orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad ﷺ sudah melewati batas, karena itu Nabi mendo’a kepada Allah agar diturunkan azab, sebagairnana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.

Do’a Nabi itu dikabulkan Allah, sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai, karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi padangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan diturunkan.
Setelah Allah mengabulkan do’a Nabi, dan hujan diturunkan, mereka kembali kafir seperti semula, karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Keimanan:

Dalildalil atas kenabian Muhammad ﷺ.
▪ Huru-hara dan kehebatan hari kiamat.
▪ Pada hari kiamat hanya amalamal seseorang yang dapat menolongnya.
Azab dan penderitaan yang ditemui orang-orang kafir di akhirat serta nikmat dan kesenangan yang diterima orang-orang mukmin.

Kisah:

▪ Kisah Musa `alaihis salam dengan Fir’aun dan kaumnya.

Lain-lain:

▪ Permulaan turunnya Alquran pada malam lailatul Qadar.
▪ Orang-orang kafir hanya beriman kalau mereka ditimpa bahaya, kalau bahaya telah hilang mereka kafir kembali.
▪ Dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat hikmat yang besar.

Audio

QS. Ad-Dukhaan (44) : 1-59 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 59 + Terjemahan Indonesia

QS. Ad-Dukhaan (44) : 1-59 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 59

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ad Dukhaan ayat 36 - Gambar 1 Surah Ad Dukhaan ayat 36 - Gambar 2
Statistik QS. 44:36
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Surah Ad-Dukhan (bahasa Arab:الدخان) adalah surah ke 44 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surat makkiyah yang terdiri atas 59 ayat.
Dinamakan Ad-Dukhan yang berarti Kabut diambil dari kata Ad-Dukhan yang terdapat pada ayat 10 surah ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut: Orang-orang kafir Mekkah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad ﷺ
sudah melewati batas, karena itu Nabi berdoa kepada Allah agar diturunkan azab sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Doa Nabi itu dikabulkan Allah sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan diturunkan.
Setelah Allah mengabulkan doa Nabi dan hujan di turunkan, mereka kembali kafir seperti semula.
Karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Nomor Surah44
Nama SurahAd Dukhaan
Arabالدخان
ArtiKabut
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu64
JuzJuz 25
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat59
Jumlah kata346
Jumlah huruf1475
Surah sebelumnyaSurah Az-Zukhruf
Surah selanjutnyaSurah Al-Jasiyah
Sending
User Review
4.3 (29 votes)
Tags:

44:36, 44 36, 44-36, Surah Ad Dukhaan 36, Tafsir surat AdDukhaan 36, Quran AdDukhan 36, Ad Dukhan 36, Ad-Dukhan 36, Surah Ad Dukhan ayat 36

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 142 [QS. 6:142]

Allah pun menciptakan hewan ternak untuk kepentingan manusia. Dan di antara hewan-hewan ternak yang diciptakan Allah itu ada yang dijadikan pengangkut beban seperti unta, keledai, dan kuda dan ada pul … 6:142, 6 142, 6-142, Surah Al An ‘aam 142, Tafsir surat AlAnaam 142, Quran Al Anaam 142, Al Anam 142, AlAnam 142, Al An’am 142, Surah Al Anam ayat 142

QS. Asy Syu’araa (Penyair) – surah 26 ayat 94 [QS. 26:94]

94. Maka mereka, sesembahan itu, dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat, berkali-kali. … 26:94, 26 94, 26-94, Surah Asy Syu’araa 94, Tafsir surat AsySyuaraa 94, Quran Asy Syuara 94, Asy Syu’ara 94, Asy-Syu’ara 94, Surah Asy Syuara ayat 94

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali ...

Benar! Kurang tepat!

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Arti dari kalimat di atas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

'Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran'
--HR. Imam al-Baihaqi dalam kitab 'Syu’abul Iman' (no. 6612). Hadits ini adalah hadits yang lemah.

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
Arti dari hadist diatas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallalhu'alaihi wa sallam bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

'Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.'
(HR. Bukhari no. 3461)

+

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dalam hadits shahih disebutkan.

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.'
[HR. Muslim dalam Al-Iman (49)]

Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī adalah seorang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad.

Pendidikan Agama Islam #30
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #30 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #30 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #15

Salah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik … Kisah Fir’aun Kisah

Pendidikan Agama Islam #10

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … tauhid berperang melawan hawa nafsu jihad

Pendidikan Agama Islam #9

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran dengan sungguh-sungguh dalam menetapkan

Instagram