QS. Ad Dukhaan (Kabut) – surah 44 ayat 29 [QS. 44:29]

فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ
Famaa bakat ‘alaihimussamaa-u wal ardhu wamaa kaanuu munzhariin(a);

Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.
―QS. 44:29
Topik ▪ Tugas-tugas malaikat
44:29, 44 29, 44-29, Ad Dukhaan 29, AdDukhaan 29, AdDukhan 29, Ad Dukhan 29, Ad-Dukhan 29

Tafsir surah Ad Dukhaan (44) ayat 29

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ad Dukhaan (44) : 29. Oleh Kementrian Agama RI

Langit dan bumi tidak menangisi kepergian dan kehancuran Fir’aun dan kaumnya.
Tidak sesuatu pun baik di langit maupun di bumi yang menghiraukan kematian Fir’aun dan kaumnya yang jahat dan durjana itu.
Mereka tidak mau bertobat memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka, oleh karenanya azab disegerakan tanpa ada penangguhan.
Abu Ya’la meriwayatkan, demikian pula Abu Nu’aim dalam kitab hiyah al-Auliya: Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: Setiap muslim mempunyai dua pintu di langit; pintu tempat turun rezekinya dan pintu tempat masuk amal dan ucapannya, bila keduanya tidak ada maka menangislah kedua pintu tersebut.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Langit dan bumi pun tak bersedih ketka mereka ditimpa siksaan itu, karena mereka memang hina.
Mereka tidak diberi tenggang waktu untuk dapat bertobat dan untuk dapat menyadari kesalahannya, sebagai bentuk penghinaan terhadap mereka.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka) berbeda dengan orang-orang yang beriman, jika mereka mati tanah tempat salat mereka menangisinya dan langit tempat naiknya amal mereka menangisinya pula (dan mereka pun tidak diberi tangguh) diakhirkan tobatnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 29)

Yakni mereka tidak mempunyai amal saleh yang dinaikkan ke pintu-pintu langit, karena itu langit menangisi kehilangan mereka.
Dan mereka tidak mempunyai satu petak tanah pun di bumi ini yang padanya dilakukan pemyembahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang karenanya tanah tersebut menangisi kehilangan mereka.
Karena itulah maka mereka berhak untuk tidak mendapat masa tangguh karena kekafiran mereka, kejahatan mereka, dan sikap mereka yang angkuh lagi pengingkar.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan di dalam kitab musnadnya:

telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Makki ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan keapdaku Yazid Ar-Raqqasyi, telah menceritakan kepadaku Anas ibnu Malik r.a.
dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Tiada seorang hamba pun melainkan mempunyai dua buah pintu di langit; sebuah pintu untuk jalan turun rezekinya, dan sebuah pintu lagi untuk masuk amal dan ucapannya.
Apabila hamba yang bersangkutan meninggal dunia, maka kedua pintu itu merasa kehilangan dia dan menangisi kepergiannya.
Lalu Nabi ﷺ membaca ayat ini: Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 29)

Menurut suatu riwayat, mereka tidak pernah mengerjakan suatu amal saleh pun di muka bumi ini yang menyebabkan bumi menangisi kepergian mereka.
Dan tiada ucapan dan amal perbuatan mereka yang dinaikkan ke langit, yaitu ucapan yang baik dan amal yang saleh, yang karenanya langit merasa kehilangan mereka, lalu menangisi kepergian mereka.
Imam Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal ini melalui Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Talhah, telah menceritakan kepadaku Isa ibnu Yunus, dari Safwan ibnu Amr, dari Syuraih ibnu Ubaid Al-Hadrami yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ, pernah bersabda: Sesungguhnya Islam itu asing permulaannya dan kelak akan kembali asing seperti semula.
Ingatlah, tiada keterasingan bagi orang mukmin.
Tidak sekali-kali seorang mukmin meninggal dunia di pengasingan yang padanya tiada seorang pun yang menangisi kepergiannya, melainkan langit dan bumi menangisi kepergiannya.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 29) Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan menangisi kematian orang kafir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan,- telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad (Yakni Az Zubairi), telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnu Saleh, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Abbad ibnu Abdullah yang telah menceritakan, bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada sahabat Ali r.a, “Apakah langit dan bumi menangisi seseorang?”
maka Ali r.a.
menjawab, “Sesungguhnya engkau menanyakan kepadaku sesuatu hal yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun sebelummu.
Sesungguhnya tiada seorang hamba pun melainkan mempunyai tempat salat di bumi dan tempat naik amalnya di langit.
Dan sesungguhnya Fir’aun dan kaumnya tidak mempunyai suatu amal saleh pun di bumi ini dan tidak pula mereka memiliki suatu amal pun yang dinaikkan ke langit.” Kemudian Ali r.a.
membaca firman-Nya: Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh.
(Ad-Dukhhan: 29)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Talq ibnu Ganam, dari Zaidah, dari Mansur, dari Minhal, dari Sa’id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa pernah seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas r.a, lalu bertanya, “Hai Abul Abbas, bagaimanakah pendapatmu tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh.’ (Q.S. Al-Dukhan: 29) Maka apakah langit dan bumi itu dapat menangisi kematian seseorang?”
Ibnu Abbas menjawab, “Ya, sesungguhnya tiada seorang makhluk pun melainkan mempunyai pintu di langit yang darinya turun rezekinya dan dengan melaluinya amal perbuatannya dinaikkan.
Maka apabila seorang mukmin meninggal dunia pintunya yang di langit tempat naik amalnya dan tempat turun rezekinya ditutup, lalu ia merasa kehilangan dia dan menangisinya.
Dan tempat dia biasa mengerjakan salatnya di bumi dan tempat ia biasa berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala bila dia meninggal, merasa kehilangan dia dan menangisinya.
Dan sesungguhnya kaum Fir’aun itu tidak mempunyai jekak-jejak yang baik di bumi, tidak pula memiliki kebaikan yang dinaikkan ke langit kepada Allah subhanahu wa ta’ala Maka langit dan bumi tidak menangisi kematian mereka.”

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
hal yang semisal dengan atsar di atas.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Yahya Al-Qattat, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas r.a.
yang menceritakan bahwa menurut suatu pendapat, bumi menangisi kematian seorang mukmin selama empat puluh hari.
Mujahid mengatakan, bahwa lalu ia bertanya kepada Ibnu Abbas, “Apakah bumi dapat menangis?”
Ibnu Abbas menjawab, “Apakah engkau merasa heran?”
mengapa bumi tidak menangisi kematian seseorang yang telah meramaikannya dengan rukuk, dan sujud padanya?
dan mengapa langit tidak menangisi kematian seseorang hamba yang takbir dan tasbihnya berkumandang seperti suara lebah?”

Qatadah mengatakan bahwa kematian Fir’aun dan kaumnya dinilai sangat hina untuk ditangisi oleh langit dan bumi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ismail telah menceritakan kepada kami Al-Mustawrid ibnu Sabiq dari Ubaidul Maktab dari Ibrahim yang mengatakan bahwa langit sejak dunia ada belum pernah menangis kecuali karena kematian dua orang.
Aku bertanya kepada Ubaid, “Bukankah langit dan bumi menangisi kematian orang mukmin?”
Ubaid menjawab, “Yang menangisinya adalah tempat naik amalnya saja”.
Ubaid bertanya, “Tahukah kamu, apakah pertanda langit menangis?”
Aku menjawab “Tidak tahu”.
Ubaid mengatakan, “Pertanda langit menangis ialah kelihatan memerah bagaikan bunga mawar seperti kilapan minyak.
Sesungguhnya ketika Nabi Yahya ibnu Zakaria dibunuh, langit tampak memerah dan meneteskan darah.
Dan sesungguhnya ketika Al-Husain ibnu Ali r.a.
dibunuh langit tampak memerah.

Telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan Muhammad ibnu Amr Zanij, telah menceritakan kepada kami Jarir, Dari Yazid ibnu Abu Ziad yang mengatakan bahwa ketika Al-Husain ibnu Ali r.a.
dibunuh, langit kelihatan memerah selama empat bulan.
Yazid mengatakan bahwa menangisnya langit itu bila ia tampak memerah.

Hal yang sama telah dikatakan oleh As-Sadiyyul Kabir.
Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa menangisnya langit itu bila semua ujungnya tampak memerah.

Mereka (kaum Syi’ah) menyebutkan pula sehubungan dengan peristiwa terbunuhnya Husain ibnu Ali r.a, bahwa tiada suatu batu pun yang dibalikkan pada hari terbunuhnya Al-Husain, melainkan ditemukan di bawahnya darah berserakan.
Dan di hari itu matahari mengalami gerhana dan ufuk langit kelihatan memerah serta batu-batu banyak yang berjatuhan.

Semua pendapat tentang ini masih diragukan dan perlu diteliti lagi kebenarannya, yang jelas semua riwayat di atas merupakan buatan golongan Syi’ah dan kedustaan mereka untuk membesar-besarkan peristiwa itu.

Memang benar peristiwa terbunuhnya Al-Husain ibnu Ali termasuk peristiwa yang besar, tetapi tidaklah terjadi apa yang dibuat-buat oleh mereka ini.
Padahal telah terjadi peristiwa yang lebih besar dari terbunuhnya Al-Husain ibnu Ali r.a, tetapi tidak terjadi sesuatu pun yang disebutkan oleh mereka itu.
Karena sesungguhnya ayah Al-Husain sendiri (yaitu Ali ibnu Abu Talib r.a.) yang jelas lebih utama daripadanya menurut kesepakatan semuanya, tetapi ternyata tiada sesuatu pun dari hal itu yang terjadi.
Dan ketika Usman ibnu Affan r.a.
terbunuh secara aniaya dalam kepungan, ternyata tidak terjadi pula sesuatu dari hal tersebut.
Begitu pula ketika Umar ibnul Khattab r.a.
terbunuh di mihrab dalam salat subuhnya, yang kaum muslim belum pernah tertimpa musibah apa pun sebelum perisitwa tersebut, tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu pun dari hal tersebut.

Berikut ini Rasulullah ﷺ penghulu manusia di dunia dan akhirat, di hari kewafatannya tiada sesuatu pun dari hal itu yang terjadi.
Dan di hari kewafatan putranya (yaitu Sayyid Ibrahim) matahari mengalami gerhana.
Maka orang-orang mengatakan, bahwa matahari gerhana karena kematian Ibrahim.
Lalu Rasulullah ﷺ mengajak mereka Salat gerhana dan berkhotbah kepada mereka, antara lain beliau ﷺ menjelaskan bahwa sesungguhnya matahari dan rembulan tidaklah mengalami gerhana karena kematian seseorang atau kelahirannya.


Informasi Surah Ad Dukhaan (الدخان)
Surat Ad Dukhaan terdiri atas 59 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Az Zukhruf,

Dinamai “Ad Dukhaan” (kabut), diambil dari perkataan “Dukhaan” yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut:
Orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muham­ mad ﷺ sudah melewati batas, karena itu Nabi mendo’a kepada Allah agar diturunkan azab, sebagairnana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Do’a Nabi itu dikabulkan Allah, sampai orang-orang kafir me­makan tulang dan bangkai, karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi padangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan di­ turunkan.
Setelah Allah mengabulkan do’a Nabi, dan hujan diturunkan, mereka kembali kafir seperti semula karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Keimanan:

Dalil-dalil atas kenabian Muhammad s.a.w .
huru-hara dan kehebatan hari kiamat
pada hari kiamat hanya amal-amal seseorang yang dapat menolongnya
azab dan penderitaan yang ditemui orang-orang kafir di akhirat serta ni’mat dan kesenang­ an yang diterirna orang-orang mu ‘min.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dengan Fir’aun dan kaumnya.

Lain-lain:

Permulaan turunnya Al Qur’an pada malam lailatul Qadar
orang-orang kafir ha­nya berirnan kalau mereka ditimpa bahaya, kalau bahaya telah hilang mereka kafir kembali
dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat hikmat yang be­sar.

Ayat-ayat dalam Surah Ad Dukhaan (59 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 29 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 29 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 29 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ad-Dukhaan - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 59 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 44:29
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Surah Ad-Dukhan (bahasa Arab:الدخان) adalah surah ke 44 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surat makkiyah yang terdiri atas 59 ayat.
Dinamakan Ad-Dukhan yang berarti Kabut diambil dari kata Ad-Dukhan yang terdapat pada ayat 10 surah ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut: Orang-orang kafir Mekkah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad s.a.w.
sudah melewati batas, karena itu Nabi berdoa kepada Allah agar diturunkan azab sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Doa Nabi itu dikabulkan Allah sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan diturunkan.
Setelah Allah mengabulkan doa Nabi dan hujan di turunkan, mereka kembali kafir seperti semula.
Karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Nomor Surah 44
Nama Surah Ad Dukhaan
Arab الدخان
Arti Kabut
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 64
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 59
Jumlah kata 346
Jumlah huruf 1475
Surah sebelumnya Surah Az-Zukhruf
Surah selanjutnya Surah Al-Jasiyah
4.6
Ratingmu: 4.4 (12 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta