Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Abasa (Ia Bermuka masam) - surah 80 ayat 2 [QS. 80:2]

اَنۡ جَآءَہُ الۡاَعۡمٰی ؕ
An jaa-ahul a’m(a);
karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).
―QS. Abasa [80]: 2

Daftar isi

Because there came to him the blind man, (interrupting).
― Chapter 80. Surah Abasa [verse 2]

أَن sesungguhnya

Because
جَآءَهُ datang kepadanya

came to him
ٱلْأَعْمَىٰ seorang buta

the blind man.

Tafsir Quran

Surah Abasa
80:2

Tafsir QS. Abasa (80) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Pada permulaan Surah ‘Abasa ini, Allah menegur Nabi Muhammad yang bermuka masam dan berpaling dari ‘Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, ketika sahabat ini menyela pembicaraan Nabi dengan beberapa tokoh Quraisy.
Saat itu ‘Abdullah bin Ummi Maktum bertanya dan meminta Nabi ﷺ untuk membacakan dan mengajarkan beberapa wahyu yang telah diterima Nabi.

Permintaan itu diulanginya beberapa kali karena ia tidak tahu Nabi sedang sibuk menghadapi beberapa pembesar Quraisy.

Sebetulnya Nabi ﷺ sesuai dengan skala prioritas sedang menghadapi tokoh-tokoh penting yang diharapkan dapat masuk Islam karena hal ini akan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan dakwah selanjutnya.

Maka adalah manusiawi jika Nabi ﷺ tidak memperhatikan pertanyaan ‘Abdullah bin Ummi Maktum, apalagi telah ada porsi waktu yang telah disediakan untuk pembicaraan Nabi dengan para sahabat.

Tetapi Nabi Muhammad sebagai manusia terbaik dan contoh teladan utama bagi setiap orang mukmin (uswah hasanah), maka Nabi tidak boleh membeda-bedakan derajat manusia.

Dalam menetapkan skala prioritas juga harus lebih memberi perhatian kepada orang kecil apalagi memiliki kelemahan seperti ‘Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak dapat melihat.
Maka seharusnya Nabi lebih mendahulukan pembicaraan dengan ‘Abdullah bin Ummi Maktum daripada dengan para tokoh Quraisy.

Dalam peristiwa ini Nabi ﷺ tidak mengatakan sepatah katapun kepada ‘Abdullah bin Ummi Maktum yang menyebabkan hatinya terluka, tetapi Allah melihat raut muka Nabi Muhammad ﷺ yang masam itu dan tidak mengindahakan Ummi Maktum yang menyebabkan dia tersinggung.

Hikmah adanya teguran Allah kepada Nabi Muhammad juga memberi bukti bahwa Alquran bukanlah karangan Nabi, tetapi betul-betul firman Allah.

Teguran yang sangat keras ini tidak mungkin dikarang sendiri oleh Nabi.

‘Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang yang bersih dan cerdas.

Apabila mendengarkan hikmah, ia dapat memeliharanya dan membersihkan diri dari kebusukan kemusyrikan.
Adapun para pembesar Quraisy itu sebagian besar adalah orang-orang yang kaya dan angkuh sehingga tidak sepatutnya Nabi terlalu serius menghadapi mereka untuk diislamkan.
Tugas Nabi hanya sekadar menyampaikan risalah dan persoalan hidayah semata-mata berada di bawah kekuasaan Allah.
Kekuatan manusia itu harus dipandang dari segi kecerdasan pikiran dan keteguhan hatinya serta kesediaan untuk menerima dan melaksanakan kebenaran.
Adapun harta, kedudukan, dan pengaruh kepemimpinan bersifat tidak tetap, suatu ketika ada dan pada saat yang lain hilang sehingga tidak bisa diandalkan.



Nabi sendiri setelah ayat ini turun selalu menghormati ‘Abdullah bin Ummi Maktum dan sering memuliakannya melalui sabda beliau,
"Selamat datang kepada orang yang menyebabkan aku ditegur oleh Allah.
Apakah engkau mempunyai keperluan?"

Tafsir QS. Abasa (80) : 2. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


pada saat seorang tunanetra datang kepadanya menanyakan persoalan agama.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Terlihat perubahan dan raut masam pada wajah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, dan beliau berpaling karena kedatangan seorang buta -Abdullah bin Ummi Maktum- yang ingin meminta petunjuk, sedangkan beliau saat itu sedang sibuk mengajak masuk Islam para pembesar Quraisy.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(telah datang seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Umi Maktum.
Nabi ﷺ tidak melayaninya karena pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi orang-orang yang diharapkan untuk dapat masuk Islam, mereka terdiri dari orang-orang terhormat kabilah Quraisy, dan ia sangat menginginkan mereka masuk Islam.
Sedangkan orang yang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum tidak mengetahui kesibukan Nabi ﷺ pada waktu itu, karena ia buta.
Maka Abdullah bin Umi Maktum langsung menghadap dan berseru,
"Ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu."
Akan tetapi Nabi ﷺ pergi berpaling darinya menuju ke rumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya itu, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini.
Nabi ﷺ setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan,
"Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya,"
lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

(1-10)

Bukan hanya seorang dari ulama tafsir menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ di suatu hari sedang berbicara dengan salah seorang pembesar Quraisy, yang beliau sangat menginginkan dia masuk Islam.
Ketika beliau ﷺ sedang berbicara dengan suara yang perlahan dengan orang Quraisy itu, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang yang telah masuk Islam sejak lama.
Kemudian Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sesuatu dengan pertanyaan yang mendesak.
Dan Nabi ﷺ saat itu sangat menginginkan andaikata Ibnu Ummi Maktum diam dan tidak mengganggunya, agar beliau dapat berbicara dengan tamunya yang dari Quraisy itu karena beliau sangat menginginkannya mendapat hidayah.
Untuk itulah maka beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan memalingkan wajah beliau darinya serta hanya melayani tamunya yang dari Quraisy itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).
(QS. ‘Abasa [80]: 1-3)

Yakni menginginkan agar dirinya suci dan bersih dari segala dosa.

atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
(QS. ‘Abasa [80]: 4)

Yaitu memperoleh pelajaran untuk dirinya sehingga ia menahan dirinya dari hal-hal yang diharamkan.

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya.
(QS. ‘Abasa [80]: 5-6)

Adapun orang yang serba cukup, maka kamu melayaninya dengan harapan dia mendapat petunjuk darimu.

Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
(QS. ‘Abasa [80]: 7)

Artinya, kamu tidak akan bertanggungjawab mengenainya bila dia tidak mau membersihkan dirinya (beriman).

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut (kepada Allah).
(QS. ‘Abasa [80]: 8-9)

Yakni dengan sengaja datang kepadamu untuk mendapat petunjuk dari pengarahanmu kepadanya.

maka kamu mengabaikannya.
(QS. ‘Abasa [80]: 10)

Maksudnya, kamu acuhkan dia.
Dan setelah kejadian ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk tidak boleh mengkhususkan peringatan terhadap seseorang secara tertentu, melainkan harus menyamakan di antara semuanya.
Dalam hal ini tidak dibedakan antara orang yang mulia dan orang yang lemah, orang yang miskin dan orang yang kaya, orang merdeka dan budak belian, laki-laki dan wanita, serta anak-anak dan orang dewasa.
Kemudian Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus, keputusan yang ditetapkan-Nya penuh dengan kebijaksanaan dan mempunyai alasan yang sangat kuat.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas r.a. yang mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.
(QS. ‘Abasa [80]: 1)

Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ yang saat itu sedang berbicara dengan Ubay ibnu Khalaf, maka beliau ﷺ berpaling dari Ibnu Ummi Maktum, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.
(QS. ‘Abasa [80]: 1-2)
Maka sesudah peristiwa itu Nabi ﷺ selalu menghormatinya.

Qatadah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa ia melihat Ibnu Ummi Maktum dalam perang Qadisiyah, memakai baju besi, sedangkan di tangannya terpegang bendera berwarna hitam.

Abu Ya’la dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa berikut ini adalah hadis yang diceritakan kepada kami dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa ayat ini, yaitu firman-Nya:
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.
(QS. ‘Abasa [80]: 1)

diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang tuna netra.
Dia datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata,
"Berilah aku petunjuk."
Sedangkan saat itu di hadapan Rasulullah ﷺ terdapat seorang lelaki dari kalangan pembesar kaum musyrik.
Maka Rasulullah ﷺ berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan melayani lelaki musyrik itu seraya bersabda,
"Bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang aku katakan ini, apakah berkesan?"
Lelaki itu menjawab,
"Tidak".

Maka berkenaan dengan peristiwa inilah ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya:
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.
(QS. ‘Abasa [80]: 1)

Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis ini dari Sa’id ibnu Yahya Al-Umawi dengan sanad yang semisal;
kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa sebagian dari mereka ada yang meriwayatkan dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa surat ‘Abasa diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, tetapi dalam sanad ini tidak disebutkan dari Aisyah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Salim ibnu Abdullah telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya Bilal azan di malam hari, maka makan dan minumlah kamu hingga kamu mendengar seruan azan Ibnu Ummi Maktum.
Dia adalah seorang tuna netra yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.
(QS. ‘Abasa [80]: 1-2)

Tersebutlah pula bahwa dia menjadi juru azan bersama Bilal.
Salim melanjutkan, bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang tuna netra, maka dia belum menyerukan suara azannya sebelum orang-orang berkata kepadanya saat mereka melihat cahaya fajar subuh,
"Azanlah!"

Hal yang sama telah disebutkan oleh Urwah ibnuz Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Ad-Dahhak, Ibnu Zaid, dan selain mereka yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum.
Menurut pendapat yang terkenal, nama aslinya adalah Abdullah, dan menurut pendapat yang lainnya yaitu Amr;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kata Pilihan Dalam Surah Abasa (80) Ayat 2

A’MAA
أَعْمَىٰ

Lafaz ini adalah kata nama mufrad dari kata kerja ‘amiya yang berarti menjadi buta, jamaknya adalah ‘amya.

A’ma ar rajula maknanya menjadikannya buta, atau mendapatinya buta, atau jahil.
Jika lafaz ini disandarkan pada hati atau dikatakan maa a’maahu maka maknanya ialah betapa buta hatinya karena disebabkan banyak kesesatannya.
Sebab itu, ungkapan makaan a’ma bermaksud tempat yang tidak diberi petunjuk di dalamnya.

Kata ini disebut 13 kali di dalam Al Quran yaitu dalam surah:
• Al An’aam (6), ayat 50;
• Ar Ra’d (13), ayat 16, 19;
Hud (11), ayat 24;
Al Israa‘ (17), ayat 72;
Thaa Haa (20), ayat 124, 125;
An Nuur (24), ayat 61;
Faathir (35), ayat 19;
Al Mu’min (40), ayat 58;
Muhammad (47), ayat 23;
Al Fath (48), ayat 17;
• ‘Abasa (80), ayat 2.

Al Qasim menafsirkan lafaz a’maa dalam surah Al An’aam (6), ayat 50 dengan katanya, ”Ayat ini mengandung perumpamaan orang sesat dan yang mendapat petunjuk.
Maksudnya, perumpamaan antara orang yang tidak mengetahui perkara yang benar dan orang yang mengetahuinya, dan ini memberikan pesan supaya menjauhkan diri dari kesesatan dan mendekatkan diri kepada petunjuk’"

Az Zuhaili menafsirkan, perkataan al a’maa wal bashiir adalah "orang kafir dan orang yang beriman; atau "yang sesat dan yang mendapat petunjuk." Sedangkan tafsiran al a’maa dalam surah Al Fath adalah "buta," karena dikaitkan dengan jihad, ketika diterangkan tiada dosa bagi mereka meninggalkan jihad, disebabkan ada keuzuran yang nyata yaitu buta.

Dalam menafsirkan surah Thaa Haa, ayat 124, Ibnu Katsir menukilkan dari Mujahid, Abu Salih dan As Suddi mengenai makna a’maa dalam ayat tersebut, yaitu "tidak ada hujah baginya"

Sedangkan Ikrimah menjelaskan orang yang dimaksudkan buta itu tidak nampak segala sesuatu selain neraka.
Ini bermakna, dia dibangkitkan dan diseret ke neraka dalam keadaan buta mata dan hatinya." Yang dimaksudkan dengan a’maa dalam surah Abasa ialah ‘Abdullah bin Umm Maktum,

A’isyah meriwayatkan, "Abasa watawallaa" diturunkan kepada Ibnu Umm Maktum yang buta, ketika beliau datang kepada Nabi Muhammad dan berkata,
‘Wahai Rasulullah, berilah bimbingan dan ajaran kepadaku tentang apa yang diajarkan oleh Allah".
Pada saat itu, nabi sibuk menyampaikan dakwah kepada pembesar-pembesar musyrik, lalu nabi pun berpaling darinya dan menghadap kepada mereka.
Karena peristiwa inilah ayat itu diturunkan.
Kemudian setelah itu nabi pun memuliakannya dan setiap kali nabi berjumpa dengannya, nabi berkata,
"Salam sejahtera, wahai orang yang membuatku ditegur oleh Allah" Lalu nabi memakaikan jubahnya kepada beliau."

Kesimpulannya, lafaz a’maa dalam ayat-ayat di atas mengandung tiga makna.

Pertama, bermakna buta mata sebagaimana pada surah An Nuur, Al Fath dan Thaa Haa.

Kedua, bermakna buta hati atau dalam kesesatan yaitu yang terdapat dalam surah Al An’aam, Hud, Ar Ra’d, Al Israa, Thaa Haa, Faathir,Al Mu’min dan Muhammad.

Ketiga, bermaksud Abdullah bin Umm Maktum, ini terdapat dalam surah ‘Abasa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 4-5

Unsur Pokok Surah Abasa (عبس)

Surat ‘Abasa terdiri atas 42 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat An Najm.

Dinamai "Abasa" (ia bermuka masam) diambil dari perkataan ‘Abasa yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah ﷺ menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam.
Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah ﷺ membacakan kepadanya ayat-ayat Alquran yang telah diturunkan Allah.
Tetapi Rasulullah ﷺ bermuka masam dan memalingkan muka dari lbnu Ummi Maktum yang buta itu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap lbnu Ummi Maktum itu.

Keimanan:

Dalildalil ke-Esaan Allah.
▪ Keadaan manusia pada hari kiamat.

Lain-lain:

▪ Dalam berdakwah hendaknya memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi dakwah.
▪ Cercaan Allah kepada manusia yang tidak mensyukuri nikmat-Nya.

Audio Murottal

QS. Abasa (80) : 1-42 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 42 + Terjemahan Indonesia



QS. Abasa (80) : 1-42 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 42

Gambar Kutipan Ayat

Surah Abasa ayat 2 - Gambar 1 Surah Abasa ayat 2 - Gambar 2
Statistik QS. 80:2
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Abasa.

Surah ‘Abasa (bahasa Arab:عبس) adalah surah ke-80 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 42 ayat.
Dinamakan ‘Abasa yang diambil dari kata ‘Abasa yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah ﷺ menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang dia harapkan agar mereka masuk Islam.
Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah ﷺ membacakan kepadanya ayat-ayat Alquran yang telah diturunkan Allah.
Tetapi Rasulullah ﷺ bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum yang buta itu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap rasulullah terhadap ibnu Ummi Maktum itu.

Nomor Surah 80
Nama Surah Abasa
Arab عبس
Arti Ia Bermuka masam
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 24
Juz Juz 30
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 42
Jumlah kata 133
Jumlah huruf
Surah sebelumnya Surah An-Nazi’at
Surah selanjutnya Surah At-Takwir
Sending
User Review
4.9 (13 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

80:2, 80 2, 80-2, Surah Abasa 2, Tafsir surat Abasa 2, Quran 'Abasa 2, Surah Abasa ayat 2

Video Surah

80:2


More Videos

Kandungan Surah Abasa

۞ QS. 80:11 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 80:12 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 80:13 • Lembaran catatan amal perbuatan

۞ QS. 80:14 • Lembaran catatan amal perbuatan

۞ QS. 80:15 • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 80:16 • Sifat-sifat malaikat

۞ QS. 80:17 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 80:21 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup

۞ QS. 80:22 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 80:23 • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 80:26 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 80:33 • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 80:34 • Kedahsyatan hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 80:35 • Kedahsyatan hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 80:36 • Kedahsyatan hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 80:37 • Kedahsyatan hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 80:38 • Pahala iman • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Sifat ahli surga • Keutamaan iman •

۞ QS. 80:39 • Pahala iman • Sifat ahli surga • Keutamaan iman

۞ QS. 80:40 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 80:41 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 80:42 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Azab orang kafir

Ayat Pilihan

maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,
QS. An-Nahl [16]: 43

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit & yang ada di bumi.
Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki,
Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki,
dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS. Ali ‘Imran [3]: 129

Mahasuci Allah & Mahabanyak karunia-Nya.
Dia menciptakan planet-planet di langit & menciptakan garis orbit tempatnya beredar.
Di antara planet-planet itu,
Dia menjadikan matahari & bulan yang bercahaya.
QS. Al-Furqan [25]: 61

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

+

Array

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u06c1u0670u0630u064eu0627 u0628u064eu06ccu064eu0627u0646u064c u0644u0651u0650u0644u0646u0651u064eu0627u0633u0650 u0648u064e u06c1u064fu062fu064bu06cc u0648u0651u064e u0645u064eu0648u06e1u0639u0650u0638u064eu06c3u064c u0644u0651u0650u0644u06e1u0645u064fu062au0651u064eu0642u0650u06ccu06e1u0646u064e

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Pendidikan Agama Islam #30

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan … بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً Arti dari hadist diatas adalah …Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali …كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا Arti dari kalimat di atas adalah …Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Pendidikan Agama Islam #9

Arti hadits maudhu’ adalah … Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan … Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah … Era ketidaktahuan juga disebut zaman …

Kamus Istilah Islam

Allahu a'lam

Apa itu Allahu a’lam? Allahu a’lam atau Wallahu a’lam; Allāhu a‘lam. artinya, “ Allahlah Yang lebih mengetahui.” Ucapan ini dipakai bila seseorang mengemukakan pendapatnya t...

padang mahsyar

Apa itu padang mahsyar? padang yang kelak menjadi tempat orang yang telah mati dibangkitkan kembali dan berkumpul pada hari kiamat … •

Al-Hijr

Apa itu Al-Hijr? Surah Al-Hijr adalah surah ke-15 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 99 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Al-Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami o...