Lafal Amin Yang Benar

Para ulama berbeda pendapat tentang lafal âmîn yang diperbolehkan dan yang tidak. Kesimpulannya adalah:

• Lafal yang disepakati kebolehannya dan sesuai dengan sunnah yaitu mengucapkan âmîn dengan dua lafal.

Pertama:

آمِيْن

Aamiin, dengan memanjangkan huruf hamzah.

Dan kedua:

أَمِيْن

Amiin, tanpa memanjangkan huruf hamzah.

• Lafal yang dianggap sama dengan yang lafal yang diperbolehkan yaitu:

آمِيْن

Aamiin, dengan memanjangkan hamzah ataupun tidak dengan disertai imâlah.

• Lafal yang diperselisihkan kebolehannya dan membatalkan shalat. Ini ada dua lafal.

Pertama:

آمِّيْن

Aammiin, dengan memanjangkan suara hamzah disertai tasydid pada huruf mim. Yang rajah, lafal ini membatalkan shalat.

Kedua:

آمِن

Aamin, dengan memanjangkan suara hamzah disertai membuang huruf Ya’. Yang rajah, lafal ini terlarang dan membatalkan shalat.

• Lafal yang disepakati tidak boleh, namun masih diperselisihkan apakah membatalkan shalat, yaitu:

أَمِّيْن

Ammiin, dengan tidak memanjangkan suara hamzah disertai tasydid pada huruf mim.

• Lafal yang disepakati membatalkan shalat adalah:

آمِّن

Aammin, dengan memanjangkan bacaan hamzah lalu tasydid pada huruf mim dan menghapus huruf Ya’.

Dan:

أَمِّن

Ammin, dengan tanpa memanjangkan bacaan hamzah lalu tasydid pada huruf mim serta menghapus huruf Ya’.

Serta:

أَمِن

Amin, dengan tanpa memanjangkan huruf hamzah, tanpa tasydid pada huruf mim dan menghapus huruf Ya’.

Makna Ta’min

Ta’mîn adalah bahasa arab yang bermakna: mengucapkan kata “Amîn” setelah selesai membaca al-Faatihah dan ketika mendengar do’a orang lain (At-Tamhîd 7/9). Menurut kebanyakan para ulama, kata “Amîn” itu sendiri bermakna “Ya Allah kabulkanlah!” Imam Ibnu Abdilbarr rahimahullah menyatakan, “Menurut para ulama, kata ‘Amîn’ itu bermakna ‘Ya Allah kabulkanlah doa-doa kami’.” (At-Tamhîd 7/9).

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Maknanya menurut mayoritas ulama adalah ‘Ya Allah kabulkanlah’ dan ada yang menyatakan lain namun masih kembali semuanya kepada makna ini.” (Fathul Bâri, 2/262).

Keutamaan Ta’min (Mengucapkan Amin Dalam Shalat Dan Doa)

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa ta’mîn adalah do’a (permohonan) dari orang yang mendengar do’a orang lain agar do’a itu dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Namun tidak sebatas sebagai do’a, ta’mîn juga memiliki keutamaan yang banyak, diantaranya:

• Menjadi sebab terampuninya dosa apabila ucapan amin itu bersamaan dengan aminnya para malaikat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya bersamaan dengan ucapan âmîn para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhâri no. 111 dan Muslim 4/128).

• Menjadi penyebab terkabulnya do’a, seperti yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila kalian shalat maka luruskanlah shaf (barisan) kalian kemudian hendaknya salah seorang diantara kalian menjadi imam. Apabila imam bertakbir maka kalian bertakbir dan bila imam mengucapkan “GHAIRIL MAGHDHÛB BI’ALAIHIM WALAADH-DHÂLÎN” maka ucapkanlah: âmîn, niscaya Allah mengabulkannya.” (HR. Muslim no. 4/119).

• Yahudi iri dengan adanya ta’mîn pada kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yahudi adalah kaum yang penuh hasad dan mereka tidak hasad kepada kami tentang sesuatu yang melebihi hasadnya mereka kepada kita dalam salam dan ucapan âmîn.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1/73/2 dan dinilai shahih oleh syaikh al-Albâni).

Sumber: https://almanhaj.or.id/3600-mengucapkan-amien-setelah-al-fatihah.html





Pembahasan ▪ ucapan amin yang lengkap

Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya





Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim
               



Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta