Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Kitab Nikah. BAB I : TENTANG NIKAH – Hadits Ke-789

HADITS KE-789

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ اَلسَّاعِدِيِّ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ :
( جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ :
يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي , فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَعَّدَ اَلنَّظَرَ فِيهَا , وَصَوَّبَهُ , ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَأْسَهُ , فَلَمَّا رَأَتْ اَلْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ , فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ.
فَقَالَ :
يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا.
قَالَ :
فَهَلْ عِنْدكَ مِنْ شَيْءٍ ?
فَقَالَ :
لَا , وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ.
فَقَالَ :
اِذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ , فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا ?
فَذَهَبَ , ثُمَّ رَجَعَ ?
فَقَالَ :
لَا , وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ، مَا وَجَدْتُ شَيْئًا.
فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ، فَذَهَبَ، ثُمَّ رَجَعَ.
فَقَالَ :
لَا وَاَللَّهِ , يَا رَسُولَ اَللَّهِ , وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ , وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي – قَالَ سَهْلٌ :
مَالُهُ رِدَاءٌ – فَلَهَا نِصْفُهُ.
فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ ?
إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ شَيْءٌ فَجَلَسَ اَلرَّجُلُ , وَحَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسُهُ قَامَ ; فَرَآهُ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُوَلِّيًا , فَأَمَرَ بِهِ , فَدُعِيَ لَهُ , فَلَمَّا جَاءَ.
قَالَ :
مَاذَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ?
قَالَ :
مَعِي سُورَةُ كَذَا , وَسُورَةُ كَذَا , عَدَّدَهَا فَقَالَ :
تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ ?
قَالَ :
نَعَمْ , قَالَ :
اِذْهَبْ , فَقَدَ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ :
( اِنْطَلِقْ , فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا , فَعَلِّمْهَا مِنَ الْقُرْآنِ ) وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ :
( أَمْكَنَّاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :
( مَا تَحْفَظُ ?
قَالَ :
سُورَةَ اَلْبَقَرَةِ , وَاَلَّتِي تَلِيهَا.
قَالَ :
قُمْ فَعَلِّمْهَا عِشْرِينَ آيَةً )

Sahal Ibnu Sa’ad al-Sa’idy Radliyallaahu ‘anhu berkata:
Ada seorang wanita menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata:
Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda.
Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian beliau menganggukkan kepalanya.
Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk.
Berdirilah seorang shahabat dan berkata:
“Wahai Rasulullah, jika baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya.
Beliau bersabda:

“Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Dia menjawab:
Demi Allah tidak, wahai Rasulullah.
Beliau bersabda:

“Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu.” Ia pergi, kemudian kembali dan berkata:
Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi.” Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata:
Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku -Sahal berkata:
Ia mempunyai selendang -yang setengah untuknya (perempuan itu).
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Apa yang engkau akan lakukan dengan kainmu?
Jika engkau memakainya, Ia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, engkau tidak kebagian apa-apa.”
Lalu orang itu duduk.
Setelah duduk lama, ia berdiri.
Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya berpaling, beliau memerintah untuk memanggilnya.
Setelah ia datang, beliau bertanya:
“Apakah engkau mempunyai hafalan Qur’an?” Ia menjawab:
Aku hafal surat ini dan itu.
Beliau bertanya:
“Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?” Ia menjawab:
Ya.
Beliau bersabda:

“Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur’an yang engkau miliki.”
Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.
Dalam suatu riwayat:
Beliau bersabda padanya:
“berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia al-Qur’an.”
Menurut riwayat Bukhari:
“Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) al-Qur’an yang telah engkau hafal.”

Menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu beliau bersabda:

“Surat apa yang engkau hafal?”. Ia menjawab:
Surat al-Baqarah dan sesudahnya.
Beliau bersabda:

“Berdirilah dan ajarkanlah ia dua puluh ayat.”
[1]

Studi Matan

Ada seorang wanita menemui…” dalam kebanyakan riwayat begitulah redaksinya.
Dalam riwayat lain, “Berdirilah seorang wanita”, maksudnya ia datang lalu berdiri di antara para jamaah, bukan pada asalnya duduk lalu berdiri.

Rasulullah memandangnya dengan penuh perhatian dari atas hingga bawah,”.
Maksudnya memperhatikan wanita tersebut dengan seksama dari bagian atas hingga bagian bawah, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi.
Dalam kitab Al-Mufhim, Imam Qurthubi mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memandang wanita tersebut berulang-ulang.

“…kemudian beliau menundukkan kepalanya…”, dalam riwayat lain, “beliau tidak menjawabnya dengan sesuatu apapun”.

Hukum

Dalam hadits Wahibah di atas terdapat hukum-hukum dan faedah-faedah yang sangat banyak.
Imam Bukhari dalam Shahihnya membagi hadits tersebut dalam sub judul (tarjamah) yang bermacam-macam.
Berikut ini di antaranya:

  1. Kitab Wakalah (perwakilan), bab Seorang Wanita Mewakilkan Imam Dalam Pernikahan.

  2. Kitab Keutamaan Al-Quran, bab “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Quran.” Imam Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab tersebut dikarenakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menikahkan wanita tersebut dengan kemuliaan Al-Quran.
    Sisi lain, keutamaan Al-Quran tampak pada diri seseorang di dunia, sehingga dapat menggantikan posisi harta saat diperlukan.
    Sedangkan keutamaannya di akhirat tidak perlu diragukan lagi.

  3. Bab Menghafal di Luar Kepala.
    Ibnu Hajar berkata, “Hal itu tampak pada sabda beliau:
    Apakah kau akan mengajarinya dari hafalanmu?”.
    Ia menjawab:
    ya.
    Hal itu menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran dari hafalan di luar kepala, karena hal itu lebih memungkinkannya dalam mengajar.

  4. Kitab Nikah, bab Menikahkan Orang yang Kesulitan Sedangkan Ia Memiliki Al-Quran dan Islam.
    Ibnu Hajar berkata, “Judul tersebut diambil dari sabda beliau:
    Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi”.
    Kemudian lelaki itu mencari namun tidak mendapatkannya.
    Kendatipun demikian, beliau tetap menikahkannya.”

  5. Bab Seorang Wanita Menawarkan Dirinya Kepada Lelaki Shalih.
    Ibnu Hajar berkata, “Di antara keunikan Imam Bukhari adalah ketika mengetahui kekhususan hadits wahibah ini, beliau mengambil hukum dari sesuatu yang tidak ada kekhususannya, yaitu bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya sendiri kepada seorang lelaki shalih karena mencintai kesalihannya.
    Hal itu diperbolehkan.

  6. Bab Melihat Wanita Sebelum Menikah.

  7. Bab Jika Wali Nikah Adalah Pelamar Itu Sendiri.
    Maksudnya apakah ia boleh menikahkan dirinya sendiri ataukah membutuhkan wali lain.

  8. Bab Penguasa Adalah Wali.

  9. Bab Jika seorang pelamar berkata kepada walinya:
    “Nikahkan saya dengan si dia”, kemudian wali menjawab:
    “Saya nikahkan kamu dengan dia dengan mahar sekian dan sekian”, maka pernikahan sah, meskipun si pelamar belum menjawab, “Saya terima atau saya rela.” Imam Bukhari mengambil kesimpulan demikian berdasarkan hadits wahibah di atas.
    Tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa lelaki tersebut menjawab, “Saya terima.” Bangkitnya lelaki tersebut untuk mencari cincin dari besi adalah bukti penerimaannya.

  10. Bab Menikahkan Dengan Al-Quran dan Tanpa Mahar.

  11. Kitab Pakaian, bab Cincin dari Besi.
    Beliau (Imam Bukhari) mengambil kesimpulan bahwa memakai cincin dari besi adalah diperbolehkan.
    Meskipun kesimpulan demikian kurang tepat, karena mencari tidak sama dengan memakai.
    Boleh mencari belum tentu boleh memakainya.

  12. Kitab Tauhid, Bab “Katakanlah siapakah yang lebih besar kesaksiannya?”

Penjelasan

1. Hukum Menikah Tanpa Mahar

Kata wanita tersebut, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda,” menunjukkan bolehnya menyerahkan urusan pernikahan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Seolah-olah wanita tersebut mengatakan, “Saya menikahi anda tanpa imbalan.”

Hukum ini khusus bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saja.
Dalilnya firman Allah, “…dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 50).
Hal ini menjadi ijma’ para ulama.

Adapun menghibahkan nikah kepada selain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka ada dua macam:

Pertama, bermaksud menghibahkan secara hakiki, yaitu menikah tanpa mahar.
Maka nikah semacam ini dianggap bathil (tidak sah), karena hal itu menjadi kekhususan bagi Nabi saja.

Kedua, bermaksud memberikan (hak menikmati) tubuhnya dengan tetap membayar mahar.
Di sini terdapat perbedaan pendapat:

Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah membolehkan nikah semacam ini, karena kekhususan hanya terletak pada pernikahan tanpa mahar, sedangkan di sini masih ada mahar.

Syafiiyah menganggap pernikahan semacam ini juga bathil karena kata hibah berarti tanpa mahar meskipun diucapkan dengan mahar.

Kesimpulannya, perbedaan pendapat ini kembali pada akar permasalahan di kalangan para fuqoha, yaitu mengenai lafal (redaksi) akad pernikahan.

2. Jenis Mahar

Sabda beliau, “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” dan “Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi.” Secara
zhahir menunjukkan bahwa benda apapun boleh dijadikan mahar, meskipun nilainya sangat rendah.

Ibnu Hazm berkata, “Mahar boleh berupa apapun selama bisa dinamakan ‘sesuatu’, walaupun hanya sebutir gandum, berdasarkan sabda beliau:
Apakah engkau memiliki sesuatu?”

Pendapat ini ditentang oleh para ulama karena dinilai terlalu berlebihan dalam mengecilkan nilai mahar.
Mereka berhujjah dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini,” (QS. An-Nisa: 24), dan hadits, “Dan barangsiapa belum mampu (menikah), hendaklah ia berpuasa.”

Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa benda yang boleh dijadikan mahar adalah setiap sesuatu yang bisa diperjualbelikan atau disewakan, selainnya tidak boleh.

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, benda yang boleh dijadikan mahar tidak boleh kurang dari nishab potong tangan dalam masalah pencurian[2], yaitu sepuluh Dirham menurut Hanafiyah atau seperempat Dinar menurut Malikiyah.
Alasannya adalah Al-Quran menegaskan bahwa farj (kemaluan wanita) tidak dihalalkan kecuali dengan imbalan harta yang diperhitungkan, sesuai firman Allah, “(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini.” (QS. An-Nisa: 24), sedangkan jumlah nominal terendah yang diperhitungkan adalah nishab potong tangan dalam masalah pencurian.
Itulah pendapat yang diambil oleh kedua mazhab tersebut.

Adapun mengenai hadits di atas, mereka mengatakan bahwa apa yang diminta oleh Rasulullah tersebut bukanlah mahar, melainkan ‘uang muka’, sehingga kewajiban membayar mahar semisal masih tetap dibebankan kepada si suami setelah itu.

Masalah ini adalah masalah khilafiyah yang bisa dirujuk kembali dalam kitab-kitab turats[3].

3. Shighat Akad Nikah

Sabda beliau di akhir hadits, “Aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur’an yang engkau miliki,” menunjukkan sahnya akad nikah dengan shighat tamlik (lafal pemberian), baik itu berupa kata menikah, kawin atau sejenisnya.
Ini adalah pendapat yang diambil oleh ulama Hanafiyah.
Mereka membolehkan shighat akad nikah dengan lafal hibah, sedekah atau lafal-lafal lainnya yang menunjukkan berpindahnya kepemilikan suatu benda secara utuh dari satu orang ke orang lain
[4].

Sedangkan ulama Syafiiyah, Hanabilah dan Malikiyah menganggap tidak sah pernikahan yang diucapkan dengan selain lafal nikah, kawin atau turunan katanya saja.
Jika diucapkan dengan kedua lafal tersebut maka pernikahan dianggap sah, meskipun tanpa menyebutkan mahar, karena mahar adalah kewajiban yang harus dibayar meskipun tidak disebutkan
[5].

Pendapat tersebut disandarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada khutbah wada’, “Maka bertakwalah kalian kepada Allah dalam masalah wanita, karena kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” Yang dimaksud kalimat Allah adalah pernikahan (an-nikah) atau perkawinan (az-zawaj), karena hanya kedua kata itu yang disebutkan dalam Al-Quran, selain itu tidak ada, maka wajib dibatasi sebagai langkah kehati-hatian dalam ibadah.

Adapun berkenaan dengan lafal hadits yang berbunyi, “Aku serahkan wanita itu untukmu,” mereka mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan secara makna saja, tidak letterlik, karena mayoritas riwayat yang lain berbunyi, “Aku nikahkan kamu dengan wanita itu,” atau “Aku kawinkan kamu dengan wanita itu,” padahal kejadiannya hanya sekali saja[6].

4. Hukum Memakai Cincin

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Carilah walaupun hanya sepotong cincin dari besi,” Imam Nawawi berkesimpulan bahwa memakai cincin dari besi adalah diperbolehkan bagi laki-laki.
Inilah pendapat ulama Syafiiyah yang dianggap rajih oleh Imam Nawawi.

Pendapat lain dalam mazhab Syafiiyah sebagaimana pendapat Malikiyah dan Hanabilah menyatakan makruhnya memakai cincin dari besi, tembaga atau kuningan[7].

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, cincin yang boleh dipakai hanya berasal dari perak saja.
Selainnya tetap haram, seperti emas, batu, besi, kaca dan lain-lain
[8].

Seluruh ulama mazhab mengambil hukum tersebut berdasarkan hadits dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada seseorang yang memakai cincin dari logam kuningan, “Mengapa aku mencium darimu bau berhala?”.
Beliau juga pernah bersabda kepada seseorang yang memakai cincin dari besi, “Mengapa aku melihat perhiasan penduduk neraka menempel padamu?
[9] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai)

Akan tetapi terdapat hadits lain yang lebih kuat dari Al-Mu’aiqib, “Dahulu cincin Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berasal dari besi yang dibengkokkan, di atasnya terdapat perak.[10] (HR. Abu Daud dan Nasai)

Para ulama lain berkomentar terhadap sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Walaupun hanya sepotong cincin dari besi,” bahwa yang dimaksud hadits itu adalah upaya mengecilkan nilai mahar dan memudahkan orang-orang yang kesulitan secara ekonomi sehingga si istri tetap bisa memanfaatkan harga cincin tersebut meskipun sangat rendah, bukan diperbolehkannya memakai cincin[11].

Wallahu a’lamu bis showab.


[1] Bukhari bab “Menikahkan Orang yang Kesulitan” 7/6-7, Muslim bab “Mahar dan Bolehnya Berupa Mengajarkan Al-Quran” 4/143-144, Bukhari bab “Seorang Wanita Menawarkan Dirinya Sendiri Kepada Lelaki Shalih” 7/13, Abu Daud bab “Menikahkan Dengan Amal Diamalkan” 2/236 dari hadits Sahl dan Abu Hurairah, Tirmidzi bab “Mahar Wanita” 3/421, Nasai 6/113, Musnad 5/330, 336.

[2] Nishab potong tangan adalah nilai minimal yang diberlakukan dalam masalah pencurian sehingga setiap pencuri yang mencapai nilai tersebut wajib dipotong tangannya.

[3] Lihat Al-Mufhim 4/129-130, An-Nawawi 9/213, Fathul Bari 9/165, Nailul Authar 6/171-172.

[4] Fathul Qadir dan Al-Hidayah 2/221, Az-Zaila’i ‘alal kanz 2/96-97, Ibn ‘Abidin 2/368.

[5] Ad-Dasuki ala Syarh Al-Kabir 2/221, Minahul Jalil 2/11-12, Mughnil Muhtaj 3/140-141, Al-Mughni 6/533.

[6] Syarah Shahih Muslim milik An-Nawawi 9/214, Ihkamul Ahkam 2/198-199.

[7] Al-Majmu’ 4/344, Al-Adawi 2/412-413, Al-Mughni 8/323.

[8] Ad-Durr 5/314-315.

[9] Abu Daud bab “Cincin dari Besi” 4/90, Tirmidzi akhir bab Pakaian 3/248, Nasai bab Perhiasan 8/175.

[10] Tahdzib Sunan Abi Daud 6/115, At-Taqrib, Al-Majmu’ 3/344, Syarah Muslim 9/213.

[11] Lihat jawaban dan diskusi dalam kitab Ma’alimus Sunan karangan Imam Khattabi 6/115, Hasyiyatul Adawi 2/413, dan lain-lain.


Ibnu Hazm berkata, “Mahar boleh berupa apapun selama bisa dinamakan ‘sesuatu’, walaupun hanya sebutir gandum, berdasarkan sabda beliau:
Apakah engkau memiliki sesuatu?”

Pendapat ini ditentang oleh para ulama karena dinilai terlalu berlebihan dalam mengecilkan nilai mahar.
Mereka berhujjah dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini,” (QS. An-Nisa: 24), dan hadits, “Dan barangsiapa belum mampu (menikah), hendaklah ia berpuasa.”

Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa benda yang boleh dijadikan mahar adalah setiap sesuatu yang bisa diperjualbelikan atau disewakan, selainnya tidak boleh.

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, benda yang boleh dijadikan mahar tidak boleh kurang dari nishab potong tangan dalam masalah pencurian[2], yaitu sepuluh Dirham menurut Hanafiyah atau seperempat Dinar menurut Malikiyah.
Alasannya adalah Al-Quran menegaskan bahwa farj (kemaluan wanita) tidak dihalalkan kecuali dengan imbalan harta yang diperhitungkan, sesuai firman Allah, “(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini.” (QS. An-Nisa: 24), sedangkan jumlah nominal terendah yang diperhitungkan adalah nishab potong tangan dalam masalah pencurian.
Itulah pendapat yang diambil oleh kedua mazhab tersebut.

Adapun mengenai hadits di atas, mereka mengatakan bahwa apa yang diminta oleh Rasulullah tersebut bukanlah mahar, melainkan ‘uang muka’, sehingga kewajiban membayar mahar semisal masih tetap dibebankan kepada si suami setelah itu.

Masalah ini adalah masalah khilafiyah yang bisa dirujuk kembali dalam kitab-kitab turats[3].

3. Shighat Akad Nikah

Sabda beliau di akhir hadits, “Aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur’an yang engkau miliki,” menunjukkan sahnya akad nikah dengan shighat tamlik (lafal pemberian), baik itu berupa kata menikah, kawin atau sejenisnya.
Ini adalah pendapat yang diambil oleh ulama Hanafiyah.
Mereka membolehkan shighat akad nikah dengan lafal hibah, sedekah atau lafal-lafal lainnya yang menunjukkan berpindahnya kepemilikan suatu benda secara utuh dari satu orang ke orang lain
[4].

Sedangkan ulama Syafiiyah, Hanabilah dan Malikiyah menganggap tidak sah pernikahan yang diucapkan dengan selain lafal nikah, kawin atau turunan katanya saja.
Jika diucapkan dengan kedua lafal tersebut maka pernikahan dianggap sah, meskipun tanpa menyebutkan mahar, karena mahar adalah kewajiban yang harus dibayar meskipun tidak disebutkan
[5].

Pendapat tersebut disandarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada khutbah wada’, “Maka bertakwalah kalian kepada Allah dalam masalah wanita, karena kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” Yang dimaksud kalimat Allah adalah pernikahan (an-nikah) atau perkawinan (az-zawaj), karena hanya kedua kata itu yang disebutkan dalam Al-Quran, selain itu tidak ada, maka wajib dibatasi sebagai langkah kehati-hatian dalam ibadah.

Adapun berkenaan dengan lafal hadits yang berbunyi, “Aku serahkan wanita itu untukmu,” mereka mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan secara makna saja, tidak letterlik, karena mayoritas riwayat yang lain berbunyi, “Aku nikahkan kamu dengan wanita itu,” atau “Aku kawinkan kamu dengan wanita itu,” padahal kejadiannya hanya sekali saja[6].

4. Hukum Memakai Cincin

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Carilah walaupun hanya sepotong cincin dari besi,” Imam Nawawi berkesimpulan bahwa memakai cincin dari besi adalah diperbolehkan bagi laki-laki.
Inilah pendapat ulama Syafiiyah yang dianggap rajih oleh Imam Nawawi.

Pendapat lain dalam mazhab Syafiiyah sebagaimana pendapat Malikiyah dan Hanabilah menyatakan makruhnya memakai cincin dari besi, tembaga atau kuningan[7].

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, cincin yang boleh dipakai hanya berasal dari perak saja.
Selainnya tetap haram, seperti emas, batu, besi, kaca dan lain-lain
[8].

Seluruh ulama mazhab mengambil hukum tersebut berdasarkan hadits dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada seseorang yang memakai cincin dari logam kuningan, “Mengapa aku mencium darimu bau berhala?”.
Beliau juga pernah bersabda kepada seseorang yang memakai cincin dari besi, “Mengapa aku melihat perhiasan penduduk neraka menempel padamu?
[9] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai)

Akan tetapi terdapat hadits lain yang lebih kuat dari Al-Mu’aiqib, “Dahulu cincin Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berasal dari besi yang dibengkokkan, di atasnya terdapat perak.[10] (HR. Abu Daud dan Nasai)

Para ulama lain berkomentar terhadap sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Walaupun hanya sepotong cincin dari besi,” bahwa yang dimaksud hadits itu adalah upaya mengecilkan nilai mahar dan memudahkan orang-orang yang kesulitan secara ekonomi sehingga si istri tetap bisa memanfaatkan harga cincin tersebut meskipun sangat rendah, bukan diperbolehkannya memakai cincin[11].

Wallahu a’lamu bis showab.


[1] Bukhari bab “Menikahkan Orang yang Kesulitan” 7/6-7, Muslim bab “Mahar dan Bolehnya Berupa Mengajarkan Al-Quran” 4/143-144, Bukhari bab “Seorang Wanita Menawarkan Dirinya Sendiri Kepada Lelaki Shalih” 7/13, Abu Daud bab “Menikahkan Dengan Amal Diamalkan” 2/236 dari hadits Sahl dan Abu Hurairah, Tirmidzi bab “Mahar Wanita” 3/421, Nasai 6/113, Musnad 5/330, 336.

[2] Nishab potong tangan adalah nilai minimal yang diberlakukan dalam masalah pencurian sehingga setiap pencuri yang mencapai nilai tersebut wajib dipotong tangannya.

[3] Lihat Al-Mufhim 4/129-130, An-Nawawi 9/213, Fathul Bari 9/165, Nailul Authar 6/171-172.

[4] Fathul Qadir dan Al-Hidayah 2/221, Az-Zaila’i ‘alal kanz 2/96-97, Ibn ‘Abidin 2/368.

[5] Ad-Dasuki ala Syarh Al-Kabir 2/221, Minahul Jalil 2/11-12, Mughnil Muhtaj 3/140-141, Al-Mughni 6/533.

[6] Syarah Shahih Muslim milik An-Nawawi 9/214, Ihkamul Ahkam 2/198-199.

[7] Al-Majmu’ 4/344, Al-Adawi 2/412-413, Al-Mughni 8/323.

[8] Ad-Durr 5/314-315.

[9] Abu Daud bab “Cincin dari Besi” 4/90, Tirmidzi akhir bab Pakaian 3/248, Nasai bab Perhiasan 8/175.

[10] Tahdzib Sunan Abi Daud 6/115, At-Taqrib, Al-Majmu’ 3/344, Syarah Muslim 9/213.

[11] Lihat jawaban dan diskusi dalam kitab Ma’alimus Sunan karangan Imam Khattabi 6/115, Hasyiyatul Adawi 2/413, dan lain-lain.


Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA

Video


Load More

Zulkifli `alaihis salam

Siapa itu Zulkifli `alaihis salam? Nabi Zulkifli adalah salah satu nabi dan Rasul dalam ajaran agama Islam yang diutus kepada kaum Amoria di kota Damaskus. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1460 SM dan diutus untuk mengajarkan ajaran tauhid kepada kaumnya yang sedang menyembah berhala supaya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, taat beribada … • Zulkifli

Al-‘Alaq

Apa itu Al-‘Alaq? Surah Al-‘Alaq adalah surah ke- dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 19 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surah ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad bertafakur di gua Hira. Surah ini dinamai Al ‘Alaq , diambil dar … • Al-‘Alaq, Al-Alaq, Al ‘Alaq, Al Alaq

musafir

Siapa itu musafir? Menurut pandangan orang awam , menyebut musafir itu lebih didasarkan pada jarak. Jadi apabila seseorang melakukan perjalanan jarak dekat dia tidak masuk kategori musafir. Sedangkan yang melakukan jarak jauh masuk kategori musafir. Ternyata pengertian itu kurang tepat. Yang benar adalah: Ukura … •

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Kami beri makan kepadamu hanya untuk mengharap rida Allah, kami tak kehendaki balasan darimu. Sungguh kami takut (azab) Tuhan pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu
QS. Al-Insan [76]: 9

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu,
baik laki-laki atau perempuan,
QS. Ali ‘Imran [3]: 195

Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar & karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan).
QS. Al-Mu’min [40]: 75

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah … Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #12

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada bulan … Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Kamus

Luth `alaihis salam

Siapa itu Luth `alaihis salam? Lūth adalah salah satu nabi yang diutus untuk negeri Sadum dan Gomorrah. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Ia ditugaskan berdakwah kepada Kaum yang hidup di negeri Sadum. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali dalam Al-Quran. Ia meninggal di Desa Shafrah di Syam, Palestina. Gene … • Luth

Idris `alaihis salam

Siapa itu Idris `alaihis salam? Idris atau Nabi Idris adalah salah seorang rasul yang pertama kali diberikan tugas untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya. Ia diberikan hak kenabian oleh Allah setelah Adam dan Syits. Dikatakan bahwa Idris lahir dan tinggal di Babil, Irak, untuk berdakwah kepada kaumnya yang bernama Bani Qabil da … • Idris

Amar makruf nahi mungkar

Apa itu Amar makruf nahi mungkar? Amar makruf nahi mungkar adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang berisi perintah menegakkan yang benar dan melarang yang salah. Dalam ilmu fikih klasik, perintah ini dianggap wajib bagi kaum Muslim. “Amar makruf nahi mungkar” telah dilembagakan di beberapa negara, con … • Amar makruf, nahi mungkar

Qaf

Apa itu Qaf? Surah Qaf adalah surah ke-50 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat. Dinamakan Qaf karena surah ini dimulai dengan huruf Qaf. Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Nabi Muhammad senang membaca surah ini pada raka’at pertama salat subuh dan pada salat hari raya. Sedang menurut riwayat Ab … • Qaaf, Qaf

Hadis Musnad

Apa itu Hadis Musnad? Hadis Musnad. Sebuah hadis tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadis tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Urut-urutan penutur memungkinkan terjadinya penyampaian hadis berdasarkan waktu dan kondisi, yakni rawi-rawi itu memang diyakini telah saling bertemu dan menyampaikan hadis. Hadis ini juga dinamakan muttashilus sanad a … • maushul

Jibril

Siapa itu Jibril? Dalam Islam, dikenal malaikat bernama “Jibril” yang merupakan ejaan bahasa Arab untuk “Gabriel”. Malaikat Jibril adalah satu dari tiga malaikat yang namanya disebut dalam Al Quran. Adalah malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu. Nama Malaikat Jibril disebut dua kali dalam Al Quran yaitu pada surat Al Baqarah ayat 97-98 dan At Tahrim ayat 4. Di da … •