Kitab Nikah. BAB I : TENTANG NIKAH – Hadits Ke-788

HADITS KE-788

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ :
قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ , حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ , أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya.”
Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.

Hukum

Hadits di atas menunjukkan keharaman meminang (khitbah) pinangan orang lain, yaitu seorang lelaki meminang seorang wanita dan diterima oleh wanita itu, atau diterima wali yang telah diizinkan oleh wanita itu untuk menikahkannya, kemudian datang lelaki lain meminang wanita tersebut.
Seperti ini hukumnya haram.
Begitu juga jika di antara kedua belah pihak telah terjadi kerukunan (saling suka), atau yang dalam adat kita sering disebut ‘kesepakatan awal’.
Adapun jika masih berupa permintaan, dan belum ada persetujuan maka tidaklah mengapa.

Hukum ini disepakati oleh para ulama.
Bahkan Imam Nawawi menyatakan bahwa hukum ini mencapai derajat ijma’.

Hikmah diharamkannya khitbah di atas khitbah orang lain adalah demi menjaga ukhuwah dan rasa saling mencintai antar sesama muslim dalam sebuah masyarakat.
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
Tidaklah halal seorang muslim membeli barang yang sudah dibeli oleh saudaranya.
Dan tidak halal pula seorang muslim mengkhitbah wanita yang telah dikhitbah oleh saudaranya, kecuali jika ia membiarkannya (mengizinkannya).
” (HR. Muslim)

Kemudian, kata “saudaranya” dalam hadits di atas menunjukkan kebolehan seorang muslim meminang wanita Ahli Kitab yang telah dipinang oleh seorang laki-laki dzimmi, karena orang kafir tidak termasuk kategori “saudaranya”.
Maka tidak ada ukhuwah di antara seorang muslim dan kafir.

Akan tetapi mayoritas ulama, di antaranya Malikiyah dan Syafiiyah, tetap mengharamkan hal semacam itu, karena dapat menyakiti pihak pertama (yaitu dzimmi).
Mereka menjawab pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa kata “saudaranya” di sini tidak menunjukkan syarat, tapi kebiasaan, yaitu biasanya seorang muslim mengkhitbah seorang muslimah juga, jadi tidak ada pensyaratan dalam hadits ini.

Sabda beliau, “hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya” menunjukkan dilepaskannya hak pihak pertama yang telah melamar wanita tersebut sehingga pihak kedua boleh melamarnya.
Wallahu a’lamu bis shawab.


Bagikan ke FB
Bagikan ke TW

Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya

Hadits Shahih

Ayat Alquran

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 87 [QS. 7:87]

Sambil mengajak kaumnya beriman, Nabi Syuaib mengakhiri seruannya dengan kalimat diplomatis, “Jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada ajaran yang aku diutus menyampaikannya agar menyemb … 7:87, 7 87, 7-87, Surah Al A’raaf 87, Tafsir surat AlAraaf 87, Quran Al Araf 87, Al-A’raf 87, Surah Al Araf ayat 87

QS. Ad Dukhaan (Kabut) – surah 44 ayat 48 [QS. 44:48]

47-48. Ketika orang-orang yang berdosa sudah mendekat di pintu neraka, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat, “Peganglah dia, yakni pendosa dan pendurhaka itu, kemudian seretlah dia secara kas … 44:48, 44 48, 44-48, Surah Ad Dukhaan 48, Tafsir surat AdDukhaan 48, Quran AdDukhan 48, Ad Dukhan 48, Ad-Dukhan 48, Surah Ad Dukhan ayat 48

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #22

Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah … bersikap ikhlas bersikap santai menyadari dan menerima keadaan

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … ijtihad ijma ‘ulama hadits UUD 1945 fatwa para ulama Benar!

Pendidikan Agama Islam #30

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًاArti dari kalimat di atas adalah … Kebodohan mendekati kekayaan Kebodohan mendekatkan pada kemiskinan Kekufuran mendekati

Instagram