[KITAB NIKAH] BAB I : TENTANG NIKAH – HADITS KE-784

HADITS KE-784

وَعَنْهُ ; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَّأَ إِنْسَانًا إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ : ( بَارَكَ اَللَّهُ لَكَ , وَبَارَكَ عَلَيْكَ , وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَةُ , وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ خُزَيْمَةَ , وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila mendoakan seseorang yang nikah, beliau bersabda: "Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan." Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

Isnad

Al-Hakim mengatakan, “Hadits ini shahih menurut standar Imam Muslim dan belum diriwayatkan oleh beliau”. Imam Adz-Dzahabi juga menyepakatinya. Akan tetapi hadits ini melewati jalur Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah. Status Abdul Aziz dan Suhail masih diperbincangkan[5].

Akan tetapi hadits tersebut memiliki syahid (penguat) berupa hadits dari Uqail bin Abi Thalib, ia berkata: ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, “Baarakallahu fikum wa baaraka ‘alaikum” (HR. Ahmad An-Nasa’I dan Ibnu Majah, para perawinya tsiqot[6]).

Begitu juga dengan hadits Anas bahwasannya Abdurrahman bin Auf ketika berkata kepada Nabi ﷺ, “Saya telah menikah”, beliau menjawab, “Baarakallahu laka, adakanlah pesta walimah mekipun dengan seekor kambing” (HR. Bukhari dan Muslim[7]).

Istinbath

Hadits tersebut berisi anjuran untuk memberikan ucapan Tarfiyah bagi orang yang telah menikah, yaitu doa agar mendapatkan barokah dan kebaikan, sebagaimana ditetapkan oleh para Fuqoha[8].

Pada awalnya, dahulu orang-orang zaman Jahiliyah menggunakan ungkapan ini untuk mendoakan pasangan suami-istri agar mendapatkan keharmonisan dalam rumah tangga dan mendapatkan anak laki-laki. Mereka biasa mengucapkan “Bir rifai wal banin” (semoga mendapatkan keharmonisan dan anak laki-laki). Hingga akhirnya ungkapan ini dikenal dengan istilah Tarfiyah, yaitu doa untuk orang yang telah menikah.

Dalam salah satu riwayat yang terdapat dalam Musnad disebutkan bahwa Aqil bin Abi Thalib menikah. Ketika ia keluar, kami mengucapkan “Bir Rifai wal banin”. Lalu ia berkata, “Jangan ucapkan itu karena Rasulullah ﷺ pernah melarang kami mengucapkannya. Tapi ucapkanlah: Baarakallahu fiika wa baaraka laka fiiha”.

Semua itu menjadi dalil terhapusnya ucapan-ucapan Tarfiyah pada zaman Jahiliyah yang mengkhususkan doa hanya untuk anak laki-laki saja dan diganti dengan doa Tarfiyah Islam.

Hikmah dari doa Tarfiyah dalam Islam adalah sebagai pengingat bagi pasangan suami-istri bahwasannya pernikahan merupakan pintu gerbang menuju babak kehidupan baru yang penuh lika-liku dan aral melintang. Oleh karena itu, mereka membutuhkan doa ini agar bahtera rumah tangga yang akan mereka jalani bisa tetap bertahan dan tidak karam di tengah samudera kehidupan yang sangat luas.

Pernikahan tidak hanya sekedar penyalur kebutuhan biologis semata. Lebih dari itu, pernikahan merupakan salah satu sarana dalam menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. Karena kebahagiaan tidak selalu berwujud harta atau materi, namun kebahagiaan sejati sebenarnya terletak pada keberkahan pernikahan itu sendiri. Berapa banyak pasangan suami-istri yang hidup serba pas-pasan secara ekonomi, namun kehidupan mereka terasa begitu indah dan manis. Sebaliknya, berapa banyak keluarga yang hancur padahal secara materi kehidupan mereka sangat berlimpah.

Itulah Islam yang mengajarkan umatnya agar saling mendoakan supaya mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

____________________

[5] Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi di-tsiqahkan oleh Ibnu Ma’in dan Al-‘Aljli. Menurut Abu Zur’ah, “Buruk hafalannya”. An-Nasai berkomentar: “Tidak kuat”. (At-Tahdzib 6/353)

[6] Musnad 1/201; An-Nasai “Kaifa Yud’a lil Mutazawwij” 6/128 no. 3371; Ibnu Majah pada tempat yang sama dengan sebelumnya dengan lafadz: Allahumma baarik lahum wa baarik ‘alaihim; lihat penjelasan selengkapnya mengenai sanad hadits dalam Fathul Bari 9/186-187 Bab Kaifa Yud’a lil Mutazawwij.

[7] Bukhari “Kaifa Yud’a lil Mutazawwij” 7/21; Muslim “Ash-Shadaaq…” 4/144.

[8] Ad-Dasuqi ‘Ala Syarhil Kabir 2/216; Minahul Jalil 2/6; Al-Mughni 6/539; Syarh Syir’atil Islam karangan Sayyid Ali Zaad 448; Al-Muhadzab 2/41.








Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya





Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim
               



Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim