Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Kitab Nikah. BAB I : TENTANG NIKAH – Hadits Ke-780

HADITS KE-780

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata:
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.
Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.”
Muttafaq Alaihi.

Studi Sanad

Hadits ini termasuk hadits yang paling sahih secara takhrij dan sanad.
Secara takhrij, karena hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, sedangkan secara sanad karena hadits tersebut melewati jalur yang paling valid secara mutlak (Ashah Al Asanid), yaitu Sulaiman bin Mihran Al A’masy dari Ibrahim An-Nakha’i dari ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’i dari Abdullah bin Mas’ud.
Silsilah sanad tersebut dinilai sebagai sanad terbaik, seperti silsilah sanad Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.

Imam Bukhari dan Nasa’i juga meriwayatkan hadits yang sama dari Al-A’masy dengan jalur yang berbeda, yaitu dari ‘Ammarah bin ‘Umair dari Abdurrahman bin Yazid.
Sanad tersebut sahih.
Jadi, Al-A’masy memiliki dua jalur dalam riwayat hadits ini.

Sababul Wurud (Sebab Turunnya Hadits)

Imam Bukhari dan Nasa’i meriwayatkan dari Al-A’masy, dia berkata:
‘Ammarah dari Abdurrahman bin Yazid berkata:
Aku bersama ‘Alqamah pernah mendatangi Abdullah (Ibnu Mas’ud), lalu beliau (Ibnu Mas’ud) berkata:
Dahulu kami adalah para pemuda yang tidak memiliki sesuatu apapun, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Wahai segenap para muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, dst”.

Dalam riwayat Muslim:
Aku (Abdurrahman bin Yazid) dan pamanku (‘Alqamah) dan Al Aswad pernah mendatangi Abdullah bin Mas’ud.
Beliau (Ibnu Mas’ud) berkata:
“Pada saat itu aku masih seorang pemuda”.
Lalu beliau menyebutkan hadits itu, seolah-olah beliau menyebutkannya karena aku.
Tak lama setelah itu pun aku menikah.

Gharibul Hadits (Istilah-Istilah Asing)

Ma’syar, artinya sekelompok atau segenap orang yang memiliki sifat tertentu, seperti segenap pemuda, segenap orang tua, segenap para nabi dan sebagainya.

Syabab:
bentuk plural (jamak) dari Syab, artinya para pemuda.

Ba’ah, secara bahasa berarti jima’ (bersenggama) kemudian dipakai untuk menyatakan akad nikah.

Wija’, artinya tameng.
Orang yang berpuasa seolah-olah memiliki tameng yang dapat melindungi dirinya.

Musykilul Hadits

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim (1) mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai maksud dari kata Ba’ah dalam hadits tersebut.
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud Ba’ah di sini adalah maknanya secara bahasa, yaitu jima’.
Jadi bunyi hadits tersebut menjadi, “Barangsiapa di antara kalian telah mampu berjima’, hendaklah ia menikah.
Barangsiapa belum mampu berjima’, hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwat dan air maninya, sebagaimana tameng yang menahan serangan”.

Jika yang dimaksud Ba’ah adalah jima’, maka objek dari hadits tersebut adalah para pemuda yang memiliki hasrat yang besar terhadap lawan jenisnya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud Ba’ah adalah kemampuan seseorang untuk memberikan nafkah dan keperluan pernikahan.
Jadi, bunyi haditsnya menjadi, “Barangsiapa di antara kalian telah mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia menikah.
Barangsiapa belum mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwatnya”.

Makna dan Uslub

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengarahkan anjuran dan motivasi untuk menikah ini kepada para seluruh umatnya, khususnya para pemuda.
Beliau bersabda,
“Wahai segenap para pemuda”.
Kata “Ma’syar”
yang berarti “segenap”
menyiratkan makna kemanusiaan dan sosial yang menjadi ciri masyarakat Islam.
Beliau tidak menggunakan kata lain seperti “Ya Ayyuha Syabab”
misalnya, karena kata “Ma’syar”
memiliki nuansa cinta dan kasih sayang dalam komunitas muslim.
Hal ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Islam terhadap persoalan para pemuda, sehingga Islam memberikan perhatian yang khusus bagi mereka, yaitu anjuran untuk segera menikah bagi yang telah mampu.

“Barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa”.
Beliau menggunakan kata “Alaihi”
yang berarti “hendaklah”
untuk menyatakan makna banyak.
Artinya, “hendaklah ia memperbanyak berpuasa”.
Beliau tidak menggunakan kata “Fal Yashum”
misalnya, yang berarti “berpuasalah”, karena kata itu bermakna puasa yang sehari atau dua hari saja.
Adapun kata “Alaihi Bishoum”
bermakna memperbanyak berpuasa.

Hadits tersebut di atas juga memberikan hikmah yang sangat penting dalam pernikahan, yaitu “karena ia lebih mampu menjaga pandangan dan lebih mampu memelihara kemaluan”.
Ini merupakan jaminan yang sangat penting bagi umat manusia yang ingin memelihara pandangan dan kemaluannya.

Dalam hadits tersebut terdapat Shighat Tafdhil yaitu kata “Aghaddu”
dan “Ahshonu”
yang berarti “lebih mampu menundukkan”
dan “lebih mampu memelihara”
untuk menunjukkan tujuan daripada pernikahan, yaitu terpeliharanya pandangan dan kemaluan.
Kata tersebut juga memberikan pemahaman bahwa keimanan memiliki kemampuan menundukkan dan memelihara sebagian pandangannya, sedangkan pernikahan memiliki kemampuan yang lebih besar dan kuat (2).

Kemudian hadits tersebut juga memberikan pengarahan bagi para pemuda yang belum mampu melaksanakan pernikahan untuk memperbanyak berpuasa, karena puasa mampu menahan gejolak syahwat.

Isntinbath (Hukum Fikih)

Hadits di atas mengandung hukum-hukum yang sangat penting berkaitan dengan masalah sosial, di antaranya yaitu:

1. Anjuran dan motivasi yang sangat kuat untuk menikah

Secara lahir, hadits tersebut menunjukkan wajibnya menikah bagi yang telah mampu.
Tentunya yang dimaksud mampu di sini sesuai dengan pengertian yang telah kita bahas di depan.
Pendapat inilah yang diambil oleh para ulama dari kalangan Zhahiriyah (3) dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad (4).

Sedangkan mayoritas (jumhur) ulama dan riwayat yang masyhur dalam mazhab Imam Ahmad mengatakan bahwa hukum menikah bagi yang telah mampu dalah sunnah, bukan wajib.
Tentu saja dengan syarat ia mampu menahan dirinya dari perbuatan dosa (seperti zina, onani, masturbasi, dsb).
Jika tidak, maka hukum menikah menjadi wajib baginya menurut kesepakatan seluruh ulama.

Para ulama menjawab dalil Zhahiriyah dengan sabda Rasul, “Barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa”.
Jika berpuasa disunnahkan, maka menikah pun demikian, karena puasa adalah sebagai ganti dari menikah (5).

2. Hukum menikah bagi setiap orang berbeda-beda sesuai kondisinya

Berikut ini rinciannya:

  • Wajib, bagi yang khawatir terjerumus ke dalam perbuatan dosa, sementara ia mampu menikah.

  • Haram, bagi yang belum mampu berjima’ dan membahayakan kondisi pasangannya jika menikah.

  • Makruh, bagi yang belum membutuhkannya dan khawatir jika menikah justru menjadikan kewajibannya terbengkalai.

  • Sunnah, bagi yang memenuhi kriteria dalam hadits di atas sedangkan ia masih mampu menjaga kesucian dirinya.

  • Mubah, bagi yang tidak memiliki pendorong maupun penghalang apapun untuk menikah (6).
    Ia menikah bukan karena ingin mengamalkan sunnah melainkan memenuhi kebutuhan bilogisnya semata, sementara ia tidak khawatir terjerumus dalam kemaksiatan.

Akan tetapi penelitian menunjukkan bahwa poin terakhir ini hukumnya sunnah sebagaimana sebagian ulama mengambil pendapat ini berdasarkan hadits-hadits yang berisi anjuran untuk menikah secara mutlak.

Qodhi Iyadh berkata:
hukum menikah adalah sunnah bagi yang ingin menghasilkan keturunan meskipun ia tidak memiliki kecenderungan untuk berjima’, berdasarkan hadits “Sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian (umatku)”
dan juga hadits-hadits yang secara lahir berisi anjuran untuk menikah.

Hadits-hadits yang berisi anjuran untuk menikah ini sangatlah banyak sehingga semakin menguatkan perintah ditekankannya menikah bagi yang telah mampu meskipun ia masih dapat menjaga kesucian dirinya (7).

3. Menikah merupakan solusi yang tepat dalam mencegah tersebarnya penyakit masyarakat, yaitu perzinahan, pemerkosaan, seks bebas dan lain sebagainya.

4. Hadits tersebut juga menjadi renungan bagi para pemerhati masalah sosial agar memberikan perhatian yang serius kepada para pemuda, kerena mereka merupakan tulang punggung peradaban umat.
Jika para pemuda di suatu komunitas baik, maka baiklah urusan mereka.
Wallahu A’lamu Bishowab.

Catatan Kaki:

1 Syarah Muslim juz 5 hal. 173

2 Ibnu Daqiq Al ‘Iid, Ihkam Al Ahkam juz 4 hal. 23

3 Al Muhalla juz 9 hal. 440-441

4 Fathul Bari juz 9 hal. 95

5 Fathul Bari juz 9 hal. 95; Syarah Nawawi juz 9 hal 173-174.

6 Ibnu Daqiq Al ‘Iid, Al Ihkam 2/181; Ibnu Abidin: 2/358; Minahul Jalil: 2/322; Syarbini: 3/125; Al Mughni: 6/446

7 Lihat At Targhib wat Tarhib juz 3 hal. 34


Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA

Video


Load More

Mufassir

Siapa itu Mufassir? Seorang mufassir adalah seorang yang mengartikan sebuah ayat dalam arti yang lain/arti yang mirip. Cara penafsiran Dalam menafsirkan Quran, ada cara Ibnu Taimiyyah yang dikutip Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar-nya. Pertama ayat dengan ayat, kalau meragu akan makna suatu ayat, sambungkan dengan ayat lainnya. Buya Hamka mengambil contoh Surat … • Mufasir

Wadiah

Apa itu Wadiah? Dalam bidang ekonomi syariah, wadiah adalah titipan nasabah yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat nasabah yang bersangkutan menghendaki. Bank bertanggungjawab atas pengembalian titipan tersebut. Wadiah sendiri dibagi menjadi 2 yaitu: ● Wadiah Yad Dhamanah – wadiah di mana si penerima titipan dapat memanfaatkan barang titipan terse … •

Zaid bin Khattab

Siapa itu Zaid bin Khattab? Zaid bin Khattab atau Zaid bin al-Khattab adalah Sahabat Nabi Muhammad dari golongan Muhajirin. Ia adalah kakak dari Umar bin Khatab, dan terlebih dahulu masuk Islam, ia merupakan keturunan Bani ‘Adi, suku Quraisy, dari kabilah Kinanah. Nasab Zaid bin al-Khatab bin Nafiel bin Abdul ‘Uzza bin Rayy … •

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Orang-orang yang berdosa telah menyaksikan neraka & mereka yakin akan jatuh ke dalamnya,
dan mereka tidak mendapatkan tempat pengganti yang lain untuk didiami.
QS. Al-Kahf [18]: 53

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki & menyempitkannya,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
QS. Al-Isra’ [17]: 30

Sifat baik tak sama dengan sifat buruk. Balaslah perlakuan tidak baik yang datang dari pihak lawan dengan perlakuaan yang lebih baik.
Perlakuan seperti itu akan membuat orang yang bermusuhan denganmu seolah-olah menjadi seorang teman yang tulus
QS. Fussilat [41]: 34

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil & janganlah kamu sembunyikan yang hak itu,
sedang kamu mengetahui.
QS. Al-Baqarah [2]: 42

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #24

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat … Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah … Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu … dengan … Tata cara membaca Alquran dimulai dengan … Dalam surah Alquran, At-Tin artinya …

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Kamus

Al Ahad

Apa itu Al Ahad? Allah itu Al-Ahad ◀ Seperti yang dikatakan dalam surat Al-Ikhlas ayat 1 yaitu Allah itu Esa. Dia adalah Tuhan satu-satunya, tidak ada yang setara dengan Dia, dan tidak pula memiliki keturunan, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Al Ahad termasuk dalam 99 Asma’ul husna. … • Al-Ahad

Zalim

Apa itu Zalim? Zalim dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil. Etimologi Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dzho lam mim” yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga … • Dzholim, dzolim, dolim

Sa’ad bin Abi Waqqas

Siapa itu Sa’ad bin Abi Waqqas? Sa`ad bin Abī Waqqās merupakan salah seorang yang awal masuk Islam dan salah satu sahabat penting Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keluarga Ia berasal dari klan Bani Zuhrah dari suku Quraisy, dan paman Nabi Muhammad dari garis pihak ibu. Abdurrahman bin Auf, sahabat nabi yang lain, merupakan sepupu. … • Sa’d ibn Abi Waqqas, Sa’ad bin Abi Waqqas

Al Muhaimin

Apa itu Al Muhaimin? Allah itu Al-Muhaimin ◀ Al-Muhaimin memiliki makna Yang Maha Memelihara, Allah adalah Yang Maha Memelihara kehidupan makhluk-makhluk-Nya. Misalnya adalah Allah yang mengatur terjadinya siang dan malam, panas dan hujan, dan sebagainya. &128161; Segala bentuk keseimbangan alam ini sudah diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sedemikian r … • Al-Muhaimin

Heraklius

Siapa itu Heraklius? Heraklius adalah Kaisar Romawi Timur dari tahun 610 sampai tahun 641. Ia adalah kaisar yang menetapkan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi Kekaisaran Romawi Timur. Perjuangannya meraih tampuk kekuasaan bermula pada tahu … • Heraclius, Heraclius I

Asiyah binti Muzahim

Siapa itu Asiyah binti Muzahim? Asiyah , Asiya , terkadang disebut Asiya binti Muzahim , adalah sebutan bagi istri Fir’aun pada zaman Musa dan dipandang sebagai salah satu perempuan terbaik sepanjang masa dalam tradisi Islam. Ayat “Dan Allah membuat perumpaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhank … • Istri Fir’aun, Asiyah, Asiya