Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Salman al-Farisi

Kategori: Sahabat Nabi

Salman al-Farisi (Persia:سلمان فارسی, Arab:سلمان الفارسي) adalah sahabat Nabi[1] Muhammad[2] yang berasal dari Persia.
Dikalangan sahabat lainnya ia dikenal dan dipanggil dengan nama Abu Abdullah.

Biografi
Sebagai seorang Persia ia menganut agama Majusi, tetapi ia tidak merasa nyaman dengan agamanya.
Kemudian muncul pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya.
Suatu ketika ia mencoba memeluk agama Nasrani[3], tetapi ia kecewa.
Karena apa yang dikatakan para pendeta tentang kesederhanaan berbanding terbalik dengan kehidupan para pendeta yang bergelimang harta hasil dari permintaan umat soal penebusan dosa.

Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab dan akhirnya memeluk agama Islam.
Dan sampai mati ia tetap memeluk Islam karena apa yang diucapkan Rosulullah berbanding lurus dengan perbuatan beliau.

Salman al-Farisi pada ia mengawali hidupnya sebagai seorang bangsawan dari Persia, Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah[4] dalam pertempuran khandaq[5].
Setelah meninggalnya Nabi Muhammad[6], ia dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga ia wafat.
Dari Persi datangnya pahlawan kali ini.
Dan dari Persi pula Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu’min yang tidak sedikit jumlahnya, dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang kedalaman ilmu pengetahuan dan ilmuan dan keagamaan, maupun keduniaan.

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, dokter-dokter Islam, ahli-ahli astronomi Islam, ahli-ahli fiqih[7] Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam.
Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama.

Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6], bahkan dia telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui.
Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya.
Salman radhiyallahu ‘anhu sendiri turut menyaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu.
Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq[5], yaitu pada tahun kelima Hijrah[8].

Beberapa orang pemuka Yahudi[9] pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik[10] dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] dan Kaum Muslimin[11], serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.
Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy[12] dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah[4] dari luar, sementara Bani[13] Quraidlah (Yahudi[9]) akan menyerang-nya dari dalam—yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin[11] sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin[11] tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah[4], membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan.
Kaum Muslimin[11] panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu.
Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran[14] sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah.
QS. Al-Ahzab [33]: 10

24.000 orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan[15] dan Uyainah[16] bin Hishn menghampiri kota Madinah[4] dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad[2] shallallahu ‘alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.
Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy[12], tetapi juga dari berbagai kabilah[17] atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka.
Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin[11] menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6]-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah[18].
Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?
Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6].
Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu!’
Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah[4], dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya.

Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.
Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu ‘anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya.
Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini.

Rencana itu berupa penggalian khandaq[5] atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.
Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin[11] dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atas usul Salman radhiyallahu ‘anhu tersebut.
Demi Quraisy[12] menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.
Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka.

Abu Sufyan[15] pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka …
dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit …
Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu ‘anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin[11] yang sibuk menggali tanah.
Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] ikut membawa tembilang dan membelah batu.
Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu ‘anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.
Salman radhiyallahu ‘anhu seorang yang berperawakan kuat dan bertenaga besar.

Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil.
Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.
Salman radhiyallahu ‘anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] pun pergi bersama Salman radhiyallahu ‘anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi.

Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat[1] mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti….
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] lalu membaca basmalah[19] dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu.

Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi.
“Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah[4]”, kata Salman radhiyallahu ‘anhu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] mengucapkan takbir[20], sabdanya: Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi tampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya.
Maka tampaklah seperti semula tadi.
Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] bertakbir sabdanya: Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi[21], dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.
Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin[11].
Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[6] bahwa dia sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar.
Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin[11] pun serentak berseru: Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul[22]-Nya ….
Dan benarlah Allah dan Rasul[22]-Nya.
📗 DEFINISI
1. sahabat Nabi. Sahabat Nabi (أصحاب النبي, aṣḥāb al-nabī‎) adalah orang-orang yang mengenal dan melihat langsung Nabi Muhammad, membantu perjuangannya dan meninggal dalam keadaan Muslim.
Para Sahabat yang utama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Nabi Muhammad, sebab mereka merupakan penolongnya dan juga merupakan murid dan penerusnya.
Bagi dunia Islam saat ini, sahabat Nabi berperan amat penting, yaitu sebagai jembatan penyampaian hadis dan sunnah Nabi Muhammad yang mereka riwayatkan.
Definisi
Kebanyakan ulama secara umum mendefinisikan sahabat Nabi sebagai orang-orang yang mengenal Nabi Muhammad, mempercayai ajarannya, dan meninggal dalam keadaan Islam.

Dalam bukunya “al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah”, Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1449 M) menyampaikan bahwa:

"Sahabat (صحابي, ash-shahabi) adalah orang yang pernah berjumpa dengan Nabi dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan Islam."

Terdapat definisi yang lebih ketat yang menganggap bahwa hanya mereka yang berhubungan erat dengan Nabi Muhammad saja yang layak disebut sebagai sahabat Nabi.

Dalam kitab “Muqadimmah” karya Ibnu ash-Shalah (w. 643 H/1245 M),

Dikatakan kepada Anas,
“Engkau adalah sahabat Rasulullah dan yang paling terakhir yang masih hidup.”

Anas menjawab,
“Kaum Arab (badui) masih tersisa, adapun dari sahabat beliau, maka saya adalah orang yang paling akhir yang masih hidup.”

Demikian pula ulama tabi'in Said bin al-Musayyib (w. 94 H/715 M) berpendapat bahwa:

“Sahabat Nabi adalah mereka yang pernah hidup bersama Nabi setidaknya selama setahun, dan turut serta dalam beberapa peperangan bersamanya.”

Sementara Imam an-Nawawi (w. 676 H /1277 M) juga menyatakan bahwa:

“Beberapa ahli hadis berpendapat kehormatan ini (sebagai Sahabat Nabi) terbatas bagi mereka yang hidup bersamanya (Nabi Muhammad) dalam waktu yang lama, telah menyumbang (harta untuk perjuangannya), dan mereka yang berhijrah (ke Madinah) dan aktif menolongnya; dan bukan mereka yang hanya menjumpainya sewaktu-waktu, misalnya para utusan Arab badui; serta bukan mereka yang bersama dengannya setelah Pembebasan Mekkah, ketika Islam telah menjadi kuat.”
2. Muhammad. Surah Muhammad (محمّد‎) adalah surah ke-47 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 38 ayat. Nama Muhammad sebagai nama surah ini diambil dari perkataan Muhammad yang terdapat pada ayat 2 surah ini. Pada ayat 1, 2 dan 3 surah ini, Allah membandingkan antara hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya.

Orang-orang yang percaya kepada apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ merekalah orang-orang yang beriman dan mengikuti yang hak, diterima Allah semua amalnya, diampuni segala kesalahannya. Adapun orang-orang yang tidak percaya kepada Muhammad ﷺ adalah orang-orang yang mengikuti kebatilan, amalnya tidak diterima, dosa mereka tidak diampuni, kepada mereka dijanjikan azab di dunia dan di akhirat. Surah ini dinamakan juga dengan Al-Qital yang berarti Peperangan, karena sebagian besar surah ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagaimana seharusnya sikap orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir.
Nomor Surah 47
Nama Surah Muhammad
Arab محمد
Arti Nabi Muhammad
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 95
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 38
Jumlah kata 542
Jumlah huruf 2424
Surah sebelumnya Surah Al-Ahqaf
Surah selanjutnya Surah Al-Fath

Ayat-ayat dalam Surah Muhammad (38 ayat)


3. Nasrani. Nashrani (نصراني) - Istilah dalam Al-Qur'an yang merujuk kepada Umat Nabi Isa, bentuk jamaknya adalah Nashara (نصارى).
4. Madinah. Madinah (/məˈdiːnə/; المدينة المنورة‎, al-Madīnah al-Munawwarah,
"kota yang bercahaya"; atau المدينة, al-Madīnah (pengucapan Hejazi: [almaˈdiːna]),"kota"), adalah sebuah kota di Hejaz, sekaligus ibu kota dari Provinsi Madinah di Arab Saudi.
Dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi ("Masjid Nabi"), tempat dimakamkannya Nabi Islam Muhammad, dan kota ini juga merupakan kota paling suci kedua kedalam agama Islam setelah Mekkah.

Madinah adalah tujuan Nabi Muhammad untuk melakukan Hijrah dari Mekkah, dan secara berangsur-angsur berubah menjadi ibu kota Kekaisaran Muslim, dengan pemimpin pertama langusung oleh Nabi Muhammad, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali.
Kota ini menjadi pusat kekuatan Islam dalam abad-abad komunitas Muslim mulai berkembang.

Madinah adalah tempat bagi tiga masjid tertua yang pernah dibangun, yaitu Masjid Quba, Masjid Nabawi, dan Masjid Qiblatain ("masjid dua kiblat").
Umat Muslim percaya bahwa penyelesaian dari serangkaian penurunan surah alquran diterima Nabi Muhammad di Madinah, yang dikenal sebagai surah Madaniyah yang tampak perbedaannya dengan surah Makkiyyah .
Seperti kota Mekkah, non-Muslim tidak diperkenankan memasuki wilayah suci Madinah (tetapi tidak masuk ke bagian pusat kota) berdasarkan aturan Pemerintah Arab Saudi.
5. Perang Khandaq ( khandaq ) Sejarah Perang Khandaq.
Pertempuran Khandaq (غزوة الخندق) juga dikenal sebagai Pertempuran Al-Ahzab, Pertempuran Konfederasi, dan Pengepungan Madinah terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi.

Perang khandaq adalah pengepungan Madinah yang dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy makkah dan yahudi bani Nadir (al-ahzaab).
Pengepungan Medinah dimulai pada 31 Maret, 627 dan berakhir setelah 27 hari.


• Perang khandaq disebut juga perang Al-Ahzab,
• Nama lain perang khandaq yaitu perang Al-Ahzab,
• Perang khandaq terjadi pada tahun 627 Masehi.

Sebab-Sebab Perang Khandaq
Orang-Orang Yahudi yang diusir lalu ditempatkan di Khaibar, sebuah wilayah di luar Kota Madinah.
Hal itu membuat mereka kecewa dan marah.

Mereka terdiri atas duasuku utama, yaitu Bani Nadhir dan Bani Wail.

Etimologi
Pertempuran ini dinamai Pertempuran Khandaq (الخندق) karena parit yang digali oleh umat Islam dalam persiapan untuk pertempuran.

Kalimat Khandaq kata adalah bentuk bahasa Arab dari bahasa Persia "kandak" (yang berarti "Itu yang telah digali").

Kisah perang khandaq

Pertempuran khandaq juga disebut sebagai Pertempuran Konfederasi ( غزوة الاحزاب).

Al-Qur'an menggunakan istilah sekutu (الاحزاب) dalam surah Al-Ahzab [Quran 33:9-32] untuk menunjukkan konfederasi Arab pagan dan Arab Yahudi terhadap Islam.

Pertempuran
Pengepungan adalah "pertempuran kecerdasan", di mana para ahlik taktik Muslim mengatasi lawan-lawan mereka, sementara jatuh korban sangatlah sedikit.

Upaya konfederasi untuk mengalahkan kaum Muslim gagal, dan kekuatan Islam menjadi berpengaruh di wilayah tersebut.
Akibatnya, tentara Muslim mengepung sekitar Banu Qurayza, yang mengarah ke penyerahan tanpa syarat mereka.

Kekalahan itu menyebabkan Mekah kehilangan perdagangan mereka dan sebagian besar adalah kehormatan harga diri mereka.

Untuk melindungi Madinah dari serangan gabungan, maka dibuatlah parit sebagai strategi berperang untuk menghindari serbuan langsung dari pasukan Al-Ahzab Quraisy dan bani Nadir.

Strategi pembuatan parit di sela sela daerah yang tidak terlindungi oleh pegunungan sebagai tempat perlindungan adalah strategi dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Salman al-Farisi yang berasal dari Persia, sehingga perang ini disebut dengan pertempuran parit/khandaq.

Sejatinya strategi ini berasal dari Persia, yang dilakukan apabila mereka terkepung atau takut dengan keberadaan pasukan berkuda.

Lalu digalilah parit di bagian utara Madinah selama sembilan/sepuluh hari.
Pasukan gabungan datang dengan kekuatan 10.000 pasukan yang siap berperang.
Pasukan gabungan membuat kemah di bagian utara Madinah, karena di tempat itu adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan perang.

Pada Pertempuran Khandaq, terjadi pengkhianatan dari kaum Yahudi Bani Qurayzhah atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya untuk mempertahankan kota Madinah, tetapi bani Quraizhah mengkhianati perjanjian itu.

Hikmah perang khandaq

Setelah terjadi pengepungan selama satu bulan penuh Nua'im bin Mas'ud al-Asyja'i yang telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan pasukan gabungan dengan keahliannya memecah belah pasukan gabungan.

Lalu Allah Subhanahu Wa Ta`ala mengirimkan angin yang memporakporandakan kemah pasukan gabungan, memecahkan periuk-periuk mereka, dan memadamkan api mereka.
Hingga akhirnya pasukan gabungan kembali ke rumah mereka dengan kegagalan menaklukan kota Madinah.

Setelah peperangan itu, Rasulullah dan para sahabat berangkat menuju kediaman bani quraizah untuk mengadili mereka.

Konfederasi
Awal tahun 627, orang-orang Yahudi dari Bani Nadir bertemu dengan Quraisy Mekah Arab.

Huyayy bin Akhtab, bersama dengan para pemimpin lainnya dari Khaybar, melakukan perjalanan untuk sumpah setia dengan Safwan di Mekah.
Sebagian besar tentara Konfederasi dikumpulkan oleh pagan Quraish Mekah, yang dipimpin oleh Abu Sufyan, yang menerjunkan 4.000 prajurit, 300 penunggang kuda, dan 1.000-1.500 orang pada unta.

Bani Nadir mulai meriahkan para perantau dari Najd.
Mereka meminta Bani Ghatafan dengan membayar setengah dari hasil panen mereka.
Rombongan kedua terbesar ini, menambahkan kekuatan sekitar 2.000 300 laki-laki berkuda yang dipimpin oleh Unaina bin Hasan Fazari.

Bani Asad juga setuju untuk bergabung dengan mereka yang dipimpin oleh Thulaihah al-Asadi..
Dari Bani Sulaim, Nadir dijamin 700 pria, meskipun akan jauh lebih besar memiliki beberapa pemimpinnya tidak bersikap simpatik terhadap Islam.
Para Bani Amir, yang memiliki perjanjian dengan Muhammad, menolak untuk bergabung .

Suku-suku lain termasuk Bani Murrah dengan 400 orang dipimpin oleh Hars bin Auf Murri dari Bani Shuja dengan 700 laki-laki dipimpin oleh Sufyan bin Abd Syams.
Secara total, kekuatan tentara Konfederasi, meskipun tidak disepakati oleh ulama, diperkirakan sekitar 10.000 laki-laki dengan enam ratus kuda.
Pada akhir Maret 627 tentara yang dipimpin oleh Abu Sufyan berbaris menuju Madinah .
۞ Variasi nama:
Salman Farsi, Salman Al-Farisi, Salman Al Farisi, Salman
Biodata Salman Farsi
Nama Salman Farsi ( سلمان أبو عبد الله الفارسي ( رضي الله عنه
Level Sahabat Nabi[1] (radhiyallahu anhu) [Generasi ke-1]
Tempat / Thn Lahir (Kazerun, Iran)
Tempat Menetap Asbahan, Jia, Madina[2], Fars, Kufa
Tempat / Thn Wafat (al-Mada'in,Iraq), Tahun 36 Hijriyah
Penyebab kematian Natural
Kegemaran Recitation/Quran, Narrator [ ع - صحابة ], Fiqh, Science, Governor
Guru Nabi Muhammad ﷺ[3],
Murid Anas bin Malik[4],
Ka'b bin 'Ajra al-Salmi,
al-Ansari,
ibn Abbas[5],
Abu Sa'id al-Khudri,
Abu al-Tufayl,
'Amir bin Wathla,
Umm al-Darda'a,
Abu 'Uthman al-Nahdi,
Zadhan Abu 'Umar[6],
Sa'id bin Wahb al-Hmdany,
Tariq bin Shahab,
'Abdur Rahman bin Yazid al-Nakha'i,
Shar bin Hushab al-Asha'ri
Orang tua Budhakshan bin Mursalan
📗 DEFINISI
1. Sahabat Nabi. Sahabat Nabi (أصحاب النبي, aṣḥāb al-nabī‎) adalah orang-orang yang mengenal dan melihat langsung Nabi Muhammad, membantu perjuangannya dan meninggal dalam keadaan Muslim.
Para Sahabat yang utama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Nabi Muhammad, sebab mereka merupakan penolongnya dan juga merupakan murid dan penerusnya.
Bagi dunia Islam saat ini, sahabat Nabi berperan amat penting, yaitu sebagai jembatan penyampaian hadis dan sunnah Nabi Muhammad yang mereka riwayatkan.
Definisi
Kebanyakan ulama secara umum mendefinisikan sahabat Nabi sebagai orang-orang yang mengenal Nabi Muhammad, mempercayai ajarannya, dan meninggal dalam keadaan Islam.

Dalam bukunya “al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah”, Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1449 M) menyampaikan bahwa:

"Sahabat (صحابي, ash-shahabi) adalah orang yang pernah berjumpa dengan Nabi dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan Islam."

Terdapat definisi yang lebih ketat yang menganggap bahwa hanya mereka yang berhubungan erat dengan Nabi Muhammad saja yang layak disebut sebagai sahabat Nabi.

Dalam kitab “Muqadimmah” karya Ibnu ash-Shalah (w. 643 H/1245 M),

Dikatakan kepada Anas,
“Engkau adalah sahabat Rasulullah dan yang paling terakhir yang masih hidup.”

Anas menjawab,
“Kaum Arab (badui) masih tersisa, adapun dari sahabat beliau, maka saya adalah orang yang paling akhir yang masih hidup.”

Demikian pula ulama tabi'in Said bin al-Musayyib (w. 94 H/715 M) berpendapat bahwa:

“Sahabat Nabi adalah mereka yang pernah hidup bersama Nabi setidaknya selama setahun, dan turut serta dalam beberapa peperangan bersamanya.”

Sementara Imam an-Nawawi (w. 676 H /1277 M) juga menyatakan bahwa:

“Beberapa ahli hadis berpendapat kehormatan ini (sebagai Sahabat Nabi) terbatas bagi mereka yang hidup bersamanya (Nabi Muhammad) dalam waktu yang lama, telah menyumbang (harta untuk perjuangannya), dan mereka yang berhijrah (ke Madinah) dan aktif menolongnya; dan bukan mereka yang hanya menjumpainya sewaktu-waktu, misalnya para utusan Arab badui; serta bukan mereka yang bersama dengannya setelah Pembebasan Mekkah, ketika Islam telah menjadi kuat.”
2. Madinah ( Madina ) Madinah (/məˈdiːnə/; المدينة المنورة‎, al-Madīnah al-Munawwarah,
"kota yang bercahaya"; atau المدينة, al-Madīnah (pengucapan Hejazi: [almaˈdiːna]),"kota"), adalah sebuah kota di Hejaz, sekaligus ibu kota dari Provinsi Madinah di Arab Saudi.
Dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi ("Masjid Nabi"), tempat dimakamkannya Nabi Islam Muhammad, dan kota ini juga merupakan kota paling suci kedua kedalam agama Islam setelah Mekkah.

Madinah adalah tujuan Nabi Muhammad untuk melakukan Hijrah dari Mekkah, dan secara berangsur-angsur berubah menjadi ibu kota Kekaisaran Muslim, dengan pemimpin pertama langusung oleh Nabi Muhammad, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali.
Kota ini menjadi pusat kekuatan Islam dalam abad-abad komunitas Muslim mulai berkembang.

Madinah adalah tempat bagi tiga masjid tertua yang pernah dibangun, yaitu Masjid Quba, Masjid Nabawi, dan Masjid Qiblatain ("masjid dua kiblat").
Umat Muslim percaya bahwa penyelesaian dari serangkaian penurunan surah alquran diterima Nabi Muhammad di Madinah, yang dikenal sebagai surah Madaniyah yang tampak perbedaannya dengan surah Makkiyyah .
Seperti kota Mekkah, non-Muslim tidak diperkenankan memasuki wilayah suci Madinah (tetapi tidak masuk ke bagian pusat kota) berdasarkan aturan Pemerintah Arab Saudi.
3. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ( Nabi Muhammad ﷺ ) Nabi Muhammad (محمد‎) lahir di Mekkah, 570 M – meninggal di Madinah, 8 Juni 632 M) adalah seorang nabi dan rasul terakhir bagi umat Muslim.
Nabi Muhammad memulai penyebaran ajaran Islam untuk seluruh umat manusia dan mewariskan pemerintahan tunggal Islam.

Nabi Muhammad sama-sama menegakkan ajaran tauhid untuk mengesakan Allah sebagaimana yang dibawa nabi dan rasul sebelumnya.

Lahir pada tahun 570 M di Mekkah, ayahnya bernama Abdullah dan Ibunya bernama Aminah.
Ayah Muhammad meninggal dunia ketika Muhammad berusia 2 bulan dalam perut ibunya, dan ibunya meninggal dunia ketika Muhammad berusia 6 tahun.

Setelah yatim piatu, Muhammad dibesarkan di bawah asuhan kakeknya Abdul Muthalib sampai berusia 8 tahun, kemudian Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib selama hampir 40 tahun.
Perjalanan niaga pertama Muhammad dilakukan menuju Syam bersama pamannya Abu Thalib, ketika Muhammad berusia 12 tahun.

Pada perjalanan ini Abu Thalib diberitahu oleh Rahib Bahira bahwa Muhammad adalah calon nabi yang dijanjikan.
Beranjak remaja, Muhammad bekerja sebagai pedagang.

Muhammad kadang-kadang mengasingkan diri ke gua sebuah bukit hingga bermalam-malam untuk merenung dan berdoa.
Diriwayatkan dalam usia ke-40, Muhammad didatangi Malaikat Jibril dan menerima wahyu pertama dari Allah.

Tiga tahun setelah wahyu pertama, Muhammad mulai berdakwah secara terbuka, menyatakan keesaan Allah dalam bentuk penyerahan diri melalui Islam sebagai agama yang benar dan meninggalkan sesembahan selain Allah.
Muhammad menerima wahyu berangsur-angsur hingga kematiannya.

Praktik atau amalan Muhammad diriwayatkan dalam hadis, dirujuk oleh umat Islam sebagai sumber hukum Islam bersama Al-Quran.
Muhammad bersama pengikut awal mendapati berbagai bentuk perlawanan dan penyiksaan dari beberapa suku Mekkah.

Seiring penganiayaan yang terus berlanjut, Muhammad membenarkan beberapa pengikutnya hijrah ke Habsyah, sebelum Muhammad memulai misi hijrah ke Madinah pada tahun 622. Peristiwa hijrah menandai awal penanggalan Kalender Hijriah dalam Islam.

Di Madinah, Muhammad menyatukan suku-suku di bawah Piagam Madinah.
Setelah delapan tahun bertahan atas serangan suku-suku Mekkah, Muhammad mengumpulkan 10.000 Muslim untuk mengepung Mekkah.
Serangan tidak mendapat perlawanan berarti dan Muhammad berhasil mengambil alih kota dengan sedikit pertumpahan darah.

Pada tahun 632, beberapa bulan setelah kembali ke Madinah usai menjalani Haji Wada, Muhammad jatuh sakit dan hingga akhirnya wafat.

Muhammad meninggalkan Semenanjung Arab yang telah bersatu dalam pemerintahan tunggal Islam dan sebagian besar telah menerima Islam.
Etimologi

"Muhammad" ( محمد بن عبد الله; diucapkan [mʊħɑmmæd] ) secara bahasa berasal dari akar kata semitik 'H-M-D' yang dalam bahasa Arab berarti
"dia yang terpuji".

Selain itu, dalam salah satu ayat Al-Qur'an, Muhammad dipanggil dengan nama "Ahmad" (أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti "terpuji".

Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapatkan dua gelar dari suku Quraisy (suku terbesar di Mekkah yang juga suku dari Muhammad) yaitu Al-Amiin yang artinya
"orang yang dapat dipercaya"
dan As-Saadiq yang artinya
"yang benar".

Setelah masa kenabian para sahabatnya memanggilnya dengan gelar Rasul Allāh (رسول الله), kemudian menambahkan kalimat Shalallaahu 'Alayhi Wasallam (صلى الله عليه و سلم, yang berarti
"semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya";
sering disingkat "S.A.W" atau "SAW") setelah namanya.

Muhammad juga mendapatkan julukan Abu al-Qasim yang berarti
"bapak Qasim",
karena Muhammad pernah memiliki anak lelaki yang bernama Qasim, tetapi ia meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa.

Genealogi

Silsilah keluarga Muhammad

Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.
Silsilah sampai Adnan disepakati oleh para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat.

Adnan secara umum diyakini adalah keturunan dari Ismail bin Ibrahim, yang selanjutnya adalah keturunan Sam bin Nuh.

Walaupun demikian, terdapat sejarawan yang menyusun silsilah yang lebih jauh lagi.
Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani, di salah satu riwayatnya menyebutkan silsilah hingga Adam.

Silsilah tersebut adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarih (Azar) bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamikh bin Mutusyalikh bin Akhnukh bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam.


Referensi: Wikipedia

4. Anas bin Malik. Anas bin Malik bin Nadar al-Khazraj (العربية) - lahir: 612-wafat:709/712) - adalah Sahabat Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam.

Biografi
Anas bin Malik berasal dari Bani an-Najjar dan merupakan anak dari Ummu Sulaim.


Sejak kecil Dia melayani keperluan Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam, sehingga selalu bersama Rasulullah.
Dengan selalu bersama Rasulullah, Dia menghafal banyak hadist.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Anas bin Malik pergi dan menetap di Damaskus dan kemudian ke Basrah.
Ia mengikuti sejumlah pertempuran dalam membela Islam.
Ia dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam yang berumur paling panjang.
Anas bin Malik adalah sahabat yang terakhir meninggal di basrah dan sahabat yang terakhir meninggal adalah Amir At'tufairi.

Anas bin Malik berkhidmat dengan nabi semasa dia masih kecil, dia berkhidmat dengan Nabi selama 10 tahun.
Nabi juga selalu mendampingi Anas bin Malik untuk memberi petunjuk ajar pada Anas, ketika hendak memulai makan, nabi perintahkan anas supaya membaca do'a dan mengambil makanan yang berada di hadapan dahulu.
Begitu sikap nabi mengajar Anas bin Malik.
Hebatnya para sahabat dahulu kala.

Sahabat Anas bin Malik Al Anshary Radiyallahu Anhu
“Ya Allah berilah dia harta dan anak yang banyak, dan berkahilah umurnya”
(Dari doanya Rasulullah kepadanya) Anas bin Malik dalam umurnya yang sangat dini, ketika ibunya yang bernama Humasha, menalkinkan dua kalimat Syahadat kepadanya, maka timbullah benih cinta kepada Sang Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam.

Dengan itu pula timbullah kerinduan Anas untuk mendengarkan cerita-cerita Nabinya, sehingga telinganya telah merindukan Sang Nabi sebelum mata melihatnya, selain Anas banyak anak-anak kecil yang merindukan Nabi walaupun Sang Nabi berada di Mekkah sedangkan mereka berada di Madinah, mereka semua rindu agar bisa menjadi orang yang beruntung dapat melihat sang nabi pujaan dan gembira bisa bertemu dengannya.

PERJUMPAAN DENGAN RASULULLAH
Tidak berlangsung lama, Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam menempuh perjalanan menuju kota Madinah dengan sahabatnya Abu Bakar As-Siddiq radiyallahu anhu untuk berhijrah.
Maka setiap rumah yang ada di Madinah menjadi bercahaya, dipenuhi dengan hati yang gembira, setiap pandangan dan hati mereka bersambung dengan jalan yang akan dilalui Rasulullah dan sahabatnya menuju kota Madinah.

Para sahabat setiap hari di penghujung kota Madinah menanti-nanti kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anak-anak kecilpun termasuk Anas bin Malik ikut pula menanti bersama para sahabat.
Akan tetapi Sang Nabi tak kunjung datang.

MENJADI PELAYAN RASULULLAH
Di pagi yang cerah dan mentari yang bersinar indah seorang laki-laki berteriak dengan kencang:

“Sesungguhnya Nabi Muhammad dan sahabatnya sudah dekat dengan kota Madinah”.

Maka semua laki-laki berbondong-bondong menuju gerbang kota Madinah yang akan dilalui oleh Sang Nabi pembawa hidayah dan Kebenaran.
Maka mereka para penduduk kota Madinah baik orang tua ataupun pemuda dan anak-anak kecil, berlomba-lomba untuk menyambut Sang Nabi, wajah mereka berseri-seri, hati mereka berbunga-bunga, dan salah satu yang paling bercahaya wajahnya dan yang paling gembira hatinya adalah Anas bin Malik.

Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq disambut oleh jamaah laki-laki dan anak-anak kota Madinah.

Adapun golongan perempuan dan anak-anak perempuan menyambut Rasulullah di atas rumah-rumah mereka, mereka memandangi Rasulullah dari tempat-tempat yang jauh dengan mengatakan:
“Apakah dia…? Apakah dia..?”
maka hari itu pun menjadi momen yang tak terlupakan.

Anas bin Malik pun selalu menyebut kejadian itu walaupun umurnya lebih dari seratus tahun.
Belum sehari Rasulullah menetap di kota madinah, Humaisha’ binti Milhan ibunda Anas bin Malik bersama putra tercinta yang masih kecil yang berjalan didepannya dengan meloncat-meloncat kegirangan, dan kuncirnya bergoyang kekanan dan kekiri, kemudian ibunda Anas mengucapkan salam kepada Sang Nabi dan berkata:

“Ya Rasulullah, tidak ada laki-laki atau perempuan dari golongan Anshor kecuali telah memberimu hadiah, akan tetapi aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kuhadiahkan kepadamu kecuali putraku ini, maka ambillah ia, jadikanlah ia pembantumu”.

Maka nabipun senang, dan menerima Anas dengan wajah yang berseri-seri.
Kemudian Rasulullah mengusap kepala Anas bin Malik dengan tangannya yang mulia dan memegang kuncirnya dengan jari-jarinya yang lembut.
Dan membawa Anas kekeluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anas bin Malik atau Uneis (panggilan Rasulullah kepada Anas).

Dalam usianya yang ke sepuluh adalah hari-hari yang sangat membahagiakannya, ketika menjadi pembantu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia hidup di dalam pendidikan dan penjagaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai beliau meninggal, dan masa-masa itu berlangsung selama sepuluh tahun tepat, jiwanya pun penuh dengan hidayah, hatinya penuh dengan hadits–hadits Nabi sehingga ia menjadi orang yang lebih tahu tentang keadaan Nabi, rahasia, sifat-sifat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak diketahui orang lain kecuali dirinya.

KENANGAN MANIS BERSAMA RASULULLAH
Annas bin Malik telah melihat dari pergaulan Nabi yang sangat mulia yang tidak bisa didapatkan dari seorangpun.
Dan merasakan indahnya perangai Nabi, dan agungnya sifat-sifat Nabi.
Yang membuat iri semua orang didunia, maka aku kisahkan tentang Anas bin Malik sebuah hadits yang sangat jelas.

Anas bin Malik berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bagus akhlaqnya, yang paling lapang dadanya, dan yang paling dermawan.
Maka suatu hari Beliau mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku keluar dan aku menuju anak-anak kecil yang sedang main di pasar untuk bermain bersama mereka dan akupun keluar tidak untuk menunaikan hajatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika aku sedang bermain bersama mereka tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangku dan memegang bajuku, kemudian aku memalingkan wajahku untuk melihatnya.

Seketika aku dapati Rasulullah tersenyum manis kepadaku dan berkata:

“Wahai Unais apakah engkau sudah mengerjakan suatu keperluan yang telah aku perintahkan kepadamu?”
Maka aku pun berlari dan berkata:

“Ya, aku akan kerjakan sekarang wahai Rasulullah”.
Demi Allah sungguh aku telah menjadi pembantu Rasulallah selama sepuluh tahun dan Beliau pun tidak pernah mengatakan untuk sesuatu yang aku kerjakan:

“Mengapa Engkau kerjakan!”
dan untuk yang aku tinggalkan:
“Mengapa Engkau tinggalkan?”

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memanggil Anas, memanggilnya dengan panggilan Unais, yaitu dengan panggilan yang penuh dengan kasih sayang.
Terkadang Beliau juga memanggilnya dengan panggilan wahai Anakku, panggilan yang penuh dengan keakrapan.
Dan Rasulullah memenuhi hatinya dengan nasihat-nasihat dan ucapan-ucapan hikmah yang mulia, diantaranya:

“Wahai Anakku, apabila Engkau mampu untuk melewati hari-harimu dengan hati yang tidak ada kedengkian, maka kerjakanlah, wahai anakku sesungguhnya semua itu adalah sunahku dan barang siapa menghidupkan satu dari sunahku maka sungguh ia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku maka ia bersamaku di surga.

Wahai anakku, apabila Engkau ingin masuk kepada keluagamu, maka ucapkan salam kepada mereka, yang akan menjadikan keberkahan untukmu dan keluargamu.
Setelah wafatnya Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik hidup selama 80 tahun lebih, hatinya pun penuh dengan ilmu dari ilmunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan akalnya pun begitu tajam, untuk memahami Syariat-syariat Islam.

Hatinya pun hidup dengan hidayah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan Anas dalam umurnya yang sangat panjang ini Beliau adalah tempat kembalinya orang-orang muslimin, ketika mereka mendapatkan suatu masalah-masalah yang rumit dan merekapun memegang ucapan-ucapan yang keluar dari Anas bin Malik diantaranya adalah bahwa sebagian orang yang ragu dalam syariat agama, mereka menanyakan tetang keberadaan telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besok pada hari Qiyamat.

Kemudian mereka mendatangi Anas bin Malik dan menanyakan hal tersebut kepadanya, maka Anas bin Malik menjawab:

“Aku tidak menyangka dalam hidupku yang panjang ini akan menemui orang-orang yang seperti kalian yang meragukan telaganya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah akan datang orang yang lemah agamanya setelahku, dan mereka tidak melaksanakan shalat akan tetapi mereka meminta kepada Allah agar bisa minum dari telaganya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hidupnya yang sangat panjang Anas bin Malik selalu menggerakkan bibirnya untuk menyebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hari yang sangat menggembirakannya adalah hari pertemuannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hari yang menyedihkan baginya adalah hari perpisahannya dengan Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kenangan itu selalu ia sebut-sebut dengan bibirnya yang mulia.
Anas bin Malik adalah seorang yang bersemangat untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ucapan maupun perilakunya, mencintai apa yang dicintai Rasulullah, membenci apa yang dibenci Rasulullah, dan hari yang sangat berkesan dalam hidupnya adalah 2 hari, yaitu hari ketika bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hari ketika berpisah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika ia mengingat hari yang pertama mukanya kelihatan berseri-seri, senang, bahagia dan sebaliknya apabila ia mengingat hari yang ke 2 ia akan menangis tersedu-sedu, sehingga orang yang disekitarnya pun ikut menangis.

Kata-kata yang selalu ia ucapkan adalah:

“Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika datang kepada kami di kota Madinah, dan sungguh aku telah melihat Beliau, ketika beliau wafat di antara kita maka tidak ada hari yang lebih berharga dari pada keduanya.
Dihari pertama ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota madinah segala sesuatu tampak bercahaya, dan dihari ketika Rasulullah meninggal segala sesuatupun tampak gelap gulita.

Dan hari terakhir ketika aku melihatnya adalah hari senin, ketika Sang Nabi membuka tirai kamarnya, maka aku melihat wajahnya putih bersih seperti lembaran kertas.

Dan diwaktu itu semua orang berdiri di belakang Abu Bakar untuk melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hampir semua orang terkejut, ketakutan, maka Abu Bakar memberikan isyarat kepada mereka untuk bersabar dan tenang, kemudian meninggallah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di penghujung hari Senin tersebut.
Maka tidak ada pemandangan yang menyedihkan ketika kita menutupnya dengan tanah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mendoakan Anas bin Malik, dan salah satu doa Rasulullah yang dikhususkan kepada Anas bin Malik adalah:

“Ya Allah berilah rizqi kepadanya berupa harta dan anak yang banyak, kemudian berkahi semua itu untuknya”.
Dan sungguh Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mengabulkan doa Nabi Nya yang tercinta.
Oleh karena itu Anas bin Malik menjadi orang yang paling kaya dari kaum Anshor dan yang paling banyak anaknya, hingga dia melihat anak-anak dan cucunya lebih dari 100.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberkahi umurnya sehingga ia hidup dalam 1 kurun penuh dan lebih 3 tahun.

Anas bin Malik RA adalah orang yang sangat mengharapkan Syafaat Rasulullah besok pada hari Qiyamat, dia selalu mengatakan:

“Sesungguhnya aku ingin bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besok pada hari Qiyamat, dan aku akan mengatakan kepadanya,
“Wahai Rasulallah ini adalah pembantu kecilmu Unais”.
Dan ketika Anas bin Malik sakit dipenghujung usianya beliau berkata kepada keluarganya:

“Talkinkan aku 2 kalimat Syahadat, Laa Ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah”.

Setelah Anas bin Malik mengikuti dua kalimat Syahadat tersebut Beliau meninggal dengan bahagia.
Dan beliau mewasiatkan agar ia di kubur dengan tongkat kecil yang dihadiahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, dan diletakkan disebelah sisi bersama gamis yang ia kenakan.

Sungguh beruntung Anas bin Malik atas karunia Allah yang diberikan kepadanya, karena ia bisa mendampingi Rasulullah selama 10 tahun penuh, dan dia adalah 3 diantara periwayat hadits terbanyak setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar.
Semoga Allah memberikan pahala kepadanya dan kepada ibunya dengan sebaik-baiknya pahala.
5. Ibnu Abbas ( ibn Abbas ) Abdullah bin Abbas (عبد الله بن عباس, kr. 619 - Thaif, kr. 687 (78 H)) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad sekaligus saudara sepupunya.

Nama Ibnu Abbas (ابن عباس) juga digunakan untuknya untuk membedakannya dari Abdullah yang lain.

Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta dia juga menurunkan seluruh Khalifah dari Bani Abbasiyah.

Lahir: 619
Wafat: 687
Usia Wafat: 68

Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA

Video


Load More
📗 DEFINISI
1. Sahabat Nabi. Sahabat Nabi (أصحاب النبي, aṣḥāb al-nabī‎) adalah orang-orang yang mengenal dan melihat langsung Nabi Muhammad, membantu perjuangannya dan meninggal dalam keadaan Muslim.
Para Sahabat yang utama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Nabi Muhammad, sebab mereka merupakan penolongnya dan juga merupakan murid dan penerusnya.
Bagi dunia Islam saat ini, sahabat Nabi berperan amat penting, yaitu sebagai jembatan penyampaian hadis dan sunnah Nabi Muhammad yang mereka riwayatkan.
Definisi
Kebanyakan ulama secara umum mendefinisikan sahabat Nabi sebagai orang-orang yang mengenal Nabi Muhammad, mempercayai ajarannya, dan meninggal dalam keadaan Islam.

Dalam bukunya “al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah”, Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1449 M) menyampaikan bahwa:

“Sahabat (صحابي, ash-shahabi) adalah orang yang pernah berjumpa dengan Nabi dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan Islam.”

Terdapat definisi yang lebih ketat yang menganggap bahwa hanya mereka yang berhubungan erat dengan Nabi Muhammad saja yang layak disebut sebagai sahabat Nabi.

Dalam kitab “Muqadimmah” karya Ibnu ash-Shalah (w. 643 H/1245 M),

Dikatakan kepada Anas,
“Engkau adalah sahabat Rasulullah dan yang paling terakhir yang masih hidup.”

Anas menjawab,
“Kaum Arab (badui) masih tersisa, adapun dari sahabat beliau, maka saya adalah orang yang paling akhir yang masih hidup.”

Demikian pula ulama tabi’in Said bin al-Musayyib (w. 94 H/715 M) berpendapat bahwa:

“Sahabat Nabi adalah mereka yang pernah hidup bersama Nabi setidaknya selama setahun, dan turut serta dalam beberapa peperangan bersamanya.”

Sementara Imam an-Nawawi (w. 676 H /1277 M) juga menyatakan bahwa:

“Beberapa ahli hadis berpendapat kehormatan ini (sebagai Sahabat Nabi) terbatas bagi mereka yang hidup bersamanya (Nabi Muhammad) dalam waktu yang lama, telah menyumbang (harta untuk perjuangannya), dan mereka yang berhijrah (ke Madinah) dan aktif menolongnya; dan bukan mereka yang hanya menjumpainya sewaktu-waktu, misalnya para utusan Arab badui; serta bukan mereka yang bersama dengannya setelah Pembebasan Mekkah, ketika Islam telah menjadi kuat.”
2. Madinah ( Madina ) Madinah (/məˈdiːnə/; المدينة المنورة‎, al-Madīnah al-Munawwarah,
“kota yang bercahaya”; atau المدينة, al-Madīnah (pengucapan Hejazi: [almaˈdiːna]),”kota”), adalah sebuah kota di Hejaz, sekaligus ibu kota dari Provinsi Madinah di Arab Saudi.
Dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi (“Masjid Nabi”), tempat dimakamkannya Nabi Islam Muhammad, dan kota ini juga merupakan kota paling suci kedua kedalam agama Islam setelah Mekkah.

Madinah adalah tujuan Nabi Muhammad untuk melakukan Hijrah dari Mekkah, dan secara berangsur-angsur berubah menjadi ibu kota Kekaisaran Muslim, dengan pemimpin pertama langusung oleh Nabi Muhammad, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali.
Kota ini menjadi pusat kekuatan Islam dalam abad-abad komunitas Muslim mulai berkembang.

Madinah adalah tempat bagi tiga masjid tertua yang pernah dibangun, yaitu Masjid Quba, Masjid Nabawi, dan Masjid Qiblatain (“masjid dua kiblat”).
Umat Muslim percaya bahwa penyelesaian dari serangkaian penurunan surah alquran diterima Nabi Muhammad di Madinah, yang dikenal sebagai surah Madaniyah yang tampak perbedaannya dengan surah Makkiyyah .
Seperti kota Mekkah, non-Muslim tidak diperkenankan memasuki wilayah suci Madinah (tetapi tidak masuk ke bagian pusat kota) berdasarkan aturan Pemerintah Arab Saudi.
3. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ( Nabi Muhammad ﷺ ) Nabi Muhammad (محمد‎) lahir di Mekkah, 570 M – meninggal di Madinah, 8 Juni 632 M) adalah seorang nabi dan rasul terakhir bagi umat Muslim.
Nabi Muhammad memulai penyebaran ajaran Islam untuk seluruh umat manusia dan mewariskan pemerintahan tunggal Islam.

Nabi Muhammad sama-sama menegakkan ajaran tauhid untuk mengesakan Allah sebagaimana yang dibawa nabi dan rasul sebelumnya.

Lahir pada tahun 570 M di Mekkah, ayahnya bernama Abdullah dan Ibunya bernama Aminah.
Ayah Muhammad meninggal dunia ketika Muhammad berusia 2 bulan dalam perut ibunya, dan ibunya meninggal dunia ketika Muhammad berusia 6 tahun.

Setelah yatim piatu, Muhammad dibesarkan di bawah asuhan kakeknya Abdul Muthalib sampai berusia 8 tahun, kemudian Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib selama hampir 40 tahun.
Perjalanan niaga pertama Muhammad dilakukan menuju Syam bersama pamannya Abu Thalib, ketika Muhammad berusia 12 tahun.

Pada perjalanan ini Abu Thalib diberitahu oleh Rahib Bahira bahwa Muhammad adalah calon nabi yang dijanjikan.
Beranjak remaja, Muhammad bekerja sebagai pedagang.

Muhammad kadang-kadang mengasingkan diri ke gua sebuah bukit hingga bermalam-malam untuk merenung dan berdoa.
Diriwayatkan dalam usia ke-40, Muhammad didatangi Malaikat Jibril dan menerima wahyu pertama dari Allah.

Tiga tahun setelah wahyu pertama, Muhammad mulai berdakwah secara terbuka, menyatakan keesaan Allah dalam bentuk penyerahan diri melalui Islam sebagai agama yang benar dan meninggalkan sesembahan selain Allah.
Muhammad menerima wahyu berangsur-angsur hingga kematiannya.

Praktik atau amalan Muhammad diriwayatkan dalam hadis, dirujuk oleh umat Islam sebagai sumber hukum Islam bersama Al-Quran.
Muhammad bersama pengikut awal mendapati berbagai bentuk perlawanan dan penyiksaan dari beberapa suku Mekkah.

Seiring penganiayaan yang terus berlanjut, Muhammad membenarkan beberapa pengikutnya hijrah ke Habsyah, sebelum Muhammad memulai misi hijrah ke Madinah pada tahun 622. Peristiwa hijrah menandai awal penanggalan Kalender Hijriah dalam Islam.

Di Madinah, Muhammad menyatukan suku-suku di bawah Piagam Madinah.
Setelah delapan tahun bertahan atas serangan suku-suku Mekkah, Muhammad mengumpulkan 10.000 Muslim untuk mengepung Mekkah.
Serangan tidak mendapat perlawanan berarti dan Muhammad berhasil mengambil alih kota dengan sedikit pertumpahan darah.

Pada tahun 632, beberapa bulan setelah kembali ke Madinah usai menjalani Haji Wada, Muhammad jatuh sakit dan hingga akhirnya wafat.

Muhammad meninggalkan Semenanjung Arab yang telah bersatu dalam pemerintahan tunggal Islam dan sebagian besar telah menerima Islam.
Etimologi

“Muhammad” ( محمد بن عبد الله; diucapkan [mʊħɑmmæd] ) secara bahasa berasal dari akar kata semitik ‘H-M-D’ yang dalam bahasa Arab berarti
“dia yang terpuji”.

Selain itu, dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Muhammad dipanggil dengan nama “Ahmad” (أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji”.

Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapatkan dua gelar dari suku Quraisy (suku terbesar di Mekkah yang juga suku dari Muhammad) yaitu Al-Amiin yang artinya
“orang yang dapat dipercaya”
dan As-Saadiq yang artinya
“yang benar”.

Setelah masa kenabian para sahabatnya memanggilnya dengan gelar Rasul Allāh (رسول الله), kemudian menambahkan kalimat Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam (صلى الله عليه و سلم, yang berarti
“semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya”;
sering disingkat “S.A.W” atau “SAW”) setelah namanya.

Muhammad juga mendapatkan julukan Abu al-Qasim yang berarti
“bapak Qasim”,
karena Muhammad pernah memiliki anak lelaki yang bernama Qasim, tetapi ia meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa.

Genealogi

Silsilah keluarga Muhammad

Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.
Silsilah sampai Adnan disepakati oleh para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat.

Adnan secara umum diyakini adalah keturunan dari Ismail bin Ibrahim, yang selanjutnya adalah keturunan Sam bin Nuh.

Walaupun demikian, terdapat sejarawan yang menyusun silsilah yang lebih jauh lagi.
Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani, di salah satu riwayatnya menyebutkan silsilah hingga Adam.

Silsilah tersebut adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarih (Azar) bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamikh bin Mutusyalikh bin Akhnukh bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam.


Referensi: Wikipedia

4. Anas bin Malik. Anas bin Malik bin Nadar al-Khazraj (العربية) – lahir: 612-wafat:709/712) – adalah Sahabat Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam.

Biografi
Anas bin Malik berasal dari Bani an-Najjar dan merupakan anak dari Ummu Sulaim.


Sejak kecil Dia melayani keperluan Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam, sehingga selalu bersama Rasulullah.
Dengan selalu bersama Rasulullah, Dia menghafal banyak hadist.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Anas bin Malik pergi dan menetap di Damaskus dan kemudian ke Basrah.
Ia mengikuti sejumlah pertempuran dalam membela Islam.
Ia dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam yang berumur paling panjang.
Anas bin Malik adalah sahabat yang terakhir meninggal di basrah dan sahabat yang terakhir meninggal adalah Amir At’tufairi.

Anas bin Malik berkhidmat dengan nabi semasa dia masih kecil, dia berkhidmat dengan Nabi selama 10 tahun.
Nabi juga selalu mendampingi Anas bin Malik untuk memberi petunjuk ajar pada Anas, ketika hendak memulai makan, nabi perintahkan anas supaya membaca do’a dan mengambil makanan yang berada di hadapan dahulu.
Begitu sikap nabi mengajar Anas bin Malik.
Hebatnya para sahabat dahulu kala.

Sahabat Anas bin Malik Al Anshary Radiyallahu Anhu
“Ya Allah berilah dia harta dan anak yang banyak, dan berkahilah umurnya”
(Dari doanya Rasulullah kepadanya) Anas bin Malik dalam umurnya yang sangat dini, ketika ibunya yang bernama Humasha, menalkinkan dua kalimat Syahadat kepadanya, maka timbullah benih cinta kepada Sang Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam.

Dengan itu pula timbullah kerinduan Anas untuk mendengarkan cerita-cerita Nabinya, sehingga telinganya telah merindukan Sang Nabi sebelum mata melihatnya, selain Anas banyak anak-anak kecil yang merindukan Nabi walaupun Sang Nabi berada di Mekkah sedangkan mereka berada di Madinah, mereka semua rindu agar bisa menjadi orang yang beruntung dapat melihat sang nabi pujaan dan gembira bisa bertemu dengannya.

PERJUMPAAN DENGAN RASULULLAH
Tidak berlangsung lama, Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam menempuh perjalanan menuju kota Madinah dengan sahabatnya Abu Bakar As-Siddiq radiyallahu anhu untuk berhijrah.
Maka setiap rumah yang ada di Madinah menjadi bercahaya, dipenuhi dengan hati yang gembira, setiap pandangan dan hati mereka bersambung dengan jalan yang akan dilalui Rasulullah dan sahabatnya menuju kota Madinah.

Para sahabat setiap hari di penghujung kota Madinah menanti-nanti kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anak-anak kecilpun termasuk Anas bin Malik ikut pula menanti bersama para sahabat.
Akan tetapi Sang Nabi tak kunjung datang.

MENJADI PELAYAN RASULULLAH
Di pagi yang cerah dan mentari yang bersinar indah seorang laki-laki berteriak dengan kencang:

“Sesungguhnya Nabi Muhammad dan sahabatnya sudah dekat dengan kota Madinah”.

Maka semua laki-laki berbondong-bondong menuju gerbang kota Madinah yang akan dilalui oleh Sang Nabi pembawa hidayah dan Kebenaran.
Maka mereka para penduduk kota Madinah baik orang tua ataupun pemuda dan anak-anak kecil, berlomba-lomba untuk menyambut Sang Nabi, wajah mereka berseri-seri, hati mereka berbunga-bunga, dan salah satu yang paling bercahaya wajahnya dan yang paling gembira hatinya adalah Anas bin Malik.

Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq disambut oleh jamaah laki-laki dan anak-anak kota Madinah.

Adapun golongan perempuan dan anak-anak perempuan menyambut Rasulullah di atas rumah-rumah mereka, mereka memandangi Rasulullah dari tempat-tempat yang jauh dengan mengatakan:
“Apakah dia…? Apakah dia..?”
maka hari itu pun menjadi momen yang tak terlupakan.

Anas bin Malik pun selalu menyebut kejadian itu walaupun umurnya lebih dari seratus tahun.
Belum sehari Rasulullah menetap di kota madinah, Humaisha’ binti Milhan ibunda Anas bin Malik bersama putra tercinta yang masih kecil yang berjalan didepannya dengan meloncat-meloncat kegirangan, dan kuncirnya bergoyang kekanan dan kekiri, kemudian ibunda Anas mengucapkan salam kepada Sang Nabi dan berkata:

“Ya Rasulullah, tidak ada laki-laki atau perempuan dari golongan Anshor kecuali telah memberimu hadiah, akan tetapi aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kuhadiahkan kepadamu kecuali putraku ini, maka ambillah ia, jadikanlah ia pembantumu”.

Maka nabipun senang, dan menerima Anas dengan wajah yang berseri-seri.
Kemudian Rasulullah mengusap kepala Anas bin Malik dengan tangannya yang mulia dan memegang kuncirnya dengan jari-jarinya yang lembut.
Dan membawa Anas kekeluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anas bin Malik atau Uneis (panggilan Rasulullah kepada Anas).

Dalam usianya yang ke sepuluh adalah hari-hari yang sangat membahagiakannya, ketika menjadi pembantu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia hidup di dalam pendidikan dan penjagaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai beliau meninggal, dan masa-masa itu berlangsung selama sepuluh tahun tepat, jiwanya pun penuh dengan hidayah, hatinya penuh dengan hadits–hadits Nabi sehingga ia menjadi orang yang lebih tahu tentang keadaan Nabi, rahasia, sifat-sifat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak diketahui orang lain kecuali dirinya.

KENANGAN MANIS BERSAMA RASULULLAH
Annas bin Malik telah melihat dari pergaulan Nabi yang sangat mulia yang tidak bisa didapatkan dari seorangpun.
Dan merasakan indahnya perangai Nabi, dan agungnya sifat-sifat Nabi.
Yang membuat iri semua orang didunia, maka aku kisahkan tentang Anas bin Malik sebuah hadits yang sangat jelas.

Anas bin Malik berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bagus akhlaqnya, yang paling lapang dadanya, dan yang paling dermawan.
Maka suatu hari Beliau mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku keluar dan aku menuju anak-anak kecil yang sedang main di pasar untuk bermain bersama mereka dan akupun keluar tidak untuk menunaikan hajatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika aku sedang bermain bersama mereka tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangku dan memegang bajuku, kemudian aku memalingkan wajahku untuk melihatnya.

Seketika aku dapati Rasulullah tersenyum manis kepadaku dan berkata:

“Wahai Unais apakah engkau sudah mengerjakan suatu keperluan yang telah aku perintahkan kepadamu?”
Maka aku pun berlari dan berkata:

“Ya, aku akan kerjakan sekarang wahai Rasulullah”.
Demi Allah sungguh aku telah menjadi pembantu Rasulallah selama sepuluh tahun dan Beliau pun tidak pernah mengatakan untuk sesuatu yang aku kerjakan:

“Mengapa Engkau kerjakan!”
dan untuk yang aku tinggalkan:
“Mengapa Engkau tinggalkan?”

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memanggil Anas, memanggilnya dengan panggilan Unais, yaitu dengan panggilan yang penuh dengan kasih sayang.
Terkadang Beliau juga memanggilnya dengan panggilan wahai Anakku, panggilan yang penuh dengan keakrapan.
Dan Rasulullah memenuhi hatinya dengan nasihat-nasihat dan ucapan-ucapan hikmah yang mulia, diantaranya:

“Wahai Anakku, apabila Engkau mampu untuk melewati hari-harimu dengan hati yang tidak ada kedengkian, maka kerjakanlah, wahai anakku sesungguhnya semua itu adalah sunahku dan barang siapa menghidupkan satu dari sunahku maka sungguh ia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku maka ia bersamaku di surga.

Wahai anakku, apabila Engkau ingin masuk kepada keluagamu, maka ucapkan salam kepada mereka, yang akan menjadikan keberkahan untukmu dan keluargamu.
Setelah wafatnya Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik hidup selama 80 tahun lebih, hatinya pun penuh dengan ilmu dari ilmunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan akalnya pun begitu tajam, untuk memahami Syariat-syariat Islam.

Hatinya pun hidup dengan hidayah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan Anas dalam umurnya yang sangat panjang ini Beliau adalah tempat kembalinya orang-orang muslimin, ketika mereka mendapatkan suatu masalah-masalah yang rumit dan merekapun memegang ucapan-ucapan yang keluar dari Anas bin Malik diantaranya adalah bahwa sebagian orang yang ragu dalam syariat agama, mereka menanyakan tetang keberadaan telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besok pada hari Qiyamat.

Kemudian mereka mendatangi Anas bin Malik dan menanyakan hal tersebut kepadanya, maka Anas bin Malik menjawab:

“Aku tidak menyangka dalam hidupku yang panjang ini akan menemui orang-orang yang seperti kalian yang meragukan telaganya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah akan datang orang yang lemah agamanya setelahku, dan mereka tidak melaksanakan shalat akan tetapi mereka meminta kepada Allah agar bisa minum dari telaganya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hidupnya yang sangat panjang Anas bin Malik selalu menggerakkan bibirnya untuk menyebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hari yang sangat menggembirakannya adalah hari pertemuannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hari yang menyedihkan baginya adalah hari perpisahannya dengan Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kenangan itu selalu ia sebut-sebut dengan bibirnya yang mulia.
Anas bin Malik adalah seorang yang bersemangat untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ucapan maupun perilakunya, mencintai apa yang dicintai Rasulullah, membenci apa yang dibenci Rasulullah, dan hari yang sangat berkesan dalam hidupnya adalah 2 hari, yaitu hari ketika bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hari ketika berpisah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika ia mengingat hari yang pertama mukanya kelihatan berseri-seri, senang, bahagia dan sebaliknya apabila ia mengingat hari yang ke 2 ia akan menangis tersedu-sedu, sehingga orang yang disekitarnya pun ikut menangis.

Kata-kata yang selalu ia ucapkan adalah:

“Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika datang kepada kami di kota Madinah, dan sungguh aku telah melihat Beliau, ketika beliau wafat di antara kita maka tidak ada hari yang lebih berharga dari pada keduanya.
Dihari pertama ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota madinah segala sesuatu tampak bercahaya, dan dihari ketika Rasulullah meninggal segala sesuatupun tampak gelap gulita.

Dan hari terakhir ketika aku melihatnya adalah hari senin, ketika Sang Nabi membuka tirai kamarnya, maka aku melihat wajahnya putih bersih seperti lembaran kertas.

Dan diwaktu itu semua orang berdiri di belakang Abu Bakar untuk melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hampir semua orang terkejut, ketakutan, maka Abu Bakar memberikan isyarat kepada mereka untuk bersabar dan tenang, kemudian meninggallah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di penghujung hari Senin tersebut.
Maka tidak ada pemandangan yang menyedihkan ketika kita menutupnya dengan tanah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mendoakan Anas bin Malik, dan salah satu doa Rasulullah yang dikhususkan kepada Anas bin Malik adalah:

“Ya Allah berilah rizqi kepadanya berupa harta dan anak yang banyak, kemudian berkahi semua itu untuknya”.
Dan sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengabulkan doa Nabi Nya yang tercinta.
Oleh karena itu Anas bin Malik menjadi orang yang paling kaya dari kaum Anshor dan yang paling banyak anaknya, hingga dia melihat anak-anak dan cucunya lebih dari 100.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberkahi umurnya sehingga ia hidup dalam 1 kurun penuh dan lebih 3 tahun.

Anas bin Malik RA adalah orang yang sangat mengharapkan Syafaat Rasulullah besok pada hari Qiyamat, dia selalu mengatakan:

“Sesungguhnya aku ingin bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besok pada hari Qiyamat, dan aku akan mengatakan kepadanya,
“Wahai Rasulallah ini adalah pembantu kecilmu Unais”.
Dan ketika Anas bin Malik sakit dipenghujung usianya beliau berkata kepada keluarganya:

“Talkinkan aku 2 kalimat Syahadat, Laa Ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah”.

Setelah Anas bin Malik mengikuti dua kalimat Syahadat tersebut Beliau meninggal dengan bahagia.
Dan beliau mewasiatkan agar ia di kubur dengan tongkat kecil yang dihadiahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, dan diletakkan disebelah sisi bersama gamis yang ia kenakan.

Sungguh beruntung Anas bin Malik atas karunia Allah yang diberikan kepadanya, karena ia bisa mendampingi Rasulullah selama 10 tahun penuh, dan dia adalah 3 diantara periwayat hadits terbanyak setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar.
Semoga Allah memberikan pahala kepadanya dan kepada ibunya dengan sebaik-baiknya pahala.
5. Ibnu Abbas ( ibn Abbas ) Abdullah bin Abbas (عبد الله بن عباس, kr. 619 – Thaif, kr. 687 (78 H)) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad sekaligus saudara sepupunya.

Nama Ibnu Abbas (ابن عباس) juga digunakan untuknya untuk membedakannya dari Abdullah yang lain.

Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta dia juga menurunkan seluruh Khalifah dari Bani Abbasiyah.

Lahir: 619
Wafat: 687
Usia Wafat: 68

paganisme

Apa itu paganisme? pa.gan.is.me perihal tidak beragama; paham pada masa sebelum adanya agama … •

An-Nur

Apa itu An-Nur? Surah An-Nur adalah surah ke-24 dari Alquran. Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah. Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Alquran yang mengandung petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk Alla … • An-Nuur, An-Nur, An Nur

Al Hakiim

Apa itu Al Hakiim? Allah itu Al-Hakim ◀ Artinya adalah Allah itu Maha Bijaksana. Allah sangat bijaksana terhadap semua makhluk-makhluk-Nya. Allah menciptakan segala sesuatunya dengan adil, pas, dan sesuai kapasitasnya. Sehingga semua ciptaan Allah yang ada di alam semesta dapat menjalankan perannya masing-masing. Misalnya, Allah menciptakan bumi dengan jarak ya … • Al-Hakiim, Al-Hakim, Al Hakim

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Kategori: Sahabat Nabi

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min & mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat,
maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan & dosa yang nyata.
QS. Al-Ahzab [33]: 58

۞ Variasi nama:
Salman Farsi, Salman Al-Farisi, Salman Al Farisi, Salman
Kategori: Sahabat Nabi

Demi waktu Matahari sepenggalahan naik,
dan demi malam apabila telah sunyi,
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu & tiada benci kepadamu,
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang.
QS. Ad-Duha [93]: 1-4

۞ Variasi nama:
Salman Farsi, Salman Al-Farisi, Salman Al Farisi, Salman
Kategori: Sahabat Nabi

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai & berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,
QS. Ali ‘Imran [3]: 105

۞ Variasi nama:
Salman Farsi, Salman Al-Farisi, Salman Al Farisi, Salman
Kategori: Sahabat Nabi


orang-orang yang taubat & mengadakan perbaikan & berpegang teguh pada (agama) Allah & tulus ikhlas beragama karena Allah …
QS. An-Nisa’ [4]: 146

۞ Variasi nama:
Salman Farsi, Salman Al-Farisi, Salman Al Farisi, Salman

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang …

Kamus

Al Wahid

Apa itu Al Wahid? Allah itu Al-Wahid ◀ Artinya adalah Allah itu Maha Tunggal. Allah itu hanya satu, tidak ada yang setara dengan Dia, tidak memiliki keturunan, dan bukan pula keturunan dari siapapun. Al Wahid termasuk dalam 99 Asma’ul husna. … • Al-Wahid

Basra

Di mana itu Basra? Basra memiliki peranan penting dalam sejarah awal agama Islam. Pada awalnya, Basra dijadikan markas tentara umat Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Namun pada perkembangan selanjutnya, kota itu menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan perdagangan yang ramai. Basra juga tempat berbaurnya kebudayaan Persia dan Arab. Saat ini mayoritas … • Basrah, Bashrah

Matan

Apa itu Matan? Matan menurut bahasa berarti punggung jalan tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan matan menurut istilah ialah bunyi atau kalimat yang terdapat dalam hadits yang menjadi isi riwayat. Apa­ kah hadits tersebut berbentuk qaul fi’il dan sebagainya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam … •

air talkin

Apa itu air talkin? air yang disiramkan ke atas jenazah dalam kubur sebelum orang membaca talkin … •

Al-Kahf

Apa itu Al-Kahf? Surah Al-Kahf disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua. Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberap … • Al-Kahfi, Al Kahfi, Al-Kahf

Subhanahu wa ta’ala

Apa itu Subhanahu wa ta’ala? Subhanahu Wa Ta’ala adalah singkatan dari dua sifat Allah, yaitu Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya adalah Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Dalam banyak teks Islam seperti yang ada di Al-Qur’an dan hadis, gelar ini umumnya disisipkan setelah menyebut nama Allah. سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ Subhanahu wa-ta ‘ala ta.a.la Mahati … • Subhanahu Wa Ta`ala, subhanahu wa ta’ala, Ta’ala, taala, SWT, S.W.T., s.w.t,