radhiyallahu ‘anhu

Kategori: Istilah Umum

Ucapan “radhiyallahu ‘anhu” adalah bentuk doa, yang artinya “semoga Allah meridhainya”.

● Untuk satu orang sahabat (laki-laki): radhiyallahu ‘anhu.
Artinya: semoga Allah meridhainya.
● Untuk satu orang sahabiyah (perempuan): radhiyallahu ‘anha.
Artinya: semoga Allah meridhainya.
● Untuk dua orang sahabat (baik laki-laki maupun perempuan): radhiyallahu ‘anhuma.
Artinya: semoga Allah meridhai mereka berdua.
● Untuk banyak sahabat atau sahabiyah: radhiyallahu ‘anhum.
Artinya: semoga Allah meridhai mereka semua.

Contoh penggunaan “radhiyallahu ‘anhu” dan “radhiyallahu ‘anhuma”

1. Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Bila disebutkan nama Aisyah saja, cukup diucapkan “radhiyallahu ‘anha”.

2. Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma.
Bila disebutkan nama “Aisyah binti Abu Bakar”, maka selayaknya mengucapkan “radhiyallahu ‘anhuma”, karena Aisyah dan Abu Bakar merupakan sahabat Nabi.

3. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu (ayah Abdullah bin Mas’ud meninggal pada masa jahiliyah, belum memeluk agama Islam; sehingga bila menyebut nama Abdullah bin Mas’ud, kita hanya mengucapkan “radhiyallahu ‘anhu” bukan “radhiyallahu ‘anhuma”).

4. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma (Abdullah adalah salah satu anak Umar bin Al-Khattab; beliau termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits; beliau juga dikenal dengan nama “Ibnu Umar”, yang artinya “anaknya Umar”; Abdullah dan Umar sama-sama sahabat Nabi, sehingga bila nama “Abdullah bin Umar” disebutkan maka hendaknya kita sertakan ucapan “radhiyallahu ‘anhuma”)


Apakah kita boleh mengucapkan “radhiyallahu ‘anhu” untuk ditujukan kepada selain sahabat Nabi?

Para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan doa “radhiyallahu ‘anhu”: apakah ditujukan untuk sahabat Nabi saja atau juga boleh ditujukan untuk kaum muslimin selain sahabat (misalnya para ulama)?

Contohnya, apakah kita boleh mendoakan para imam Empat Mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal) dengan ucapan “radhiyallahu ‘anhum”?

a. Penjelasan Imam An-Nawawi rahimahullah:

Salah satu ulama yang berpendapat bolehnya mengucapkan ‘radhiyallahu ‘anhum’ untuk selain sahabat Nabi adalah Imam Nawawi.

Beliau menyatakan, ‘Mendoakan keridhaan dan rahmat bagi sahabat Nabi, tabi’in, dan kaum muslmin yang hidup setelahnya – baik itu ulama, orang yang gemar beribadah, atau orang-orang yang punya kedudukan istimewa dalam agama – adalah hal yang mustahab (dianjurkan).
Oleh sebab itu, ucapan ‘radhiyallahu ‘anhu’, ‘rahmatullahu ‘alaihi’, ‘rahimahullah’, atau ucapan doa semisal itu boleh diucapkan untuk mereka.

Adapun pendapat lain dari sebagian ulama – bahwa ucapan ‘radhiyallahu ‘anhu’ itu khusus untuk sahabat Nabi, sedangkan untuk selain sahabat Nabi didoakan dengan ‘rahimahullah’ saja – adalah pendapat yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan dalil.

Akan tetapi, yang benar adalah pendapat jumhur ulama, bahwa doa semacam itu mustahab (dianjurkan untuk diucapkan kepada selain sahabat Nabi).
Dalil-dalil untuk hal ini sangat banyak, tidak bisa dibatasi.
(Lihat di Al-Adzkar, hlm. 118)

b. Penjelasan Syaikh Utsaimin rahimahullah:

Kita mengucapkan ‘radhiyallahu ‘anhu’ untuk setiap orang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 100)

Akan tetapi, para ulama biasanya menggunakan doa tersebut khusus untuk para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, yaitu ucapan para ulama untuk para sahabat Nabi, ‘Radhiyallahu ‘anhum (semoga Allah meridhai mereka semua.’

Terkadang, doa ‘radhiyallahu ‘anhu’ juga ditujukan untuk para imam besar, seperti Imam Ahmad – jadi dikatakan, ‘Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu, Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu, dan Imam Malih radhiyallahu ‘anhu.’

Akan tetapi, yang umum digunakan di tengah ulama adalah doa memohon keridhaan tersebut ditujukan untuk para sahabat Nabi.
Bila demikianlah penggunaan istilah yang umum di kalangan ulama, maka bila kaum muslimin menggunakan ucapan tersebut untuk selain sahabat Nabi, bisa saja pendengar salah paham dengan mengira bahwa sosok yang didoakan tersebut adalah sahabat Nabi.

Oleh karena itu, (untuk menghindari kesalah-pahaman tersebut) hendaklah si pembicara menjelaskan kedudukan orang yang didoakannya (bahwa dia bukan sahabat Nabi), atau hendaklah dia ucapkan, ‘Si A– yang merupakan tabi’ut tabi’in – radhiyallahu ‘anhu …,’ sehingga pendengar tidak sampai salah sangka bahwa sosok yang disebutkan tadi adalah sahabat Nabi.

**
Referensi:
Kitab Ushulul Iman fi Dhaw’il Kitabi was Sunnah, 1421, terbitan Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi.
Dinukil dariAl-Maktabah Asy-Syamilah.
Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al-Ashbahani.
Dinukil dari Al-Maktabah Asy-Syamilah.
http://islamqa.info/160984.html
Penyusun: Athirah Mustadjab
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits



Podcast

Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim
               



Ikuti RisalahMuslim