Qadi Abu Ya’la

Kategori: Ulama

Nama lengkap Al-Qadi Abu Ya’la ialah Muhammad bin Al-Husein bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad bin Al-Farra’ dikenal sebagai Qadi ( hakim ) besar, ahli fiqh madzhab Hambali dan seorang muhadits, lahir pada malam tanggal 29 Muharram 380 H. Al-Qadi Abu Ya’la lebih populer dipanggil dengan sebutan Abu Ya’la.
Al-Qadi Abu Ya’la adalah ulama paling menonjol dalam semua bidang.
Ia fasih membaca Al-Qur’an dengan 10 Qira’at, dan banyak hafal hadits dengan sanad yang tinggi.

Kuliah-kuliahnya yang diselenggarakan di Masjid Jami Al-Mansur dihadiri oleh masyarakat dalam jumlah yang tidak dapat dihitung.
Karena berjubelnya, sampai orang tidak dapat bersujud kecuali pada punggung yang lain.
Mereka yang hadir di majelis itu terdiri dari para hakim terkemuka, tokoh-tokoh masyarakat, para ulama, fuqaha dan masyarakat lainnya.

Disamping sangat ahli dalam berbagai disiplin ilmu, Al-Qadi Abu Ya’la juga dikenal sangat bersahaja, jujur, berbudi pekerti luhur, rajin shalat dan tidak banyak bicara kecuali untuk hal-hal yang penting saja.

Karya-Karya Al-Qadi Abu Ya’la

Imam ini telah menulis sejumlah besar karya ilmiah yang belum ada tandingannya.
Antara lain :
1. Ahkam Al-Qur’an
2. Naql Al-Qur’an
3. Al-Mu’tamad dan ringkasannya
4. Al-Muqtabas dan ringkasannya
5. Uyun Al-Masa’il Al-Radd ala Al-Asy’ariyah
6 Al-Radd ala Al-Karamiyyah
7. Al-Radd ala Al-Salimiyyah
8. Al-Radd ala Al-Mujasunnah
9. Al-Radd ala Ibnu Al-Labban
10. Ibntal Al-Takwilat li Akhbar Al-Sifat
11. Al-Kalam fi Huruf Al-Mu’jam.

Disamping itu Al-Qadi Abu Ya’la juga menulis empat buku pengantar untuk kajian :

• Ushul Al-Din
• Isbat Imamat Al-Khulafa’ Al-Arba’ah wa Tabri’ah Mu’awiyah Al-Uddah fi Usul Al-Fiqh dan ringkasannya.
• Al-Kifayah fi Usul Al-Fiqh dan ringkasannya.
• Al-ahkam Al-Sultaniyyah.
• Al-Mujarrad fi Al-Madzhab
• Al-Kharqi
• Al-Khisal wa Al-Aqsam
• Al-Khilaf Al-Kabir
Dan masih banyak lagi.

Wafatnya Al-Qadi Abu Ya’la

Al-Qadi Abu Ya’la meninggal dunia pada malam senin, 19 Ramadhan 458 H. Shalat jenazahnya dilaksanakan di Masjid Jami’ Al-Mansur dengan imam Shalat Abu Al-Qasim, putranya sendiri.
Ikut mengantar jenazahnya antara lain:

1. Qadi Al-Qudat Abu Abdullah Al-Damghani
2. Para hakim
3. Abu Al-Fawaris Tarrad
4. Para pejabat pemerintahan
5. dan tokoh-tokoh masyarakat.

Al-Qadi Abu Ya’la dikubur di pemakaman Ahmad bin Hambal di Bab Harb, Baghdad.

Setting Sosial Politik Pada Masa Al-Qadi Abu Ya’la

Ketika bukunya yang berjudul Ibtal Takwil Al-Asma’ wa Al-Sifat beredar dikalangan masyarakat luas dan menimbulkan heboh, Al-Qadi Abu Ya’la dipanggil ke istana Khalifah Al-Qa’im bi Amrillah ( tahun 432 H ).
Di tempat ini ia dihadapkan pada sidang yang dihadiri oleh sejumlah besar ulama dan tokoh-tokoh penting.
Setelah itu keluarlah keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa Madzhab Al-Qadiri tentang Al-Asma wa Al-Sifat adalah sesuai dengan keyakinan Abu Ya’la.

Keputusan ini ditandatangani oleh para ulama besar seperti Al-Syeikh Al-Zahid Al-Qazwaini dan Qadi Abu Tayyib Al-Tabari.
Peristiwa itulah yang justru melambungkan namanya.
Ketika Qadi Ibnu Makula meninggal dunia, khalifah Al-Qa’im bi Amrillah meminta agar segera diangkat Qadi baru untuk wilayah ke-khilafah-an dan sekitarnya.
Ia haruslah seorang yang pandai dan zahid.
Maka ditunjuklah Al-Qadi Abu Ya’la.
Tetapi ia menolak.

Sesudah berulangkali didesak, akhirnya Abu Ya’la menerimanya dengan berberapa syarat, antara lain:
• Ia tidak akan menghadiri resepsi kenegaraan
• Ia tidak akan keluar dalam setiap penyambutan resemi kenegaraan.
• Ia Tidak akan datang ke istana.

Ini semua Al-Qadi Abu Ya’la lakukan demi penghormatan kepada ilmu.
Selain itu Al-Qadi Abu Ya’la juga minta diperkenankan libur dua hari dalam sebulan untuk beristirahat di pinggir sungai Ma’la dan Bab Al-Azj.
Khalifah menyetujui semua persyaratan tersebut.

Dalam tugasnya, Al-Qadi Abu Ya’la memulai tradisi baru dengan memutuskan perkara-perkara keuangan, pidana dan kejahatan seksual.
Sukses besarnya dalam pengadilan membuat tugasnya bertambah.
Al-Qadi Abu Ya’la juga diangkat menjadi hakim untuk wilayah Haran dan Halwan.
Berkat jasa Al-Qadi Abu Ya’la keadaan kedua wilayah ini menjadi stabil.
Sesudah itu ia kembali menetap di Baghdad.
Kondisi pemerintahan berjalan aman dan damai.


۞ Variasi nama: Abu Ya’la, Abu Ya’la, Qadi Abu Ya’la, Al-Qadi Abu Ya’la

Bagikan ke FB
Bagikan ke TW

Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya

Hadits Shahih

Ayat Alquran

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 84 [QS. 5:84]

Ayat ini menjelaskan harapan sebagian kaum Nasrani yang beriman kepada Al-Qur’an agar Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan tidak ada alasan bagi kami tidak akan berima … 5:84, 5 84, 5-84, Surah Al Maa’idah 84, Tafsir surat AlMaaidah 84, Quran Al Maidah 84, AlMaidah 84, Al-Ma’idah 84, Surah Al Maidah ayat 84

QS. Az Zumar (Rombongan-rombongan) – surah 39 ayat 43 [QS. 39:43]

43. Kendatipun sudah dijelaskan berulang-ulang bahwa Allah itu Mahakuasa lagi Mahaperkasa yang mengatur perjalanan alam semesta dan hidup manusia, namun orang-orang musyrik Mekah itu tetap saja tidak … 39:43, 39 43, 39-43, Surah Az Zumar 43, Tafsir surat AzZumar 43, Quran Az-Zumar 43, Surah Az Zumar ayat 43

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … ulumul qur’an Isra Mi’raj asbabun nuzul asbabul wurud alumul hadist Benar! Kurang tepat! Pesan

Pendidikan Agama Islam #13

Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya … kali.” 1000

Pendidikan Agama Islam #11

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan

Instagram