Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Kategori: Ulama

Muhammad Nashiruddin al-Albani (bahasa Arab: محمد ناصر الدين الألباني‎; lahir di Shkodër, Albania; 1914 / 1333 H – meninggal di Amman, Yordania; 2 Oktober 1999 / 21 Jumadil Akhir 1420 H; umur 84–85 tahun) adalah seorang ulama Hadits terkemuka dari era kontemporer (abad ke-20) yang sangat berpengaruh, dikenal di kalangan kaum Muslimin dengan nama Syaikh al-Albani atau Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, sebutan al-Albani ini merujuk kepada daerah asalnya yaitu Albania.
Syaikh al-Albani adalah seorang ulama besar Sunni dan asli berdarah Eropa.
Menelurkan banyak karya monumental di bidang hadits dan fiqh (fikih) serta banyak dijadikan rujukan oleh ulama-ulama Islam pada masa sekarang.
Pernah menjadi dosen selama tiga tahun di Universitas Islam Madinah.
Ia juga peraih Penghargaan Internasional Raja Faisal pada tahun 1999 atas karya-karya ilmiahnya.

Awal kehidupan

Nama lengkapnya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin bin Nuh an-Najati al-Albani, nama kunyahnya adalah Abu Abdurrahman (anak pertamanya bernama Abdurrahman) dan akrab di telinga umat Islam dengan nama Syaikh al-Albani, sedangkan al-Albani sendiri adalah penyandaran terhadap negara asalnya yaitu Albania.
Syaikh al-Albani dilahirkan pada tahun 1914 di Kota Askhodera (Shkodër), sebuah distrik pemerintahan di Albania.
Ayahnya adalah seorang ulama di sana, yaitu al-Hajj Nuh an-Najati (Haji Nuh, nama lengkapnya: Nuh bin Adam an-Najati al-Albani).
Haji Nuh adalah salah satu pemuka Mazhab Hanafi di Albania dan begitu ahli di bidang ilmu syar’i yang didalaminya di Istanbul, Ibu kota Kesultanan Ottoman.

Saat Ahmet Zog (Zog dari Albania) naik takhta.
Maka semenjak itu menjadi maraklah gelombang pengungsian orang-orang yang masih teguh mengadopsi nilai-nilai keislamannya, salah satu dari orang-orang itu adalah keluarga Haji Nuh yang memutuskan untuk migrasi ke Damaskus, ibu kota Syria yang ketika itu masih menjadi bagian dari wilayah Syam, saat itu Syaikh al-Albani baru berusia sekitar 9 tahun.

Syaikh al-Albani tumbuh besar dan memulai lembaran-lembaran hidupnya di kota ini, latar belakangnya adalah berasal dari keluarga yang miskin, meskipun begitu pendidikan agama tetap menjadi acuan utama dalam kehidupan keluarganya.
Oleh ayahnya, al-Albani kecil dimasukkan ke sebuah sekolah setingkat SD (sekolah dasar), yaitu al-Is’af al-Khairiyah al-Ibtidaiyah di Damaskus, lalu ayahnya memindahkannya ke sekolah lain.
Di sekolah keduanya inilah ia selesaikan pendidikan dasar formalnya.
Ayahnya tak memasukkan dirinya ke sekolah tingkat lanjutan, karena Haji Nuh memandang bahwa sekolah akademik dengan kurikulum formal ternyata tidak memberikan manfaat yang besar.
Namun bukan berarti tak sampai di sini saja, demi program pendidikan yang lebih kuat dan terarah, ayahnya pun membuatkan kurikulum untuknya yang lebih fokus.
Melalui kurikulum tersebut, Syaikh al-Albani mulai belajar al-Qur’an dan tajwidnya, ilmu sharaf, dan fiqih melalui mazhab Hanafi, karena ayahnya adalah ulama mazhab tersebut.
Selain belajar melalui ayahnya, tak luput pula Syaikh al-Albani belajar dari ulama-ulama di daerahnya.
Syaikh al-Albani pun mulai mempelajari buku Maraaqi al-falaah, beberapa buku Hadits, dan ilmu balaghah dari gurunya, Syaikh Sa’id al-Burhaani.
Selain itu, ada beberapa cabang ilmu yang lain yang dipelajarinya dari Imam Abdul Fattah, Syaikh Taufiq al-Barzah, dan lain-lain.

Membaca adalah hobi yang digandrunginya.
Proses belajar terus dijalaninya seiring dengan usianya yang semakin dewasa, ayahnya pun juga membekalinya keahlian dalam hal pekerjaan untuk menjadi modal mencari nafkahnya kelak, yaitu keahlian sebagai tukang kayu dan tukang reparasi jam.
Tukang kayu adalah profesi awalnya, kemudian ia mengalihkan kesibukannya sebagai tukang reparasi jam, yang mana Syaikh al-Albani sangat mahir dalam bidang ini sebagaimana ayahnya.
Karena keahlian reparasi jamnya sangat terkenal, hingga julukan as-Sa’ti (tukang reparasi jam) pun tersemat kepadanya saat itu.

Menuju Ilmu Hadis

Pada umur 20-an tahun, pandangan Syaikh al-Albani muda tertuju kepada Majalah al-Manar terbitan Muhammad Rasyid Ridha di salah satu toko yang dilaluinya.
Dilihatnya majalah itu, kemudian dibukanya lembar demi lembar hingga terhentilah perhatiannya pada sebuah makalah studi kritik hadits terhadap Ihya’ Ulumuddin (karangan al-Ghozali) dan hadits-hadits yang ada di dalamnya.
“Pertama kali aku dapati kritik begitu ilmiah semacam ini”, ungkap Syaikh al-Albani ketika mengisahkan awal mula terjunnya ke dunia hadits secara mendalam.
Rasa penasaran membuatnya ingin merujuk secara langsung ke kitab yang dijadikan referensi makalah itu, yaitu kitab al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, karya al-Hafizh al-Iraqi.
Namun, kondisi ekonomi tak mendukungnya untuk membeli kitab tersebut.
Maka, menyewa kitab pun menjadi jalan alternatifnya.
Kitab yang terbit dalam 3 jilid itu pun disewa kemudian disalin dengan pena tangannya sendiri, dari awal hingga akhir.
Itulah aktivitas pertamanya dalam ilmu hadits, sebuah salinan kitab hadits.
Selama proses menyalin itu, tentunya menjadikan Syaikh al-Albani secara tak langsung telah membaca dan menelaah kitabnya secara mendalam, yang mana dari hal ini menjadikan perbendaharaan wawasan yang ada pada Syaikh al-Albani pun bertambah, dan ilmu hadits menjadi daya tarik baginya.

Ilmu hadits begitu luar biasa memikat Syaikh al-Albani, sehingga menjadi pudarlah ideologi mazhab Hanafi yang ditanamkan ayahnya kepadanya, dan semenjak saat itu Syaikh al-Albani bukan lagi menjadi seorang yang mengacu pada mazhab tertentu (bukan lagi menjadi seorang yang fanatik terhadap mazhab tertentu), melainkan setiap hukum agama yang datang dari pendapat tertentu pasti akan ditimbangnya dahulu dengan dasar dan kaidah yang murni serta kuat yang berasal dari sunah Nabi Muhammad/hadits.
Kesibukan barunya pada hadits ini mendapat kritikan keras dari ayahnya, bahwasanya
“ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit”, demikian ungkap ayahnya ketika mengomentari Syaikh al-Albani.
Semakin terpikatnya Syaikh al-Albani terhadap hadits Nabi, itulah kata yang tepat baginya.
Bahkan hingga toko reparasi jamnya pun memiliki dua fungsi, sebagai tempat mencari nafkah dan tempat belajar, dikarenakan bagian belakang toko itu sudah diubahnya sedemikian rupa menjadi tempat belajar.

Syaikh al-Albani pun secara rutin mengunjungi perpustakaan azh-Zhahiriyyah di Damaskus.
Waktu berjam-jam bisa habis di perpustakaan itu, hanya keluar di waktu-waktu salat, bahkan untuk makan pun sudah disiapkannya berupa makanan-makanan ringan untuk dinikmatinya selama di perpustakaan.
Selain itu, Syaikh al-Albani juga menjalin persahabatan dengan pemilik-pemilik toko buku, hal ini memudahkannya untuk meminjam buku-buku yang diinginkannya karena keterbatasan hartanya untuk membelinya, dan di saat ada orang yang hendak membeli buku yang dipinjamnya, maka buku tersebut dikembalikan.
Bertahun-tahun masa-masa ini dilaluinya bersama sepeda sederhana yang biasa digunakannya untuk keperluan bepergian.

Syaikh al-Albani kadang membeli potongan-potongan kertas dari tempat pembuangan, yang mana dengan cara ini Syaikh al-Albani bisa membeli kertas dengan harga murah dan dalam jumlah yang cukup banyak, untuk kemudian dipakainya sebagai alat mencatat.

Suatu hari di perpustakaan azh-Zhahirriyyah, selembar kertas hilang dari manuskrip yang digunakan Syaikh al-Albani untuk belajar.
Kejadian ini menjadikannya mencurahkan seluruh perhatian untuk membuat katalog dari seluruh manuskrip hadits di perpustakaan agar folio yang hilang tersebut bisa ditemukan.
Dan karena sebab ini, Syaikh al-Albani pun mendapatkan banyak sekali ilmu dari ribuan manuskrip hadits yang disalinnya.
Kehebatannya ini dibuktikan beberapa tahun kemudian oleh Dr. Muhammad Mustafa A’dhami pada pendahuluan
“Studi Literatur Hadits Awal”, di mana Dr. Muhammad Mustafa A’dhami mengatakan:
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Syaikh Nashiruddin al-Albani, yang telah menempatkan keluasan ilmunya pada manuskrip-manuskrip langka dalam tugas akhir saya”, hal ini dikarenakan Dr. Muhammad Mustafa A’dhami memanfaatkan perpustakaan itu untuk penyelesaian doktoralnya.

Tak cukup dengan belajar sendiri, Syaikh al-Albani pun ikut serta dalam majlis ulama besar semacam Syaikh Muhammad Bahjat al-Baitar yang sangat ahli dalam bidang hadits.
Suatu ketika ada seorang ahli hadits, al-musnid (ahli sanad), sekaligus sejarawan dari Kota Halab (Aleppo) tertarik kepadanya, dia adalah Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbakh yang kagum terhadap kecerdasan Syaikh al-Albani.
Syaikh at-Tabbakh berupaya menguji pengetahuan Syaikh al-Albani terhadap ilmu hadits, dan hasilnya sangat memuaskan.
Maka turunlah sebuah pengakuan dari Syaikh at-Tabbakh, yaitu al-Anwar al-Jaliyyah fi Mukhtashar al-Atsbat al-Hanbaliyyah, sebuah ijazah sekaligus sanad yang bersambung hingga Imam Ahmad bin Hanbal (yang melalui jalur Syaikh at-Tabbakh).
Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah seorang Imam ahli hadits di antara Imam yang empat (Hanafi, Malik, Syafi’i, dan Ahmad), dan Imam Ahmad juga merupakan salah satu guru Imam Bukhari.

Syaikh al-Albani mulai melebarkan hubungannya dengan ulama-ulama hadits di luar negeri, senantiasa berkorespondensi dengan banyak ulama, ada di antaranya yang berasal dari India, Pakistan, dan negara-negara lain.
Mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan hadits dan agama pada umumnya, termasuk dengan Syaikh Muhammad Zamzami dari Maroko, Syaikh ‘Ubaidullah Rahman (pengarang Mirqah al-Mafatih Syarh Musykilah al-Mashabih), dan juga Syaikh Ahmad Syakir dari Mesir, bahkan mereka berdua (Syaikh al-Albani dan Syaikh Ahmad Syakir) terlibat dalam sebuah diskusi dan penelitian mengenai hadits.
Syaikh al-Albani juga bertemu dengan ulama hadits terkemuka asal India, yaitu Syaikh Abdus Shomad Syarafuddin yang telah menjelaskan hadits dari jilid pertama kitab Sunan al-Kubra karya Imam an-Nasai, kemudian juga karya Imam al-Mizzi yang monumental yaitu Tuhfat al-Asyraf, yang selanjutnya mereka berdua saling berkirim surat.
Dalam salah satu surat, Syaikh Abdus Shamad menunjukkan pengakuan atas keyakinan dia bahwa Syaikh al-Albani adalah salah satu ulama hadits terhebat pada masa itu.

Sekitar tahun 1962, Syaikh al-Albani mendapatkan panggilan dari Universitas Islam Madinah dan Syaikh al-Albani direncanakan akan diangkat menjadi dosen di sana.
Di sana Syaikh al-Albani mengajar ilmu Hadits dan fiqh Hadits di fakultas pascasarjana.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memberikan komentar atas Syaikh al-Albani,
“Aku belum pernah melihat di kolong langit pada saat ini orang yang sangat alim (berilmu) dalam ilmu hadits seperti al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani”, demikian ungkap dia.

Karya-karyanya sangat banyak, yang kecil maupun yang besar (tebal), bahkan ada yang berjilid-jilid, yang lengkap maupun yang belum, yang sudah dicetak maupun yang masih berbentuk manuskrip.
Selama hidupnya, Syaikh Albani telah banyak meneliti dan men-ta’liq banyak silsilah perawi hadits pada hadits-hadits yang sudah tak terhitung jumlahnya secara pasti, dan menghabiskan waktu puluhan tahun untuk belajar buku-buku hadits.


۞ Variasi nama: Al-Albani, Albani

Bagikan ke FB
Bagikan ke TW

Video Pembahasan

Error 403 Daily Limit Exceeded. The quota will be reset at midnight Pacific Time (PT). You may monitor your quota usage and adjust limits in the API Console: https://console.developers.google.com/apis/api/youtube.googleapis.com/quotas?project=89055198671 : dailyLimitExceeded

Hadits Shahih

Ayat Alquran

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 178 [QS. 2:178]

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu melaksanakan kisas, hukuman yang semisal dengan kejahatan yang dilakukan atas diri manusia berkenaan dengan orang yang dibunuh apabila keluarga kor … 2:178, 2 178, 2-178, Surah Al Baqarah 178, Tafsir surat AlBaqarah 178, Quran Al-Baqarah 178, Surah Al Baqarah ayat 178

QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 172 [QS. 3:172]

Orang-orang yang betul-betul disebut pejuang yaitu orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul dengan sepenuh hati, bahkan setelah mereka mendapat luka dalam Perang Uhud berupa bencana dan musib … 3:172, 3 172, 3-172, Surah Ali Imran 172, Tafsir surat AliImran 172, Quran Al Imran 172, Surah Ali Imran ayat 172

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #15

Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah … agar manusia tahu cara mencari rezeki agar manusia selamat dunia dan

Pendidikan Agama Islam #4

Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Pakaian taqwa

Pendidikan Agama Islam #14

Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Htaman Nabiyyin Uswatun Hasanah Uswatun khisah Akhlakul karimah Akhlakul khabisah

Instagram