ma’mun

Kategori: Istilah Hadis

Ma’mun artinya adalah terpercaya atau dapat dipercaya.

Para perawi yang meriwayatkan hadits bukanlah semuanya dalam satu derajat dari segi keadilannya, kedlabithannya, dan hafalan mereka.
Di antara mereka ada yang hafalannya sempurna, ada yang kurang dalam hafalan dan ketepatan, dan ada pula yang sering lupa dan salah padahal mereka orang yang ‘adil dan amanah; serta ada juga yang berdusta dalam hadits.
Maka Allah menyingkap perbuatannya ini melalui tangan para ulama’ yang sempurna pengetahuan mereka.
Oleh karena itu, para ulama’ menetapkan tingkatan Jarh dan Ta’dil, dan lafadh-lafadh yang menunjukkan pada setiap tingaktan.
Tingkatan Ta’dil ada enam tingkatan, begitu pula dengan Jarh (ada enam tingkatan).

Tingkatan At-Ta’dil

1. Tingkatan Pertama

Yang menggunakan bentuk superlatif dalam penta’dil-an, atau dengan menggunakan wazan af’ala dengan menggunakan ungkapan-ungkapan seperti :
“Fulan kepadanyalah puncak ketepatan dalam periwayatan”
atau
“Fulan yang paling tepat periwayatan dan ucapannya”
atau Fulan orang yang paling kuat hafalan dan ingatannya”.

2. Tingkatan Kedua

Dengan menyebutkan sifat yang menguatkan ke-tsiqah-annya, ke-‘adil-annya, dan ketepatan periwayatannya, baik dengan lafadh maupun dengan makna; seperti : tsiqatun-tsiqah, atau tsiqatun-tsabt, atau tsiqah dan terpercaya (ma’mun), atau tsiqah dan hafidh.

3. Tingkatan Ketiga

Yang menunjukkan adanya pentsiqahan tanpa adanya penguatan atas hal itu, seperti : tsiqah, tsabt, atau hafidh.

4. Tingkatan Keempat

Yang menunjukkan adanya ke-‘adil-an dan kepercayaan tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian.
Seperti : Shaduq, Ma’mun (dipercaya), mahalluhu ash-shidq (ia tempatnya kejujuran), atau laa ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya).
Khusus untuk Ibnu Ma’in kalimat laa ba’sa bihi adalah tsiqah (Ibnu Ma’in dikenal sebagai ahli hadits yang mutasyaddid, sehingga lafadh yang biasa saja bila ia ucapkan sudah cukup untuk menunjukkan ketsqahan perawi tersebut).

5. Tingkatan Kelima

Yang tidak menunjukkan adanya pentsiqahan ataupun celaan; seperti : Fulan Syaikh (fulan seorang syaikh), ruwiya ‘anhul-hadiits (diriwayatkan darinya hadits), atau hasanul-hadiits (yang baik haditsnya).

6. Tingkatan Keenam

Isyarat yang mendekati celaan (jarh), seperti : Shalihul-Hadiits (haditsnya lumayan), atau yuktabu hadiitsuhu (ditulis haditsnya).



۞ Variasi nama: tsiqah ma`mun

Bagikan ke FB
Bagikan ke TW

Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya

Hadits Shahih

Ayat Alquran

QS. Yunus (Nabi Yunus) – surah 10 ayat 39 [QS. 10:39]

Orang-orang musyrik menolak kebenaran Al-Qur’an bukan karena mereka tidak tahu kebenaran itu, tetapi antara lain karena keangkuhan mereka. Bahkan yang sebenarnya terjadi adalah mereka mendustakan apa … 10:39, 10 39, 10-39, Surah Yunus 39, Tafsir surat Yunus 39, Quran Yunus 39, Surah Yunus ayat 39

QS. Ath Thuur (Bukit) – surah 52 ayat 27 [QS. 52:27]

27. Sebagai rahmat dari dari Allah, maka Allah sesuai dengan janji-Nya memberikan karunia surga kepada kami dan senantiasa memelihara kami dari azab neraka yang tidak terkirakan pedihnya. … 52:27, 52 27, 52-27, Surah Ath Thuur 27, Tafsir surat AthThuur 27, Quran Ath Thur 27, At Thur 27, At-Tur 27, Surah At Thur ayat 27

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #13

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Daging Unta Cuka dan labu Ayam bakar Roti dan kacang Kurma

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Al-Kautsar Al-Ikhlas Al-‘Asr Al-Fatihah An-Nash Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah Al-Kausar adalah surah ke-108

Pendidikan Agama Islam #20

Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu … Penetapan kalender hijriah Mendirikan kakbah Membentuk pos

Instagram