Haji Wada’

Kategori: Istilah Umum

Haji Wada’ (bahasa Arab: حجة الوداع‎) atau Haji Perpisahan merupakan haji terakhir bagi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, nabi umat Islam, yang dilaksanakan pada tahun 10 Hijriyah (632 Masehi).
Kaum muslim mematuhi setiap gerakan, tindakan, dan gerak-gerik Nabi Muhammad pada ketika itu, dan setiap perbuatan yang dilakukan olehnya menjadi contoh untuk selama-lamanya bagi muslim di seluruh dunia.

Waktu pelaksanaan

Perselisihan pendapat
Ada sementara kalangan yang menyebut bahwa Allah mewajibkan haji pada tahun ke-10, ke-9, ke-6 Hijriyah dan ada juga yang menyatakan bahwa haji telah diwajibkan sebelum Rasulullah berhijrah.
Pernyataan-pernyataan ini jelas janggal dan aneh.
Ibnu Qayyim menyatakan, berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan dapat dipercaya, haji diwajibkan pada tahun ke-10 Hijriyah.
Inilah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah agar manusia tidak menunda-nunda suatu kewajiban.
Terkait dengan kewajiban haji ini, Allah berfirman,
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”
Padahal ayat ini turun pada Tahun Perutusan atau akhir tahun ke-9 Hijriyah.

Haji Pertama dan Terakhir
Di dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Rasulullah sendiri tidak pernah melakukan haji dari Madinah, kecuali yang beliau lakukan pada tahun ke-10 Hijriyah.
Haji ini kemudian dikenal dengan nama haji balâgh (haji penyampaian dakwah Allah), haji Islam (haji penyerahan diri), dan haji Wada’ (haji perpisahan).
Pasalnya, haji ini adalah haji terakhir Rasulullah bersama kaum Muslimin.
Sesudah itu, beliau tidak pernah berhaji lagi.
Disebut sebagai haji balâgh karena pada saat itu Rasulullah menyampaikan ajaran Allah berupa diwajibkannya haji kepada seluruh umat manusia, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.
Bahkan, tidak ada satu pun unsur dan nilai ajaran Islam, kecuali beliau telah menjelaskannya secara rinci.
Ketika beliau tengah menerangkan masalah haji keapda seluruh Muslimin yang hadir di padang Arafah, Allah menurunkan ayat,
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agama bagimu.”

Semangat haji
Ketika Rasulullah mengumumkan keinginan kuat beliau untuk melaksanakan haji, tepatnya pada tahun ke-10 Hijriyah, banyak sekali orang yang datang ke Madinah.
Mereka semua ingin menyempurnakan keislaman mereka dengan melaksanakan rukun Islam yang kelima dan melakukan apapun yang dilakukan oleh Rasulullah.

Rasulullah keluar dari Madinah pada tanggal 5 Dzulqa’dah.
Baik di perjalanan pergi maupun pulang dari haji, terjadi berbagai peristiwa.
Perjalanan beliau ini telah memberi inspirasi kepada para ulama fikih sehingga tercipta bab-bab fikih ibadah di mana para ulama, baik ulama terdahulu maupun kontemporer, mengajinya secara khusus.
Mereka membuat bab haji secara tersendiri di dalam kitab-kitab yang mereka tulis.

Khutbah Perpisahan
Di bab-bab fikih ibadah, semua orang akan dengan mudah menemukan bagaimana tata cara haji dan hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah itu.
Di sampign itu seseorang juga akan dengan mudah menemukan berbagai wasiat Rasulullah untuk umat beliau.
Salah satu khutbah haji paling masyhur yang disampaikan oleh Rasulullah adalah khutbah beliau di tengah lautan manusia yang tengah berhaji ketika mereka melalui hari-hari Tasyriq.
Salah satu ucapan beliau adalah,
“Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci, sama seperti sucinya hari yang kalian jalani ini, pada bulan ini, di negeri kalian ini.
Ingatlah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa Jahiliyah dan disaksikan oleh kedua mata kakiku ini telah dihapuskan.

Bahwa darah yang tertumpah pada masa Jahiliyah, semuanya telah dihapuskan.
Darah pertama dari sekian banyak darah kita yang telah kuhapuskan adalah darah Ibnu Rabi’ah ibn Harits.
Pada saat itu, Ibnu RAbi’ah disusui di tempat Bani Sa’ad, kemudian dibunuh oleh Hudzail.

Bahwa riba yang dijalankan pada masa Jahiliyah telah dihapuskan.
Dan praktek riba yang pertama kali dihapuskan adalah riba yang terjadi di antara kita, riba yang dilakukan oleh Abbas ibn Abdil Muththalib.
Maka, sesungguhnya sleuruh riba yang telah dilakukan olehnya telah dihapuskan.

Takutlah kalian kepada Allah dalam soal perempuan.
Sesungguhnya kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah dan menghalalkan kehormatan mereka dengan mengatasnamakan Allah.
Hak kalian atas mereka adalah bahwa mereka tidak mengizinkan seseorang yang tidak kalian sukai menginjakkan kakinya di lantai kalian.
Jika mereka tetap melakukannya (melanggar perintah suami dengan memasukkan orang lain ke tempat tidur), pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan.
Dan hak mereka atas kalian adalah memberikan nafkah dan pakaian dengan cara yang baik.

Dan sesungguhnya telah kutinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.
Sesuatu itu adalah Kitab Allah.

Apabila pada hari kemudian aku mempertanyakan semua itu kepada kalian, apa jawaban kalian?

Mereka (kaum Muslimin yang mengikuti haji pada tahun itu) berkata,
“Kami bersaksi bahwa sesungguhnya Anda benar-benar telah menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan Anda, melaksanakannya, dan menasihatkannya kepada umat Anda.
Anda telah menjalankan segala sesuatu yang ada pada Anda.”

Rasulullah berkata,
“Ya Allah, saksikanlah.”

Beliau mengucapkan kata-kata tersebut sebanyak tiga kali.

Kemudian, di sela-sela khutbahnya Rasulullah berkata,
“…
celakalah kalian, perhatikanlah oleh kalian, janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, di mana kalian menghancurkan dan memerangi satu sama lain.”

Beliau berkata pula,
“Sesungguhnya setan sudah kehilangan harapan untuk dapat disembah di bumi kalian ini.
Akan tetapi, ia punya kesempatan untuk dipertuan manusia dalam berbagai hal selain itu, dan semuanya bersumber dari perbuatan kalian.
Oleh karena itu, berhati-hatilah, saudara-saudara.

Sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu.
Seandainya kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya.
Sesuatu itu adalah Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.

Sesungguhnya setiap Muslim adalah saudara bagi setiap Muslim lainnya.
Seluruh Muslimin adalah bersaudara.
Oleh sebab itu tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk mengambil harta saudaranya, kecuali sesuatu yang diberikan atas kebaikan hatinya…

Dalam khutbah tersebut beliau juga menyampaikan pesan pesan sebagai berikut:

  1. ”Hai sekalian manusia dengarkan perkataanku ini.
    Sebab saya tidak tahu, barangkali kita tidak berjumpa lagi pada tahun depan seperti ini”.
  2. Sesama muslim diharamkan saling menumpahkan darah, mengambil harta, dan melaksanakan segala macam riba.
  3. Tuhan hanya satu.
  4. Asal kejadian manusia juga satu yaitu Adam.
  5. Tidak ada kelebihan antara bangsa Arab dengan yang lainnya, yang membedakan hanyalah takwa dihadapan allah Subhanahu Wa Ta`ala
Analisis

Hikmah dari haji Wada’

  1. Rasulullah ingin mengajarkan kepada umatnya tentang tata cara melaksanakan haji yang diajarkan oleh Islam setelah diharamkannya beberapa unsur Jahiliyah, seperti berdesak-desakan, bersiul-siul, dan bertelanjang saat melakukan thawaf setelah dibersihkannya semua berhala yang ada di Ka’bah.
  2. Ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah dalam haji Wada’ ini.
    * Rasulullah ingin bertemu dengan seluruh Muslimin yang datang kepada beliau dari berbagai penjuru.
    * Menyampaikan kepada mereka berbagai ajaran dan prinsip Islam dengan kalimat yang singkat dan padat.
  3. Menganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menyampaikan semua hal yang telah beliau sampaikan kepada siapa saja yang belum mendengarnya, di manapun mereka berada, hingga datangnya Hari Kiamat kelak.
  4. Tujuan Rasulullah melaksanakan ibadah haji adalah juga untuk memberikan contoh praktis kepada seluruh umat manusia tentang tata cara menjalankan rukun Islam yang kelima.
    Karena itu, khutbah beliau pada haji ini banyak menerangkan tentang hukum-hukum haji dan beberapa prinsip dan ajaran dasar Islam.
Hukum-hukum

Adapun hadis terpenting yang menjelaskan tentang hukum-hukum haji yang dilakukan oleh Rasulullah dan wasiat beliau saat itu adalah yang bersumber dari Jabir dandiriwayatkan oleh Muslim.
Tentang hal ini, an-Nawawi mengatakan,
Hadis ini penting dan memuat berbagai ajaran dan prinsip dasar Islam yang sangat urgen.
Hadis ini diriwayakan oleh Muslim sendirian, sebab al-Bukhari tidak meriwayatkannya di kitab Shaḥîḥ-nya.
Selain Muslim, ada satu perawi lain yang juga meriwayatkan hadis tersebut, yakni Abu Daud.
Akan tetapi, hadis yang diriwayatkannya sama persis seperti yang diriwayatkan oleh Muslim.”

Qadhi Iyadh berkata,
“Banyak orang yang mengatakan bahwa riwayat itu sarat dengan hukum-hukum fikih.
Bahkan Abu Bakar ibn Mundzir menulis satu bab yang cukup panjang untuk menjelaskan 150 hukum yang bisa disarikan dari peristiwa haji Wada’ ini…”

Al-Albani telah meringkas hukm-hukum fikih dari haji Wada’ Rasulullah menjadi 72 pokok permasalahan.

Salah satu kitab penting yang berhubungan dengan haji Wada’ adalah Zâd al-Ma’âd, di mana Syu’aib al-Arnauth dan Abdul Qadir al-Arnauth menyebutkan banyak hikmah dan pelajaran dari peristiwa ini.

Prinsip dasar

Beberapa prinsip ajaran Islam yang ditegaskan dan diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya saat itu adalah sebagai berikut.

  1. Pengumuman tentang hak-hak asasi seorang Muslim, bahwa jiwa, darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim adalah suci.
  2. Pemberitahuan tentang diharamkannya kezaliman, riba, dan seluruh tradisi Jahiliyah yang membahayakan.
  3. Pengumuman tentang hak-hak asasi kaum perempuan dan perintah untuk mengakui keberadaan perempuan secara baik-baik. Di samping itu juga ada penjelasan tentang hak-hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya.
  4. Pemberitahuan tentang diharamkannya mewasiatkan harta pusaka kepada ahli waris. Disebutkan juga beberapa hukum harta pusaka sebagaimana yang termaktub di dalam Alquran.
  5. Pemberitahuan tentang diharamkannya mengadopsi anak angkat dan memperlakukannya seperti anak sendiri atau menisbatkan nama anak tersebut kepada si pengasuh (tabanni). Hal ini juga merupakan isyarat diharamkannya penisbatan nama seorang anak kepada seseorang yang bukan ayah kandungnya sendiri.
  6. Penentuan bahwa nasab seorang anak hasil zina mengikuti orang yang berada di atas kasur kelahirannya (suami sah ibunya).
    Adapun pezina atau orang yang menzinai ibu si anak harus dihukum rajam dan tidak berhak mengakuinya sebagai anak.
  7. Pemberitahuan kepada seluruh umat Islam bahwa seorang Muslim adalah orang yang mampu menjaga lisan da tangannya dari perbuatan yang tidak menyenangkan Muslim lainnya.
    Seorang mukmin adalah orang yang dapat memegang amanat dalam menjaga harta dan jiwa Muslimin lainnya.
    Orang yang berhijrah adalah orang-orang yang berusaha menjauhkan dirinya dari berbagai kesalahan dan dosa.
    Sedangkan mujahid adalah orang yang membimbing jiwanya dengan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah, menjalankan amanat yang diberikan kepadanya, kemudian menyampaikan amanat itu kepada orang yang dituju.
  8. Peringatan bagi seluruh umat Islam untuk tidak berbohong dan menuduh Rasulullah pernah berbuat dusta.
    Untuk itu, beliau bersabda,
    “Barangsiapa mendustakan aku, niscaya ia akan kekal di tempatnya di neraka.”
  9. Wasiat bagi seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada Alquran dan sunnah.
    Rasulullah bersabda,
    “Dan aku telah meninggalkan sesuatu, yang jika kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.”
  10. Pesan bahwa seluruh Muslim adalah bersaudara.
    Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada setiap Muslim untuk tidak mengambil harta Muslim lainnya, kecuali dengan cara yang baik.
  11. Perintah kepada umat Islam untuk selalu tunduk dan patuh kepada pemimpinnya, apapun ras, warna kulit, atau kedudukan sosialnya.
    Tentunya selama para pemimpin tersebut berjalan pada koridor yang telah ditetapkan oleh ajaran Allah (Alquran).
  12. Anjuran agar kita senantiasa berlomba-lomba hanya dalam ketakwaan dan bukan dalam kemaksiatan.
  13. Pesan agar kita berlemah-lembut kepada orang-orang yang lemah.
  14. Pesan bahwa ada tiga hal yang dapat menjauhkan hati manusia dari sifat dendam dan dengki, yakni ikhlas dalam beramal (berbuat hanya karena Allah), mengikuti nasihat pemimpin, dan terus merapatkan diri dengan barisan kaum Muslimin.


Podcast

Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim
               



Ikuti RisalahMuslim