Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Bani Quraizah

Kategori: Nama Golongan

Bani Quraizhah (bahasa Arab: بنی قُریظه) adalah kabilah Yahudi yang tinggal di kota Madinah pada permulaan tahun-tahun pertama setelah hijrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Perang terakhir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Yahudi kota Madinah adalah perang melawan Bani Quraizhah yang terjadi pada tahun ke-5 H dan bernama Perang Bani Quraizhah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah selesai perang Ahzab bergerak menuju pemukiman Bani Quraizhah dengan pasukannya.
Setelah terkepung selama 15 hari, mereka meminta supaya diadakan perdamaian kemudian mereka menerima pengadilan Sa’ad bin Mu’adz.
Sa’ad tidak seperti kemauan kabilahnya, memerintahkan supaya membunuh prajurit-prajurit Bani Quraizhah dan membagi harta mereka.
Namun Sayid Ja’far Syahidi seorang periset dan sejarawan kontemporer dengan bersandar pada adanya perbedaan-perbedaan rujukan dalam sumber-sumber sejarah serta beberapa bukti yang lainnya, meragukan kejadian itu.
Sebab dimulainya perang dengan Bani Quraizhah karena mereka bekerja sama dengan kaum musyrikin dalam perang Ahzab.

Berdasarkan sumber sejarah, kabilah Bani Quraizhah dan Bani Nadhir merupakan keturunan Nabi Harun as, saudara Nabi Musa as yang sebelum hijrahnya suku Aus dan Khazraj ke Yatsrib tinggal dan berkuasa di sana, namun setelah kekalahan pemerintahan Yahudi di Yaman dari Raja Kristen Habasyah, kabilah Khazraj menang dalam perang melawan kaum Yahudi dan menguasai kota Yaman.

Informasi Umum



Kabilah Yahudi Bani Quraizhah dalam banyak referensi sejarah bersama dengan Bani Nadhir adalah keturunan Nabi Harun as, saudara Nabi Musa as.
Meskipun demikian, menurut referensi lain, mereka menilai bahwa Bani Quraizhah berasal dari kabilah Judzam di Palestina yang pada masa Adiya bin Samuel memeluk agama Yahudi.


Dikatakan bahwa kaum Yahudi Bani Quraizhah sebelum hijarhnya kabilah Arab yaitu Aus dan Khazraj ke Yatsrib, mereka tinggal di sana.
Berdasarkan hal ini, karena adanya peperangan yang terjadi antara Romawi dan Yahudi pada tahun 70 Masehi, Bani Quraizhah melarikan diri ke HIjaz dan tinggal di daerah Mahzur, Yatsrib.


Bani Quraizhah mengurus administrasi pemerintahan kota Yatsrib bersamaan dengan kabilah-kabilah Yahudi.
Sumber-sumber sejarah mengabarkan tentang kurangnya kekuatan kaum Yahudi di Madinah setelah kalah melawan pemerintahan Yahudi Yaman dari raja Habasyah.
Pemerintahan Habasyah, berada dibawah lindungan kaum Romawi.
Pada akhirnya, dalam peperangan Khazraj dengan Yahudi, raja mereka terbunuh dan orang Arab mengambil alih pemerintahan.


Penguasaan kabilah Arab di Madinah menyebabkan keluarnya orang Yahudi dari kota ini.
Demikian juga dilaporkan bahwa pada masa menjelang munculnya agama Islam, kabilah Yahudi hidup di luar kota dan di benteng-benteng mereka.
Bani Quraizhah, pada masa ini, memiliki penduduk yang lebih banyak dan memiliki lebih banyak pengaruh bila dibandingkan dengan Bani Nadhir dan Bani Qainuqa’.
Posisi pemukiman mereka berada di sebelah tenggara kota Madinah.
dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.


Perang Bani Quraizhah



Berdasarkan tulisan beberapa pengarang kitab, hanya ada satu laporan tentang Bani Quraizhah dalam referensi-referensi Islam, dan hal itu berkaitan dengan peperangan kaum Muslimin dengan mereka yang terjadi pada tahun ke-5 H dan laporan lainnya tentang sejarah dan keadaan kabilah ini yang juga dibahas ketika menjelaskan tentang sejarah suku Aus dan Khazraj.


Perang Bani Quraizhah dilaporkan terjadi pada akhir bulan Dzulkaidah dan pada awal Dzulhijjah tahun ke 5 H/626, perang terakhir antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi di Madinah.
Berdasarkan referensi-referensi Islam, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah selesai perang Ahzab dan setelah musuh lari langsung berperang melawan Bani Quraizhah.
Kaum Muslimin mengepung kaum Yahudi di benteng dan rumah-rumah Bani Quraizhah selama 15 hari.
Pada akhirnya Bani Quraizhah mengusulkan perdamaian dan menerima penghakiman yang diputuskan oleh Sa’ad bin Mu’adz.


Berdasarkan sumber-sumber sejarah, Sa’ad bin Mu’adz yang sedang dalam keadaan terluka dan sakit, justru bersikap yang berdeda dari kaumnya.
Saad memutuskan bahwa orang-orang laki-laki Yahudi Bani harus dibunuh, harta mereka harus dibagi-bagi dan anak-anak mereka harus ditawan.


Dalam sumber-sumber sejarah disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai keputusan yang dibuat oleh Sa’ad bin Mu’adz adalah berdasarkan keputusan Tuhan.
Penyebab terjadinya perang ini adalah pelanggaran janji yang dikakukan oleh Bani Quraizhah dan kerja sama mereka dengan kaum musyrikin dalam Perang Ahzab melawan kaum muslimin.


Sayid Ja’far Syahidi, seorang peneliti dan penulis sejarah pada masa kini dengan mendasarkan pada banyaknya perbedaan yang banyak dalam sumber-sumber sejarah dan demikian juga adanya kenyataan lainnya seperti banyaknya jumlah penduduk di Madinah dan demikian juga tindakan perilaku berdasarkan kasih sayang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa tersebut, mempertanyakan, khususnya tentang jumlah orang yang terbunuh antara 600 hingga 900 dari Bani Quraizhah adalah cerita yang dibuat-buat dan telah dimanipulasi dan hal itu adalah sebuah bentuk upaya keras kaum Khazraj untuk mengurangi kedudukan suku Aus dalam pandangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .


Ibnu Syahab Zuhri (51 H/671 – 124 H/741) dalam kitab al-Maghazi al-Nabawiyyah, meskipun mengisyaratkan tentang keputusan Sa’ad bin Mu’adz dan pengakuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa keputusan yang diberikan oleh Sa’ad bin Mu’adz sesuai perintah Allah, namun ia hanya mengisyaratkan tentang pembunuhan Hubbi bin Akhtab, pembesar Bani Nadhir yang memprovokasi Bani Quraizhah untuk memusuhi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.




———


PERANG BANI QURAIZHAH



Penghianatan kaum Yahudi terhadap perjanjian damai dengan kaum Muslimin begitu menyakitkan.
Apalagi peristiwa itu terjadi kala kaum Muslimin berada dalam kondisi kritis karena menghadapi pengepungan pasukan sekutu dengan jumlah besar dalam perang Khandaq.
Pengkhianatan inilah diantara penyebab terjadinya peperangan baru setelah perang Khandaq.
Pengkhianatan itu sendiri diprovokatori oleh Huyay bin Akhthab an-Nadhariy.
Perang ini dikenal dengan Perang Bani Quraizhah.
Peperangan ini terjadi pada akhir Dzulqa’dah dan awal Dzulhijjah pada tahun ke-5 hijriyah.

Usai perang Khandaq, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke Madinah dan meletakkan senjatanya.
Namun ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mandi di rumah Ummu Salamah Radhyallahu anha, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Malaikat Jibril Alaihissallam dan mengatakan :

قَدْ وَضَعْتَ السِّلَاحَ وَاللَّهِ مَا وَضَعْنَاهُ فَاخْرُجْ إِلَيْهِمْ قَالَ فَإِلَى أَيْنَ قَالَ هَا هُنَا وَأَشَارَ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ

Kalian sudah meletakkan senjata kalian ?
Demi Allâh, kami belum meletakkannya, keluarlah menuju mereka! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Kemana ?’ Jibril menjawab, ‘Kearah sini.’ Jibril Alaihissallam menunjukkan arah Bani Quraizhah.
[HR Bukhâri, al-Fath, 15/293, no. 4117]

Menerima perintah ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas untuk melaksanakannya dan menginstruksikan kepada para shahabatnya untuk segera bergerak ke arah Bani Quraizhah.
Bahkan supaya cepat sampai tujuan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah [HR. Bukhâri, al-Fath, 15/293, no. 4119]

Dalam riwayat Imam Muslim, no. 1770 :

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الظُّهْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah ada satupun yang shalat Zhuhur kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.

Referensi: https://almanhaj.or.id/4082-perang-bani-quraizhah.html







Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya





Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim