Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

baiat

Kategori: Istilah Umum

bai.at [n]
(1) pelantikan secara resmi; pengangkatan; pengukuhan;
(2) [isl] pengucapan sumpah setia kepada imam (pemimpin)





”Bai’at adalah janji untuk taat. Seolah orang yang berbai’at itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijakan terkait urusan dirinya dan urusan kaum muslimin. Tanpa sedikitpun berkeinginan menentangnya. Serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak.”
(Mukadimah Ibnu Khaldun, 1/108).


Istilah baiat telah dikenal sejaka masa silam, bahkan sebelum Islam. Masyarakat memberikan baiatnya kepada masing-masing kepala kabilah mereka. Mentaati setiap perintah dan larangan pimpinan kabilah.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, setiap orang yang masuk islam, membaiat beliau. Mereka berjanji setia untuk mendengar dan taat kepada semua aturan beliau dan juga berbaiat untuk melindungi beliau.

Dalam sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita mengenal baiat aqabah pertama, baiat aqabah kedua, kemudian ada juga baiat ridhwan, untuk menuntut darah Utsman.

Salah satu isi baiat sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinyatakan dalam hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa orang Madinah yang membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bertanya,

“Apa yang harus kami Baiatkan?”

Lalu beliau bersabda,

Kalian baiat aku untuk mendengar dan taat, baik ketika sedang semangat maupun lagi malas. Untuk memberi nafkah baik ketika sedang sulit maupun sedang longgar, untuk selalu amar makruf nahi munkar, menyatakan kebenaran syariat Allah, tanpa takut dengan celaan apapun. Dan baiat untuk membelaku jika aku datang ke negeri kalian, dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian, istri kalian, dan anak kalian. Sehingga kalian mendapat surga.
(HR. Ibn Majah 7012 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Demikianlah para khalifah, semuanya dibaiat oleh ahlul halli wal aqdi, sebagai wakil dari umat.

Wajib Baiat Kepada Pemerintah yang Sah

Islam sangat antuasias untuk mewujudkan persatuan umatnya. Sementara persatuan tidak mungkin terwujud, kecuali jika di sana ada satu imam yang memimpin semuanya. Karena itulah, ketika di tengah kaum muslimin ada pemimpin dan pemerintah yang sah, maka kaum muslimin diwajibkan membaiatnya.

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada ikatan bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah”.
(HR. Muslim 4899).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya mati dalam kondisi jahiliyah karena manusia yang hidup di zaman jahiliyah, mereka tidak punya pemimin satu negara. Adanya pemimpin kabilah-kabilah kecil. Sehingga peluang terjadinya peperangan antar-suku sangat besar.

An-Nawawi mengatakan,

(ميتة جاهلية) أي على صفة موتهم من حيث هم فوضى لا إمام لهم

Mati dalam keadaan jahiliyah artinya mati seperti orang jahiliyah, dimana mereka suka perang, kacau, tidak punya pemimpin tunggal.
(Syarh Shahih Muslim, 12/238).

Sehingga makna hadis, orang yang tidak membaiat pemerintah yang sah, seperti orang jahiliyah. Ini sejalan dengan keteragan di hadis lain, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Siapa yang tidak mau taat, memisahkan diri dari jamaah (di bawah imam), hingga dia mati maka dia mati jahiliyah
(HR. Muslim 1848).



Demikian pula ketika dalam satu wilayah negara ada lebih dari satu pemimpin, maka salah satunya harus dibunuh.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا

“Jika ada dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang dibaiat terakhir”.
(HR. Muslim 4905)



Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَايَعَ إِمَاماً فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ َإِنْ جِاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ

“Barangsiapa berbai’at kepada seorang imam (penguasa), ia memberikan telapak tangannya dan buah hatinya, maka hendaklan ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, jika kemudian ada orang lain yang menentangnya, maka penggallah leher orang itu.”
(HR. Ahmad 6657, Abu Daud 4250 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).



Dengan demikian, baiat sifatnya mengikat dan menutup. Mengikat masyarakat setelah mereka membaiat agar tidak melepaskan baiatnya dan menutup terjadinya baiat yang baru. Dengan batasan ini, tidak ada lagi peluang terjadinya pemberontakan atau kekacauan di tengah kaum muslimin.

Baiat Menyatukan Umat

Sekali lagi, inilah tujuan besar baiat. Baiat menyatukan umat. Sehingga baiat yang dilakukan kelompok-kelompok kecil, mencintai jika mereka satu kelompok, dan membenci jika beda kelompok, ini jelas baiat yang merusak persatuan umat.

Anda bisa lihat seperti yang dilakukan LDII. Loyallitas dibangun karena kelompok. Siapa yang sepakat menunjuk Madigol Abu Ubaidah sebagai imam, mengiuti semua pendapatnya dan taat pada khuthut LDII maka dia kawan. Di luar itu, sesat dan musuh.

Atau yang dilakukan NII, mereka membuat baiat yang mengikat lingkup kelompoknya. Selain NII, mereka adalah thaghut.



Syaikhul Islam mengatakan,

“Tidak ada seorang pun diantara mereka yang berhak meminta seseorang supaya berjanji untuk menyepakati semua keinginannya, mencintai orang yang dicintainya dan membenci orang yang dibencinya. Siapapun yang melakukan perbuatan ini, maka ia sama dengan Jengis Khan dan sebangsanya, yang menganggap orang yang menyepakati mereka sebagai teman, dan menganggap orang yang berbeda dengan mereka sebagai musuh.” (Majmu’ Fatawa (28/16)

Baiat-baiat yang dilakukan oleh pengikut kelompok-kelompok ini justru memecah-belah kaum muslimin. Jelas masyarakat tidak akan bersedia ketika mereka dipaksa untuk mengikuti semua pendapat imam LDII atau NII. Inilah yang disebut baiat bid’ah. Allah mencelanya dalam al-Quran

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
(QS. ar-Rum: 32).



Dr. Sholeh al-Fauzan mengatakan,

البيعة لا تكون إلا لولي أمر المسلمين ، وهذه البيعات المتعددة مبتدعة ، وهي من إفرازات الاختلاف ، والواجب على المسلمين الذين هم في بلد واحد وفي مملكة واحدة أن تكون بيعتهم واحدة لإمام واحد ، ولا يجوز المبايعات المتعددة

Baiat hanya diberikan kepada satu pemimpin kaum muslimin. Sementara baiat yang banyak, statusnya bid’ah. Dan ini sumber ikhtilaf. Kewajiban kaum muslimin yang tinggal di negeri tertentu, di wilayah kekuasaan tertentu, agar baiat mereka hanya ditujukan untuk satu orang, satu pemimpin. Dan tidak boleh ada banyak baiat. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan, 1/367)

Allahu a’lam.

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)


۞ Variasi nama: berbaiat, berbai’at, bai’at

Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA

Video

Panggil Video Lainnya

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah,
dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
QS. At-Tagabun [64]: 11

Allah berfirman:
“Di bumi itu kamu hidup & di bumi itu kamu mati,
dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.
QS. Al-A’raf [7]: 25

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik & berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama & tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
QS. Al-Mumtahanah [60]: 8

Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki & Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.
Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Ali ‘Imran [3]: 26

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara … Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan … Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Kamus

Al Wahhaab

Apa itu Al Wahhaab? Allah itu Al-Wahhab . Allah itu Al-Wahhab, artinya Maha Pemberi karunia kepada seluruh makhluk-Nya. Coba lihat tubuh kita, ada hidung, telinga, mata, kaki, tangan dan kaki serta y...

fukaha

Apa itu fukaha? fu.ka.ha para ahli hukum Islam ۞ Variasi nama: fuqaha … • fuqaha

masuliah

Apa itu masuliah? ma.su.li.ah tanggung jawab; mendidik anak adalah masuliah orang tuanya … •

bidah

Apa itu bidah? bid.ah (1) perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan; (2) pembaruan ajaran Islam tanpa berpedoman pada Alquran d...

At-Takwir

Apa itu At-Takwir? Surah At-Takwir (Arab: التّكوير , “Menggulung”) adalah surah ke-81 dalam Alquran. Surah ini tergolong surat Makkiyah, terdiri atas 29 ayat. Dinamakan At Takwiir ...

nahi

Apa itu nahi? na.hi yang dilarang; larangan … •