Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Asy’ariyah

Kategori: Nama Golongan

Asy’ariyah adalah mazhab teologi yang disandarkan kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari (w.323 H/935 M).

Asy’ariyah mengambil dasar keyakinannya dari Kullabiyah, yaitu pemikiran dari Abu Muhammad bin Kullab dalam meyakini sifat-sifat Allah.
Kemudian mengedepankan akal (rasional) di atas tekstual ayat (nash) dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits.

Keyakinan
Abul Hasan al-Asy’ari dalam masalah keyakinan terhadap sifat Allah mengikuti pendapat Ibnu Kullab, seorang tokoh ahlul kalam (filsafat) dari Bashrah di zamannya.
Imam Al-Asy’ari kemudian berpindah pemahaman tiga kali sepanjang hayatnya.


Ulama Asy’ariyah selanjutnya seperti Imam al-Haramian Al-Juwaini dan selainnya melakukan takwil terhadap sifat Allah dan menggunakan prinsip pokok (ushul) akidah Muktazilah ke dalam mazhabnya.
Metode Takwil disebutkan oleh Ibnu Faurak dalam kitab Takwil, Muhammad bin Umar ar-Razi dalam kitabnya Ta’sisut Taqdis, juga ada pada Abul Wafa Ibnu Aqil dan Abu Hamid al-Ghazali, takwil-takwil tersebut bersumber dari Bisyr al-Marisi, seorang tokoh Mu’tazilah.

Asy’ariyah awalnya hanya menetapkan tujuh sifat ma’ani saja bagi Allah yang ditetapkan menurut akal (aqliyah) yaitu hayah, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, bashir, dan kalam.
Kemudian ditambahkan oleh As-Sanusi menjadi dua puluh sifat, dan tidak menetapkan satu pun sifat fi’liyah (seperti istiwa, nuzul, cinta, ridha, marah, dst).


Sejarah
Asy’ariyah berkembang pesat mulai abad ke-11 M Bersama menyebarnya Tasawuf (sufi), pemahaman ini juga mendapat dukungan oleh para penguasa di beberapa pemerintahan Islam.
Asy’ariyah dijadikan mazhab resmi oleh Dinasti Gaznawi di India pada abad 11-12 M yang menyebabkan pemahaman ini dapat menyebar dari India, Pakistan, Afghanistan, hingga ke Indonesia.

Dinasti Seljuk pada abad 11-14 M Khalifah Aip Arsalan beserta Perdana menterinya, Nizam al-Mulk sangat mendukung aliran Asy’ariyah.
Sehingga pada masa itu, penyebaran paham Asy’ariyah mengalami kemajuan yang sangat pesat utamanya melalui lembaga pendidikan bernama Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk.

Referensi: Wikipedia




Pokok dasar pemahaman akidah “Ahulussunnah wal Jama’ah” selalu disandarkan pada aliran teologi akidah ketuhanan bermazhab “Al-Asy’ariyyah” dan “Al-Maturidiyyah”.
Jika dalam mazhab Fiqh, kita mengenal empat imam mazhab, seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafie, dan Imam Hambali, maka dalam mazhab akidah teologi Aswaja kita hanya akan mengenal dan memiliki dua imam utama saja, yaitu: Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

Pendiri mazhab teologi al-Asy’ari’ah adalah Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang bernama lengkap Abu Hasan al-Asy’ari Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-asy’ari.

Ia lahir di Bashrah pada tahun 260H/875 M dan masih merupakan keturunan dari sahabat Rasulullah, Abu Musa al-Asy’ari yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Pada mulanya, Imam Abu Hasan al-Asy’ari merupakan tokoh filosof beraliran Mu’tazillah yang kemudian berpindah haluan menentang teologi Mu’tazillah yang dianggapnya pemahaman Mu’tazillah telah menyimpang dan menyesatkan umat Islam.

Pemahaman Imam Abu Hasan al-Asy’ari juga dipengaruhi oleh paham Kullabiyyah, hingga akhirnya beliau mendirikan paham mazhab sendiri yang dikenal dengan aliran teologi “Al-Asy’ariyyah”.

Dalam karya tulisnya, Al-Ibanah bisa menjadi persoalan teologi mendasar dimana ketika menentukan sifat bagi Allah, Imam Abu Hasan al-Asy’ari membagi ada 7 sifat Ma’ani, yaitu sifat yang wajib bagi Allah, seperti:

1. Sifat Hayat (Mahahidup)
2. Sifat Qudrat (Mahakuasa)
3. Sifat Iradah (Mahaberkehendak)
4. Sifat ‘Ilmu (Mahatahu)
5. Sifat Kalam (Mahaberkata-kata)
6. Sifat Sama’ (Mahamendengar)
7. Sifat Bashar (Mahamelihat).


Selanjutnya, paham ini berkembang pesat dengan penambahan serta penyempurnaan 20 sifat bagi Allah atau yang lebih dikenal dengan istilah
“Sifat Dua Puluh”
untuk mensifati sifat wajib bagi sifat-sifat Allah.

Akidah al-Asy’ariah sangat menentang dan menolak pemahaman
“al-Mujassimah””
yaitu pemahaman yang menyerupakan Allah dengan sifat makhluk atau sifat kebendaan lainnya.


Mahasuci Allah, dari sifat Mujassimah, seperti: paham yang menyatakan Allah berada di langit, Allah turun ke langit dunia dan Allah memiliki wajah, mata, tangan dan sifat lain sebagainya yang menyerupai makhluk.

Padahal, Allah tidak menyerupai apa pun, baik dalam bentuk tashawuri, maupun dalam bentuk takhayyali.
Maha Suci Allah dari berbagai penyifatan tersebut.

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami sifat-sifat yang wajib bagi Allah, Imam Abu Hasan al-Asy’ari melakukan interpretasi ulang (takwil) dalam menjelaskan ayat-ayat atau hadits tekstual yang berkenaan sifat-sifat yang mutasyabihat bagi Allah dengan pendekatan logika, semisal:

“Tangan Allah” seperti yang terdapat pada Aurah Al-Fath di dalam Alqur’an.

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari mentakwilkan bahwa yang dimaksud “Tangan” di sana bukan dalam pengertian Hakiki, seperti tangan manusia, melainkan sebagai Majaz atau bentuk kiasan kebahasaan.
Kemudian, Imam Abu Hasan al-Asy’ari mentakwilkan “Yadun” sebagai “Al-Qudrah” atau kekuasaan bagi Allah.

Jika dipahami tanpa takwil, maka akan rancu pemahamannya, sebab mustahil bagi Allah memiliki ‘tangan’, karena jika Allah memiliki tangan sebagaimana makhluk berarti Allah menyerupai makhluk.
Hal itu jelas mustahil dan bertentangan dengan nash al-Qur’an,
“Dia Tidak Menyerupai Sesuatu Apapun”.

Pemahaman ini juga dianut oleh sebagian para imam dan ulama besar sesudahnya, seperti Imam Ghazali, Imam Ibnu Katsir, Imam Nawawi, hingga para imam muhaditsin lainnya yang populer dalam karya-karya mereka.

Akidah al-Asy’ariah berkembang pesat dari abad ke-11M hingga ke-12 M dan kemudian dijadikan akidah resmi Dinasti Ghaznawi di India, lalu berkembang pesat di Pakistan, Afghanistan hingga Indonesia.

Sejak Bani Seljuk berkuasa, teologi aliran Al-Asy’ariyyah juga berkembang pesat di Baghdad dan India setelah penguasa Dinasti Saljuk, Nizam Muluk mendirikan Madrasah Nidzamiyyah di Baghdad dan India pada kisaran abad ke 11 hingga ke 14 M.

Aliran teologi al-Asy’ariah pun dibawa masuk oleh para pendakwah Walisongo ke Nusantara kisaran abad ke-15 M dan berkembang pesat di kalangan umat Islam di Indonesia hingga hari ini dengan istilah yang populer dengan istilah
Ahlusunnah wal Jama’ah”.

Hal ini menegasikan tentang kebenaran hadits di atas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di antara kami, lalu beliau bersabda:

“Perhatikanlah, sungguh umat-umat terdahulu dari golongan ahli kitab sebelum kalian, telah terpecah menjadi 72 golongan, dan pada agama ini (Islam) kalian akan terpecah menjadi 73 golongan, dan 72 golongan berada di neraka, sedangkan hanya ada satu golongan yang berada di surga, yaitu “Al-Jama’ah.”
[HR. Abu Daud No 4597]

Pada redaksi hadits lain disebutkan, “Ahlussunnah wal Jama’ah”.
Dan ada pula riwayat yang menyebutkan, “Ana wa Ashhaby!”

Bersyukur dan berterima kasihlah atas perjuangan dan usaha keras ijtihad para ulama masa dahulu yang telah mencurahkan segenap pemikiran serta keilmuan mereka, sehingga kita mendapatkan kemudahan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama ini.

Inilah akidah dan aliran mazhan teologi “Al-Asy’ariyyah” yang menjadi panutan dan pemahaman para guru-guru serta ulama-ulama kita sejak dahulu yang harus tetap kita pegang dan pertahankan sampai ajal nanti.
Wallahu A’lam.

Referensi: sindonews.com
۞ Variasi nama:
Asy’ariah, al-Asy'ari
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA

Video


Load More

Asy-Syura

Apa itu Asy-Syura? Surah Asy-Syura adalah surah ke-42 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah makkiyah, terdiri atas 53 ayat. Dinamakan Asy-Syura yang berarti Musyawarah diambil dari kata Syuura yang terdapat pada ayat 38 pada surah ini. Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarah. Surah ini kadang kala dis … • Asy Shyuura, Asy-Syura, Asy Syuura, Ash Shura

kafir

Apa itu kafir? ka.fir orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya … • kekafiran

Ar Ra’uuf

Apa itu Ar Ra’uuf? Allah itu Ar-Ra’uf ◀ Artinya adalah Allah itu Maha Belas Kasih/Dzat Yang Maha Memberi Rahmat. Allah akan mengasihi seluruh makhluk-Nya yang selalu mengingat-Nya. Kasih Allah itu sangat melimpah dan tidak terbatas. Bagi orang-orang yang akan memasuki syurga di akhirat kelak, maka terlebih dahulu Allah akan memberikan ketenangan jiwa di dalam … • Ar-Ra’uuf, Ar-Ra’uf, Al Ra’uf

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Kategori: Nama Golongan

dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya
dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.
QS. Al-Anfal [8]: 26

۞ Variasi nama:
Asy’ariah, al-Asy'ari
Kategori: Nama Golongan

Allah berfirman:
“Di bumi itu kamu hidup & di bumi itu kamu mati,
dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.
QS. Al-A’raf [7]: 25

۞ Variasi nama:
Asy’ariah, al-Asy'ari
Kategori: Nama Golongan

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah,
lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.
Mereka itulah orang-orang yang fasik.
QS. Al-Hasyr [59]: 19

۞ Variasi nama:
Asy’ariah, al-Asy'ari
Kategori: Nama Golongan

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
Dan orang orang-orang yang menjaga salatnya.

أُو۟لَـٰٓئِكَ فِى جَنَّـٰتٍۢ مُّكْرَمُونَ
Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.
QS. Al-Ma’arij [70]: 34-35

۞ Variasi nama:
Asy’ariah, al-Asy'ari

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … Takdir yang bisa diubah dinamakan … Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah … Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir … Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah …

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … Hukum penggunaan hadis sebagai dasar hukum adalah … Orang yang menceritakan hadits disebut … Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali …

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Kamus

Al Hayyu

Apa itu Al Hayyu? Allah itu Al-Hayyu ◀ Artinya adalah Allah itu Yang Maha Hidup dengan kehidupan yang sempurna. Allah itu akan selalu hidup, tidak pernah tidur dan mati. Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Hidup, tidak akan pernah mati untuk selama-lamanya. Sedangkan segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi ini adalah makhluq ciptaan-Nya. Dan segala sesuatu … • Al-Hayyu, Al Hayy

Nuh

Apa itu Nuh? Surah Nuh adalah surah ke-71 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 28 ayat. Dinamakan dengan surat Nuh karena surat ini seluruhnya menjelaskan ajakan, pengaduan dan doa Nabi Nuh terhadap kaumnya. Nomor Surah Nama Surah Nuh

Mahram

Apa itu Mahram? Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam. Muslim di Asia Tenggara sering salah dalam menggunakan istilah mahram ini dengan kata muhrim, sebenarnya kata muhrim memiliki arti yang lain. Dalam bahasa arab, kata muhrim artinya orang yang berihram … •

warak

Apa itu warak? wa.rak patuh dan taat kepada Allah; kita harus warak berpantang segala larangan badak … • wara’

Hibah

Apa itu Hibah? Hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain yang dilakukan ketika masih hidup dan pelaksanaan pembagiannya dilakukan pada waktu penghibah masih hidup juga. Syarat Hibah ● Ijab, pernyataan pemberian oleh pemberi. ● Qabul, pernyataan penerimaan oleh si penerima. ● Qabdhah, proses penyerahan barang. … •

naqal

Apa itu naqal? na.qal kutipan berdasarkan Alquran dan hadis … •