Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

adzan

Kategori: Istilah Salat

Azan (ejaan KBBI) atau adzan (Arab: أذان) merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu.
Dikumandangkan oleh seorang muazin setiap salat lima waktu.
biasanya setelah azan selalu di iringi dengan iqomah sebagai seruan bahwa salat akan dilaksanakan.

Lafal azan

Lafal azan terdiri dari tujuh bagian:

  1. Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)
    “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”
  2. Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
    “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”
  3. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
    “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”
  4. Hayya ‘alash sholah (2 kali)
    “Mari menunaikan salat
  5. Hayya ‘alal falah (2 kali)
    “Mari meraih kemenangan”
  6. Ashsalatu khairum minan naum (2 kali)
    Salat itu lebih baik daripada tidur”
    (hanya diucapkan dalam azan Subuh)
  7. Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)
    “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”
  8. Lailaha ilallah (1 kali)
    “Tiada Tuhan selain Allah”
Sejarah azan dan iqamah

Azan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah.
Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu salat dam mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan salat berjamaah.

Di dalam musyawarah itu ada beberapa usulan.
Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu salat telah masuk.
Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum.
Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi.

Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani.
Ada seorang sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu salat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi di mana orang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun berada di tempat yang jauh.
Yang melihat api itu, hendaklah datang menghadiri salat berjamaah.

Semua usulan yang diajukan itu ditolak oleh Nabi.
Tetapi, dia menukar lafal itu dengan assalatu jami’ah (marilah salat berjamaah).
(KYP3095) Lantas, ada usul dari Umar bin Khattab jika ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk salat pada setiap masuknya waktu salat.
Kemudian saran ini bisa diterima oleh semua orang dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyetujuinya.

Asal muasal azan dan iqamat


Lafal azan tersebut diperoleh dari hadis tentang asal muasal azan dan iqamah:

Abu Daud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid berkata sebagai berikut:
“Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk salat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi.
Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng.
Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya,
“apakah ia bermaksud akan menjual lonceng itu?
Jika memang begitu, aku memintanya untuk menjual kepadaku saja”.
Orang tersebut justru bertanya,”
Untuk apa?”
Aku menjawabnya,
“Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan salat”.
Orang itu berkata lagi,
“Maukah kamu kuajari cara yang lebih baik?
dan aku menjawab,
“ya”
dan dia berkata lagi dengan suara yang amat lantang:

  • Allahu Akbar Allahu Akbar
  • Asyhadu alla ilaha illallah
  • Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
  • Hayya ‘alash sholah (2 kali)
  • Hayya ‘alal falah (2 kali)
  • Allahu Akbar Allahu Akbar
  • La ilaha illallah

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata,
“Itu mimpi yang sebetulnya nyata.
Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu.
Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.”
Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.”
Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar.
Ia juga menceritakannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah lelaki yang membawa lonceng itu melafalkan azan, dia diam sejenak, lalu berkata:
“Kau katakan jika salat akan didirikan:

  • Allahu Akbar, Allahu Akbar
  • Asyhadu alla ilaha illallah
  • Asyhadu anna Muhammadarrasullulah
  • Hayya ‘alash sholah
  • Hayya ‘alal falah
  • Qod qomatish sholah (2 kali), artinya “Salat akan didirikan”
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar
  • La ilaha illallah

Begitu subuh, aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kuberitahu dia apa yang kumimpikan.
Diapun bersabda:
“Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah.
Bangkitlah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau mimpikan agar diadzankannya (diserukannya), karena sesungguhnya suaranya lebih lantang darimu.”
Ia berkata: Maka aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dia yang berazan.
Ia berkata: Hal tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab ketika dia berada di rumahnya.
Kemudian dia keluar dengan selendangnya yang menjuntai.
Dia berkata:
“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maka bagi Allah-lah segala puji.”

Kejadian dalam hadits tersebut terjadi di Madinah pada tahun pertama Hijriah atau 622 M.



Podcast

Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim