Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Abu Hanifah

Kategori: Tabi'in

Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Marzuban (أبو حنيفة نعمان بن ثابت بن زوطا بن مرزبان‎; 699 – 767 M), lebih dikenal dengan nama Abū Ḥanīfah, (أبو حنيفة‎) (lahir di Kufah, Irak pada 80 H / 699 M — meninggal di Baghdad, Irak, 148 H / 767 M) merupakan pendiri dari Madzhab Fiqih Hanafi.


Abu Hanifah juga merupakan seorang Tabi’in, generasi setelah Sahabat nabi, karena dia pernah bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Anas bin Malik dan beberapa peserta Perang Badar yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta`ala yang merupakan generasi terbaik islam, dan meriwayatkan hadits darinya serta sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya.


Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah), shalat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Abu Dawud, Imam Bukhari.



Menuntut Ilmu


Abu Hanifah kecil sering mendampingi ayahnya berdagang sutra.


Namun, tidak seperti pedagang lainnya, Abu Hanifah memiliki kebiasaan pergi ke Masjid Kufah.

Karena kecerdasannya yang gemilang, ia mampu menghafal Al-Qur’an serta ribuan hadits.

Sebagaimana putra seorang pedagang, Abu Hanifah pun kemudian berprofesi seperti bapaknya.

Ia mendapat banyak keuntungan dari profesi ini.


Di sisi lain ia memiliki wawasan yang sangat luas, kecerdasan yang luar biasa, serta hafalan yang sangat kuat.

Beberapa ulama dapat menangkap fenomena ini, sehingga mereka menganjurkannya untuk pergi berguru kepada ulama seperti ia pergi ke pasar setiap hari.


Pada masa Abu Hanifah menuntut ilmu, Iraq termasuk Kufah disibukkan dengan tiga halaqah keilmuan.

• Pertama, halaqah yang membahas pokok-pokok aqidah.

• Kedua, halaqah yang membahas tentang Hadits Rasulullah metode dan proses pengumpulannya dari berbagai negara, serta pembahasan dari perawi dan kemungkinan diterima atau tidaknya pribadi dan riwayat mereka.

• Ketiga, halaqah yang membahas masalah fikih dari Al-Qur’an dan Hadits, termasuk membahas fatawa untuk menjawab masalah-masalah baru yang muncul saat itu, yang belum pernah muncul sebelumnya.


Abu Hanifah melibatkan diri dalam dialog tentang ilmu kalam, tauhid dan metafisika.

Menghadiri kajian hadits dan periwayatannya, sehingga ia mempunyai andil besar dalam bidang ini.


Setelah Abu Hanifah menjelajahi bidang-bidang keilmuan secara mendalam, ia memilih bidang fikih sebagai konsentrasi kajian.

Ia mulai mempelajari berbagai permasalahan fikih dengan cara berguru kepada salah satu Syaikh ternama di Kufah, ia terus menimba ilmu darinya hingga selesai.

Sementara Kufah saat itu menjadi tempat domisili bagi ulama fikih Iraq.


Abu Hanifah sangat antusias dalam menghadiri dan menyertai gurunya, hanya saja ia terkenal sebagai murid yang banyak bertanya dan berdebat, serta bersikeras mempertahankan pendapatnya, terkadang menjadikan syaikh kesal padanya, namun karena kecintaannya pada sang murid, ia selalu mencari tahu tentang kondisi perkembangannya.


Dari informasi yang ia peroleh, akhirnya sang syaikh tahu bahwa ia selalu bangun malam, menghidupkannya dengan salat dan tilawah Al-Qur’an.

Karena banyaknya informasi yang ia dengar maka syaikh menamakannya Al-Watad.


Selama 18 tahun, Abu Hanifah berguru kepada Syaikh Hammad bin Abu Sulaiman, saat itu ia masih 22 tahun.

Karena dianggap telah cukup, ia mencari waktu yang tepat untuk bisa mandiri, namun setiap kali mencoba lepas dari gurunya, ia merasakan bahwa ia masih membutuhkannya.


Menjadi Ulama


Kabar buruk terhembus dari Basrah untuk Syaikh Hammad, seorang keluarga dekatnya telah wafat, sementara ia menjadi salah satu ahli warisnya.

Ketika ia memutuskan untuk pergi ke Basrah ia meminta Abu Hanifah untuk menggantikan posisinya sebagai pengajar, pemberi fatawa dan pengarah dialog.


Saat Abu Hanifah mengantikan posisi Syaikh Hammad, ia dihujani oleh pertanyaan yang sangat banyak, sebagian belum pernah ia dengar sebelumnya, maka sebagian ia jawab dan sebagian yang lain ia tangguhkan.

Ketika Syaikh Hammad datang dari Basrah ia segera mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang tidak kurang dari 60 pertanyaan, 40 diantaranya sama dengan jawaban Abu Hanifah, dan berbeda pendapat dalam 20 jawaban.


Dari peristiwa ini ia merasa bahawa masih banyak kekurangan yang ia rasakan, maka ia memutuskan untuk menunggu sang guru di halaqah ilmu, sehingga ia dapat mengoreksikan kepadanya ilmu yang telah ia dapatkan, serta mempelajari yang belum ia ketahui.


Ketika umurnya menginjak usia 40 tahun, gurunya Syaikh Hammad telah wafat, maka ia segera menggantikan gurunya.


Abu Hanifah tak hanya mengambil ilmu dari Syaikh Hammad, tetapi juga banyak ulama selama perjalanan ke Makkah dan Madinah, diantaranya Malik bin Anas, Zaid bin Ali dan Ja’far ash-Shadiq yang mempunyai konsen besar terhadap masalah fikih dan hadits.


Imam Abu Hanifah diketahui telah menyelesaikan 600.000 perkara dalam bidang ilmu fiqih dan dijuluki Imam Al-A’dzhom oleh masyarakat karena keluasan ilmunya.Beliau juga menjadi rujukan para ulama pada masa itu dan merupakan guru dari para ulama besar pada masa itu dan masa selanjutnya.



Penolakan Sebagai Hakim


Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur berkata kepada menterinya,

“Aku sedang membutuhkan seorang hakim yang bisa menegakkan keadilan di negara kita ini, dengan kualifikasi dia tidak takut kepada siapapun dalam menegakkan kebenaran, paling memahami Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Menurutmu siapa yang layak menduduki posisi ini?”,


lalu sang menteri menjawab,
“Sejauh pengetahuan saya, ulama yang paling tepat menduduki jabatan ini adalah Abu Hanifah An-Nu’man, betapa bahagianya kita jika ia menerima tawaran sebagai hakim ini!”,


“Apa mungkin seseorang bisa menolak jika kita yang memintanya?”
tanya Khalifah lagi.




“Sejauh yang kami tahu, dia tidak pernah tunduk kepada permintaan siapapun, tampaknya dia tidak suka menduduki posisi sebagai hakim, maka utuslah seseorang utusan mudah-mudahan hatinya terbuka, dan menerima tawaran ini.”


Khalifah kemudian mengutus seorang utusan memintanya untuk menghadap seraya menawarkan posisi sebagai hakim.

Abu Hanifah menjawab,

“Aku akan istikharah terlebih dahulu, salat 2 rakaat meminta petunjuk kepada Allah, jika hatiku dibuka maka akan aku terima, jika tidak maka masih banyak ahli fikih lain yang bisa dipilih salah satu daintara mereka oleh Amirul Mukminin.”


Waktu terus berjalan, ternyata Abu Hanifah tak kunjung menghadap Khalifah, maka ia mengutus seorang utusan memintanya menghadap, Abu Hanifah kemudian pergi menghadap namun ia beritikad untuk menolak jabatan hakim yang ditawarkan kepadanya.


Ternyata Khalifah tidak menyerah begitu saja, ia bersumpah agar Abu Hanifah menerima jabatan sebagai hakim yang ditawarkan, akan tetapi Abu Hanifah tetap menolaknya, seraya berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku tak pantas untuk menduduki jabatan hakim,”


lalu Khalifah malah menjawab,

“Engkau dusta!”


sehingga Abu Hanifah pun berkata,




“Sekiranya Anda telah menghukumi saya sebagai pembohong, maka sesungguhnya para pembohong tak layak menjadi hakim, dan sebaiknya Anda jangan mengangkat rakyat Anda yang tidak memenuhi kualifikasi untuk menduduki jabatan yang strategis ini.
Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, dan jangan Anda delegasikan amanah kecuali kepada mereka yang takut kepada Allah, jika saya tidak mendapat jaminan keridhaan, bagaimana saya akan mendapat jaminan terhindar dari murka?”.




Khalifah lalu memerintahkan mencambuknya seratus cambukan, lalu dijebloskannya ke penjara.


Selang beberapa hari, khalifah mendapat teguran dari seorang kerabatnya,

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Anda telah mencambuk diri Anda dengan seratus ribu pukulan pedang.”


Maka khalifah segera memerintahkan untuk membayar 30.000 dirham (sekitar Rp.2,1 miliar) kepada Abu Hanifah sebagai ganti atas yang telah dideritanya, lalu membebaskannya dan mengembalikan ke rumahnya.


Ternyata setelah harta tersebut diberikan, ia menolaknya.

Maka khalifah memerintahkan untuk menjebloskan kembali ke penjara.

Hanya saja para menteri mengusulkan bahwa Abu Hanifah segera dibebaskan dan cukup diberi dengan penjara rumah, serta melarangnya untuk duduk bersama masyarakat atau keluar dari rumah.



Akhir Hayat


Selang beberapa hari setelah mendapatkan tahanan rumah, ia terkena penyakit, semakin lama semakin parah.

Akhirnya ia wafat pada usia 68 tahun.

Berita kematiannya segera menyebar, ketika Khalifah mendengar berita itu, ia berkata,


“Siapa yang bisa memaafkanku darimu hidup maupun mati?”

Salah seorang ulama Kufah berkata,

“Cahaya keilmuan telah dimatikan dari kota Kufah, sungguh mereka tidak pernah melihat ulama sekaiber dia selamanya.”

Yang lain berkata,

“Kini mufti dan fakih Irak telah tiada.”


Jasadnya dikeluarkan dipanggul di atas punggung kelima muridnya, hingga sampai tempat pemandian, ia dimandikan oleh Al-Hasan bin Imarah, sementara Al-Harawi yang menyiramkan air ke tubuhnya.

Ia disalatkan lebih dari 50.000 orang.


Dalam enam kali putaran yang ditutup dengan salat oleh anaknya, Hammad.

Ia tak dapat dikuburkan kecuali setelah salat Ashar karena sesak, dan banyak tangisan.

Ia berwasiat agar jasadnya dikuburkan di Kuburan Al-Khairazan, karena merupakan tanah kubur yang baik dan bukan tanah curian.



Pujian Ulama


Imam Malik



Subhanallah, Saya belum pernah melihat sosok seperti dia, Demi Allah, jika Abu Hanifah berpendapat bahwa sebuah alat terbuat dari emas, maka pasti ia sanggup mempertengahkan kebenaran atas perkataannya itu.”




Imam Syafi’i



“Barang siapa ingin memperdalam fikih, maka hendaklah menjadi anak asuh bagi Abu Hanifah, Abu Hanifah merupakan orang yang diberi taufik oleh Allah dalam bidang fikih.”







“Barangsiapa belum membaca buku-buku Abu Hanifah, maka ia belum memperdalam ilmu, juga belum belajar fikih.”





Imam Ahmad bin Hambal



Subhanallah, ia berada dalam posisi keilmuan, wara’ dan zuhud, mementingkan akhirat, yang tidak dilihat oleh seorangpun.”




Ibnu Juraij



“Aku mendengar bahwa an-Nu’man (julukan Abu Hanifah) orang yang paling wara’, menjaga agama dengan ilmunya, tidak mengedepankan pecinta dunia di atas pecinta akhirat, saya berkeyakinan bahwa dalam dunia keilmuan dia akan memiliki prestasi yang menakjubkan.”





Imam Fudhail bin Iyadh



“Abu Hanifah merupakan pribadi fakih yang terkenal dengan kefakihannya, kekayaan yang cukup luas, terkenal dengan kebaikan terhadap setiap orang yang mengganggunya, sangat sabar dalam menuntut ilmu baik siang maupun malam, selalu diam, sedikit berbicara hingga datang kepadanya masalah-masalah halal dan haram, sangat cermat dalam menunjukkan kebenaran, selalu lari dari harta penguasa.”





Referensi: Wikipedia
۞ Variasi nama:
Abu Hanifa, Imam Abu Hanifah, Imam Hanafi
Biodata Abu Hanifa أبو حنيفة‎‎
Nama Abu Hanifa أبو حنيفة‎‎
Level Tabi'in [Generasi ke-6]
Tempat / Thn Lahir (Kufa, Iraq). Tahun 80 AH / 699 Masehi
Tempat Menetap Kufa, Baghdad
Tempat / Thn Wafat (Baghdad), Tahun 150 Hijriyah / 767 Masehi
Penyebab kematian Natural
Kegemaran Fiqh, Recitation/Quran, Hadith, Narrator[Grade:Thiqah] [ ت س - ]
Guru Ata' bin Abi Rabah,
'Asim bin Abu al-Najud (Bahdla),
'Alqama bin Mrthd,
Hmad bin Abi Sulaiman,
al-Hakam bin 'Utayba,
Salmah bin Kahayl al-Hadrami,
Muhammad bin 'Ali b. al-Hussain al-Baqir,
'Ali bin al-Aqmar bin 'Amr,
Ziyad bin 'Alaqa,
Sa'id bin Masrooq Ath-Thawri,
Ady bin Thabit al-Ansari,
Atyh bin Sa'd bin Jnad'h,
Tryf bin Shhab,
'Abdul Karim bin Abi al-Mukharaq,
Yahya bin Sa'id al-Ansari,
Hisham bin 'Urwa
Murid son,
Ibrahim bin Tahman,
Hamza bin Habib al-Zayat,
Zufr bin al-Hadhayl bin Qays,
Imam Abu Yusuf,
'Abdul Hameed bin 'Abdur Rahman al-Haman,
'Isa bin Yonus bin Abi Ishaq,
Waki' bin al-Jarrah,
Yazid bin Zari',
Asad bin 'Amr Abu al-Mndhr,
Hkam bin Slm,
Kharjh bin Mus'ab bin Kharjh,
'Abdul Majeed bin 'Abdul 'Aziz,
'Ali bin Ms'hr,
Muhammad bin Bashr bin al-Farafsa,
'Abdur-Razzaq,
Imam Muhammad,
Mus'ab bin al-Mqdam al-Khth'my,
Yahya bin Yaman al-Jly,
Nwh bin Abi Maryam,
'Abdullah bin Yazid al-'Advi,
al-Dahhak bin Mukhlad Abu 'Asim al-Nabil
Orang tua Thabit bin Zuta
Anak Hammad
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA

Video


Load More

Sedekah

Apa itu Sedekah? Sedekah adalah pemberian seorang Muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam sebuah hadis d … •

imsak

Apa itu imsak? im.sak n saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum; v berpantang dan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang mem-batalkan puasa mulai terbit fajar sidik sampai datang waktu berbuka … •

Haji Mardud

Apa itu Haji Mardud? Haji Mardud atau Haji Maz’ur merupakan lawan dari Haji Makbul atau haji yang dikabulkan. Jadi, pengertian dari Haji Mardud adalah haji yang ditolak oleh Allah, karena dalam melakukannya banyak dicampuri dosa dan keharaman, misalnya mengerjakan haji dengan perbekalan dari usaha haram . Dan, tidak ada pahala bagi orang-orang yang mengerjakan … •

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Kategori: Tabi'in

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,
QS. Az-Zariyat [51]: 10

۞ Variasi nama:
Abu Hanifa, Imam Abu Hanifah, Imam Hanafi
Kategori: Tabi'in

Sesungguhnya orang-orang yang beriman & beramal saleh,
bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,
QS. Al-Kahf [18]: 107

۞ Variasi nama:
Abu Hanifa, Imam Abu Hanifah, Imam Hanafi
Kategori: Tabi'in

Allah turunkan dari langit berupa air, lalu hidupkan bumi sesudah mati,
Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan, angin & awan yang dikendalikan antara langit & bumi,
sungguh (terdapat) tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan
QS. Al-Baqarah [2]: 164

۞ Variasi nama:
Abu Hanifa, Imam Abu Hanifah, Imam Hanafi
Kategori: Tabi'in

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan pandanganya,
dan memelihara kemaluannya,
yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
QS. An-Nur [24]: 30

۞ Variasi nama:
Abu Hanifa, Imam Abu Hanifah, Imam Hanafi

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah …Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah …اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- …وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah …Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah …

Kamus

Ibnu Qutaibah

Siapa itu Ibnu Qutaibah? Ibnu Qutaibah adalah seorang ahli sejarah politik. Dia juga adalah seorang cendekiawan Islam dan pakar bahasa Arab serta pembela ahli hadits. Ibnu Qutaibah lahir pada tahun 828 Masehi dan meninggal pada tahun 889 Masehi. Namun, para sejarawan berbeda pendapat mengenai tempat kelahirannya. Menurut Ibnu Khalikan, dia lahir di Baghdad, sedangkan menu … • Ibn Qutaibah, ibn Qutaybah

Syubhat

Apa itu Syubhat? syub.hat keragu-raguan atau kekurangjelasan tentang sesuatu karena kurang jelas status hukumnya; tidak terang antara halal dan haram atau antara benar dan salah Syubhat, Syubuhat, atau Subhat merupakan istilah di dalam Islam yang menyatakan tentang keadaan yang samar tentang kehalalan atau … • Syubuhat, Subhat

Dammah

Apa itu Dammah? Dammah adalah harakat yang berbentuk layaknya huruf waw kecil yang diletakkan di atas suatu huruf arab , harakat dammah melambangkan fonem /u/. Ketika suatu huruf diberi harakat dammah, maka huruf tersebut akan berbunyi /-u/, contonya huruf lam diberi harakat dammah menjadi /lu/ . Sebuah huruf yang berharakat dammah jika bert … •

riya’

Apa itu riya’? Riya merupakan perilaku tercela yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Sifat tersebut tentunya harus kita hindari. Selain berdosa, sifat riya juga merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Riya itu merusak keimanan, termasuk kedalam syirik kecil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesuatu yang sangat dit … • riyaa’, riya

duafa

Apa itu duafa? du.a.fa orang-orang lemah ; daging kurban dibagi-bagikan kepada kaum fakir miskin dan duafa … • fakir miskin

kadi

Apa itu kadi? ka.di hakim yang mengadili perkara yang bersangkut-paut dengan agama Islam … •