Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Abu Dzar Al-Ghifari

Kategori: Sahabat Nabi

Jundub bin Junadah bin Sakan (جُندب بن جَنادة‎) atau lebih dikenal dengan nama Abu Dzar al-Ghifari atau Abizar al-Ghifari adalah sahabat Nabi Muhammad.

Biografi
Abu Dzar berasal dari suku Ghifar (dikenal sebagai penyamun pada masa sebelum datangnya Islam).
Ia memeluk Islam dengan sukarela.
Ia salah seorang sahabat yang terdahulu dalam memeluk Islam.
Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekah untuk menyatakan keislamannya.
Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk mengabarkan bahwa ia kini adalah seorang Muslim, hingga memicu kekhawatiran serta kemarahan kaum kafir Quraisy dan membuatnya menjadi bulan – bulanan kaum Quraisy.

Berkat pertolongan Abbas bin Abdul Muthalib, ia selamat dan suku Quraisy membebaskannya setelah mereka mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar.
Ia mengikuti hampir seluruh pertempuran-pertempuran selama Nabi Muhammad hidup.
Orang-orang yang masuk Islam melalui dia, adalah: Ali-al-Ghifari, Anis al-Ghifari, Ramlah al-Ghifariyah.
Dia dikenal sangat setia kepada Rasulullah.

Kesetiaan itu misalnya dibuktikan sosok sederhana ini dalam satu perjalanan pasukan Muslim menuju medan Perang Tabuk melawan kekaisaran Bizantium.
Karena keledainya lemah, ia rela berjalan kaki seraya memikul bawaannya.
Saat itu sedang terjadi puncak musim panas yang sangat menyayat.
Dia keletihan dan roboh di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun Rasulullah heran kantong airnya masih penuh.

Setelah ditanya mengapa dia tidak minum airnya, tokoh yang juga kerap mengkritik penguasa semena-mena ini mengatakan,
“Di perjalanan saya temukan mata air.
Saya minum air itu sedikit dan saya merasakan nikmat.
Setelah itu, saya bersumpah tak akan minum air itu lagi sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminumnya.”
Dengan rasa haru, Rasulullah berujar,
“Engkau datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal dalam kesendirian.
Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak akan mengurus pemakamanmu.”
Abu Dzar Al Ghifary, sahabat setia Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.
Sebelum Masuk Islam
Tidak diketahui pasti kapan Abu Dzar lahir.
Sejarah hanya mencatat, ia lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Mekkah, Syria.
Riwayat hitam masa lalu Abizar tak lepas dari keberadaan keluarganya.
Abu Dzar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga perampok besar Al Ghiffar saat itu, menjadikan aksi kekerasan dan teror untuk mencapai tujuan sebagai profesi keseharian.
Itu sebabnya, Abu Dzar yang semula bernama Jundab, juga dikenal sebagai perampok besar yang sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di sekitarnya.
Kendati demikian, Jundab pada dasarnya berhati baik.
Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh aksinya kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya: Insyaf dan berhenti dari aksi jahatnya tersebut.
Bahkan tak saja ia menyesali segala perbuatan jahatnya itu, tetapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya.
Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kelahirannya.
Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis Al Ghifar, Abizar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi.
Ini merupakan hijrah pertama Abu Dzar dalam mencari kebenaran.
Di Nejed Atas, Abu Dzar tak lama tinggal, sekalipun banyak ide-idenya dianggap revolusioner sehingga tak jarang mendapat tentangan dari masyarakat setempat.
Masuk Islam
Mendengar datangnya agama Islam, Abu Dzar pun berpikir tentang agama baru ini.
Saat itu, ajaran Nabi Muhammad ini telah mulai mengguncangkan kota Mekkah dan membangkitkan gelombang kemarahan di seluruh Jazirah Arab.
Abu Dzar yang telah lama merindukan kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah, dan ingin bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ia pergi ke Mekkah, dan sekali-sekali mengunjungi Ka’bah.
Sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan saksama perbuatan dan ajaran Nabi.
Waktu itu masyarakat kota Mekkah dalam suasana saling bermusuhan.
Demikian halnya dengan Ka’bah yang masih dipenuhi berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy, sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer.
Nabi juga datang ke sana untuk salat.

Seperti yang diharapkan sejak lama, Abu Dzar berkesempatan bertemu dengan Nabi.
Dan pada saat itulah ia memeluk agama Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan berani.
Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah mulai menentang pemujaan berhala.
Dia berkata:
“Saya sudah terbiasa bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan melihat Nabi Besar Islam.”
Sejak saat itu, Abu Dzar membaktikan dirinya kepada agama Islam.
Kisah masuk Islamnya Abu Żar
Diceritakan oleh (Abu Jamra): Ibnu Abbas r.a. berkata pada kami: Maukah kalian aku ceritakan kisah tentang masuk Islamnya Abu Żar?
Kami menjawab:
“Ya”
Abu Żar berkata,
“Aku adalah seorang pria dari kabilah Gifar, Kami mendengar bahwa ada seseorang mengaku nabi di Mekkah.
Aku bilang pada seorang saudaraku,
‘Pergilah temui orang itu, bicaralah dengannya lalu kabarkanlah beritanya padaku’.
Dia pergi menjumpainya dan kembali.
Aku bertanya padanya,
‘Ada kabar apa yang kau bawa?’,
Dia berkata, ‘Demi Allah, aku melihat seorang pria mengajak pada hal-hal yang baik dan melarang hal-hal yang buruk’,
Aku berkata padanya,
‘Kamu tidak memuaskan keingintahuanku dengan keterangan yang hanya sedikit itu’ .
Aku mengambil kantung air dan tongkat lalu pergi menuju Mekkah.
Aku tak tahu siapa dan seperti apa nabi itu, dan aku pun tak mau menanyakan hal itu pada siapapun.
Aku terus minum air zam-zam dan terus berdiam diri di sekitar Ka’bah.
Lalu Ali lewat didepanku, dia bertanya,
‘Sepertinya anda orang asing di sini?
‘Aku jawab ‘Ya’.
Dia mengajakku ke rumahnya, aku lalu mengikutinya.
Dia tidak menanyakan apa pun padaku, Aku pun tidak mengatakan apa-apa padanya.
Besok paginya aku pergi lagi ke Ka’bah untuk menanyakan perihal nabi itu pada orang-orang di sana, tetapi tak seorang pun mengatakan sesuatu tentangnya.
Ali kembali lewat di hadapanku dan bertanya,
‘Adakah seseorang yang belum juga menemukan tempat tinggalnya?’,
Aku bilang,’Tidak’.
Dia berkata, ‘Kemari mendekatlah padaku’.
Lalu dia bertanya, ‘Anda punya urusan apa di sini?
Apa yang membuat Anda datang ke kota ini?’.
Aku bilang kepadanya,
‘Jika kamu bisa menjaga rahasiaku, maka aku akan mengatakannya ‘,
Dia menjawab, ‘Akan aku lakukan’.
Aku berkata padanya,
‘Kami mendengar bahwa ada seseorang di kota ini mengaku dirinya nabi…

Aku lalu mengutus seorang saudaraku untuk bicara dengannya dan waktu dia kembali, dia membawa kabar yang tidak memuaskan.
Jadi, aku berpikir untuk bertemu dengannya secara langsung’.
Ali berkata, ‘Tercapailah sudah tujuanmu, Aku mau menemui dia sekarang.
Jadi, ikutlah aku.
Bila aku masuk ke suatu tempat, masuklah setelahku.
Jika aku menjumpai seseorang yang mungkin akan menyusahkanmu, aku akan berdiri di dekat tembok berpura-pura memperbaiki sepatuku (sebagai tanda peringatan) bahwa anda harus segera pergi’.

Kemudian Ali berjalan dan aku mengikutinya sampai dia masuk ke suatu tempat dan aku masuk dengannya menemui sang nabi yang padanya aku berkata,
‘Terangkanlah hakikat Islam itu kepadaku’.
Waktu dia menjelaskannya, aku langsung menyatakan masuk Islam seketika itu juga.
Nabi bersabda,’Wahai Abu Żar, simpanlah perkataanmu itu sebagai rahasiamu dan pulanglah ke daerah asalmu dan apabila kamu mendengar kabar tentang kemenangan kami, kembalilah temuilah kami’.
Aku berkata,
‘Demi Dia Yang telah mengutus engkau dalam kebenaran, aku akan mengumumkan keislamanku secara terang-terangan di hadapan mereka (kaum musyrikin)’.

Abu Żar pergi ke Ka’bah di mana banyak orang-orang Quraisy berkumpul, lalu berseru,
‘Hai, Kalian orang-orang Quraish! Aku bersaksi (Asyhadu a lâ ilâha ill-Allah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu) Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu hamba dan rasul Allah!’.

(Mendengar hal itu) Orang-orang Quraisy itu berteriak,
‘Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)!
Mereka bangkit lalu memukuliku sampai hampir mati.

Al Abbas melihatku lalu menabrakkan badannya ke badanku untuk melindungiku.
Lalu dia menghadapi mereka dan berkata,
‘Ada apa dengan kalian ini! Apakah kalian mau membunuh seorang dari kabilah Gifar?

Padahal selama ini kalian berdagang dan berkomunikasi dengan dunia luar melewati daerah kekuasaan mereka?!’.

Mereka lalu meninggalkanku…
Besok paginya aku kembali ke Kakbah dan berseru sama persis seperti yang aku lakukan kemarin, mereka kembali berteriak, ‘Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)!’.

Lalu aku dipukuli (sampai hampir mati) sama seperti kemarin, dan kembali Al Abbas menghampiri diriku dan menabrakkan badannya ke badanku untuk melindungiku, dan dia berkata pada mereka sama seperti yang dia lakukan kemarin.

Begitulah kisah tentang masuk Islamnya Abu Żar r.a.
(4:725-OB)

Menjadi Sahabat Nabi
Mendapat kepercayaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abizar ditugaskan mengajarkan Islam di kalangan sukunya.
Meskipun tak sedikit rintangan yang dihadapinya, misi Abizar tergolong sukses.
Bukan hanya ibu dan saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diislamkan.
Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang penyiar Islam fase pertama dan terkemuka.
Rasulullah sendiri sangat menghargainya.
Ketika dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam “Perang pakaian compang-camping”, dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu.
Saat akan meninggal dunia, Nabi memanggil Abizar.
Sambil memeluknya, Rasulullah berkata:
“Abizar akan tetap sama sepanjang hidupnya.”

Ucapan Nabi ternyata benar, Abizar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh.

Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.
Bagi Abizar, masalah prinsip adalah masalah yang tak bisa ditawar-tawar.
Itu sebabnya, hartawan yang dermawan ini gigih mempertahankan prinsip egaliter Islam.
Penafsirannya mengenai “Ayat Kanz”
(tentang pemusatan kekayaan), dalam surah Attaubah, menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga.


“Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima.
Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu.
Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun.”

Atas dasar pemahamannya inilah, Abizar menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam.
Soal ini, sedikit pun Abizar tak mau kompromi dengan kapitalisme di kalangan kaum muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah, saat itu.

Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Alquran, merupakan kewajiban Muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.
Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abizar mengutip peristiwa masa Nabi:
“Suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abizar, terlihat pegunungan Ohad.
Nabi berkata kepada Abizar, ‘Jika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku.
Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah’.
Pelayan Duafa dan Pelurus Penguasa
Semasa hidupnya, Abizar Al Gifari sangat dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa.
Kepedulian terhadap golongan fakir ini bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abizar.
Sudah menjadi kebiasaan penduduk Giffar pada masa jahiliah merampok kafilah yang lewat.
Abizar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok orang-rang kaya.
Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum duafa.
Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama terakhir ini.
Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum miskin itu tetap ia pegang di tempat barunya, di Syria.

Namun di tempat baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah.
Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara besar-besaran.
Ajaran egaliter Abizar membangkitkan massa melawan penguasa dan kaum borjuis itu.
Keteguhan prinsipnya itu membuat Abizar sebagai ‘duri dalam daging’ bagi penguasa setempat.
Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tinggal di serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah,
“Kalau Anda membangun istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara.
Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan ‘israf’ (pemborosan).”

Muawiyah hanya terpesona dan tidak menjawab peringatan itu.
Muawiyah berusaha keras agar Abizar tidak meneruskan ajarannya.
Tapi penganjur egaliterisme itu tetap pada prinsipnya.
Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abizar dan ahli-ahli agama.
Sayang, pendapat para ahli itu tidak memengaruhinya.
Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini.

Kendati demikian, rakyat tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya.
Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Usman.
Ia mengatakan bahwa Abizar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.

Keberanian dan ketegasan sikap Abizar ini mengilhami tokoh-tokoh besar selanjutnya, seperti Hasan Basri, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya.
Karena itulah, tak berlebihan jika sahabat Ali Ra, pernah berkata:
“Saat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali.”
۞ Variasi nama:
Abu Dharr al-Ghaffari, Abu Dzar, Abu Żar, Abu Zar, Abu Zar Al-Ghifari, Abu dzar al-Gifari
Biodata Abu Dharr al-Ghaffari
Nama Abu Dharr al-Ghaffari ( جندب بن جنادة أبو ذر الغفاري ( رضي الله عنه
Level Sahabat Nabi (radhiyallahu anhu) [Generasi ke-1]
Tempat / Thn Lahir (Hijaz)
Tempat Menetap Hijaz, Madina, Syria, Al-Rabathah
Tempat / Thn Wafat (Al-Rabathah near Madinah), Tahun 32 Hijriyah / 652 Masehi
Penyebab kematian Natural
Kegemaran Recitation/Quran, Narrator [ ع - صحابي ]
Guru Nabi Muhammad ﷺ,
Murid Anas bin Malik,
ibn Abbas,
Khalid bin Wahban bin Khalh,
Zayd bin Wahb al-Jhny,
Kharsha bin al-Hurr al-Fazari,
Jubayr bin Nufayr al-Hadrami,
al-Ahnaf bin Qays,
'Abdullah bin al-Samit,
Zayd bin Zbyan,
'Abdullah bin Shaqayq al-Aqayli,
'Amr bin Maymun al-Aw'di,
'Abdur Rahman bin Ghnm,
Qays bin 'Aabad al-Qaysi,
Abu Idrees al-Khulani,
'Amr bin Marthad,
Abu Asma' al-Rahbi,
Abu 'Uthman al-Nahdi,
Abu al-Aswad al-Du'ali,
al-Ma'rur bin Suwayd al-Asadi,
Yazid bin Sharayk bin Tariq,
Hamil/Jamil bin Basra,
Sufyan bin Han'i,
Abu Salam al-Jayshani,
Zar bin Habaysh bin Habasha,
Raba'i bin Harash bin Jahsh,
'Abdur Rahman bin Shmas'h,
'Amr bin Bjdan,
'Abdur Rahman bin Abi Layla,
'Abdur Rahman bin Hujayrah,
'Ata ibn Yasar,
Shar bin Hushab al-Asha'ri
Orang tua Junadah ibn Sakan / Ramla bint al-Waqi'ya al-Ghaffariyya
Pasangan Umm Dhur
Saudara Anis bin Junadah al-Ghaffari
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA

Video


More Videos

Dzimmi

Apa itu Dzimmi? Secara istilah, dzimmi adalah orang non-Muslim merdeka yang hidup dalam negara Islam yang, sebagai balasan karena membayar pajak perorangan, menerima perlindungan dan keamanan. Hukum mengenai dzimmi berlaku di sebuah negara yang menjalankan Syariah Islam. Kata dzimmi sendiri berarti ” … •

Al-Anfal

Apa itu Al-Anfal? Surah Al-Anfal adalah surah ke-8 pada Alquran. Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah. Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta … • Al-Anfal, Al-Anfaal, Al Anfal, Al Anfaal

Umar bin Khattab

Siapa itu Umar bin Khattab? Umar bin Khattab adalah khalifah kedua yang berkuasa pada tahun 634 sampai 644. Dia juga digolongkan sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin. ‘Umar merupakan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad dan juga merupakan ayah dari Hafshah, istri Nabi Muhammad. Dalam sudut pandang Sunni, ‘Umar termasuk sal … • Umar ibn al-Khattab, ‘Umar bin Al Khaththab, ‘Umar bin al-Khatthab • Umar bin Khatab, Umar Ibnu Khattab, Umar Ibnul Khattab, Umar bin al-Khaththab, Umar bin Khaththab, Umar bin Al-Khattab, Umar bin Khathab, Umar, Umar r.a.

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Kategori: Sahabat Nabi

“Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?”
Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung & penolong selain Allah.
QS. Al-Ahzab [33]: 17

۞ Variasi nama:
Abu Dharr al-Ghaffari, Abu Dzar, Abu Żar, Abu Zar, Abu Zar Al-Ghifari, Abu dzar al-Gifari
Kategori: Sahabat Nabi


dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami,
dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat,
QS. Al-An’am [6]: 150

۞ Variasi nama:
Abu Dharr al-Ghaffari, Abu Dzar, Abu Żar, Abu Zar, Abu Zar Al-Ghifari, Abu dzar al-Gifari
Kategori: Sahabat Nabi

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
QS. An-Nisa’ [4]: 58

۞ Variasi nama:
Abu Dharr al-Ghaffari, Abu Dzar, Abu Żar, Abu Zar, Abu Zar Al-Ghifari, Abu dzar al-Gifari
Kategori: Sahabat Nabi

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,
dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu,
bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Siapa yang mempersekutukan Allah,
maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
QS. An-Nisa’ [4]: 48

۞ Variasi nama:
Abu Dharr al-Ghaffari, Abu Dzar, Abu Żar, Abu Zar, Abu Zar Al-Ghifari, Abu dzar al-Gifari

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … Hukum penggunaan hadis sebagai dasar hukum adalah … Orang yang menceritakan hadits disebut … Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali …

Pendidikan Agama Islam #9

Arti hadits maudhu’ adalah … Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan … Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah … Era ketidaktahuan juga disebut zaman …

Kamus

junub

Apa itu junub? ju.nub keadaan kotor karena keluar mani atau bersetubuh yang mewajibkan seseorang mandi dengan membasahi tubuh dari ujung rambut sampai ke ujung kaki … •

Al-Baqarah

Apa itu Al-Baqarah? Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Alquran. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jum...

Allahu a'lam

Apa itu Allahu a’lam? Allahu a’lam atau Wallahu a’lam; Allāhu a‘lam. artinya, “ Allahlah Yang lebih mengetahui.” Ucapan ini dipakai bila seseorang mengemukakan pendapatnya t...

egalitarian

Apa itu egalitarian? ega.li.ta.ri.an /Egalitarian/ a egaliter; sikap suku padang pasir yang egalitarian terasa cocok dengan visi masyarakat Islam; penganut atau penganjur egalitarianisme … •...

Alam malakut

Di mana itu Alam malakut? “Wahai hamba-Ku, jika engkau ingin masuk ke wilayah kesakralan-Ku , jangan engkau tergoda oleh alam mulk, alam malakut, dan alam jabarut, karena alam mulk adalah setan ...

Al Muqtadir

Apa itu Al Muqtadir? Allah itu Al-Muqtadir ◀ Artinya Allah itu Maha Berkuasa, Yang Maha Menguasai. Dia Maha berkuasa atas segala makhluk ciptaan-Nya. Allah menciptakan langit dan bumi serta alam be...