Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

HR. Muslim: 4973 – Hadits tentang taubatnya Ka’b bin Malik

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ مَوْلَى بَنِي أُمَيَّةَ أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ ثُمَّ غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْ

Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin ‘Amru bin ‘Abdullah bin ‘Amru bin Sarh budak Bani Umayyah telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata:
Rasulullah ﷺ pernah berangkat ke perang Tabuk untuk menghadapi orang-orang Romawi dan orang-orang Arab yang beragama Nasrani di Syam.”
Ibnu Syihab berkata:
‘Saya telah diceritakan oleh Abdul Rahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa Abdullah bin Ka’ab bin Malik -Abdullah bin Ka’ab adalah salah seorang putra Ka’ab yang mendampingi Ka’ab ketika ia buta- ia berkata:
‘Saya pernah mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan peristiwa tentang dirinya ketika ia turut bersama Rasulullah ﷺ dalam perang Tabuk.
Ka’ab bin Malik berkata:
‘Saya tidak pernah tertinggal menyertai Rasulullah ﷺ dalam peperangan yang beliau ikuti kecuali perang Tabuk, akan tetapi saya juga pernah tertinggal dalam perang Badar.
Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela seorang muslim yang tidak turut dalam perang Badar, yang demikian karena Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin (dalam perang Badar ini) tujuan awal hanya ingin menyerang kaum kafir Quraisy yang sedang berada dalam perjalanan dengan mengendarai unta hingga Allah mempertemukan kaum muslimin dengan musuh mereka tanpa waktu yang di sepakati sebelumnya.

Saat itu saya ikut serta bersama Rasulullah pada malam ‘Aqabah ketika kami berjanji untuk membela Islam.
Menurut saya, turut serta dalam perang Badar tidak sebanding dengan turut serta dalam malam Aqabah, meskipun perang Badar lebih populer kebanyakan orang.

Di antara cerita ketika saya tidak turut serta bersama Rasulullah dalam perang Tabuk adalah sebagai berikut:
‘Saya benar-benar tak berdaya dan tidak ada orang yang lebih banyak mempunyai keluasan daripada saya ketika saya tidak ikut serta dalam perang Tabuk tersebut.
Demi Allah, sebelumnya saya tidak menyiapkan dua ekor hewan tunggangan sama sekali dalam pelbagai peperangan.

Tetapi dalam perang Tabuk ini, saya menyiapkan dua ekor hewan tunggangan.
Akhirnya Rasulullah ﷺ pergi berangkat ke perang Tabuk pada saat cuaca sangat panas.

Dapat di katakan bahwasanya beliau menempuh perjalanan yang amat jauh dan penuh resiko serta menghadapi musuh yang berjumlah besar.
Lalu Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada kaum muslimin apa yang akan mereka hadapi bersamanya.

Oleh karena itu, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan perbekalan perang yang cukup.
Pada saat itu, kaum muslimin yang menyertai Rasulullah ﷺ banyak sekali tanpa ditunjuk melalui surat tugas untuk berperang.

Ka’ab berkata:
‘Ada seorang laki-laki yang tidak muncul karena ia ingin tidak turut serta berperang.
Ia menduga bahwa ketidak turutannya itu tidak akan di ketahui oleh Rasulullah ﷺ -selama tidak ada wahyu yang turun mengenai dirinya dari Allah Azza Wa Jalla -.

Rasulullah ﷺ pergi berperang ke perang tabuk ketika hasil panen buah sangat memuaskan, hingga saya harus memalingkan perhatian dari hasil panen tersebut.
Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin yang ikut serta sudah bersiap-siap dan saya pun segera pergi untuk mencari perbekalan bersama mereka.

Lalu saya pulang tanpa memperoleh perbekalan sama sekali.
Saya berkata dalam hati:
‘Saya dapat mempersiapkan perbekalan sewaktu-waktu.

Saya selalu dalam teka-teki antara ya dan tidak hingga orang-orang semakin siap.’ Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan saya belum mempersiapkan perbekalan sama sekali.

Akhirnya saya pergi, lalu saya pulang tanpa mempersiapkan sesuatu.
Saya senantiasa berada dalam kebimbangan seperti itu antara turut serta berperang ataupun tidak, hingga pasukan kaum muslimin telah bergegas berangkat dan perang pun berkecamuk sudah.

Kemudian saya ingin menyusul ke medan pertempuran -tetapi hal itu hanyalah angan-angan- dan akhirnya saya ditakdirkan untuk tidak ikut serta ke medan perang.
Setelah Rasulullah ﷺ pergi ke medan perang tabuk, maka mulailah rasa sedih menyelimuti diri saya.

Ketika keluar ke tengah-tengah masyarakat sekitar, saya menyadari bahwasanya tidak ada yang dapat saya temui kecuali orang-orang yang dalam kemunafikan atau orang-orang yang lemah yang diberikan uzur oleh Allah Azza Wa Jalla.
Sementara itu, Rasulullah ﷺ tidak mengingat diri saya hingga beliau sampai di Tabuk.

Kemudian, ketika beliau sedang duduk-duduk di tengah para sahabat, tiba-tiba beliau bertanya:
‘Mengapa Ka’ab bin Malik tidak ikut serta bersama kita? ‘ Seorang sahabat dari Bani Salimah menjawab:
‘Ya Rasulullah, sepertinya Ka’ab bin Malik lebih mementingkan dirinya sendiri daripada perjuangan ini? ‘ Mendengar ucapan sahabat tersebut, Muadz bin Jabal berkata:
‘Hai sahabat, buruk sekali ucapanmu itu! Demi Allah ya Rasulullah, saya tahu bahwasanya Ka’ab bin Malik itu adalah orang yang baik.’ Kemudian Rasulullah ﷺ diam.

Ketika beliau terdiam seperti itu, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang memakai helm besi yang sulit di kenali.
Lalu Rasulullah ﷺ berkata:
‘Kamu pasti Abu Khaitsamah? ‘ Ternyata orang tersebut adalah memang benar-benar Abu Khaitsamah Al Anshari, sahabat yang pernah menyedekahkan satu sha’ kurma ketika ia dicaci maki oleh orang-orang munafik.
Ka’ab bin Malik berkata:
‘Ketika saya mendengar bahwasanya Rasulullah ﷺ telah bersiap-siap kembali dari perang Tabuk, maka saya pun diliputi kesedihan.
Lalu saya mulai merancang alasan untuk berdusta.
Saya berkata dalam hati:
‘Alasan apa yang dapat menyelamatkan diri saya dari amarah Rasulullah? ‘ Untuk menghadapi hal tersebut, saya meminta pertolongan kepada keluarga yang dapat memberikan saran.
Ketika ada seseorang yang berkata kepada saya bahwasanya Rasulullah ﷺ hampir tiba di kota Madinah, hilanglah alasan untuk berdusta dari benak saya.
Akhirnya saya menyadari bahwasanya saya tidak dapat berbohong sedikitpun kepada Rasulullah ﷺ.
Oleh karena itu, saya pun harus berkata jujur kepada beliau.
Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ tiba di kota Madinah.
Seperti biasa, beliau langsung menuju Masjid – sebagaimana tradisi beliau setiap kali tiba dari bepergian ke suatu daerah – untuk melakukan shalat.
Setelah melakukan shalat sunnah, Rasulullah ﷺ langsung bercengkrama bersama para sahabat.
Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang tidak sempat ikut serta bertempur bersama kaum muslimin seraya menyampaikan berbagai alasan kepada beliau dengan bersumpah.
Diperkirakan mereka yang tidak turut serta bertempur itu sekitar delapan puluh orang lebih.
Ternyata Rasulullah menerima keterus terangan mereka yang tidak ikut serta berperang, membai’at mereka, memohon ampun untuk mereka, dan menyerahkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka kepada Allah.
Selang beberapa saat kemudian, saya datang menemui Rasulullah ﷺ.
Setelah saya memberi salam, beliau tersenyum seperti senyuman orang yang marah.
Kemudian beliau pun berkata:
‘Kemarilah! ‘ Lalu saya berjalan mendekati beliau hingga saya duduk tepat di hadapan beliau.
Setelah itu Rasulullah ﷺ bertanya:
‘Mengapa kamu tidak ikut serta bertempur bersama kami hai Ka’ab? Bukankah kamu telah berjanji untuk menyerahkan jiwa ragamu untuk Islam? ‘ Saya menjawab:
‘Ya Rasulullah, demi Allah seandainya saya duduk di dekat orang selain diri engkau, niscaya saya yakin bahwasanya saya akan terbebaskan dari kemurkaannya karena alasan dan argumentasi yang saya sampaikan.
Tetapi, demi Allah, saya tahu jika sekarang saya menyampaikan kepada engkau alasan yang penuh dusta hingga membuat engkau tidak marah, tentunya Allah lah yang membuat engkau marah kepada saya.
Apabila saya mengemukakan kepada engkau ya Rasulullah alasan saya yang benar dan jujur, lalu engkau akan memarahi saya dengan alasan tersebut, maka saya pun akan menerimanya dengan senang hati.
Biarkanlah Allah memberi hukuman kepada saya dengan ucapan saya yang jujur tersebut.
Demi Allah, sesungguhya tidak ada uzur yang membuat saya tidak ikut serta berperang.
Demi Allah, saya tidak berdaya sama sekali kala itu meskipun saya mempunyai peluang yang sangat longgar sekali untuk ikut berjuang bersama kaum muslimin.’ Mendengar pengakuan yang tulus itu, Rasulullah pun berkata:
‘Orang ini telah berkata jujur dan benar.
Oleh karena itu, berdirilah hingga Allah memberimu keputusan.”
Akhirnya saya pun berdiri dan beranjak dari sisi beliau.
Tak lama kemudian, ada beberapa orang dari Bani Salimah beramai-ramai mengikuti saya seraya berkata:
‘Hai Ka’ab, demi Allah, sebelumnya kami tidak mengetahui bahwasanya kamu telah berbuat suatu kesalahan/dosa.
Kamu benar-benar tidak mengemukakan alasan kepada Rasulullah sebagaimana alasan yang dikemukakan para sahabat lain yang tidak turut berperang.
Sesungguhnya, hanya istighfar Rasulullah untukmulah yang menghapus dosamu.’ Ka’ab bin Malik berkata setelah itu:
‘Demi Allah, mereka selalu mencerca saya hingga saya ingin kembali lagi kepada Rasulullah ﷺ lalu saya dustakan diri saya.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Apakah ada orang lain yang telah menghadap Rasulullah ﷺ seperti diri saya ini? ‘ Orang-orang Bani Salimah menjawab:
‘Ya.
Ada dua orang lagi seperti dirimu.
Kedua orang tersebut mengatakan kepada Rasulullah seperti apa yang telah kamu utarakan dan Rasulullah pun menjawabnya seperti jawaban kepadamu.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Lalu saya pun bertanya:
‘Siapakah kedua orang tersebut hai para sahabat? ‘ Mereka, kaum Bani Salimah, menjawab:
‘Kedua orang tersebut adalah Murarah bin Rabi’ah Al Amin dan Hilal bin Ummayah Al Waqifi.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Kemudian mereka menyebutkan dua orang sahabat yang shalih yang ikut serta dalam perang Badar dan keduanya layak dijadikan suri tauladan yang baik.
Setelah itu, saya pun berlalu ketika mereka menyebutkan dua orang tersebut kepada saya.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Beberapa hari kemudian, Rasulullah ﷺ melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami bertiga yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk.
Sejak saat itu, kaum muslimin mulai menjauhi dan berubah sikap terhadap kami bertiga hingga bumi ini terasa asing bagi kami.
Sepertinya, bumi ini bukanlah bumi yang pernah saya huni sebelumnya dan hal itu berlangsung lima puluh malam lamanya.’ Dua orang teman saya yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk itu kini bersimpuh sedih di rumahnya sambil menangis, sedangkan saya adalah seorang anak muda yang tangguh dan tegar.
Saya tetap bersikap wajar dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya.
Saya tetap keluar dari rumah, pergi ke masjid untuk menghadiri shalat jama’ah bersama kaum muslimin lainnya, dan berjalan-jalan di pasar meskipun tidak ada seorang pun yang sudi berbicara dengan saya.
Hingga pada suatu ketika saya menghampiri Rasulullah ﷺ sambil memberikan salam kepadanya ketika beliau berada di tempat duduknya usai shalat.
Saya bertanya dalam hati:
‘Apakah Rasulullah ﷺ akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salam ataukah tidak? Kemudian saya melaksanakan shalat di dekat Rasulullah sambil mencuri pandangan kepada beliau.
Ketika saya telah bersiap untuk melaksanakan shalat, beliau memandang kepada saya.
Dan ketika saya menoleh kepadanya, beliaupun mengalihkan pandangannya dari saya.’ Setelah lama terisolisir dari pergaulan kaum muslimin, saya pun pergi berjalan-jalan hingga sampai di pagar kebun Abu Qatadah.
Abu Qatadah adalah putera paman saya (sepupu saya) dan ia adalah orang yang saya sukai.
Sesampainya di sana, saya pun mengucapkan salam kepadanya.
Tetapi, demi Allah, sama sekali ia tidak menjawab salam saya.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya:
‘Hai Abu Qatadah, saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu tidak mengetahui bahwasanya saya sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya? ‘ Ternyata Abu Qatadah hanya terdiam saja.
Lalu saya ulangi lagi ucapan saya dengan bersumpah seperti yang pertama kali.
Namun ia tetap saja terdiam.
Kemudian saya ulangi ucapan saya dan ia pun menjawab:
‘Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui tentang hal ini.’ Mendengar ucapannya itu, berlinanglah air mata saya dan saya pun kembali ke rumah sambil menyusuri kebun tersebut.
Ketika saya sedang berjalan-jalan di pasar Madinah, ada seorang laki-laki dari negeri Syam yang berjualan makanan di kota Madinah bertanya:
‘Siapakah yang dapat menunjukkan kepada saya di mana Ka’ab bin Malik? ‘ Lalu orang-orang pun menunjukkan kepada saya hingga orang tersebut datang kepada saya sambil menyerahkan sepucuk surat kepada saya dari raja Ghassan.
Karena saya dapat membaca dan menulis, maka saya pun memahami isi surat tersebut.
Ternyata isi surat tersebut sebagai berikut:
‘Kami mendengar bahwasanya temanmu (maksudnya adalah Rasulullah ﷺ) telah mengisolirmu dari pergaulan umum, sementara Tuhanmu sendiri tidaklah menyia-nyiakanmu seperti itu.
Oleh karena itu, bergabunglah dengan kami, niscaya kami akan menolongmu.’ Selesai membaca surat itu, saya pun berkata:
‘Sebenarnya surat ini juga merupakan sebuah bencana juga bagi saya.’ Lalu saya memasukkannya ke dalam pembakaran dan membakarnya hingga musnah.
Setelah empat puluh hari lamanya dari pengucilan umum, ternyata wahyu Tuhan pun tidak juga turun.
Hingga pada suatu ketika, seorang utusan Rasulullah ﷺ mendatangi saya sambil menyampaikan sebuah pesan:
‘Hai Ka’ab, sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkanmu untuk menghindari istrimu.’ Saya bertanya:
‘Apakah saya harus menceraikan atau bagaimana? ‘ Utusan tersebut menjawab:
‘Tidak usah kamu ceraikan.
Tetapi, cukuplah kamu menghindarinya dan janganlah kamu mendekatinya.’ Lalu saya katakan kepada istri saya:
‘Wahai dinda, sebaiknya dinda pulang terlebih dahulu ke rumah orang tua dinda dan tinggallah bersama dengan mereka hingga Allah memberikan keputusan yang jelas dalam permasalahan ini.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Tak lama kemudian istri Hilal bin Umayyah pergi mendatangi Rasulullah ﷺ sambil bertanya:
‘Ya Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah lanjut usia dan lemah serta tidak mempunyai pembantu.
Oleh karena itu, izinkanlah saya merawatnya.’ Rasulullah ﷺ pun menjawab:
‘Jangan.
Sebaiknya kamu tidak usah menemaninya terlebih dahulu dan ia tidak boleh dekat denganmu untuk beberapa saat.’ Isteri Hilal tetap bersikeras dan berkata:
‘Demi Allah ya Rasullah, sekarang ia itu tidak mempunyai semangat hidup lagi.
Ia senantiasa menangis, sejak mendapatkan permasalahan ini sampai sekarang.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Beberapa orang dari keluarga saya berkata:
‘Sebaiknya kamu meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah dalam masalah istrimu ini.
Karena Rasulullah ﷺ sendiri telah memberikan izin kepada Hilal bin Umayyah untuk merawat suaminya.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Saya tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ dalam persoalan istri saya ini.
Karena, bagaimanapun, saya tidak akan tahu bagaimana jawaban Rasulullah nanti jika saya meminta izin kepada beliau sedangkan saya masih muda belia.’ Ka’ab bin Malik berkata:
‘Ternyata hal itu berlangsung selama sepuluh malam hingga dengan demikian lengkaplah sudah lima puluh malam bagi kami terhitung sejak kaum muslimin dilarang untuk berbicara kepada kami.
Ka’ab bin Malik berkata:
‘Lalu saya melakukan shalat fajar pada malam yang ke lima puluh di bagian belakang rumah.
Ketika saya sedang duduk dalam shalat tersebut, diri saya diliputi penyesalan dan kesedihan.
Sepertinya bumi yang luas ini terasa sempit bagi diri saya.
Tiba-tiba saya mendengar seseorang berteriak dengan lantangnya menembus cakrawala:
‘Hai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! ‘ Maka saya pun tersungkur sujud dan mengetahui bahwasanya saya telah terbebas dari persoalan saya.
Ka’ab bin Malik berkata:
‘Kemudian Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada kaum muslimin usai

Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA

Video Terkait

More Videos

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Hanya yang makmurkan masjid Allah ialah yang beriman kepada Allah & Hari kemudian,
serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat & tak takut selain kepada Allah,
merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang yang mendapat petunjuk
QS. At-Taubah [9]: 18

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (justru) menyusahkan kamu.
QS. Al-Ma’idah [5]: 101

Apakah kamu tiada mengetahui,
bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit,
di bumi,
matahari,
bulan,
bintang,
gunung,
pohon-pohonan,
binatang-binatang yang melata & sebagian besar daripada manusia?
QS. Al-Hajj [22]: 18

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, ma...

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubu...

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah …...

Kamus

viabilitas

Apa itu viabilitas? vi.a.bi.li.tas kemungkinan untuk dapat hidup; hanya semangat berusaha yang realistislah yang dapat menciptakan viabilitas masyarakat ASEAN … •

Ayyamul Bidh

Apa itu Ayyamul Bidh? Puasa ayyamul bidh adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada pertengahan bulan. Waktu penetapan puasa ayyamul bidh ini berdasarkan pada kalender qomariah. Kamu tidak bisa menentuk...

mutalaah

Apa itu mutalaah? mu.ta.la.ah telaah; hal menelaah dengan baik-baik … •

Basmalah

Apa itu Basmalah? Basmalah adalah ucapan pembukaan Bismillah , lengkapnya adalah bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi . Kalimat ini tertera dalam setiap awalan Surat di dalam Al-Qur’an, kecu...

Dinar emas

Apa itu Dinar emas? Dinar emas berdasarkan Hukum Syari’ah Islam adalah uang emas murni yang memiliki berat 1 mitsqal atau setara dengan 1/7 troy ounce, sedangkan Dirham perak Islam berdasarkan k...

wudu

Apa itu wudu? wu.du menyucikan diri dengan membasuh muka, tangan, kepala, dan kaki; hai Nak, wudu dulu sebelum salat ۞ Variasi nama: wudhu … • wudhu

Instagram