Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

HR. Muslim: 4520 – Keutamaan Abu Dzar radhiallahu ‘anhu

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ هِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَرَجْنَا مِنْ قَوْمِنَا غِفَارٍ وَكَانُوا يُحِلُّونَ الشَّهْرَ الْحَرَامَ

Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid Al Azdi:
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah:
Telah mengabarkan kepada kami Humaid bin Hilal dari ‘Abdullah bin Ash Shamit dia berkata:
Abu Dzar pernah berkata:
‘Dahulu kami telah keluar dari suku kami, suku Ghifar.
Mereka sering menghalalkan bulan haram, hingga saya, saudara laki-laki saya Unais, dan ibu saya keluar meninggalkan suku kami.

Setelah itu, kami tinggal di rumah saudara laki-laki ibu kami (paman).
Saudara laki-laki ibu (paman) kami sangatlah menghormati dan memperlakukan kami dengan baik, tetapi akhirnya suku saudara laki-laki ibu kami merasa iri kepada kami.

Mereka berkata kepada saudara laki-laki ibu kami:
‘Apabila kamu tidak ada di rumah, Unais sering bertengkar dengan keluargamu.’ Ketika saudara laki-laki ibu kami datang, ia menceritakan kepada kami apa yang telah dikatakan sukunya tersebut, maka kami pun berpendapat:
‘Sesungguhnya paman telah mengotori kebaikan yang telah paman Iimpahkan kepada kami selama ini.

OIeh karena itu, untuk selanjutnya, sebaiknya kita berpisah saja.’ Kemudian kami mulai menyiapkan perbekalan untuk keberangkatan kami, sementara saudara laki-laki ibu kami terlihat sedih dan mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dengan bajunya sambil menangis tersedu-sedu.

Akhirnya kami pergi meninggalkan rumah saudara laki-laki ibu kami hingga kami tiba di dekat Makkah.
Pada suatu hari Unais berselisih pendapat dengan kami.

Lalu ia dan ibu kami pergi mendatangi seorang dukun.
Ternyata dukun tersebut memuji Unais.

Tak lama kemudian, Unais dan ibu kami datang kembali untuk berkumpul dengan kami.
Abu Dzar berkata:
‘Hai kemenakanku, ketahuilah bahwasanya aku ini telah melaksanakan shalat selama tiga tahun sebelum aku bertemu dengan Rasulullah ﷺ.
‘ Saya (Abdullah bin Ash-Shamit) bertanya:
‘Paman melaksanakan shalat kepada siapa? ‘ Abu Dzar menjawab:
‘Aku melaksanakan shalat kepada Allah.’ Lalu saya (Abdullah bin Ash-Shamit) bertanya lagi:
‘Kalau begitu, lantas paman menghadap ke arah mana ketika shalatnya? ‘ Abu Dzar menjawab:
‘Aku menghadap ke arah yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika shalat.

Bahkan aku melaksanakan shalat lsya hingga akhir malam.
Lalu aku terbaring sampai matahari menyinariku.
‘ Unais berkata kepada saya:
‘Saya ingin masuk ke kota Makkah.
Oleh karena itu, izinkanlah saya pergi.”
Lalu Unais berangkat pergi hingga ia tiba di kota Makkah.
Agak lama ia tidak kembali kepada saya.

Setelah kembali dari kota Makkah, maka saya pun bertanya kepadanya:
‘Apa yang telah kamu kerjakan di sana hai Unais? ‘ Unais menjawab:
‘Saya telah bertemu dengan seorang laki-laki di kota Makkah yang seagama denganmu hai Abu Dzar.
Selain itu, ia juga menyatakan bahwa ia diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
‘ Saya bertanya kepadanya:
‘Hai Unais, bagaimana pendapat orang-orang tentang dirinya? ‘ Unais menjawab:
‘Kata orang-orang bahwasanya ia adalah seorang penyair, seorang juru ramal, dan seorang tukang sihir.’ Sedangkan Unais sendiri adalah tukang syair.

Unais berkata:
‘Saya pernah mendengar mantera dukun dan tukang ramal, tetapi tidak seperti apa yang dikatakan oleh orang itu.
Dan saya sendiri pernah mencoba menyamakan ucapannya itu dengan karya para penyair kenamaan.

Tetapi, bagaimana pun, ucapannya itu bukanlah sebuah syair, baik itu menurut pandangan saya ataupun pandangan orang lain.
Demi Allah, sesungguhnya ucapan orang itu benar, dan merekalah yang telah berdusta.
‘ Kemudian Abu Dzar berkata:
‘Izinkanlah aku pergi untuk dapat melihat orang yang kamu sebutkan itu! ‘ Kemudian saya pergi ke Makkah.
Di tengah jalan, saya bertemu dengan salah seorang dari penduduk kota Makkah dan bertanya:
‘Di manakah orang yang telah berpindah agama (Ash-Shabi) itu? ‘ Orang yang saya tanya tadi menuding saya sambil berkata:
‘Apa katamu hai orang asing? Ash-Shabi? ‘ Lalu orang itu melempari saya dengan tanah liat dan tuIang belulang hingga saya tersungkur dan pingsan.
Abu Dzar berkata:
‘Beberapa lama kemudian saya bangun dan tersadar seperti patung merah.
Kemudian saya mendatangi sumur zamzam untuk membersihkan darah akibat luka-luka lemparan tanah liat dan tulang tersebut.
Setelah itu, barulah saya meminum air zam-zam.
Ketahuilah hai kemenakanku, bahwasanya saya tinggal di sana selama tiga puluh hari, siang malam tanpa adanya makanan kecuali air zam-zam.
OIeh karena itu, tidaklah mengherankan jika kala itu tubuh saya menjadi gemuk dan perut saya agak gendut tanpa adanya rasa lapar.
Abu Dzar berkata:
‘Pada suatu malam bulan purnama, kota Makkah terasa lenggang dan tak ada seorang pun yang melakukan thawaf di sekitar Ka’bah, hanya ada dua orang wanita yang berdoa kepada berhala lsaf dan Nailah.
Kedua wanita itu menghampiri saya ketika thawaf dan saya katakan:
‘Nikahi saja salah satu dari dua berhala itu untuk kalian berdua! ‘ Ternyata keduanya marah dan datang menghampiri saya.
Lalu saya katakan lagi kepada keduanya:
‘Bukankah berhala ini hanya terbuat dari kayu dan saya sendiri pun tidak perlu untuk mengetahui namanya.’ Akhirnya kedua wanita itu segera pergi sambil berkata:
‘Seandainya saja ada beberapa orang dari kaum kita di sekitar sini, niscaya kita meminta bantuan untuk memberi pelajaran kepada laki-laki itu.’ Abu Dzar berkata:
‘Tak lama kemudian, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar yang baru tiba di tempat tersebut, berpapasan dengan dua wanita itu.
Rasulullah bertanya kepada kedua wanita tersebut:
‘Ada apa dengan kalian berdua? ‘ Kedua wanita itu menjawab:
‘Ada orang yang berpindah agama (Ash-Shabi’) berdiri di antara Ka’bah dan tirainya.’ Selanjutnya, Rasulullah ﷺ bertanya:
‘Apa yang ia katakan kepada kalian berdua? ‘ Keduanya menjawab:
‘Orang tersebut berkata kepada kami dengan perkataan yang sangat menyedihkan hati.’ Kemudian Rasulullah datang dan langsung mencium hajar aswad.
Setelah itu, beliau melakukan thawaf dan shalat bersama Abu Bakar.
Selesai shalat, Abu Dzar datang menghampiri Rasulullah dan mengucapkan:
‘Assalamu ‘Alaikum ya Rasulullah.’ Rasulullah ﷺ menjawab salamnya:
‘Wa ‘Alaika wa Rahmatullah.’ Abu Dzar berkata:
‘Sayalah orang pertama yang menyapa beliau dengan sapaan Islam.’ Kemudian Rasulullah bertanya:
‘Siapakah engkau hai saudaraku? ‘ Abu Dzar menjawab:
‘Saya berasal dari suku Ghifar ya Rasulullah.’ Kemudian Rasulullah menjabat tangan saya.
Setelah itu beliau meletakkan jari-jari beliau di atas dahi beliau.
Saya pun berkata dalam hati:
‘Mungkin beliau tidak suka karena saya berasal dari suku Ghifar.’ Lalu saya ingin memegang tangan beliau, tetapi Abu Bakar malah mencegahnya.
Sesungguhnya, ia Iebih tahu tentang Rasulullah daripada saya sendiri.
Setelah itu Rasulullah mengangkat kepala sambil bertanya kepada saya:
‘Sejak kapan engkau berada di tempat ini hai saudaraku? ‘ Saya menjawab:
‘Sudah tiga puluh hari lamanya saya berada di sini ya Rasulullah.’ Rasulullah ﷺ bertanya lagi:
‘Siapakah yang memberimu makan? ‘ Saya menjawab:
‘Tidak ada makanan untuk saya kecuali air zamzam.
OIeh karena itu, maka saya terlihat gemuk dan perut saya sedikit gendut serta tidak merasa lapar.’ Rasulullah berkata:
‘Air zam-zam memang penuh dengan keberkahan dan lebih banyak mengandung protein daripada makanan biasa.’ Selanjutnya Abu Bakar berkata:
‘Ya Rasulullah, izinkanlah saya memberi makanan malam ini kepadanya.’ Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar berangkat pergi menuju rumahnya dan saya pun turut pula bersama mereka.
Abu Bakar membuka rumahnya dan segera mengambilkan anggur Thaif untuk kami.
ltulah makanan pertama yang saya santap.
Lalu saya mohon pamit kepada Abu Bakar untuk pulang dan saya langsung menemui Rasulullah.
Beliau berkata:
‘Sesungguhnya telah dihadapkan kepadaku sebuah negeri yang banyak pohon kurmanya, yaitu Yatsrib (Madinah).
Hai Abu Dzar apakah kamu bersedia untuk menyampaikan ajaranku kepada kaummu? Semoga Allah memberikan manfaat kepada kaummu melalui usahamu dan memberimu pahala karena penyampaian dakwahmu kepada mereka.’ Setelah itu, Abu Dzar mendatangi Unais.
Lalu Unais bertanya kepadanya:
‘Apa yang telah kamu lakukan di sana hai Abu Dzar? ‘ Abu Dzar menjawab:
‘Aku telah masuk Islam dan beriman kepada ajaran Muhammad hai Unais.’ Unais berkata:
‘Sebenarnya saya juga tidak membenci ajaran agama itu.
Dan ketahuilah, sesungguhnya saya telah masuk Islam dan beriman kepada Allah.’ Kemudian kami mendatangi ibu kami.
Lalu ia berkata:
‘Sungguh aku menyukai agama kalian.
Oleh karena itu, aku pun ingin masuk Islam dan beriman kepada Allah.’ Selanjutnya kami pulang ke kampung halaman suku kami, suku Ghifar.
Di sana kami menyampaikan dakwah Islamiyah kepada penduduk suku kami hingga separuh dari mereka masuk ke dalam agama Islam.
Pemimpin mereka adalah Aima bin Rahadhah Al Ghifari.
Sementara itu, separuh dari suku Ghifar berkata:
‘Apabila Rasulullah ﷺ telah tiba di Madinah, maka kami baru akan masuk Islam.’ Ketika Rasulullah tiba di Madinah, maka separuh dari mereka akhirnya masuk ke dalam agama Islam.
Tak lama kemudian suku Aslam masuk Islam seraya berkata:
‘Ya Rasulullah, saudara-saudara kami dari suku Ghifar telah masuk Islam.
Oleh karena itu, maka kami pun ingin masuk Islam.’ Mendengar pernyataan itu Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Semoga Allah mengampuni suku Ghifar dan memberikan keselamatan dan kedamaian kepada suku Aslam.’ Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali:
Telah mengabarkan kepada kami An Nadhr bin Syumail:
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah:
Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Hilal melalui jalur ini namun ada tambahan setelah ucapanya:
‘Izinkanlah aku pergi untuk dapat melihat orang yang kamu sebutkan itu! ‘ Unais menjawab:
‘Silahkan saja, tapi hati-hatilah dari penduduk Makkah, karena mereka telah memusuhi orang itu dan membencinya.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna Al ‘Anbari:
Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu ‘Adi dia berkata:
Telah memberitakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Humaid bin Hilal dari ‘Abdullah bin Ash Shamit dia berkata:
Abu Dzar berkata:
Wahai kemenakaku, Aku telah melaksanakan shalat selama dua tahun sebelum diutusnya Nabi ﷺ.
Unais berkata:
‘Lalu kemanakah kamu menghadapnya ketika shalat? Abu Dzar menjawab:
kearah yang Allah kehendaki.’ -lalu perawi menceritakan Haditsnya sebagaimana Hadits Sulaiman bin Al Mughirah.
Di dalam Hadits tersebut juga disebutkan:
‘Lalu keduanya menemui seorang dukun, untuk menanyakan tentang orang yang berada di Makkah tersebut.
Namun Unais selalu memuji-muji kelebihan orang tersebut hingga dukun tersebut kalah pendapat.
Unais berkata:
hingga kami mengambil unta-untanya dan menggambungkannya dengan unta-unta kami.
Di dalam Hadits tersebut disebutkan:
lalu Nabi ﷺ ﷺ datang dan bertawaf di Ka’bah kemudian shalat di belakang maqam Ibrahim.
Abu Dzar berkata:
akupun menemui beliau ﷺ seraya mengucapkan salam.
Akulah orang yang pertama kali mengucapkan salam kepada beliau dengan perkataan:
Assalaamu ‘Alaika ya Rasulullah.’ Beliau menjawab:
‘Wa Alaikas Salam, siapakah kamu? Juga disebutkan perkataan beliau:
‘Sejak kapan kamu tinggal di sini? ‘ Abu Dzar menjawab:
‘Sudah lima belas hari.’ Lalu Abu Bakar berkata:
‘Izinkanlah aku menjamunya malam ini.

Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA

Video Terkait

More Videos

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya
dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.
QS. Al-Anfal [8]: 26

Sungguh pada kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal.
Alquran itu bukan cerita yang dibuat-buat, tapi membenarkan (kitab) sebelumnya & jelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk & rahmat bagi kaum yang beriman
QS. Yusuf [12]: 111

Ya Allah,
sesungguhnya kami telah beriman,
maka ampunilah segala dosa kami & peliharalah kami dari siksa Neraka.
QS. Ali ‘Imran [3]: 16

Kami menciptakan itu semua sebagai pelajaran & peringatan bagi setiap hamba yang mau kembali kepada Allah dengan memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
QS. Qaf [50]: 8

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … Takdir yang bisa diubah dinamakan … Salah satu contoh takdir muall...

Pendidikan Agama Islam #5

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah … Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … Lawan kata dari jujur ??adalah … Orang yang suka berbohong adalah orang ̷...

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang buka...

Kamus

ubudiyah

Apa itu ubudiyah? “Ibadah” dan “ubudiyah” sering diartikan sebagai: melaksanakan perintah-perintah Allah dan merasa hina serta tunduk di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Mesk...

nikah gantung

Apa itu nikah gantung? nikah yang dilakukan sesuai dengan syarak , tetapi belum diresmikan oleh petugas yang berwenang … •

taqrir

Apa itu taqrir? taqrir pembolehan oleh Nabi Muhammad mengenai suatu perbuatan. Apabila suatu perbuatan dilakukan oleh sahabat Nabi, belum pernah diperintahkan atau dilarang oleh Nabi, Nabi mengetahui...

Baitulmukadas

Apa itu Baitulmukadas? Bai.tul.mu.ka.das nama masjid yang terkenal yang menjadi tempat persinggahan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra dan Mikraj, terletak di Yerusalem ; r...

Ta’ashub

Apa itu Ta’ashub? Ta’ashub adalah istilah dalam Islam yang artinya fanatik buta. Ta’ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sa...

hanif

Apa itu hanif? ha.nif berpegang teguh pada agama ; bersikap istikamah … •

Instagram