Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Yusuf

Yusuf (Nabi Yusuf) surah 12 ayat 109


وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِیۡۤ اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡقُرٰی ؕ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ وَ لَدَارُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ
Wamaa arsalnaa min qablika ilaa rijaaalan nuuhii ilaihim min ahlil qura afalam yasiiruu fiil ardhi fayanzhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul-ladziina min qablihim waladaaru-aakhirati khairul(n)-lil-ladziina-attaqau afalaa ta’qiluun(a);

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri.
Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.
Maka tidakkah kamu memikirkannya?
―QS. 12:109
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
12:109, 12 109, 12-109, Yusuf 109, Yusuf 109, Yusuf 109
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Yusuf (12) : 109. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa Dia tidak mengutus Rasul-rasul sebelum Muhammad ﷺ.
kecuali laki-laki, bukan Malaikat dan bukan perempuan.
Dia menurunkan kepada mereka wahyu dan diperkuat dengan jiwa yang mantap.
Mereka itu diambil dari orang-orang di antara penduduk negeri supaya penduduk negeri lain mengikutinya jika mereka itu beriman.
Ini merupakan jawaban terhadap syubhat yang dilancarkan oleh orang-orang yang mengingkari kenabian Muhammad ﷺ.
yang menghendaki supaya Rasul yang diutus itu terdiri dari jenis malaikat sebagaimana dihikayatkan Allah subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya:

Dan kalau Allah menghendaki tentu Dia mengutus beberapa orang Malaikat.
(Q.S.
Al-Mu'minun: 24)

Tidakkah orang-orang musyrik Quraisy yang mendustakan kenabian Muhammad ﷺ.
dan mengingkari apa yang dibawanya seperti mentauhidkan Allah, mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya bepergian di muka bumi dan melihat serta menyaksikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Rasul-rasul dahulu itu.
Mereka dibinasakan, negerinya dihancurkan seperti kaum Nabi Hud, kaum Nabi Saleh dan lain-lainnya.
Sebaliknya orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut mempersekutukan Allah, tidak berbuat dosa dan maksiat akan memperoleh kesenangan nanti di negeri akhirat yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan apa yang didapat orang-orang musyrik di dunia ini.
Apakah mereka tidak sampai memikirkan perbedaan pembatasan antara orang-orang yang ingkar dan orang-orang yang percaya.
Kesenangan yang didapat di dunia oleh orang-orang yang ingkar itu sangat terbatas.
Apabila mereka meninggal dunia berakhirlah kesenangan itu, dan di negeri akhirat kelak mereka mendapat azab yang amat pedih tak henti-hentinya.
Dan kesenangan yang diperoleh orang-orang yang beriman itu, tidak saja di dunia tetapi lebih-lebih di negeri akhirat nanti, karena kesenangan yang diperolehnya itu terus-menerus tak terbatas jangka waktunya.

Yusuf (12) ayat 109 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Yusuf (12) ayat 109 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Yusuf (12) ayat 109 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketika Kami memilihmu, Muhammad, Kami tidak meninggalkan ketentuan yang telah Kami tetapkan dalam memilih rasul-rasul.
Keadaan umatmu juga tidak keluar dari ketentuan yang berlaku pada umat- umat yang lalu.
Sebelummu, Kami tidak pernah mengutus malaikat sebagai rasul.
Kami hanya mengutus orang-orang dari penduduk setempat yang Kami beri wahyu.
Mereka Kami utus sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.
Mereka disambut baik dan diterima oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, dan ditolak oleh orang-orang yang sesat.
Apakah umatmu tidak menyadari kenyataan ini?
Atau, apakah mereka merasa lemah dan tidak mampu berusaha, lalu Kami binasakan di dunia, sehingga akhir perjalanan mereka adalah neraka?
Tetapi, ada juga yang beriman kepada ajakan itu.
Mereka Kami selamatkan dan Kami tolong di dunia.
Pahala akhirat tentu lebih baik bagi orang-orang yang takut kepada Allah lalu tidak menyekutukan-Nya dan tidak mendurhakai-Nya.
Apakah akal kalian dicabut, wahai orang-orang yang menolak, hingga kalian tidak dapat berfikir dan merenungkan?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu) dan menurut suatu qiraat dibaca yuuhaa, artinya yang diberikan wahyu (kepada mereka) bukannya malaikat (di antara penduduk negeri) yakni penduduk kota-kota, sebab penduduk kota lebih mengetahui dan lebih menyantun, berbeda halnya dengan penduduk kampung yang terkenal dengan kekasaran sikap mereka dan kebodohannya itu (Maka tidaklah mereka bepergian) yang dimaksud adalah penduduk Mekah (di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka) akibat daripada perbuatan mereka yang mendustakan rasul-rasul mereka, yaitu mereka dibinasakan (dan sesungguhnya kampung akhirat) yakni surga Allah (lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa) kepada Allah (Maka tidakkah kalian memikirkannya?) hai penduduk Mekah, lalu kalian menjadi beriman karenanya.
Lafal ta`qiluuna dapat pula dibaca ya`qiluuna yang artinya apakah mereka tidak memikirkannya?

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami tidak mengutus sebelummu (wahai Rasul) kepada manusia melainkan kaum laki-laki dari mereka yang Kami turunkan wahyu kepada mereka, dan mereka berasal dari penduduk negeri tersebut.
Karena mereka lebih mampu memahami dakwah dan risalah, yang akan diimani oleh orang-orang yang mendapat petunjuk kepada kebenaran dan didustakan oleh orang-orang yang sesat darinya.
Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu melihat secara langsung bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan para Rasul di masa lalu dan kebinasaan yang menimpa mereka??
Sungguh pahala negeri akhirat itu lebih baik daripada dunia beserta segala isinya bagi orang-orang yang beriman dan takut kepada Rabb mereka.
Maka, apakah kalian tidak memikirkan lalu mengambil pelajaran??

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan bahwa sesungguhnya Dia mengutus rasul-rasul-Nya hanyalah dari kalangan kaum laki-laki, bukan kaum wanita.
Demikianlah menurut pendapatjumhur ulama, seperti yang ditunjukkan oleh konteks ayat yang mulia ini.
Disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
tidak memberikan wahyu kepada seorang wanita pun dari kalangan anak Adam, yaitu wahyu yang mengandung hukum.

Sebagian di antara ulama menduga bahwa Sarah (istri Nabi Ibrahim), ibu Nabi Musa, dan Maryam binti Imran (ibu Nabi Isa) adalah nabi-nabi wanita.
Mereka yang mengatakan demikian berpegangan kepada dalil yang mengatakan bahwa para malaikat telah menyampaikan berita gembira akan kelahiran Ishaq kepada Sarah, dan sesudah Ishaq akan dilahirkan pula Ya'qub.
Demikian pula dalam Firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, "Susukanlah dia.
(Al Qashash:7), hingga akhir ayat.

Dalil lain, malaikat datang kepada Maryam, lalu menyampaikan berita gembira akan kelahiran Isa kepadanya.
Dalam hal ini Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (Ali Imran:42-43)

Kedudukan itu memang diterima oleh mereka, tetapi bukan berarti bahwa mereka adalah nabi-nabi wanita.
Apabila orang yang mengatakan demikian (bahwa mereka adalah nabi-nabi wanita) bermaksud dengan kedudukan itu sebagai kedudukan yang terhormat, maka tidak diragukan lagi kebenarannya.
Timbul suatu pertanyaan, apakah dengan kedudukan ini sudah cukup dapat dianggap ke dalam kategori kenabian ataukah tidak?

Menurut pendapat ahli sunnah wal jamaah yang dinukil oleh Syekh Abul Hasan Ali ibnu Ismail Al-Asy'ari dari kalangan ulama ahli sunnah wal jamaah, tidak ada wanita yang menjadi nabi, sesungguhnya yang ada pada kalangan kaum wanita hanyalah sampai pada kedudukan siddiqah, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
ketika menceritakan wanita yang paling mulia—yaitu Maryam binti Imran— melalui firman-Nya:

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang se­sungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar (siddiqah), kedua-duanya biasa memakan makanan.
(Al Maidah:75)

Allah menyebutkan kedudukannya yang sangat terhormat dan mulia, yaitu wanita yang siddiqah.
Seandainya Maryam adalah seorang nabi wanita, tentulah hal ini disebutkan, karena konteks kalimat dalam kaitan menyebutkan kedudukannya yang amat mulia dan terhormat.
Akan tetapi, yang disebutkan hanyalah 'dia adalah seorang siddiqah'.

Ad-Dahhak telah mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki., hingga akhir ayat.
Yakni bukanlah dari kalangan penduduk langit (malaikat) seperti yang kalian katakan.

Pendapat dari Ibnu Abbas ini diperkuat oleh firman-firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.
(Al Furqaan:20), hingga akhir ayat.

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.
Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka.
Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.
(Al Anbiyaa:8-9)

Katakanlah, "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Al Ahqaaf:9), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...di antara penduduk kota.

Yang dimaksud dengan istilah qura ialah kota, bukan daerah pedalaman yang penduduknya adalah orang-orang yang kasar watak dan akhlaknya.
Hal ini telah dimaklumi, bahwa penduduk kota itu mempunyai watak yang lebih lemah lembut ketimbang penduduk daerah pedalaman.
Dan orang-orang yang tinggal di daerah yang ramai lebih mudah untuk diajak berkomunikasi daripada orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta'ala.
menyebutkan dalam firman-Nya:

Orang-orang Arab Badui itu lebih sangat kekafiran dan ke­munafikannya.
(At Taubah:97), hingga akhir ayat.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala.: di antara penduduk kota.
(Yusuf:109) Bahwa demikian itu karena mereka lebih berpengetahuan dan lebih penyantun ketimbang orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman.

Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa seorang lelaki dari kalangan penduduk daerah pedalaman menghadiahkan seekor unta kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ terus-menerus membalas hadiahnya dengan memberinya yang lebih banyak hingga orang Badui itu puas.
Lalu Nabi ﷺ bersabda:

Sesungguhnya aku berniat bahwa aku tidak mau menerima pemberian kecuali dari orang Quraisy atau orang Ansar atau ' orang Saqafi atau orang Dausi.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-A'masy, dari Yahya ibnu Wassab, dari seorang syekh dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ yang menurut Al-A'masy adalah [Ibnu] Umar, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar menghadapi gangguan, mereka adalah lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak pula sabar terhadap gangguan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi.

Yakni orang-orang yang mendustakan kamu, hai Muhammad, mengapa mereka tidak bepergian di muka bumi.

lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka.
(Yusuf:109)

dari kalangan umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul-rasul, bagaimana Allah membinasakan mereka dan orang-orang kafir yang semisal dengan mereka.
Makna ayat ini semisal dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.
(Al Hajj:46), hingga akhir ayat.

Apabila mereka mendengar berita itu, tentulah mereka berpikir bahwa Allah telah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mulariin.
Itulah ketentuan hukum Allah pada makhluk-Nya.
Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:

...dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.

Dengan kata lain, sebagaimana Kami selamatkan orang-orang mukmin di dunia ini, demikian pula Kami tetapkan keselamatan bagi mereka di dalam kehidupan akhirat nanti, dan kehidupan akhirat itu jauh lebih baik daripada kehidupan di dunia bagi mereka.
Ayat ini semakna dengan firman-Nya yang mengatakan:

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi mereka­lah laknat, dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.
(Al-Mu’min: 51-52)

Lafaz ad-dar di-mudaf-kan kepada lafaz al-akhirah.
Untuk itu disebutkan:

...dan sesungguhnya kampung akhirat.

Kata Pilihan Dalam Surah Yusuf (12) Ayat 109

AHLAL QURAA'
أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ

Istilah ini mengandung dua kata yaitu ahl dan al qura. Pengertian ahl dan penggunaannya sudah diuraikan sebelum ini. Sedangkan al quraa adalah bentuk jamak dari al qaryah yang berarti desa dan kumpulan manusia.

Apabila al qaryah disandarkan kepada an naml, ia bermakna kumpulan semut.

Apabila dikaitkan dengan Al Ansar, ia berarti kota Madinah atau Yatsrib.

Apabila lafaz umm disandarkan kepada Al Qura atau ummul quraa ia bermakna ibu kota.

Istilah ahlal quraa disebut sebanyak lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
- Al A'raaf (7), ayat 96, 97, 98;
- Yusuf (12), ayat 109;
- Al Hasyr (59), ayat 7.

At Tabari menafsirkan ahlal quraa dalam surah Al A'raaf dengan maksudnya,

"Wahai Muhammad, apakah tenang dan merasa aman orang yang mendustakan Allah dan rasul Nya itu dan ingkar kepada ayat-ayat Nya. Allah membiarkan mereka dengan memberikan nikmat kepada mereka di dunia dengan kesehatan badan dan kehidupan yang mewah, sebagaimana Allah membiarkan orang yang diceritakan kepada mereka dari kalangan umat-umat terdahulu. Maka sesungguhnya rancangan atau azab Allah tidak menjadikan mereka berasa aman dan mereka akan musnah."

Az Zamakhsyari mengatakan alif-lam yang ada pada al qura mengisyaratkan kepada al qura yang terdapat pada ayat sebelumnya, yaitu :

wamaa arsalnaa fii qaryatim min nabiyyin

Inilah yang dimaksudkan oleh penafsiran At Tabari berkenaan ayat Allah, dimana beliau berkata berkata,
"Al qura yang disebutkan kepada engkau ini, wahai Muhammad adalah kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Luth dan Syu'aib" Sedangkan dalam surah Yusuf, ahlal quraa di sini bermakna al mada'in atau orang kota dan bukan orang Badwi, karena mereka jahil serta kasar dan karena orang bandar (Amsar) lebih sempurna akalnya, kesabarannya dan lebih tinggi budi pekertinya.

Qatadah berpendapat, ahlal quraa itu bermaksud ahlal ­amsar karena mereka lebih sabar dan lembut berbanding ahlal-umud (orang Badwi).

Pengertian ahlal quraa dalam surah Al Hasyr, Ibn Abbas berpendapat ia bermaksud Bani Quraizah dan Bani Nadir. Kedua-duanya berada di Madinah dan Fadak. Jaraknya adalah perjalanan tiga hari dari Madinah dan Khaibar.

Ibn Katsir berpendapat, ia bermaksud keseluruhan negeri-negeri yang dibuka, hukumnya adalah sama dengan hukum harta benda Bani Nadir.

Kesimpulannya, maksud ahlal quraa secara umumnya adalah kumpulan manusia, negeri atau kaum. Secara khususnya terbagi menjadi tiga maksud sebagaimana yang dimaksudkan dalam surah-surah di atas.

Pertama, ia bermaksud umat-umat terdahulu seperti dalam surah Al A'raaf.

Kedua, ia bermaksud orang kota sebagaimana dalam surah Yusuf.

Ketiga, ia bermaksud negeri-negeri seperti Bani Quraizah dan Bani Nadir seperti dalam surah Al Hasyr.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:29-30

Informasi Surah Yusuf (يوسف)
Surat Yusuf ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah karena diturunkan di Mekah sebelum hijrah.

Surat ini dinamakan surat Yusuf adalah karena titik berat dari isinya mengenai riwayat Nabi Yusuf 'alaihis salam Riwayat tersebut salah satu di antara cerita-cerita ghaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai mu'jizat bagi beliau, sedang beliau sebelum diturunkan surat ini tidak mengetahuinya.
Menurut riwayat Al Baihaqi dalam kitab "Ad Dalail" bahwa segolongan orang Yahudi masuk agama lslam sesudah mereka mendengar cerita Yusuf 'alaihis salam ini, karena sesuai dengan cerita-cerita yang mereka ketahui.

Dari cerita Yusuf 'alaihis salam ini, Nabi Muhammad ﷺ mengambil pelajaran-pelajaran yang banyak dan merupakan penghibur terhadap beliau dalam menjalankan tugasnya.

Keimanan:

Kenabian Yusuf a.s. dan mu'jizat-mu'jizatnya
ketentuan yang berhubungan de­ngan keagamaan adalah hak Allah semata-mata
qadha Allah tak dapat dirobah
para rasul semuanya laki-laki.

Hukum:

Keharusan merahasiakan sesuatu untuk menghindari fitnah
barang dan anak te­muan wajib dipungut tidak boleh dibiarkan
boleh melakukah helah yang tidak merugikan orang lain untuk memperoleh sesuatu kemaslahatan.

Kisah:

Riwayat Nabi Yusuf a.s. bersaudara dengan orang tua mereka Ya'qub a.s.

Lain-lain:

Beberapa dari sifat dan tauladan yang mulia yang dapat diambil dari cerita Yusuf a.s
persamaan antara agama para nabi-nabi iala tauhid


Gambar Kutipan Surah Yusuf Ayat 109 *beta

Surah Yusuf Ayat 109



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Yusuf

Surah Yusuf (bahasa Arab:يسوف, Yūsuf, "Nabi Yusuf") adalah surah ke-12 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan surah Yusuf adalah karena titik berat dari isinya mengenai riwayat Nabi Yusuf.
Riwayat tersebut salah satu di antara cerita-cerita gaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad sebagai mukjizat bagi dia, sedang dia sebelum diturunkan surah ini tidak mengetahuinya.
Dari cerita Yusuf ini, Nabi Muhammad mengambil pelajaran-pelajaran yang banyak dan merupakan penghibur terhadap dia dalam menjalankan tugasnya.
Menurut riwayat Al Baihaqi dalam kitab Ad-Dalail bahwa segolongan orang Yahudi masuk agama Islam sesudah mereka mendengar cerita Yusuf ini, karena sesuai dengan cerita-cerita yang mereka ketahui.

Nomor Surah 12
Nama Surah Yusuf
Arab يوسف
Arti Nabi Yusuf
Nama lain Ahsan Al-Qashash (Sebaik-baik Kisah)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 53
Juz Juz 12 (ayat 1-52),
juz 13 (ayat 53-111)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1795
Jumlah huruf 7305
Surah sebelumnya Surah Hud
Surah selanjutnya Surah Ar-Ra’d
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (28 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku