QS. Yunus (Nabi Yunus) – surah 10 ayat 98 [QS. 10:98]

فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ اِلَّا قَوۡمَ یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ
Falaulaa kaanat qaryatun aamanat fanafa’ahaa iimaanuhaa ilaa qauma yuunusa lammaa aamanuu kasyafnaa ‘anhum ‘adzaabal khizyi fiil hayaatiddunyaa wamatta’naahum ila hiinin;

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus?
Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.
―QS. 10:98
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Azab orang kafir
10:98, 10 98, 10-98, Yunus 98, Yunus 98, Yunus 98

Tafsir surah Yunus (10) ayat 98

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Yunus (10) : 98. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa sikap yang paling baik dilakukan oleh suatu kaum ialah bila seorang Rasul menyeru kepada mereka untuk beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengemukakan bukti-bukti kebenaran seruannya itu, lalu mereka berkenan menyambut seruan Rasul itu dengan beriman dan melaksanakan risalah yang dibawanya.
Iman yang seperti itu adalah iman yang bermanfaat dan menguntungkan diri, karena iman itu dilakukan di saat seseorang dalam keadaan sanggup memikul beban yang dipikulkan Allah kepadanya (taklif).
Seorang manusia ada yang dalam keadaan taklif dan ada pula yang dalam keadaan tidak taklif.
Iman berfaedah bagi seseorang bila dilakukannya dalam keadaan taklif dan iman itu tidak berfaedah bagi seseorang bila dilakukannya dalam keadaan tidak taklif.
Contoh iman yang dilakukan seseorang dalam keadaan tidak taklif, seperti iman Firaun di saat ia akan tenggelam di tengah lautan dan seperti imannya orang-orang kafir di saat mereka diazab di dalam neraka.
Iman di saat itu tidak diterima lagi.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Andaikan saja seluruh penduduk negeri itu beriman, niscaya mereka akan mendapatkan manfaat- manfaat yang baik dari keimanan itu.
Akan tetapi pada kenyataannya, kebaikan itu hanya didapat oleh kaum Yunus saja, karena tidak semua penduduk negeri itu turut beriman.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mengapa tidak) hendaknyalah (ada suatu kota) yakni penduduknya (yang beriman) sebelum azab turun atas mereka (lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus.

Tatkala mereka beriman) yaitu sewaktu mereka melihat adanya tanda-tanda azab lalu mereka segera beriman sebelum azab diturunkan atas diri mereka (Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu) sampai ajal mereka tiba.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidaklah ada penduduk satu kota (suatu kaum) yang beriman ketika menyaksikan adzab dan keimanan mereka berguna pada waktu itu, kecuali kaum Yunus bin Matta.
Tatkala mereka yakin bahwa adzab Allah akan diturunkan kepada mereka, mereka bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
Ketika jelas bahwa mereka itu benar-benar bertaubat, Allah menghilangkan adzab yang menghinakan yang telah mendekat itu dari mereka.
Maka tinggallah mereka di dunia untuk merasakan kenikmatan dan bersenang-senang di dalamnya sampai habis ajal mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Mengapa tidak ada penduduk suatu kota yang seluruhnya beriman dari kalangan umat-umat terdahulu yang Kami kirimkan kepada mereka rasul-rasul Kami?
Bahkan tidak sekali-kali Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, hai Muhammad, melainkan ia didustakan oleh kaumnya atau oleh kebanyakan dari mereka.” Hal ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
(Q.S. Yasin [36]: 30)

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 52)

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 23)

Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan:

Ditampilkan kepadaku para nabi.
Maka ada seorang nabi yang lewat dengan ditemani oleh beberapa golongan orang, dan ada seorang nabi yang lewat hanya bersama seorang saja, ada pula seorang nabi yang hanya ditemani oleh dua orang, serta ada seorang nabi (yang lewat) tanpa ditemani oleh seorang pun.

Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan pengikut Nabi Musa ‘alaihis salam yang cukup banyak.
Nabi ﷺ menyebutkan pula jumlah umatnya yang jauh lebih banyak sehingga karena banyaknya itu maka cakrawala timur dan barat penuh dengan umatnya.

Makna yang dimaksud ialah ‘tidak ada suatu penduduk kota pun yang seluruhnya beriman kepada nabi mereka dari kalangan umat terdahulu kecuali umat Nabi Yunus’.
Mereka adalah penduduk negeri Nainawi, tiadalah iman mereka kecuali karena takut akan tertimpa azab yang telah diperingatkan kepada mereka oleh rasul mereka, sesudah mereka melihat adanya tanda-tanda kedatangan azab itu, sedangkan rasul mereka telah pergi meninggalkan mereka.

Pada mulanya mereka menentang Allah, lalu mereka sadar, maka mereka meminta pertolongan kepada Allah seraya merendahkan diri kepada-Nya.
Mereka melakukannya dengan membawa semua anak kecil mereka, hewan-hewan kendaraan, serta ternak mereka.
Lalu mereka meminta kepada Allah agar azab dilenyapkan dari mereka, yakni azab yang pernah diperingatkan oleh nabi mereka.
Maka pada saat itu Allah mengasihani mereka, melenyapkan azab yang akan diturunkan-Nya kepada mereka, dan menangguhkan mereka.
Hal ini disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya:

selain kaum Yunus, tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.
(Q.S. Yunus [10]: 98)

Ulama tafsir berbeda pendapat, apakah azab di akhirat dihilangkan pula dari mereka bersamaan dengan azab dunia, ataukah yang dihilangkan dari mereka hanyalah azab dunia saja?
Ada dua pendapat mengenainya:

Pertama, sesungguhnya yang dilenyapkan dari mereka hanyalah azab dunia, sesuai dengan apa yang disebutkan oleh ayat ini.

Kedua, yang dilenyapkan adalah azab di dunia dan di akhirat, karena berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.
Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.
(Q.S. As-Saffat [37]: 147-148)

Dalam ayat ini lafaz iman disebutkan secara mutlak tanpa ikatan, sedangkan iman itu dapat menyelamatkan seseorang dari azab ukhrawi, hal ini jelas.

Sehubungan dengan tafsir ayat ini Qatadah mengatakan bahwa tidak bermanfaat penduduk suatu kota yang tadiny’a kafir lalu beriman, jika azab telah datang, lalu mereka dibiarkan, kecuali kaum Yunus.
Mereka kehilangan Nabinya, dan mereka menduga bahwa azab telah dekat akan menimpa mereka.
Lalu Allah menanamkan ke dalam hati mereka iman yang mendorong mereka untuk bertobat.
Maka mereka memakai pakaian lusuh, lalu memisahkan antara ternak mereka dengan anak-anaknya, kemudian menggiringnya (ke suatu tanah lapang) untuk bertobat kepada Allah selama empat puluh hari.

Ketika Allah melihat kesungguhan dan kebenaran tobat serta penyesalan dalam hati mereka atas semua dosa yang telah mereka lakukan di masa sebelumnya, maka Allah menghilangkan azab dari mereka, padahal azab telah dekat akan menimpa mereka.

Qatadah mengatakan bahwa menurut suatu riwayat, kaum Nabi Yunus bertempat di kota Nainawi yang terletak di negeri Mausul.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf yang bukan hanya seorang.

Disebutkan pula bahwa Ibnu Mas’ud membaca ayat ini dengan bacaan berikut: Fahalla kanat qaryatun amanat (Mengapa tidak ada penduduk suatu kota yang beriman?).

Abu Imran telah meriwayatkan dari Abul Jalad yang mengatakan bahwa ketika azab akan turun kepada mereka (kaum Nabi Yunus), azab itu berputar di atas kepala mereka seperti awan yang sangat gelap.
Lalu mereka pergi menemui seorang ulama dari kalangan mereka, dan mereka berkata, “Ajarkanlah kepada kami suatu doa yang akan kami panjatkan.
Mudah-mudahan Allah menghilangkan azab ini dari kita.” Maka ulama itu menjawab:

Ucapkanlah, “Hai Yang Mahahidup di saat tiada yang hidup, hai Yang Mahahidup Yang menghidupkan orang-orang yang mati, hai Yang Mahahidup, tidak ada Tuhan selain Engkau.

Maka Allah menghilangkan azab itu dari mereka.
Kisah ini selengkapnya akan disebutkan secara rinci di dalam tafsir surat Ash-Shaffat.


Informasi Surah Yunus (يونس)
Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah kecuali ayat 40, 94, 95.
yang diturunkan pada masa Nabi Muhammad ﷺ berada di Madinah.
Surat ini dinamai “surat Yunus” karena dalam surat ini terutama ditampilkan kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya.

Keimanan:

Al Qur’an bukanlah sihir
Allah mengatur alam semesta dari Arasy-Nya
syafa’at hanyalah dengan izin Allah
Wali-wali Allah
wahyu Allah yang menerangkan yang ghaib kepada manusia
Allah menyaksikan dan mengamat-amati perbuatan hamba­ harnba-Nya di dunia
Allah tidak mempunyai Anak.

Hukum:

Menentukan perhitungan tahun dan waktu dengan perjalanan matahari dan bulan
hukum mengada-adakan sesuatu terhadap Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya.

Kisah:

Kisah Nabi Nuh a.s.dengan kaumnya
Nabi Musa dengan Fir’aun dan tukang-tukang sihir
kisah Bani lsrail setelah ke luar dari negeri Mesir
Nabi Yunus a.s. dengan kaumnya.

Lain-lain:

Manusia ingat kepada Allah di waktu kesukaran dan lupa di waktu senang
keadaan orang-orang baik dan orang-orang jahat di hari kiamat
Al Qur’an tidak dapat ditandingi
rasul hanya menyampaikan risalah.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Yunus (10) ayat 98 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Yunus (10) ayat 98 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Yunus (10) ayat 98 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Yunus - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 109 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 10:98
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Yunus.

Surah Yunus (Arab: ينوس , Yūnus, "Nabi Yunus") adalah surah ke-10 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 109 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada di Madinah.

Nomor Surah 10
Nama Surah Yunus
Arab يونس
Arti Nabi Yunus
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 51
Juz Juz 11 (ayat 1-109)
Jumlah ruku' 11 ruku'
Jumlah ayat 109
Jumlah kata 1844
Jumlah huruf 7593
Surah sebelumnya Surah At-Taubah
Surah selanjutnya Surah Hud
4.7
Ratingmu: 4.7 (13 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta